Tag Archive | "Yorick"

Tags: , , , , ,

Y: The Last Man (Volume Nine: Kimono Dragons)

Posted on 28 November 2009 by Si Tukang Review

Kimono Dragons Cover

Kimono Dragons Cover

Sempat melempem dalam beberapa edisi sebelumnya, Brian K. Vaughan kembali menemukan sentuhan emasnya dalam story arc kali ini. Perpindahan setting Y ke Jepang membuka berbagai tabir misteri baru mengenai kehilangan Ampersand, sampai koneksi antara keluarga Dr Mann dengan Yorick. Mungkin memang perubahan lokasi adalah angin segar yang dibutuhkan oleh serial ini.

Kimono Dragons segera terbagi dalam dua segmen cerita. Sesampainya di pelabuhan Yokogata di kota Tokyo, grup Yorick mengalami perpecahan mengenai keberadaan Ampersand. Agent 355 ingin melacak Ampersand menggunakan GPS sementara Dr Mann bersikeras untuk mencari ibunya yang tinggal di Tokyo karena yakin bahwa ibunya berkaitan dengan diculiknya Ampersand. Keduanya pun berpisah dalam dua grup. Yorick pergi dengan Agent 355 sementara Rose menemani Dr Mann.

Kelemahan story arc Paper Dolls bagiku sebelumnya adalah story arc tersebut terlalu pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian. Beruntung kali ini Vaughan memperpanjangnya menjadi empat bagian. Penambahan jumlah edisi ini memberi ruang yang lebih lega bagi Vaughan untuk menuturkan ceritanya. Hasilnya langsung kentara jelas, kedua segmen cerita berjalan seiringan tanpa pernah terasa timpang atau berat sebelah. Vaughan tidak hanya berhasil menyorot kondisi tubuh (baca: keinginan seksual) wanita seusai wabah, tetapi juga mengungkapkan kilas balik mengenai kehidupan Dr Mann.

Sayangnya, ada satu hal yang menurut saya tidak dimaksimalkan oleh Vaughan – mungkin saja karena ia tidak seberapa mengenal kebudayaan Jepang. Jepang adalah negara yang unik karena sangat mementingkan pria ketimbang wanita di dalam kehidupan sosial mereka. Ketika wabah membunuh semua pria di dunia, saya sebenarnya menebak bahwa struktur ekonomi dan budaya Jepanglah yang seharusnya paling pertama runtuh. Efek dari wabah nyatanya kurang terasa dampaknya di luar permintaan seksual wanita yang meningkat dan dipenuhi oleh para persocon.

Selain empat bagian dalam Kimono Dragons, Vaughan menyisipkan dua cerita one-shot mengenai Dr Mann dan Alter. Dua-duanya sama menarik dan menambah kaya latar belakang cerita. The Tin Man (edisi 47) menceritakan bagaimana masa lalu Dr Mann mengubahnya menjadi dirinya seperti sekarang. Diceritakan pula mengenai keluarganya, yang – SPOILER ALERT – memegang peranan penting dalam cerita story arc berikutnya. Kisah The Tin Man merupakan cerita yang layak diikuti supaya pembaca memiliki persiapan mengikuti cerita story arc berikutnya. Gehenna (edisi 48)yang mengisahkan masa lalu Alter bahkan lebih menarik lagi. Sampai titik ini, pembaca (termasuk saya) selalu digiring oleh Vaughan untuk percaya bahwa Alter adalah sosok penjahat kejam. Setelah Gehenna, saya berpikir ulang lagi mengenai tujuan Alter mencari Yorick. Alter mungkin adalah wanita yang ‘sakit’, tetapi ia memiliki visi akan hal yang benar. Padanannya mungkin seperti karakter Magneto dalam dunia X-Men.

