Tag Archive | "The Dark Knight"

Tags: , , , , , , ,

Batman Begins

Posted on 06 November 2009 by Si Tukang Review

Batman Begins Poster

Batman Begins Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2005)

Franchise komik DC bisa dibilang mati bersamaan dengan berakhirnya franchise Batman pada tahun 1997. Film keempat Batman yang bertajuk Batman And Robin mendapat hujatan dan kecaman dari berbagai pihak. Banyak pihak menilai bahwa film Batman yang terakhir ini tidak sesuai dengan asal muasal sang dark knight yang lebih bernuansa kelam. Setelah mati suri sekitar 8 tahun, pada summer 2005, Batman kembali dihidupkan melalui film Batman Begins.

Dari nama yang disandangnya, tidak heran banyak orang lantas membanding-bandingkannya dengan film Batman yang pertama. Apa bedanya ? Bila Batman pertama lebih banyak menekankan mengenai aksi Bruce Wayne ketika ia sudah menjadi Batman, maka Batman Begins lebih menyoroti mengenai bagaimana proses perubahan Bruce Wayne yang notabene seorang manusia biasa menjadi seorang Batman yang lebih dari sekedar manusia biasa. Batman Begins dijanjikan oleh Christopher Nolan memiliki suasana yang kelam ketimbang colorful. Hal yang wajar mengingat dasar ceritanya diangkat dari Batman: Year One karya Frank Miller yang memang gelap. Hanya saja berbeda dengan nuansa dark yang ditawarkan Tim Burton, kekelaman tone Batman Begins lebih disebabkan oleh alur dan settingnya memang gelap.

Di masa itu, Gotham City adalah kota yang terbelah menjadi dua aspek sosial. Orang-orang berada memang memiliki kedudukan dan posisi sosial yang enak di mana mereka dapat hidup berfoya-foya, sementara di daerah kumuh, banyak orang yang tidak punya bahkan kesulitan untuk memenuhi sekedar kebutuhan perut mereka semata. Jurang sosial ini menyebabkan semakin banyak kriminalitas merajalela di Gotham. Bruce Wayne adalah korban dari kriminalitas ini, ayah dan ibunya yang tergolong darah ningrat diserang pada sebuah malam dan terbunuh di depan matanya sendiri. Berangkat dari peristiwa itu, Bruce muda menjadi seorang yang pendendam. Ia belajar mengandalkan amarah serta kebenciannya untuk menjadi pusat kekuatannya. Ia belajar menyelami pikiran para teroris agar suatu saat dapat membalaskan dendamnya. Di penjara, ia kemudian ditemukan oleh seorang Henry Ducard. Ducard adalah seorang anggota League of Shadows. Pemimpin League of Shadows; Ras Al Gul melihat potensi dalam diri Bruce untuk menjadi pemimpin League of Shadows miliknya.

Sayangnya, usai menjalani latihan, Bruce Wayne tetap tak membuang hati manusianya. Ia memutuskan bahwa cara dari League of Shadows terlalu ekstrim - ia pun kembali ke Gotham dan dalam kehidupan gandanya menjadi sang manusia kelelawar. Tentunya usahanya ini tidak mudah karena seluruh kota tengah berada dalam cengkeraman erat seorang bos mafia yang bekerja sama dengan pemimpin utama dari rumah sakit jiwa. Tidak berhenti sampai di sana, sebagai Bruce Wayne pun ia harus menghadapi masalah konflik internal dalam perusahaan yang diwarisi oleh ayahnya; juga masalah kehidupan asmaranya dengan gadis pujaannya: Rachel Dawes.

Cerita yang begitu kuat dalam film ini adalah kekuatan utama darinya. Christopher Nolan memang mengambil alur penceritaan maju mundur yang agak membingungkan di awal kisah. Hanya saja bila disimak dengan sungguh, alur cerita mengalir dengan enak dan mudah dimengerti dalam penuturannya. Motif dari para villain dalam kisah ini mungkin akan membuat mereka yang tak seberapa familiar dengan Batman berkerut; tetapi tidak lebih. Dialog filosofis dalam film ini tidak terasa menggurui ataupun menggiring cerita menjadi membingungkan. Dialog filsafatnya malahan terasa berbobot dan pas.

