Wow. Amerika kelihatannya lagi gemar mengadaptasi film dari graphic novel. Setelah kesuksesan dari Wanted, V for Vendetta, sampai Sin City dalam satu bulan ini saja sudah ada dua graphic novel yang diangkat ke layar lebar: Surrogates dan Whiteout. Bila Surrogates bergenre sci-fi, Whiteout mengusung tema misteri pembunuhan / thriller. Ada dua hal yang membuat saya tertarik akan Whiteout: si cantik Kate Beckinsale dan Greg Rucka. Untuk si cantik Kate saya rasa tak butuh pengenalan lagi karena kebanyakan orang tentu tahu pemeran dari Selene di Underworld itu. Sementara Greg Rucka adalah penulis komik DC yang banyak menangani titel-titel laris di DC seperti Batman dan Wonder Woman. Walau sampai saat ini belum pernah dipercaya memegang proyek besar DC maupun Marvel, Greg Rucka adalah salah seorang penulis konsisten yang selalu memiliki ciri khas sendiri dalam penulisannya (biasanya banyak melibatkan intrik-intrik politik dalam karyanya). Di luar menulis untuk DC, Greg Rucka juga menulis cerita-ceritanya sendiri. Salah satu karya terbaiknya yang mendapat nominasi Eisner Award untuk kategori Penulis, Artis, dan Mini-Seri terbaik tidak lain tidak bukan Whiteout, sebuah kisah misteri pembunuhan di Antartika.
Film ini dibuka pada tahun 1957 di mana sebuah pesawat Russia tengah melintasi benua Antartika. Untuk alasan yang tidak jelas kenapa, mendadak saja mereka tembak-tembakan dan saling bunuh. Sebuah peluru nyasar menghantam kepala sang pilot dan menyebabkan pesawat kehilangan keseimbangan. Pesawat itu kemudian jatuh di kutub selatan dan dianggap hilang.
Cerita kemudian bergerak pada jaman sekarang. Karena badai yang sebentar lagi menghampiri Antartika, Stasiun McMurdo akan segera ditinggalkan mayoritas pegawainya, termasuk satu-satunya polisi (US Marshall) Carrie Stetko. Carrie yang trauma akan pekerjaan penegak hukum di masa lalunya mengalami masa-masa yang relatif damai selama di Antartika. Sial buat dia, hanya dua hari sebelum ia pulang tugas seorang misterius mati di tengah hamparan padang es. Dalam investigasi lebih lanjut, Carrie menemukan bahwa mayat tersebut tidak mungkin mati karena kecelakaan. Dengan kata lain, Carrie baru saja berhadapan dengan kasus pembunuhan pertama di kutub selatan. Apa hubungan pembunuhan ini dengan pesawat Russia di awal film? Bisakah Carrie menyelesaikan misteri pembunuhan ini dalam waktu dua hari – atau ia akan tertinggal di Antartika selama enam bulan lamanya!
Saya tidak habis pikir dengan keputusan Dominic Sena mengadaptasi film ini. Film ini punya potensi untuk menjadi Silence of the Lambs masa modern dengan plot twist yang cerdas di dalamnya. Sayangnya, sang sutradara yang sebelumnya juga menyutradarai film macam Swordfish dan Gone in Sixty Seconds malahan memutuskan untuk menyutradarai Whiteout ala Scream in Antartica. Adegan di mana Carrie dikejar-kejar oleh sang pembunuh misterius, angle di mana sang pembunuh muncul di belakang korban tanpa ia sadari semuanya mengingatkan saya pada film-film teen slasher-flick tahun 90an ala Scream maupun I Know What You Did Last Summer. Burukkah hal itu? Mungkin tidak karena adegan-adegannya dijamin mampu terus memompa adrenalinmu (apalagi karena musuh terganas di sini adalah alam itu sendiri), tetapi ini mendegradasikan kualitas ketegangan film secara keseluruhan. Penonton diajak tegang hanya karena apa yang ditunjukkan oleh sutradara bukan tegang karena imaginasi mereka sendiri.
Rasa film dan graphic novelnya juga agak berbeda. Graphic novel Whiteout yang diilustrasikan oleh artis Steve Lieber banyak menonjolkan warna hitam putih untuk memberi kesan dingin dan terpencil. Ketika masuk ke film, saya merasa kalau Sena kurang bagus dalam permainan warna sehingga walau warna putih sudah dipakai secara dominan, film ini masih saja jauh dari kesan suram. Sementara untuk para pemainnya, Kate Beckinsale sebagai Carrie Stetko memang pas (tapi wajah cantiknya membuat saya sulit percaya Beckinsale adalah polisi) walaupun di awalnya Carrie terasa sebagai wanita yang terlalu lemah hati untuk jadi polisi, penampilan Beckinsale membaik menjelang pertengahan film dan terus menguat hingga memberi citra Carrie sebagai sosok kuat dan independen yang tetap memiliki hati lembut seorang wanita. Sayangnya untuk Gabriel Macht yang berperan jadi partner Carrie Robert Pryce terlalu dibatasi oleh skenario untuk bergerak. Lebih parah lagi chemistrynya dengan Beckinsale nol besar yang membuat saya tidak terlalu simpatik dengan karakternya.
Walau tidak buruk Whiteout sukses membuat saya frustasi karena terus berpikir mengenai potensinya yang tidak dimaksimalkan. Lebih frustasi lagi, karena film ini gagal total di Box Office, saya harus mengubur dalam-dalam impian saya untuk melihat sekuelnya Whiteout: Melt (ditulis pada tahun 2000) dan Whiteout: Night (edisi pertamanya akan mulai dirilis pada akhir tahun 2009) untuk difilmkan.
Score: 6.5
Movie Details
Director: Dominic Sena
Cast: Kate Beckinsale, Gabriel Macht, Colombus Short, Tom Skerritt
Running Time: 101 Minutes








