Tag Archive | "Twilight"

Tags: , , , ,

A Letter for Twi-Haters

Posted on 03 July 2010 by Si Tukang Review

Sebelum saya melanjutkan artikel, perlu diklarifikasikan terlebih dahulu kalau saya bukan penggemar Twilight Saga. Saya tidak pernah baca satupun novelnya dan sekedar nonton filmnya sekali (New Moon dua kali, karena diseret sama adik remajaku yang seorang Twi-Hard).

Setiap kali ada film Twilight baru mau keluar. Kebencian dan sumpah serapah dari para Twi-haters yang clash dengan cinta mati para Twi-hards terjadi… Dan di manakah posisi Tukang Review?

Pertama yang ingin gw sampaikan adalah… kebencian kalian terhadap Twilight itu… tidakkah berlebihan? Dari forum-forum, status FB maupun Twitter, sampai obrolan di chatting gw sering membaca atau mendengar mengenai “Bagaimana busuknya Twilight…”, “Bagaimana Twilight bikin Vampir jadi makhluk bling-bling di bawah sinar matahari…”, “Twilight merusak tradisi Vampir…”, “Twilight cuma sekedar pemuasan fantasi seks belaka dari Stephanie Meyer si penulis…”, “Konsep Twilight itu absurd…”, “Edward itu bencong karena ga mau ngeseks dengan Bella…” Dkk dkk dkk dkk…

Wow, wow, wow!

Saya setuju kalau beberapa bagian dari Twilight itu layak ditertawakan seperti bagaimana vampir bercahaya di bawah sinar matahari… tapi yang saya tertawakan bukan KONSEPnya. Saya pribadi memandang kalau konsepnya lumayan orisinil dan menarik… tetapi pengeksekusian dari konsepnya yang kurang bagus di film. Kalau kalian bilang Twilight merusak tradisi vampir, bagaimana dengan One Piece? Manga terlaris di Jepang itu memiliki karakter utama bajak laut yang kelemahannya adalah air laut! Atau bagaimana dengan semua Ninja di game atau anime seperti Naruto? Setahu saya yang paling mendekati realita hanya Tenchu. Apa ada yang seperti Naruto bisa memanggil kodok raksasa? Nope.

Kemudian ada juga yang mengatakan kalau konsep di mana seorang cewe jatuh cinta dengan vampir itu tidak masuk akal banget dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Kalau kalian ngomong seperti ini, saya langsung counter dengan satu kalimat saja “That’s why it’s a movie!” tambahan lagi “Vampir saja tidak eksis di dunia nyata!”. Dan kalau sekedar bicara konsep dalam dunia film, apakah kalian tidak merasa premise dari Transformers (bangsa alien berbentuk robot yang bisa berubah menjadi mobil-mobil di bumi) atau Batman (seorang milyuner yang bukan mengurusi bisnisnya malahan patroli kota malam-malam pakai kostum kelelawar) sama – kalau bukan lebih – absurd? Mungkin yang sebenarnya kalian tidak suka adalah romance di antara keduanya… dan saya akui kurangnya chemistry antara Bella dan Edward (di film, saya belum baca novelnya) cukup menganggu. Pandangan pribadi saya begini: di film pertama saya tidak kenal dua orang ini dan tahu-tahu sudah dipaksa mengakui kalau keduanya jatuh cinta. Lantas di film kedua Edward bahkan absen di 3/4 film. Semoga saja Eclipse bisa mengubah ini.

Tapi dua komentar yang paling saya rasa mengada-ada itu adalah “Edward tidak mau ngeseks dengan Bella” dan “Twilight cuma sekedar pemuas nafsu Stephanie belaka”. Saya dulu pernah jadi penulis, dan sedikit banyak orang menulis untuk memenuhi fantasi mereka. Apa salahnya? Semua penulis – kecuali jurnalis mungkin – menulis untuk memenuhi hasrat mereka. Saya ingin membaca pandangan saya dalam dunia hiburan, karena itu saya bikin TukangReview.com. Apa tulisan saya akan dibaca dan disukai dunia. Nah itu lain soal. Dan tentang hubungan seks Edward – Bella, yahhh, yang saya tangkap dari komentarnya kok malah yang ngomong demen amat ama seks. Gw yakin seribu persen ada puluhan fanfic di sana yang bisa memuaskan nafsu itu kalau memang dikehendaki.