Cerita yang cukup sempurna ini diperkuat dengan daftar casting yang brilian dan pas pada posisi mereka masing-masing. Christian Bale memiliki karisma sebagai Bruce Wayne yang terbaik. Sejajar dengan Val Kilmer karena memang muka yang ia miliki sesuai dengan penggambaran Bruce Wayne; seorang yang angkuh, dingin, sekaligus kesepian jauh dalam lubuk hatinya. Sayangnya sebagai Batman; karisma yang dimiliki Bale tak sekuat Michael Keaton yang masihlah Batman terbaik hingga saat ini bagiku. Alfred diperankan dengan sempurna oleh Michael Caine. Tidak hanya bersikap sebagai pelayan semata; Alfred dengan segala kehangatan kasih yang ia berikan secara sempurna menjadi sosok ayah yang ideal bagi Bruce yang telah kehilangan orang tuanya sejak kecil. Liam Neeson yang entah kenapa sering tampil sebagai sosok mentor juga muncul dengan idealismenya sendiri tetapi memikat. Wajah matang didukung dengan akting yang prima menjadikannya sebagai sosok mentor yang sayang kepada sang murid, tetapi tetap berdedikasi pada idealismenya.

Kendati tidak sebrilian ketiga sosok di atas, Morgan Freeman dan Gary Oldman tidak boleh diremehkan. Morgan Freeman memang tidak diberi ruang besar tetapi ia berhasil menggunakan setiap frame di mana ia tampil untuk merebut simpati penonton. Dengan segala gadget yang ia kembangkan; sedikit banyak ia mirip dengan M dalam seri James Bond. Gary Oldman mulai melepas kebiasaan yang spesialisasi karakter jahat dengan menerima tugas menjadi Jim Gordon; letnan polisi yang suatu hari nanti menjadi komisaris sekaligus mitra terlama Batman dalam memerangi kejahatan di Gotham.

Lepas dari segala kelebihan di atas, Batman Begins tidak terlepas dari beberapa kelemahan teknis yang menganggu. Batmobile yang ditampilkan dalam film ini lebih pas mengusung nama Battank. Belum lagi pergeseran karakter Batman yang biasa ditampilkan sebagai hero menjadi seorang anti-hero yang masih dimusuhi oleh para polisi. Terakhir; adalah kemunculan Katie Holmes yang rasanya salah orang. Bila dicermati lagi Nicole Kidman dan Michelle Pfeiffer memiliki pesona wanita dewasa yang pas dengan Val Kilmer dan Michael Keaton saat itu. Sementara Katie Holmes; dia lebih mirip sebagai adiknya Bruce Wayne ketika beradu akting dengannya. Agak disayangkan mengingat Holmes tampil cukup maksimal dalam film ini; mencurahkan bakat aktingnya.

Batman Begins adalah sebuah film komplit yang membawa Batman kembali ke dunia yang sebenarnya. Dunia kelam yang digemari oleh para penggemarnya. Dengan penutup yang menggoda; tidak heran kalau kita mengharapkan sebuah sekuel bukan ? Hail to the Dark Knight!

Score: 9.5

Movie Details
Director: Christopher Nolan
Cast: Christian Bale, Michael Caine, Liam Neeson, Ken Watanabe
Running Time: 141 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , ,

Batman: Arkham Asylum

Posted on 08 October 2009 by Si Tukang Review

Batman: Arkham Asylum Cover

Batman: Arkham Asylum Cover

(Review Based on PC Version)

Welcome to the Mad House

Game yang diangkat dari cerita superhero biasanya memiliki peluang 50-50. Bisa jadi game tersebut keren dan inovatif seperti Spider-man 2 yang menggabungkan unsur GTA dan superhero. Sebaliknya kalau salah garap, hasilnya bisa seperti Superman 64 yang mendapat kritik massa karena dianggap menjadikan sang manusia baja seperti orang idiot.

