Tag Archive | "Resident Evil"

Tags: , , , , , , , , ,

PROTOTYPE

Posted on 20 January 2010 by Si Tukang Review

PROTOTYPE Cover

PROTOTYPE Cover

Resident Evil + GTA + Spider-man

Apa yang terjadi sehari setelah saya memainkan game PROTOTYPE ini? Well, status seperti ini muncul dalam account Facebookku.

Hal terbrutal yang gw lakukan di game PROTOTYPE: menyeret tubuh seseorang pejalan kaki selama berkilo-kilo sambil mendengarkan dia menjerit-jerit di speakerku… dan setelah bosan gw memotong tubuhnya jadi dua, melihat darah bermuncratan dari tubuhnya, lantas memakan sisa mayatnya. Man, I LOVE this game.

Sebelum kalian langsung mencapku sebagai orang gila dan memanggil RSJ terdekat, coba baca dulu review berikut ini. Siapa tahu ikut ketularan gilanya kan? Hi hi hi.

Menjelaskan game PROTOTYPE secara singkatnya adalah sebuah game paduan dari Resident Evil, Grand Theft Auto, dan Spider-man. Dari Resident Evil, game ini mencomot jalan cerita di mana zombie (atau makhluk mutasi virus) menyerang kota New York. Dari Grand Theft Auto, game ini mencomot sistem sandbox untuk gameplaynya yang memperbolehkan kamu menjelajahi kota sembari menjalani misi cerita maupun misi sampingan yang disediakan untukmu. Terakhir dari Spider-man, kamu di sini berperan sebagai superhero (atau setidaknya seseorang berkekuatan super). Campurannya menjadikan PROTOTYPE sebagai game paling stylish yang kumainkan tahun ini.

Mendengar design seorang superhero, PROTOTYPE mungkin akan mengingatkanmu tentang game lain yaitu inFAMOUS, game superhero gameplay sandbox lain karya Sucker Punch Productions. Walaupun dirilis pada saat hampir bersamaan (inFAMOUS dua minggu lebih dulu dibanding PROTOYPE) dan memiliki ciri-ciri yang mirip, tentunya kedua game ini memiliki perbedaan sendiri. Buat kalian yang ingin main game macam inFAMOUS tetapi tidak punya game PS3, game ini menjadi alternatif lain yang bagus karena hadir multi-platform. Review ini dibuat berdasarkan versi PCnya.

New York: The Big Apple Every Zombie Wanna Eat

Dalam prolog cerita ini, sosok Alex Mercer yang kamu kendalikan mendadak berada di tengah kota New York yang membara. Kekacauan dan kehancuran jelas terlihat di mana-mana. Para zombie serta monster mengamuk sementara para tentara dengan tank, helikopter, sampai senjata mutakhir mereka berusaha mencegah serangan para monster. Terjebak di tengah mereka adalah penduduk kota yang tak berdosa; tewas akan serangan kedua belah pihak. Terjebak juga di tengah mereka adalah Alex Mercer.

Untung saja Alex Mercer bukan sekedar penduduk biasa. Dalam proses tutorial yang berlangsung, kamu akan belajar dengan cepat bahwa Alex memiliki kekuatan super. Ia bisa mengubah bentuk tangannya menjadi berbagai macam senjata mulai dari palu godam, cambuk, sampai pedang tajam (ingat Witchblade?). Selain itu ia bisa melompat jauh lebih tinggi dari manusia biasa (ingat lompatan Hulk?) dan berlari sangat cepat. Tambahan lagi, layaknya Venom kamu bisa menghisap manusia, zombie, atau segala jenis monster di dekatmu. Kamu adalah kuda hitam dalam perang ini dan disebut dengan kode nama ZEUS oleh para tentara. Tidak salah; kamu memang layaknya seorang dewa.

Setelah prolog usai, cerita sesungguhnya dalam PROTOTYPE dimulai dari 18 hari sebelum prolognya. Sebagai Alex Mercer yang hilang ingatan, kamu akan mulai mencari tahu apa yang telah dilakukan perusahaan GENTEK yang mengubah tubuhmu hingga kini menjadi layaknya manusia mutasi sampai mengisi kembali relung-relung ingatanmu yang hilang.

Kalau kamu dewa maka pastilah seluruh kota New York merupakan taman Edenmu. Salah satu keasyikan bermain PROTOYPE yang saya rasakan terjadi begitu saya melihat Alex dengan cepat berlari menaiki gedung. Setiap gedung pencakar langit dalam kota New York bebas kamu panjat. Setiap lorong kota New York bebas kamu jelajahi. Tidak ada batasan. Ini yang membuat game ini terasa begitu ‘bebas’. Seperti halnya GTA, untuk memulai misi khusus yang berhubungan dengan cerita kamu harus menuju ke titik tertentu. Selama kamu tidak menjalani misi apapun, kamu bebas berpetualang sekena hatimu.

