Tag Archive | "Marvel"

Tags: , , , , , ,

Marvel Super Hero Squad

Posted on 20 October 2009 by Si Tukang Review

Marvel Super Hero Squad DS Cover

Marvel Super Hero Squad DS Cover

(Review Based on DS Version)

Sejak DS diluncurkan hingga sekarang sebuah pertanyaan terus menggantung di benak para gamer Nintendo. Hampir semua game-game khas konsol Nintendo sudah dikeluarkan versi DSnya. Untuk Mario Kart ada Mario Kart DS. Begitu juga untuk Super Mario (New Super Mario Bros), Legend of Zelda (Phantom Hourglass), bahkan Metroid Prime (Hunters). Anehnya, salah satu franchise tersukses Nintendo yang merupakan battle royale dari semua karakter-karakter terpopulernya tidak pernah hadir di DS. Kalau kalian sudah bisa menebaknya, kalian benar. Game yang saya maksud adalah serial Brawl. Padahal dengan wi-fi pada DS, kesuksesan dari game ini adalah hal yang tergaransi. Nah, kalau kamu sudah keburu kangen dan ingin merasakan sensasi bermain Smash Bros Brawl pada DSmu, silahkan coba Marvel Super Hero Squad dari THQ. Tapi… bisakah ia memuaskan dahagamu?

Game Marvel Super Hero Squad ini terbagi dalam dua bagian: Story Mode dan Battle Mode. Story Mode membawamu melakoni berbagai karakter di game ini dalam enam skenario yang tersedia. Battle Mode memberi pilihan padamu untuk memilih jagoanmu dan bertempur dengan komputer ataupun pemain lain dalam mode wireless (sayang sekali fitur wi-fi tidak tersedia). Versi DS game ini menyediakan sepuluh karakter Marvel yang pastinya sudah familiar bagi penggemar komiknya. Enam superhero paling top Marvel ambil bagian di sini mulai dari Hulk, Captain America, Iron Man, Wolverine, Thor sampai Spider-man di kubu jagoan (Hero Team). Sebaliknya di pihak para musuh (Lethal Legion) hanya diwakili empat orang: Magneto, Abomination, Mystique dan Dr Doom yang menjadi penggagas dari persatuan para musuh.

Jangan membandingkan game ini dengan Marvel Ultimate Alliance 2 yang juga baru-baru ini dirilis karena dua game ini menyasar target pasar yang sangat berbeda. Game ini didesign untuk para gamer yang lebih muda. Buktinya grafis dalam game ini digambar semua secara chi-bi. Dialognya juga humoris dan penuh canda sehingga kekerasan dalam game ini hampir teredam sepenuhnya. Kalau dalam komik aslinya, mana mau Magneto diperintah-perintah oleh Dr Doom? Atau mana mau Hulk begitu saja mengikuti perintah Iron Man hanya karena ditawari akan dibelikan kue coklat sebagai sogokan?

Bagiku kelemahan terbesar dalam game ini adalah begitu singkatnya waktu permainan menikmati game ini. Saya belum memainkannya lebih dari tiga jam dan sudah bosan dengannya. Story Mode menawarkan enam skenario. Semua skenarionya sangat pendek (sekitar 5 – 10 menit) sehingga memainkan enam skenario dengan tiga tingkat kesulitan yang berbeda pun paling-paling akan makan waktu dua hingga tiga jam. Lagipula memainkan Story Mode hanya bertujuan membuka dua karakter unlockable sehingga setelah membukanya kamu dijamin segan memainkan Story Mode lagi. Battle Mode tidak lebih baik. Ada tiga jenis misi yang bisa kamu pilih tetapi hampir semuanya monoton. Yang pertama kamu bisa saling adu pukul sampai menyisakan satu pemenang terakhir. Dua yang sedikit lebih kreatif adalah, yang pertama mendownload data dengan cara berada di sebuah daerah tertentu dan mencegah musuh memasuki daerah tersebut dan, yang kedua menghancurkan / menjaga sebuah barang. Kontrol game yang sebenarnya cukup solid (saya suka dengan ide mereka meletakkan tombol gerakan super di touchscreen) menjadi sia-sia karena karakter-karakter dalam game ini dangkal. Kalau kamu pernah memainkan Super Smash Bros Brawl tentu tahu kalau setiap karakter harus kamu mainkan berulang kali untuk benar-benar tahu tiap gerakannya dan teknik memakainya. Sebaliknya untuk Marvel Super Hero Squad, tiap karakter memiliki move set yang terbatas sehingga setelah memakainya sebentar tidak ada lagi tantangan untuk mendalami karakter tersebut.

