Tag Archive | "Underworld"

Tags: , , , , ,

Whiteout

Posted on 11 October 2009 by Si Tukang Review

Whiteout Poster

Whiteout Poster

Wow. Amerika kelihatannya lagi gemar mengadaptasi film dari graphic novel. Setelah kesuksesan dari Wanted, V for Vendetta, sampai Sin City dalam satu bulan ini saja sudah ada dua graphic novel yang diangkat ke layar lebar: Surrogates dan Whiteout. Bila Surrogates bergenre sci-fi, Whiteout mengusung tema misteri pembunuhan / thriller. Ada dua hal yang membuat saya tertarik akan Whiteout: si cantik Kate Beckinsale dan Greg Rucka. Untuk si cantik Kate saya rasa tak butuh pengenalan lagi karena kebanyakan orang tentu tahu pemeran dari Selene di Underworld itu. Sementara Greg Rucka adalah penulis komik DC yang banyak menangani titel-titel laris di DC seperti Batman dan Wonder Woman. Walau sampai saat ini belum pernah dipercaya memegang proyek besar DC maupun Marvel, Greg Rucka adalah salah seorang penulis konsisten yang selalu memiliki ciri khas sendiri dalam penulisannya (biasanya banyak melibatkan intrik-intrik politik dalam karyanya). Di luar menulis untuk DC, Greg Rucka juga menulis cerita-ceritanya sendiri. Salah satu karya terbaiknya yang mendapat nominasi Eisner Award untuk kategori Penulis, Artis, dan Mini-Seri terbaik tidak lain tidak bukan Whiteout, sebuah kisah misteri pembunuhan di Antartika.

Film ini dibuka pada tahun 1957 di mana sebuah pesawat Russia tengah melintasi benua Antartika. Untuk alasan yang tidak jelas kenapa, mendadak saja mereka tembak-tembakan dan saling bunuh. Sebuah peluru nyasar menghantam kepala sang pilot dan menyebabkan pesawat kehilangan keseimbangan. Pesawat itu kemudian jatuh di kutub selatan dan dianggap hilang.

Cerita kemudian bergerak pada jaman sekarang. Karena badai yang sebentar lagi menghampiri Antartika, Stasiun McMurdo akan segera ditinggalkan mayoritas pegawainya, termasuk satu-satunya polisi (US Marshall) Carrie Stetko. Carrie yang trauma akan pekerjaan penegak hukum di masa lalunya mengalami masa-masa yang relatif damai selama di Antartika. Sial buat dia, hanya dua hari sebelum ia pulang tugas seorang misterius mati di tengah hamparan padang es. Dalam investigasi lebih lanjut, Carrie menemukan bahwa mayat tersebut tidak mungkin mati karena kecelakaan. Dengan kata lain, Carrie baru saja berhadapan dengan kasus pembunuhan pertama di kutub selatan. Apa hubungan pembunuhan ini dengan pesawat Russia di awal film? Bisakah Carrie menyelesaikan misteri pembunuhan ini dalam waktu dua hari – atau ia akan tertinggal di Antartika selama enam bulan lamanya!

Saya tidak habis pikir dengan keputusan Dominic Sena mengadaptasi film ini. Film ini punya potensi untuk menjadi Silence of the Lambs masa modern dengan plot twist yang cerdas di dalamnya. Sayangnya, sang sutradara yang sebelumnya juga menyutradarai film macam Swordfish dan Gone in Sixty Seconds malahan memutuskan untuk menyutradarai Whiteout ala Scream in Antartica. Adegan di mana Carrie dikejar-kejar oleh sang pembunuh misterius, angle di mana sang pembunuh muncul di belakang korban tanpa ia sadari semuanya mengingatkan saya pada film-film teen slasher-flick tahun 90an ala Scream maupun I Know What You Did Last Summer. Burukkah hal itu? Mungkin tidak karena adegan-adegannya dijamin mampu terus memompa adrenalinmu (apalagi karena musuh terganas di sini adalah alam itu sendiri), tetapi ini mendegradasikan kualitas ketegangan film secara keseluruhan. Penonton diajak tegang hanya karena apa yang ditunjukkan oleh sutradara bukan tegang karena imaginasi mereka sendiri.

