Tag Archive | "Warren Ellis"

Tags: , , , , , , , ,

Ultimate Comics: Armor Wars

Posted on 11 February 2010 by Si Tukang Review

Ultimate Comics: Armor Wars Poster

Ultimate Comics: Armor Wars Poster

Pada akhir crossover Ultimatum, dunia Ultimate milik Marvel berubah untuk selama-lamanya. Puluhan juta manusia dan mutant tewas terbunuh di tangan Magneto dan tsunami global yang ia ciptakan. Mudah ditebak apabila dunia bukanlah sebuah tempat yang nyaman ditempati sebagaimana dulu lagi – bahkan untuk seorang konglomerat Tony Starks. Grup The Ultimates yang ia naungi terpecah-belah, Tony juga masih dihantui dengan aksi membunuh rekannya saat Ultimatum, dan bahkan perusahaannya kini diterpa oleh krisis ekonomi global.

Dengan berakhirnya Ultimatum, berubah pula tatanan komik terbitan dunia Ultimate. Sebelum Ultimatum, dunia Ultimate memiliki empat komik: versi Ultimate dari X-Men, Avengers, Spider-man, dan Fantastic Four. Saat itu sudah beredar rumor bahwa X-Men dan Fantastic Four tidak akan dilanjutkan seusai Ultimatum karena kualitas dan oplah yang terus menurun dan memang kenyataannya Marvel menghentikan penerbitan dua serial tersebut. Marvel tahu benar bahwa tidak mungkin sebuah dunia hanya disokong oleh dua komik saja (dan hanya satu yang bulanan) sehingga mulai menciptakan mini-seri dan serial komik yang baru. Salah satu mini-serinya adalah Armor Wars yang ditukangi oleh Warren Ellis sepanjang empat buku.

Armor Wars versi Ultimate ini merupakan intepretasi bebas dari versi kontinuitas Iron Man resmi Marvel yang berjalan pada 1987 hingga 1988 dulu. Saga yang pada kontinuitas resminya disebut Stark Wars ini merupakan salah satu jalan cerita Iron Man yang memorable selain Demon in a Bottle sehingga saya tertarik melihat bagaimana sudut pandang Ellis dalam memodernkan karya klasik – yang sejujurnya belum saya baca – itu.

Seperti yang saya katakan di awal review tadi, perusahaan Tony Starks mengalami hantaman hebat yang menyebabkan kekayaannya mengerucut dengan signifikan. Kendati begitu, apa yang ada di pikiran Tony lebih pada teknologi jubah Iron Man-nya. Sadar bahwa teknologi jubah Iron Man bisa berbahaya bila jatuh ke tangan orang yang salah, Tony pun bergerak untuk mencari tahu siapa yang menyebarkannya dan bagaimana ia bisa menghentikannya. Di awal cerita juga, ia bertemu dengan gadis berambut merah bernama Justine Hammer, putri dari rival bisnisnya Justin Hammer. Kehadiran gadis ini turut memperumit perasaan Tony. (PS: Apa karena rambut merahnya mengingatkan Tony pada Black Widow ya?)

Salah satu ciri khas dari komik The Ultimates, di mana Tony juga seorang anggotanya, adalah campuran antara kerealistisan dan fantasinya. Acungan jempol kuberikan pada Mark Millar yang mampu menciptakan dunia realistis di mana superhero bisa hidup di tengah kita, tetapi juga cukup fantasi di mana ada surga Asgard bangsa Norse di atas dunia manusia. Terlihat kalau Warren Ellis berusaha mengambil pendekatan yang sama dengan Millar tetapi lebih berfokus ke arah politik dan teknologi, sisi yang kerap disangkutpautkan dengan Tony. Saya juga suka dengan dialog-dialog yang ditulis Ellis. Saya tadinya sempat khawatir karena trauma dengan bagaimana Jeph Loeb menghancurkan karakter-karakter idaman saya di season ketiga The Ultimates dengan memasukkan segala jenis dialog kacangan ke dalamnya. Untungnya Ellis tidak begitu. Seakan mengerti dan menjiwai sosok Ultimates Tony, Ellis mampu berbicara lewat Tony Starks yang bicaranya penuh dengan humor sarkasme.

