Tag Archive | "Ninja"

Tags: , , , ,

Age of Zombies

Posted on 29 March 2010 by Si Tukang Review

Age of Zombies Screenshot

Age of Zombies Screenshot

Sesuatu yang tak pernah diduga-duga terjadi di dunia handheld. Pasar yang tadinya dikuasai oleh dua pemain: Nintendo DS dan Sony PSP mendadak mendapat saingan ketiga dalam bentuk iPhone. Melalui iTunes, banyak sekali developer dan programmer independen merilis game mereka dan dijual dengan harga murah -- kadang sampai di bawah satu dollar! Terang saja kedua perusahaan di atas kalang kabut. Mungkin Nintendo DS sudah laku keras sehingga posisinya tidak terlalu terancam… tetapi bagaimana dengan handheldnya Sony? Guna memerangi iPhone supaya tidak mengkudeta posisinya sebagai runner-up, Sony meluncurkan seri mini game yang dinamai… Minis (namanya kurang kreatif ya?). Kebanyakan game Minis yang dijual di toko Playstation Network membidik pasar yang sama dengan mini-game iPhone dan dirilis dengan harga murah (mayoritas di bawah 10 Dollar, bandingkan dengan titel resmi yang bisa mematok harga hampir tiga empat kali lipat). Salah satu game terbaru Minis adalah Age of Zombies. Game ini masuk ke dalam radar pengamatanku setelah saya membaca Gamespot dan IGN sampai mereviewnya. Wah? Sebuah mini game sampai mendapat perhatian dua situs gaming terbesar? Saya langsung ikutan tertarik untuk mencobanya.

Dalam Age of Zombies tujuan gamer sangat sederhana. Tembak segala yang bergerak. Kamu akan ditempatkan di sebuah arena di mana ada ratusan bahkan ribuan zombie menyerbumu. Kontrolnya mudah: kamu bergerak dengan D-Padmu sementara menembak atas dengan segitiga, menembak kiri dengan kotak, menembak bawah dengan x dan menembak kanan dengan lingkaran. Kemudahan kontrol ini menjadikan Age of Zombies begitu aksesibel dan bisa dimainkan oleh siapa saja. Jangan mengira bahwa karena gameplaynya simple maka game ini hanya ditujukan untuk anak-anak saja. Developer game ini, Halfbrick, memastikan untuk memasukkan dialog-dialog yang humornya bisa dinikmati baik oleh orang dewasa maupun remaja.

Sebagai Barry Steakfries, kamu harus menjelajahi waktu untuk menghenti amuk zombie. Pasalnya, di awal game seorang ilmuwan sinting membuat pintu waktu dan melepas zombie ke segala jaman. Barry harus berpetualang ke masa prasejarah, era gangster Amerika, piramida di Mesir, kampung ninja di Jepang, sampai masa depan para cyborg. Dalam permainannya Barry akan melontarkan quote-quote yang unik dan bikin tertawa. Misalnya di era gangster Barry akan mulai menyinggung-nyinggung soal The Sopranos, GTA, dan The Godfather. Atau di kampung para Ninja di mana salah satu judul stagenya adalah Cruel Angel Thesis, sebuah referensi jelas pada lagu opening Neon Genesis Evangelion. Kalau kamu seorang yang tahu banyak akan kultur hiburan, game ini akan membuatmu tertawa terbahak-bahak sambil memainkannya (dan Barry adalah salah satu jagoan paling nyolot yang saya mainkan! I like it!).

Lima level yang ada dalam game ini terbagi menjadi tiga bagian stage: dua stage biasa di mana kamu harus membantai semua zombie yang ada sampai meteran zombienya habis dan stage ketiga di mana kamu akan berhadapan dengan boss di level itu. Setiap bossnya merepresentasikan dunianya, jadi kamu bisa berhadapan dengan Zombie T-Rex di level pertama, Don Zombie di level kedua, dan… ah, temukan saja sendiri sisanya. Tidak seru kan kalau semuanya kuspoilerkan? Pertarungan melawan boss memiliki tantangannya tersendiri tetapi tingkat kesulitannya tidak pernah sampai berlebihan.

So my verdict is… lebih dari enam bulan setelah Sony mengumumkan Minis, masih belum terlihat kemampuan maksimalnya. Banyak sekali game yang standarnya di bawah kualitas lolos dari pengamatan Sony (ini juga merupakan masalah yang dihadapi oleh iPhone). Toh apabila ada banyak game seperti Age of Zombies (dengan harga hanya 5 Dollar saja!) maka masa depan Minis terjamin aman. Pecinta rail shooter, zombie, dan mengikuti perkembangan kultur pop? Age of Zombies bakalan memberimu impresi tersendiri. I mean where else can do you get to shoot zombie ninjas huh?