Setelah dalam dua story arc sebelumnya sedikit melempem, saya bahagia membaca dialog-dialog tajam Vaughan kembali. Walau belum kembali sampai pada titik puncak performanya, mengingat serial ini sudah menginjak perempat akhir cerita, saya percaya bahwa tensi cerita akan terus meningkat dari sini. What a ride… what a ride…

Score: 8.6

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 43 – 48

Comments (1)

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Eight: Paper Dolls)

Posted on 19 November 2009 by Si Tukang Review

Y: The Last Man 40 Cover

Y: The Last Man 40 Cover

Setelah membacanya untuk kali kedua, saya baru menyadari bahwa Girl on Girl merupakan karya story arc pertama bagi Goran Sudzuka. Sudzuka sebenarnya bukan ilustrator yang buruk dan ia berusaha sebisa mungkin untuk menggambar dengan gaya yang mirip dengan Pia Guerra supaya menjaga feel serial ini. Keberhasilannya ‘menipu’ mata saya untuk satu story arc sudah merupakan bukti dari hal tersebut tetapi pada saat ketika saya membaca Paper Dolls, saya disadarkan bahwa Pia Guerra memang merupakan ilustrator paling tepat untuk serial ini. Goresan Guerra tidak setegas Sudzuka, tetapi ia jauh lebih jago menangkap raut muka dan wajah yang penting untuk menghidupkan ekspresi para karakter di dalam serial ini.

Paper Dolls adalah story arc yang sedikit pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian dan menyinggung cerita yang kurang menarik di mana pembaca sudah bisa menebak kira-kira bagaimana konklusinya. Premisenya sendiri sebenarnya memiliki potensi mengundang yang sangat besar. Perlu diingat bahwa Yorick pertama kali berkeliling dunia dengan harapan untuk mencari Beth sang tunangannya. Tak disangka bahwa serangan pada akhir Girl on Girl membawanya ke benua Kanguru tersebut. Yorick tentu saja tidak membuang waktu untuk mencari Beth, walaupun kapal selam tersebut sebenarnya hanya berhenti selama satu hari saja di sana Sydney. Celakanya pencarian Yorick justru berbuah petaka ketika seorang reporter ambisius menemukan jati dirinya sebagai sang pria terakhir bumi, memfotonya, dan mulai menyebarkan jati diri Yorick di media massa.

Seperti yang saya bilang, cerita utama dari Paper Dolls sendiri pada akhirnya tidak memiliki sesuatu yang signifikan terhadapi mitologi Y – The Last Man secara keseluruhan. Malahan beberapa jalan cerita sampingan menjadi hal-hal menarik yang membuat saya kecewa tidak dieksplorasi lebih lanjut. Kembalinya Alter dalam pemburuan Yorick dan balas dendamnya merupakan satu dari banyak hal yang membuat Alter sebagai sosok paling kompleks dalam serial ini. Selain itu, Rose dan Dr Mann yang memulai hubungan lesbian mereka juga mendapat sorotan di sini – apakah Rose tulus atau tidak dalam perasaannya merupakan awal dari hubungan penuh gonjang-ganjing keduanya yang saya harap lebih banyak disorot Brian K. Vaughan.

Setelah tiga edisi Paper Dolls, Y – The Last Man kembali diselingi dengan tiga cerita one-shot sebelum menuju cerita berikutnya. Ketiganya adalah: The Hour of Our Death, Buttons, dan 1000 Typewriters. Kali ini Pia Guerra kembali absen dan digantikan oleh Goran Sudzuka sebagai ilustrator (tebakan saya adalah karena Guerra harus fokus menggambar untuk Kimono Dragon yang adalah story arc berikutnya). Ketiga one-shot ini uniknya justru lebih berkualitas dan membedah banyak hal ketimbang Paper Dolls sendiri. The Hour of Our Death mempertemukan Hero dan Beth kedua serta memberi perkembangan cerita yang tak terduga (juga one-shot favorit saya). Buttons mengungkapkan lebih banyak tabir masa lalu dari Agent 355 yang misterius (sialnya, kita tetap saja belum tahu nama aslinya). Yang terakhir, 1000 Typewriters menceritakan mengenai keberadaan Ampersand – dan sejarahnya dengan Yorick dan wabah yang menyapu kaum pria itu.

Aneh mungkin, tetapi pada akhirnya ketiga cerita one-shot ini justru memberikan lebih banyak penjelasan mengenai mitos-mitos seputar Y ketimbang Paper Dolls. Salah satu alasan kenapa Paper Dolls tidak lagi menarik sebenarnya adalah blunder yang dilakukan oleh Vaughan sendiri dengan menerbitkan volume 36 terlebih dahulu (yang praktis merupakan spoiler dari ending Paper Dolls). Bila saja Paper Dolls terlebih dahulu diterbitkan baru disusul dengan volume 36, mungkin saja story arc tersebut akan lebih menggigit. Siapa yang deg-degan dengan apakah Yorick dan Beth akan bertemu atau tidak kalau sudah diberitahu sebelumnya bahwa Beth berangkat ke Paris demi mencari Yorick yang dilihatnya dalam visinya?

