Tag Archive | "Shinichi"

Tags: , , , , , , , ,

Detective Conan Movie 9: Strategy Above the Depths

Posted on 20 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 9: Strategy Above the Depths Poster

Detective Conan Movie 9: Strategy Above the Depths Poster

Dan lagi-lagi sebuah film Conan yang cukup solid dari awal hingga akhir. Itulah penilaian yang kuberikan untuk film kesembilan detektif kecil ini. Strategy Above the Depths kembali ditangani oleh Kanetsugu Kodama setelah sang sutradara absen setahun – memberikan kesempatan bagi Taiichiro Yamamoto. Jika dalam film Magician of the Silver Sky temanya adalah udara dan pesawat, kali ini di Strategy Above the Depths ini temanya adalah lautan dan kapal pesiar. Misteri pembunuhan seperti apa lagi yang harus dipecahkan oleh Conan?

Film ini dibuka dengan adegan ala Titanic. Sebuah kapal pesiar menabrak gunung es dan tenggelam. Terlihat bahwa kapal ini bukannya tenggelamnya kapal tersebut bukan murni kecelakaan tetapi rekayasa. Kenapa? Misteri ini tidak langsung dijawab dan sebaliknya penonton dibawa ke setting sekarang, 15 tahun setelah inciden tersebut. Orang tua Sonoko mendapatkan undangan untuk ikut kapal pesiar St Aphrodite, tetapi karena mereka berhalangan hadir maka Sonokolah yang mewakili keduanya. Tidak ingin kebosanan sendiri, Sonoko seperti biasa mengajak Ran, Kogoro, Conan, dan rombongan detektif kecil. Hebat ya Sonoko, undangan yang seharusnya cuma buat berdua atau bertiga bisa dia lipat gandakan sampai untuk delapan orang.

Seperti bisa ditebak, ke manapun Kogoro pergi, ke sanalah kematian mengikuti. Kali ini terjadi beberapa kematian sekaligus, yang paling ketua grup Yashiro (yang mendanai kapal ini) diserang dan dibunuh. Berbeda dengan kebanyakan film Conan lain yang menunjukkan siluet hitam sang pembunuh, film ini terang-terangan menunjukkan jati diri sang pembunuh. Saya tidak akan spoiler siapa, tetapi keberanian para produsernya menunjukkan hal ini adalah contoh mereka mulai ingin mengubah formula film Conan yang basi. Dalam film kedelapan saya mengatakan kalau misteri tidak menjadi fokus utama film, sedangkan dalam film ini justru sebaliknya. Bila biasanya film Conan menampilkan aksi jor-joran ledakan dan adegan aksi kali ini walaupun ada sepertinya lebih menjadi tempelan.

Walaupun penonton sudah tahu identitas si pelaku di awal film, masih tetap menarik untuk melihat bagaimana Conan mendeduksi bagaimana sang pelaku melakukannya. Bila biasa penonton merasa telmi melihat Conan menjelaskan panjang lebar misteri, kali ini justru berbalik di mana penonton berpikir “Aduh Conan, itu loh si pembunuh! Cara dia membunuh tuh begini…”. Ah, tapi tentu saja misteri dalam film ini tidak berhenti sampai di situ. Ketika jati diri sang pembunuh sudah tersingkap, ada sebuah plot twist yang disiapkan film ini. Saya pribadi bisa menebak plot twist itu (mungkin karena sudah marathon menonton film Conan?) tapi sekali lagi saya ingin angkat jempol atas keberanian para penulis naskah mencoba inovasi baru.

Satu yang paling saya senangi adalah lebih dalamnya disorot karakter Kogoro. Bisa dibilang untuk pertama kalinya dalam layar lebar, Kogoro menunjukkan sifat kompetennya sebagai seorang detektif. Saya benar-benar berharap kalau sisi Kogoro yang ini bisa digali lebih dalam lagi. Jangan jadikan Kogoro sosok pemabuk dan mata keranjang terus, karena jauh di dalam dirinya, Kogoro masih seorang detektif dan mantan polisi yang tetap berdedikasi pada hukum. Saya tahu ini mustahil, tetapi besar keinginan saya bahwa di masa depan nanti Kogoro bisa menggunakan deduksinya seperti Heiji dan mengetahui bahwa Conan dan Shinichi adalah orang yang sama.

