Tag Archive | "Martian"

Tags: , , , , , , ,

DC: The New Frontier

Posted on 30 April 2010 by Si Tukang Review

DC: The New Frontier #1 Cover

DC: The New Frontier #1 Cover

Inilah kisah komik yang mendasari animasi Justice League: The New Frontier. Semula saya menyangka bahwa perubahan judul pada animasinya semata-mata dikarenakan nama Justice League mau dibekenkan kembali oleh DC seiring meredup pamornya setelah berakhirnya serial TV Justice League Unlimited. Setelah saya membaca komiknya, saya merasa bahwa pandangan saya itu tidak sepenuhnya tepat. Apabila animasinya berfokus pada karakter-karakter kunci di Justice League (walaupun anggota sekundernya) seperti Flash, Green Lantern, dan Martian Manhunter; maka fokus di komiknya ini lebih menyeluruh. Saya baru mengerti kenapa karya Darwyn Cooke ini dianggap modern classic di kalangan penggemar komik. The New Frontier ini memang menjembatani dua era emas dan perak dunia DC; sebut saja kalau mau, the missing link.

Meringkas garis besar dari komik ini sulit, karena komik ini sendiri merupakan gabungan cerita dari banyak karakter. Beberapa elemennya sudah diadaptasi ke versi animasinya, terutama cabang cerita Hal Jordan dan Martian Manhunter. Beberapa lagi seperti kisah John Wilson (Steel yang pertama) atau The Losers terpaksa dikorbankan. Saya menyayangkan absennya kisah-kisah tersebut karena sebenarnya itu merupakan medium yang tepat memperkenalkan karakter-karakter DC yang kurang terkenal ke pemirsa yang lebih luas. Satu yang terutama saya sayangkan adalah kisah John Wilson. Kematian John Wilson di tangan anggota para Ku Klux Klan (golongan rasis terhadap kulit hitam) merupakan sebuah momen yang sangat kuat di komiknya. Di animasinya, segmen John hanya mendapat sedikit sentilan di epilognya. Mengecewakan. Apa karena animasi dipasarkan kepada anak-anak sehingga isu rasial masih sensitif? Then again, kenapa segmen di mana Hal Jordan meledakkan kepala seorang anak Korea bisa masuk?

Cerita utamanya sendiri sama. Bahwa ada ancaman besar terhadap dunia (atau tepatnya tanah Amerika) lewat sebuah kekuatan bernama The Center, dan bagaimana para superhero dan pemerintah yang tadinya bersitegang harus menyingkirkan perbedaan mereka untuk melawan musuh yang sama. Secara pribadi, saya sebenarnya merasa bahwa Darwyn Cooke hendak menyindir sikap Amerika belakangan ini karena setelah diserang pasca 9/11 Amerika seakan-akan hanya bisa bersatu kembali lagi menghadapi musuh yang sama. Satu hal yang saya sayangkan adalah pertempuran melawan The Center semuanya terbatas pada tanah Amerika – padahal jagoan-jagoan DC bukan hanya datang dari Amerika saja. Saya bisa memaklumi ini di dalam animasinya karena keterbatasan waktu dan budget, tetapi absennya kekuatan negara lain dalam memerangi pulau raksasa yang hidup dan mengeluarkan dinosaurus di dalamnya terasa menganggu di sini. Nampaknya, sekalipun Darwyn Cooke ingin menyindir Amerika, ia terjebak pada sebuah stereotipe yang menganggap Amerika masihlah satu-satunya negara superpower di dunia… sesuatu yang tidak relevan di jaman itu (ada Uni Soviet) maupun jaman sekarang (ada Cina dan persekutuan Uni Eropa).

Salah satu keunikan dalam komik ini adalah gaya gambarnya yang merupakan hibrid dari era klasik dan era modern. Gaya menggambar Darwyn Cooke memang old school tapi hasilnya pas dengan nuansa tahun 1940-1960an yang diusung oleh mini-seri ini. Bahkan untuk mereka yang merasa ceritanya terlalu membingungkan, goresan gambar Darwyn Cooke bakal menjadi satu yang akan kalian kenang karena keindahan dan kekhasannya. Pun saya suka dengan permainan warna yang dipakai oleh Darwyn Cooke di sini. Beragam warna – seakan menggambarkan keanekaragaman dunia DC.

So my verdict is… kisah DC: The New Frontier tidak akan bisa menjaring banyak pembaca non-komik baru, terutama karena begitu ribetnya kisah mitologi DC yang diangkat di sini. Dalam hal ini, versi animasinya lebih berhasil karena menyederhanakan plot cerita yang rumit. Toh bila kamu seorang pembaca komik Amrik pada umumnya dan penggemar komik DC pada khususnya, DC: The New Frontier adalah kisah yang harus kamu baca untuk tahu lebih dalam mengenai sosok-sosok pahlawan yang kamu kenal di hari ini. Oh ya, dan pastikan kamu tahu lebih dalam mengenai sejarah Amerika dan dunia sebelum membacanya. Kalau perang dingin, nama Eisenhower, atau space race tidak kamu mengerti seluk beluknya, kamu bakalan ‘hilang’ membaca kisah ini.

