Mitos apa yang paling terkenal di dunia? Tak perlu pikir panjang untuk menjawab mitos Yunani. Siapa yang tidak kenal dengan dewa-dewa Yunani seperti Zeus, Athena, Hades, Poseidon, dan lain-lainnya? Atau siapa yang tidak tahu akan nama para pahlawan Yunani seperti Hercules, Achilles, atau Perseus? Tidak mengherankan bahwa banyak sekali film Hollywood mengambil basis legenda Yunani. Ingatkah kalian akan Troy? Atau film animasi Hercules? Atau baru-baru ini Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief yang notabene merupakan Harry Potter dengan balutan mitos Yunani?
Pada tahun 1981 ada sebuah film berjudul Clash of the Titans. Dirilis di dekade 80an di mana efek spesial bukan hal yang biasa seperti sekarang, film tersebut mencengangkan banyak orang, termasuk sutradara Louis Letterier. Hampir 20 tahun kemudian, sang sutradara mendapatkan kesempatan untuk menyutradarai film ini dan ia tidak menyia-nyiakannya. Digelontori budget raksasa 125 Juta USD (jarang sekali untuk film non-summer), film ini dipromosikan secara gencar sebagai film epik yang harus tonton. Beberapa bahkan dengan berani mengklaim bahwa inilah 300-nya tahun ini!
Perseus (yang sungguhan kali ini, bukan Perseus ‘Percy’ Jackson, he he he) adalah seorang demi-god, anak setengah dewa setengah manusia. Ini bukan saat yang tepat menjadi demi-god, sebab manusia tengah bersitegang dengan para dewa. Dengan berani para manusia menghancurkan patung Zeus yang dianggap tak lagi layak untuk disembah. Zeus pun murka. Di tengah kemurkaan itu, ia memperbolehkan Hades untuk menjatuhkan hukuman bagi manusia. Selama ini rupa-rupanya para dewa bisa mempertahankan keabadian mereka selama ada manusia yang menyembah dan percaya kepada mereka. Itulah ‘makanan’ yang mempertahankan eksistensi para dewa. Zeus dan Hades memiliki dua perencanaan yang berbeda. Zeus ingin manusia mencintainya, sementara Hades lebih memilih pendekatan dengan rasa takut.
Melihat sang kakak mengijinkannya, Hades pun mengultimatum kota Argos untuk menyerahkan putri Andromeda sebagai persembahan atau Argos akan diratakan dengan tanah oleh sang monster Kraken. Perseus dan beberapa prajurit Yunani (ataukah Sparta?) yang terpilih pun memulai perjalanan mereka untuk mencari cara mengalahkan Kraken dan menyelamatkan sang putri. Perjalanan ini tentu tidak mudah dan bakalan menghadapi banyak cobaan dari para monster-monster raksasa… Dan tidak mungkin kan Hades mau berbaik hati menawarkan jasanya kepada Zeus begitu saja? Apa tujuan sesungguhnya Hades?
“Eh, kok membosankan ya?”
Pikiran seperti itulah yang terlintas di benakku usai menonton film ini. Berbeda dengan kebanyakan temanku yang kelihatannya semangat 45 memasukkan film ini dalam wajib tonton setelah melihat trailernya, saya dari dulu sudah merasa biasa-biasa saja saat menonton trailernya. Saya khawatir bahwa film ini bakalan terlalu stylish tetapi kosong melompong dalam bidang cerita… sebagaimana kebanyakan film Louis Letterier lainnya. Asal tahu saja, sebelumnya sang sutradara memang sempat dipuji dengan The Incredible Hulk, tetapi bagi saya film itu juga tidak bagus-bagus amat. Hanya menang di efek doang.
Rupa-rupanya Clash of the Titans mengulangi kesalahan yang sama. Dialog dan akting para pemain dalam film ini terasa kaku, ceritanya terasa dangkal dan tidak berhasil menggali kekayaan mitos Yunani yang ia dasari. Pernah nonton Troy? Film itu memang total berbeda dengan karya asli Iliad, tetapi setidaknya Wolfgang Petersen menginjeksikan banyak drama dan hati untuk membuat kita peduli pada karakter di dalamnya. Begitu juga dengan 300. Saya peduli dengan karakter Leonidas bersama 300 anggota Sparta yang berperang menghadang Xerxes. Di sini? Tidak. Sebodo amat pikir saya ketika ada korban jatuh di pihak Perseus dalam perjalanan mereka. Dan bagaimana saya bisa peduli kalau yang saya lihat dari mereka melulu hanya aksi mereka bertempur dengan binatang dan monster-monster saja. Clash of the Titans memang sebuah film yang mengedepankan efek spesial, tetapi haruskah karenanya mengorbankan cerita? Kenapa Letterier tidak belajar pada 300 yang cukup berhasil menyeimbangkan kedua belah dimensi?
Sam Worthington bisa jadi salah satu aktor paling beruntung dan laris di dunia. Dalam kurun waktu kurang dari setahun ia bakalan mencetak 1 milyar USD dengan film-filmnya. Terminator Salvation sebagai big break layar lebar pertamanya mencetak hampir 130 Juta USD, sementara film Avatar menjadi yang terlaris sepanjang masa dengan 740 Juta USD (dan masih bisa terus bertambah). Clash of the Titans saya prediksi bisa mendapat kurang lebih 150 Juta USD yang lebih dari cukup buat mendorong total tiga film itu lebih dari 1 Milyar. Gila! Luar biasa! Tapi akting Worthington kok rasanya menurun dari film ke film? Saya merasa ia berhasil tampil lebih meyakinkan dibanding Christian Bale di Terminator Salvation sebagai Marcus. Dalam Avatar perannya sebagai Jake Sully tidak seberapa menarik perhatian, tapi saya menganggap itu dikarenakan film Avatar banyak mengedepankan sosok biru ketimbang sosok asli Worthington. Lah di Clash of the Titans kok penampilan Worthington makin tak berkesan lagi? Bahkan sekedar berteriak dan berpidato membangkitkan semangat saja ia tidak bisa memiliki karisma layaknya Russell Crowe dalam Gladiator atau Gerard Butler dalam 300. Mengecewakan, karena pemilihan Ralph Fienner sebagai Hades (dia juga aktor yang berperan sebagai Voldemort) dan Liam Neeson sebagai Zeus sudah sangat tepat.
So my verdict is… jangan mengharapkan sesuatu yang berlebihan dari Clash of the Titans. Ini sebuah film yang dipenuhi dengan adegan aksi dan efek spesial sana-sini, tetapi jalan ceritanya kosong. Jadi sebaiknya kosongkan otakmu sebelum menonton, dan nikmati saja. Oh ya, tak perlu menonton versi 3Dnya sebab Clash of the Titans dari sananya diposisikan sebagai film 2D dan hanya ditambahi efek 3D di menit-menit terakhir produksi demi menambah pundi-pundi dollarnya.
Score: 5.0
Movie Details
Director: Louis Letterier
Cast: Sam Worthington, Liam Neeson, Ralph Fiennes, Gemma Artenton
Running Time: 118 Minutes