Gw pribadi ga pernah ketemu sama Twi-hard yang benar-benar HARD di sekeliling gw, dunia nyata maupun dunia maya. Malahan bisa dibilang jumlah Twi-haters yang lurking di dunia maya dan nyata lebih banyak gw temui – beberapa bahkan ga pernah nonton Twilight dan asbun ngomong Twilight jelek karena merasa keren aja. Gw juga ga pernah dipaksa dan diseret disodori novel suruh membaca atau menonton Twilight. Kalau gw melakukannya, itu karena kehendak gw sendiri. In fact, gw cuma ketemu satu orang Twi-hard yang dengan dodolnya mengkritik The Wolfman, tapi gw menemukan puluhan gambar, artikel, dkk yang menertawakan Twilight. Kenapa gw menulis artikel ini? Karena film favorit gw sepanjang masa adalah The Dark Knight. Dan gw bisa membayangkan betapa sakit hatinya gw andaikata jagoan kesayangan gw itu ditertawakan dan dianggap seorang gila kota Gotham. In fact, hal pertama yang bakalan gw lakukan seandainya itu terjadi adalah meninju muka orang yang bersangkutan. =P

Saya tahu opini ini radikal dan bertentangan dengan pendapat kebanyakan kaum adam lainnya. But ah, saya tidak pernah takut akan kontroversi. It’s my view. And at least I gave my reasons rather than succumbing to the trend of hating something I didn’t really hate.

Comments (16)

Tags: , , , , , ,

Lima Alasan Kamu HARUS Menonton The Vampire Diaries

Posted on 06 June 2010 by Si Tukang Review

Saya tahu bahwa membaca judulnya saja membuat kalian skeptis. Tapi percaya atau tidak, banyak orang yang skeptis dan ragu terhadap serial ini kini menobatkannya menjadi salah satu serial terbaik mereka tahun ini. Saya pribadi menempatkannya di urutan kedua untuk serial baru terbaik tahun ini, hanya karena tahun ini juga menghadirkan Glee.

Oleh karena itu sebagai orang yang sudah diubah menjadi vampir oleh serial ini, artikel ini kugarap supaya kalian pun bisa berubah menjadi vampire lovers. Let’s begin!

05. Romantic, Scary, Mystery… They’ve Got It All
The Vampire Diaries adalah sebuah tontonan yang lengkap. Ada momen-momen romantis antara Elena dan Stefan sekaligus diselingi Damon yang flirty terhadap cewe sana-sini. Tetapi serial ini tidak lupa bahwa pada dasarnya ini adalah sebuah serial tentang vampir. Hujan darah terjadi di setiap episode dan bersiaplah karena banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak manusia dan vampir. Terakhir adalah misteri. Walau sekilas dari luar terlihat sebagai kota kecil yang damai, Mystic Falls memiliki banyak rahasia mengerikan di dalamnya… yang perlahan-lahan dikuak dalam setiap episode serial ini.

04. They Don’t Sparkle…
Salah satu hal yang membuat banyak orang bete terhadap kisah Twilight adalah mereka… uh… bercahaya. Saya tidak tahu apa yang ada di benak sintingnya Stephanie Meyer ketika menulis tetapi untung saja The Vampire Diaries tidak ikut-ikutan. Kisah ini kembali pada formula baku di mana vampir bakalan tewas terbakar sinar matahari. Plus ada batasan-batasan kekuatan dan kelemahan yang jelas bagi para vampir dalam serial ini. Oke vampir bisa mempengaruhi pikiranmu dengan hipnotis, tetapi mereka tidak bisa masuk ke dalam rumahmu kalau kamu tidak mengundang mereka. Dengan kekuatan yang jelas, vampir menjadi sosok yang menarik. Tidak sekedar “Oh… Ya ampun dia bercahaya kena sinar matahari. Seksi Sekaleee“.

