Wild Arms Alter Code F adalah sebuah proyek yang dulu membuat saya bersorak gembira. Maklum saja, Alter Code F merupakan remake ulang dari Wild Arms pertama, yang banyak disebut para RPGer veteran sebagai Wild Arms terbaik. Saya sendiri tidak pernah berkesempatan mencicipi game orisinilnya karena saya membeli Playstation pertama di akhir siklus hidupnya (Wild Arms pertama muncul di awal siklus Playstation). Hanya saja saya menyimpan sedikit kekhawatiran. Kalau di dunia perfilman, rata-rata remake berujung pada kegagalan. Jangan-jangan Alter Code F ini juga nantinya gagal dan menyia-nyiakan nama besar Wild Arms?
Graphic (7 / 10)
Saya sempat melihat kualitas grafis dari Wild Arms pertama dahulu. Kelihatannya sudah jelas bahwa kualitas grafis pada Alter Code F jelas lebih baik ketimbang versi originalnya. Perhatikan saja pada dungeon yang ada, kota-kota, sampai pada render karakternya. Semuanya dibuat dengan ukuran yang sebenarnya, berbeda dengan versi awal di mana karakternya digarap dengan render Chi-Bi.
Walau begitu, saya yang pernah memainkan Wild Arms 2 dulu kok merasa kalau kualitas grafis Wild Arms 2 lebih cocok untuk selera saya. Apalagi karena Alter Code kelihatannya masih inferior dibandingkan dengan RPG PS2 yang dirilis bersamaan dengannya (bandingkan saja dengan Final Fantasy X yang sudah dirilis beberapa tahun sebelumnya).
Perubahan paling mencolok, sekaligus mungkin yang paling mengecewakan bagi saya adalah desain karakternya. Wild Arms adalah koboi bung. Garapan desain bernuansa shoujo jelas tidak cocok untuk suasana western Wild Arms. Desain Rudy terutama, kenapa dia malahan terlihat bagaikan seorang anak kecil yang begitu feminin. Saya mencoba menanyakan kepada beberapa teman saya dan kelihatannya kebanyakan dari mereka setuju dengan saya. Untung saja karakter macam Jack dan Cecilia tidak mengalami perubahan yang terlalu mencolok (walau karakter Cecilia di sini konon terlihat kurang tegas dan berwibawa ketimbang Cecilia pada versi orisinilnya).
Sound (8.5 / 10)
Kekecewaan saya ketika menikmati animasi awal yang memiliki nuansa shoujo itu terobati ketika mendengar musiknya. Siulan legendaris opening Wild Arms itu masih ada. Petikan gitar yang menutup opening theme itu juga masih mendenting. Saya sejujurnya sangat lega, karena Wild Arms adalah satu-satunya RPG yang tidak pernah saya mainkan, tetapi saya sangat puas dengan musik-musiknya (Ya, lebih puas bahkan dibandingkan dengan musik Wild Arms 2 dan 3 yang sempat saya mainkan). Saya berani bilang bahkan bahwa musik Michiko Naruke adalah yang terbaik di sini (bukan berarti Wild Arms berikutnya musiknya jelek, mungkin karena Wild Arms ini yang pertama sehingga corak musik yang berbedanya terlihat begitu jelas dan nendang dibanding OST RPG lain pada jamannya).
Ketika saya mencoba masuk World Map dan Battle pun, musik-musik yang saya dapat di sini tidak kalah memorablenya, untuk bagian musik ini, saya rasa tidak berlebihan bagi saya kalau akan memburu OSTnya usai memainkan game ini!
Untuk efek suara lainnya juga digarap dengan baik. Yang paling memorable bagi saya jelas ketika Rudy menembakkan ARM yang ia miliki. Andaikata anda memiliki suara stereo yang menggelegar, bunyi letusan ini jelas akan sangat anda nikmati – apalagi bila dibarengi dengan kematian musuh anda!
Voice Acting dalam game ini masih belum ada, walaupun hal itu bukan suatu yang terlalu signifikan (mengingat Rudy sang karakter utama toh masih ‘bisu’ seperti dulu).
Gameplay (7 / 10)
Inilah yang mungkin mendapatkan sangat banyak perombakan dalam Alter Code F. Sistem dalam game ini banyak mengadaptasi semua game Wild Arms sebelumnya. Contoh yang paling signifikan adalah di World Map anda masih harus menggunakan Search System untuk memunculkan sebuah wilayah di World Map. Maksudnya begini, anda harus mencari informasi mengenai lokasi tertentu. Setelah mendapatkan informasi tersebut, katakanlah “Kota B ada di selatan kota A”, anda bisa menuju ke selatan kota B dan mencoba mencari di sana untuk membuka lokasi itu di World Map.
Untuk pertarungannya sendiri, Wild Arms cukup simpel karena anda bisa menggunakan tiga karakter untuk bertarung. Apabila anda bisa merekrut lima karakter tambahan (Ya! Remake ini membiarkan anda merekrut lima orang yang dahulu konon tidak bergabung secara permanen di dalam grup anda), maka anda bisa bergantian dalam bertarung. Untuk sistemnya sendiri cukup simpel, karena terdiri dari serangan biasa, bertahan, menggunakan item / magic, atau kemampuan khusus. Yang unik, anda tidak bisa lari dari pertarungan malahan bisa continue kalau anda Game Over (dengan menggunakan item tertentu).
