Tie-in untuk Blackest Night bagian pertama sudah selesai. Tie-in tersebut mencakup karakter dalam keluarga Superman, Batman, dan Titans. Premise dari ketiganya tergolong sama. Para superhero harus berkonfrontasi dengan orang kesayangan (keluarga maupun sahabat) atau musuh mereka yang sudah lama mati tetapi dibangkitkan oleh cincin hitam. Semua tie-in tersebut juga memiliki pengakhiran yang serupa; bahwa para superhero kini tahu bahwa para Black Lantern itu hanya jasad yang dibangkitkan tanpa jiwa dan harus dihentikan dengan segenap cara. Bersamaan dengan majunya cerita utama Blackest Night, tie-in bagian keduanya pun diluncurkan dan berfokus pada karakter Flash dan Wonder Woman. Mengingat cerita utamanya sendiri sudah sampai pada perang frontal antara para superhero melawan para Black Lantern, banyak pembaca berharap kalau resep lama dalam tiga tie-in di atas tidak lagi diulang.
Mini-seri ini terbagi dalam tiga volume yang boleh dibilang berdiri sendiri sebagai suplemen cerita Blackest Night utama. Volume pertamanya tentang konfrontasi Wonder Woman menghadapi Black Lantern Maxwell Lord, volume keduanya adalah pergumulan diri Wonder Woman saat ia berubah menjadi Black Lantern, dan yang terakhir adalah bagaimana sang putri Amazon ini beradaptasi dengan cincin violet saat ia didaulat menjadi seorang Star Sapphire.
Berdiri sendiri-sendiri, ketiganya sebenarnya merupakan bacaan yang menarik dengan catatan kamu tahu sedikit banyak mengenai sejarah superheroine paling terkenal di muka bumi ini. Greg Rucka yang merupakan penulis serial Wonder Woman sebelum Infinite Crisis dan reboot ulangnya kembali untuk menulis serial ini, dan itu adalah sesuatu yang saya terima dengan senang hati. Tanpa merendahkan Gail Simone yang telah melakukan tugas luar biasa, siapapun yang membaca penulisan Greg Rucka akan Wonder Woman pasti setuju bahwa ia adalah salah seorang penulis yang paling mengerti sang superheroine. Konfrontasi Diana dengan Maxwell Lord dalam komik ini menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan, karena kepiawaian Rucka menulis bagaimana Diana membunuh Maxwell di depan seluruh dunia merupakan awal benih perpecahan yang nantinya menjadi Infinite Crisis. Saya juga suka dengan bagaimana Greg Rucka menggambarkan pertentangan Diana melawan cincin hitam dalam dirinya (bisa dibilang ini adalah pertama kalinya pembaca diberi kesempatan melihat apa yang terjadi pada para pahlawan yang dikuasai oleh Nekron) dan perdebatan dua cincin warna antara Mera (Rage / Amarah) dan Diana (Love / Cinta) di volume ketiga.
Toh, kalau mau dinilai secara jujur, Blackest Night Wonder Woman adalah sebuah bacaan yang sulit dibaca bila berdiri sendiri. Volume pertamanya seakan berdiri terpisah dari volume kedua dan ketiganya. Kemudian saya sendiri tidak terlalu tahu mengenai hubungan Mera dan Diana, sehingga perdebatan keduanya pada buku kedua dan ketiga tidak terasa nendang, katakanlah sebagaimana halnya duel ulang Diana menghadapi Maxwell di pembuka mini-seri ini. Seperti yang saya katakan di awal review tadi, kamu bakalan menemukan tie-in ini tidak menggigit kalau kamu tidak mengerti benar sejarah, posisi dan relasi Wonder Woman dengan karakter-karakter lain di dunia DC.
Untuk artworknya sendiri, Nicola Scott (Secret Six) berhasil mencuri perhatian saya. Mungkin ia tidak sejago Doug Mahnke atau Ivan Reis dalam menggambar sosok Black Lantern yang menakutkan, tetapi artworknya tergolong solid sepanjang tiga volume. Tidak buruk, walau saya tidak akan berlebihan melabelinya spektakuler.
So my verdict is… saya pribadi masih condong pada tie-in kumpulan pertama Blackest Night. Walaupun ketiganya memiliki jalan cerita yang bisa diprediksi, setidaknya saya bisa membacanya secara independen tanpa tergantung pada serial utama Blackest Night sendiri. Baca mini-seri ini hanya bila kamu pengikut fanatik saga Blackest Night atau karakter Wonder Woman.
Score: 6.5
Graphic Novel Details
Writer: Greg Rucka
Artist: Nicola Scott
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 03




























