Tag Archive | "Nekron"

Tags: , , , , , , , , , , ,

Blackest Night

Posted on 01 April 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night #1 Cover

Blackest Night #1 Cover

Dan dengan beredarnya volume kedelapan hari ini, berakhirlah rangkaian trilogi yang telah dibangun Geoff Johns semenjak ia mengambil alih dan melakukan relaunch pada franchise Green Lantern. Melihat halaman penutupnya, saya jadi bernostalgia dua tahun yang lalu di ending Sinestro Corps War. Saya ingat bahwa epilog kisah itu begitu berkesan melihat bagaimana prophecy Blackest Night terlihat mengancam dunia DC. Mencekam sekaligus langsung membuat gw hendak melompat ke tahun 2009. Penantian dua tahun itu berakhir ketika Blackest Night pertama diluncurkan. Dan di saat itu franchise Green Lantern sudah berada di posisi yang jauh berbeda.

Di tahun 2007, DC sendiri mengakui kalau Sinestro Corps War bukanlah even andalan mereka. Mereka lebih mengedepankan Countdown dan Amazons Attack (crossover Wonder Woman). Tak disangka, kedua serial itu babak belur dihajar kritik dan tidak dipedulikan pembaca. Beruntung bagi DC seorang Geoff Johns bisa mengangkat franchise kelas dua macam Green Lantern ke status A. Melalui satu Sinestro Corps War, Green Lantern praktis menjadi karakter superhero kedua paling ngetop di DC, hanya di belakang Batman (setidaknya dari penjualan komiknya). Film mengenai Green Lantern langsung dilampu-hijaukan produksinya dan film animasi yang mengetengahkan Hal Jordan, Green Lantern: First Flight juga dirilis oleh DC.

Apa sih sebenarnya Blackest Night itu sendiri? Kenapa Tukang Review sampai menyempatkan diri mereview mini-seri dan tie-in yang bersangkutan dengannya? Jawabannya adalah karena ini sebuah even yang sangat signifikan buat DC, tidak kalah signifikan dengan Crisis on Infinite Earths dan Infinite Crisis sekalipun!

Bukan rahasia kalau yang namanya superhero itu kerjaannya mati dan hidup melulu di dunia komik. Bahkan sampai ada guyonan bahwa kalau superhero mati, itu cuma dilakukan untuk mengangkat oplah komik dan nanti toh dia juga dihidupkan lagi. Lihat saja karakter Captain America, Superman, atau Batman (yang tahun depan bakalan dikembalikan ke dunia DC). Tapi bagaimana bila yang mengatur kematian itu adalah sosok entitas yang mengancam keberadaan dunia DC? Perihal Blackest Night ini sebenarnya sudah lama diketahui oleh para Guardian of the Universe, tetapi mereka sengaja menutup-nutupi kebenaran ini dari orang lain, termasuk Green Lantern Corps.

Setelah kenyataan yang sesungguhnya terbeberkan, implikasinya mengancam eksistensi cahaya itu sendiri. Kegelapan mulai membentuk kekuatan. Sebagaimana halnya Green Lantern memperoleh kekuatan dari cincin hijau para Guardian, Black Lantern juga memiliki cincin hitam. Yang beda adalah justru cincinlah yang memakai orang bukan orang yang memakai cincin. Black Lantern mengambil cincin dari mereka-mereka yang sudah mati. Para superhero seperti Aquaman, Martian Manhunter, dan banyak lainnya dihidupkan kembali oleh cincin hitam dan diubah ke dalam Black Lantern. Di lain pihak, para superhero DC sendiri terkejut mendapatkan serangan dari orang-orang terdekat mereka yang sudah berubah menjadi zombie super. Bisakah mereka bertahan?

Dalam beberapa review terakhir, saya sempat mengkritik penulisan Geoff Johns yang saya nilai menurun. Walaupun begitu, keseluruhan karya Blackest Night membuktikan bahwa sang penulis memang masih salah satu yang terbaik di bidangnya. Dalam Sinestro Corps War, Geoff Johns tahu bahwa ia menulis sebuah kisah mengenai Green Lantern yang berperang dengan Sinestro Corps sehingga scope cerita sepenuhnya terbatas di sana. Memang ada kemunculan Anti-Monitor, Superboy, sampai Cyborg Superman yang membantu Sinestro, sementara para superhero lain juga membantu Green Lantern Corps tetapi fokus utama tetap pada Hal dan kawan-kawannya.