03. Fast-Paced Storyline
Kadang serial TV bisa bikin orang frustasi karena mengulur-ulur ceritanya. Ingat Heroes di season kedua dan Lost di season ketiga? Beruntung The Vampire Diaries tidak mengulang kesalahan ini. Misteri demi misteri dilontarkan tetapi juga dengan cepat diselesaikan. Satu hal yang saya acungi jempol adalah tidak adanya rahasia yang tersembunyi dalam waktu lama akan satu karakter. Ingat betapa senewen kita menonton Smallville di tiga empat season awal di mana kebanyakan jalan ceritanya berkisar Clark menyembunyikan identitas rahasianya dari semua orang di sekelilingnya?

02. Fully Developed Characters
Setiap karakter dalam film ini memiliki kedalaman yang membuatnya bisa diterima oleh penonton. Semua karakter memiliki kelebihan dan kelemahan mereka. Stefan pada awalnya terlihat sempurna tetapi seiring berjalannya serial menunjukkan kekurangan-kekurangannya. Saya suka dengan Elena karena tidak seperti gadis tertentu yang pikirannya cuma “Kumohon gigit aku. Jadikan aku vampir. Aku ingin hidup bersama selamanya denganmu. Aku wanita idiot!” ia tegas. Oho, memang cinta berperan dalam kebanyakan keputusan yang ia ambil, tetapi logika selalu datang terlebih dahulu sebelum perasaan. Dan karakter pendukungnya pun berkembang. Matt, Alaric,  Bonnie, Tyler, Jeremy dan banyak – banyak lagi bukan karakter yang sama di awal season dengan di akhir season. Semua mengalami pertumbuhan dan perubahan karakter. Bahkan guest starnya (Anna! Anna! Anna!) berhasil mencuri perhatianku. Ini adalah bukti dari sebuah serial yang berhasil memaksimalkan potensi setiap bintangnya… terutama…

01. DAMON SALVATORE
Sebelum mata kalian melotot dan kalian menyangka yang tidak – tidak…

Saya bukan gay… but Damon Salvatore is HOT!

Dia jelas salah satu karakter favoritku tahun ini. Nina Dobrev, Paul Wesley memainkan peran mereka dengan apik… tetapi show ini tidak akan sama tanpa Ian Somerhalder yang SEMPURNA sebagai Damon. Tingkahnya sebagai playboy, pembawaannya yang bad ass, dan tampang gantengnya dijamin menyihir tiap penonton melihat apa yang bakalan dilakukan Damon di tiap episodenya. Ah, kadang saya berpikir Ian itu vampir sungguhan dan dia melakukan mind trick untuk membuatku terpana menontonnya dari episode ke episode…

Jadi apa lagi yang kalian tunggu? Buruan nonton serial ini, dan kita diskusikan The Vampire Diaries bersama-sama!

Comments (16)

Tags: , , , , , , , ,

The Twilight Saga: New Moon

Posted on 28 November 2009 by Si Tukang Review

The Twilight Saga: New Moon Cover

The Twilight Saga: New Moon Cover

Twilight oh Twilight. Kau selalu berhasil menjungkirbalikkan prediksi pengamat. Tahun lalu ketika Twilight dirilis oleh studio kecil bernama Summit Entertainment, orang tidak seberapa yakin dengan hasil box officenya. Anggapan para analis box office juga sama: mereka sepakat bahwa Twilight mungkin tidak akan flop total, tetapi tidak akan sukses-sukses amat. Walaupun novel yang dikarang oleh Stephanie Meyers ini sudah ngetop di mana-mana, sejarah membuktikan bahwa novel bestseller belum tentu bisa menjual di layar lebar. Ternyata Twilight menjungkirbalikkan prediksi semua orang dengan meraup dollar sebanyak-banyaknya. Para analis terperanjat, orang sibuk mencari tahu siapakah itu Robert Pattinson, para gadis langsung jatuh cinta pada para vampir, dan demam Twilight meledak di mana-mana. Summit Entertainment langsung bergerak cepat dan membeli hak untuk memfilmkan tiga novel saga Twilight yang tersisa.