Score: 9.0

Graphic Novel Details
Writer: Darwyn Cooke
Artist: Darwyn Cooke
Publisher: DC Comics
Volume: 01 – 06

Comments (2)

Tags: , , , , , , , , ,

Smallville: Absolute Justice

Posted on 13 February 2010 by Si Tukang Review

Smallville: Absolute Justice Promo Poster

Smallville: Absolute Justice Promo Poster

And when you show yourself to the world, It will be a different age than ours, Clark – A silver age of heroism. That will start when they look up into the sky at you with hope for tomorrow. You will help everyone embrace it.” – Doctor Fate

Saya ingat beberapa bulan yang lalu mamaku bertanya kenapa saya mendadak melonjak-lonjak girang setelah membuka bagian berita situs Kryptonsite. Mamaku kian kebingungan ketika satu-satunya kata yang keluar dari mulut saya seakan sandi yang tak bisa ia pecahkan “JSA! JSA!

Setelah Geoff Johns sukses memenai Legion season lalu, kru Smallville sekali lagi mengontrak sang penulis terbaik DC untuk menangani sebuah episode mengenai Justice Society America. Seperti halnya Legion of Superheroes, JSA bisa dibilang kumpulan deretan superhero DC kelas B yang kurang terkenal. Mengingat Batman dan Wonder Woman adalah properti kelas A DC yang tak boleh dimunculkan di Smallville, mereka telah berusaha memasukkan berbagai superhero kelas B dalam Smallville. Episode Justice di season enam merupakan salah satu contoh di mana para superhero DC bersatu di bawah pimpinan Clark.

Begitu besarnya hype penonton akan episode yang tadinya diberi nama Society, kru Smallville merombak rencana mereka dan memberi Geoff Johns dua episode bertema JSA. Seakan-akan itu belum cukup untuk mengimbangi hype yang ada, dua episode itu kemudian dijadikan satu dalam even TV Movie spesial yang diberi nama: Absolute Justice. Rating Smallville memang melejit tinggi malam itu dan tercatat sebagai rating tertinggi selama season ini, tetapi bagaimana dengan kualitas tontonannya sendiri?

Chloe meradang dan merasa bahwa akhir-akhir ini grup superhero di bawah pimpinannya selalu bertindak secara independen dan tidak terfokus. Clark sibuk membersihkan kota Metropolis seorang diri, Oliver masih belum pulih benar dari trauma kehidupan superheronya, John masih normal setelah menyerahkan kekuatannya menyelamatkan Clark di season tujuh, dan yang lain seperti Black Canary, Flash, Aquaman, dan Cyborg tidak memberinya update apapun. Di tengah kegeramannya, Chloe dihadang seorang misterius yang memintanya untuk mulai mengumpulkan anggota superhero. Kebingungan bagaimana orang misterius itu bisa tahu mengenai dirinya, Chloe mendadak dilempar ke tempat sampah oleh si orang misterius. Terjadi pertarungan brutal yang berakhir dengan terbunuhnya si orang misterius – belakangan diketahui bernama Sylvester Pemberton.

Ketika Chloe dan Clark menggali lebih dalam mengenai siapa Sylvester Pemberton dan kenapa ia memakai kostum dan senjata aneh saat terbunuh, keduanya menemukan bahwa Sylvester merupakan bagian dari kelompok kriminal yang ditangkap oleh polisi bertahun-tahun lalu. Anehnya, ketika Chloe dan Clark melihat lebih dalam pada file-file orang yang ditangkap itu, mereka menemukan bahwa semua anggota kelompok itu ditangkap dengan tuduhan yang terlalu mengada-ada, bahkan bukti rekayasa dari pengadilan… bahwa kelompok di mana Sylvester tergabung itu tidak lain tidak bukan adalah JSA. Siapa sebenarnya orang yang membunuh para anggota-anggota JSA? Bagaimana nasib JSA sekarang?

Fanboy dalam diri saya hendak memberi episode ini nilai setinggi mungkin dan memujinya sampai ke langit. Tapi sisi lain saya menggugat. Inilah sebabnya saya sengaja menunggu dua tiga hari supaya demam fanboyku mereda dan mencoba menonton episode ini sampai tiga kali sebelum saya (merasa) bisa menilainya secara obyektif.

Poin pertama yang akan saya nilai adalah ceritanya. Seorang fanboy seperti saya pastinya puas dengan episode ini. Geoff Johns rupa-rupanya tahu benar bagaimana memuaskan fantasiku. Mulai dari begitu banyak memorabilia anggota JSA sampai celotehan Doctor Fate mengenai anggota-anggota lain JSA menurutku sangat memuaskan. Apalagi Geoff memberikan kejutan di akhir film ini dengan memperkenalkan sebuah tim baru lagi dalam dunia Smallville.