Blackest Night adalah satu hal yang sama sekali berbeda. Ketika DC memposisikannya sebagai multi-even terbesar tahun 2009, Geoff Johns sadar bahwa kisah ini terlalu besar hanya untuk diperangkap dalam dunia Green Lantern. Hasilnya: seluruh pahlawan DC terlibat dalam perang penentuannya di sini. Hal Jordan dan ketujuh lantern warna boleh menjadi tuas utama yang memutar gerak cerita Blackest Night, tetapi komponen lain seperti Flash, Wonder Woman, Deadman, dan banyak superhero lain memegang peranan yang tak kalah vital untuk menentukan akhir dari perang ini.

Saya tadinya takut bahwa kelemahan terbesar komik cross-over ikut-ikutan terbawa dalam Blackest Night. Rata-rata komik cross-over seperti Secret Invasion, bahkan Siege (saat artikel ini ditulis sudah masuk edisi tiga) yang sekarang tengah ditulis Brian Michael Bendis untuk Marvel tidak pernah luput dari masalah kurangnya drama di tengah aksi. Ya ada para karakter ngomong, tetapi dialog-dialog dalam komiknya seringkali sekedar untuk memajukan plotnya semata. Ini membuat premise yang semula menarik akhirnya menjadi hampa karena karakter yang terlibat di dalamnya cuma sekedar adu jotos saja. Lebih parah lagi, karena banyaknya karakter, sering kali mereka cuma asal nongol demi keren kemudian melebur ke dalam background tanpa pernah disinggung lagi. Blackest Night tidak sempurna lepas dari kelemahan ini, tetapi setidaknya Johns berusaha menginjeksikan kualitas drama dan menyorot berbagai macam karakter dalam kisah ini secara adil. Tidak gampang mengingat Johns harus dengan cermat mengatur pion ceritanya yang lebih dari 100 orang ini (sungguh!)

Geoff Johns beruntung bahwa ia tidak sendiri menangani cerita ini. Ivan Reis sebelumnya sudah menjadi partner in crime ketika menggarap serial Green Lantern, karena itu ia tahu benar apa yang dikehendaki oleh Geoff Johns. Ivan Reis juga tidak kagok dalam menggambar para lantern warna-warni dengan wibawa khas mereka sendiri. Beberapa pihak yang antipati pada Blackest Night mengejek bahwa karya ini mirip dengan Power Rangers dibalut superhero. Bila ada yang mengatakan itu pada saya, saya akan menjawabnya dengan menyodorkan two-spread page yang ada di tiap edisi Blackest Night. Saya jamin mereka akan tutup mulut. Yang pasti saya selalu membaca tiap-tiap edisi Blackest Night minimal tiga kali. Sekali untuk mengetahui ceritanya, kedua kali untuk menggali informasi lebih lanjut dari dalamnya, dan yang ketiga kali sekedar untuk memelototi kekerenan goresan artistik Reis. Saya hanya bisa berharap Geoff Johns dan Ivan Reis bisa berduet lagi di masa mendatang. Saya ngiler membayangkan hasilnya! Dan soal masa depan setelah Blackest Night sendiri… DC menjanjikan bahwa ini akan disusul oleh sebuah masa bernama Brightest Day di DC. Setelah mengalami masa-masa yang gelap seusai Final Crisis dan Blackest Night, memang sudah saatnya para superhero mengalami sedikit masa santai melalui Brightest Day. Seberapa besar ini akan mempengaruhi dunia DC memang masih harus dilihat, tapi yang jelas Geoff Johns memberi saya banyak alasan untuk membaca banyak komik DC ke depannya.

So my verdict is… saya sangat puas secara keseluruhan dengan Blackest Night. Walau saya harus akui bahwa dua edisi terakhir agak kedodoran, secara keseluruhan ini adalah cross-over event terbaik yang saya baca dalam waktu lama setelah Civil War tahun 2006 dulu.