Setahun pun berlalu. Tepat di minggu yang sama tahun 2008, New Moon dirilis. Lagi-lagi film ini ditanggapi dengan suam-suam kuku oleh pengamat box office. Banyak sekuel yang tidak pernah bisa menyamai film pertamanya. Franchise Harry Potter paling sukses di film pertamanya. Angels and Demons dan Prince Caspian pendapatannya malah jauh berkurang dibandingkan pendahulunya. Bisa jadi semua demam Twilight sudah berlalu dan New Moon akan jadi film biasa-biasa saja di box office. Betul bukan? Dan para analis lagi-lagi terperangah. New Moon bukan sekedar besar. Ia menjadi raksasa dengan mencetak opening weekend terbesar ketiga sepanjang sejarah – hanya di belakang The Dark Knight dan Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest. Edannya, New Moon juga memecahkan rekor opening day dan midnight terbanyak! Dengan film Eclipse dirilis hanya tujuh bulan kemudian, orang hanya bisa bertanya-tanya: sejauh mana kepopuleran Twilight? Dan berapa banyak lagi gadis yang akan mendesahkan nama Robert Pattinson dalam tidur mereka?

Oke, kita masuk ke review filmnya. Ceritanya dalam New Moon ini adalah sambungan langsung dari Twilight. Di sini Bella masih terus meminta-minta Edward untuk gigit dia dan mengubah dirinya menjadi vampir supaya bisa hidup selamanya di sisinya. Entah kenapa, Edward malahan memutuskan untuk menarik hubungan dengan Bella dan menghancurkan hidupnya. Hidup Bella setelah kehilangan Edward langsung jatuh terpuruk. Dia menjerit-jerit tiap malam karena mimpi buruk. Ia kehilangan semangat hidup dan tak pernah lagi ke mana-mana. Lantas Bella menemukan suatu keanehan. Setiap kali ia menantang bahaya yang mengancam nyawanya, barulah ia bisa melihat bayangan Edward. Beruntung bagi Bella, lubang di hatinya itu untuk sementara disembuhkan dengan persahabatannya dengan Jacob. Siapa sangka bahwa Jacob sendiri juga menyimpan rahasia? Rahasia yang nantinya akan memaksa Bella memilih antara cintanya pada Edward dan persahabatannya dengan Jacob.

Sebelum saya menyebutkan pendapat saya mengenai film ini, ada dua hal yang perlu saya tegaskan dahulu. Pertama saya bukan penggemar Twilight maupun pembenci Twilight. Saya berusaha menilai karya ini secara obyektif. Kedua saya tidak pernah membaca novelnya sehingga saya tidak akan tahu bila ada jalan cerita yang dipotong dari novelnya atau tidak.

Secara cerita dan efek, jujur saja saya lebih suka New Moon ketimbang Twilight. Kisah persahabatan Jacob dan Bella terasa lebih sehat ketimbang hubungan cinta absurd dari Bella dan Edward. Saya sedikit menyayangkan keputusan Edward untuk pergi dari Bella tanpa alasan yang kuat. Sebelumnya memang ada insiden kecil di keluarga Cullen, tetapi adegan itu saja tidak cukup sebagai katalis untuk memisahkan Bella dan Edward. Ketika keduanya bertemu kembali di penghujung film pun kemesraan yang langsung terjalin di antara keduanya terasa dipaksakan dan menganggu, apalagi karena sepanjang film penonton terus melihat hubungan persahabatan antara Jacob dan Bella tumbuh dan berkembang. Sedikit mengiris hati melihat Bella dengan tenang mencampakkan Jacob yang mati-matian berusaha mengembalikan semangat Bella yang hilang sejak kehilangan Edward. Efeknya yang menampilkan perubahan Jacob dan teman-temannya (saya tidak akan spoiler) juga lebih keren – mungkin karena budget New Moon dua kali lipat dari Twilight (dan melihat kesuksesan film ini, saya takkan heran kalau budget Eclipse akan ditambah lagi).

