Tag Archive | "Wonder Woman"

Tags: , , , , , , ,

Blackest Night Wonder Woman

Posted on 22 February 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Tie-in untuk Blackest Night bagian pertama sudah selesai. Tie-in tersebut mencakup karakter dalam keluarga Superman, Batman, dan Titans. Premise dari ketiganya tergolong sama. Para superhero harus berkonfrontasi dengan orang kesayangan (keluarga maupun sahabat) atau musuh mereka yang sudah lama mati tetapi dibangkitkan oleh cincin hitam. Semua tie-in tersebut juga memiliki pengakhiran yang serupa; bahwa para superhero kini tahu bahwa para Black Lantern itu hanya jasad yang dibangkitkan tanpa jiwa dan harus dihentikan dengan segenap cara. Bersamaan dengan majunya cerita utama Blackest Night, tie-in bagian keduanya pun diluncurkan dan berfokus pada karakter Flash dan Wonder Woman. Mengingat cerita utamanya sendiri sudah sampai pada perang frontal antara para superhero melawan para Black Lantern, banyak pembaca berharap kalau resep lama dalam tiga tie-in di atas tidak lagi diulang.

Mini-seri ini terbagi dalam tiga volume yang boleh dibilang berdiri sendiri sebagai suplemen cerita Blackest Night utama. Volume pertamanya tentang konfrontasi Wonder Woman menghadapi Black Lantern Maxwell Lord, volume keduanya adalah pergumulan diri Wonder Woman saat ia berubah menjadi Black Lantern, dan yang terakhir adalah bagaimana sang putri Amazon ini beradaptasi dengan cincin violet saat ia didaulat menjadi seorang Star Sapphire.

Berdiri sendiri-sendiri, ketiganya sebenarnya merupakan bacaan yang menarik dengan catatan kamu tahu sedikit banyak mengenai sejarah superheroine paling terkenal di muka bumi ini. Greg Rucka yang merupakan penulis serial Wonder Woman sebelum Infinite Crisis dan reboot ulangnya kembali untuk menulis serial ini, dan itu adalah sesuatu yang saya terima dengan senang hati. Tanpa merendahkan Gail Simone yang telah melakukan tugas luar biasa, siapapun yang membaca penulisan Greg Rucka akan Wonder Woman pasti setuju bahwa ia adalah salah seorang penulis yang paling mengerti sang superheroine. Konfrontasi Diana dengan Maxwell Lord dalam komik ini menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan, karena kepiawaian Rucka menulis bagaimana Diana membunuh Maxwell di depan seluruh dunia merupakan awal benih perpecahan yang nantinya menjadi Infinite Crisis. Saya juga suka dengan bagaimana Greg Rucka menggambarkan pertentangan Diana melawan cincin hitam dalam dirinya (bisa dibilang ini adalah pertama kalinya pembaca diberi kesempatan melihat apa yang terjadi pada para pahlawan yang dikuasai oleh Nekron) dan perdebatan dua cincin warna antara Mera (Rage / Amarah) dan Diana (Love / Cinta) di volume ketiga.

Toh, kalau mau dinilai secara jujur, Blackest Night Wonder Woman adalah sebuah bacaan yang sulit dibaca bila berdiri sendiri. Volume pertamanya seakan berdiri terpisah dari volume kedua dan ketiganya. Kemudian saya sendiri tidak terlalu tahu mengenai hubungan Mera dan Diana, sehingga perdebatan keduanya pada buku kedua dan ketiga tidak terasa nendang, katakanlah sebagaimana halnya duel ulang Diana menghadapi Maxwell di pembuka mini-seri ini. Seperti yang saya katakan di awal review tadi, kamu bakalan menemukan tie-in ini tidak menggigit kalau kamu tidak mengerti benar sejarah, posisi dan relasi Wonder Woman dengan karakter-karakter lain di dunia DC.

Untuk artworknya sendiri, Nicola Scott (Secret Six) berhasil mencuri perhatian saya. Mungkin ia tidak sejago Doug Mahnke atau Ivan Reis dalam menggambar sosok Black Lantern yang menakutkan, tetapi artworknya tergolong solid sepanjang tiga volume. Tidak buruk, walau saya tidak akan berlebihan melabelinya spektakuler.

So my verdict is… saya pribadi masih condong pada tie-in kumpulan pertama Blackest Night. Walaupun ketiganya memiliki jalan cerita yang bisa diprediksi, setidaknya saya bisa membacanya secara independen tanpa tergantung pada serial utama Blackest Night sendiri. Baca mini-seri ini hanya bila kamu pengikut fanatik saga Blackest Night atau karakter Wonder Woman.

