Review
Seperti review yang sudah-sudah harap diperhatikan bahwa review saya untuk The Walking Dead Episode 4 ini akan memberi spoiler bagi episode-episode sebelumnya. Harap pastikan kalau kalian sudah memainkan tiga episode awal terlebih dahulu sebelum membaca review ini.
Setelah perjalanan yang panjang dan lama bertahan hidup dari para Walker yang makin mengganas kumpulan teman-teman Lee semakin sedikit saja. Di episode yang lalu Telltale Games secara ganas merenggut empat rekan Lee dari para gamer, termasuk Carley, yang kematiannya paling memukulku. Telltale Games sepertinya mengambil formula sukses yang sama dari komik The Walking Dead karya Robert Kirkman yaitu untuk tidak segan-segan menghabisi karakter yang disukai oleh pembaca, atau dalam kasus ini, gamer.
Di ending episode lalu Walkie Talkie dari Clementine rupanya menangkap sinyal misterius dari seseorang yang ‘memaksa’ si anak kecil itu untuk mencarinya untuk memastikan keselamatan orang tuanya. Akan tetapi setibanya grup survivor kecil itu di Savannah mereka melihat bahwa para Walkers sudah menguasai kota tersebut. Keadaan tak banyak berbeda dengan Macon maupun dengan kota-kota lain tempat mereka ada sebelumnya. Yang berbeda adalah kali ini ada seseorang yang mengawasi mereka secara diam-diam dari balik bayangan… tapi siapa?
Episode keempat ini mengalami perubahan pacing cerita dari episode-episode sebelumnya dengan lebih banyak mengetengahkan aksi dan serangan para zombie. Apabila diandaikan dalam bentuk film maka episode pertama sampai ketiga memiliki pacing seperti serial TV The Walking Dead sementara episode keempat ini ala Dawn of the Dead yang lebih banyak aksinya. Penulis kisah untuk episode ini pun memasukkan sebuah elemen bagian kota dan sindiran sosial masyarakat dalam lingkungan (distrik kota) bernama Crawford.
Karena banyaknya karakter yang dihabisi di episode lalu otomatis ada lebih banyak karakter yang diperkenalkan, baik di akhir episode tiga maupun di episode keempat ini. Di antara deretan karakter baru itu hanya satu yang paling memorable bagiku: Molly, seorang gadis tangguh independen yang mengingatkanku akan Michone dari buku komiknya. Tetapi sekali lagi saya ingin mengingatkan kepada kalian: ini adalah The Walking Dead jadi jangan terlalu sayang dengan seorang karakter atau kalian akan membayar mahal karenanya. Memang agak disayangkan bahwa mayoritas karakter baru – karena keterbatasan waktu jadi tidak bisa digali terlalu mendalam kepribadiannya.
Toh untuk tidak membangun emosi dengan para karakter-karakter itu pun mustahil rasanya. Selama empat episode ini saya menemukan diriku menyayangi Clementine. Ya. Sayang dan ingin melindungi seorang karakter game! Entah sejak kapan saya terakhir kali merasakan kedekatan emosi seperti ini, membuktikan bahwa Telltale Games memang sudah berhasil merajut kisah yang mampu mengikat gamer secara emosional. Dan karena itu jugalah ending cliffhanger yang benar-benar tak disangka-sangka itu memberikan impact emosi yang hebat kepadaku.
Dari departemen audio visualnya saya tak bisa mengeluhkan apapun mengenai The Walking Dead. Ketika sampai di episode empat ini saya malahan merasa kagum bahwa Telltale Games tak merasa harus memakai model karakter pria yang gagah atau wanita yang seksi nan rupawan untuk membuat gamer merasa terikat secara visual kepada mereka. Bahkan karakter-karakter seperti Carley dan Molly yang saya sukai pun saya sukai karena kepribadian dan kemampuan mereka – bukan karena sosok fisik atau wajahnya.
Kalau ada satu kelemahan besar dari episode ini itu adalah bagaimana mayoritas keputusan kalian dalam dialog tak banyak berperan di sini. Mengingat Telltale Games perlu menutup game ini dalam satu episode lagi mungkin unsur kebebasan para gamer terpaksa sedikit dicabut di sini. Toh mayoritas dari keputusan dan even yang terjadi di dalam episode ini sudah ditetapkan dari apa-apa saja keputusan yang kamu ambil dari tiga episode sebelumnya. Apakah Lee menjadi sosok yang bisa dipercaya oleh teman-temannya atau sebaliknya menjadi seorang yang dikucilkan dan dibenci?
So my verdict is… satu lagi episode The Walking Dead dan perjalanan panjang Lee serta Clementine akan usai. Masa depan seperti apa yang menunggu mereka? Sebuah ending yang manis atau konklusi yang tragis? Saya tak sabar untuk mencari tahu.
Final Verdict
Gameplay: 8.5
Kali ini kebebasan para gamer sedikit direnggut dan mayoritas gameplay adalah penjelajahan serta QTE. Atmosfir game menjadi cukup seram kali ini karena beberapa kali Lee harus menjelajah seorang diri di area berbahaya tanpa teman.
Graphic / Sound: 9.0
Selalu apik seperti biasanya dengan beberapa technical glitch di sisi grafiknya. Toh kalau kamu sudah memainkan game ini dari episode satu sampai tiga rasanya sudah terbiasa dengan segala kekurangan minornya. Kualitas Voice Acting top-notch dan sempurna begitu pula dengan musik pengiringnya.
Play Time: 9.0
Waktu permainan sama seperti biasanya: kurang lebih dua setengah hingga tiga jam. Disebabkan tak adanya subquest yang bisa dilakukan ditambah pacing cepatnya game ini mungkin terasa sedikit lebih pendek dibandingkan dengan ketiga episode sebelumnya.
Overall: 8.9















Ya karakter baru kurang terbentuk di episode ini yang mati gak begitu berasa seperti episode 3, tapi aku ngerasa di chapter ini lebih baik dunia nya ada kumpulan brotherhood lain, banyak misteri baru dan tujuan tujuan hidup baru. Dan goddamn BEN makin membuat ulah di episode ini, sejauh ini episode favorite ku blum sempet download yang ke 5
ya.. msh penasaran sebenarnya apa yg diperdebatkan omid n christa waktu pertama ketemu lee..? belum dijelasin di ceritanya
sy udah tamat episode 5 nya bro.. endingnya menyayat hati n sedikit menggantung di scene terakhir.. hehe
btw rahasia omid n christa memang gak diungkap di ceritanya..
anyway ini game yg emang sangat briliant terutama endingnya yg mengharu biru..