Ketika saya mendengar bahwa Batman: Arkham Asylum akan dirilis secara simultan untuk 360, PS3, dan PC, saya masih ragu akan kualitasnya. Mengingat sekarang DC tinggal punya properti Batman setelah kesuksesan The Dark Knight tahun lalu, saya khawatir kalau-kalau penerbit komik tertua di dunia ini kemudian sekedar rilis judul game tanpa memperhatikan kualitasnya. Bukankah tahun lalu sudah ada Lego Batman? Apa perlu rilis game Batman lagi tahun ini?

Saya berubah pikiran setelah game ini sibuk mendapat pujian sana-sini dari berbagai situs game. Beberapa situs game terkemuka macam IGN dan Gamespot bahkan terang-terangan menyatakan kalau Batman: Arkham Asylum merupakan game adaptasi superhero terbaik! Kesempatan saya merasakan game ini langsung datang saat saya bertandang ke rumah teman saya. Singkat cerita: dalam kurun waktu semenit memainkannya, saya langsung mengupgrade spesifikasi komputer saya keesokan hari guna memainkan game ini di rumah. Pendapat saya seiya sekata dengan IGN maupun Gamespot. Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik yang selama ini pernah dirilis.

The Clown Prince of Crime Is Back

Setiap kali Joker berulah, Batman menghentikan aksinya dan mengembalikan Joker ke rumahnya: Arkham Asylum. Hanya saja kali ini Batman heran. Kenapa menangkap Joker begitu mudah? Seakan-akan Joker sengaja untuk ditangkap dan dibawa ke Arkham Asylum. Menyadari bahwa ini mungkin merupakan jebakan dari Joker, Batman kali ini ikut masuk ke dalam penjara para pesakitan Gotham itu. Dugaan Batman menjadi kenyataan. Tak lama setelah dibawa masuk, Joker berhasil meloloskan dirinya dan kabur ke dalam penjara dengan bantuan Harley Quinn, sang abdi setianya. Joker bahkan sudah merancang rencana agar para polisi tidak bisa datang menolong setelah sebelumnya menyebar begitu banyak bom yang ia ancam ledakkan bila ada bantuan masuk ke Arkham.

Dengan polisi sibuk menangani perkara bom tersebut, Joker membebaskan para kriminal-kriminal untuk menguasai Arkham. Satu-satunya harapan untuk menghentikan mereka adalah Batman. Tapi ini tidak akan menjadi hal yang mudah. Selain Joker dan Harley Quinn, banyak sekali musuh sang manusia kelelawar yang ditangkap olehnya meradang. Para psikopat macam Bane, Killer Croc, sampai Scarecrow jelas menunggu-nunggu untuk balas dendam. Bisakah Batman mengambil-alih kendali di Arkham Asylum sebelum semuanya tak tertolong? Apa rencana di balik pengambilalihan Joker ini?

Jangan heran bila cerita dalam game ini di atas standar game-game Batman lainnya. Maklum saja, Batman: Arkham Asylum mendasarkan ceritanya pada kontinuitas resmi komik Batman, tidak seperti game lain Batman yang berdasar kontinuitas serial animasi maupun film layar lebarnya. Bicara soal serial animasi, naskah dalam game ini dipenai oleh Paul Dini. Bagi para pembaca komik DC, nama ini tentu tidak asing lagi. Paul Dini, berikut dengan Geoff Johns dan Grant Morrison adalah penulis banyak cerita Batman, baik di layar kaca maupun di buku komik. Pantas saja ia begitu mengenal tiap-tiap karakter dalam game ini, baik musuh maupun kawan dari Batman. Sekedar fakta unik, karakter Harley Quinn yang pertama muncul dalam serial TV Batman ya diciptakan oleh Paul Dini ini.

Cape Crusader Multi-Profession

Tentu saja sebuah game tidak bisa sekedar dilihat dari ceritanya saja. Seseru apapun ceritanya, game tetap membutuhkan sisi interaktif dengan para pemain, kalau tidak apa bedanya ia dengan sekedar film atau komik yang pasif menyodorkan pada pembaca / penonton belaka? Selama ini, game Batman acap kali lupa bahwa si manusia kelelawar bukan hanya superhero belaka - tetapi juga detektif terbaik dunia DC. Batman juga bukan jagoan macam Superman atau Spider-man yang gayanya adalah langsung maju menyerang para musuh secara brutal. Seperti yang ditegaskan dalam film-film Batman baru karya Christopher Nolan, Batman lebih banyak beroperasi di balik bayangan, menganalisa sang musuh, memakai otak dan ototnya untuk memberantas kejahatan. Dan semua aspek itu tertuang secara sempurna dalam Batman: Arkham Asylum.