Ketika memulai permainan (setelah prolog), kekuatan Alex masih terbatas. Kamu bisa berlari cepat dan melompat tinggi, tetapi beberapa wujud perubahanmu masih terkunci. Skill-skill tersebut bisa kamu beli dengan mendapatkan EP atau Evolution Point. Evolution Point ini bisa digunakan untuk mengupgrade atau membeli skill-skill yang baru. Selain mendapat wujud baru untuk Alex, kamu juga bisa mendapat kemampuan mengambil alih kendaraan tank atau helikopter milik musuh. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai jenis gerakan serangan baru seperti melayang di angkasa atau dash di udara.

Kalau kamu pikir bahwa semua kekuatan yang kamu dapat membuatmu tidak terkalahkan, coba pikir lagi. Hari demi hari, infeksi yang mengenai kota New York akan makin meluas dan kota ini menjadi tempat yang makin berbahaya. Selain dianggap musuh oleh para tentara (yang takkan segan mengirimkan puluhan orang, tank, sampai helikopter untuk memburumu) akan ada banyak monster dan zombie yang menyerangmu. Zombie biasa mungkin lawan yang bisa kamu hadapi tetapi para Hunter memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak kalah ganas darimu. Mendapatkan skill baru dan terampil menggunakannya menjadi kunci utamamu bertahan hidup dalam game ini.

Misi-misi utama dalam PROTOTYPE memang menarik dan bervariasi, tetapi sayangnya misi-misi sampingannya benar-benar terasa seperti dikesampingkan. Kurang menarik dan terasa dibuat cepat sekedar untuk sambil lalu. Untungnya game ini menyajikan versi tersendiri dari battle of influence mereka (mirip dengan gang war di GTA: San Andreas). Setiap harinya infeksi meluas di seluruh kota dan para militer akan berjuang menahan laju infeksi tersebut. Di dalam mapmu akan ada tanda lingkaran merah dan biru. Lingkaran merah menandakan bahwa militer tengah berperang melawan pusat infeksi di tempat itu. Membantu menghancurkan pusat infeksi akan memberimu tambahan EP yang besar (dan berguna mengupgrade skillmu). Lingkaran biru berisi markas militer tentara yang bisa kamu susupi (dengan kemampuan menyamarmu). Setelah masuk, Alex mencari tentara yang memiliki skill khusus. Dengan kekuatan ‘memakan’nya, Alex akan menyerap tentara itu dan mendapatkan atau mengupgrade skillnya. Ia akan lebih piawai menggunakan senjata atau mengendalikan helikopter dan tank dengan lebih handal.

Bicara soal serap menyerap kekuatan, ada sistem bernama Memory Node dalam game ini. Alex kehilangan ingatan dan satu-satunya cara mengingatnya kembali adalah dengan menyerap orang-orang khusus yang kamu temui dalam game ini. Bila kamu menyerap orang yang benar, kamu akan mendapatkan sebuah cutscene singkat dari memori orang itu yang lama kelamaan membentuk sebuah gambaran besar cerita. Cutscenenya sendiri bukan keharusan untuk didapat, tetapi mendapatkan semuanya akan membuatmu lebih mengerti dan menghargai cerita game ini.

Running Around The Burning City

Kualitas grafis dalam PROTOTYPE benar-benar keren. Menjelajahi semua kota New York bukan sekedar janji kosong dari developer Radical Entertainment. Semua tempat-tempat landmark di kota ini benar-benar dimunculkan sehingga bermain dalam kota ini terasa seperti kita pergi ke New York. Gerakan Alex juga fluid dan halus. Berbagai bentuk tubuh Alex memiliki animasi gerakan yang berbeda-beda dan mengeksekusi semua jurus-jurusnya secara sempurna adalah kebanggaan bukan hanya bagi tangan dan reflekmu tetapi juga matamu untuk melihat orang yang melakukan tari ballad pencipta kematian.

Mengingat kota New York luar biasa besar dan hidup, terpaksa ada pemotongan-pemotongan yang dilakukan (mungkin untuk menghemat tempat?). Beberapa gedung di kota ini tampak mirip satu sama lain. Untung hal ini ditebus dengan kondisi yang terus berubah. Pada awal petualangan Alex kota New York masih terlihat ‘normal’ tetapi seiring semakin meluasnya wabah infeksi kamu akan melihat bahwa kepulan-kepulan asap makin terlihat di mana-mana, orang-orang makin waspada akan serangan para monster. Di daerah infeksi kekacauan makin terlihat di mana para zombie menyerang dan menghabisi tiap manusia normal yang tersisa.

Grafis yang sudah di atas rata-rata ini juga didukung oleh sound effect yang mumpuni. Mulai dari teriakan para penduduk yang panik, deru helikopter dan tembakan-tembakan senjata menunjukkan New York tengah menghadapi bencana yang sangat serius.