Score: 6.5

Graphic Novel Details
Writer: Greg Rucka
Artist: Nicola Scott
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 03

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

The Superhero Identity Crisis Quiz

Posted on 29 December 2009 by Si Tukang Review

superman-quiz

Let’s start with an easy question: the alter-ego of Superman?
1. Christopher Reeves
2. Tom Welling
3. Clark Kent
4. Jor-El
5. CL
spider-man-quiz

Another easy question: the alter-ego of Spider-man is…?
1. Peter Petrelli
2. Peter Parker
3. Matt Parkman
4. Pak Parkir
5. Park Ji-Sung
batman-quiz

And yet another easy question (I’m too kind yeah?): Batman aka Caped Crusader aka The Dark Knight alter-ego is…?
1. Bruce Wayne
2. Bruce Banner
3. Alfred Messi
4. Sayid Al Jarrah
5. Michael Jon Carter
captain-america-quiz

Too much of easy questions? Okay, let’s up the difficulty a bit. Who’s the first Captain America?
1. Nick Fury
2. Adolf Hitler
3. Steve Roger
4. Bucky
5. Pietr Makalov
wolverine-quiz

The hot guy in the cinema. Wolverine real name is…?
1. Logan
2. Weapon X
3. Charles Xavier
4. James Howlett
5. Jimmy Corbain
green-lantern-quiz

In brightest day, In blackest night, no evil shall escape my sight. Those who worship evil’s might… beware my power… GREEN LANTERN’s light! But who’s the Green Lantern?
1. Guy Gardener
2. Hal Jordan
3. Abin Mati Suri
4. Sinetron
5. John Stewardess
hulk-quiz

Do you know the real identity of the Hulk? You better do, cos you won’t like him when he’s angry!
1. Alfred Molina
2. Otto Octavius
3. Cassidy Freeman
4. Davis Bloome
5. Bruce Banner
flash-quiz

Faster than a speeding bullet… Faster than even Superman… It’s the man who ride the lightning himself. It’s the Flash, and his real name is?
1. Bartholomew Kuma
2. Robert Jacobi
3. Barry Allen
4. Wally East
5. Jay Jay Carick
wonder-woman-quiz

She is the world greatest superheroine. A princess of the Amazon, a fierce warrior, and one of DC’s holy trinity. Wonder Woman alias is…?
1. Asia Argento
2. Megan Gale
3. Lady Theresa Croft
4. Lara Fabian
5. Diana Prince
hawkeye

One of the most popular member of the Avengers. He died in the Avengers Disassembled arc – only to be revived as Ronin a few years later. Hawkeye, Marvel most famous archer name is?
1. Hercules
2. Clint Barton
3. Roger Friedman
4. Andrew Melvin
5. Jared Cole

The leader of the Fantastic Four, as well as Marvel most genius mind. Mr Fantastic is also known as?
1. Ben Grimm
2. Johnny Storm
3. Reverend Ricardo
4. Gabriel Reese
5. Reed Richards
supergirl-quiz

The cousin of Superman that came from Argo City, as well as my personal favorite superheroine, the last daughter of Krypton: Supergirl alias is…?
1. Connor Kent
2. Linda Lee Danvers
3. Lana Lang
4. Linda Lane
5. Artemis Sullivan
she-hulk-quiz

Next; the cousin of Hulk. The She-Hulk is?
1. Angelina Banner
2. Sarah Carter
3. Jessica Siemens
4. Mira Maria
5. Jennifer Walters
robin-quiz

For now, there are three people who ever wear the costume of Robin. Who is the third Batman’s sidekick?
1. Stephanie Brown
2. Tim Drake
3. Jason Todd
4. Marcus Camby
5. Allen Crescent
iron-man-quiz

He’s not only known as Iron Man, but also as the world most flamboyant millionaire playboy. His name is…?
1. Anthony Marc
2. Eddie Brock
3. Justin Kyle
4. Jonn Jonnz
5. Tony Stark
mr-fantastic-quiz

The leader of the X-Men with an Optic Blast. Cyclops is also known as?
1. Scott Summers
2. Sidney Sheldon
3. Scott Speedman
4. Scarlet Speedster
5. Simon Sony
green-arrow-quiz

Green Arrow aka Emerald Archer aka…?
1. Dinah Lance
2. Jasper Vince
3. Lance Vance
4. Niko Davydenko
5. Oliver Queen
nightwing-quiz

He was the first Robin and also the leader of The Outsiders. Nightwing real name is…?
1. Jake T
2. Nelly Bertulloci
3. Shane Moley
4. Dick Grayson
5. William Stryker
catwoman-quiz

She was a villain, a Batman’s lover and a thief. Catwoman = ?
1. Cat Grant
2. Sabrina Menelly
3. Pied Piper Perabo
4. Selina Kyle
5. Helena Wayne
daredevil-quiz