Sempurna di sini bukanlah kata yang berlebihan. Pernah membayangkan genre Metal Gear Solid, Resident Evil, sampai GTA dicampur menjadi satu dengan dunia Batman? Nah, hasilnya adalah Arkham Asylum ini. Mengingat ada begitu banyak penjahat di dalam Arkham Asylum lepas dari kurungan, bukan hal yang bijak bila kamu langsung main terjang saja. Empat lima musuh mungkin masih bisa ditangani oleh Batman yang jago berkelahi (sistem bertarungnya sederhana tetapi adiktif dan memiliki kontrol yang fluid), tetapi musuh yang sudah mencapai lebih dari sepuluh orang dan membawa senjata senapan? Nanti dulu. Sebagai Batman, kamu harus memanfaatkan keadaan di sekelilingmu dan gadget yang kamu bawa. Kamu bisa menjebak musuh dengan bom plastik, bisa juga diam-diam menyergap mereka dari belakang, atau memisahkan mereka dari rombongan dan melawan mereka satu demi satu. Caranya benar-benar bebas terserah kamu! Semakin banyak kamu melawan musuh, semakin tinggilah experience yang kamu dapat untuk mengupgrade Batman mendapatkan gerakan-gerakan yang baru.

Game ini juga untuk pertama kali membuka tabir isi dan membiarkanmu menjelajahi Arkham sesuka hatimu. Pada dasarnya penjara ini terletak di sebuah pulau yang terpisah dari Gotham sehingga dalam game ini kamu bebas mengeksplorasi seluruh pulau tersebut. Area yang kamu jelajahi juga bervariasi dan tidak monoton sehingga kamu tidak mungkin kebosanan (apalagi dengan jalan cerita yang hampir terus menerus memompa adrenalin). Selain para kriminal cecunguk kelas teri yang dilepas oleh Joker, game ini juga menyajikan deretan musuh Batman yang lebih berbobot. Setiap pertarungan melawan boss benar-benar memorable. Sedikit spoiler saja, salah satu yang paling berkesan bagiku adalah pertarungan pertama melawan Scarecrow. Batman yang terkena gas beracun Scarecrow mengalami halusinasi melihat mayat orang tuanya di kamar mayat. Settingnya jadi benar-benar menyeramkan ala Resident Evil. Belum lagi setelah itu Scarecrow tahu-tahu nongol dari kantung mayat!

Karena saya memainkan versi PCnya, saya tidak terlalu tahu kualitas versi 360 dan PS3nya. Yang jelas, apabila kartu grafismu memadai, game ini sudah memanfaatkan fitur terbaru nVidia yang bernama PhysX. Teknologi ini memungkinkan render game yang interaktif dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya bila Batman menghajar musuh ke dinding, maka dinding itu pun ikut retak atau mungkin bahkan hancur dengan suksesnya. Fitur PhysX ini pastinya akan memberikan dimensi baru dalam permainan bila kamu memang penggila berat game. Terakhir mengenai suaranya juga diisi oleh para pengisi suara kelas atas pada bidangnya, seperti Kevin Conroy dan Mark Hamill (the force is strong in Mr Joker eh Luke Skywalker!).

Seperti yang saya katakan di awal review tadi, Batman: Arkham Asylum adalah game adaptasi superhero terbaik. Lebih dari itu, ia bisa dinikmati oleh semua gamer, terlepas apakah kamu familiar atau tidak dengan mitologi sang manusia kelelawar. Final verdict: kandidat game terbaik tahun ini!