Y – The Last Man sedikit kehilangan gregetnya pada story arc-story arc belakangan ini. Mari kita berharap bahwa Brian K. Vaughan kembali menemukan touchnya pada Kimono Dragon, yang merupakan awal dari kisah panjang rombongan Yorick di Jepang.

Score: 7.2

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 37 – 42

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Y: The Last Man (Volume Seven: Girl on Girl)

Posted on 04 November 2009 by Si Tukang Review

girl-on-girl-cover

Pertama-tama saya minta maaf gara-gara saya kelupaan untuk melanjutkan resensi marathon saya akan Y – The Last Man (thanks to Monkey Climber untuk mengingatkan saya!). Pasalnya, ketika saya berangkat ke China beberapa bulan yang lalu saya kelupaan membawa komik Y – The Last Man, pada saat itu saya berpikir bahwa saya akan melanjutkan resensi marathon saya sepulangnya saya ke Indonesia. Apa daya ketika saya pulang ke Indonesia saya malah kelupaan soal proyek ini. Nah, tanpa banyak basa-basi lagi, marathon Y – The Last Man akan berlanjut. Selamat mengikuti!

Terakhir dalam Rings of Truth, beberapa kejadian terjadi secara berturutan. Yorick dan Hero pada akhirnya bisa berdamai dan saling memaafkan, tetapi sialnya Agent 355 gagal menghentikan seorang pembunuh bayaran menculik Ampersand. Kini Yorick, Dr Mann, dan Agent 355 menaiki kapal dengan tujuan untuk berlayar pergi ke Yokogata untuk mengejar Ampersand. Triknya begini, Yorick akan menyelinap sebagai kargo barang sementara Dr Mann dan Agent 355 akan masuk sebagai penumpang yang bekerja di atas kapal kargo. Tentu saja semuanya tidak berjalan dengan mulus. Dalam waktu relatif singkat Yorick ketahuan belangnya dan pada akhirnya ketiganya dibawa menghadap pada kapten Kilina.

Walaupun sempat panik pada awalnya, ketiganya kemudian tidak lagi khawatir ketika sadar bahwa Kilina tidak hendak berbuat jahat kepada Yorick. Bahkan keduanya dengan cepat menjadi teman baik karena memiliki hobi film dan literatur yang sama. Sekali lagi perjalanan mereka menuju Yokogata tidak bakalan semudah itu, karena selain ketiganya, ada penyelundup lain di kapal The Whale yang mereka tumpangi… dan Kilina bukanlah gadis kapten polos seperti yang diduga sebelumnya…

Salah satu plot terpenting dalam cerita empat bagian ini adalah dimunculkannya karakter Rose yang nantinya akan menjadi bagian dari trio utama cerita ini. Sebenarnya Vaughan sudah melakukan tugas yang cukup baik saat memperkenalkan Rose kepada pembaca. Menilik bagaimana mereka harus berkeliling dunia dan bagaimana Ciba harus tinggal menjaga anak baru lahir, Rose adalah tenaga tambahan yang diperlukan oleh grup Yorick. Agent 355 tidak bisa melulu melindungi Yorick dan Dr Mann bukan? Walaupun begitu, saya berharap supaya Rose bisa menambah dinamika dalam tim ini – tidak sekedar menjadi otot pembantu saja.

Selain Rose, plot cerita yang penting di sini (sekaligus kenapa judul ceritanya Girl on Girl) adalah bagaimana Agent 355 dan Dr Mann sempat melakukan kegiatan bercinta lesbian walau terpotong singkat gara-gara terpergok oleh Yorick. Walaupun Agent 355 semata-mata melakukannya karena libidonya yang memang tengah tinggi, adalah sebuah pengungkapan yang menarik ketika pembaca akhirnya tahu bahwa Dr Mann adalah seorang lesbian. Pengungkapan ini menambah kedalaman pada karakter Dr Mann, yang akhir-akhir ini terjebak pada stagnansi sebagai si dokter dan si judes dalam kelompok.