Daredevil; the man without fear, the blind lawyer alter-ego is?
1. Jet Archson
2. Kingpin Bullseye
3. Matt Murdock
4. Ali Larter
5. Leon Redfield

Answers: 3, 2, 1, 3, 4, 2, 5, 3, 5, 2, 5, 2, 5, 2, 5, 1, 5, 4, 4, 3

Comments (4)

Tags: , , ,

Wonder Woman

Posted on 04 May 2009 by Si Tukang Review

Wonder Woman Poster

Wonder Woman Poster

Walaupun DC selalu mengatakan bahwa trinitas suci mereka adalah Superman, Batman, dan Wonder Woman, kenyataan tidak sejalan dengan kata-kata mereka. Buktinya Superman sudah memiliki lima film di layar lebar (termasuk mencatat sejarah sebagai superhero pertama yang tampil di layar lebar). Batman malah sudah memiliki enam film dan The Dark Knight hingga kini tercatat sebagai film superhero terlaris. Keduanya pun memiliki berbagai serial TV, baik dari live-action dan animasi. Bagaimana dengan Wonder Woman? Selain tiga season serial TV yang diperani oleh Linda Carter, tidak banyak yang bisa ia banggakan. Lebih ironis lagi, rencana penggarapan layar lebarnya yang sudah lama terkatung-katung gagal total setelah Joss Whedon mundur dari kursi sutradara. “Terlalu banyak batasan dari DC!” adalah alasan yang dikemukakan pencipta serial Buffy tersebut. Makin kelam sajalah masa depan sang putri Amazon ini. Setidaknya, DC berusaha menebus dosa mereka dengan membuat sebuah film animasi Wonder Woman. Walaupun direct-to-DVD, film ini diharapkan DC bisa memuaskan dahaga penggemarnya. Pertanyaannya: berhasilkah?

Setelah Ares mengkhianati dan menyerang para Amazon, tidak ada pilihan bagi Ratu Hippolyta selain menyatukan rakyat dan melawannya. Melalui perang yang panjang, akhirnya Hippolytha menang. Kendati begitu, sebelum berhasil memenggal kepala Ares, Zeus mengintervensi dan ‘memaksa’ Hippolyta untuk hanya mengurung Ares saja. Sebagai gantinya, para Amazon diberi sebuah pulau rahasia yang tertutup dari dunia luar dan Hippolytha seorang putri bernama Diana. Tahun demi tahun pun berlalu tanpa gangguan berarti sampai sebuah pesawat militer yang ditunggangi oleh Kolonel Steve Trevor mendarat darurat di pulau itu. Diana, berbeda dengan Amazon lain, sangat penasaran dengan dunia luar dan meminta sang ibu untuk mengijinkannya menemani Steve kembali ke dunia manusia. Berangkatlah Diana sebagai Wonder Woman. Tetapi tak disangka-sangka, insiden kecil kedatangan Steve hanyalah puncak dari bukit es. Perpecahan dalam kubu Amazon menyebabkan Ares berhasil meloloskan diri dari penjaranya. Kini tugas Diana tidak sekedar membawa Steve kembali ke Amerika saja, tetapi juga menghentikan Ares dalam upayanya menghancurkan dunia.

DC nampaknya benar-benar berusaha mencurahkan perhatiannya dalam film ini. Nama-nama tenar dipilih untuk mengisi suara di dalamnya seperti Wonder Woman oleh Keri Russell (Bedtime Stories), Steve Trevor oleh Nathan Fillion (Firefly), maupun Alfred Mollina (Spider-man 2) yang mengisi suara Ares. Hasilnya memang terlihat karena di layar tiap karakter terlihat hidup. Keberanian sutradara Lauren Montgomery juga saya acungi jempol: ia berani memasukkan unsur kekerasan dalam Wonder Woman. Ketika saya melihat adegan pemotongan kepala (walau dalam bentuk siluet) saya segera sadar bahwa ini bukan film yang bisa ditonton oleh adik-adik bawah usia. Walau demikian, Montgomery tidak melulu mengumbar kekerasan dan aksi tetapi menyeimbangkannya dengan pengembangan karakter.

Skrip yang ditulis oleh Gail Simone (yang sekarang juga menulis komik Wonder Woman) memang sukses merevolusi para karakter tanpa membuat mereka kehilangan akar mereka. Contoh paling bagus dalam kasus ini adalah Hippolyta. Bila di kebanyakan komik Hippolyta lebih mirip ibu Amazon yang over-protektif, Hippolyta tidak pernah jatuh pada stereotipe itu dalam film ini. Sebaliknya, Hippolyta disorot sebagai seorang ratu yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya, seorang Amazon yang tangguh, juga seorang ibu yang ingin melihat anaknya terbang jauh tetapi ragu-ragu. Hubungan Diana dan Steve sendiri juga saling mengisi. Bila dalam banyak komik Diana selalu menyembunyikan identitas gandanya pada Steve, itu tidak terjadi di sini. Dinamika yang bisa digali pun jadi lebih menarik antara mereka; apalagi karena keduanya tidak harus tergantung satu sama lain tetapi tetap mandiri.