Alter Code juga masih sama seperti dulu di mana anda tidak memiliki kebebasan untuk mengkustomisasi equipment dari setiap karakter anda. Sebagai timbal baliknya, game ini membiarkan anda mengkustomisasi kemampuan karakter anda sebebas-bebasnya (kecuali Jack mungkin). Rudy misalnya memiliki kemampuan untuk mengupgrade segala aspek senjata ARM beserta peluru yang ia miliki. Cecilia bisa mendapatkan Guardian ia summon, beserta sihir yang dapat ia gunakan begitu diciptakan. Karakter tambahan yang anda rekrut juga memiliki kemampuan menyerap kemampuan musuh, atau mencuri musuh. Inilah yang nikmat dalam memainkan Wild Arms. Semua karakter memiliki ciri khas mereka sendiri dan bisa bertarung dengan gaya mereka masing-masing tanpa inferior satu sama lainnya.
Keluhan dalam bidang gameplay ini terletak pada random battlenya. Saya tidak tahu apa yang ada di benak developer game ini ketika menyusun persentase random battlenya. Random battle ditandai dengan munculnya tanda seru di atas kepala karakter. Tergantung warnanya, tanda seru ini menandai status awal pertarungan anda.
Merah berarti anda mendapat serangan mendadak di mana anda tidak bisa mengcancel pertarungan tersebut, Hijau berarti anda akan mendapatkan kesempatan untuk menyerang pertama kalinya (Pre-emptive strike), dan Putih adalah pertarungan normal. Anda memang diperbolehkan untuk mengcancel pertarungan asalkan battle itu bukan sebuah serangan mendadak, masalahnya setiap kali anda mengcancel pertarungan, gauge ENC anda akan berkurang sampai habis; tentu saja setelah gauge ini habis, anda tidak bisa lagi mengcancel pertarungan yang ada.
Yang menyebalkan, random encounter dalam game ini ratenya sangat tinggi. Dalam satu dungeon saja, tanpa perlu berputar-putar mencari musuh anda akan mendapati bertarung sekurang-kurangnya 50 kali (bila anda tidak mengcancel pertarungan sama sekali). Anda baru melangkah tiga langkah lantas ada tanda seru di mana anda harus siap bertarung. Selesai bertarung, melangkah tiga kali lagi dan anda siap-siap bertarung lagi. Ini membuat game Alter Code serasa panjang, juga melelahkan.
Untung saja battle demi battle yang seakan tak berujung itu membuahkan hasil yang manis karena jalinan cerita dalam Alter Code masih teruntai dengan apik. Memang perluasan skenario membiarkan kita mengenali karakter yang ada secara lebih mendalam (seperti pada masa lalu Rudy yang kali ini disinggung secara lumayan mendetail). Sayangnya, ada juga imbas bagi perluasan skenario ini. Beberapa teman saya mengeluhkan karakter yang ada dalam game ini menjadi berubah, beberapa karakter yang keren jadi kurang keren, beberapa yang seharusnya tampak dewasa jadi tampak cengeng. Saya sendiri karena tidak pernah memainkan versi orisinilnya menganggap kalau cerita dalam Alter Code F ini menarik-menarik saja.
Longetivity (7 / 10)
Longetivity adalah satu lagi nilai kuat dalam game ini. Ada berbagai subquest yang dipertahankan dari versi orisinil (termasuk sumbangan membangun kota yang ‘mahal’ itu) dan monster-monster kuat yang tersembunyi di seluruh dunia Filgaia, siap untuk anda habisi dan kalahkan.
Anda merasa itu tidak cukup? Ada berbagai item dan puzzle yang berserakan di seluruh dunia, kalau anda cukup telaten, jelajahi setiap bagian dari Filgaia dan temukan harta-harta yang tersembunyi dalam tanahnya. Subquest-subquest ini dijamin membuat petualangan anda ke dunia Filgaia lebih lama ketimbang yang anda harapkan.
Lantas bagaimana panjang game ini sendiri tanpa memakai subquest? Saya sendiri menyelesaikan game ini dalam waktu sekitar 50 jam dengan level yang cukup (berarti tidak sangat rendah sampai saya kesulitan melawan boss terakhir, tetapi tidak cukup tinggi untuk menantang sang dewa monster dalam game ini). Perkiraan saya, game ini akan memakan waktu antara 40 sampai 60 jam apabila anda memainkan game ini tanpa memikirkan ataupun menyelesaikan subquest-subquest yang ada.
Editor’s Tilt (7 / 10)
Hampir semuanya dalam Alter Code ini memuaskan saya sebagai seorang penggemar RPG (ingat, saya tidak pernah memainkan versi orisinilnya!). Jalan cerita Wild Arms simpel tetapi berhasil menghadirkan karakter-karakter yang menggugah hati; walau ada bagian-bagian yang agak membosankan dan terlalu didramatisir.
Nilai minus terutama dalam game ini mungkin hanya terletak pada random battlenya yang terlalu banyak dan puzzlenya. Puzzlenya terlewat sulit? Sebaliknya, karena terbiasa memainkan Lufia 2 dan Wild Arms 2, teka-teki dan puzzle dalam Wild Arms kurang memberi tantangan bagi saya.
Terakhir, adalah ketidakfleksibelan game ini dalam equipment yang ada. Tidak bisa beli senjata, tidak bisa beli armor ataupun accessory, ternyata cukup menganggu bagi saya karena karakter hanya bisa lebih kuat dengan menaikkan levelnya semata. Bisa juga sih dengan cara equip skill, tetapi toh skill juga hanya bisa diequip dengan ‘memakan’ point level anda; pada akhirnya level yang tinggilah yang memungkinkan anda memakai skill sebanyak mungkin sekaligus bertahan di tengah dunia western medieval yang ganas ini!
Average: 7.5
Game Details
Developer: Media Vision
Publisher: Sony
Genre: RPG