Sudah begitu, versi DS ini terasa inferior bila dibandingkan dengan versi konsol maupun versi PSP. Versi-versi tersebut menawarkan hingga 20 karakter – dua kali lipat dari versi DS dan ditunjang dengan grafis yang lebih mumpuni. Yah, saya tidak munafik akan hal ini karena DS memang tidak memiliki kemampuan hardware yang setanding dengan para pembandingnya; tapi memotong sampai SEPULUH karakter? Ayolah THQ, you can do better than that!

Sebagai kesimpulan, bila kalian punya adik kecil yang gemar akan superhero Marvel yang imut dan lucu, game ini akan membuatnya bersorak kegirangan. Sebaliknya bila kamu gamer yang sudah menanti-nantikan sensasi Brawl di DS, maaf tapi dahaga kalian belum bisa dipenuhi game ini.

Final Verdict

Gameplay: 5.0
Saya suka dengan kontrolnya yang sederhana, mudah dipelajari, sekaligus ergonomis dalam peletakan tombolnya. Sayangnya kontrol yang apik tidak dibarengi dengan variasi mode permainan maupun karakter yang cukup.

Graphic / Sound: 5.0
Dunia game ini penuh dengan warna-warna terang sehingga terlihat cerah dan menarik untuk anak-anak. Tiap karakter mendapat render chi-bi yang pas merepresentasikan keimutan mereka tanpa kehilangan sisi gahar mereka. Tetapi grafis in-gamenya kurang bagus. Yang paling kupermasalahkan adalah bagaimana mungkin Agen AIM Dr Doom dan Agen SHIELD Iron Man memiliki design yang serupa? Suara game ini pun direduksi hingga tinggal teriakan-teriakan “Hero Up!” maupun “Lethal Legion” dari variasi jagoan atau musuh.

Play Time: 2.0
Game ini benar-benar sangat pendek. Saya menyelesaikan enam skenario dalam game ini dengan tiga level kesulitan (Easy, Medium, Hard) dalam waktu dua jam lebih sedikit. Tidak adanya fitur wi-fi makin mengurangi waktu main game ini. Walau ada fitur download game pada DS lain, tidakkah lebih enak bila saya bisa bertanding melawan orang di seluruh dunia dari kamar saya sendiri?

Overall: 4.0

Game Details
Developer: THQ
Publisher: THQ
Genre: Action / Fighting

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer

Posted on 25 September 2009 by Si Tukang Review

Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer

Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer

Fantastic Four kembali hadir di tahun 2007 ini. Semenjak minggu pertama di mana Fantastic Four pertama mampu meraup lebih dari 50 Juta USD, semua kru dan sutradara langsung dikontrak untuk menggarap film keduanya. Hasilnya adalah Fantastic Four 2 memasukkan semua karakter pendukung yang lama dengan menambahkan karakter pendukung yang sangat familiar di mata para penggemar komik Fantastic Four: Silver Surfer dan Galactus.

Sebuah fenomena aneh tengah terjadi di dunia. Mendadak saja daerah demi daerah tertentu membeku tanpa hal yang jelas. Teluk di Jepang membeku total secara mendadak, Los Angeles mengalami blackout total, apa yang sebenarnya tengah terjadi? Entahlah – karena dunia tidak mementingkan fenomena seperti itu; palingan El Nino atau Global Warming begituan kan? Ketimbang fenomena aneh seperti itu, lebih menarik mengikuti perkembangan pernikahan abad ini di mana Mr. Fantastic alias Reed Richards akan mencoba meminang kembali Susan Storm si Invisible Woman! Mencoba kembali?

Betul, karena halangan-halangan yang selama ini terjadi sudah tiga kali mereka mencoba menikah dan gagal melulu. Reed Richards sendiri berusaha menepis keingintahuannya untuk mengecek fenomena aneh yang terjadi di dunia demi memfokuskan hatinya pada pernikahan yang akan ia jalani. Toh, ketika pemerintah di bawah pimpinan General Hager memintanya untuk membuat alat pelacak fenomena aneh yang tengah terjadi, Reed tidak bisa lagi menahan hasratnya. Apa yang ditangkap oleh sensor yang digarap oleh Reed adalah sesuatu yang mengerikan di luar bayangannya.

Fantastic Four kini berhadapan dengan sebuah musuh bernama Silver Surfer. Tidak hanya cepat dan kuat, Silver Surfer ini bahkan mampu mengacaukan sistem genetik di dalam tubuh mereka. Terbukti ketika Human Torch berhadapan melawannya satu lawan satu, sang musuh mampu merusak sistem genetik tubuhnya dan membuatnya radiasi dalam tubuhnya tidak stabil. Apa yang bisa melawan Silver Surfer? Dan apa yang bisa dilakukan oleh Fantastic Four kalau Silver Surfer sendiri hanyalah abdi dari musuh yang lebih besar… sang pemusnah planet: Galactus!