Soal pemerannya sendiri, Robert Pattinson yang selama ini dicintai para fans justru tidak banyak tampil di film ini. Bintang baru dalam New Moon ini adalah si Taylor Lautner. Lautner tadinya hampir diganti karena Chris Weitz karena sang sutradara merasa Lautner terlalu kurus untuk berperan sebagai Jacob. Untungnya Lautner berjanji untuk mengubah penampilannya; dan janji itu ia buktikan. Jacob yang kekar bak binaragawan kelihatannya berhasil mencuri sebagian fans Pattinson, terutama karena ia selalu setia mendampingi Bella melewati masa-masa susahnya. Kekurangan utama film ini justru pada Kristen Stewart sebagai Bella. Bukan salah Stewart yang sudah berakting maksimal memerankan Bella yang frustasi ditinggal Edward. Toh yang bikin saya eneg adalah bagaimana penggambaran karakter Bella. Saya tahu ada banyak wanita yang pernah ditinggal oleh pria idamannya, tetapi tidak ada yang saya lihat depresi dan menjerit-jerit tiap malam macam Bella – yah selain wanita yang punya kelainan jiwa saya rasa. Ada garis di mana seorang wanita simpatik dan di mana wanita itu menyebalkan dan Bella sudah melewati garis itu.

New Moon jauh dari sempurna tetapi ia juga bukan film sampah seperti yang dikatakan banyak pria. Saya malah punya dugaan kalau para pria yang menghina film ini terkena Leonardo DiCaprio sindrom – sindrom di mana DiCaprio dijelek-jelekkan karena perannya di Titanic merebut hati para wanita, sebagaimana kebanyakan para pria tidak pede melihat badan mereka sendiri bila dibandingkan dengan badan Edward dan Jacob. Untuk menutup review saya, ijinkan saya berkata: TEAM TAYLOR!!! TEAM JACOB!!!

Score: 7.1

Movie Details
Director: Chris Weitz
Cast: Kristen Stewart, Taylor Lautner, Robert Pattinson
Running Time: 130 Minutes

Comments (38)

Tags: , , , , , ,

Blood: The Last Vampire

Posted on 10 November 2009 by Si Tukang Review

Blood: The Last Vampire Poster

Blood: The Last Vampire Poster

Kelihatannya ada dua cara untuk membuat dunia vampir menjadi keren di Amerika sana. Pertama, beri mereka karakter-karakter semi-gay seperti Twilight dan bubuhkan cerita romantis yang bikin cewe-cewe ngebet dengan para pria berkulit kepucat-pucatan. Cara kedua adalah jadikan vampir sebagai tokoh antagonis yang diburu oleh seorang pemburu vampir keren. Lebih keren lagi kalau sang pemburu vampir ini punya hubungan dengan dunia vampir. Tidak percaya? Di komik superhero (dan sudah diadaptasi ke layar lebar) ada Blade yang setengah vampir. Ada Alucard di Castlevania. Ada Bloodrayne yang juga setengah vampir. Dan terakhir di dunia anime ada Saya, sang pemburu vampir dalam anime Blood: The Last Vampire. Karena ngetopnya anime ini di Amerika, akhirnya sebuah film live action layar lebar kerjasama beberapa negara sekaligus (Jepang, Korea, Amerika, dan China) hadir di tahun 2009.

Saya sudah hidup ratusan tahun lamanya sebagai seorang pemburu vampir. Kenapa dia berhenti tumbuh setelah dia berumur belasan tahun (pas cantik-cantiknya pula!), saya tidak tahu. Nah, Saya ini hidup demi satu tujuan: membunuh para vampir – terutama vampir tersangar dan terganas: Onigen. Tentu saja Saya tidak seorang diri bertarung melawan para vampir itu, ia bekerja sama dengan sebuah organisasi misterius bernama The Council. Sebenarnya Saya tidak suka dengan cara kerja organisasi misterius itu – tetapi karena mereka menghadapi musuh yang sama, maka mau tak mau mereka bekerja sama.

Dalam suatu misi, Saya dikirim ke sebuah pangkalan militer Amerika. Saat berduel dengan vampir di sana, Saya tanpa sengaja kepergok oleh anak dari Jendral pimpinan pangkalan militer tempat itu, Alice. Alice yang semula mencurigai Saya sebagai psikopat edan pembantai manusia kemudian berbalik menjadi sekutu terdekat Saya setelah diselamatkan dari serangan para vampir. Mereka berdua kemudian bahu-membahu mencari dan mengalahkan Onigen (lebih tepatnya Alice menjadi beban buat Saya bertarung).