(Age of Zombies Gameplay)

Final Verdict

Gameplay: 7.0
Sederhana tapi fun. Membantai para zombie dalam game ini bakalan sangat membantu menghilangkan stressmu. (Catatan: Efek sebaliknya bisa terjadi kalau kamu melulu dibantai).

Graphic / Sound: 7.5
Sekilas tidak ada yang spesial kualitas grafis dan audio game ini. Maklum deh, kan hanya Mini Game. Tapi ternyata Halfbrick cukup memperhatikan detailnya. Zombie dari setiap zaman memiliki kekhasannya sendiri, bahkan suara di mana kamu mengambil senjata power-up berubah mengikuti setting. Di kampung Ninja misalnya aksennya akan keJepang-Jepangan sementara di masa depan suaranya bakalan ala cyborg robot.

Play Time: 4.0
Sayangnya Age of Zombies adalah sebuah game yang sangat (terlalu?) pendek. Untuk menyelesaikan lima level yang ada kamu paling akan makan waktu sejam hingga dua jam. Saya pribadi malah tidak sampai sejam menamatkannya. Memang masih ada mode Survival yang bisa kamu jajal, tetapi game ini sebenarnya bisa makin sempurna lagi kalau memiliki lebih banyak variasi dunia.

Overall: 6.5

Game Details
Developer: Halfbrick Studios
Publisher: Halfbrick Studios
Genre: Action

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Ninja Assassin

Posted on 27 November 2009 by Si Tukang Review

Ninja Assassin Poster

Ninja Assassin Poster

Bila sekedar ditilik dari judulnya orang awam pasti menyangka ini sejenis B-Movie. Dan entah kenapa judulnya langsung mengingatkanku pada American Ninja yang dulu dibintangi oleh jagoan B-Movie Michael Dudikoff. Entahlah. Kurasa kamu tidak pernah bisa menganggap serius sebuah film yang dengan gagah memajang kata “ninja” di judulnya. Tambahan lagi, saya tidak terlalu yakin dengan kemampuan bela diri Rain. Konon Wachowski Brothers tertarik dengan kemampuan Rain setelah melihatnya melakukan bela diri dalam Speed Racer. Celakanya ketika saya menonton film itu, Rain malah saya nilai sebagai bagian terburuk dari film yang secara keseluruhannya saja saya tidak begitu suka. Jadi saya masuk ke dalam gedung bioskop dan tidak memasang target apa-apa.

Di dunia ini terdapat banyak sekali klan ninja yang hidup dalam bayang-bayang. Kita tidak pernah tahu mereka ada, menyangka mereka hanya sekedar mitos, tetapi percayalah kalau itu tidak benar. Ninja itu ada, dan mereka adalah pembunuh bayaran yang sangat kejam dan tidak berperi-kemanusiaan. Asalkan ada bayaran, siapapun tega mereka bunuh. Salah satu klan dalam dunia Ninja itu adalah klan Ozunu. Mereka mengambil banyak anak yatim piatu dan mendidik anak-anak tersebut menjadi jagoan silat tiada duanya. Raizo – seorang anak yatim piatu – juga bernasib sama. Ia dididik secara keras oleh sang kepala klan karena sang pimpinan percaya bahwa Raizo memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Sementara itu, seorang agen Europol bernama Mika Coretti percaya bahwa yang namanya Ninja itu sungguh ada dan klan pembunuh bayaran ini didanai oleh para tokoh politik untuk membunuh lawan-lawan mereka. Tentu saja dugaan Mika ini dicibir – kecuali oleh sang pemimpin Ryan Maslow. Sebaliknya para klan ninja yang tahu kalau keberadaan mereka tengah dilacak oleh Mika tentu tidak tinggal diam dan mengirimkan para ninja untuk membunuh Mika. Apakah Mika akan bertemu dengan Raizo? Apakah cerita film ini konyol? Bisakah Rain menjadi ninja sejati?

Jalan cerita film ini dangkal dan gampang ditebak. Seperti yang tadi saya sebut di awal review saya, memasukkan kata Ninja sebagai judul film sudah merupakan garansi kalau ceritanya bakalan kacangan. Padahal Wachowski Brothers saja sudah tidak setuju dengan skenario awal dan meminta bantuan J. Michael Straczynski untuk menulis ceritanya. Buat yang tidak tahu, Straczynski adalah salah satu penulis komik favorit saya dan terkenal dengan penulisan yang mampu mengoptimalkan sisi humanis dari seorang superhero (story arc Back in Black dan One More Day dalam Spider-man serta Silver Surfer: Requiem adalah bukti nyata dari kejeniusannya). Tapi skenario film ini ditulis dalam waktu 53 jam oleh Straczynski sehingga mungkin sekali karena itu kualitasnya juga seadanya. Paruh awal film terutama sangat membosankan karena berisi rentetan adegan flashback dari Raizo dan Raizo masa depan yang berlatih di kamarnya. Kisah flashback dari Raizo terasa bertele-tele dan terlalu klise.

