Tag Archive | "Mario"

Tags: , , , , , , , ,

ModNation Racers

Posted on 27 July 2010 by Si Tukang Review

modnation-racers-psp-cover

(Review Based on PSP Version)

Ah, ModNation Racers rasa-rasanya mengesahkan pendapatku bahwa Sony ingin menantang hegemoni Nintendo melalui konsep DIY (Do It Yourself) / Customization dan Sharing. Kok saya bisa bilang demikian? Coba lihat. Nintendo menancapkan kuku yang sangat dominan dalam dunia 2D Platform melalui game Super Mario dan sekuel-sekuelnya. Bahkan sampai sekarang adik-adikku masih sibuk memainkan New Super Mario Bros yang sudah berusia lebih dari lima tahun di DS mereka. Bagaimana Sony mengcounternya? Dengan Little Big Planet di PSP mereka! Konsep design sendiri dunia dan karaktermu adalah cara cerdik Sony menghadapkan kreatifitas department Nintendo dengan kreatifitas semua gamer yang siap berbagi level. Hasilnya tidak jelek. Walau belum bisa mendongkel nama Super Mario, Little Big Planet mendapat cinta dari banyak gamer kreatif. Lihat saja unggahan karakter maupun level yang bejibun di servernya.

Sukses dengan itu membuat Sony ketagihan. Selain mempersiapkan Little Big Planet 2 mereka menghadirkan ModNation Racers; sebuah game kart dengan konsep yang sama seperti Little Big Planet. Design sendiri karaktermu, design sendiri kartmu, dan design sendiri trackmu. Tidak sulit melihat apa yang hendak ditantang oleh Sony dengan game ini. Kalau yang terlintas di benakmu adalah Mario dan kawan-kawan naik kart, maka jawabanmu betul. Jadi apakah ModNation Racers sukses mengkudeta Mario Kart sebagai franchise kart racing terbaik sepanjang masa?

Ternyata gameplay ModNation Racers berbeda total dengan Mario Kart. Ya, saya sejujurnya kaget saat pertama kali memainkan game ini karena saya masuk dengan pola pikir “Ini Mario Kart dengan karakter, kart, dan lintasan yang bisa kamu ciptakan sendiri“. Jangan salahkan pemikiran saya ini karena hampir semua game kart yang ada mulai dari Pacman sampai Sonic menggunakan pakem yang sama: sebuah game Mario Kart yang diganti karakternya. Oleh karena itu saya kaget begitu melihat ModNation Racers memiliki sistem balap yang berbeda dengan Mario Kart. Dalam game ini bukan hanya drifting dan penggunaan item yang harus diperhatikan oleh gamer tetapi juga sistem boosting dan shield. Setiap kali kamu menyerang dan mengenai musuh, drifting, dan melakukan stunt lain nilai boostingmu akan naik. Menggunakannya akan membuatmu bisa menambah kecepatan secara signifikan. Strategi pemakaian boosting adalah salah satu hal kunci untuk bisa memenangkan balapan di game ini… walaupun kamu membalap tanpa menabrak apapun, kamu dipastikan kalah atau gagal merebut podium pertama bila strategi boostingmu keliru. Ditambah lagi mengambil item dalam game ini tidak semudah game lainnya. Kamu bakalan sering luput mengambil bola item atau musuh lebih dulu mengambilnya sebelummu (karena waktu respawn item agak lama). Ini menjadi masalah tersendiri bagi saya yang adalah Item Racer (pembalap yang biasanya menggunakan kekuatan item untuk memenangkan balap) dalam game kart lainnya.

Sistem ciptakan sendiri dalam game ini juga tidak rumit, walaupun menyebalkan pada awalnya. Kenapa? Karena pada awalnya banyak sekali item-item keren yang dikunci oleh Sony. Untuk mengunlocknya kamu harus membalap berkali-kali terlebih dahulu. Saya tidak menyalahkan Sony karena ini menambah play time game ini bagi para gamer tetapi opsi awalnya terlalu sedikit! Buat saya yang melihat design chibi Kratos berbalap di ModNation Racers terpaksa gigit jari melihat pada awalnya saya cuma bisa mendesign karakter dan kart yang sangat ‘plain’.