Mengingat ini sebuah film yang diangkat dari anime, saya sarankan untuk menontonnya sambil meninggalkan otak anda tidur. Jangan ulangi kesalahan saya yang terlalu kritis sehingga setiap dua tiga menit sekali berkata “Hah? Mana mungkin begitu?” dan “Ya ampun, plot holenya… Ampun! Ampun!”. Terlepas dari jalan ceritanya, saya masih merasa kalau film ini memiliki banyak kelemahan. Adegan fighting yang dishooting Chris Nahon adalah bukti nyatanya. Entah apa ia berusaha menyembunyikan Jun Ji Hyun yang tidak bisa beradegan laga atau memang tidak becus mengambil gambar, semua adegan fighting dalam film ini dishoot dalam jarak dekat sehingga tidak jelas siapa menyerang siapa. Satu-satunya perkecualian adalah pertarungan yang terjadi di masa lalu, dan ironisnya tidak menyangkut akting Jun Ji Hyun – membuat saya makin curiga bahwa artis Korea yang satu ini memang belum bisa berakting laga.

Bicara soal Jun Ji Hyun (yang memakai nama Amerika ‘unik’ Gianna Jun), aktingnya dalam film ini jatuh sedikit datar. Saya tahu kalau ia memerankan Saya yang pendiam, tetapi akting Ji Hyun di sini tanggung antara mau pendiam atau kesulitan bicara bahasanya. Harap dimaklumi kalau di sini Ji Hyun hanya memakai bahasa Inggris dan Jepang – keduanya adalah bahasa yang baru-baru ini saja ia pelajari. Tambahkan itu dengan sosok Saya yang jauh dari trademark Ji Hyun yang suka memerankan cewe bawel dan kasar sehingga tidak heran kalau artis tenar Korea ini juga sedikit keteteran dalam perannya. Karakter-karakter lain seperti Allison Miller yang berperan sebagai Alice juga jatuh datar karena skrip yang lemah dan membatasi ruang gerak akting mereka. Yang paling payah Koyuki, karena ia sama sekali tidak punya wibawa sebagai Onigen. Kadar kepayahannya mungkin sebanding dengan Vega di Street Fighter: The Legend of Chun-Li ataupun Picollo di Dragon Ball. Kenapa film live-action selalu saja sukses membuat karakter yang seharusnya badass di media aslinya menjadi cupu begitu masuk di media film? Entah deh. Terakhir adalah design monster dan CG dalam film ini terasa sangat kasar dan tempelan. Ini bukan film yang dirilis langsung ke DVD ataupun tayang di TV, jadi kenapa kualitas animasi CG 3Dnya sangat rendah?

Mau bilang kalau Chris Nahon sepenuhnya gagal sebenarnya tidak adil juga, karena dia setidaknya berhasil dalam satu hal. Latar setting dalam film ini adalah era perang Vietnam, dan Chris Nahon berhasil membangun sebuah dunia pangkalan militer yang penuh kecurigaan, juga kebencian orang Jepang (ada kata hina “Jap” dipakai di sini), sekaligus bercampur dengan dunia para vampir yang siap mengintai para manusia. Tapi di luar nilai positif yang satu itu, kecuali kamu adalah pecinta Jun Ji Hyun ataupun animasi Blade, saya rasa film ini bukan untukmu.

Then again… it’s Jun Ji Hyun. Go watch it.

Score: 5.5

Movie Details
Director: Chris Nahon
Cast: Gianna Jun, Allison Miller, Masiela Lusha, JJ Feild, Koyuki
Running Time: 91 Minutes

Comments (12)

Tags: , ,

Adventureland

Posted on 27 August 2009 by Si Tukang Review

Adventureland Poster

Adventureland Poster

Wow. Wow. Wow.

Ketika ending credit movie ini bergulir saya hanya bisa terpaku di layar dan mengatakan ‘Wow’ berulang kali. Film Adventureland disutradarai oleh Greg Mottola, sutradara yang sama yang membawakan film Superbad pada kita. Seperti tema Superbad, Adventureland juga mengangkat tema mengenai pematangan diri (istilah kerennya: coming to age). Hanya saja kalau Superbad mengangkat tema mengenai masuk kuliah, Adventureland mengangkat tema mengenai apa dunia yang kamu hadapi setelah kuliah.

