Tag Archive | "Porco Rosso"

Tags: , , , , ,

Porco Rosso

Posted on 08 October 2009 by Si Tukang Review

Porco Rosso Poster

Porco Rosso Poster

Film yang judul Jepangnya Kurenai no Buta ini sangat berbeda dengan film-film dari Hayao Miyazaki yang lain. Film Hayao Miyazaki sebelum ini biasanya selalu mengusung tema fantasi dan petualangan. Porco Rosso berbeda. Ini adalah kisah mengenai seorang pilot pesawat terbang Italia bernama Marco Pagot yang seusai perang terkena kutukan menjadi seorang babi. Dengan setting sejarah yang jelas dan jalan cerita yang lebih ditujukan untuk orang dewasa, Porco Rosso memberi angin segar buat mereka yang ingin mencari karya Miyazaki yang lain dari biasanya.

Di kalangan para bajak udara, ada satu nama yang mereka takuti: Porco Rosso. Sang pilot babi ini adalah seorang bounty hunter yang memburu para bajak laut bila disewa melindungi kapal tertentu. Para bajak udara geram karena perampokan mereka selalu digagalkan oleh Porco Rosso sehingga menyewa seorang pilot Amerika bernama Donald Curtis. Ketika Donald Curtis sukses merusak pesawat Porco, ia terpaksa memperbaiki pesawatnya di tempat sahabat lamanya Picollo. Di sini ia berkenalan dengan seorang gadis montir cucu Picollo: Fio.

Fio dan Porco memiliki sifat yang hampir 180 derajat berbeda. Porco yang sudah melalui perang pesimistis memandang hidup sementara Fio yang muda optimistis memandang hidup. Keduanya pun menjalin hubungan persahabatan yang unik setelah Fio menawarkan diri memperbaiki pesawat Porco – yang diterima oleh si babi dengan setengah enggan. Bagaimanakah kelanjutan persahabatan keduanya? Bisakah Porco mengalahkan Curtis di duel berikutnya? Apakah Angkatan Udara Italia akhirnya bisa menangkap Porco?

Sebenarnya saya agak sulit menulis ringkasan cerita mengenai Porco Rosso karena hampir-hampir tidak ada gambar besar dalamnya. Adegan demi adegan mengalir begitu saja ketika penonton dibawa untuk melihat kehidupan Porco hari demi harinya. Kita diperkenalkan pada awalnya mengenai apa pekerjaan Porco, hubungannya dengan teman lamanya Gina, sampai bagaimana ia berkenalan dengan Fio. Daya tarik utama film ini memang karakter Porco sendiri. Sebagai seekor babi, ia adalah babi paling nyolot yang pernah saya kenal. Baik omongan maupun tingkah suka seenaknya, walaupun di balik itu semua, sebenarnya Porco tetap baik dan berhati lembut. Tidak heran kalau dalam kebanyakan resensi yang saya baca, karakter Porco yang multi-dimensi ini sukses merebut hati para reviewer.

Lagi-lagi lain dengan film sebelumnya, tema yang diangkat dalam Porco Rosso lebih ditujukan untuk orang dewasa. Selain beberapa bahasan politik seperti kenapa Porco menolak menjadi fasis, ada unsur romantisme yang jelas-jelas diusung. Dalam beberapa film sebelumnya seperti Lupin the Third: Castle of Cagliostro dan Laputa: Castle in the Sky, Miyazaki memang pernah mengangkat tema romantisme – tetapi hal tersebut lebih tergambar secara sambil lalu dan humoris (Cagliostro) maupun diselimurkan dalam bentuk persahabatan (Laputa). Baru dalam Porco Rosso romantisme mengambil peran yang lebih dominan dalam cerita.

Film ini sebenarnya lahir dari impian dan hobi Miyazaki. Salah satu hobi paling utama Miyazaki adalah pesawat antik. Oleh karena itu, salah satu ciri khas Miyazaki dalam film-filmnya adalah mengikutsertakan unsur penerbangan dalam film-filmnya. Terlihat jelas dalam film ini bagaimana Miyazaki berusaha mengkomunikasikan hobinya itu kepada penonton. Adegan di mana Fio merancang pesawat Porco merupakan jembatan sempurna bagi Miyazaki menyampaikan hasratnya. Lihat juga bagaimana indahnya adegan dogfight (adu tembak pesawat) antara Porco dan Curtis di penghujung film. Spektakuler dan dinamis, dogfight membuat saya menahan nafas di satu adegan dan tertawa di adegan yang lain. Terlihat dari adegan-adegan itu bahwa Miyazaki tidak hanya ingin menghibur penonton tetapi juga memuaskan impian dan cintanya pada pesawat antik.