Karena berdurasi 75 menit, Wonder Woman terasa padat dari awal hingga akhir. Sedikit kekurangan dalam film ini terdapat pada kurang tergalinya hubungan karakter-karakter sampingan lain di film ini (kakak beradik Alexa dan Artemis misalnya). Lepas dari sedikit kekurangan-kekurangan yang ada, Wonder Woman meneruskan sukses Bruce Timm dalam menggarap film-film direct-to-DVD yang berkualitas. Saya nantikan kolaborasi Montgomery – Timm selanjutnya dalam menggarap salah satu superhero DC favorit saya: Green Lantern. Now DC, film layar lebar Wonder Woman please?

Score: 8.7

Movie Details
Director: Lauren Montgomery
Cast: Keri Russell, Nathan Fillion, Alfred Mollina, Rosario Dawson
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Superman: Red Son

Posted on 28 March 2009 by Si Tukang Review

Superman Red Son Cover

Superman Red Son Cover

Sebelum saya membaca Superman: Red Son, pikiran saya mengenai komik Amerika terbatas pada stereotipe kebanyakan orang di Indonesia. Graphic Novel (komik) Amerika itu hanya terbatas pada superhero. Dan Superhero berarti orang berotot ala steroid dan menggunakan kekuatannya untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. Superman: Red Son karya Mark Millar mengubah persepsi saya dan merupakan awal dari terbukanya mata saya dan dalam prosesnya menjadikan saya kecanduan akan komik Amerika.

Superman: Red Son bukan bagian dari universe utama DC, melainkan mengambil setting di universe yang lain (disebut Elseworld). DC memang memiliki konsep multiverse di mana dalam komik mereka tiap jagad raya memiliki Superman mereka sendiri. Nah, Superman: Red Son ini bersetting di universe dengan premise ‘apa yang akan terjadi seandainya Superman tidak jatuh ke Smallville, tetapi di Ukraina? Apa jadinya bila Superman yang selama ini mengusung bendera Amerika dan prinsip kebebasan malahan mengusung bendera Uni Soviet dan prinsip sosialis?‘. Hal inilah yang dicoba ditelaah oleh Mark Millar dalam tiga komik mini-seri ini.

Dunia DC yang selama ini kita kenal diciptakan ulang oleh Millar. Sebagai contoh Lois Lane yang seharusnya menjadi cinta Superman justru berbalik menjadi istri Lex. Pyotr Roslov (Pete Ross) menjadi ‘saudara tiri’ yang iri kepada Superman karena beranggapan bahwa Superman adalah bukti nyata bahwa prinsip sosialis salah “Kamu adalah salah satu bukti bahwa semua manusia tidak diciptakan sama!”. Selain karakter-karakter dalam dunia Superman, muncul juga para superhero DC macam Wonder Woman, Batman, sampai Green Lantern dan peran mereka menentang maupun mendukung Superman. Selain Mark Millar, sang ilustrator Dave Johnson juga layak diacungi jempol. Nuansa keseluruhan komik dominan merah, sesuai dengan lambang Uni Soviet. Bahkan, sang Superman sendiri kehilangan lambang S di dadanya dan berganti menjadi lambang kaum sosialis!

Ironis melihat bahwa konsep sosialis justru berhasil di bawah tangan besi Superman. Dengan kekuatan super miliknya, mudah saja Superman membawa seluruh manusia menuju kedamaian di bawah pimpinannya. Terbukti bahwa konsep liberal Amerika ambruk di komik ini, sementara Uni Soviet di bawah presiden Superman justru kian berjaya. Superman sampai bertanya-tanya “kuberi mereka surga, tetapi kenapa mereka berjuang untuk tinggal di neraka?”. Akhir dari komik ini membuat banyak orang bakalan mempertanyakan kembali arti dari kontrol dan kebebasan. That’s how great this comic is.

Superman: Red Son adalah komik yang bisa dibaca oleh semua orang, tetapi untuk bisa lebih menghargai ceritanya, sebaiknya kamu memiliki pengetahuan mendasar dahulu mengenai mitologi dasar Superman, Batman, Wonder Woman, serta Green Lantern.

Score: 10

Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Penciller: Dave Johnson
Publisher: DC Comics

PS: Big thanks to Dodik yang memperkenalkan kepada gw dunia Graphic Novel Amerika.

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here