Tag Archive | "Tanuki"

Tags: , , , ,

Pom Poko

Posted on 02 November 2009 by Si Tukang Review

Pom Poko Poster

Pom Poko Poster

Setelah menonton film ini, saya semakin menyadari perbedaan gaya penceritaan dari Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Miyazaki lebih mengedepankan unsur fantasi dan petualangan untuk kisah-kisahnya, sementara film-film Takahata biasanya mengambil tema seputar sejarah dan kondisi sosial di Jepang. Pom Poko adalah contoh yang sempurna untuk menggambarkan bagaimana Takahata bisa begitu kreatifnya menggabungkan unsur fantasi dan pesan satir sosial dalam satu film.

Di era akhir 60an kondisi ekonomi Jepang yang terus memuncak membuat ekspansi besar-besaran perumahan / real estate terjadi. Banyak sekali hutan yang dibabat untuk dijadikan daerah pemukiman. Cerita ini terjadi pada sebuah hutan yang hendak dijadikan “Tama New Town”. Alkisah di hutan tersebut dihuni oleh banyak Tanuki (dalam translasi Inggris disebut rakun, tetapi itupun sebenarnya kurang tepat sehingga saya memilih menggunakan nama Jepangnya saja dalam resensi ini) yang mulai kehilangan tempat kehidupan mereka. Geram melihat bagaimana manusia begitu serakah melakukan ekspansi, Tanuki yang sebenarnya adalah binatang yang cinta damai menyerang manusia.

Dalam mitologi Jepang (atau Asia Timur), ada dua jenis binatang yang dipercaya bisa berubah wujud: Rubah dan Tanuki. Dalam film ini, Tanuki menggunakan kemampuan mereka untuk berubah wujud untuk melawan manusia. Ada yang berubah wujud menjadi hantu dan menakut-nakuti para pekerja real estate, ada juga yang menggunakan cara lebih frontal hingga menimbulkan kecelakaan yang membunuh para pekerja. Tentu saja perubahan wujud yang dilakukan oleh para Tanuki ini juga sangat berbahaya bagi mereka sehingga korban pun berjatuhan dari sisi Tanuki. Apakah para Tanuki bisa menghentikan para manusia dan merebut kembali hutan impian mereka.

Apabila dalam Grave of the Fireflies Takahata memberikan pesan anti perang, Pom Poko menohok dengan pesan ekologi. Mengingat ini terjadi pada masa lalu, kebanyakan penonton mestinya sudah bisa menebak akhir dari perang para Tanuki melawan manusia. Kendati demikian, adegan demi adegan tetap membuat saya lekat pada layar, melihat bagaimana para Tanuki merencanakan serangan-serangan baru mereka pada manusia. Salah satu bagian yang paling impresif dalam film ini adalah ketika secara besar-besaran mereka melakukan parade hantu. Tak kusangka bahwa sebelum Spirited Away, Studio Ghibli pernah melakukan animasi para hantu yang hampir sama impresifnya melalui Pom Poko. Takahata juga pandai menjaga mood cerita supaya tidak terlalu kelam. Walaupun dalam film ini terdapat banyak kematian dan kekerasan, Takahata selalu membalutnya dalam humor dan menyeimbangkannya dengan karakter para Tanuki yang pada dasarnya hanya ingin bernyanyi dan bersenang-senang saja.

Berbeda dengan semua film Ghibli yang pernah saya tonton selama ini, film Pom Poko tidak memiliki karakter utama melainkan satu karakter utama kolektif – yaitu para Tanuki sendiri. Memang ada beberapa karakter yang lebih menonjol dibandingkan yang lainnya seperti Shoukichi atau Gonta, tapi pada akhirnya penonton akan lebih melihat para Tanuki sebagai kesatuan ketimbang sosok-sosok yang terpisah. Selain pesan ekologi, saya juga tahu bahwa Takahata banyak menyisipkan sindiran untuk kehidupan sosial orang Jepang baik melalui karakter manusia ataupun dari karakter Tanukinya. Sayangnya, kebanyakan pesan dari Takahata ini mungkin lost in translation bila ditonton oleh para gaijin. Toh, setidaknya pesan ekologi Takahata – terutama pada bittersweet endingnya membuat saya mengintrospesksi diri melihat kota-kota di Indonesia yang terus giat membangun mall-mall dan kompleks-kompleks perumahan yang baru. Apakah kita secara tak sengaja telah menganggu keseimbangan ekosistem alam?

Score: 8.6

Movie Details
Director: Isao Takahata
Cast: Shincho Kokontei, Makoto Nonomura, Yuriko Ishida
Running Time: 119 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here