Pada akhirnya saya cuma bisa kasihan sama kota New York. Ternyata jadi kota yang ngetop banyak tidak enaknya ya? Roland Emmerich hobi setengah mati menghancurkan kota ini dalam The Day After Tomorrow atau Godzilla, sekarang kota ini malahan kena wabah zombie yang mematikan. Kapan ya giliran Jakarta?

Final Verdict

Gameplay: 9.0
PROTOTYPE menawarkan kota New York untuk kamu jelajahi. Selain melihat kehancuran yang terjadi pada kota terkenal dunia itu, kamu juga harus menyelidiki misteri di balik hilangnya memorimu dan keterkaitan dirimu dengan wabah epidemik yang tiap harinya terus meluas.

Graphic / Sound: 8.5
Kebanyakan gedung yang bukan landmark terasa terlalu standar. Saya juga menyayangkan beberapa efek yang kurang realistis. Contohnya saya melemparkan seorang pejalan kaki ke tembok dan berharap kalau tubuhnya akan hancur saat benturan terjadi. Ternyata impianku tidak terwujud (mendengar seruan “dasar psikopat” dari para pembaca =P)

Play Time: 8.5
Game ini bisa diselesaikan dalam tempo kurang dari 10 jam bila mengikuti misi utamanya saja. Toh kamu akan menghabiskan kira-kira 20 jam karena PROTOTYPE terus menaikkan kesulitan sehingga memaksamu mengambil misi-misi sampingan guna mendapatkan EP yang bisa mengupgrade kemampuan Alex.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Radical Entertainment
Publisher: Activision
Genre: Action (Sandbox)

Comments (0)

Tags: , , ,

Silent Hill

Posted on 08 July 2009 by Si Tukang Review

Silent Hill Poster

Silent Hill Poster

(Review Ditulis di Tahun 2006)

Ketika Resident Evilnya Capcom dulu menjadi pionir kebangkitan kembali dari genre survival horror, Konami tidak mau kalah. Diluncurkanlah olehnya sebuah game survival horror berjudul Silent Hill. Game ini segera mendapatkan perhatian dari banyak pihak karena merupakan kendati sama-sama survival horror, Silent Hill membangun ketegangan dengan cara berbeda dari Resident Evil. Apabila Resident Evil lebih banyak berbicara mengenai tema mayat hidup akibat kecelakaan biologis, Silent Hill berkutat masalah okultisme dan kengerian dari malpraktik religi. Setelah Resident Evil mencapai sukses dan dibuat hingga dua jilid (seri penutup triloginya konon diluncurkan tahun depan), maka Silent Hill pun digarap.

Sharon Da Silva adalah anak adopsi dari pasangan suami istri Rose dan Christopher. Setelah beberapa tahun tidak bermasalah mendadak saja sekarang Sharon suka berjalan sendiri dalam tidurnya. Saat ia berjalan, Sharon nampaknya mengalami sebuah visi yang tidak berhasil ditangani secara medis oleh para dokter. Ia terus menerus menyebutkan sebuah tempat bernama Silent Hill. Penasaran sekaligus khawatir akan nasib sang anak, Rose memutuskan untuk membawa anaknya menuju Silent Hill. Saat hampir masuk ke Silent Hill, Rose dan juga seorang polisi (yang tengah mengejar dia) bernama Cybil terkena kecelakaan.

Ketika Rose sadar kembali, Sharon sudah lenyap. Anehnya, ada seorang gadis kecil yang begitu mirip dengan Sharon terus menerus melarikan diri dari hadapannya. Siapakah gadis kecil ini? Masih ketika Rose berusaha menguak misteri ini, mendadak saja seluruh kota diselimuti seluruh kegelapan yang pekat. Makhluk-makhluk aneh (baca: monster) bermunculan entah dari mana dan dengan ganasnya menyerang. Kengerian tiada akhir ini kemudian menuntun Rose perlahan demi perlahan untuk menguak misteri mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Silent Hill beberapa puluh tahun yang lampau. Sementara Rose berjuang dari dalam Silent Hill, maka Christopher sang suami tidak tinggal diam dan berusaha mencari Rose juga. Bisakah Rose bertahan hidup? Atau akankah ia menjadi bagian dari misteri kota hantu ini?

Christophe Gans saya acungi jempol karena keberaniannya mempertahankan nafas dalam game ini. Saya masih ingat betapa saya kecewa akan film Resident Evil yang gagal mempertahankan citra gamenya (malahan lebih bersifat action ketimbang survival!). Rupanya strategi Gans yang mengikutkan sebanyak mungkin penggarap gamenya dalam pembuatan film ini (bahkan musiknya sekalipun mengambil dari gamenya!) berhasil. Coba perhatikan setting hingga tone dalam film ini. Semuanya nampak sangat-sangat mirip dengan Silent Hill yang sesungguhnya di dunia game. Saya memang tidak menamatkan Silent Hill, tetapi memainkannya sejauh mencapai Old Silent Hill sudah cukup bagiku untuk melihat bahwa Gans telah berhasil menghidupkan Silent Hill dengan semua orang sinting di dalamnya.

