Review




Salah satu genre yang paling sulit dikembangkan di dunia gaming adalah FPS. Berbeda dengan Adventure, Platform, RPG, dan segudang genre lainnya FPS pada dasarnya adalah menembaki musuh-musuhmu yang muncul di layar. Sangat sulit bagi para developer untuk melenceng dari pakem tersebut. Betul franchise Call of Duty kini telah mengupgrade FPS dengan segala cutscene eksplosif nan dahsyatnya tetapi dalam jangka panjang ia justru mematikan kreatifitas banyak developer lain yang memutuskan untuk mendompleng ketenaran Call of Duty hanya dengan memakai setting cerita yang sedikit berbeda (Battlefield, Homefront, Medal of Honor, dan banyak lainnya). Selama saya memainkan FPS selama ini praktis game yang benar-benar membuatku berpikir dalam bermain adalah Crysis 2 yang menggunakan sistem Suit-nya secara kreatif dan Red Faction: Armageddon yang menyajikan sistem destruktif environment habis-habisan.

Apakah Bulletstorm kaya Epic Games dan People Can Fly bisa menjadi sebuah game FPS yang memiliki sistem berbeda ala Crysis 2 dan Red Faction: Armageddon atau jatuh pada game FPS klasik (baca: standar) ala Call of Duty dan kawan-kawannya?

Setelah grup tentara bayaran bernama Dead Echo sadar bahwa mereka sebenarnya hanya digunakan oleh Jendral Sarrano untuk menghabisi lawan-lawan politik serta orang-orang yang akan mengekspos kejahatannya maka mereka pun memberontak. Sang pemimpin Grayson (who looks a lot like Wolverine) memutuskan untuk tidak hanya kabur tetapi juga untuk membalas dendam menghabisi Jendral Sarrano. Pengejaran yang ia lakukan bersama ketiga rekannya membuat mereka terjatuh ke mantan planet wisata bernama Stygia. Kejatuhan rombongan Dead Echo ke planet tersebut melukai salah satu krunya bernama Ishi, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ishi adalah dengan memfusikan sebagian fungsi tubuhnya yang hilang dengan mesin.

Bulletstorm Cover

Lebih tragis lagi bagi grup Grayson, kedua temannya yang tersisa mati dihabisi oleh para orang-orang liar (savages) yang kini menghuni Stygia. Satu-satunya jalan bagi Gray dan Ishi untuk bisa kabur dari planet tersebut adalah dengan mencari bantuan dari pesawat Jendral Sarrano, musuh besar mereka. Tentu saja mencapai pesawat tersebut di tengah planet yang begitu liar seperti Stygia bukanlah perkara yang mudah.

Bulletstorm merupakan salah satu FPS paling inovatif yang saya mainkan karena memperkenalkan sistem Skillshot dan Leash. Di awal permainan Gray akan mendapatkan sebuah senjata semacam cemeti listrik bernama Leash. Dengan cemeti ini kamu bisa menarik musuh untuk terbang mendekatimu, lantas bisa kamu tembak ataupun kamu tendang lagi. Bulletstorm menghadirkan berbagai variasi cara untuk membunuh musuhmu. Kamu bisa membantai mereka dengan cara normal seperti tembakan ke badan atau headshot tetapi seluruh daerah di planet ini praktis seperti sebuah jebakan mematikan raksasa! Coba saya ilustrasikan dengan sebuah contoh sederhana supaya jelas.

Mutant Monsters?

Kamu baru saja masuk ke dalam hutan belantara yang berisi banyak kaktus raksasa yang tajam. Sekarang musuh tengah berlarian ke arahmu, kamu menembak kaki mereka hingga jatuh dan kamu tendang salah satu di antara mereka ke kaktus. Jrot! Ia pun tertancap dan mati. Tapi awas! Ada lima lagi yang ingin mengerumunimu, sebelum kamu tertangkap basah kamu tembak sebuah tumbuhan yang mengeluarkan racun paranoid. Kini kelima musuh itu jadi gila dan saling bantai satu sama lainnya tanpa mengindahkanmu. Belum sempat kamu bernafas lega seorang bos raksasa yang membawa Gatling Gun menembakimu. Kamu merunduk, menghindar, lantas membidik kepalanya dengan Sniper. Peluru mendesing tetapi sang bos belum tewas sebab kepalanya dilindungi helm – yang kini longgar karena tembakanmu. Gunakan cemeti listrikmu untuk melucuti helmnya lantas lari mendekati dia sambil membombardir kepalanya. BAM! Headshot.