Akhir dari cerita Girl on Girl bisa dibilang merupakan bagian yang paling menarik darinya. Alih-alih menuju Yokogata, Yorick dan kawan-kawannya justru sampai pada benua Australia. Dan sebagaimana yang pembaca tahu, Australia adalah benua di mana Beth sang tunangan Yorick terakhir berada. Apakah nasib pada akhirnya akan mempertemukan kedua insan yang sudah terpisah lebih dari hampir setengah dekade ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut sayangnya secara prematur dijawab sendiri oleh Vaughan dalam edisi ke 36, sebuah sempilan one-shot sebelum masuk pada jalan cerita berikutnya.

Walaupun ini bukan cerita terkuat dari Brian K. Vaughan maupun serial Y, setidaknya Girl on Girl masih cukup menarik buat diikuti dan memberikan banyak plot penting yang memperdalam para karakter di dalamnya.

Score: 7.5

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 32 – 36

Comments (0)

Tags: , , , ,

Y: The Last Man (Volume Five: Widow’s Pass & Tongues of Flame)

Posted on 07 May 2009 by Si Tukang Review

Dalam story arc terakhir, Vaughan meninggalkan citra Y yang biasanya penuh dengan adegan aksi untuk menggali lebih dalam sisi moral Yorick. Di akhir Safewords, karakter Yorick berubah secara drastis. Saya tidak mengatakan kalau Yorick kini menjadi seorang yang super serius. Yorick tetap Yorick yang dulu. Ia suka ngocol, mengucapkan one-liner penuh candaan supaya suasana di sekelilingnya tidak terlalu serius, dan menghadapi dunia di sekelilingnya dengan tawa.

Tapi di balik Yorick yang lama, tersimpan jugalah Yorick yang baru. Bisa dibilang inilah langkah awal yang diambil Yorick untuk menjadi seorang pria sejati.

Inilah yang berusaha untuk diekspos oleh Vaughan dalam story arc selanjutnya. Di Widow’s Pass, Yorick dan teman-temannya menemui kesulitan karena jalan raya (highway) yang seharusnya mereka lalui terblokir. Karena perbedaan pendapat antara agen 355 dan Dr Mann, grup tiga orang Yorick malah terpecah-belah.

Setelah sukses melalui highway, Yorick menyelinap sebentar ketika kedua rekannya tengah tertidur untuk pergi ke sebuah gereja. Tujuannya hendak membuat pengakuan dosa malahan menjadi bumerang ketika ia bertemu dengan seorang gadis cantik di sana. Yang lebih ironis, gadis itu juga bernama Beth; persis dengan nama pacar yang tengah dituju oleh Yorick. Dari judul Tongue of Flame saja, saya yakin kalian sudah tahu apa yang bakalan terjadi kemudian antara keduanya bukan?

Widow’s Pass sendiri tidak terlalu menarik di mata saya. Jujur saja, ide cerita Vaughan terlalu kering di sini. Tema gadis-gadis psikopat sudah terulang dua kali melalui Daughters of Amazon dan tentara Israel. Rasanya tidak perlu tema yang sama lagi-lagi diangkat. Kesannya Vaughan hanya membuang tiga volume Y tanpa mengembangkan karakternya lebih lanjut. Memang sih ada beberapa adegan menarik seperti bagaimana Yorick ‘baru’ kini bertindak atau bagaimana Agent 355 pertama kalinya menunjukkan kemampuannya seorang diri melawan banyak musuh, tetapi tidak ada apapun yang orisinil maupun menarik – kecuali dari tiga halaman terakhir arc ini (dan itupun tidak menyangkut petualangan ketiganya).

Tongue of Flame yang seharusnya menjadi filler semata justru jauh lebih menarik. Hubungan antara Yorick dan Beth Dua langsung ngalir begitu saja – dan keduanya tampak langsung klop dari awal pertemuan mereka. Walau setengah diriku sedikit tidak setuju dengan hubungan yang mereka lakukan, apa iya bisa menyalahkan Yorick? Ingat kalau dia adalah satu-satunya cowo di dunia, dan sudah dua tahun berlalu semenjak bencana yang menghapus umat manusia. Sampai berapa lama lagi ia harus ‘menunggu‘? Dan jangan keburu mendiskreditkan cerita dalam Tongue of Flame, karena ia akan memiliki implikasi yang besar di masa depan cerita ini.

Secara keseluruhan volume kelima mengalami penurunan kualitas dibandingkan keempat volume sebelumnya. Vaughan gagal mengangkat topik yang orisinil seperti yang sudah ia lakukan sebelum-sebelumnya. Mari kita berharap kalau performanya kembali meningkat pada volume berikutnya.