Fantastic Four pertama mendapatkan cercaan penggemar setia komik karena dirasa menyelewengkan konsep Fantastic Four yang penuh fantasi dan penuh petualangan luar angkasa menjadi drama keluarga superhero yang penuh banyolan. Sebaliknya, banyak penggemar baru merasa puas karena Fantastic Four menawarkan aspek yang hampir tak pernah disentuh oleh superhero lain, komedi dengan balutan kehidupan keluarga di dalamnya. Tim Story tampaknya berusaha menjembatani kedua hal ini dalam film keduanya. Hasilnya? Sebuah film yang tak mengharuskan banyak berpikir dan pas untuk summer – menghibur!

Paruh pertama film ini digarap dengan teliti oleh Tim Story untuk memperkenalkan kembali karakter-karakter Fantastic Four kepada kita. Kita diajak melihat kehidupan Fantastic Four yang sudah makin stabil dengan status mereka sebagai superhero – dan bagaimana mereka sudah bisa menerima kehidupan mereka yang tidak normal tetapi fantastis. Toh, tetap ada ruang untuk pergumulan di dalam hati mereka. Kalau film pertama memfokuskan kepada The Thing yang perubahannya paling jelek dibanding anggota lainnya, film kedua ini lebih memprioritaskan pasangan Reed dan Susan di paruh pertama sebelum bergerak menyorot Johnny di paruh keduanya.

Saya angkat jempol untuk karakterisasi kru Fantastic Four – tapi tidak demikian halnya dengan Dr. Doom dan Silver Surfer. Dr. Doom di sini perannya berkurang banyak dan peran yang minim ini pun tidak ditunjang skrip yang baik. Hasilnya Dr. Doom yang seharusnya salah satu penjahat tergarang dunia Marvel menjadi terlihat bagaikan anak mama yang tidak mau kehilangan mainan barunya di film ini. Silver Surfer sendiri lebih baik, tapi karena jarang berbicara, apa boleh buat? Mau tidak mau banyak aspek yang seharusnya bisa tergali gagal sudah dituangkan di film ini. Bicara soal efek, Fantastic Four menyajikan efek yang makin jor-joran di film kedua ini. Yang paling menarik di mata saya tentu saja adalah aerial chase yang dilakukan Human Torch kepada Silver Surfer; penampilan Silver Surfer sendiri yang digarap melalui CG komputer tampak meyakinkan dan hidup.

Mengingat sekuel ini juga sukses secara komersil, besar kemungkinannya bahwa Marvel akan sekalian menggarap satu lagi serial Fantastic Four untuk menggenapkannya menjadi sebuah trilogi. Sudah melawan Dr. Doom dan Silver Surfer… apa sekarang giliran Namor dengan Atlantisnya yang akan menjadi musuh dari Fantastic Four selanjutnya?

Score: 6.3

Movie Details
Director: Tim Story
Cast: Ioan Gruffudd, Jessica Alba, Chris Evans, Michael Chiklis, Julian McMahon
Running Time: 94 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , ,

Disney Buy Marvel – My Thought

Posted on 04 September 2009 by Si Tukang Review

Berita terbesar dunia hiburan beberapa hari belakangan ini hanya satu: Disney membeli Marvel dengan harga USD 4 Milyar. Itu adalah pembelian terbesar dari Disney setelah sebelumnya membeli studio Pixar seharga USD 7.4 Milyar. Walau pembelian dari Disney kali ini jauh lebih kecil ketimbang saat mereka membeli Pixar, tidak semua pihak mengatakan pembelian yang dilakukan Disney kali ini langkah yang bagus. Ada pihak yang memuji (dan sudah banyak fanart di internet mengenai bagaimana kemungkinan kerjasama keduanya) tetapi ada juga yang mengkritik sampai mengatakan bahwa langkah Disney kali ini adalah blunder besar.

Beverly Hills Wolverine?

Beverly Hills Wolverine?

Kenapa timbul pendapat seperti itu? Hal ini mungkin karena di awalnya Pixar memang sudah bekerja sama dengan Disney sehingga ketika mereka hendak melepaskan diri dan berdiri independen, Disney bergerak cepat untuk langsung mengambil mereka. Disney juga sinonim dengan dunia kartun sehingga mengambil Pixar yang adalah studio animasi terbaik dunia saat ini merupakan langkah yang tepat. Ini berbeda dengan Marvel. Walaupun komik Marvel ditujukan untuk pangsa pasar anak muda cowo, pasar film mereka sedikit berbeda dengan Disney – begitu pikir banyak orang.