Benar, semua orang sinting, sampai pada monster-monster yang terdapat dalam kota ini juga digarap sempurna oleh Gans. Make up dari monster-monster yang ada membuat saya terperangah. Setiap karakter nampak sinting dan penuh misteri di dalamnya. Radha Mitchell dan Sean Bean yang tampil sebagai orang tua dari Sharon juga nampak pas dalam membawakan perannya (coba perhatikan adegan-adegan tertentu saat mereka ber’temu’. Chemistry mereka tampak sangat pas!). Jelasnya yang berhasil mencuri perhatian adalah Jodelle Ferland yang berperan sebagai Sharon. Saya mengingat peran anak ini ketika dulu tampil di Smallville. Rupanya sekali lagi di sini ia berhasil mendapatkan perhatian saya. Dia menjadi penambah deretan artis cilik yang berperan sebagai sosok misterius yang menyeramkan – hanya saja Ferland mendapat perhatian khusus karena bisa menghidupkannya tanpa make up berlebihan.

Menyebut film ini sebagai film seram tidak sepenuhnya tepat juga karena saya sebagai penonton malahan lebih asyik memikirkan misteri mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Silent Hill. Toh, Gans mampu menyisipkan beberapa adegan menegangkan yang ia bangun dengan caranya sendiri. Bila anda mengharapkan ketegangan yang tergarap semacam Resident Evil dengan suasana diam lantas zombie bermunculan mendadak maka anda jelas menonton film yang keliru. Juga Gans kelihatannya sedikit kedodoran ketika dia harus menggarap ending film, perempat film terakhir mendadak terasa terlalu banyak gore. Sedikit mengecewakan sebenarnya. Terlepas dari semua itu, Silent Hill adalah film adaptasi video game terbaik di mataku, sama seperti Mortal Kombat beberapa tahun yang lampau. Ayo Gans, garap sekuel dari survival horror ini!

Score: 7.5

Movie Details
Director: Christophe Gans
Cast: Radha Mitchell, Sean Bean, Laurie Holden, Jodelle Ferland
Genre: Horror

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

The Six Games That Defines the 32-bit Gaming Era

Posted on 22 March 2009 by Si Tukang Review

Menurutku era yang paling penting bagi video game adalah era kelimanya; era yang lebih dikenal juga oleh para gamer sebagai era 32-bit. Saya pribadi sih kurang setuju menyebut era tersebut 32-bit mengingat ada Nintendo 64 yang berkekuatan 64-bit.

Kenapa saya menganggap masa tersebut penting bagi industri video game? Beberapa orang mungkin mendebat dan mengatakan kalau 8-bit adalah era terpenting dalam video game. Ada juga yang mengatakan 16-bit di mana pertama kali hegemoni Nintendo ditantang Sega merupakan era terpenting. Malahan ada yang berpendapat bahwa sekaranglah era yang terpenting dalam video game.

Alasan kenapa saya memiliki anggapan bahwa era 32-bit adalah era terpentingnya video game adalah karena di jaman inilah lahir game-game yang membuka pendapat masyarakat bahwa game bukan sekedar buat anak-anak dan remaja. Di jaman SNES dan Sega memang ada Mortal Kombat dan Street Fighter yang dikritik para orang tua karena dianggap mempelopori kekerasan, tetapi secara keseluruhan jaman tersebut masih identik dengan Mario dan Sonic. Identik dengan anak-anak. Jaman 32-bit juga merupakan jaman pergeseran. Mulai dari digesernya Nintendo yang sebelumnya menguasai pasar game dunia oleh Sony, sampai berevolusinya game dari 2D menuju 3D. Begitu banyaknya hal penting yang terjadi turut membawa dunia game dikenal oleh banyak orang. Orang tua mulai sadar bahwa mereka tidak melulu harus membelikan konsol game untuk anak mereka – karena mereka sendiri pun bisa memainkannya!

Dan inilah beberapa game yang saya anggap berhasil merevolusi dunia game selamanya. Perlu diperhatikan kalau list ini bukan Countdown terbaik karena bagi saya enam game di bawah sama pentingnya mendefinisikan dunia game di jaman itu.

6. Tekken


Populernya genre fighting hingga dimainkan oleh banyak orang adalah jasa Street Fighter dan Mortal Kombat. Dunia 3D Fighting pun dipelopori oleh Virtua Fighter. Walaupun demikian, franchise yang berjasa mempertahankan game fighting dalam aliran mainstream hingga kini tidak lain tidak bukan adalah Tekken. Apabila generasi 80an mengenal nama-nama seperti Ryu, Ken, atau Chun Li, maka generasi 90 pasti lebih ngeh dengan nama Hwoarang, Jin, maupun Kazuya.