Untungnya saja pacing film mulai meningkat memasuki paruh keduanya. Satu hal yang menjadi kejutan menyenangkan bagi saya adalah penampilan Rain dalam film ini. Di awal film saya masih pesimis. Saya takut kalau perannya nanti sekedar seperti Jun Ji-Hyun dalam Blood: The Last Vampire alias pendiam dan sok cool, ditambah adegan aksi ala kadarnya. Ternyata perkiraan saya meleset, di paruh awal cerita Rain langsung menunjukkan hasil latihan intensifnya. Badannya luar biasa kekar dan six-pack; intinya dia bisa langsung daftar jadi anggota tentara Raja Leonidas di 300! Lebih dari itu saya terkesima melihat bagaimana Rain memperagakan kemampuan bela dirinya. Walau belum sedahsyat – katakanlah Tony Jaa – kemampuan Rain sangat impresif. Terbukti dalam paruh kedua film ketika pertarungan-pertarungan antar ninja mulai terjadi, sutradara James McTeigue tidak takut untuk mengambil sudut gambar dari jauh dan bereksperimen dengan berbagai macam gaya sinematografi untuk menunjukkan kemampuan Rain beraksi – bandingkan dengan bagaimana kamera dalam film Blood terus menyorot Jun Ji-Hyun secara close-up untuk mencurangi penonton melihat si artis Korea beraksi. Kemampuan akting Rain juga meningkat jauh dibanding saat debut di Speed Racer. Terbukti saya beberapa kali tertawa dengan humor one-liner yang ia ucapkan.

Toh, Ninja Assassin memang dari sananya merupakan film aksi yang harus dinikmati tanpa banyak berpikir. Tampilnya Sho Kosugi sebagai pemimpin klan Ozunu dan musuh utama juga bakalan dikenali penggemar B-Movie karena aktor tersebut sering tampil dalam film bertema Ninja. Hanya saja sedikit peringatan terutama buat yang mengasosiasikan bahwa ninja hanya buat anak kecil gara-gara kebanyakan membaca Naruto: this movie is bloody… and when I say it’s bloody, I mean it’s bloodier than Saw. Ehem, ada yang ingat Ong-Bak ketika nonton film ini?

Score: 7.5

Movie Details
Director: James McTeigue
Cast: Rain, Naomie Harris, Sho Kosugi
Running Time: 95 Minutes

Comments (27)

Tags: , , , , ,

The Ninja Warriors (SNES)

Posted on 23 August 2009 by Si Tukang Review

The Ninja Warriors Cover

The Ninja Warriors Cover

Prolog dari game ini adalah salah satu cerita paling tolol yang pernah saya dengar bahkan untuk standar game sekalipun. Konon di masa depan seorang diktator kejam bernama Banglar menguasai sebuah negara dengan cara mencuci otak semua orang supaya menuruti dia (jangan tanya bagaimana). Tapi tentu saja harapan tidak begitu saja musnah karena masih ada pemberontak di bawah pimpinan Mulk yang menentang kekuasaan Banglar. Mulk menyiapkan rencana menghabisi Banglar dengan mengirimkan tiga pembunuh bayaran terkuatnya dalam bentuk android (mungkin karena kalau manusia punya hati nurani?). Sayangnya belum ketiga android ini disempurnakan Banglar lebih cepat mencium gelagat pemberontakan dan mengirimkan para tentaranya menghabisi Mulk dan kawan-kawannya. Tanpa pilihan lain, Mulk mengaktifkan ketiga androidnya dan mengutus mereka menghabis Banglar. Siapa yang lebih cepat menang? Saya tidak tahu. Yang saya tahu design androidnya persis Terminator. Eat your heart Terminatrix, di sini ada android berambut pirang juga – ninja lagi! Plus: dia hadir sepuluh tahun sebelum kamu ada.