Tetapi bagi saya pemikiran tersebut adalah pemikiran yang dangkal.

Disney adalah kaisar dari dunia hiburan yang tak tergoyahkan. Dan yang terpenting: Disney tidak sinonim dengan anak kecil dan kartun saja. Sebagai contoh, selain Pixar, Disney juga memiliki studio film Buena Vista. Buena Vista memang merilis beberapa film anak-anak seperti G-Force atau Enchanted, tetapi mereka juga menghasilkan film-film dewasa seperti The Village (karya M. Night Shyamalan) dan Pirates of the Caribbeans (film pertama Jack Sparrow mungkin buat keluarga – tapi film kedua dan ketiganya? Nanti dulu!). Diversifikasi dari Disney makin terlihat jelas dengan studio ABC yang juga di bawahnya. Ini adalah studio TV yang menghasilkan serial seperti Lost dan Desperate Housewives, satu lagi tanda kalau Disney berani membidik kaum dewasa seperti dia membidik kaum anak-anak.

Dengan begitu banyaknya media yang disediakan Disney, saya rasa makin banyak lagi properti Marvel yang bisa disajikan di layar lebar. Satu poin pesimistis yang saya dengar dari banyak orang adalah bagaimana mereka mengatakan bahwa Marvel yang dibeli Disney tidak lengkap sebab dua peraup dollar utama mereka kini dikuasai oleh studio lain. Tidak salah. Franchise Spider-man sekarang dipegang Sony (yang triloginya mengeruk hampir USD 3 Milyar) sementara X-Men dipegang oleh 20th Century Fox (yang franchisenya mengeruk hampir USD 2 Milyar dengan perilisan spin-off Wolverine tahun ini). Tapi saya rasa Disney berani menatap masa depan, mereka tahu bahwa cepat atau lambat properti itu akan kembali ke tangan empunya – Marvel – dan dalam arti lain juga akan jatuh ke tangan mereka. Spider-man 4 mungkin lepas, tapi bagaimana dengan film-film manusia laba-laba atau mutant-mutant yang selanjutnya?

Kingdom Hearts IV - Square Enix + Marvel + Disney

Kingdom Hearts IV - Square Enix + Marvel + Disney

Bahkan sekarang pun Disney bisa mengambil franchise-franchise Marvel lainnya. Iron Man, Thor, Captain America, sampai film mega proyek Marvel The Avengers sangat mungkin sekali akan diedarkan nanti di bawah bender Buena Vista. Ingat bahwa film Iron Man yang pertama sepenuhnya diproduseri oleh Marvel (pengedaran dilakukan oleh Paramount yang kemudian mengambil beberapa persen komisi keuntungan). Disney yang menaungi Marvel kini tentunya memiliki hak mengedarkannya. Dan masih ada segudang konsep dalam dunia Marvel yang masih menunggu penayangan ke layar lebar. The Runaways, Deadpool, Black Panther, Luke Cage, banyak sekali superhero Marvel yang sangat berpotensi untuk diangkat. Ingat, Marvel bukan DC. Sementara DC melulu mengajukan Superman dan Batman untuk memuaskan penonton, Marvel berani bereksperimen dan mengirimkan superhero kelas A sampai C mereka. Kadang pertaruhan ini gagal dengan Elektra, tetapi acap kali mereka berhasil dengan superhero kelas C seperti Daredevil dan Ghost Rider mendapat status box office.

Kini dengan dibelinya House of Ideas oleh The Magic Kingdom, the possibility is limitless. Seberapa besar ini akan mengubah wajah dunia entertainment di tahun-tahun berikutnya, mari kita nantikan saja bersama.

Comments (2)

Tags: , , , ,

X-Men Origins: Wolverine

Posted on 04 April 2009 by Si Tukang Review

X-Men Origins: Wolverine Poster

X-Men Origins: Wolverine Poster

Sebelumnya, saya hendak menyatakan bahwa review film X-Men Origins: Wolverine (Wolverine) ini berdasarkan versinya yang bocor ke internet beberapa hari lalu. Buat mereka yang penasaran dengan kualitas bocorannya: beberapa adegan aksi dalam film ini (terutama di penghujung film) masih belum dipoles CGInya juga dalam beberapa adegan tampak belum diedit (safety rope misalnya masih terlihat di sana-sini). Kendati begitu secara keseluruhan film ini sudah 80% selesai dan bisa ditonton.

