Tag Archive | "Martial Art"

Tags: , , , , , ,

Merantau

Posted on 28 March 2010 by Si Tukang Review

Merantau Poster

Merantau Poster

Film martial art dari Indonesia.

Pertama kali mendengarnya saya langsung mencibir. Ah, Indonesia mana mampu sih membuat film begini? Paling-paling juga mau meniru aksi-aksinya Tony Jaa dan Jeeja Yanin dari Thailand. Maklum kan negara kita kan nomer satu soal copycat. Film Avatar saja belum ada sebulan tayang bisa muncul ‘tiruan’nya di layar kaca.

Tetapi saat film ini ditayangkan di layar lebar kok banyak sekali apresiasi positif yang didapat? Banyak orang mengatakan kalau film ini ternyata cukup lumayan adegan-adegan martial art maupun adegan aksinya. Sayang di saat rasa penasaran saya akan film ini memuncak, theater di kotaku sudah rampung menayangkannya. Saya hanya bisa gigit jari dan terpaksa menunggu perilisannya di media rumahan VCD atau DVD.

Ketika saya melihat film ini dirilis, saya pun langsung membelinya, apa lagi setelah saya membaca Harry Knowles (pendiri dari situs geek terbesar http://www.aintitcool.com) menyatakan bahwa film Merantau adalah film martial art terbaik yang ia tonton tahun ini. Wow! Pujian yang bukan main-main mengingat di tahun yang sama ada Raging Phoenix-nya Jeeja Yanin. Sedahsyat itukah film Merantau? Itikad saya hanya satu, kalau memang ada sebuah film Indonesia yang berkualitas, maka saya pasti mendukungnya supaya theater kotaku tidak melulu dipenuhi keluarga hantu Indonesia.

Anyway, bercerita mengenai apa sih Merantau itu? Ya seperti judulnya… kisah perantauan seorang pemuda Minangkabau bernama Yuda. Selama ini Yuda telah belajar ilmu bela diri Pencak Silat dan pergi ke Jakarta untuk membuktikan bahwa dirinya telah menjadi seorang laki-laki sejati. Semula ia hendak mengadu nasib menjadi guru Pencak Silat di Jakarta, tetapi sayang nasib berkata lain. Yuda malahan terjebak dalam dunia bawah tanah permucikarian setelah bertemu dan bersimpati dengan nasib kakak beradik Astri dan Adit. Bisakah Yuda pada akhirnya menemukan makna di balik perantauannya?

Film Ong Bak yang diperankan Tony Jaa mengedepankan seni bela diri Muay Thai Kickboxing yang asli dari Thailand. Merantau tidak kalah dengan memajukan pendatang baru Iko Uwais yang menguasai ilmu bela diri pencak silat. Mungkin kalian tidak percaya ini tetapi pencak silat adalah salah satu gerakan bela diri yang cukup populer di luar negeri. Turnamen seperti UFC atau manga bela diri History Strongest Disciple Kenichi kerap memiliki sosok yang menguasai ilmu bela diri ini.

Saya kagum dengan sutradara sekaligus penulis naskah film ini: Gareth Evans. Heran saja kok seorang asing ternyata bisa mengerti cukup dalam mengenai adat istiadat orang Minangkabau yang saya saja justru tidak terlalu tahu. Bahkan saya sempat salah sangka mengira Minangkabau itu terletak di pulau Sulawesi sana! Maklum deh, Geografiku dulu nilainya selalu kebakaran. Hanya saja saya agak kurang suka dengan dialog antara orang Jakarta (terutama Astrid yang diperankan artis Sisca Jessica) yang melulu mengucapkan kata-kata kasar. Kesannya seperti orang Jakarta semuanya tidak punya adat saja. Seperti kebanyakan film laga lain, Merantau juga menitikberatkan fokus pada aksinya dan sedikit mengorbankan ceritanya. Adanya artis senior seperti Christine Hakim pun tidak bisa membantu banyak karena porsinya yang kecil. Untungnya Iko Uwais membuktikan kalau dia lebih dari sekedar aktor laga. Saya senang dengan bagaimana caranya membawakan sosok lugu pemetik tomat dari desa di tengah ibu kota.

Saya membaca catatan sutradara dalam booklet yang disertakan di VCD orisinilnya. Di sana Gareth Evans mengatakan bahwa setiap adegan aksi dalam film ini berusaha memasukkan suatu unsur baru dalam koreografinya sehingga tidak terasa repetitif dan membosankan. Ia benar. Setiap adegan aksinya walau sekilas nampak sama memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri. Saya terutama paling suka tiga pertarungan. Yang pertama di atas jembatan di mana Yuda menunjukkan kelihaiannya memakai senjata tongkat besi. Yang kedua adalah pertarungan dua jago silat di dalam ruang tertutup. Yang ketiga tentu saja klimaks terakhir pertarungan. Di luar ketiganya masih ada beberapa rentetan lain adegan aksi lagi yang saya percaya pasti bisa memuaskan penggemar film laga.