James Brennan dan temannya baru saja lulus kuliah. Dalam masa liburan musim panas, James sebenarnya sudah berencana untuk pergi bertamasya bersama dengan temannya ke Eropa. Perjalanan itu bukan sekedar untuk bersenang-senang, tetapi sekaligus juga untuk mencari ke mana ia kemudian akan melangkah. Sayangnya karena krisis ekonomi yang menghantam keluarganya, orang tuanya tidak memberi dana buat James. Bahkan James terancam tidak bisa mengambil mata kuliah jurnalisme untuk program S2 yang ia rencanakan.

Untuk memenuhi kebutuhannya itu, James akhirnya memutuskan untuk bekerja selama musim panas di kampung halamannya di taman hiburan Adventureland. Di sana ia bertemu dengan kawan lamanya seperti Frigo yang nyentrik (suka menghajar anu-nya James), Joel yang ala pujangga, Lisa P yang super seksi, dan banyak lagi. Kendati begitu, perhatian James terutama tertuju pada Emily Lewin, rekan sekerja yang menolongnya di hari pertama kerjanya. Akankah musim panas ini mengubah hidup James untuk selamanya?

Apa yang membuat Adventureland begitu berbeda dengan kebanyakan film adalah keberaniannya mendobrak klise film-film serupa. Tidak ada klise anak kota besar yang bete karena harus beradaptasi dengan kehidupan di kota kecil. Adventureland menyorot kehidupan seorang lulusan baru sebagaimana adanya. Sebagai sosok yang masih bingung menempatkan diri karena baru melepaskan diri dari dunia pendidikan dan masuk ke dunia nyata. Masalah-masalah yang ditampilkan dalam film ini juga semuanya down-to-earth dan tidak akan makan waktu lama bagimu untuk mulai merefleksikan apa yang dikisahkan dalam film ini dengan kehidupanmu sendiri. Apakah menjadi seorang perjaka / perawan seusai kuliah aneh? Seberapa berpengaruhnya kehidupanmu bila kamu memiliki seorang ibu tiri yang tidak cocok denganmu? Apa jadinya bila kamu jatuh cinta dengan rekan kerjamu? Beberapa dari masalah yang diangkat dalam film ini mungkin terlihat sepele – tetapi siapa sih yang tidak pernah mengalaminya? Saya juga lagi-lagi mau mengacungkan jempol untuk Mottola yang selain menyutradarai menulis skenarionya karena dialog dalam film ini natural dan tidak terasa dibuat-buat. Humornya cerdas – seperti humor antara teman-teman tanpa harus berlebihan mengandalkan adegan slapstick atau hal-hal berbau vulgar.

Film ini juga bisa begitu hidup karena para pemainnya. Jesse Eisenberg dan Kristen Stewart benar-benar tampil gemilang di film ini. Eisenberg yang berperan sebagai bocah polos James Brennan tampil meyakinkan tanpa pernah terasa seperti sok suci. Ia seorang pria dengan – maaf – insting dan nafsu layaknya seorang pria, tetapi ia juga selalu berusaha menjaga garis batas moralnya. Begitu pula Kristen Stewart, melihat aktingnya di sini, saya hampir-hampir tidak percaya bahwa artis yang tampil begitu datar di Twilight bisa menampilkan variasi emosi yang begitu berbeda di sini. Pun dengan anggota-anggota Adventureland yang lain memiliki pesona dan karakter mereka sehingga tidak sekalipun saya merasa bahwa saya tengah menonton film – tetapi memang tengah berada di Adventureland berinteraksi dengan karakter-karakter tersebut. Di luar kru Adventureland sendiri, penampilan Ryan Reynolds sebagai sang playboy flamboyan benar-benar memikat.

Disetting pada musim panas 1987 Adventureland memiliki deretan musik soundtrack terbaik untuk tahun ini. Buat yang penasaran mengenai list lengkapnya bisa melihatnya di sini. Yang jelas semua – ya, semua – musiknya dimainkan secara pas untuk menghidupkan dan mengiringi adegan di layar. Paduannya sempurna karena tidak sekalipun musiknya terasa mendominasi atau sekedar jadi tempelan.

