Review




Perhatian: Sebisa mungkin saya mencoba untuk tidak melakukan Spoiler terlalu banyak dalam mereview The Walking Dead tetapi mengingat ini adalah sebuah game yang sangat mengandalkan narasi cerita maka hal itu tidak dimungkinkan. Sebelum membaca review ini lebih lanjut perlu diingat bahwa akan ada spoiler besar untuk Episode 01 dan 02 sehingga mereka yang belum memainkan game ini sebaiknya berhenti membaca review ini. Seriously though, kenapa kalian tidak memainkan salah satu game terbaik tahun ini? Stop whatever you’re doing it and start playing it. You’ll thank me later.

Long Road Ahead dibuka satu minggu setelah even Starved for Help berakhir. Setelah beberapa kematian di episode lalu saya tidak bisa tidak menyadari betapa jumlah para survivor di dalam grup Lee semakin sedikit saja. Persoalan mengenai makanan untuk sementara memang bisa ditangguhkan karena supply yang didapat di akhir Episode 02 lalu tetapi bahan makanan itu makin lama pun makin berkurang sehingga Lee dan kawan-kawan harus mencari makanan di tengah kota yang semakin kosong.

New members… New deaths?

Dan Telltale Games sama sekali tidak memberi gamer kesempatan untuk menarik nafas dalam game ketiganya ini. Dari awal saja kita sebagai gamer langsung dihadapkan pada persoalan moral yang sulit. Kita akan mengambil supply obat serta makanan di dalam sebuah Apotik ketika seorang gadis menjerit-jerit karena diserang para Walker. Sebelum kamu sempat melakukan apapun sang gadis sudah tergigit kakinya oleh para Walker sehingga ia pasti akan berubah menjadi zombie. Kamu punya dua keputusan: kamu bisa menembak mati sang gadis itu supaya ia terbebas dari siksaan diterkam para zombie lainnya atau kamu bisa membiarkan gadis itu.

Saya melakukan keputusan yang rasional tentu saja. Menembak gadis itu hanya akan mengalihkan bahaya kepadaku dan grupku. Maka aku membiarkan gadis malang itu menjerit-jerit, mematikan perasaanku dan mengambil semua supply bahan obat di dalam Apotik sambil mendengarkan gadis itu meminta bantuan yang takkan pernah datang. Otakku berkata bahwa tindakanku sudah benar tetapi hatiku merasa pilu. Apakah ini benar-benar hal yang akan kulakukan ketika marabahaya terjadi? Apakah aku akan dengan begitu mudah kehilangan kemanusiaanku? Ah tetapi tak ada waktu untuk memikirkan soal itu lama-lama sebab saat aku tengah mengambil obat-obatan dan bergulat dengan pikiranku itu teriakan sang gadis telah hilang. Senyap. Dan para zombie yang telah selesai bersantap itu menyadari adanya mangsa baru mendobrak masuk Apotik!

We've gotta escape… NOW!

Yup. Selamat datang di dunia horor yang harus dihadapi oleh Lee Everett dan kawan-kawannya. Selamat datang di The Walking Dead.

Sementara Episode pertama berfokus kepada Lee dan episode kedua berfokus pada keluarga St. John yang menjadi ‘gila’ setelah terjadinya musibah zombie apocalypse, Long Road Ahead membawa semua konflik kembali pada grup internal Lee. Pertikaian antara Kenny dan Lilly semakin meruncing setelah Kenny menghabisi ayah Lilly di episode lalu. Rasa tidak percaya dalam grup semakin meninggi setelah Lilly menemukan bahwa ada seorang pengkhianat dalam grup mereka yang diam-diam membagikan makanan serta obat-obatan mereka kepada para bandit (ingat bukan para bandit yang mengincar keluarga St. John di episode lalu?). Dengan semakin menipisnya bahan makanan (lagi) kelompok Lee dihadapkan pada sebuah keputusan sulit: haruskah mereka bertahan atau haruskah mereka pindah?

Dalam episode ketiga ini Telltale Games kurasa membuat episode mereka yang paling ambisius. Para penulis skenario game ini membuktikan bahwa seperti halnya Robert Kirkman di komiknya mereka tidak takut merenggut karakter-karakter yang kita sayangi. Saya baru saja merasa mulai dekat dengan karakter lain sebab waktu permainanku sudah memasuki enam tujuh jam sejak episode pertama ketika dengan keji karakter tersebut langsung dihabisi begitu saja di hadapanku. Saya terperangah saat itu terjadi; terlalu terkejut untuk melakukan apapun… sesuatu yang hampir tak pernah terjadi saat saya memainkan video game. Tak hanya itu lokasi yang ada di episode ini pun terbilang berpindah-pindah tempat dan paling variatif dibanding episode sebelumnya.

Oh gawd… so many zombies… so many… zombies…

Sama seperti sebelumnya Telltale Games masih menggunakan gaya animasi Cel Shading. Apabila sebelumnya saya sangat terkagum-kagum dengan animasi wajah para karakter di dalam episode ketiga ini saya akhirnya mulai menangkap dan menyadari sedikit kelemahan di sana-sini. Sebagai contoh saat karakter Lee membentur ‘tembok’ game maka ia seperti tengah melayang di udara dengan gerakan animasinya berhenti. Sedikit kekurang mulusan di sana-sini rasanya memang sedikit menganggu walaupun semuanya bisa saya maafkan karena tingginya kualitas penceritaan dan dialog yang ada.

So my verdict is… The Walking Dead terus mengejutkanku dengan kualitas yang tinggi di setiap episodenya. Kita sudah masuk ke pertengahan cerita petualangan dari Lee Everett dan saya tak sabar menunggu apa lagi yang akan ditemui rombongan ini. Duh, semoga jumlah mereka tak kian menipis dan menipis terus!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Kamu akan membuat keputusan-keputusan moral yang paling sulit di episode ini jadi persiapkan hati dan mentalmu. Tak peduli jawaban apa yang kamu berikan – kamu akan merasakan penyesalan. So be prepared.

Graphic / Sound: 9.5
Sedikit technical glitch di bagian grafis sana-sini saya ampuni karena variasi lingkungan game ditambah dengan voice acting yang tambah episode tambah sempurna saja.

Play Time: 9.0
Episode ketiga memberi gamer cukup banyak waktu menjelajah dan waktu intim bersama setiap karakter sehingga mendorong waktu play timenya menjadi tiga sampai empat jam, sedikit lebih panjang dibanding chapter-chapter sebelumnya.

Overall: 9.4