Rasa film dan graphic novelnya juga agak berbeda. Graphic novel Whiteout yang diilustrasikan oleh artis Steve Lieber banyak menonjolkan warna hitam putih untuk memberi kesan dingin dan terpencil. Ketika masuk ke film, saya merasa kalau Sena kurang bagus dalam permainan warna sehingga walau warna putih sudah dipakai secara dominan, film ini masih saja jauh dari kesan suram. Sementara untuk para pemainnya, Kate Beckinsale sebagai Carrie Stetko memang pas (tapi wajah cantiknya membuat saya sulit percaya Beckinsale adalah polisi) walaupun di awalnya Carrie terasa sebagai wanita yang terlalu lemah hati untuk jadi polisi, penampilan Beckinsale membaik menjelang pertengahan film dan terus menguat hingga memberi citra Carrie sebagai sosok kuat dan independen yang tetap memiliki hati lembut seorang wanita. Sayangnya untuk Gabriel Macht yang berperan jadi partner Carrie Robert Pryce terlalu dibatasi oleh skenario untuk bergerak. Lebih parah lagi chemistrynya dengan Beckinsale nol besar yang membuat saya tidak terlalu simpatik dengan karakternya.

Walau tidak buruk Whiteout sukses membuat saya frustasi karena terus berpikir mengenai potensinya yang tidak dimaksimalkan. Lebih frustasi lagi, karena film ini gagal total di Box Office, saya harus mengubur dalam-dalam impian saya untuk melihat sekuelnya Whiteout: Melt (ditulis pada tahun 2000) dan Whiteout: Night (edisi pertamanya akan mulai dirilis pada akhir tahun 2009) untuk difilmkan.

Score: 6.5

Movie Details
Director: Dominic Sena
Cast: Kate Beckinsale, Gabriel Macht, Colombus Short, Tom Skerritt
Running Time: 101 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Underworld: Rise of the Lycans

Posted on 21 March 2009 by Si Tukang Review

Underworld: Rise of the Lycans Poster

Underworld: Rise of the Lycans Poster

Kalau disuruh mengingat-ingat film bertema vampire jaman modern ini, biasanya ada tiga nama yang mampir di kepalaku. Twilight, Blade, dan Underworld. Dari antara ketiganya, saya menilai Underworldlah yang paling orisinil (mengingat Twilight dan Blade masing-masing merupakan saduran dari novel dan graphic novel). Underworld pertama dan kedua menitik-beratkan cerita pada petualangan Selene dan bagaimana ia mencari tahu rahasia gelap di balik berubahnya ia menjadi vampire. Secara tersirat, disebutkan bahwa perang antara klan Vampire dan Lycans sudah terjadi semenjak berabad-abad lalu. Film keduanya mulai memaparkan hal tersebut sedikit demi sedikit melalui flashback. Film ketiga yang menggenapi trilogi Underworld ini akhirnya digarap dengan tujuan memperjelas apa sebenarnya penyebab asal mula perang para makhluk malam ini.

Hegemoni Vampire sebagai penguasa terancam ketika muncul bibit kegelapan baru dalam bentuk Werewolves. Manusia yang terkutuk menjadi serigala ini buas dan tidak punya otak. Para manusia yang ketakutan akan monster yang buas terpaksa meminta tolong kepada monster yang berotak. Mereka memberi upeti kepada para vampire untuk melindungi mereka. Para vampire di bawah pimpinan Viktor pun setuju. Hingga suatu hari Viktor menemukan sesuatu yang tidak lazim. Ia menemukan seorang bayi yang bisa mengendalikan kemampuan perubahannya.

Viktor mengangkat bayi itu dan membesarkannya. Lucian, nama bayi itu, kemudian dijadikan ‘mesin’ untuk mereproduksi para werewolves yang bisa dikendalikan oleh para vampire; dijadikan para budak oleh mereka. Mereka itulah yang nantinya disebut sebagai para Lycan. Melihat perlakuan budak yang diterima oleh kaumnya, Lucian jelas tidak terima. Ia mulai menyusun rencana untuk melarikan diri dari cengkeraman Viktor. Rencana tersebut hanya memiliki satu hambatan. Lucian jatuh cinta kepada Sonja, putri Viktor.

