Tag Archive | "Titans"

Tags: , , , , ,

Clash of the Titans

Posted on 04 April 2010 by Si Tukang Review

Clash of the Titans (2010) Poster

Clash of the Titans (2010) Poster

Mitos apa yang paling terkenal di dunia? Tak perlu pikir panjang untuk menjawab mitos Yunani. Siapa yang tidak kenal dengan dewa-dewa Yunani seperti Zeus, Athena, Hades, Poseidon, dan lain-lainnya? Atau siapa yang tidak tahu akan nama para pahlawan Yunani seperti Hercules, Achilles, atau Perseus? Tidak mengherankan bahwa banyak sekali film Hollywood mengambil basis legenda Yunani. Ingatkah kalian akan Troy? Atau film animasi Hercules? Atau baru-baru ini Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief yang notabene merupakan Harry Potter dengan balutan mitos Yunani?

Pada tahun 1981 ada sebuah film berjudul Clash of the Titans. Dirilis di dekade 80an di mana efek spesial bukan hal yang biasa seperti sekarang, film tersebut mencengangkan banyak orang, termasuk sutradara Louis Letterier. Hampir 20 tahun kemudian, sang sutradara mendapatkan kesempatan untuk menyutradarai film ini dan ia tidak menyia-nyiakannya. Digelontori budget raksasa 125 Juta USD (jarang sekali untuk film non-summer), film ini dipromosikan secara gencar sebagai film epik yang harus tonton. Beberapa bahkan dengan berani mengklaim bahwa inilah 300-nya tahun ini!

Perseus (yang sungguhan kali ini, bukan Perseus ‘Percy’ Jackson, he he he) adalah seorang demi-god, anak setengah dewa setengah manusia. Ini bukan saat yang tepat menjadi demi-god, sebab manusia tengah bersitegang dengan para dewa. Dengan berani para manusia menghancurkan patung Zeus yang dianggap tak lagi layak untuk disembah. Zeus pun murka. Di tengah kemurkaan itu, ia memperbolehkan Hades untuk menjatuhkan hukuman bagi manusia. Selama ini rupa-rupanya para dewa bisa mempertahankan keabadian mereka selama ada manusia yang menyembah dan percaya kepada mereka. Itulah ‘makanan’ yang mempertahankan eksistensi para dewa. Zeus dan Hades memiliki dua perencanaan yang berbeda. Zeus ingin manusia mencintainya, sementara Hades lebih memilih pendekatan dengan rasa takut.

Melihat sang kakak mengijinkannya, Hades pun mengultimatum kota Argos untuk menyerahkan putri Andromeda sebagai persembahan atau Argos akan diratakan dengan tanah oleh sang monster Kraken. Perseus dan beberapa prajurit Yunani (ataukah Sparta?) yang terpilih pun memulai perjalanan mereka untuk mencari cara mengalahkan Kraken dan menyelamatkan sang putri. Perjalanan ini tentu tidak mudah dan bakalan menghadapi banyak cobaan dari para monster-monster raksasa… Dan tidak mungkin kan Hades mau berbaik hati menawarkan jasanya kepada Zeus begitu saja? Apa tujuan sesungguhnya Hades?

Eh, kok membosankan ya?

Pikiran seperti itulah yang terlintas di benakku usai menonton film ini. Berbeda dengan kebanyakan temanku yang kelihatannya semangat 45 memasukkan film ini dalam wajib tonton setelah melihat trailernya, saya dari dulu sudah merasa biasa-biasa saja saat menonton trailernya. Saya khawatir bahwa film ini bakalan terlalu stylish tetapi kosong melompong dalam bidang cerita… sebagaimana kebanyakan film Louis Letterier lainnya. Asal tahu saja, sebelumnya sang sutradara memang sempat dipuji dengan The Incredible Hulk, tetapi bagi saya film itu juga tidak bagus-bagus amat. Hanya menang di efek doang.