Sebaliknya untuk karakter Ran, sebenarnya agak kesal melihat kebodohannya di penghujung film, tapi mengingat ia tengah menyelamatkan pemberian seseorang (atau beberapa orang dalam kasus ini) saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan tindakannya, apalagi karena barang tersebut sedikit banyak berperan dalam menyelamatkan nyawa Conan.

So my verdict is… setelah dua film yang berfokus pada karakter Heiji (Crossroads on the Ancient Capital) dan Kid (Magician of the Silver Sky), film ini mengembalikan fokusnya pada karakter-karakter utama dalam Conan, and it’s a return that I welcome.

Score: 7.6

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya
Running Time: 98 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper

Posted on 25 January 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper Poster

Detective Conan Movie 1: The Time Bombed Skyscraper Poster

Sejak awal kemunculannya pada tahun 1994 dulu, Detektif Conan sudah menjadi salah satu serial detektif yang ngetop di Jepang. Sudah merupakan kebiasaan bila sebuah anime tenar di Jepang, akan dirilis sebuah film layar lebar. Detektif Conan mendapatkan film pertamanya pada tahun 1997. Film layar lebar berjudul Tokei-jikake no matenrou ini kemudian diterjemahkan menjadi The Time Bombed Skyscraper. Bagaimanakah aksi pertama Conan di layar lebar?

Sudah beberapa saat lamanya Shinichi Kudo menghilang dari kehidupan Ran. Walaupun sebenarnya ia menciut karena diracuni oleh para komplotan jubah hitam, Shinichi Kudo alias Conan Edogawa berniat merahasiakan identitas aslinya dari Ran supaya sang pacar tidak ikut ditarget oleh komplotan jubah hitam. Suatu hari, Shinichi mendapatkan undangan pesta seorang aristek terkenal Teiji Moriya. Karena tidak bisa datang, Shinichi kemudian meminta Ran mengajak Conan dan Kogoro untuk datang menggantikannya. Ran menyetujui dengan syarat bahwa Shinichi harus pergi berkencan di hari ultah Shinichi. Belum sempat Conan tahu menjawab apa, Ran keburu memutuskan hubungan telepon.

Sakit kepala Conan teralihkan ketika hari di mana ia seharusnya bertemu dengan Ran berubah menjadi hari ancaman bagi seluruh kota Tokyo. Seorang misterius menelepon Shinichi dan mengancam akan meledakkan bom apabila Shinichi tidak muncul. Apa yang bermula dari teror bom-bom kecil mendadak meningkat secara signifikan setelah sang pelaku mengatakan akan meledakkan kereta-kereta di Tokyo. Para polisi, Kogoro, dan Conan semua dibuat panik oleh tingkah si pelaku. Siapa sebenarnya pelaku yang mengancam pengeboman itu? Apakah Ran pada akhirnya bisa bertemu dengan Shinichi?

Sebagai film pertama, kelihatannya The Time Bombed Skyscrapers lebih menonjolkan unsur aksi ketimbang misteri. Hampir sepanjang film kita melihat Conan tunggang-langgang ke sana-sini untuk menghentikan ancaman bom. Sekilas saya malahan teringat dengan Die Hard 3: Die Hard With A Vengeance di mana Bruce Willis dan Samuel L. Jackson dipaksa bermain permainan Simon Says. Misterinya cenderung mudah dipecahkan dan agak terlalu mengada-ada. Saya dengan mudah bisa menebak siapa pelakunya menjelang pertengahan film, walaupun agak kebingungan dengan motif si pelaku (dan ketika dijelaskan pun kok terasa absurd ya?). Film pertama Conan ini juga terasa cukup baik menyorot semua karakter dalam serialnya. Perlu diingat bahwa ini masih merupakan tahun-tahun awal Conan sehingga karakter pendukungnya belum tumpah ruah seperti sekarang. Toh bagi saya ini merupakan berkat karena karakter pendukung Conan jadi benar-benar memiliki peran dalam cerita, bukan sekedar pelengkap asal nongol saja.