Brutal? Intens? Kreatif?

That is one motherfucking big wheel. Shit!

Yup. Ketiga kata itu pantas digunakan untuk mendeskripsikan setiap pertempuran dan encounter musuh dalam Bulletstorm. Kamu tak hanya melulu bersikap pasif dan merunduk sambil menembaki musuh dari kejauhan karena semua senjata yang kamu miliki punya properti yang berbeda. Kamu punya shotgun yang efektif kalau kamu suka bergaya Rambo menembaki musuh dari jarak yang dekat. Kamu juga punya Sniper yang bisa kamu gunakan untuk menghabisi musuh dari kejauhan sedikit demi sedikit. Bahkan cemeti listrikmu pun bisa kamu charge energinya, gunakan untuk mengangkat musuh ke udara dan membanting mereka kembali ke tanah ala Slam Dunk permainan basket! Dengan lebih dari Skillshot (baca: cara membunuh) yang disediakan di game ini mendorong gamer untuk terus bereksperimen dan terus mendapatkan poin bonus.

Berbeda dengan kebanyakan FPS lain di mana kamu mendapatkan peluru dari musuh yang kamu habisi Bulletstorm mengharuskanmu untuk membeli pelurumu, mengupgrade senjatamu dari berbagai lokasi upgrade di game ini. Ada sih peluru-peluru yang berserakan sepanjang permainan tapi jelas takkan cukup kalau kamu hanya mengandalkan mereka. Itulah sebabnya semakin kreatif kamu membunuh musuhmu, semakin banyak juga pilihanmu untuk menghabisi mereka ke depannya. Pola design game yang cukup menarik bukan?

Kendati menjelang akhir game akhirnya Bulletstorm mulai menjadi membosankan (terutama kalau kamu sudah menjajal mayoritas cara menghabisinya) kisah redemption dari Gray dan persahabatannya yang unik dengan Ishi menjadi pendorong gamer untuk terus memainkannya. Lagipula lokasi planet Stygia sendiri merupakan sebuah planet eksotis yang dihuni berbagai monster / musuh yang aneh juga. Saya agak kecewa bahwa tidak terdapat banyak boss battle dalam game ini (mungkin hanya dua tiga boss utama walaupun banyak mini-boss sepanjang permainan) tapi apa yang Bulletstorm sediakan memang cukup epik dan dahsyat.

So my verdict is… dengan lokasi yang eksotis, cerita yang cukup menggigit (walaupun penggunaan kata makian seharusnya bisa diturunkan sedikit kadarnya), dan gameplay yang orisinil dan kreatif; Bulletstorm adalah game yang harus dijajal oleh para pecinta genre FPS yang bosan dengan game yang begitu-begitu saja.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Skillshot dan Leash memberikan twist baru pada genre FPS sehingga berbeda dengan game-game FPS lainnya.

Graphic / Sound: 8.5
Planet Stygia didesign dengan sangat cantik sementara render animasi tiap karakternya pun tak jelek. Pengisi suara karakter utamanya semua cocok. Saya terutama suka dengan Jendral Sarrano yang pengisi suaranya mendorong saya makin membencinya.

Play Time: 7.5
Campaign Bulletstorm bisa ditamatkan dalam waktu enam sampai delapan jam. Kamu bisa memperpanjang durasi permainan dengan mode Echo yang membiarkanmu bebas berkreasi dengan cara menghabisi musuh serta mode Multiplayer yang sepertinya wajib muncul di tiap-tiap game FPS.

Overall: 8.2