Buat mereka yang sudah menonton kedua film Underworld sebelumnya (apalagi yang sudah menghafal sejarah dan mitos-mitosnya) mungkin sudah bisa menebak bagaimana nasib dari Lucian, Sonja, maupun Viktor di akhir film. Kendati begitu, menyaksikan prosesi tersebut tetap mengasyikkan. Kali ini sang sutradara tidak lagi Len Wiseman (ia hanya menulis naskah kali ini) melainkan DJ Caruso. Saya akui kalau Caruso cukup terampil menghidupkan nuansa medieval sepanjang film, walaupun masih terdapat kekurangan di sana-sini (beberapa adegan aksinya terlalu diclose-up sehingga memusingkan ketika ditonton). Adegan-adegan yang seharusnya bisa dikembangkan lebih emosional tergarap secara datar di sini. Saat-saat Lycan berusaha melarikan diri dan saat-saat intim Lucian dan Sonja sebenarnya sangat berpotensial menguras emosi penonton – semua itu gagal dimaksimalkan Caruso sehingga klimaks film pun terasa ‘wah’ saja tanpa memiliki ikatan apapun dengan penonton. Sayang, padahal Rise of the Lycans bisa jadi Braveheart dicampur Romeo and Juliet versi supernatural!

Berpindahnya setting pada jaman medieval otomatis menghilangkan peran Kate Beckinsale (hanya berperan sebagai narator kisah) dan Scott Speedman di dalamnya. Sebagai pengganti hadirlah Michael Sheen dan Rhona Mitra. Bill Nighy pun kembali tampil dominan di sepanjang film ini sebagai villain utamanya. Saya sempat salah kaprah mengira bahwa film ini akan memusatkan cerita pada Rhona Mitra. Ternyata fokusnya lebih pada Michael Sheen dan karakternya sebagai Lucian, malahan Rhona Mitra sebagai Sonja kok malah kurang tergarap bagiannya (bila ada yang merasa kalau dandanannya mirip dengan Kate Beckinsale, ada alasannya kok!).

Pada akhirnya, film ketiga Underworld ini tidak seburuk dugaan saya. Ia tetap menghibur dengan setting serta karakter yang baru dan juga berhasil memperkaya mitologi Underworld. Coba saja tonton dua film prekuelnya lagi dan kamu bakalan menyadari bahwa Wiseman nampaknya sudah memiliki visi mengenai bagaimana detail pemberontakan para Lycan terjadi.

Score: 7.5

Movie Details
Director: DJ Carusso
Artist: Rhona Mitra, Michael Sheen, Bill Nighy
Running Time: 109 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , ,

Tomb Raider: Underworld

Posted on 12 January 2009 by Si Tukang Review

Underworld Cover

Tomb Raider: Underworld Cover

Publisher: Eidos Interactive
Developer: Crystal Dynamics
Genre: Action Adventure

Dua setengah tahun. Itu adalah sebuah penantian yang panjang untuk sekuel sebuah video game.

Tapi itulah waktu yang harus ditunggu oleh gamer untuk mendapatkan serial baru dalam franchise Tomb Raider. Serial yang dulunya nyaris terlupakan karena dianggap basi dan monoton ini kembali mendapatkan nafas kehidupan baru setelah ditangani oleh developer baru Crystal Dynamics. Sang developer mendapat banyak pujian karena keputusan berani mereka merevolusi serial ini dalam Tomb Raider: Legend dan menjadikannya segar kembali. Lantas, banyak yang menanti dan menunggu, apa lagi yang disiapkan untuk seri berikutnya? Tahun lalu, gamer ‘hanya’ mendapatkan Tomb Raider Anniversary – sebuah remake dari Tomb Raider pertama demi memperingat ultahnya. Baru di akhir tahun 2008, Lara Croft sang tokoh video game wanita terpopuler, kembali dalam petualangan kedelapan franchise Tomb Raider; Tomb Raider: Underworld. Dalam petualangan teranyarnya, gamer kembali diajak untuk berpetualang mengelilingi dunia, mulai dari laut Mediterania dengan keindahan dunia bawah airnya – nuansa eksotis di kepulauan Thailand – hingga Croft Manor yang membara karena kebakaran!