Ada satu kelemahan dari film ini yang saya nilai agak menganggu, yaitu betapa seringnya Conan mencibir dan menyipitkan mata sambil berkomentar dalam hati mendengar orang lain berbicara. Saya tahu kalau ini memang gaya khasnya, tetapi kalau dia mengulang-ulangnya setiap beberapa menit sekali (bahkan ketika keadaan tengah serius), hal ini mulai terasa menyebalkan. Juga beberapa karakter terlihat terlalu gampang melupakan sesuatu. (SPOILER ALERT) Ran terlalu mudah memaafkan Shinichi yang tidak nongol di ending film misalnya, atau Kogoro yang tadinya panik dengan keadaan Ran tetapi kembali berubah jadi sosok bodoh biasanya begitu diwawancarai wartawan. Padahal momen-momen yang saya sebutkan di atas merupakan saat yang pas untuk menggali lebih dalam karakter-karakter tersebut. Sayangnya daripada melakukan itu, sang sutradara memutuskan bermain aman.

Toh dengan plot yang terus bergerak cepat tanpa memberi kesempatan penonton terlalu mempertanyakan logika, ditambah rentetan aksi yang cukup seru, saya jauh lebih enjoy menonton film pertama Conan dibandingkan film terakhirnya (The Raven Chaser).

Note: Kalau diperhatikan, animasi dalam film pertama ini kualitasnya kalah jauh baik dari segi ketajaman animasi maupun design karakter dibanding film-film selanjutnya.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayaman, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki
Running Time: 97 Minutes

Comments (6)

Tags: , , , , , ,

Detektif Conan Movie Marathon

Posted on 25 January 2010 by Si Tukang Review

Siapa yang tidak kenal Detektif Conan? Kalau kalian adalah penggemar anime / manga Jepang pastinya sudah membaca atau setidaknya mendengar karya Aoyama Gosho akan petualangan dari detektif terkenal SMU yang badannya dikecilkan ini.

Mengingat review saya mengenai film Detektif Conan yang terakhir: The Raven Chaser mendapat cukup banyak tanggapan, saya mendapatkan ide untuk proyek Marathon saya berikutnya. Seiring dengan (hampir) berakhirnya marathon review Studio Ghibli (yang makan waktu jauh lebih lama dari yang sebelumnya saya proyeksikan – mohon maaf!), inilah proyek marathon dari Tukang Review berikutnya: Detektif Conan Movie Marathon yang akan mereview lengkap film pertama hingga terakhir sang detektif cilik (mengecualikan The Raven Chaser yang sudah direview).

Sebelumnya, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada nezuko yang telah membantu penyediaan film-film Detektif Conan untuk direview. Tanpa bantuannya, review marathon ini tidak akan tercipta.

There’s only one truth! Please enjoy the new Tukang Review’s movie marathon!

Comments (1)

Tags: , , , , , , , , , ,

Detective Conan Movie 13: The Raven Chaser

Posted on 07 January 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 13: Raven Chaser Poster

Detective Conan Movie 13: Raven Chaser Poster

Saya masih ingat lelucon yang saya tertawakan bersama dengan teman-temanku dulu. Ketika pertama kali Detektif Conan diterbitkan di Indonesia, saya masih SMP dan merasa kalau Shinichi Kudo yang kelas 2 SMU itu begitu dewasa. Lantas tahun demi tahun demi tahun berlalu. Sesampainya saya di masa kuliah, Detektif Conan sudah terasa aneh karena tidak tamat-tamat. Kini saya sudah lulus kuliah hampir tiga tahun dan serial ini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Sudah 15 tahun lamanya Edogawa Conan mengejar-ngejar para kawanan berjubah hitam tersebut. Apa Ran tidak keburu memutus dia karena bosan menanti Shinichi kembali ya (ayo deh, jujur saja, di jaman sekarang mana ada pacar yang mau long distance lama-lama. Boro-boro bertahun-tahun, beberapa hari engga ketemu saja sudah diancam putus?)

