Film martial art dari Indonesia.
Pertama kali mendengarnya saya langsung mencibir. Ah, Indonesia mana mampu sih membuat film begini? Paling-paling juga mau meniru aksi-aksinya Tony Jaa dan Jeeja Yanin dari Thailand. Maklum kan negara kita kan nomer satu soal copycat. Film Avatar saja belum ada sebulan tayang bisa muncul ‘tiruan’nya di layar kaca.
Tetapi saat film ini ditayangkan di layar lebar kok banyak sekali apresiasi positif yang didapat? Banyak orang mengatakan kalau film ini ternyata cukup lumayan adegan-adegan martial art maupun adegan aksinya. Sayang di saat rasa penasaran saya akan film ini memuncak, theater di kotaku sudah rampung menayangkannya. Saya hanya bisa gigit jari dan terpaksa menunggu perilisannya di media rumahan VCD atau DVD.
Ketika saya melihat film ini dirilis, saya pun langsung membelinya, apa lagi setelah saya membaca Harry Knowles (pendiri dari situs geek terbesar http://www.aintitcool.com) menyatakan bahwa film Merantau adalah film martial art terbaik yang ia tonton tahun ini. Wow! Pujian yang bukan main-main mengingat di tahun yang sama ada Raging Phoenix-nya Jeeja Yanin. Sedahsyat itukah film Merantau? Itikad saya hanya satu, kalau memang ada sebuah film Indonesia yang berkualitas, maka saya pasti mendukungnya supaya theater kotaku tidak melulu dipenuhi keluarga hantu Indonesia.
Anyway, bercerita mengenai apa sih Merantau itu? Ya seperti judulnya… kisah perantauan seorang pemuda Minangkabau bernama Yuda. Selama ini Yuda telah belajar ilmu bela diri Pencak Silat dan pergi ke Jakarta untuk membuktikan bahwa dirinya telah menjadi seorang laki-laki sejati. Semula ia hendak mengadu nasib menjadi guru Pencak Silat di Jakarta, tetapi sayang nasib berkata lain. Yuda malahan terjebak dalam dunia bawah tanah permucikarian setelah bertemu dan bersimpati dengan nasib kakak beradik Astri dan Adit. Bisakah Yuda pada akhirnya menemukan makna di balik perantauannya?
Film Ong Bak yang diperankan Tony Jaa mengedepankan seni bela diri Muay Thai Kickboxing yang asli dari Thailand. Merantau tidak kalah dengan memajukan pendatang baru Iko Uwais yang menguasai ilmu bela diri pencak silat. Mungkin kalian tidak percaya ini tetapi pencak silat adalah salah satu gerakan bela diri yang cukup populer di luar negeri. Turnamen seperti UFC atau manga bela diri History Strongest Disciple Kenichi kerap memiliki sosok yang menguasai ilmu bela diri ini.
Saya kagum dengan sutradara sekaligus penulis naskah film ini: Gareth Evans. Heran saja kok seorang asing ternyata bisa mengerti cukup dalam mengenai adat istiadat orang Minangkabau yang saya saja justru tidak terlalu tahu. Bahkan saya sempat salah sangka mengira Minangkabau itu terletak di pulau Sulawesi sana! Maklum deh, Geografiku dulu nilainya selalu kebakaran. Hanya saja saya agak kurang suka dengan dialog antara orang Jakarta (terutama Astrid yang diperankan artis Sisca Jessica) yang melulu mengucapkan kata-kata kasar. Kesannya seperti orang Jakarta semuanya tidak punya adat saja. Seperti kebanyakan film laga lain, Merantau juga menitikberatkan fokus pada aksinya dan sedikit mengorbankan ceritanya. Adanya artis senior seperti Christine Hakim pun tidak bisa membantu banyak karena porsinya yang kecil. Untungnya Iko Uwais membuktikan kalau dia lebih dari sekedar aktor laga. Saya senang dengan bagaimana caranya membawakan sosok lugu pemetik tomat dari desa di tengah ibu kota.
Saya membaca catatan sutradara dalam booklet yang disertakan di VCD orisinilnya. Di sana Gareth Evans mengatakan bahwa setiap adegan aksi dalam film ini berusaha memasukkan suatu unsur baru dalam koreografinya sehingga tidak terasa repetitif dan membosankan. Ia benar. Setiap adegan aksinya walau sekilas nampak sama memiliki perbedaan dan keunikannya sendiri. Saya terutama paling suka tiga pertarungan. Yang pertama di atas jembatan di mana Yuda menunjukkan kelihaiannya memakai senjata tongkat besi. Yang kedua adalah pertarungan dua jago silat di dalam ruang tertutup. Yang ketiga tentu saja klimaks terakhir pertarungan. Di luar ketiganya masih ada beberapa rentetan lain adegan aksi lagi yang saya percaya pasti bisa memuaskan penggemar film laga.
Merantau adalah sebuah film yang bisa menempatkan Indonesia kembali di peta perfilman Indonesia. Yang pasti saya akan menantikan aksi-aksi Iko Uwais kembali, dan saya takkan malu merekomendasikan film ini kepada semua penggemar film laga di luar sana. Buat mereka yang skeptis, buang rasa pesimismu jauh-jauh because Merantau indeed is the best martial art movie of 2009!
Score: 8.4
Movie Details
Director: Gareth Evans
Cast: Iko Uwais, Sisca Jessica, Christine Hakim
Running Time: 135 Menit