Final Verdict

Gameplay: 9.5
Gameplaynya benar-benar dalam dan bervariasi. Sebagai sang jago martial arts, kamu harus menghadapi berbagai musuh. Sebagai sang detektif, kamu harus mencari petunjuk yang ditinggalkan musuhmu untuk menentukan langkahmu berikutnya. Sebagai manusia, kamu harus mengendap tanpa membabi-buta. Benar-benar portrayal Batman yang lengkap!

Graphic / Sound: 10
Apalagi dimainkan dengan teknologi PhysX nVidia, suasana sekeliling Arkham Asylum mulai dari pulau sampai ruangan dalam yang artistik dan menakutkan… suasananya menakjubkan dengan campuran setting film horror dan thriller. Para bossnya semua memorable dengan design yang setia pada konsep komiknya. Setiap karakter juga diisi oleh para artis papan atas yang sudah berpengalaman.

Play Time: 9.5
Mengungkap semua rahasia Arkham Asylum memberikan tantangan tersendiri karena bonus-bonus unik yang tersembunyi di dalamnya. Wawancara dengan Joker atau Killer Croc saat mereka mau dimasukkan ke dalam Arkham Asylum misalnya memberi background cerita yang lebih jelas mengenai kehidupan para psikopat ini.

Score: 9.8

Game Details
System: 360, PS3, PC
Developer: Rocksteady
Publisher: Eidos
Genre: Action Adventure

Comments (10)

Tags: , , , , ,

Super Capers

Posted on 23 August 2009 by Si Tukang Review

Super Capers Poster

Super Capers Poster

Saya menonton Super Capers dengan ekspektasi bahwa B-movie ini adalah sebuah film superhero dengan budget rendah dan merupakan parodi dari film-film superhero lainnya. Yah, seperti Superhero Movie hanya untuk rilis langsung ke DVD. Maka dari itu, ketika film ini ternyata cukup lucu dan ceritanya cukup orisinil, saya mendapat kejutan yang menyenangkan.

Ed Gruberman hendak menjadi seorang superhero semenjak kematian kedua orangtuanya. Sayangnya keinginannya ini terhalangi oleh satu hal: ia tidak punya kekuatan super. Ketika Gruberman tanpa sengaja menyerang seorang kriminal yang tengah menodong seorang wanita, ia malahan ditangkap polisi karena disangka menyerang orang tak berdosa. Beruntung bagi Gruberman sang hakim masih mau mendengarkan pembelaannya dan tidak langsung memasukkannya ke dalam penjara. Gruberman justru diberi kesempatan untuk bergabung dengan sebuah grup superhero bernama Super Capers untuk belajar bagaimana mendapatkan kekuatannya.

Super Capers terdiri dari superhero-superhero paling konyol sepanjang sejarah. Brainard adalah seorang man-child yang masih tidur dengan mamanya walau sudah berumur 50 tahun dan memiliki kemampuan telekinesis. Will Powers punya kekuatan macam Superman tetapi ia punya masalah dengan rupanya dan takut diejek gendut atau jelek. Puffer Boy hanya bisa membangkitkan kekuatannya ketika takut. Q adalah pencipta gadget yang terobsesi dengan Qnya di James Bond (ia juga punya ciptaan robot yang bicara persis gaya Arnold Schwarzenegger). Satu-satunya superhero yang agak normal di sini adalah Felicia Freeze, sang superheroine yang memiliki kemampuan membekukan sesuatu dan langsung menarik perhatian Ed. Apakah Ed bisa belajar dari Super Capers?

Tadinya saya mengira film ini seperti Superhero Movie yang penuh parodi. Nyatanya pendapat saya keliru total. Walau dipenuhi parodi di sana-sini (dari Batman, Robin, Star Wars, James Bond, The Matrix dan lain-lain), Super Capers tidak pernah terjebak dalam rentetan parodi demi parodi seperti yang menjadi masalah kronis kebanyakan film parodi belakangan ini. Selain itu, Super Capers juga cukup cerdas dalam menggabungkan humor orisinil bercampur parodi sehingga penonton tidak jenuh dengan humor begitu-begitu saja. Cerita dalam film ini pun cukup pintar untuk ukuran B-movie dan memiliki plot twist yang tak kusangka menjelang akhir film.