Walau saya suka setengah mati dengan penulisan cakap Ellis, saya tidak bisa mengatakan hal sama untuk ceritanya. Terlalu banyak pembicaraan konspirasi dan politik yang membuat serial ini jadi sulit dibaca. Saya yang suka dengan komik dunia Ultimates saja cukup kesulitan mengerti ceritanya sebelum membacanya dua tiga kali sehingga saya tidak berani membayangkan bilamana pembaca yang tidak fasih dengan dunia Ultimates berusaha membacanya… bisa langsung hilang! Duh duh Ellis, kita tahu kamu sukses dengan The Authority, tapi perlukah meniru gaya penceritaannya di sini? Kok rasanya kurang cocok ya? Satu lagi yang saya sayangkan adalah (SPOILER ALERT) kenapa banyak karakter pendukung dalam komik ini yang sebenarnya berpotensi diintegrasikan dalam komik dunia Ultimates lainnya dimatikan secara prematur oleh Ellis? Apa tidak cukup mayat dunia Ultimates yang sudah bejibun banyaknya itu?

Setidaknya walaupun saya merasa kurang cocok dengan ceritanya yang kelewat ribet, saya selalu bisa menikmati artwork yang digambar oleh Steve Kurth. Melihat gaya gambarnya, saya sempat salah sangka dan mengira kalau komik ini artworknya ditangani oleh Bryan Hitch. Keberhasilan Kurth ‘menipu’ mata saya ini adalah sebuah bukti kalau ia seorang artis yang sangat berbakat dan saya harap kalau Marvel akan lebih sering menggunakan talentanya di komik-komik mereka yang lebih mainstream.

So my verdict is… Ultimate Comics: Armor Wars jelas bukan sebuah komik untuk semua orang. Apabila kamu tidak kenal baik dengan sejarah dan latar belakang Iron Man, saya sarankan menjauhi komik. Dan tidak… menonton filmnya tidak membuat kamu terhitung sebagai seseorang yang kenal baik sejarah sang manusia besi ini.

Score: 7.0

Graphic Novel Details
Writer: Warren Ellis
Penciller: Steve Kurth
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 04

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

GI JOE: Resolute

Posted on 11 December 2009 by Si Tukang Review

GI JOE: Resolute Poster

GI JOE: Resolute Poster

resolute [?r?z??lu?t]
adj
1. firm in purpose or belief; steadfast
characterized by resolution; determined

Saya harus berterima kasih kepada anime-anime Jepang. Percaya atau tidak, karena pengaruh anime Jepang yang memposisikan dirinya tidak hanya sebagai tontonan anak-anaklah film animasi di Amerika kini tidak lagi anti terhadap kekerasan. Dan maksud saya di sini adalah kekerasan sungguhan. Menonton GI JOE: Resolute (Resolute) dan membandingkannya dengan serial animasi GI JOE tahun 80an dulu sungguh berbeda. Di era 80an itu rasanya para karakter dalam GI JOE semuanya terlalu sempurna sehingga terasa tak mungkin terkalahkan. Senjata mereka juga sedikit ‘terlalu’ futuristik sehingga mustahil dibayangkan benar-benar dikembangkan di dunia nyata.

Tahukah kalian siapa itu Warren Ellis? Dia seorang penulis graphic novel yang ternama di Amerika. Salah satu karyanya adalah The Authority yang baru-baru ini dimasukkan oleh TIME dalam daftar serial komik terbaik dekade ini. Demi mempromosikan film GI JOE: Rise of the Cobra (Rise of the Cobra) garapan Stephen Sommers, Ellis didekati oleh pihak Hasbro untuk diminta membuat sebuah film animasi (terbagi dalam sebelas episode pendek) yang bertujuan memperkenalkan para penggemar baru GI JOE pada dunia komiknya. Percaya tidak percaya, Resolute visi Ellis malahan lebih berdarah dan ditujukan pada segmen pasar dewasa ketimbang Rise of the Cobra. Bila kalian ingin membayangkan dunia yang diciptakan oleh Warren Ellis, bayangkan saja bagaimana Mark Millar membentuk dunia superhero dalam The Ultimates – tapi kali ini dengan karakter GI JOE di dalamnya.