Nah, untuk ciptakan lintasanmu sendiri… saya kok merasa ini adalah blunder dari pihak Sony sendiri. Saya tahu sistem berbagi sudah ada di berbagai game (ingat Map dalam Counter Strike dan game FPS lainnya atau bahkan stage design dalam Little Big Planet) akan tetapi ini bukan sesuatu yang (terlalu) cocok untuk diterapkan dalam genre racing. Saya adalah penggemar olahraga F1 dan Moto GP. Sadarkah kalian bahwa dalam game racing semacam ini yang paling penting bagi seorang pembalap adalah harus bisa familiar dengan track yang akan dilewatinya? Karena itu ada yang namanya uji coba, berbalap untuk pole position, sebelum race utama dimulai. Dalam setiap game Mario Kart baru, pembalap memiliki 20 hingga 30 track yang tiap saat bisa mereka uji dan hafalkan shortcutnya. Akan tetapi coba bayangkan dalam ModNation Racers ada ratusan atau bahkan ribuan track yang bisa dijajal. Mana ada waktu bagi setiap gamer menyukai track tertentu? Track mana yang akan dipilih gamer berbalap dengan rekannya yang lain? Standarnya bagaimana? Kalau gamer A suka lintasan A sementara gamer B suka lintasan B, bagaimana bisa mereka bertanding. Oh tentu saja kamu bisa berjanji dulu dengan temanmu “Hei, kita coba dulu ya track ini beberapa kali lantas baru saling balap?” but hey, where’s the fun in that? Apa kamu mau tidak langsung bertanding tapi menjajal lintasan dua tiga kali dulu? It’s not fun. Entah ya buat gamer lain mungkin merasa ini inovatif atau kreatif atau membiarkan gamer berimajinasi… tapi tidak buat saya. Setidaknya buat kamu yang pengen menciptakan lintasanmu sendiri, implementasi sistem penciptaannya Sony mudah untuk dipelajari kok. You’ll be creating your track in no time.

So my verdict is… ModNation Racers adalah sebuah game yang sangat tergantung pada seleramu dalam game racing. Kalau kamu suka menjajal track-track yang berbeda setiap saatnya: this is a racing game for you. Kalau kamu seperti saya yang suka membalap di lintasan yang bisa kamu kuasai dan familiar… stick with Mario Kart atau Sega All Star Racing. Saya pribadi memainkan Career Mode dalam ModNation Racers dan menerimanya sebagai cukup enjoyable dan menantang!

Final Verdict

Gameplay: 8.0
Sistem balapnya yang berbeda dengan game kart racing lain ditambah dengan AI yang tangguh membuat game ini menantang. Poin plus kalau kamu suka mengunduh dan mengunggah kreasi orang lain dan ciptaanmu sendiri.

Graphic / Sound: 9.5
Luar biasa. Begitu banyaknya pernak-pernik aksesoris yang kamu bisa miliki (semua dengan pilihan warna yang berbeda-beda) dijamin membuatmu jatuh cinta dengan tampilan visual game ini. Saya jadi penasaran ingin menjajal versi PS3nya yang pastinya jauh lebih superior ketimbang versi PSP yang saya mainkan sehari-harinya.

Play Time: 6.5
Sekali lagi Play Time game ini subyektif untuk setiap gamer. Saya tidak terlalu tertarik menciptakan track (lebih tertarik menciptakan kart dan racer / Mod) sehingga play time game ini hanya sebatas Career Mode bagiku.

Overall: 8.0

Game Details
Developer: United Front Games, SCE San Diego Studio
Publisher: Sony Computer Entertainment
Genre: Racing

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Super Mario Bros Crossover

Posted on 14 July 2010 by Si Tukang Review

Super Mario Bros Crossover Title

Super Mario Bros Crossover Title

Sebenarnya bukan kebiasaan saya mereview sebuah game non-resmi / buatan fans tetapi karena saya kesengsem oleh game ini maka saya ingin membuat sebuah mini-review untuk mereview sekaligus memperkenalkannya pada para gamer lainnya.