Setelah trilogi X-Men dirasa sulit untuk dikembangkan lebih lanjut, tidak berarti Fox kehabisan akal untuk mengembangkan franchisenya. Kali ini, mereka berusaha menggali lebih lanjut karakter Logan alias Wolverine. Wolverine memang sosok terunik di X-Men. Masa lalunya yang misterius (dan di komik sendiri detailnya masih penuh kontradiksi) memberinya warna tersendiri.

Kehidupan Logan diawali sejak tahun 1845 ketika ia menyadari bahwa ia berbeda dengan orang lain. Bersama sang kakak Victor (nantinya dikenal sebagai Sabretooth), keduanya melarikan diri dan bergabung dari satu perang ke perang yang lain karena memiliki kemampuan tak bisa mati. Di jaman modern, kemampuan duo ini mengundang perhatian dari militer William Stryker. Stryker mengundang keduanya bergabung dalam tim khususnya. Tak tahan dengan kekejaman Stryker, Logan memutuskan untuk keluar dan memulai kehidupan tenang.

Tak terima dengan keputusan sang adik untuk keluar, Victor pun marah dan memburu Logan. Ia menghabisi pacar adiknya dan menghajar Logan yang berusaha melawan. Dibakar api dendam, Logan pun menyetujui dijadikan kelinci percobaan oleh Stryker. Percobaan inilah yang nantinya mengubah dia menjadi Wolverine yang kita kenal sekarang ini. Lantas, apakah Wolverine sukses balas dendam?

Cerita origin dari Wolverine tidak melulu menekankan pada aksi. Terdapat cukup banyak adegan drama yang menyelingi adegan-adegan aksinya. Adegan drama ini cukup efektif untuk membangun karakter Logan. Sebagai penonton, kita diajak untuk bersimpati dengan Logan yang sebenarnya hanya ingin hidup damai – tapi terus menerus diganggu. Dua jempol untuk Hugh Jackman. Di tangannya, Logan bak pedang bermata dua. Ia adalah sosok yang bersimpati dengan orang lain, tetapi takkan segan menghabisi musuh bila diperlukan. Sungguh sosok anti-hero sejati.

Bicara soal musuhnya, ada dua nama yang menarik perhatian di film ini. Yang pertama tentu saja Liev Schreiber sebagai Sabretooth. Pengungkapan jati dirinya sebagai kakak Logan mungkin membuat beberapa orang mengernyitkan dahi – tetapi plot ini efektif untuk membuat hubungan keduanya terasa berarti. Terlebih karena Schreiber dan Jackman memiliki chemistry yang apik di layar. Musuh kedua adalah William Stryker; bagi yang menonton X-Men 2: United mungkin tahu kalau kiprah Stryker takkan berakhir di penghujung film, tetapi Danny Huston tetap berhasil membuatnya sebagai karakter villain yang berkesan.

Selain para X-Men muda yang nongol di film ini (bahkan ada Emma Frost muda!), sosok mutant yang paling menyedot perhatian tidak lain tidak bukan Remy LeBeau alias Gambit. Banyak orang bertanya kenapa karakter keren ini tidak pernah masuk dalam jajaran trilogi X-Men sebelumnya. Nah, jawabannya mungkin bisa kamu dapatkan melalui film ini.

Pada akhirnya, Wolverine bisa jadi menjadi film spin-off superhero yang paling sukses kalau dibandingkan dengan Supergirl, Catwoman, ataupun Elektra. Bila benar demikian, jangan heran bilamana di tahun-tahun mendatang kita bakalan dihadiri spin-off lain para mutant. Kabarnya sih X-Men Origins: Magneto juga telah dipersiapkan!

Score: 7.7

Movie Details
Director: Gavin Hood
Cast: Hugh Jackman, Liev Schreiber, Ryan Reynolds, Dominic Monaghan, Taylor Kitsch
Running Time: 97 Minutes

Comments (17)

Tags: , , ,

Ghost Rider

Posted on 23 March 2009 by Si Tukang Review

Ghost Rider Poster

Ghost Rider Poster

Menggarap sebuah film superhero bukan pengalaman baru bagi Mark Steven Johnson. Sebelum Ghost Rider, Johnson pernah menangani film superhero kelas dua Marvel yang lain: Daredevil. Walaupun saya secara pribadi enjoy saja mengikuti Daredevil; tidak demikian halnya dengan kritik yang sibuk mencerca Johnson karena dianggap mengkhianati esensi dari film Daredevil yang seharusnya ‘gelap’. Ketika Johnson ditunjuk sebagai sutradara dari film Ghost Rider, para penggemar berat Ghost Rider ikut khawatir kalau Johnson akan membuat film ini menjadi film ‘ceria’ untuk film yang seharusnya gelap.