Oleh developer Crystal Dynamics, Underworld didapuk sebagai game next-gen Lara Croft yang sejati.  Daerah demi daerah yang dijelajahi oleh Lara kali ini benar-benar luas dan mendapatkan render yang sangat-sangat apik. Selain sekedar luas, dunia yang dijelajahi dalam Underworld mampu mengingat apa yang dilakukan gamer kepada lingkungan itu. Sebagai contoh: bila Lara membunuh musuh atau merusak sebuah tembok, maka mayat musuh dan kerusakan di tembok itu tidak akan hilang begitu saja. Bahkan karakter Lara sendiri memiliki pergerakan yang lebih realistis ketimbang dirinya di Legend maupun Anniversary (bagi gamer yang sudah memainkan kedua game itu pasti akan terkesima melihat bagaimana Lara yang sudah nampak luwes di kedua game sebelumnya masih bisa ditingkatkan lagi keluwesannya). Slogan Underworld: “what could Lara do?” pun bukan omong-kosong belaka. Penjelajahan Lara dan aksi akrobatiknya membuat apa yang bisa dilakukan oleh Lara di kehidupan nyata bisa disimulasikan dalam Underworld.

Apabila para gamer masih ingat cerita dalam Legend, disebutkan bahwa Lara hendak mencari Avalon yang ia percaya adalah tempat di mana ibunya pergi setelah menghilang. Cerita dalam Underworld langsung melanjutkan kisah dari akhir Legend, bahkan di misi pertamanya, ia berada di laut Mediterania guna mencari artifak yang bisa membantunya membukakan jalan ke Avalon. Amanda (musuh besar Lara dari Legend) kembali dalam game ini dan menyebutkan kepada Lara bahwa Niflheim (dunia kematian dalam mitologi Norse) serta Avalon adalah tempat yang sama. Memang cerita di Underworld kali ini mendapatkan pengaruh besar dari mitologi Norse. Selain Niflheim, tujuan utama Lara di dalam game ini adalah mencari Mjolnir, palu legendarisnya dewa petir Thor.

Dengan semua kelebihannya ini, Underworld sayangnya menyimpan beberapa kelemahan signifikan. Yang paling kentara adalah masalah kameranya. Berkali-kali di tengah petualangan saya kesulitan melihat environment sekeliling gara-gara sudut kamera yang statis malah menghalangi – bukannya membantu – saya mencari obyek-obyek penting. Daerah yang begitu luas pun menjadi bumerang karena acap kali saya melihat glitch badan Lara yang setengah menembus tembok atau tiang. Walaupun hal ini biasa untuk sebuah game Action 3D jaman awal dulu, mendapati kelemahan seperti ini untuk generasi sekarang bukan sebuah kesalahan yang dapat ditolerir. Gara-gara kelewat ambisius?

Bagi gamer yang mengharapkan perubahan radikal pada gameplay game ini mungkin bakalan kecewa karena perubahan Underworld dari Legend sangat minim (hanya penjelajahan di Legend yang dulunya linear kini dijadikan lebih ‘bebas‘). Tapi bila kalian menyukai Legend ataupun Anniversary, tidak ada alasan untuk tidak mengikuti petualangan Lara kali ini.

Final Verdict:

Gameplay: 7.5
Akan saya katakan sekali lagi, bila kalian menyukai Legend dan Anniversary, maka kalian takkan kecewa dengan Underworld. Selain dimasukkannya fitur Adrenaline System (yang melambatkan gerakan di sekeliling kalian ala Max Payne) tidak ada perubahan signifikan dalam gameplaynya. Dunia yang mengingat kerusakan yang kamu buat pun pada akhirnya hanya menjadi alasan supaya anda memberi tanda agar tak tersesat.

Graphic / Sound: 9
Dunia yang begitu kaya warna ini akan membuat para gamer terkesima. Karena begitu indahnya, ada satu kali saya sengaja menghentikan game ini untuk sementara dan membiarkan diriku menikmati panorama indah yang ditunjukkan oleh game ini. Voice actingnya pun sangat baik dan dilakukan dengan sangat berkelas. Untuk background musicnya mendapat garapan dengan orkestra penuh.

Play Time: 7.5
Karena luasnya daerah yang bisa dijelajahi, sekurang-kurangnya 15 jam perlu kamu investasikan untuk menyelesaikan Underworld. Tergantung apakah kamu penggemar pencapaian segala achievement (melengkapi semua harta, mendapatkan semua relic, dkk), Underworld mungkin akan menarik anda memainkannya lagi – atau tidak.

Overall: 8.0

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here