Rupa-rupanya Clash of the Titans mengulangi kesalahan yang sama. Dialog dan akting para pemain dalam film ini terasa kaku, ceritanya terasa dangkal dan tidak berhasil menggali kekayaan mitos Yunani yang ia dasari. Pernah nonton Troy? Film itu memang total berbeda dengan karya asli Iliad, tetapi setidaknya Wolfgang Petersen menginjeksikan banyak drama dan hati untuk membuat kita peduli pada karakter di dalamnya. Begitu juga dengan 300. Saya peduli dengan karakter Leonidas bersama 300 anggota Sparta yang berperang menghadang Xerxes. Di sini? Tidak. Sebodo amat pikir saya ketika ada korban jatuh di pihak Perseus dalam perjalanan mereka. Dan bagaimana saya bisa peduli kalau yang saya lihat dari mereka melulu hanya aksi mereka bertempur dengan binatang dan monster-monster saja. Clash of the Titans memang sebuah film yang mengedepankan efek spesial, tetapi haruskah karenanya mengorbankan cerita? Kenapa Letterier tidak belajar pada 300 yang cukup berhasil menyeimbangkan kedua belah dimensi?

Sam Worthington bisa jadi salah satu aktor paling beruntung dan laris di dunia. Dalam kurun waktu kurang dari setahun ia bakalan mencetak 1 milyar USD dengan film-filmnya. Terminator Salvation sebagai big break layar lebar pertamanya mencetak hampir 130 Juta USD, sementara film Avatar menjadi yang terlaris sepanjang masa dengan 740 Juta USD (dan masih bisa terus bertambah). Clash of the Titans saya prediksi bisa mendapat kurang lebih 150 Juta USD yang lebih dari cukup buat mendorong total tiga film itu lebih dari 1 Milyar. Gila! Luar biasa! Tapi akting Worthington kok rasanya menurun dari film ke film? Saya merasa ia berhasil tampil lebih meyakinkan dibanding Christian Bale di Terminator Salvation sebagai Marcus. Dalam Avatar perannya sebagai Jake Sully tidak seberapa menarik perhatian, tapi saya menganggap itu dikarenakan film Avatar banyak mengedepankan sosok biru ketimbang sosok asli Worthington. Lah di Clash of the Titans kok penampilan Worthington makin tak berkesan lagi? Bahkan sekedar berteriak dan berpidato membangkitkan semangat saja ia tidak bisa memiliki karisma layaknya Russell Crowe dalam Gladiator atau Gerard Butler dalam 300. Mengecewakan, karena pemilihan Ralph Fienner sebagai Hades (dia juga aktor yang berperan sebagai Voldemort) dan Liam Neeson sebagai Zeus sudah sangat tepat.

So my verdict is… jangan mengharapkan sesuatu yang berlebihan dari Clash of the Titans. Ini sebuah film yang dipenuhi dengan adegan aksi dan efek spesial sana-sini, tetapi jalan ceritanya kosong. Jadi sebaiknya kosongkan otakmu sebelum menonton, dan nikmati saja. Oh ya, tak perlu menonton versi 3Dnya sebab Clash of the Titans dari sananya diposisikan sebagai film 2D dan hanya ditambahi efek 3D di menit-menit terakhir produksi demi menambah pundi-pundi dollarnya.

Score: 5.0

Movie Details
Director: Louis Letterier
Cast: Sam Worthington, Liam Neeson, Ralph Fiennes, Gemma Artenton
Running Time: 118 Minutes

Comments (9)

Tags: , ,

Remember the Titans

Posted on 06 March 2010 by Si Tukang Review

Remember the Titans Poster

Remember the Titans Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Sebelum ada Coach Carter, sebelum ada Gridiron Gang, sebelum ada Miracle, sebelum ada segala jenis film bertema pembangunan karakter melalui kisah nyata dan hal-hal semacam ini, Remember the Titans hadir di tahun 2000. Film yang disutradarai oleh Boaz Yakin dan diproduseri tangan emas Jerry Bruckheimer memperoleh sukses di mana-mana. Tema olahraga yang diusung oleh film ini mungkin adalah American Football yang kurang dikenal oleh mereka yang tidak tinggal di Amerika. Toh, walaupun begitu, pesan moral yang disampaikan film ini universal dan akan bisa ditangkap oleh siapapun.

Virginia di tahun 1970an penuh dengan masalah rasial di sana-sini. Untuk membantu membuat keadaan menjadi lebih harmonis, sekolah menggabungkan sekolah kulit hitam dengan sekolah kulit putih. Yang terjadi adalah benturan di sana-sini makin terasa. Kendati masalah rasial selalu ada, ada satu hal yang selalu bisa mempersatukan seluruh kota itu: kecintaan mereka terhadap olahraga American Football. Yang jadi masalah adalah mereka yang merupakan anggota utama dari tim American Football berkulit putih enggan posisi mereka direbut oleh para anggota kulit hitam. Benturan ini jelas makin terasa di sana-sini. Bayangkan apa jadinya ketika para kulit putih dan kulit hitam ini akan bergabung dalam training camp bersama!