Score: 7.7

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 21 – 25

Comments (0)

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Two: Cycles)

Posted on 09 April 2009 by Si Tukang Review

cycles

Kalau volume pertamanya gagal menarik perhatianmu (hampir mustahil sih) maka rasanya volume kedua Y pasti menarik minatmu. Dalam Unmanned, Vaughan memberikan pada kita gambaran mengenai apa yang kira-kira terjadi pada dunia yang telah ditinggalkan dari para laki-laki, Cycles – volume keduanya – memberi kita detail yang lebih mendalam mengenai keadaan ini.

Cerita dibuka dengan trio Yorick, Agent 355, dan Dr Mann yang hendak meloloskan diri dari Boston. Kekisruhan terjadi dalam perjalanan di kereta sehingga ketiganya terpaksa melompat keluar sebelum sampai tujuan. Walhasil, ketiganya pun terpisah. Yorick yang pingsan ditemukan oleh seorang gadis bernama Sonia dan dibawa ke kota kecil Marisville (di Ohio). Berbeda dengan kota-kota lain, para wanita di Marisville tampak sangat mampu mengurus diri mereka sendiri. Agent 355 yang terluka dibawa oleh Dr Mann ke Marisville dan mendapatkan perawatan. Ketiganya segera menyadari keanehan mengenai kenapa semua fasilitas (termasuk fasilitas kesehatan) tempat tersebut begitu terawat dan terjaga. Tidak hanya trio tersebut yang mengalami rasa penasaran, para penduduk Marisville merasa tidak nyaman dengan kedatangan tiga penduduk asing di tengah mereka. Terlihat jelas bahwa mereka menyembunyikan sesuatu… tetapi apa?

Di lain pihak, tidak semua wanita berduka dengan musnahnya para pria. Kaum feminis bernama Daughters of Amazon di bawah pimpinan Victoria adalah salah satu contohnya. Victoria adalah pembenci pria sejati dan menanamkan doktrin tersebut pada setiap pengikutnya. Menurut Victoria, adalah mother earth sendiri yang ‘membersihkan’ diri dari para pria yang mencemarinya. Menurut Victoria, pria adalah manusia laknat yang mencemari kesucian para wanita. Celakanya, salah seorang bawahan Victoria adalah Hero Brown – kakak Yorick.

Ketika terjadi wabah, Hero tengah berciuman dengan sang pacar. Matinya sang pacar tepat di hadapannya membuat ia menjadi trauma dan menemukan sokongan dalam diri Victoria. Ketika Hero mendengar desas-desus bahwa ada seorang pria yang masih hidup dengan membawa peliharaan seekor monyet, sadarlah ia bahwa Yorick masih hidup. Masalahnya sekarang, Victoria yang mendengar bahwa masih ada satu sisa racun di bumi memutuskan untuk menuntaskannya. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas reuni antara dua kakak beradik ini tidak akan berjalan dengan mulus.

Sekali lagi Vaughan mampu membentuk sebuah cerita yang sangat menarik dari dunia baru yang ia ciptakan ini. Setelah sukses mengobrak-abrik tatanan sosial yang lama di Unmanned, Vaughan memberi contoh ‘begini nih’ tatanan sosial yang terbentuk ketika tanpa pria. Untungnya, Vaughan tidak jatuh dalam klise “semua wanita baik, sementara semua pria selain Yorick bejat”. Ia memaparkan semuanya berdasarkan fakta, dan dibumbui dengan dramanya sendiri.

Vaughan juga menambahkan karakter Hero sebagai salah satu karakter pendukung utama di serial ini. Memang sebelumnya Hero juga sudah menjadi sentral dalam Unmanned, tetapi perannya belum mendapatkan spotlight. Vaughan tidak salah memberinya kesempatan lebih banyak dalam volume ini, karena alur ceritanya sendiri memang lebih ngalir dan tidak terkesan dipaksakan. Siapa yang sudah membaca dan tidak merasakan adrenalin mengalir deras melihat tatap muka antara Yorick dan Hero?

Volume ini lagi-lagi ditutup dalam sebuah cliffhanger. Memang wabah misterius tersebut sudah menyapu bersih para pria yang ada di bumi. Tetapi bagaimana dengan para astronot yang tengah berada di luar angkasa sana? Apa mereka juga terkena efek wabah tersebut?

Score: 9.9

Comic Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 6 – 10

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here