Super Mario Bros Crossover ini adalah game berbasis flash ciptaan Jay Pavlina dan pertama dimuat di situsnya: Exploding Rabbit. Game ini kemudian mengalami pengembangan ini itu dari yang berversi 1.0 diperbaiki menjadi 1.1.

Siapapun yang menyebut diri mereka gamer pastinya pernah memainkan game paling populer (sekaligus terbaik) sepanjang masa: Super Mario Bros. Game yang single-handedly membangkitkan kembali industri game ini adalah mahakarya dari Shigeru Miyamoto yang memulai generasi emas Nintendo di era 8-bit. Semenjak munculnya Mario, muncullah ikon-ikon legendaris dunia game lainnya seperti Samus Aran dari Metroid, Link dari Legend of Zelda, Bill dari Contra, Megaman / Rockman, Simon Belmont dari Castlevania sampai Ryu Hayabusa dalam Ninja Gaiden dan banyak lagi. Nah, bagaimana kalau mereka semua bergabung dalam satu crossover game?

Jawabannya: a lot of fun!

Game ini sebenarnya merupakan replika dari Super Mario Bros pertama yang mengijinkan kita tidak hanya bermain sebagai Mario tetapi juga sebagai enam karakter lainnya yang saya sebut di atas tadi. Semua tambahan ini membuat gameplaynya makin berwarna karena setiap karakter memiliki spesialisasinya sendiri. Ambil contoh Simon Belmont memiliki senjata-senjatanya dari Castlevania dan kemampuan melompat dua kali. Power-up setiap karakter juga memiliki efek yang berbeda-beda – tetapi sesuai dengan ranah gamenya; kalau jamur membuat Mario tumbuh besar, ia akan mengubah senapan Bill menjadi tipe M. Ambil lagi bunga api dan senapan Bill berubah menjadi tipe S (Spread). Asal tahu saja, membabi-buta dengan S-nya Billy adalah salah satu momen paling bad-ass yang bisa kamu lakukan dengan game saat ini… as one of my friend said in the forum “balas dendam pada Lakitu!“.

Saya juga kagum dengan kejelian Jay Pavlina. Tidak hanya ia memprogram game ini supaya gerak-gerik karakter sesuai dengan game aslinya, ia juga memasukkan musik-musik klasik yang sesuai dengan karakter yang kamu mainkan. Misalnya kamu memainkan Samus, musik-musik dan sound effect terkenal dari game Metroidlah yang menemani permainanmu, begitu juga kalau kamu memainkan game dengan karakter-karakter lainnya.

So my verdict is… jangan keburu memandang sebelah mata game flash dan independen ini, Super Mario Bros adalah sebuah game klasik yang legendaris dan versi Crossover ini adalah tribut yang pantas baginya.

PLAY IT HERE!

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Tweak dalam gameplay membuat game Super Mario Bros terasa fresh kembali. Beberapa karakter memang terkesan lebih kuat dibandingkan karakter lainnya (I’m looking at you Bill) tapi itu adalah kekurangan minor yang bisa diterima mengingat bagaimana tepatnya pemrograman gerakan karakter dalam game ini.

Graphic / Sound: 9.0
Crossover ini hebat karena mampu memadukan grafik dari berbagai game menyatu di sini. Musik dari setiap game klasik pun turut menemani permainanmu.

Play Time: 8.5
Kamu yang pernah memainkan game-game klasik (and honestly, who haven’t?) pasti ingin menjajal game ini dan bereksperimen dengan karakter-karakter baru yang ditawarkan.