Selain Bendis di Marvel, saya juga merasa kalau Geoff adalah sosok yang mampu menghidupkan karakter-karakternya melalui dialog mereka; ia melakukannya di Legion, dan ia melakukannya lagi di sini. Pembicaraan antara Chloe dan Courtney / Stargirl di Watchtower menyemenkan perbedaan fundamental antara JSA dan JLA. Apabila Justice League of America adalah tim pemberantas kejahatan maka Justice Society of America adalah keluarga. Poin ini adalah suatu hal yang sangat penting bagi para pembaca komik, dan saya bersyukur Geoff mengikutkannya. Satu lagi dialog yang menjadi highlight episode ini adalah perbincangan Doctor Fate dan Clark, lebih tepatnya bagaimana Doctor Fate memberitahukan kepada Clark mengenai ‘fate’nya sebagai Superman kelak. Dengan kesuksesan The Dark Knight, saya melihat bahwa akhir-akhir ini orang cenderung berpikir Batman keren sementara Superman itu katro. Rasa-rasanya mereka lupa bahwa kalau Batman menghadirkan takut di hati para penjahat, Superman adalah sumber inspirasi. Superhero mana lagi yang membuat kamu melihat ke angkasa dan merasakan adanya harapan?

Bagaimanapun, saya harus obyektif. Semua kelebihan penulisan Geoff tadi hanya bisa dimengerti oleh orang yang sungguh tahu mitologi DC; terutama yang berkaitan dengan JSA dan Superman. Untuk orang yang tidak tahu apa-apa, mereka saya jamin akan kebingungan dengan celotehan aneh Doctor Fate lantas menganggapnya sebagai orang sinting semata. Atau ketika Hawkman menjelaskan mengenai bagaimana dirinya kehilangan Hawkgirl yang seakan terlalu menyimpang (baca: tidak logis) dari dunia Smallville. Yang paling fatal adalah kegagalan Geoff menjelaskan mengenai motivasi sang penjahat dalam episode ini. Lain dari balas dendam, Geoff mencoba memasukkan sebuah gambaran akan ancaman yang lebih besar; tapi apakah ini berkaitan dengan ancaman para Kryptonian di bawah pimpinan Zod muda atau tema untuk season baru tidak dijelaskan.

Kedua yang membuat saya kecewa adalah sedikitnya budget yang dicurahkan untuk episode ini. Untuk sebuah TV movie yang dipromosikan habis-habisan, saya berharap adanya lebih banyak efek yang lebih keren di dalamnya. Bahkan kostum-kostum para karakter JSA seperti Hawkman, Doctor Fate, Stargirl, sampai Sandman terasa seperti kostum buatan orang-orang biasa yang hendak bergaya cosplay. Tidak jelek, tetapi jauh dari kesan megah. Sialnya, kostum JSA yang hadir ‘seadanya’ ini malah memeberi kesan katro dan ketinggalan jaman bukan retro klasik seperti yang ditunjukkan oleh Watchmen. Geoff Johns mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia menghendaki penampilan JSA seperti Watchmen versi layar kaca, tetapi kualitas kostum di bawah standar menjadikan tampilan mereka kurang menggigit. Begitu juga efek pertarungan di dalamnya. Biasanya Smallville selalu mencoba menipu penonton dengan memotong kebanyakan pertarungan yang ada (ingat pertempuran antara Clark vs Bizarro maupun Doomsday yang mengecewakan?) dan kali ini mereka mencoba untuk menggelar pertarungan antara Stargirl melawan Icicle. Usahanya saya puji, tapi hasilnya mengecewakan. Koreografinya terlihat kaku. Brittney Irvin kelihatannya harus mendapatkan latihan beladiri lebih banyak lagi. Kalau saya sampai merasa adegan Tess dan Lana yang berantem di season lalu lebih seru dibandingkan superhero beradu dengan supervillain maka jelas ada yang salah kan?

Dari segi aktingnya, satu-satunya aktor yang mengecewakan di mataku adalah Michael Shanks yang berperan sebagai Carter Hall aka Hawkman. Walaupun saya tahu karakter Carter di dalam komik termasuk sosok penggerutu yang sering marah dan selalu terlihat kesal, penampilan Michael Shanks terasa terlalu dilebih-lebihkan. Lebih mengherankan lagi mendengar bagaimana sosok darah tinggi seperti dirinya bisa dijadikan pemimpin dalam grup JSA. Sebagai pribadi, saya menilai bahwa Jay Garrick (Flash) dan Alan Scott (Green Lantern lama) yang merupakan karakter kalem dan tidak emosional lebih cocok memimpin JSA.

So my verdict is… seingin-inginnya aku memberikan nilai tinggi buat Absolute Justice, saya tetap harus obyektif dan menilai bahwa film ini hanya akan menggaet perhatian para pecinta komik atau mereka yang masih setia mengikuti Smallville. Bila kalian bukan termasuk dua kategori yang saya sebut di atas, Absolute Justice hanya akan kalian nilai sebagai Watchmen wannabe yang berbudget cekak.

Score: 7.3

Movie Details
Director: Glen Winter & Tom Welling
Cast: Tom Welling, Allison Mack, Erica Durance, Justin Hartley
Running Time: 82 Minutes

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here