Yang paling parah mungkin adalah karena pertikaian tidak hanya terjadi di kalangan murid antar murid tetapi juga para pelatih. Pelatih baru yang diangkat jadi pelatih kepala adalah seorang kulit hitam bernama Herman Boone. Asisten pelatih lama yang selama ini selalu mengawasi murid-murid lama jelas merasa tersaingi dan dicurangi posisinya. Toh, asisten bernama Bill Yoast ini diam saja dan beranggapan kalau Coach Boone akan gagal dengan sendirinya dan dia akan mengambil alih posisi yang sudah lama ia dambakan itu.

Nyatanya, metode unik dari cara pelatihan Coach Boone berhasil menyatukan tim mereka menjadi satu tim yang benar-benar solid, benturan-benturan rasial masih terjadi, tetapi semuanya masih bisa diatasi. Coach Boone dan Coach Yoast pun makin padu menjadi pelatih yang mengajarkan defense dan offense dalam permainan American Football. Masa pelatihan di training camp berakhir dengan sukses, dan mereka pulang sebagai satu unit, satu tim, sebagai sahabat yang saling bisa menggantungkan satu sama lain. Mereka yang semula paling berseteru seperti Julius dan kapten tim Bertier pun bisa kompak menjadi sahabat satu sama lainnya. Masalahnya adalah ketika mereka dikembalikan ke dunia nyata – mereka disadarkan kalau masalah rasial tetap terjadi di sekeliling mereka. Ibu Gertier misalnya tak sudi kalau anaknya harus bergaul terus dengan Julius. Apakah mereka bisa mempertahankan keutuhan tim mereka dan menjuarai pertandingan demi pertandingan? Atau mereka akan kembali tercerai-berai seperti semula?

Akting para aktor di dalam film ini semuanya meyakinkan. Denzel Washington memainkan performa yang solid sebagai Herman Boone yang adalah seorang pelatih yang tegas dan keras. Di lain pihak, Will Patton juga berhasil menjalankan aktingnya sebagai Coach Yoast dengan brilian. Apabila Boone adalah sisi keras dari kepelatihan maka Yoast adalah sisi lembut yang mampu menyelaraskannya, tak heran performa keduanya di layar lebar penuh bentrokan – tetapi secara ajaib juga saling mengisi. Toh yang benar-benar mampu merebut perhatian saya adalah chemistry antara Julius dan Bertier. Hubungan keduanya rasanya teruntai dengan sangat baik sehingga ketika film terus bergerak kita seakan merasa kalau mereka adalah sahabat sejati dan saudara yang tak terpisahkan. Tentu saja Hayden Panettiere yang masih muda saat itu ikut mencuri perhatian karena keimutannya (sama sekali tak terbayangkan gadis kecil itu kini sudah berubah menjadi cheerleader seksi di Heroes).

Saya mengira kalau film ini adalah mengenai American Football. Saya tidak sepenuhnya benar. Tidak salah memang kalau Remember the Titans mengisahkan tentang American Football, tetapi pesan nyata yang ingin disampaikan dalam film ini bukanlah mengenai bagaimana sebuah tim yang bersatu untuk menjuarai sebuah turnamen – sama sekali bukan. Yang ingin disampaikan oleh film ini adalah pesan rasial dan bagaimana sebuah tim American Football bisa membuat apa yang semula adalah perbedaan itu menjadi sebuah kesatuan dan persamaan yang solid.

Score: 7.3

Movie Details
Director: Boaz Yakin
Cast: Denzel Washington, Will Patton, Wood Harris
Running Time: 113 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , ,

Blackest Night Titans

Posted on 09 November 2009 by Si Tukang Review

Blackest Night Titans #1 Cover

Blackest Night Titans #1 Cover

Bagiku pribadi, Blackest Night Titans merupakan tie-in yang terlemah di antara tiga mini-seri yang diluncurkan DC untuk menemani mega-even terbesar mereka. Ada beberapa hal kenapa saya kurang tertarik dengan kisah para superhero muda DC ini bila dibandingkan dengan tie-in Superman dan Batman.