Pertemuan pertama Johnny Blaze dengan Mephistopheles tidak bisa dibilang sebuah pengalaman yang menyenangkan untuknya. Mephistopheles menawari Johnny Blaze sebuah janji untuk menyelamatkan ayahnya yang terkena kanker. Johnny muda menerima tawaran Mephistopheles dengan ragu. Ayahnya memang selamat dari kanker – untuk kemudian meninggal dalam kecelakaan pada hari yang sama. Walau begitu, sebuah janji tetap janji, jiwa Johnny Blaze sudah berada di genggaman tangan Mephistopheles. Mulai dari hari itu Johnny Blaze berusaha untuk mencari jawaban mengenai eksistensinya. Jawabannya datang beberapa tahun kemudian. Ketika Blackheart memberontak dari ayahnya, Mephistopheles memutuskan bahwa Johnny harus menjadi Ghost Rider untuk menghentikannya. Tugas ini tentu tidak mudah, mengingat Blackheart tidak sendiri. Ia telah membawa tiga rekan-rekan iblisnya yang memiliki berbagai kemampuan mengerikan. Berhasilkan Johnny Blaze mengalahkan semuanya sekaligus menebus jiwanya dari Mephistopheles?

Saya tidak pernah membaca komik Ghost Rider sehingga mau tidak mau mengikuti jalan cerita dalam film ini terasa lebih mudah. Saya menerima mentah-mentah asal-usul bagaimana Johnny Blaze menjadi Ghost Rider. Film ini sayangnya juga terasa mentah menjelaskan segala sesuatu dalam film ini. Asal usul Ghost Rider tidak pernah dibahas secara lebih mendalam. Karakter-karakter penjahat macam Blackheart, Mephistopheles, dan lainnya pun tidak pernah dibahas lebih mendalam. Akibatnya kita tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh mereka. Bandingkan dengan Spider-man di mana karakter penjahat dimainkan dengan begitu berkarismanya oleh Alfred Molina atau Willem Dafoe.

Penggalian karakter sepanjang film pun terasa dangkal dan kurang menarik. Johnny Blaze sebagai Ghost Rider ditampilkan dengan culun dan lucu oleh Nicolas Cage. Toh walaupun demikian bagaimana dia mengungkapkan rahasianya masih saya anggap sebagai cara unmasking terlucu yang pernah saya tonton di film superhero selama ini. Karakter seperti ayah Johnny juga tampil sekilas dan tidak berkesan. Eva Mendes? Setali tiga uang, kecantikannya sajalah yang membuat saya memandangi dia di layar. Dia tidak lebih dari gadis pemanis layar yang tidak perlu mengerahkan kemampuan aktingnya sama sekali. Dan sekali lagi karakter penjahatnya yang terlalu banyak membuat kita tidak terkesan dengan satupun di antara mereka. Sedikit spoiler: duel terakhir malahan mengingatkan saya dengan Terminator 2.

Apakah saya kecewa dengan Ghost Rider? Tidak juga. Ada banyak hal positif dalam film ini seperti teknologi 3Dnya yang sangat mantap. Gosip mengatakan bahwa film ini rencananya diluncurkan saat summer tahun 2006 lalu. Karena ingin memoles CGnya lebih apik lagi, budgetnya membengkak dan diluncurkan pada tahun 2007. Walhasil tampilannya jauh lebih mantap ketimbang Daredevil atau Elektra, Ghost Rider bisa dibilang bersaing secara gagah dengan superhero sekelas Hulk atau Batman Begins dalam hal efek. Secara keseluruhan saya rasa malahan penonton awam yang akan terhibur dengan film Ghost Rider yang sekali lagi sukses didegradasikan oleh Mark Steven Johnson menjadi popcorn movie. Mereka yang benar-benar mengikuti jalan cerita komik Ghost Rider dan kritikus yang haus akan film-film berkualitas akan kecewa dengan Ghost Rider yang tampil dangkal dan sederhana sekaligus berbeda dengan komiknya yang atmosfirnya jauh lebih gelap (saya memang tidak baca Ghost Rider secara detail – tapi crossover Ghost Rider dengan komik lain pernah saya baca). Bagaimana dengan pendapatku mengenai film ini? Mengubah sedikit kata-kata Ghost Rider “I’m the one who can enjoy both type of movie“.

