Tag Archive | "Squaresoft"

Tags: , , , ,

Final Fantasy Legend II (GB)

Posted on 24 August 2009 by Si Tukang Review

Final Fantasy Legend II Cover

Final Fantasy Legend II Cover

Apabila kamu seorang veteran RPG yang pernah memainkan kebanyakan game Final Fantasy maka Final Fantasy Legend II pasti akan terlihat aneh bagimu. Game Final Fantasy yang dirilis untuk Game Boy ini tidak seperti kebanyakan Final Fantasy untuk konsol baik dari segi grafis maupun gameplaynya. Oke, Sejarah 101: Titel Jepang dari Final Fantasy Legend II adalah SaGa 2: Hiho Densetsu. Para RPGer tentunya tahu bahwa sebelum bergabung dengan Enix dulu Squaresoft memiliki tiga franchise besar: serial Final Fantasy, serial Mana, dan serial SaGa. Walaupun di Jepang semuanya memiliki fanbase masing-masing, di saat itu publik Amerika baru tahu Final Fantasy. Daripada bertaruh memakai nama SaGa, Squaresoft akhirnya menerjemahkan titel ini menjadi Final Fantasy dengan diimbuhi ‘Legend’. Lahirlah Final Fantasy Legend di Game Boy.

Apabila kamu berharap akan jalan cerita yang legendaris (forgive the pun) maka kamu akan kecewa. Perlu diingat bahwa ini adalah tahun 1990 dan bahkan game konsol di jaman itupun belum benar-benar mementingkan aspek cerita dalamnya. Sebaliknya, bila kamu mencari sebuah RPG dengan gameplay yang dalam dan bisa dibawa ke mana-mana, Final Fantasy Legend II bisa saja menjawab keinginanmu itu. Seperti yang kubilang tadi, jalan cerita game ini dibuka dengan sederhana. Karakter utamamu dititipi oleh ayahnya sebuah benda aneh bernama Prism. Sang ayah kemudian menghilang di tengah kegelapan malam. Bertahun-tahun kemudian kamu tumbuh dan tahu bahwa artifak yang dititipi oleh ayahmu bernama Magi, satu dari puluhan artifak kuno yang tersebar di berbagai dunia yang bisa kamu jelajahi. Bisa dibilang kalau tujuan utamamu dalam game ini adalah menemukan ayahmu sekaligus menemukan artifak-artifak Magi supaya tidak jatuh ke tangan orang yang tidak benar (mengutip semboyan Pokemon: Gotta catch em all!)

Alasan kenapa saya mengatakan gameplay Final Fantasy Legend II dalam adalah kebebasannya untuk mengkustomisasi karakter. Kamu bebas membentuk tim empat orangmu dari beberapa jenis kelas yang disediakan. Ada Human dan Mutant yang memiliki dua jenis kelamin (walaupun pria dan wanita identik) dan ada empat jenis Monster yang bisa kamu pilih. Pilihanmu sepenuhnya bebas. Kamu suka mengambil kemampuan monster-monster yang kamu temui? Berarti karakter Monsterlah yang sebaiknya kamu pakai. Atau kamu mau bermain aman ala RPG konvensional? Kalau begitu ras Human yang standar untuk pemula adalah pilihan yang cocok untukmu. Berbeda juga dengan kebanyakan RPG yang memakai sistem Experience Point untuk naik level, Final Fantasy Legend II menaikkan statusmu berdasarkan cara bertarungmu. Contohnya kalau kamu sering menyerang musuh dengan senjatamu maka STRmu akan naik dan sebaliknya bila kamu sering memakai magic kamu memperbesar kemungkinan mendapatkan sihir baru. Pernah main Final Fantasy II? Sistem yang dipakai Final Fantasy Legend II mirip dengannya.

Untuk sebuah game Game Boy, saya rasa Final Fantasy Legend II layak sekali diacungi jempol dalam sisi audio visualnya. Sistem pertempuran di sini dibuat ala Dragon Quest di mana musuh ditampilkan secara raksasa di hadapan kita sementara karakter kita kecil di bawah layar. Di sini saya dipaksa mengakui kalau kualitas grafis para monster itu tergarap apik untuk layar monokrom handheldnya Nintendo ini. Pun untuk beberapa dunia yang bisa dijelajahi (saya tidak akan spoiler lebih jauh), semuanya memiliki nuansa yang berbeda-beda walau tidak ada yang dunianya seluas dan seindah Chrono Trigger – ah, maafkan saya. Tidak semestinya saya membandingkan game SNES dan Game Boy. Untuk segi audionya, game ini ditangani oleh legenda hidup Nobuo Uematsu. Walaupun kapasitas Game Boy terbatas, itu tidak menghalangi sang komposer memberikan musik-musik yang apik baginya. Tidak sampai memorable ala kebanyakan game Final Fantasy yang ditangani Uematsu tetapi semuanya solid dan enak untuk didengar.