Overall: 8.8

Game Details
Developer: Jay Pavlina
Publisher: (None)
Genre: Adventure (Platform)

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Mario & Luigi: Bowser Inside Story

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Mario & Luigi Bowser Inside Story Cover

Walaupun Mario paling dikenal sebagai jagoan dalam dunia platform 2D dan 3D, itu tidak berarti sang tukang ledeng tidak pernah menjelajah genre lain. Sebaliknya, dia malahan pernah menjajal berbagai macam profesi mulai dari pemain tennis sampai tukang balap. Mario juga pernah masuk ke genre RPG, pertama kali pada tahun 1996 melalui salah satu kolaborasi terakhir Nintendo dan Squaresoft (belum merger menjadi Square Enix) di era SNES. Hasilnya: Super Mario RPG: Legend of the Seven Stars yang masih diakui banyak gamer sebagai salah satu RPG terbaik era SNES. Petualangan RPG Mario tidak berhenti di sana. Setelah game tersebut, masih ada serial RPG Paper Mario di Nintendo 64, Nintendo GameCube, dan Nintendo Wii.

Bagaimana dengan Nintendo DS? Nintendo tahu benar bahwa para gamer di DS juga haus akan RPG Mario yang berkualitas dan pada tahun 2009 merilis game Mario & Luigi: Bowser’s Inside Story. Game ini sebenarnya merupakan bagian ketiga dari serial Mario and Luigi yang game pertamanya dirilis di GBA. Game dengan sub-judul Superstar Saga itu mendapatkan pujian banyak orang karena dianggap sebagai sebuah game RPG yang bisa memasukkan banyak sistem RPG tradisional dengan elemen dunia khas Mario. Kesuksesan game itu dikembangkan lebih lanjut melalui sekuel pertamanya di DS: Partners in Time. Game Partners in Time, seperti halnya prekuelnya, juga meraih acungan jempol karena mengutak-atik waktu dan mempertemukan kedua Mario Brothers dengan sosok muda mereka (ingat bayi Mario yang digendong Yoshi?). Hanya saja, beberapa pihak agak menyayangkan Partners in Time yang dianggap kurang memaksimalkan kemampuan handheld DS. Empat tahun berlalu dan Nintendo kembali merilis sekuel kedua game ini dengan judul Bowser’s Inside Story.

Seperti yang bisa dibaca dari judulnya, game ini memberi peranan penting bagi Bowser dalam cerita. Di awal game, sebuah jamur misterius membuat para toad di Mushroom Kingdom menjadi raksasa blorb. Krisis yang terjadi di Mushroom Kingdom ini memaksa Putri Peach mengadakan rapat darurat. Dalam rapat darurat yng juga dihadiri oleh Mario dan Luigi itu, Bowser mendadak juga datang mengajukan diri untuk ikut rapat. Bisa ditebak kalau Bowser malah berakhir dengan bikin onar dan ditendang pantatnya keluar oleh Mario. Bowser yang terpental keluar tidak menyerah begitu saja dan mulai mencari jalan kembali ke istana. Di tengah perjalanannya kembali ke istana, musuh besar Mario itu bertemu dengan sosok misterius yang memberinya sebuah jamur. Setelah dimakan, Bowser berserk dan langsung menghisap apapun ke dalam perutnya. Jangan tanya saya bagaimana rumus fisikanya, yang jelas semua anggota istana mulai dari Mario bersaudara, para Toad, hingga Putri Peach semuanya disedot masuk ke dalam tubuh Bowser. Siapakah dalang di balik semua kekacauan ini? Bisakah Mario dan Luigi keluar dari tubuh Bowser?

Dari cerita ini, saya berani menyimpulkan kalau Bowser Inside Story adalah RPG dua dunia. Di satu pihak kamu akan bermain sebagai Bowser yang mencari tahu siapa dalang yang memberinya jamur misterius itu. Di lain pihak kamu sebagai Mario dan Luigi akan berpetualang dalam tubuh Bowser untuk mencari putri Peach yang tersesat dalam tubuh si kadal dan meloloskan diri bersama-sama dari sana. Kedua dunia ini secara ajaibnya mampu disambung oleh Nintendo. Apa yang terjadi dalam dunia Bowser akan mempengaruhi dunia Mario dan sebaliknya. Sebagai contoh ketika Bowser minum air, perutnya akan dipenuhi dengan air yang memperbolehkan Mario dan Luigi berenang ke tempat-tempat yang sebelumnya tak bisa mereka jangkau. Atau ketika Bowser sekarat, Mario dan Luigi bisa berpetualang ke dalam jiwanya (sekali lagi harap jangan tanya rumus fisikanya) dan memberinya energi adrenalin yang bukan cuma menghidupkan Bowser lagi tetapi juga mengubahnya menjadi raksasa! Dua contoh yang saya sebut hanyalah sekelumit dari bagaimana Nintendo mampu membuat dua dunia yang begitu jauh berbeda ini berinteraksi satu sama lain. Salut untuk kreatifitas mereka.