Score: 9.5

Graphic Novel Details
Writer: Geoff Johns
Artist: Ivan Reis
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 08

Comments (2)

Tags: , , , , , , ,

Blackest Night Wonder Woman

Posted on 22 February 2010 by Si Tukang Review

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Blackest Night Wonder Woman #2 Cover

Tie-in untuk Blackest Night bagian pertama sudah selesai. Tie-in tersebut mencakup karakter dalam keluarga Superman, Batman, dan Titans. Premise dari ketiganya tergolong sama. Para superhero harus berkonfrontasi dengan orang kesayangan (keluarga maupun sahabat) atau musuh mereka yang sudah lama mati tetapi dibangkitkan oleh cincin hitam. Semua tie-in tersebut juga memiliki pengakhiran yang serupa; bahwa para superhero kini tahu bahwa para Black Lantern itu hanya jasad yang dibangkitkan tanpa jiwa dan harus dihentikan dengan segenap cara. Bersamaan dengan majunya cerita utama Blackest Night, tie-in bagian keduanya pun diluncurkan dan berfokus pada karakter Flash dan Wonder Woman. Mengingat cerita utamanya sendiri sudah sampai pada perang frontal antara para superhero melawan para Black Lantern, banyak pembaca berharap kalau resep lama dalam tiga tie-in di atas tidak lagi diulang.

Mini-seri ini terbagi dalam tiga volume yang boleh dibilang berdiri sendiri sebagai suplemen cerita Blackest Night utama. Volume pertamanya tentang konfrontasi Wonder Woman menghadapi Black Lantern Maxwell Lord, volume keduanya adalah pergumulan diri Wonder Woman saat ia berubah menjadi Black Lantern, dan yang terakhir adalah bagaimana sang putri Amazon ini beradaptasi dengan cincin violet saat ia didaulat menjadi seorang Star Sapphire.

Berdiri sendiri-sendiri, ketiganya sebenarnya merupakan bacaan yang menarik dengan catatan kamu tahu sedikit banyak mengenai sejarah superheroine paling terkenal di muka bumi ini. Greg Rucka yang merupakan penulis serial Wonder Woman sebelum Infinite Crisis dan reboot ulangnya kembali untuk menulis serial ini, dan itu adalah sesuatu yang saya terima dengan senang hati. Tanpa merendahkan Gail Simone yang telah melakukan tugas luar biasa, siapapun yang membaca penulisan Greg Rucka akan Wonder Woman pasti setuju bahwa ia adalah salah seorang penulis yang paling mengerti sang superheroine. Konfrontasi Diana dengan Maxwell Lord dalam komik ini menjadi sesuatu yang sangat saya nantikan, karena kepiawaian Rucka menulis bagaimana Diana membunuh Maxwell di depan seluruh dunia merupakan awal benih perpecahan yang nantinya menjadi Infinite Crisis. Saya juga suka dengan bagaimana Greg Rucka menggambarkan pertentangan Diana melawan cincin hitam dalam dirinya (bisa dibilang ini adalah pertama kalinya pembaca diberi kesempatan melihat apa yang terjadi pada para pahlawan yang dikuasai oleh Nekron) dan perdebatan dua cincin warna antara Mera (Rage / Amarah) dan Diana (Love / Cinta) di volume ketiga.

Toh, kalau mau dinilai secara jujur, Blackest Night Wonder Woman adalah sebuah bacaan yang sulit dibaca bila berdiri sendiri. Volume pertamanya seakan berdiri terpisah dari volume kedua dan ketiganya. Kemudian saya sendiri tidak terlalu tahu mengenai hubungan Mera dan Diana, sehingga perdebatan keduanya pada buku kedua dan ketiga tidak terasa nendang, katakanlah sebagaimana halnya duel ulang Diana menghadapi Maxwell di pembuka mini-seri ini. Seperti yang saya katakan di awal review tadi, kamu bakalan menemukan tie-in ini tidak menggigit kalau kamu tidak mengerti benar sejarah, posisi dan relasi Wonder Woman dengan karakter-karakter lain di dunia DC.

Untuk artworknya sendiri, Nicola Scott (Secret Six) berhasil mencuri perhatian saya. Mungkin ia tidak sejago Doug Mahnke atau Ivan Reis dalam menggambar sosok Black Lantern yang menakutkan, tetapi artworknya tergolong solid sepanjang tiga volume. Tidak buruk, walau saya tidak akan berlebihan melabelinya spektakuler.

So my verdict is… saya pribadi masih condong pada tie-in kumpulan pertama Blackest Night. Walaupun ketiganya memiliki jalan cerita yang bisa diprediksi, setidaknya saya bisa membacanya secara independen tanpa tergantung pada serial utama Blackest Night sendiri. Baca mini-seri ini hanya bila kamu pengikut fanatik saga Blackest Night atau karakter Wonder Woman.

Score: 6.5

Graphic Novel Details
Writer: Greg Rucka
Artist: Nicola Scott
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 03

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here