Mengingat film ini dirilis langsung untuk DVD, bisa dimaklumi kalau budgetnya kecil. Gara-gara alasan ini, Super Capers terlihat sangat minim dari segi kostum (jelek sekali dan bahkan tidak body-fit), segi spesial efek (dengan action yang sangat minim), sampai segi latar belakang (mansion superheronya menyedihkan). Pun dari pemainnya tidak terlalu banyak nama beken yang bergabung dalam film ini. Yang saya kenali paling-paling Ryan McPartlin (Mr Awesome di Chuck) dan Danielle Harris yang masih saja memiliki wajah dan perawakan gadis berumur 20an (walau ia sudah berusia 32 tahun!). Dua cameo yang lumayan terkenal ambil bagian adalah Tom Sizemore dan Adam West (dan tentu saja ada candaan bagaimana West adalah mantan Batman di serial TV jadul dulu). Sebagai kompensasinya, sang sutradara juga berusaha mengoptimalkan musik dalam film ini (semua direkam dengan orkestra) untuk memberi penonton kepuasan, setidaknya dari kualitas sisi audionya.

Sejujurnya jangan harapkan Super Capers untuk bersaing dengan film-film superhero macam The Dark Knight atau Spider-man 2 atau bahkan Sky High. Toh dengan segala kesederhanaan yang ia tawarkan, Super Capers membuktikan bahwa untuk sebuah film parodi yang kompeten dan memancing tawa masih perlu cerita. Semoga dengan film ini para studio besar mulai melirik Ray Griggs dan memberinya budget lebih tinggi untuk film-film parodinya yang lain ketimbang melulu mendanai Aaron Seltzer dan Jason Friedberg meracuni kita dengan film mereka.

Score: 6.6

Movie Details
Director: Ray Griggs
Cast: Justin Whalin, Samuel Lloyd, Ryan McPartlin, Danielle Harris
Running Time: 86 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

The Prestige

Posted on 15 July 2009 by Si Tukang Review

The Prestige Poster

The Prestige Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Batman Begins adalah alasan kenapa aku menonton film ini. Karena begitu puasnya aku menonton Batman Begins dari Christopher Nolan, aku jadi penasaran dan tertarik melihat film ini. Yang mengejutkanku adalah Christian Bale dan Michael Caine (yang tampil begitu kompaknya di Batman Begins) sekali lagi tampil dalam film ini. Belum lagi dengan tambahan Hugh Jackman. Wolverine dan Batman tampil dalam satu layar? Tambahan lagi mereka duel sebagai para pesulap! Ini baru tontonan!

Robert Angier dan Alfred Borden keduanya adalah sahabat baik yang sangat tergila-gila dengan ilmu sulap (mereka juga pesulap). Tetapi kemudian segalanya berubah ketika sebuah kecelakaan terjadi di pertunjukan sulap mereka. Kecelakaan itu merenggut nyawa dari Julia Angier (istri dari Robert Angier) dalam atraksi sulap. Kemarahan Robert pun ditumpahkan kepada Alfred. Mereka yang semula sahabat berubah menjadi musuh besar yang saling menyerang dan mengacaukan permainan lainnya. Tidak hanya itu, mereka masing-masing juga memiliki asisten yang selalu melindungi mereka. Perseteruan keduanya ini makin lama menjadi makin tajam dan merembet kepada keluarga mereka.

Keduanya sebenarnya memiliki gaya sulap yang berbeda. Sementara Alfred Broden kurang jago dalam menggaet perhatian para penonton (tetapi dia sangat luar biasa dalam menciptakan trik-trik sulap baru), sebaliknya Robert Angier adalah seorang penarik minat penonton dan menguasai panggung (tetapi kalah terampil dengan Alfred dalam menemukan ilmu-ilmu yang baru). Akhirnya Robert mengirim asistennya yang bernama Olivia kepada Alfred guna mengorek rahasia Alfred. Bagaimanakah titik puncak dari perseteruan mereka ini? Yang jelas, sebagaimana ilmu sulap - akan begitu banyak plot yang diputar balik sepanjang cerita.

