Pada akhir crossover Ultimatum, dunia Ultimate milik Marvel berubah untuk selama-lamanya. Puluhan juta manusia dan mutant tewas terbunuh di tangan Magneto dan tsunami global yang ia ciptakan. Mudah ditebak apabila dunia bukanlah sebuah tempat yang nyaman ditempati sebagaimana dulu lagi – bahkan untuk seorang konglomerat Tony Starks. Grup The Ultimates yang ia naungi terpecah-belah, Tony juga masih dihantui dengan aksi membunuh rekannya saat Ultimatum, dan bahkan perusahaannya kini diterpa oleh krisis ekonomi global.
Dengan berakhirnya Ultimatum, berubah pula tatanan komik terbitan dunia Ultimate. Sebelum Ultimatum, dunia Ultimate memiliki empat komik: versi Ultimate dari X-Men, Avengers, Spider-man, dan Fantastic Four. Saat itu sudah beredar rumor bahwa X-Men dan Fantastic Four tidak akan dilanjutkan seusai Ultimatum karena kualitas dan oplah yang terus menurun dan memang kenyataannya Marvel menghentikan penerbitan dua serial tersebut. Marvel tahu benar bahwa tidak mungkin sebuah dunia hanya disokong oleh dua komik saja (dan hanya satu yang bulanan) sehingga mulai menciptakan mini-seri dan serial komik yang baru. Salah satu mini-serinya adalah Armor Wars yang ditukangi oleh Warren Ellis sepanjang empat buku.
Armor Wars versi Ultimate ini merupakan intepretasi bebas dari versi kontinuitas Iron Man resmi Marvel yang berjalan pada 1987 hingga 1988 dulu. Saga yang pada kontinuitas resminya disebut Stark Wars ini merupakan salah satu jalan cerita Iron Man yang memorable selain Demon in a Bottle sehingga saya tertarik melihat bagaimana sudut pandang Ellis dalam memodernkan karya klasik – yang sejujurnya belum saya baca – itu.
Seperti yang saya katakan di awal review tadi, perusahaan Tony Starks mengalami hantaman hebat yang menyebabkan kekayaannya mengerucut dengan signifikan. Kendati begitu, apa yang ada di pikiran Tony lebih pada teknologi jubah Iron Man-nya. Sadar bahwa teknologi jubah Iron Man bisa berbahaya bila jatuh ke tangan orang yang salah, Tony pun bergerak untuk mencari tahu siapa yang menyebarkannya dan bagaimana ia bisa menghentikannya. Di awal cerita juga, ia bertemu dengan gadis berambut merah bernama Justine Hammer, putri dari rival bisnisnya Justin Hammer. Kehadiran gadis ini turut memperumit perasaan Tony. (PS: Apa karena rambut merahnya mengingatkan Tony pada Black Widow ya?)
Salah satu ciri khas dari komik The Ultimates, di mana Tony juga seorang anggotanya, adalah campuran antara kerealistisan dan fantasinya. Acungan jempol kuberikan pada Mark Millar yang mampu menciptakan dunia realistis di mana superhero bisa hidup di tengah kita, tetapi juga cukup fantasi di mana ada surga Asgard bangsa Norse di atas dunia manusia. Terlihat kalau Warren Ellis berusaha mengambil pendekatan yang sama dengan Millar tetapi lebih berfokus ke arah politik dan teknologi, sisi yang kerap disangkutpautkan dengan Tony. Saya juga suka dengan dialog-dialog yang ditulis Ellis. Saya tadinya sempat khawatir karena trauma dengan bagaimana Jeph Loeb menghancurkan karakter-karakter idaman saya di season ketiga The Ultimates dengan memasukkan segala jenis dialog kacangan ke dalamnya. Untungnya Ellis tidak begitu. Seakan mengerti dan menjiwai sosok Ultimates Tony, Ellis mampu berbicara lewat Tony Starks yang bicaranya penuh dengan humor sarkasme.
Walau saya suka setengah mati dengan penulisan cakap Ellis, saya tidak bisa mengatakan hal sama untuk ceritanya. Terlalu banyak pembicaraan konspirasi dan politik yang membuat serial ini jadi sulit dibaca. Saya yang suka dengan komik dunia Ultimates saja cukup kesulitan mengerti ceritanya sebelum membacanya dua tiga kali sehingga saya tidak berani membayangkan bilamana pembaca yang tidak fasih dengan dunia Ultimates berusaha membacanya… bisa langsung hilang! Duh duh Ellis, kita tahu kamu sukses dengan The Authority, tapi perlukah meniru gaya penceritaannya di sini? Kok rasanya kurang cocok ya? Satu lagi yang saya sayangkan adalah (SPOILER ALERT) kenapa banyak karakter pendukung dalam komik ini yang sebenarnya berpotensi diintegrasikan dalam komik dunia Ultimates lainnya dimatikan secara prematur oleh Ellis? Apa tidak cukup mayat dunia Ultimates yang sudah bejibun banyaknya itu?
Setidaknya walaupun saya merasa kurang cocok dengan ceritanya yang kelewat ribet, saya selalu bisa menikmati artwork yang digambar oleh Steve Kurth. Melihat gaya gambarnya, saya sempat salah sangka dan mengira kalau komik ini artworknya ditangani oleh Bryan Hitch. Keberhasilan Kurth ‘menipu’ mata saya ini adalah sebuah bukti kalau ia seorang artis yang sangat berbakat dan saya harap kalau Marvel akan lebih sering menggunakan talentanya di komik-komik mereka yang lebih mainstream.
So my verdict is… Ultimate Comics: Armor Wars jelas bukan sebuah komik untuk semua orang. Apabila kamu tidak kenal baik dengan sejarah dan latar belakang Iron Man, saya sarankan menjauhi komik. Dan tidak… menonton filmnya tidak membuat kamu terhitung sebagai seseorang yang kenal baik sejarah sang manusia besi ini.
Score: 7.0
Graphic Novel Details
Writer: Warren Ellis
Penciller: Steve Kurth
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 04









