Review




Assassin’s Creed adalah salah satu franchise game modern yang sangat sukses. Sejak pertama kali muncul di tahun 2007 Ubisoft telah menjadikan game tersebut seperti ritual tahunan dari Assassin’s Creed II, Assassin’s Creed: Brotherhood, Assassin’s Creed: Revelation, sampai tahun ini merilis Assassin’s Creed III. Franchise game ini tak hanya menemukan sukses di konsol-konsol generasi kini saja tetapi juga di berbagai sistem lain. Gamer-gamer bisa memainkan Altair di sistem handheld mereka: Nintendo DS (Assassin’s Creed: Altair Chronicles) dan PSP (Assassin’s Creed: Bloodlines). Ketika Vita dirilis dengan kekuatan handheld yang menyamai konsol modern Ubisoft tidak buang waktu mengumumkan sebuah game handheld Assassin’s Creed yang baru dan akan dibarengi perilisannya dengan Assassin’s Creed III di konsol. Dengan memperkenalkan sosok heroine pertama dalam franchise ini Assassin’s Creed III: Liberation pun lahir. Bisakah bersanding dengan kualitas tinggi yang diusung oleh abang-abangnya di konsol?

Tiga Persona. Satu Wanita

Seperti yang saya sebut di atas tadi dalam game ini kamu tidak berperan sebagai Altair, Ezio, atau Connor – tiga sosok protagonis dari game-game Assassin’s Creed versi konsol. Sebaliknya dalam game ini kamu berperan sebagai wanita bernama Aveline de Grandpre. Aveline adalah sosok heroine yang unik karena latar belakang keturunannya. Ayah Aveline adalah seorang bangsawan kaya yang jatuh cinta pada budaknya. Cinta kepada sang budak membuat ayahnya akhirnya membebaskan sang budak dan menikahinya. Bisa dibilang Aveline adalah gadis yang lahir antara dua dunia dan dua ras yang berbeda: ras kulit putih yang superior dan kulit hitam yang inferior. Dan Ubisoft tidak berhenti sampai di sana mengangkat masalah rasisme dalam game ini.

Assassin's Creed III: Liberation Cover

Ini adalah game yang bersetting di New Orleans pada kisaran tahun 1765 – 1780. Sementara di sisi lain Amerika perang kemerdekaan tengah terjadi di New Orleans isu mengenai perbudakan masih sangat kental. Sangat sedikit orang berkulit hitam memiliki kebebasan dalam kehidupan mereka karena terikat dalam rantai perbudakan. Bukan rahasia bahwa setiap game Assassin’s Creed mengambil setting tertentu dalam tiap entrinya dan ini bukan pengecualian. Yang menarik adalah karena Liberation dan Assassin’s Creed III hadir di masa rentang yang sama maka ada misi tertentu di mana Aveline akan bertemu dengan Connor – sosok protagonis dari Assassin’s Creed III. Saya kok tidak heran kalau nanti ada DLC-DLC di kedua game yang makin menautkan petualangan keduanya.

Bicara soal garis keturunan Aveline sendiri gameplay pun memanfaatkannya. Aveline memiliki tiga persona yang bisa kamu mainkan dalam game: Slave, Assassin, dan Lady. Masing-masing persona ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang bisa kamu eksploitasi untuk memudahkanmu bermain. Slave adalah persona yang lincah dan memudahkanmu untuk membaur dengan para budak-budak lain demi mencari informasi mengenai target pembunuhanmu selanjutnya. Lagipula sebagai budak kamu bebas bisa melompat dari atap ke atap membuntuti musuh. Sebagai seorang Lady caranya lain lagi, kamu akan sering diganggu oleh tukang rampok tetapi kamu juga bisa memikat para penjaga yang biasanya mengejarmu untuk menjadi bodyguardmu. Paling enak memang menjadi seorang Lady sebab kamu bisa berkeliaran di jalan tanpa dicurigai orang. Terakhir tentu saja persona utamamu: seorang Assassin. Sebagai Assassin kamu paling rentan menarik perhatian tak diinginkan dari penjaga tetapi kamu juga memiliki Health Bar paling besar dan varian senjata paling lengkap.

I'll bribe you officer…

Kendati ada beberapa misi yang mengharuskanmu memakai persona-persona tertentu (sesuai logika cerita) ada cukup banyak misi yang mengijinkanmu untuk bebas bereksperimen sesuai hatimu menyelesaikannya dengan cara apa. Tentu saja Aveline memiliki kelincahan yang sama dengan para Assassin pria sebelumnya dalam hal melompat-lompat dari atap ke atap, pohon ke pohon lain ala seorang atlet parkour handal.