Seperti halnya saya menonton Batman Begins, The Prestige menyuguhkan deretan aktris papan atas yang mampu tampil luar biasa. Hugh Jackman dan Christian Bale sangat fasih dalam memerankan Robert Angier dan Alfred Borden (yang saya sayangkan hanyalah Nolan kurang memberi kesempatan penonton menunjukkan awal-awal masa di mana mereka berdua masih bersahabat karib - entah kenapa rasanya kurang dalam). Sebagai peran pendukungnya, Michael Caine - Scarlett Johansson - sampai David Bowie sekalipun mampu mencuri perhatian dari para penonton dengan performa mereka yang apik. Ilmu sulap demi ilmu sulap juga ditunjukkan dan perlahan misteri di baliknya dibongkar oleh Christopher Nolan (Tidak, sang sutradara tidak repot-repot membeberkan kepada kita mengenai trik sulap sederhana, tetapi trik-trik sulap yang berkelas tinggi).

Melalui film ini, saya belajar banyak mengenai dunia sulap yang sebagaimana halnya dunia bisnis lain, penuh dengan intrik dan persaingan tajam di dalamnya. Dan hal kedua yang saya pelajari adalah… mata kita justru merupakan bagian yang bisa jadi sangat menipu kita. The Prestige adalah tontonan apik yang menyuguhkan kejutan demi kejutan sampai pada detik terakhir film ini diputar. Bravo untuk tontonan apik dari Nolan ini, sudah lama rasanya otak saya tidak bekerja ketika menonton bioskop!

Score: 8.5

Movie Details
Director: Christopher Nolan
Cast: Hugh Jackman, Christian Bale, Michael Caine
Running Time: 128 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

The Dark Knight

Posted on 11 January 2009 by Si Tukang Review

The Dark Knight Poster

The Dark Knight Poster

Director: Christopher Nolan
Artist: Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Gary Oldman, Morgan Freeman, Michael Caine, Maggie Gylenhaal
Running Time: 152 Minutes

Tidak ada film layar lebar yang lebih dinanti-nantikan di tahun 2008 seperti The Dark Knight. Marvel boleh merilis Iron Man serta Hulk, Indiana Jones boleh melakukan comeback setelah pensiun selama 19 tahun tetapi apa yang paling dinanti-nantikan oleh orang adalah apa yang dipersiapkan oleh Christopher Nolan untuk sang caped crusader.

Betapa satu film bisa mengubah segalanya. Ketika Batman Begins dirilis di tahun 2005 dulu, semua orang menyambut dengan harap-harap cemas. Maklum saja, penonton masih trauma dengan film Batman and Robin yang dinilai menghancurkan franchise sang manusia kelelawar itu. Beruntung, Christopher Nolan mempelajari dengan benar mengenai graphic novel Batman dan mengembalikan Batman ke akar sejatinya: kegelapan. Hasilnya, Batman Begins pada tahun 2005 dinilai sebagai film yang berhasil membangkitkan citra Batman. Sebuah teaser yang menyatakan bahwa Joker - sang musuh legendaris Batman - akan muncul di sekuel makin membuat orang penasaran.

Ketika Heath Ledger dipilih menjadi Joker, semua orang bertanya-tanya dalam hati. Bisakah penampilan sang bintang Australia itu melewati penampilan dari Jack Nicholson dalam film Batman pertama? Batman pertama adalah Batman tersukses sekaligus mengukuhkan image Joker sebagai milik Jack Nicholson. Merupakan tantangan tersendiri bagi Ledger untuk tampil sebagai sang badut. Tak dinyana, di awal tahun ini Ledger ditemukan meninggal. Spekulasi menyatakan bahwa Ledger minum kebanyakan pil tidur karena depresi setelah memainkan karakter Joker. Makin besarlah rasa penasaran dan hype orang akan film ini.

Keadaan di Gotham sudah jauh berubah semenjak kehadiran Batman. Bersama rekan lamanya polisi Gordon, Batman memporak-porandakan kegiatan bisnis para mafia di kota Gotham. Para kriminal kini ketakutan akan sosoknya; penjahat kacangan bahkan tidak berani keluar melihat lentera kelelawar muncul menerangi langit Gotham. Ditambah dengan seorang DA (Defense Attorney) Harvey Dent yang sigap membela kebenaran dan membersihkan kota Gotham, nampaknya Gotham tak lagi memerlukan sosok Batman. Bahkan Bruce Wayne pun menyatakan dukungan penuhnya kepada Harvey. Ia merasa bahwa sudah cukup kiprahnya sebagai Batman; dan Gotham memerlukan seorang pahlawan yang sesungguhnya - bukan anti-hero yang beraksi malam-malam.