Dengan segala pencapaiannya ini, Final Fantasy Legend II adalah RPG klasik yang dikenal dengan inovasi dan tingkat kesulitannya yang tinggi. Bila hal tersebut membuatmu takut untuk menjajalnya, tunggu saja versi remakenya yang akan hadir di pasar Jepang Nintendo DS akhir tahun ini. Nah, siapa yang siap mengambili Magi-Magi lagi?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Kustomisasinya luar biasa dalam, tidak hanya untuk ukuran Game Boy tetapi untuk ukuran game-game RPG di jaman itu. Tak heran bila gameplay Final Fantasy Legend II tercatat dalam sejarah sebagai fondasi dari serial SaGa ke depannya nanti.

Graphic / Sound: 8.0
Grafisnya keren dengan berbagai jenis animasi monster. Karakter-karaktermu pun berbeda satu sama lainnya. Musiknya yang ditangani Nobuo Uematsu juga kelas satu (untuk kelas portable). Squaresoft tidak menganggap kecil Final Fantasy Legend II dan menggarapnya secara serius.

Play Time: 8.5
Memakan waktu hampir 15 jam buatku untuk menamatkannya. Insentif terbesar untuk mengulang game ini bukan ceritanya tentu saja, tetapi memainkannya dengan grup yang berbeda karakter demi sensasi permainan yang berbeda.

Overall: 8.4

Game Details
Developer: Squaresoft
Publisher: Squaresoft
Genre: RPG

Comments (0)

Tags: , , , ,

Final Fantasy VII (PS)

Posted on 23 April 2009 by Si Tukang Review

Final Fantasy VII Cover

Final Fantasy VII Cover

Ada ratusan game RPG yang hadir sebelumnya, dan ratusan game RPG yang hadir sesudahnya tapi Final Fantasy VII (FFVII) hingga hari ini masih bertahan menjadi salah satu game RPG favorit saya. Sulit dipercaya bahwa 12 tahun semenjak dirilisnya dulu, game buatan Squaresoft ini masih menjadi primadona di kalangan para gamer, dan bisa dibilang merupakan Final Fantasy yang tersukses.

FFVII mengikuti cerita dari seorang mantan anggota SOLDIER bernama Cloud Strife. Setelah hari-harinya di kesatuan elit tersebut usai, Cloud bekerja sebagai tentara bayaran untuk pemberontak Avalanche. Ironisnya, Avalanche justru menciptakan keonaran dan melawan Shin-Ra; korporasi raksasa yang memiliki SOLDIER. Apa yang awalnya bermula dari pemberontakan ini nantinya berkembang lebih lanjut menjadi perjalanan menyelamatkan seluruh dunia. Cloud kemudian menemukan koneksi antara Shin-Ra dengan Sephiroth, seorang SOLDIER legendaris yang menjadi pahlawan serta pujaan banyak orang sebelum menjadi sinting. Apa yang tidak ia – maupun para gamer – sadari, adalah keterkaitan Sephiroth dengan masa lalunya yang terpendam.

Ketika dirilis pada tahun 1997 dulu, FFVII langsung memukau orang dengan grafisnya. Grafis menggabungkan FMV dengan gaya render karakter yang realistik sementara menggunakan gaya render semi-deformed untuk permainannya. FFVII juga merupakan Final Fantasy di mana Yoshitaka Amano tidak berperan sebagai ilustrator utama. Sebaliknya, tugas ini diemban oleh artis muda Tetsuya Nomura. Hasilnya adalah karakter-karakter seperti Cloud, Sephiroth, Tifa, Aeris, yang namanya dikenal oleh mayoritas gamer. Di luar karakternya yang begitu memorable, FFVII juga dikenal dengan design lokasi yang begitu berbeda dan unik. Siapa bisa lupa keindahan Midgar dengan sektor-sektor yang begitu berbeda, mulai dari kalangan mewahnya yang aristokrat, kehidupan malamnya yang meriah, kehidupan gereja yang tenang, sampai kehidupan kumuhnya yang penuh penderitaan? Atau siapa bisa lupa betapa surealnya nuansa di Cosmo Canyon? Orientalnya Wutai? Misteriusnya Nibelheim? Dibandingkan dengan kota dalam game RPG lain yang pada era tersebut serupa tapi tidak sama, design dalam FFVII langsung membekas di hati para gamer. Tidak hanya memukau pada latar belakang, karakternya, dan FMVnya, FFVII juga mengesankan di battlenya. Bukan cuma variasi serangan dan magic, game ini juga memanjakan mata dengan peragaan Summon dan Limit Break yang berbeda-beda.