Toh, keluhanku juga rasanya tidak ada gunanya karena selama rating dari manganya tetap tinggi, tentunya Aoyama Gosho bakalan terus melanjutkan kisah Conan. Memang kepopuleran dari serial ini di negeri Jepang masih tergolong tinggi sehingga setiap tahun dibuat film layar lebarnya. Khusus untuk film terbarunya yang dijuduli Raven Chaser mendapat perhatian khusus dariku karena berfokus dengan kawanan berjubah hitam. Sebelum Raven Chaser, terakhir merupakan film kelima Detektif Conan yang berjudul Countdown to Heaven-lah yang masih memiliki kaitan dengan kawanan berjubah hitam (walaupun dalam film itu mereka lebih condong mengambil peran di balik layar).

Dalam awal film ini, kesatuan polisi dari berbagai daerah berkumpul menjadi satu untuk menyelesaikan kasus pembunuhan beruntun yang pelik. Sudah ada lima orang terbunuh dan di samping mayat mereka selalu ada kotak mahjong dengan deretan angka tertentu. Para polisi dari berbagai daerah itu semua berkumpul dan berusaha untuk mencari tahu mengenai siapa pelaku pembunuhan, dan apa motif di belakang terjadinya pembunuhan itu. Rupanya polisi bukan satu-satunya pihak yang mencari tahu apa yang terjadi. Vermouth, salah seorang anggota jubah kawanan hitam menyusup dalam kubu kepolisian sebelum kepergok oleh Conan.

Vermouth kemudian memberitahukan pada Conan bahwa dari antara korban yang terbunuh ada seorang anggota kawanan berjubah hitam. Gawatnya (atau untungnya – tergantung dari sudut pandang siapa), korban juga membawa kartu Memory Card khusus yang berisi data seluruh anggota organisasi. Apabila polisi sampai menyelesaikan kasus itu terlebih dahulu dan menemukan Memory Card yang dibawa pelaku, bisa jadi gawat bagi para kawanan berjubah hitam. Setelah Vermouth ketahuan, dia memberitahukan pada Conan bahwa sebenarnya masih ada seorang lagi anggota kawanan berjubah hitam yang menyusup dalam kubu kepolisian. Kode namanya adalah Irish. Bisakah Conan menemukannya?

Tadinya saya berharap kalau film ini bisa lebih dari sekedar film yang berdiri sendiri dan terintegrasi dalam cerita. Sayangnya tidak. Walaupun sebenarnya ada banyak perkembangan signifikan yang bisa dijadikan acuan dalam manganya, Aoyama Gosho seakan mengambil jalan enteng dan tak menggubris apa-apa yang terjadi di filmnya. Beberapa contohnya seperti (SPOILER): ada orang atau kelompok yang memiliki kemampuan untuk menginfiltrasi kubu kepolisian, tidakkah seharusnya ada penyelidikan lebih lanjut polisi mengenai hal itu? Atau di akhir film ketika menara di mana Conan berada diberondong senapan mesin oleh kawanan berjubah hitam, tidakkah polisi seharusnya bisa melacak keberadaan organisasi kawanan tersebut dari ratusan peluru yang dimuntahkan di sana?

Apa yang saya sebutkan di atas hanya sedikit dari segudang lubang logika yang dalam film ini saya rasa  terlalu menganga untuk tidak digubris begitu saja. Mungkin ada di antara kalian yang mau mengatakan “ini film jadi tidak semuanya harus masuk akal” dan saya setuju. Masalahnya jadi berbeda kalau ini sebuah film bergenre detektif yang seharusnya mengedepankan logika tetapi jatuhnya lebih tidak masuk akal ketimbang film Rambo. Saran saya buat Aoyama Gosho: lain kali sebaiknya berfokus saja pada misteri pembunuhan karena mau menggabungkan adegan misteri dan aksi yang bombastis kok hasilnya malah tanggung berantakan seperti ini?

Untuk menikmati Raven Chaser, kalian perlu tahu sedikit banyak mengenai sejarah latar belakang organisasi misterius yang mengecilkan tubuh Shinichi (omong-omong ada yang tahu itu organisasi misterius sebenarnya melakukan apa saja?). Lain darinya, tonton saja tanpa banyak ekspektasi. Bagaimanapun juga, bila menginginkan film detektif sejati maka lebih baik melewatkan ini dan langsung nonton Sherlock Holmes saja.

Score: 3.4

Movie Details
Director: Aoyama Gosho
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Megumi Hayashibara
Running Time: 111 Minutes

Comments (27)

Advertise Here
Advertise Here