Tag Archive | "Red"

Tags: , , , , , ,

Blackest Night Batman

Posted on 17 October 2009 by Si Tukang Review

Blackest Night Batman Poster

Blackest Night Batman Poster

Dari awal diberitakannya Blackest Night pada akhir Sinestro Corps War di tahun 2007, ini menjadi even DC yang paling saya nanti-nantikan. Dalam waktu sekejab saja karakter Hal Jordan sang Green Lantern menjadi idola superhero favorit saya di DC, menggantikan posisi Superman maupun Batman. Hingga kini Blackest Night sudah dimulai dan konsepnya mulai terbentuk dengan jelas. Cincin-cincin hitam itu bisa membangkitkan para mayat apapun dan memakai memori lama mayat tersebut. Sampai sekarang belum ketahuan apa tujuan utama para Black Lantern karena mereka selama ini menyerang dan memakan jantung manusia maupun Lantern yang lain.

Mengingat kekacauan terjadi secara sporadis di seluruh dunia, DC selaku penerbit kisah ini tidak semata-mata membiarkan Blackest Night menjadi even tertutup seperti Sinestro Corps War dulu. Blackest Night kali ini digadang-gadang sebagai even terbesar DC langsung mendapat crossover besar-besaran. Jalan cerita utama Blackest Night memang berada pada serial utamanya dan komik Green Lantern yang berfokus pada Hal Jordan dan Barry Allen (Green Lantern dan The Flash). Tetapi di lain tempat terjadi kekacauan di mana-mana. Tiga tie-in pertama yang diluncurkan oleh DC mengulas apa yang terjadi bila Superman, Batman, dan para Titans berhadapan dengan mayat hidup tersebut.

Yang paling pertama selesai adalah Batman, yang sekaligus juga merupakan tie-in paling menarik di mataku. Seperti yang kebanyakan pembaca komik tahu, setelah even dalam Final Crisis dan Batman RIP, mantel Batman tidak lagi dikenakan oleh Bruce Wayne. Kini sosok Batman sudah beralih generasi pada Dick Grayson, yang dikenal juga sebagai Robin pertama atau Nightwing. Robin ketiga Tim Drake kini beralih menjadi Red Robin sementara posisi Robin sebagai sidekick Dick Grayson diisi oleh Damien Wayne, tidak lain tidak bukan anak dari Bruce dengan Talia Al-Gul. Yang menarik untuk dicermati di sini adalah sosok Dick. Menghadapi para Black Lantern adalah ‘tugas besar’ pertamanya. Jadi bisakah ia menghadapi para mayat hidup yang membuat Green Lantern dan The Flash sekalipun kewalahan?

Jawabannya adalah: bisa. Peter J. Tomasi sebagai penulis cerita tie-in ini memang cerdik dalam membangun momentum cerita. Black Lantern yang dihadapi oleh Dick dan Tim bukan sekedar Black Lantern biasa tetapi para Black Lantern yang memiliki kaitan dengan mereka. Dick dan Tim, sebagaimana halnya Bruce, pernah kehilangan orang tua mereka dalam fase kehidupan mereka. Kali ini cincin hitam itu membawa kembali orang tua mereka. Keduanya pun dilempar pada pertanyaan: “apakah ini kesempatan kedua mereka untuk bertemu dengan orang tua mereka kembali?”. Dan melalui dialog-dialog yang ada, Peter J. Tomasi mampu menyentuh hubungan-hubungan emosional itu, sekaligus membuka sedikit tabir misteri mengenai para Black Lantern. Tidak heran sih, selain Geoff Johns, Peter J. Tomasi adalah sosok kedua yang paling punya andil dalam penciptaan crossover ini.

Satu hal lagi yang saya suka dari penanganan Tomasi adalah bagaimana ia tidak memaksakan pertarungan frontal antara Batman dan rekan-rekannya dengan para Black Lantern. Konyol bila melihat Batman atau Robin beradu jotos menghadapi para Black Lantern yang jelas-jelas lebih kuat dari mereka. Tanpa memberi spoiler apapun, saya sangat puas dengan bagaimana akhir pertarungan serta klimaks dalam cerita ini. Tentu saja ini bukannya tanpa keluhan. Mengingat ini hanya sebuah tie-in, akhir dari mini-seri tiga jilid ini terasa sangat tanggung. Saya tahu bahwa kemungkinan besar cerita Batman dilanjutkan pada serial utamanya tapi konklusi setelah klimaksnya yang terlalu tiba-tiba meninggalkan saya dengan perasaan kurang puas.

Terakhir yang membuat saya sangat bangga adalah ilustrator komik tiga seri ini adalah Ardian Syaf, seorang komikus Indonesia yang kini bekerja di bawah naungan DC. Diijinkannya Syaf menggambar tie-in untuk Blackest Night merupakan bukti besarnya kepercayaan DC kepada dirinya, dan Syaf membayar penuh kepercayaan ini dengan karyanya yang menakjubkan. Tidak tanggung-tanggung media sebesar situs IGN saja memuji karyanya sebagai aspek terbaik dalam tie-in ini. Melihat jalan cerita padat kualitas yang ditawarkan Tomasi kepada pembaca, itu berarti IGN sungguh kagum pada karya Syaf. Maju terus Syaf. Maju terus komik Indonesia!

Score: 8.6

Graphic Novel Details
Writer: Peter J. Tomasi
Penciller: Ardian Syaf
Publisher: DC Comics
Volume: 1 – 3

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here