Di jaman Playstation dulu ada game seperti Tobal, Toshinden, hingga Soul Edge yang juga sama-sama buatan Namco. Tetap saja game fighting terbaik di era tersebut hadir melalui Tekken 3 yang adalah penyempurnaan dari para prekuelnya. Saya masih ingat bagaimana saya dibuat terbengong-bengong oleh grafis dan gameplay Tekken 3 yang berani memadukan karakter lama dan baru (membuang Jun, Baek, Kazuya, Ganryu, dan banyak lagi karakter dari prekuelnya, tetapi juga memperkenalkan Eddy, Xiaoyu, sampai Jin dan Hwoarang). Saya juga ingat menghabiskan waktu berjam-jam mengadu dan mengasah kemampuan Hwoarang-ku untuk beradu melawan teman-temanku.

Ironisnya, memang saya ini kurang jago dalam main game fighting sehingga berakhir dengan dipecundangi orang sana-sini.

5. Gran Turismo


Need for SpeedRidge Racer… mungkin saja dua game itu terkenal dan banyak menghasilkan sekuel demi sekuel. Tapi coba tanyakan kepada para pecinta game driving sejati apa game driving yang paling realistis di mata mereka. Jawaban mereka hampir serempak pasti menyebut: Gran Turismo.

Need for Speed boleh melahirkan sekuel demi sekuel per tahunnya, Ridge Racer boleh menggelar cewe-cewe racing virtual yang cantik, tapi soal realisme dalam gameplay, tidak ada yang bisa menandingi Gran Turismo. Saking realnya, Gran Turismo melahirkan genre baru yang disebut sebagai Driving Simulation. Satu dua temanku bahkan mengaku kalau mereka sampai membeli peralatan setir khusus untuk lebih menikmati memainkan game ini.

4. Super Mario 64


Generasi kelima adalah generasi di peralihan dari 2D menuju 3D. Semua pihak seakan berlomba-lomba menjadikan game mereka modern dengan mengubahnya menjadi 3D. Banyak yang gagal total. Lihat saja game seperti Contra, Worms, Castlevania sampai-sampai maskot Sega Sonic sekalipun. Game-game yang begitu adiktif dan menyenangkan saat dimainkan versi 2Dnya gagal berevolusi ke 3D.

Bagaimana dengan maskot utama dari Nintendo dan dunia game sendiri – the plumber Mario? Jangan khawatir; tidak hanya petualangan 3D Mario adalah salah satu game action adventure 3D pertama, ia masih merupakan game 3D adventure terbaik sepanjang masa. Sebagaimana yang dilakukan oleh Super Mario Bros, Super Mario 64 meletakkan fondasi untuk game-game adventure platform 3D yang kamu mainkan sekarang ini. Nintendo memang layak diacungi jempol semua franchise unggulannya mulai dari Mario, Zelda, sampai Metroid sukses berevolusi seiring berjalannya waktu.

3. Final Fantasy VII


Adalah hal yang aneh bahwa saya pertama kali tahu nama Final Fantasy VII dari sebuah tabloid komputer bernama Komputek. Ketika saya membaca guide dari game tersebut, saya keheranan. Kok ada orang masuk ke penjara… meloloskan diri dengan motor… bahkan sampai bertarung dengan monster raksasa dan naik pesawat terbang. Apa mungkin sih ini game? Di benak saya (dan banyak gamer lainnya) yang namanya game saat itu adalah lompat di platform demi platform ala Sonic, fighting gebuk-gebukan ala Street Fighter atau Mortal Kombat, atau mungkin menghajar puluhan musuh sepanjang jalan ala Final Fight. Sesekali mungkin ngedunk atau melakukan gol di game olahraga.

Final Fantasy VII memperkenalkan kepada dunia apa potensi dari sebuah genre kecil bernama RPG. RPG yang sebelumnya dianggap genre yang hanya akan dimainkan orang-orang aneh berubah menjadi genre berkelas yang menjanjikan puluhan jam gabungan dari cerita dan gameplay yang menawan. Game seperti Suikoden, Wild Arms, Breath of Fire, dan banyak lagi harus berterima kasih pada Squaresoft karena Final Fantasy VII lah yang membawa dan memperkenalkan RPG pada dunia.

2. Metal Gear Solid


Kalau Final Fantasy VII mengangkat nama Squaresoft menjadi perusahaan besar, maka Metal Gear Solid mengangkat nama sang kreator didapuk sebagai salah seorang kreator terbaik sepanjang masa: Hideo Kojima. Sejarah franchise ini sebenarnya sudah dimulai semenjak Metal Gear di NES, tapi jujur saja, teknologi di jaman itu belum bisa menghidupkan visi dari Kojima. Ayo jujur, berapa di antara kalian yang pernah main game Metal Gear, atau bahkan pernah mendengar namanya sebelum Metal Gear Solid hadir di Playstation? Saya rasa jumlahnya sangat sedikit kalau bukan bahkan tidak ada!