Seperti yang saya katakan di awal review, Porco Rosso adalah film Hayao Miyazaki yang lain. Semua film Miyazaki yang lain ditujukan kepada dua kalangan: anak-anak dan dewasa sedangkan dalam Porco Rosso film ini jelas ditujukan bagi orang dewasa. Tetap saja, animasi yang ajaib ini harus masuk dalam daftar tontonmu. Jangan mentang-mentang jagoan utamanya babi… lantas diharamkan!

Note: Porco Rosso adalah bahasa Italia. Translasi Inggrisnya berarti Red Pig atau Babi Merah.

Score: 8.7

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Shuichiro Moriyama, Akio Otsuka, Tokiko Kato
Running Time: 94 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

The Ultimate Studio Ghibli Marathon

Posted on 28 September 2009 by Si Tukang Review

Bagi pecinta animasi, ada ungkapan “Disney di barat, Ghibli di timur”. Ungkapan tersebut menyatakan bahwa bila Walt Disney dengan film-film animasi 2D dan 3Dnya merajai pasaran Amerika maka Studio Ghibli di bawah Hayao Miyazaki adalah raja di Asia. Sungguh sayang bahwa film-film Miyazaki yang sangat terkenal dan sukses di mancanegara masih jarang terdengar gaungnya di Indonesia. Bahkan ketika teman-teman saya mendengar mengenai Studio Ghibli, mereka malah mengernyitkan dahi keheranan – mengira kalau itu sebuah studio dari Turki atau negara Timur Tengah lainnya.

Saya sendiri sudah berhasrat menggarap review mengenai Studio Ghibli – jauh lebih berhasrat dibandingkan menggarap review marathon Pixar. Pixar sih sudah tidak butuh penjelasan lebih lanjut mengingat hampir semua orang menonton film-film mereka. Akses menujunya pun gampang. Tinggal cari saja filmnya persewaan VCD terdekat atau membelinya di toko. Film-film Studio Ghibli merupakan cerita yang berbeda. Film-film mereka yang paling terkenal macam Spirited Away dan Princess Mononoke saja harus berburu mencarinya, apalagi yang kurang terkenal seperti Porco Rosso atau The Cat Returns. Walah, menemukannya bisa jadi sesenang Indy menemukan cawan suci!

Ketika saya tengah pergi ke Hongkong, tengah diadakan promo penjualan film Studio Ghibli untuk mendukung perilisan DVD Ponyo. Sayangnya setiap film harganya berkisar 100 – 150 HKD (hampir 200 Ribu Rupiah) sehingga dengan budget yang saya punya saya hanya bisa membeli dua (saat itu saya memilih Ponyo dan Princess Mononoke). Ketika saya mengeluhkan hal ini kepada teman saya Adhitya, ia mendadak memberi saya sebuah kejutan yang sangat – sangat menyenangkan.

Ia membelikan buat saya satu boxset Ultimate Ghibli Collection. Bayangkan betapa girangnya saya mendapatkan boxset tersebut! (Thanks Dit!!). Hampir semua titel-titel Ghibli lengkap berderet di sana, mulai dari Pom Poko yang sederhana sampai Grave of the Fireflies yang sudah mendapatkan segudang pujian. Begitu mendapatkan boxset ini, saya memantapkan hati saya untuk menonton semua film tersebut dan memberikan review lengkap setiap film Studio Ghibli.

Berikut adalah list lengkap dari film Ghibli yang akan saya review. Don’t miss them!
- Lupin the Third: Castle of Cagliostro
- Nausicaa of the Valley of the Wind
- Laputa: Castle in the Sky
- Grave of the Fireflies
- My Neighbor Totoro
- Kiki’s Delivery Service
- Only Yesterday
- Porco Rosso
- Ocean Waves
- Pom Poko
- Whisper of the Heart
- Princess Mononoke
- My Neighbors the Yamadas
- Spirited Away
- The Cat Returns
- Howl’s Moving Castle
- Tales from Earthsea
Ponyo on the Cliff by the Sea

Oh ya, kalau ada yang penasaran kenapa mereka tidak bisa menemukan ungkapan yang saya kutip di atas, itu sebenarnya hanya karangan saya sendiri kok. Hi hi hi.

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here