Selain grafisnya yang memukau, OST dalam Final Fantasy VII juga diakui banyak gamer sebagai kumpulan musik berkelas. Nobuo Uematsu yang di masa itu sudah identik dengan Final Fantasy menunjukkan kelasnya dan menggunakan kapasitas CD Playstation. Musik-musik FFVII memiliki variasi yang lebih kaya ketimbang kebanyakan Final Fantasy sebelumnya. Toh walau menghadirkan score seperti One Winged Angel, Aerith’s Theme, Tifa’s Theme, dan banyak lagi; saya pribadi masih menganggap kalau deretan soundtrack di FFVII kalah tipis dengan dua Final Fantasy klasik; Final Fantasy VI dan IV.

Selesai membahas grafis dan musiknya, kita beranjak ke gameplaynya. Final Fantasy VII memperkenalkan kepada kita sistem Materia – sebuah sistem yang bersangkutan dengan cerita. Materia berfungsi untuk mengkustomisasi karakter kita. Ada berbagai macam Materia, mulai dari Magic, Summon, Support, dan Command yang bisa dikombinasikan para gamer. Tentunya tidak bisa gamer sembarangan memasang semua materia yang mereka kehendaki. Materia yang bisa dipakai oleh seorang karakter tergantung dari slot materia dari senjata dan armor yang ia equip. Misalnya, senjata Cloud memiliki dua slot materia, sementara armornya memiliki tiga slot materia. Total materia yang bisa dipakai Cloud adalah lima. Seperti para karakter, Materia juga bisa dievolusikan sampai pada level Master apabila mendapat experience pointnya sendiri. Sistem Materia ini mendapat sambutan beragam. Ada yang memuji sistem ini karena simpel dan mudah dipelajari, tetapi ada juga yang mencerca karena menjadikan semua karakter setali tiga uang. Kendati sistem Materia memang membuat tiap karakter menjadi mirip satu sama lain, Squaresoft memasukkan sistem Limit Break untuk membedakan mereka. Limit Break adalah gerakan spesial yang bisa dieksekusi oleh seorang karakter apabila gaugenya penuh. Kriteria memenuhi gauge itu? Diserang musuh.

Tidak peduli apakah kamu suka atau tidak dengannya, tidak bisa dipungkiri kalau FFVII telah menyemenkan statusnya sebagai salah satu – kalau bukan yang terpopuler sepanjang masa. Hingga kini, kalau saya bicara soal game RPG di forum game, banyak orang yang tidak tahu apa itu Suikoden, Wild Arms, bahkan beberapa game Final Fantasy sendiri, tetapi bila saya menanyakan soal Final Fantasy VII mereka bisa dengan cepat menjawab: “Ah… si jabrik berambut kuning bernama Cloud itu ya?“. Kalau kalian – entah apapun alasannya – belum memainkan game ini dan enggan memainkannya karena merasa dia sudah berumur 12 tahun, saya rasa kalian akan menyesal. Ini adalah contoh sempurna dari sebuah game yang makin menunjukkan status legendarisnya seiring dengan pertambahan usianya.

Final Verdict:

Gameplay: 8.5
Dunia RPG yang sukses menggabungkan teknologi dengan pedang. Walaupun bukan sistem battle RPG terinovatif, gameplaynya yang relatif sederhana membuat ia gampang dimainkan siapa saja.

Graphic / Sound: 10
Design karakter dan dunia yang memukau, FMV yang menakjubkan, variasi OST memanjakan telinga. Tidak ada kata lain selain sempurna.

Play Time: 10
Cerita utamanya sendiri memakan waktu 40 – 50 jam untuk dimainkan. Tetapi amat sangat mudah mencurahkan lebih banyak lagi waktu menjelajahi dunia FFVII, menaikkan level, mencari rahasia, menyelesaikan subquest, sampai melawan para boss rahasia yang tersedia.

Overall: 10

Game Details
Developer: Squaresoft
Publisher: Sony
Genre: RPG

Comments (5)

Advertise Here
Advertise Here