Metal Gear Solid menghadirkan game yang lain dari lain di jamannya. Ketika biasanya game mengharuskan kita menerjang dan membabat semua musuh yang ada, game ini justru menekankan betapa pentingnya melakukan stealth, menyelinap secara diam-diam. Gameplay yang revolusioner itu dikombinasikan dengan jalan cerita yang sangat dalam dan penuh intrik politik. Game ini seakan membuktikan bahwa media video game pun mampu menghadirkan sebuah jalan cerita yang tidak kalah dengan film-film berkualitas Oscar sekalipun.

1. Resident Evil


Mengira kalau game aman dikonsumsi anak-anak? Silahkan mainkan Resident Evil. Ibuku yang terkenal kolot sekalipun terhenyak ketika saya memainkan Resident Evil 2. Ia turut berteriak dan menjerit kaget ketika pertama kali melihat para zombie merangsek maju untuk menyerang.

Itu baru orang yang melihat. Bayangkan bagaimana terpacunya adrenalin orang yang memainkan game ini. Selain berhadapan dengan para makhluk haus darah, mereka juga harus berpikir bagaimana menghemat persediaan amunisi yang terbatas, memecahkan teka-teki yang ada, serta bertahan hidup sambil menuntaskan misteri yang ada. Sukses Resident Evil bukan hanya melahirkan genre Survival Horror, tetapi juga melahirkan banyaknya pesaing-pesaing serupa; beberapa di antaranya berkembang menjadi franchise sukses sendiri (seperti: Silent Hill dan Fatal Frame).

Keenam game di atas adalah bukti nyata betapa pentingnya era keempat dalam perkembangan video game.

Era tersebut menjadi era yang membuktikan bahwa franchise klasik yang bisa berevolusilah yang bisa bertahan. Franchise klasik seperti Mario, Zelda, hingga Castlevania (versi Symphony of the Night) bertahan karena berinovasi dalam gameplay mereka. Beberapa lainnya seperti Sonic, Contra, atau Golden Axe pudar karena gagal menyesuaikan diri dengan selera pasar. Ia juga era yang menjadi saksi lahirnya franchise baru seperti Resident Evil dan lahir laginya franchise yang dulu kurang terkenal macam Metal Gear dan Final Fantasy.

Kenapa era ini begitu berbeda dengan era-era sebelumnya? Perlu diingat bahwa konsol game mulai diperkenalkan dengan hadirnya NES di tahun 80an. Seiring dengan bergantinya era demi era game, muncullah kebiasaan baru yang tidak disadari oleh Nintendo saat itu. Para gamer juga tumbuh dewasa. Mereka menghendaki sebuah game dengan jalan cerita maupun gameplay yang lebih dalam dan kompleks ketimbang sekedar ‘lompati jurang itu‘ dan ‘hajar musuh itu‘. Ceruk pasar itulah yang akhirnya diambil oleh Sony sehingga mereka mampu menjadi penguasa pasar (Nintendo learned their lesson and did their revenge with Wii and the Casual Gamer in this generation though).

PS: Dan kalau boleh jujur sejujur-jujurnya, ada satu game lagi yang layak disebut berpengaruh setidaknya untuk dunia game Indonesia. Apalagi kalau bukan… Winning Eleven (WE)?

Comments (2)

Tags: , , , ,

Ninja Blade

Posted on 15 February 2009 by Si Tukang Review

Ninja Blade Cover

Ninja Blade Cover

Developer: From Software
Publisher: Microsoft Game Studios
Genre: Action Adventure

Ketika banyak gamer menanyakan apa yang akan membedakan Ninja Blade dengan game-game sejenis di 360 (baca: Ninja Gaiden II dari Tecmo), From Software menjanjikan sebuah pengalaman yang berbeda ketika memainkan Ninja Blade. Konon, Ninja Blade bakalan menyeimbangkan antara permainan action dan dynamic cut-scene (seperti Resident Evil 4). Kini setelah bajakannya hadir lebih cepat sebulan sebelum rilis resminya di US, bagaimanakah hasilnya?

Ninja Blade mengikuti kisah dari seorang ninja muda bernama Ken Ogawa, seorang prajurit khusus yang terpilih. Mereka memang dilatih untuk menghadapi makhluk-makhluk mutasi dari infeksi virus. Setelah Tokyo mengalami outbreak, Ken dan rekan-rekannya pun diutus untuk menghentikan sekaligus mencari sumber penyebab outbreak. Tanpa disangka oleh Ken, beberapa orang di dalam timnya berkhianat. Kini masalah Ken bertambah rumit. Ia harus mencari tahu kenapa orang-orang yang begitu ia percayai justru berbalik mengkhianatinya. Apakah ada misteri di balik infeksi yang mulai menyebar ke mana-mana ini?