New Orleans, The Bayou, and Mexico

Selain tiga persona yang dimiliki oleh Aveline game Assassin’s Creed III: Liberation ini juga memiliki tiga lokasi utama yang dijelajahi oleh Aveline (di samping satu misi tambahan di mana ia harus ke daerah East Coast guna bertemu Connor). Kota utama tempat kamu tinggal adalah New Orleans yang silih berganti diduduki oleh orang Perancis dan Spanyol. Perubahan ini cukup kentara dalam gameplay. Di jaman pendudukan Spanyol misalnya para penjaga lebih tegas dalam mencurigai penduduk di sana. Sebagai Aveline kamu juga bisa dengan mudah memancing kerusuhan dengan memanfaatkan amarah massa yang terpendam. Secara keseluruhan New Orleans adalah sebuah kota yang sangat luas dan aku terkesan bagaimana Ubisoft mampu memasukkan semuanya ke dalam satu handheld. Ini adalah Assassin’s Creed yang tak kalah megah dengan kompatriotnya di konsol!

Tak puas hanya memberikan kepada kita kota New Orleans saja Ubisoft juga menghadirkan dua tempat lain: The Bayou dan Meksiko untuk dijelajahi. Meksiko sendiri tak terlalu berkesan karena waktu yang kita diami di sana tidak lama. Saya malah lebih terkesan dengan The Bayou yang merupakan area rawa-rawa yang hingga jaman ini sebagiannya masih terpreservasi. Tempat yang masih liar dan buas dengan alligator berkeliaran adalah perbandingan kontras yang menarik dengan daerah New Orleans yang mirip seperti metropolitan bila dibandingkan dengannya… menunjukkan betapa parahnya kesenjangan sosial di masa itu.

Akan tetapi apiknya latar setting tak selalu dibarengi dengan model tekstur karakternya. Karakter Aveline terasa kasar dan tak sebanding dengan game-game pada jaman sekarang. Pergerakan musuh pun kaku dengan AI yang kadang-kadang terlalu bodoh sehingga menyebalkan. Berkali-kali saya jelas menghabisi seorang musuh di hadapan kawannya yang lain tetapi ia hanya kebingungan lantas membiarkan temannya tewas begitu saja tanpa mencari tahu siapa yang bertanggung jawab membunuh rekannya. Mengingat Metal Gear Solid: Peace Walker (sebuah game PSP!) sudah sanggup mengimplementasikan fitur ini maka mudahnya stealth dan bodohnya AI di Assassin’s Creed III: Liberation terasa mengecewakan.

Maju kalian semua!

Tak kalah mengecewakannya di game ini adalah bagaimana alur ceritanya kacau balau. Saya tak pernah merasa cukup mengenal Aveline untuk peduli dengan perjuangannya membebaskan kaum budak. Saya tak merasa mengenal keluarga Aveline sehingga konflik dengan sang ayah ibu tak pernah terasa dijustifikasi dengan sempurna. Padahal kalau dipikir-pikir Aveline ada pada posisi yang sama dengan Barbara Gordon si Batgirl – sebuah analogi yang tak hanya ditemukan olehku tetapi banyak reviewer nerd lainnya. Tidakkah lebih menarik menggali identitas gandanya lebih dari sekedar gameplay saja? Beberapa lagi sub-plot cerita terasa dibiarkan mengambang… mungkin Ubisoft sudah merencanakan untuk menggarapnya dalam bentuk DLC atau sekuel.

Kualitas voice acting dalam game ini… agak aneh. Di satu sisi saya senang dengan aksen bicara karakter-karakter di game ini yang berbau Perancis. Ini pantas karena saat itu New Orleans memang sangat terpengaruh pendudukan Perancis. Masalahnya hanya itu saja yang didapatkan dengan benar oleh game ini. Pembawaan Aveline dalam dialog-dialog dan adegan-adegan penting terasa hambar. Begitu pula dengan ayah ibunya sampai mentor dan rekannya. Ini membuat cutscene-cutscene game jadi terasa kurang hidup dan muncul sekedar untuk memajukan jalan cerita saja.

So my verdict is… Assassin’s Creed III: Liberation membuktikan kalau teknologi yang diusung Vita sanggup menghadirkan kualitas grafik dan gameplay konsol di arena handheld. Sayangnya justru bagian non-teknis dari game ini yang membuatnya tak bisa disebut sebagai game system seller bagi handheld Sony yang kian lama kian sekarat itu.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Penggunaan tiga persona oleh Aveline kreatif. Selain misi utama masih ada misi-misi tambahan (biasanya pembunuhan) yang bisa dilakukan Aveline. Dan di waktu senggang pun kamu masih direpotkan dengan mengurus bisnis keluarga!

Graphic / Sound: 7.0
Kota New Orleans sangat luas dan impresif tetapi model karakter dan pergerakannya kadang masih kaku (di luar karakter Aveline). Voice acting pun demikian. Aksennya dapat tetapi emosinya tidak.

Play Time: 7.5
Game ini bisa ditamatkan dalam waktu kurang lebih 10 jam bila kamu hanya berfokus pada misi utama saja. Kalau kamu juga ingin menyelesaikan misi-misi sampingan dan menjalankan bisnis keluarga maka play time bisa bertambah menjadi dua kali lipatnya.

Overall: 7.7