Tanpa terduga, organisasi Cobra mendadak saja mengancam setiap negara menyerahkan kekuatan negara mereka pada organisasi Cobra… atau mereka akan kena getahnya. Dan Cobra bukan asal omong kosong saja. Dalam saat yang hampir bersamaan, markas GI JOE di atas sebuah kapal induk meledak hancur. Seorang Joe berkode Bazooka terbunuh oleh ninja Cobra Storm Shadow. Yang lebih mengerikan, untuk membuktikan ancamannya, Cobra mendadak saja menghancurkan seluruh kota Moscow. Dalam sekejab 10 juta orang tewas. Dalam kebingungan dan panik dunia, Cobra mengeluarkan ultimatum mereka. Tenggang waktunya: 24 jam, atau kota lain akan dijadikan sasaran berikutnya. Teknologi apa yang digunakan Cobra? Apakah GI JOE yang markasnya luluh berantakan bisa mempersiapkan serangan balik hanya dalam waktu 24 jam?

Karena hanya berdurasi sekitar 60 menit, cerita dan aksi Resolute jelas jauh lebih padat ketimbang Rise of the Cobra. Tidak ada lagi introduksi untuk setiap karakter Joe karena kita dianggap sudah harus mengenali mereka; entah dari filmnya atau dari komiknya (kecuali untuk karakter Snake Eyes yang adalah favorit para fans). Saya pribadi merasa kalau Warren Ellis lebih banyak mendasarkan Resolute pada serial komiknya dengan mengangkat hubungan cinta segitiga Scarlet – Snake Eyes – Duke (tidak ada Baroness bertobat kali ini – tapi dia tetap seksi kok) dan Ripcord adalah seorang kulit putih, bukannya kulit hitam seperti di versi layar lebarnya. Perubahan paling kentara yang dilakukan oleh Ellis adalah keberaniannya memasukkan korban dalam filmnya ini. 10 Juta orang Russia yang mati di awal film mengagetkan bagi saya, begitu juga dengan keputusan Ellis menghabisi karakter Bazooka. Maklum, saya dulu tumbuh dengan pandangan kalau GI JOE dan Cobra itu saling tembak-tembakan tapi tidak pernah saling bunuh-bunuhan. Kali ini, tidak ada lagi GI JOE sok suci. Dalam satu adegan, secara eksplisit Duke mengatakan bahwa mereka akan membunuh Cobra Commander supaya kejadian Moscow takkan pernah terulang lagi. Pengisi suara dari Resolute mungkin tidak terlalu terkenal, kecuali suara Cobra Commander yang diisi Charles Adler – sang Starscream dalam film Transformers. Walaupun tidak terkenal, jangan khawatir dengan kualitas mereka karena semuanya adalah langganan pengisi suara baik dalam dunia game maupun film animasi lain.

Melihat banyaknya tanggapan positif atas Resolute, saya hanya bisa berharap supaya Hasbro kemudian memberi lampu hijau pada Ellis untuk mengembangkan serial animasi GI JOE. Sudah saatnya memperkenalkan para pahlawan internasional ini kepada generasi muda!

FUN FACT: Grey DeLisle mengisi suara Scarlet dalam film Resolute ini tapi justru mengisi suara Baroness dalam versi video game Rise of the Cobra.

Score: 8.0

Movie Details
Director: Joaquim Dos Santos
Cast: Steve Blum, Grey DeLisle, Charles Adler
Running Time: 60 Minutes

Comments (6)

Advertise Here
Advertise Here