Cerita Ninja Blade memang menarik dengan menggabungkan unsur virus dan aksi. Hasilnya, saya seakan melihat paduan dari Ninja Gaiden dengan Resident Evil lahir di Ninja Blade. Tidak hanya itu, sayapun disuguhi dengan aksi cinematic yang mengesankan. Rupanya From Software bukan sekedar membual ketika membangga-banggakan aksi cinematicnya. Saya yakin adegan-adegan koreografi pertarungannya akan membuat kamu ternganga melihatnya. Enaknya lagi, dynamic cut-scene yang bertebaran di sana-sini akan membuat kamu seakan ikut terlibat dalamnya. Kendati begitu, ada sedikit kekurangan di sini. Karena banyaknya tombol yang harus ditekan, mungkin kamu akan sering menekan tombol yang salah (atau terlambat menekan tombol itu). Memang sih penaltinya sederhana karena kamu hanya akan diminta mengulang menekan tombol yang sama. Tetapi kadang melihat cut-scene yang sama bakalan mengurangi nilai ‘wow’nya.

Kalau dari segi dynamic cut-scene Ninja Blade seakan tak tertandingi, tidak demikian dengan gameplaynya sendiri. Bukan Ninja Blade jelek, hanya saja hampir tidak ada sesuatu yang baru yang ia tawarkan di sini. Ken bisa berlari menyusuri tembok (wall-run), menaiki tembok, dan melompat sana-sini; tetapi terlihat sekali kalau konsep ini menjiplak Prince of Persia (bahkan kemampuan Ken yang melompat dari dua dinding berhadapan ataupun melompat menaiki tembok terasa mirip sekali gerakan animasinya). Tiga pedang senjata (ditambah shuriken sebagai senjata cadangan) yang bisa dipakai Ken juga standar untuk game action. Kamu memiliki tiga jenis pedang; satu memiliki kecepatan dan kekuatan yang berimbang, sementara dua yang lain unggul di satu sisi tapi lemah di sisi lainnya. Beberapa musuh perlu dikalahkan dengan menggunakan senjata khusus, tetapi kebanyakan bisa dihabisi dengan senjata mana saja – artinya pedang mana yang mau kamu pakai benar-benar tergantung kesukaanmu saja. Setiap pedang juga bisa diupgrade untuk menambah variasi combo-combo yang bisa dilakukan.

Secara keseluruhan, Ninja Blade memang tidak menawarkan apapun yang baru selain tampilan visual yang menarik dan cutscene yang digarap dengan sangat kreatif. Kebanyakan unsur yang ada ia ambil dari berbagai game sukses (God of War, Prince of Persia, Ninja Gaiden, Resident Evil 4, and many-many more). Untung saja From Software ‘mencuri’ unsur-unsur yang membuat titel tersebut sukses dan menggabungkannya dalam satu game. Hasilnya adalah sebuah game action yang akan dijamin puas mengisi waktumu selama beberapa jam ke depan.

Final Verdict:

Gameplay: 7.0
Tidak ada hal inovatif apapun yang dihadirkan oleh From Software pada kita di sini. Saya sedikit kecewa karena disuguhi sebuah game zombie (forgive the pun) yang isinya penuh gameplay gabungan dari game-game lain. Yah… setidaknya unsur gameplaynya berkualitas…

Graphic / Sound: 8.5
Bersiap-siaplah buat terkaget-kaget dengan penataan cut-scene yang stylish dalam game ini (Advent Children? Lewat!). Tapi kok kualitas voice-actingnya untuk beberapa karakter kedodoran ya? Sayang juga, padahal aspek audio visual lain sudah cukup memukau.

Play Time: 8.0
Satu misi dalam game ini benar-benar panjang. Kamu bisa menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menyelesaikan satu misi (mungkin satu jam kalau sekedar mengulangnya lagi). Terkadang, tidak adanya opsi untuk menyimpan permainan di tengah sebuah misi bisa menjengkelkan. Untung saja game ini sering menggunakan auto-save sehingga kamu tidak perlu mengulang jauh-jauh ketika tewas.

Overall: 7.9

Comments (3)

Tags: , ,

Resident Evil Degeneration

Posted on 31 December 2008 by Si Tukang Review

RE Degeneration Poster

RE Degeneration Poster

Director: Makoto Kamiya
Artist: Alyson Court, Paul Mercier
Running Time: 97 Minutes

Salah satu film straight-to-DVD yang saya tunggu adalah Resident Evil Degeneration. Serupa dengan Final Fantasy VII Advent Children garapan dari Square Enix beberapa tahun yang lalu, Capcom menggarap Resident Evil Degeneration; sebuah cerita stand-alone Resident Evil yang mengambil setting 7 tahun setelah Resident Evil 2. Kendati memainkan game Resident Evil sebelumnya tidak wajib, mengetahui apa-apa saja yang sudah terjadi di dunia game Resident Evil akan sangat membantu anda mengapresiasi cerita di Degeneration (coba cek informasi singkatnya di Wikipedia). Sebaliknya bagi kalian yang tidak pernah menonton film layar lebarnya justru tidak perlu khawatir karena Degeneration sama sekali tidak berhubungan dengan trilogi film layar lebar Resident Evil yang diproduseri Paul WS Anderson.