Yang pertama: anggota para Titans terlalu banyak. Seiring dengan pergantian tahun ada begitu banyak anggota Titans datang dan pergi silih berganti. Beberapa bergabung dalam grup Teen Titans sementara beberapa lagi bergabung dalam Titans. Kalau mau adil, setiap anggota sebenarnya memiliki sejarah mereka sendiri-sendiri yang menarik untuk dibahas – tetapi dalam tiga edisi JT Krull jelas tidak memiliki keleluasaan untuk membedah masa lalu dari setiap Titans. Oleh karena ini jugalah tie-in Titans seperti kehilangan gregetnya. Satu hal yang menjadi daya tarik utama dalam Blackest Night adalah melihat reaksi para superhero ketika dihadapkan dengan sahabat, keluarga, atau musuh bebuyutan mereka yang bangkit kembali. Toh daya tarik itu bisa timbul bila kita mengerti masa lalu antara para superhero itu dengan sosok Black Lantern. Praktis selain karakter Donna Troy dan Beast Boy, saya kebingungan dengan masa lalu kebanyakan karakter Titans di sini.

Yang kedua: Sejarah para Titans yang tidak menarik. Bukan rahasia lagi kalau dalam beberapa tahun terakhir – terutama sepeninggalan Geoff Johns usai Infinite Crisis – bahwa Teen Titans tidak pernah memiliki jalan cerita yang koheren dan kehilangan nahkoda penceritaannya. Bahkan DC seakan berusaha bereksperimen dan ‘membesarkan’ franchise ini sambil membentuk grup baru dalam The Outsiders dan terakhir ini Titans. Semuanya gagal. Celakanya, masa lalu yang njelimet membuat serial ini menjadi tidak gampang diterima oleh pembaca baru. Bahkan dua yang mendapat sorotan khusus seperti Beast Boy dan Donna Troy saja tidak memiliki nilai emosional yang kuat. Hubungan Beast Boy dengan Terra sudah terjadi hampir 20 tahun(!) yang lalu di mana sekarang saja ia sudah sempat berpasangan dengan banyak gadis lain (termasuk Raven). Di lain pihak, karakter Donna Troy sudah kena ret-con bolak-balik oleh editorial DC sehingga saya sudah tidak tahu lagi mana sejarahnya yang benar – selain ia (sepertinya) bersaudara atau terkait dengan Wonder Woman.

Alasan ketiga adalah sang artis untuk tie-in ini: Ed Benes. Eits, jangan terburu-buru memicingkan mata. Ed Benes adalah artis yang luar biasa dan saya selalu… selalu… menantikan karya-karyanya. Bahkan karya Benes merupakan satu dari sedikit alasan saya dulu masih terus mengikuti serial JLA (yang juga kian lama kian kehilangan greget). Tetapi kali ini saya terpaksa mengkritik hasil karya Ed Benes yang tidak sesuai dengan tema Blackest Night secara keseluruhan. Bila kalian membaca seri utama Blackest Night yang digambar oleh Ivan Reis dan dua tie-in lainnya, kalian bakalan membaca komik dengan nuansa yang suram dan didominasi dengan warna-warna gelap. Di sini Ed Benes berusaha meniru sukses para rekan-rekannya, tapi mini-seri ini membuktikan kalau Benes masih jauh dari berhasil. Penggambaran karakter super macho (bagi para cowo) dan super seksi (bagi para cewe) – belum lagi pengambilan sudut penggambaran dari pantat maupun buah dada para superheroinenya menjadikan karya ini terasa terlalu ceria dan cerah dibandingkan dengan serial Blackest Night yang lain.

Terlepas dari semua keluhan saya mengenai serial ini, bukan berarti Blackest Night Titans tidak layak untuk dibaca. Sebaliknya; dengan dua twist besar yang terjadi di akhir buku ketiga (walaupun sudah tertebak sejak buku kedua – bahkan buku pertama oleh pembaca yang jeli) menjadikan kisah laga para Titans menghadapi Black Lantern ini justru menjadi bagian yang terpenting dari ketiga tie-in yang ada. Ah, DC memang licik. Tie-in dengan cerita terlemah justru diselipi unsur terpenting sehingga bisa menarik perhatian banyak pembaca!

Score: 5.5

Graphic Novel Details
Writer: JT Krul
Artist: Ed Benes
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 03

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here