Sayang, prediksi ketiga abdi kebenaran ini meleset. Di tengah terjepitnya para gangster ini, mereka memutuskan untuk menyewa bantuan dari sosok sinting psikopat bernama Joker. Joker berbeda dengan para penjahat yang pernah dihadapi oleh Gotham lainnya. Ia bukan seorang penjahat yang tamak dan menginginkan uang. Ia bukan seorang penjahat yang mau posisi dan jabatan demi menguasai orang. Bukan. Joker hanya bisa digambarkan - dengan kata-kata yang disadur dalam film ini sendiri - sebagai “the agent of chaos” dan “man who want to watch this world burn“. Anarki yang diciptakan oleh Joker inilah yang melawan tatanan yang sudah disusun sedemikian rupa oleh Batman - sekaligus membawa keduanya dalam perang frontal memperebutkan Gotham.

Saya harus memberikan pujian sedalam-dalamnya bagi film The Dark Knight. Film ini begitu suksesnya memadukan segala macam unsur drama, kriminal, dan superhero dalam sebuah film sehingga kita seakan-akan tidak menonton sebuah film superhero lagi. Begitu riilnya paparan yang ada sehingga kita seakan dibawa menonton drama mafia kelas berat ketimbang sebuah film superhero kacangan semata. Para artis yang bermain dalam film ini pun bersinar cemerlang. Christian Bale masih sosok Bruce Wayne dan Batman sejati. Gary Oldman juga tetap menjadi Gordon terbaik yang saya kenal di layar lebar. Morgan Freeman dan Michael Caine kali ini mendapatkan peran lebih kecil (tetapi tetap berpengaruh) untuk memberi jalan bagi dua pendatang baru: Heath Ledger sebagai Joker dan Aaron Eckhart sebagai Harvey Dent. Rachel Dawes, seorang karakter lama kembali dengan artis Maggie Gyllenhaal menggantikan posisi Katie Holmes.

Saya rasa semua orang sudah memberikan pujian mereka kepada Ledger sehingga saya tak perlu memujinya lagi (dia berhasil membuktikan bahwa dialah Joker terbaik, melebihi bahkan Jack Nicholson sekalipun, akan merupakan hal yang memalukan apabila Ledger tidak diganjar dengan Oscar untuk penampilannya yang sempurna itu), tapi orang kadang melupakan Aaron Eckhart. Saya pribadi merasa bahwa transformasi Harvey Dent menjadi Two-Face adalah nyawa dan plot sesungguhnya dalam film ini (anda akan mengerti bila menontonnya lagi) dan Eckhart berhasil menanganinya dengan sangat-sangat baik. Saya senang sekali dengan besarnya peran Two-Face di sini mengingat Two-Face adalah salah satu villain dari Batman yang paling kompleks moralnya selain Joker dan The Riddler. Bahwa Eckhart berhasil membawakan peran ganda tersebut dengan sempurna adalah suatu kepuasan tersendiri bagi penggemar komik sepertiku.

Setiap kali dalam beberapa tahun, akan ada sebuah film yang begitu bagusnya sehingga anda akan menemukan diri anda membicarakan mengenainya, mendiskusikan mengenainya bersama teman-teman anda. Bagiku, film itu adalah The Dark Knight. Dan tampaknya saya tidak sendiri. Para kritikus setuju menilai film ini sebagai film terpuji tahun ini, para penonton pun begitu antusias dengan film ini dan mengangkat pendapatannya menjadi lebih dari 530 Juta USD, menempatkan The Dark Knight sebagai film kedua terlaris sepanjang masa di bawah Titanic. All hail the Dark Knight!

Score: 10

- this review is dedicated to Heath Ledger, why so serious mate? -

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here