Tokoh utama dalam Degeneration sekali lagi adalah duet Leon S. Kennedy dan Claire Redfield seperti Resident Evil 2. Setelah tujuh tahun yang lalu keduanya berhasil selamat dari teror zombie di kota Racoon, keduanya harus kembali bahu membahu mencari tahu apa penyebab sebenarnya ketika T-Virus outbreak terjadi di bandara Internasional. Selain keduanya, beberapa karakter lain seperti keluarga Miller (Angela dan Curtis) dan Senator Ron Davis pun diperkenalkan untuk memperumit cerita. Tujuh tahun berselang dari Resident Evil 2, kita sudah tahu sedikit banyak mengenai apa yang terjadi pada duet ini. Claire sudah bertemu kembali dengan kakaknya Chris dalam Resident Evil Code Veronica sementara Leon bekerja di Gedung Putih dan menyelamatkan sang anak presiden di Resident Evil 4. Hanya saja, apakah pengalaman keduanya cukup untuk selamat kali ini?

Degeneration berbeda dengan Resident Evil layar lebar lain karena ia digarap langsung oleh CAPCOM, menggunakan render 3D, dan masih bersetting di dunia gamenya. Banyak fans (termasuk saya) berharap bahwa Resident Evil ini akan lebih berhasil membawa nuansa survival horror yang begitu dominan dalam gamenya – tetapi hilang dalam film-film layar lebar Resident Evil (siapa yang takut menonton Resident Evil kalau tahu Alice adalah manusia super?). Sayangnya, Degeneration juga mengecewakan di mataku. Saya mengira kalau setting film ini akan berfokus pada bandara udara di mana outbreak terjadi, tak dinyana, film ini hanya mengambil sepertiga awal film di bandara udara sebelum berpindah setting. Boro-boro menemukan makhluk-makhluk khas Resident Evil macam Licker, Hunter, ataupun zombie anjing, satu-satunya ‘varian’ zombie yang akan anda temui hanya zombie-zombie normal infeksi T-Virus. Cerita Degeneration yang malahan berusaha memperdalam sejarah keluarga Miller dan karakter Ron Davis pun gagal. Pendalaman sejarah keluarga Miller terasa tanggung dan dipaksakan, sementara karakter Ron Davis… jujur saja, kalau ada orang semenyebalkan itu, dia tak mungkin bisa jadi senator. Kenapa selalu terjebak dengan stereotipe pejabat itu pasti brengsek dan menyebalkan?

Tapi yang paling mengecewakan di mataku adalah pertemuan Claire dan Leon. Setelah terpisah tujuh tahun, saya banyak menanti-nantikan adegan pertemuan mereka kembali. Betapa kecewanya saya ketika pertemuan keduanya seakan anti-klimaks dan tergarap seperti sambil lalu saja. Degeneration berusaha menebusnya dengan kembali memberikan kesempatan mereka berdialog empat mata – itupun tidak sampai lebih dari semenit. Ke mana chemistry keduanya yang terbangun selama Resident Evil 2? Bukankah pasangan inilah yang bahu-membahu menyelamatkan diri dari Racoon City?

Selain kecewa pada jalan cerita Degeneration yang terasa dangkal, animasi dalam Degeneration pun harus saya kecam. Jangankan dibandingkan animasi-animasi Pixar atau Dreamworks seperti Wall-E dan Kung Fu Panda, gerakan-gerakan karakter di Degeneration pun masih tergolong kaku dan bergerak dengan ‘aneh’ apabila dibandingkan dengan Advent Children yang berusia hampir tiga tahun lebih tua darinya. Dan sebagai informasi, tiga tahun dunia informasi hampir berarti tiga puluh tahun dalam dunia manusia, bagaimana saya tidak kecewa? Untungnya saja CAPCOM setidaknya masih mempertahankan kualitas suara dalam Degeneration dengan kembali mengontrak pengisi suara Claire dari Resident Evil 2 dan Code Veronica serta pengisi suara Leon dari Resident Evil 4.

Akhir kata, saya tetap merasa bahwa Degeneration adalah sebuah film Resident Evil yang mengecewakan. Hype yang besar, ekspektasi yang kelewat tinggi, dibalas CAPCOM dengan sebuah movie tanggung yang awalnya bertema survival horror ala Resident Evil, tengahnya penuh melodrama picisan film sci-fi kelas B, dan ditutup dengan rentetan adegan aksi yang tidak masuk akal. Boring CAPCOM! Film ini hanya bisa saya rekomendasikan bagi para penggemar berat Resident Evil yang rela menutup sebelah mata akan semua kekurangan di film ini.

Score: 4.0

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here