Seperti yang saya tulis dalam prolog di atas, kamu bisa bermain sebagai salah satu dari tiga android yang sudah didesign Mulk. Jangan harapkan inovasi apapun dalam bidang ini. Pilihan tiga itu adalah Ninja (nama yang kurang kreatif ya?), Kunoichi, dan Kamaitachi. Ninja berbadan besar dan memiliki gerakan yang lambat tapi daya destruktif yang tinggi, Kunoichi merata di segala bidang sementara Kamaitachi yang mirip prototipe android belum jadi gerakannya cepat tapi serangannya relatif lemah. Satu-satunya hal yang sedikit berbeda adalah Kunoichi (karakter ninja berkelamin wanita – kalau robot masih bisa dibilang wanita) biasanya dijadikan yang cepat tapi lemah, tetapi dalam game ini dijadikan karakter all-round. Karena ketiga karakter ini memiliki atribut yang berbeda, otomatis cara permainan pun akan berbeda. Ketika saya memakai Ninja misalnya saya lebih suka membanting musuh karena badan Ninja yang besar memudahkan dia untuk mengangkat dan membanting musuh yang menghadang jalannya. Sebaliknya sebagai Kamaitachi yang lincah saya bisa menggunakan pukulan mautnya yang super cepat sambil berkelit menghindari serangan-serangan musuh. Karena perbedaan besar ketiganya, menyelesaikan game ini dengan karakter yang berbeda juga memberi pengalaman yang berbeda.

Gameplay The Ninja Warriors dikategorikan sebagai beat-em-up, tetapi saya menemukannya sedikit berbeda dengan game seperti Double Dragon atau Final Fight. Di dalam game ini kamu hanya bisa bergerak dari kanan-kiri saja secara dua dimensi dalam satu jalur, berbeda dengan game-game genre ini yang biasanya membiarkanmu bergerak di beberapa jalur sekaligus. Pertamanya saya sedikit kagok untuk menghindari serangan musuh dengan cara seperti ini. Strategi tentu saja berbeda karena musuh lebih mudah menjepitmu dari dua arah. Otomatis kamu harus bergerak cepat menyelesaikan musuh dari kanan sebelum musuh dari kiri menyerangmu dan begitu pula sebaliknya. Toh lama kelamaan kamu bakalan terbiasa dengan sistem tarung dalam game ini. Justru ketika kamu harus berhadapan dengan boss (sering kali kita dikeroyok oleh boss bersama banyak musuh-musuh ‘kecil’), game ini seakan berubah genre menjadi duel game fighting minus jurus. Satu hal yang lagi-lagi saya sayangkan adalah tidak adanya fasilitas co-op. Saya hanya bisa berandai-andai betapa serunya game ini bila memakai dua karakter android secara bersamaan.

Dirilis di penghujung hayat SNES, game ini mendorong kemampuan dari konsol tersebut semaksimal mungkin. Selain ketiga karakternya yang memiliki variasi gerakan luar biasa banyaknya (kamu bisa melakukan jurus spesial, beberapa jurus dasar, kombo yang berbeda untuk tiap karakter, sampai memblok serangan musuh), game ini juga memiliki variasi musuh yang banyak serta deretan boss yang memorable. Efek-efeknya seperti ledakan rudal juga bisa mengubah latar belakang arena. Ditambah dengan musik yang ditangani oleh Hiroyuki Iwatsuki (juga bertanggung jawab akan musik di Gundam Wings Endless Waltz), The Ninja Warriors adalah salah satu game yang tidak boleh kamu lewatkan di SNES.

FUN FACT: Di Jepang, game ini dijuduli The Ninja Warriors Again karena merupakan sekuel dari game The Ninja Warriors yang dirilis pada tahun 1988 di Arcade. Prekuel dari game ini diport ke berbagai konsol rumahan di Jepang, tetapi tidak pernah mendapat dirilis di Amerika. Supaya gamer tidak bingung, judulnya pun diubah oleh Taito menjadi The Ninja Warriors – menimbulkan kesalahkaprahan banyak orang yang menyangka bahwa game SNES ini adalah game pertamanya.

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Gerakan ketiga karakter yang berbeda satu sama lain memberi strategi yang berbeda dalam permainan. Musuh-musuhnya memiliki AI yang lumayan cerdas tetapi kesulitannya selalu berada pada tahap ‘normal’. Pecinta tantangan boleh mencoba mode ‘hard’nya. Satu-satunya yang membuat saya mengurangi game ini dari nilai sempurna adalah – you guess it – absennya fitur co-op.

Graphic / Sound: 8.5
Tajam, jernih, jelas. Animasi yang paling keren adalah ketika karaktermu tewas, sistemnya akan mengalami malfungsi, ia akan berubah perlahan menjadi tipe android (ala Terminator) sebelum kemudian meledak berkeping-keping. Kehancuran yang sama juga terjadi ketika kamu mengalahkan para boss. Sangat keren dan hardcore untuk tahun 1994.

Play Time: 8.0
Walau tidak ada fasilitas co-op, mencoba menamatkan game ini dengan karakter-karakter yang berbeda membuatmu sekurang-kurangnya memainkan game ini tiga kali.

Overall: 8.4

Game Details
Developer: Natsume
Publisher: Taito
Genre: Action / Beat Em Up

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here