Score: 7.0

Movie Details
Director: Mark Steven Johnson
Cast: Peter Fonda, Nicolas Cage, Eva Mendes
Running Time: 114 Minutes

Comments (5)

Tags: , , , ,

The Ultimates 3

Posted on 09 February 2009 by Si Tukang Review

The Ultimates 3 Cover

The Ultimates 3 Cover

Writer: Jeph Loeb
Penciller: Joe Madureira
Publisher: Marvel Comics

Kalau bicara mengenai Ultimate Universe di dunia Marvel, penggemar komik pasti akan menyebutkan dua titel berkualitas di dalamnya. Yang pertama adalah Ultimate Spider-man yang ditangani oleh Brian Michael Bendis, dan yang kedua adalah The Ultimates (The Avengers-nya dunia ini) yang digarap oleh Mark Millar. Keduanya adalah penulis unggulan Marvel, dan bukan hal yang mengherankan kalau dua serial ini menjadi pilar penopang Ultimate Universe. Maklum saja, setelah dianggap sebagai point permulaan yang fresh di awal-awal peluncurannya, lama-kelamaan orang mulai merasa bosan dengan Ultimate Universe – apalagi setelah Ultimate Fantastic Four dan Ultimate X-Men ceritanya mulai dinilai ruwet dan tidak lagi bisa diikuti pembaca baru.

The Ultimates secara khususnya selalu mendapatkan perhatian dari para pembaca setiap kali akan rilis. Kenapa? Itu disebabkan karena format The Ultimates tidak seperti komik bulanan lainnya. The Ultimate digarap dalam format seperti TV series. ‘Season pertama’ dan ‘Season kedua’nya masing-masing ‘hanya’ berjumlah 12 volume. Mark Millar dan Bryan Hitch merupakan kombinasi sempurna dalam menghadirkan apa yang disebut banyak orang sebagai ‘versi sempurna hadirnya The Avengers ke layar lebar’. Terbukti beberapa adegan dalam The Ultimates dicomot mentah-mentah masuk ke layar lebar Marvel (seperti Nick Fury yang adalah Afro-American, atau Bruce Banner yang melompat keluar dari helikopter demi menjadi Hulk).

Memasuki season ketiganya, banyak orang merasa cemas dengan perubahan tim penggarap The Ultimates. Mark Millar dan Bryan Hitch cabut supaya bisa lebih fokus pada serial Fantastic Four. Sebagai penggantinya, hadirlah Jeph Loeb sebagai penulis dan Joe Madureira sebagai sang ilustrator. Sekilas lalu, nampaknya dua nama ini sama berkilaunya dengan sang pendahulu. Loeb adalah nama di balik komik besar macam Superman / Batman, Batman: Hush, juga eksekutif produser bagi Heroes dan Smallville. Joe Madureira? Tak perlu ditanya lagi, orang inilah yang memperkenalkan style campuran goresan anime dan kartun di Amerika. Wizard Magazine bahkan sempat menyebutnya sebagai salah seorang ilustrator paling berpengaruh!

Tapi lihat lebih dalam lagi, dan pecinta sejati dari kedua season sebelumnya The Ultimates akan sadar bahwa kedua tim ini sama sekali berbeda. Apabila Millar adalah jagonya menulis graphic novel bertema politik (sesuatu yang sangat pas diusung oleh The Ultimates), Loeb ‘hanya’ jagoan menuliskan kisah-kisah bombastis tanpa otak. Kalau mau dibandingkan dalam sutradara dunia film; Mark Millar adalah seorang Christopher Nolan – sementara Jeph Loeb adalah seorang Michael Bay. Serupa tak sama dengan sang ilustrator; Hitch jagonya menampilkan struktur anatomi normal yang cocok dengan dunia bersetting realistis, sementara Madureira sering mendapat cercaan karena karakter cowonya kebanyakan hormon dan karakter cewenya kebesaran – maaf – dada.

Kekhawatiran saya – dan banyak pembaca lainnya – terbukti setelah membaca edisi demi edisi The Ultimates 3 ini. Loeb gagal mengerti dasar-dasar karakter yang sudah ditata dengan amat baiknya oleh Hitch. Karakter-karakter yang tadinya penuh ‘nyawa’ dan bersimpati ini berubah menjadi ‘robot’ (buat yang sudah membaca – ya, kata-kata itu disengaja) yang berbicara sepatah dua patah kata one-liner yang sok cool. Apa hasilnya cool? Sama sekali tidak. Yang ada malah membuat karakternya terasa norak dan tidak seperti mereka.