Akhir kata, Adventureland adalah kejutan terbesar buat saya tahun ini. Saya tertawa, terharu, dan pada akhirnya merenung akan cerita yang ditawarkannya. Siapapun kamu yang ingin bernostalgia akan masa kuliah dan lulus kuliahmu akan menemukan bahwa Adventureland bisa membawamu berpetualang kembali pada masa-masa yang indah dan mendebarkan itu.

Score: 9.1

Movie Details
Director: Greg Mottola
Cast: Jesse Eisenberg, Kristen Stewart, Ryan Reynolds, Bill Hader
Running Time: 107 Minutes

Comments (2)

Tags: , , ,

Twilight

Posted on 16 February 2009 by Si Tukang Review

Twilight Poster

Twilight Poster

Ketika film yang berdasar novel karangan Stephanie Meyers ini akhirnya tayang di Solo, saya sebenarnya sudah kehilangan minat untuk menontonnya. Menonton film ini menjelang hari Valentine – apalagi tanpa pasangan – terasa sangat menyedihkan. Yang makin membuatku ragu menontonnya adalah sampai saat ini hampir semua teman perempuanku mengatakan bahwa Twilight sangat apik, sementara hampir semua teman priaku mengatakan hal yang sebaliknya. Oke, cukup dengan ratapanku. Toh, akhirnya saya memaksakan diri juga untuk menonton film ini. Akankah saya kecewa karenanya?

Karena ibunya sedang mencari rumah baru di Phoenix, Bella terpaksa tinggal dengan ayahnya di kota kecil bernama Forks. Di kota kecil itu, ia berkenalan dengan seorang pria misterius bernama Edward Cullen. Entah mengapa, Edward seakan-akan selalu bersikap memusuhi Bella. Keheranan Bella akan sikap Edward makin bertambah ketika sang cowo menyelamatkannya dari kecelakaan. Bak detektif, Bella mulai menggali misteri seputar keluarga Cullen. Mengapa kulit mereka begitu putih? Mengapa mereka selalu menghilang secara misterius ketika matahari bersinar dengan hangatnya? Dan sampailah Bella pada kesimpulan bahwa keluarga Cullen adalah keluarga penghisap darah: vampir. Masalahnya makin rumit ketika Bella dan Edward sama-sama sadar mereka saling tertarik. Apakah cinta terlarang mereka bisa berhasil?

Dirilis oleh studio film Summit Entertainment, Twilight mengejutkan banyak orang setelah mencetak sukses besar – pendapatannya bahkan melewati Quantum of Solace! Kebanyakan gadis yang menonton film ini langsung jatuh cinta pada Robert Pattinson yang mereka nilai merupakan sosok sempurna yang menghidupkan Edward Cullen (saya pribadi sih lebih menyukai Pattinson sebagai Cedric di Goblet of Fire). Jujur saya akui, saya ternyata cukup tertarik dengan ceritanya. Nampaknya, novel Twilight yang sempat mendapatkan penghargaan novel terbaik di tahun ia dirilis bukan kebetulan belaka. Proses translasi dari novel ke layar lebar pun berjalan dengan baik; saya tidak pernah membaca novel Twilight – tetapi tidak sampai kebingungan ketika mengikuti jalan cerita filmnya. Kalaupun ada kelemahan (untuk saya sebagai penonton pria), itu adalah adegan mesra keduanya yang di saat-saat tertentu terasa kelewatan dramatis. Selain Bella dan Edward, sebenarnya keluarga Cullen yang kaya warna juga bisa dihidupkan dengan baik oleh para aktor masing-masing. Billy Burke yang memerankan Charlie – ayah Bella – juga mencuri perhatianku. [SPOILER] Ada satu adegan terutama yang hampir membuatku menangis, dan itu bukan adegan antara Bella dengan Edward.

Bagi pembaca novelnya, mungkin akan sadar bahwa Twilight bakalan digarap sekuelnya dan dirilis akhir tahun 2009. Hint-hint pun sudah ditebar di sepanjang film ini dan New Moon selaku film kedua dari tetralogi ini telah masuk dalam daftar wajib tontonku tahun ini.

Movie Details

Director: Catherine Hardwicke
Cast: Kristen Stewart, Robert Pattinson
Running Time: 121 Minutes

Score: 7.0

Comments (11)

Advertise Here
Advertise Here