Merantau adalah sebuah film yang bisa menempatkan Indonesia kembali di peta perfilman Indonesia. Yang pasti saya akan menantikan aksi-aksi Iko Uwais kembali, dan saya takkan malu merekomendasikan film ini kepada semua penggemar film laga di luar sana. Buat mereka yang skeptis, buang rasa pesimismu jauh-jauh because Merantau indeed is the best martial art movie of 2009!

Score: 8.4

Movie Details
Director: Gareth Evans
Cast: Iko Uwais, Sisca Jessica, Christine Hakim
Running Time: 135 Menit

Comments (13)

Tags: , , , , ,

Fighting

Posted on 25 August 2009 by Si Tukang Review

Fighting Poster

Fighting Poster

Sambil melirik judulnya, ini film kok ga jelas banget ya?
Sambil melirik posternya, ini posternya kok kaya kriminal ya?
Sambil melirik screenshotnya, ini Tatum kok kaya mau ngomong “gw gebukin lu!” ya?

Kacau.

Saya tidak pernah menjadi fans dengan film-film turnamen bela diri macam ini. Bukannya tidak suka sih, cuma saya rasa era keemasannya sudah lewat. Saya dulu suka sekali film Van Damme macam The Quest atau Bloodsport. Ketika menonton Never Back Down tahun lalu saja saya sudah merasa kalau film ini tolol karena jalan ceritanya tentang cowo memperebutkan cewe. Nah, kalau melihat Fighting? Saya tambah bengong lagi. Saya tidak tahu jalan ceritanya apa. Sumpah.

Awal-awalnya film ini memperkenalkan kita pada karakter Shawn McArthur. Kita tidak pernah diberi penjelasan apa-apa mengenainya selain dia terlihat bagaikan orang baik yang berusaha mencari uang dengan cara yang informal. Setelah sebuah insiden terjadi, seorang penipu bernama Harvey Boarden mengajak Shawn untuk bertarung dalam turnamen bela diri bawah tanah yang dijadikan taruhan dari orang-orang kaya. Shawn yang dijanjikan uang 5000 USD mengiyakannya. Shawn yang ternyata lumayan terlatih kemudian mulai memenangkan pertandingan demi pertandingan. Dan uh… tamat.

Oke mungkin tidak tamat begitu saja, tetapi saya benar-benar tidak bisa menulis apapun lagi soal film ini karena ceritanya begitu dangkal dan klise. Sebagai penonton saya tidak peduli dengan satupun karakter dalam film ini karena akting yang dangkal dari masing-masing tokoh. Channing Tatum berusaha tampil serius sebagai Shawn tetapi hasilnya dia malah seperti sosok cowo berkepribadian ganda. Saya sangka dia gentlemen bila menontonnya di sepuluh menit pertama, tapi di sisa film dia kelihatan seperti psikopat haus darah plus stalker. Jauh dari sosok yang bisa diagungkan sebagai jagoan dan juga tidak terlihat badass. Terrence Howard juga begitu. Penampilannya sebagai Harvey yang seharusnya menjadi sosok pelatih atau manager Shawn tidak pernah tersalurkan di layar. Chemistry keduanya meleset total.

Tapi namanya juga film beladiri… siapa peduli dengan dramanya kan? Lihat saja Ong Bak dan Tom Yam Goong? Siapa ingat dengan jalan ceritanya? Ingatnya dengan stunt-stunt menakjubkan dari Tony Jaa kan? Siap-siap saja kecewa lagi. Channing Tatum sebenarnya bukan sosok yang asing dalam olahraga beladiri Kung-Fu (berdasarkan profilnya di situs IMDB) tetapi film ini tidak memberinya banyak kesempatan unjuk gigi (atau unjuk kepala tangan). Adegan duel dalam film ini sangat sedikit (hanya tiga) dan hampir semuanya terlalu pendek dengan durasi kira-kira tidak sampai lima menit. Semua koreografinya juga biasa-biasa saja, tidak ada yang sampai membuat saya terperangah atau bikin “wow”. Paling-paling perkecualian ada di pertarungan kedua yang paling menunjukkan perbedaan gaya beladiri kedua petarung. Selebihnya? Membosankan. Satu hal lagi yang paling menganggu adalah dalam pertarungan pertama Shawn nampak lemah dan amatiran, tetapi setelah kita belajar sedikit mengenai latar belakangnya, ia mendadak jadi jauh jauh lebih tangguh tanpa pernah berlatih sedikitpun.

Fighting adalah film yang tanggung dari semua sisi. Mau drama gagal karena para pemainnya kurang kompeten (baca: tidak bisa berakting). Mau beladiri adegannya terlalu sedikit dan kalah kelas dengan film-film beladiri lain. Saran saya: daripada menghabiskan waktu 100 menit lebih menonton film ini, gunakan waktu itu untuk menonton pertandingan-pertandingan UFC. Jauh lebih nyata – jauh lebih keren – dan tidak pakai drama kacangan. Buat Dito Montiel, belajar dulu ya bagaimana cara bikin film yang baik…

Score: 4.1

Movie Details
Director: Dito Montiel
Cast: Channing Tatum, Terrence Howard, Zulay Henao, Michael Rivera, Luis Guzman
Running Time: 105 Minutes

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here