Apabila ada hal yang patut disyukuri dari season ketiga ini, itu adalah Marvel dengan cepat menyadari kesalahan mereka dan membatasi season ketiga ini hanya pada volume kelima saja. Memang mereka tetap menyerahi Jeph Loeb menggarap Ultimatum (cross-over terbesar Ultimate Universe yang berawal dari ending The Ultimates 3 dan Ultimate Origins), tetapi para petinggi Marvel kembali mengontrak duet Millar – Hitch untuk menggarap season keempat dari The Ultimates. Saran saya? Baca dua season awal The Ultimates, hindari season kali ini – dan tunggu season keempat hadir. Season ketiga ini hanya cocok untuk mereka yang hendak mengenang kembali Madureira yang kembali ke dunia komik setelah sekian tahun absen dari industri yang membesarkan namanya itu.

Score: 2.5

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Secret Invasion

Posted on 21 January 2009 by Si Tukang Review

Secret Invasion Cover

Secret Invasion Cover

Writer: Brian Michael Bendis
Penciller: Leinil Yu
Publisher: DC Comics

Ketika Civil War berakhir tahun 2006 lalu, saya (dan saya rasa banyak pembaca komik lainnya) berpikir “This is it. Inilah event komik terbesar dekade. Mustahil membayangkan ada event komik lain yang bisa lebih besar, dahsyat, atau orisinil lagi ketimbang ini”. Dan hanya dalam hitungan bulan pendapat saya terhapus oleh Marvel. Diawali dengan berubahnya Elektra menjadi sosok alien Skrull dalam akhir New Avengers #31. Seketika itu bulletin board yang mendiskusikan komik US langsung gempar. Semua sibuk mempertanyakan siapa saja yang sudah menjadi Skrull? Siapa yang masih bisa dipercaya – dan siapa yang tidak?

Tema dalam Civil War adalah para superhero yang bertikai antara mereka sendiri. World War Hulk mengangkat aksi murni Hulk yang mengamuk menghadapi seluruh hero Marvel. Sekarang Secret Invasion berusaha memvisualisasikan ide sederhana Bendis ‘Skrull adalah alien yang sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat amat berbahaya. Mereka bisa menyusup di antara manusia, mutant, bahkan superhero tanpa terdeteksi. Selama ini Skrull selalu menyerang secara frontal dan selalu gagal. Bagaimana kalau sekarang mereka menyusup di tengah para superhero dan menyebabkan perpecahan di antara mereka? Bagaimana kalau invasi mereka berjalan diam-diam dan rahasia?’.

Apa yang membedakan Secret Invasion dengan kedua event besar sebelumnya adalah Brian Michael Bendis yang mengepalai proyek ini mengatakan bahwa benih-benih invasi sudah disiapkan dari jauh hari sebelumnya. Dia bahkan berani berkoar bahwa benih dari invasi sudah disiapkan sejak New Avengers edisi pertama. Rumor yang terus bersirkulasi akhirnya terkuak lebar begitu Secret Invasion dimulai pada awal tahun ini. Bagaimanakah kualitas dari crossover event Marvel yang baru saja berakhir minggu lalu?

Saya menutup Secret Invasion #8 dengan perasaan yang kurang puas. Segala janji besar Bendis bahwa Secret Invasion akan menjadi awal dari masa-masa gelap di Marvel Universe (Secret Invasion diikuti dengan event Dark Reign) rasanya kurang greget dan tidak terpenuhi. Bahkan, tidak sekalipun saya rasa Secret Invasion (sepanjang serial ini berlangsung) berhasil memenuhi gregetnya. It’s like Bendis overpromised and under-deliver. Sebelum menuding bahwa saya bersikap subyektif, Bendis adalah salah seorang dari tiga penulis graphic novel favorit saya (the other two are: Mark Millar and Geoff Johns). Dialog-dialog tajam yang menjadi ciri khasnya saat menggawangi Avengers Disassembled, House of M, sampai Ultimate Spider-man entah kenapa juga absen di sini.

Masalah terbesar dari Secret Invasion adalah pola penceritaan dari Bendis. Latar belakang dari bagaimana Skrull melakukan invasi kebanyakan diceritakan di tie-in macam New Avengers dan Mighty Avengers. Di seri utamanya sendiri, Bendis hanya sibuk menjelaskan proses terjadinya invasi dan menyajikan big fight antara the heroes and the villains. Celakanya, sebagus apapun konversi pikiran Bendis yang digambar Leinil Yu (dia banyak berkembang. Perhatikan artworknya saat dia menggambar Superman Birthright dan bandingkan dengan karyanya sekarang), Bendis tidak pernah seorang maestro dalam adegan-adegan aksi.

Akhir kata, Secret Invasion alih-alih menjadi crossover terbesar Marvel yang bisa bersanding sejajar dengan Civil War malah menjadi invasi melempem. Better luck next time Bendis!

Score: 6.5

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here