Sambil melirik judulnya, ini film kok ga jelas banget ya?
Sambil melirik posternya, ini posternya kok kaya kriminal ya?
Sambil melirik screenshotnya, ini Tatum kok kaya mau ngomong “gw gebukin lu!” ya?
Kacau.
Saya tidak pernah menjadi fans dengan film-film turnamen bela diri macam ini. Bukannya tidak suka sih, cuma saya rasa era keemasannya sudah lewat. Saya dulu suka sekali film Van Damme macam The Quest atau Bloodsport. Ketika menonton Never Back Down tahun lalu saja saya sudah merasa kalau film ini tolol karena jalan ceritanya tentang cowo memperebutkan cewe. Nah, kalau melihat Fighting? Saya tambah bengong lagi. Saya tidak tahu jalan ceritanya apa. Sumpah.
Awal-awalnya film ini memperkenalkan kita pada karakter Shawn McArthur. Kita tidak pernah diberi penjelasan apa-apa mengenainya selain dia terlihat bagaikan orang baik yang berusaha mencari uang dengan cara yang informal. Setelah sebuah insiden terjadi, seorang penipu bernama Harvey Boarden mengajak Shawn untuk bertarung dalam turnamen bela diri bawah tanah yang dijadikan taruhan dari orang-orang kaya. Shawn yang dijanjikan uang 5000 USD mengiyakannya. Shawn yang ternyata lumayan terlatih kemudian mulai memenangkan pertandingan demi pertandingan. Dan uh… tamat.
Oke mungkin tidak tamat begitu saja, tetapi saya benar-benar tidak bisa menulis apapun lagi soal film ini karena ceritanya begitu dangkal dan klise. Sebagai penonton saya tidak peduli dengan satupun karakter dalam film ini karena akting yang dangkal dari masing-masing tokoh. Channing Tatum berusaha tampil serius sebagai Shawn tetapi hasilnya dia malah seperti sosok cowo berkepribadian ganda. Saya sangka dia gentlemen bila menontonnya di sepuluh menit pertama, tapi di sisa film dia kelihatan seperti psikopat haus darah plus stalker. Jauh dari sosok yang bisa diagungkan sebagai jagoan dan juga tidak terlihat badass. Terrence Howard juga begitu. Penampilannya sebagai Harvey yang seharusnya menjadi sosok pelatih atau manager Shawn tidak pernah tersalurkan di layar. Chemistry keduanya meleset total.
Tapi namanya juga film beladiri… siapa peduli dengan dramanya kan? Lihat saja Ong Bak dan Tom Yam Goong? Siapa ingat dengan jalan ceritanya? Ingatnya dengan stunt-stunt menakjubkan dari Tony Jaa kan? Siap-siap saja kecewa lagi. Channing Tatum sebenarnya bukan sosok yang asing dalam olahraga beladiri Kung-Fu (berdasarkan profilnya di situs IMDB) tetapi film ini tidak memberinya banyak kesempatan unjuk gigi (atau unjuk kepala tangan). Adegan duel dalam film ini sangat sedikit (hanya tiga) dan hampir semuanya terlalu pendek dengan durasi kira-kira tidak sampai lima menit. Semua koreografinya juga biasa-biasa saja, tidak ada yang sampai membuat saya terperangah atau bikin “wow”. Paling-paling perkecualian ada di pertarungan kedua yang paling menunjukkan perbedaan gaya beladiri kedua petarung. Selebihnya? Membosankan. Satu hal lagi yang paling menganggu adalah dalam pertarungan pertama Shawn nampak lemah dan amatiran, tetapi setelah kita belajar sedikit mengenai latar belakangnya, ia mendadak jadi jauh jauh lebih tangguh tanpa pernah berlatih sedikitpun.
Fighting adalah film yang tanggung dari semua sisi. Mau drama gagal karena para pemainnya kurang kompeten (baca: tidak bisa berakting). Mau beladiri adegannya terlalu sedikit dan kalah kelas dengan film-film beladiri lain. Saran saya: daripada menghabiskan waktu 100 menit lebih menonton film ini, gunakan waktu itu untuk menonton pertandingan-pertandingan UFC. Jauh lebih nyata – jauh lebih keren – dan tidak pakai drama kacangan. Buat Dito Montiel, belajar dulu ya bagaimana cara bikin film yang baik…
Score: 4.1
Movie Details
Director: Dito Montiel
Cast: Channing Tatum, Terrence Howard, Zulay Henao, Michael Rivera, Luis Guzman
Running Time: 105 Minutes