Game RPG yang awalnya terlihat sederhana ini pada akhirnya menjadi game yang unik tanpa rumit karena implementasi Nintendo yang simpel. Beberapa inovasi dalam ceritanya bukan cuma menjadi tempelan tetapi juga berperan dalam cerita. Kemampuan Bowser menghisap misalnya bisa kamu gunakan saat battle melawan musuh. Beberapa musuh kecil bisa disedot masuk dalam tubuh Bowser dan – secara tidak langsung – kamu bisa tag-team dengan duet Mario bersaudara karena mereka akan langsung menghadapi musuh-musuh itu dalam tubuh Bowser.

Keluhan bahwa Partners in Time kurang kreatif memanfaatkan fitur DS kini juga diperbaiki. Sekarang peran touch screen dan mikrofon dimaksimalkan baik dalam mini-game ataupun pertarungan. Tidak sekedar itu, saya juga merasa bahwa Bowser Inside Story – sebagaimana banyak game DS dari Nintendo lainnya – mampu menyeimbangkan penggunaan fitur-fitur DS sehingga terasa melengkapi dan bukannya membebani atau menganggu gameplay secara keseluruhan.

Sudah memiliki gameplay yang unik dan orisinil, dengan tambahan grafis penuh warna dan musik yang upbeat khas Mario, tidak heran kalau game ini menjadi penantang kuat game terbaik dari handheld DS tahun ini. Kalau kamu penggemar RPG, tidak ada alasan untuk keburu mendiskreditkannya sebagai game buat anak kecil. Toh, kapan lagi kamu bisa bermain di dalam DAN sebagai karakter Bowser. Betul tidak?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Walau sistem fightnya sebenarnya sangat simpel, Nintendo mampu menciptakan berbagai macam inovasi baru untuk membuatnya tetap fresh.

Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya kekurangan adalah piksel yang terlihat agak pecah-pecah saat Bowser menjadi raksasa. Dunia dalam tubuh Bowser juga terlihat agak suram. Tadinya saya mengharapkan ada semacam dunia mini di dalamnya. Toh melihat percakapan para Emoglobin saya jadi tersenyum simpul sendiri.

Play Time: 8.5
Beberapa situs yang saya baca menyebutkan bahwa menamatkan game ini diperlukan waktu sekitar 20 jam. Saya pribadi menyelesaikannya dalam waktu 15 jam, walaupun belum menemukan semua rahasia yang ada. Bila hendak menyelesaikan game ini secara sempurna, saya prediksi memerlukan waktu sekitar 30 hingga 35 jam.

Game Details
Developer: AlphaDream
Publisher: Nintendo
Genre: RPG

Comments (8)

Tags: , , , , , ,

The Legendary Starfy

Posted on 21 June 2009 by Si Tukang Review

The Legendary Starfy Cover

The Legendary Starfy Cover

Kadang saya bosan dengan game platform 2D yang ada jaman ini. Oh, jangan keburu berprasangka buruk dulu. Saya masih menantikan sekuel dari New Super Mario Bros maupun petualangan baru Sonic setelah dua game serial Rush. Tetapi tidakkah menyegarkan untuk sesekali melihat sosok baru dalam genre ini? Hampir tiap dekade melahirkan satu maskot dalam genre ini; maskot yang mendefinisikan era video game. Super Mario Bros lahir di era 80an, sementara Sonic dan Donkey Kong Country merevolusi era 90an. Entah kenapa setelah itu, genre ini menjadi stagnan dan tidak lagi melahirkan maskot-maskot memorable lainnya.

Perkiraan saya keliru karena diam-diam di Jepang sana Nintendo sudah merilis sebuah game bergenre Marine Platform (karena kebanyakan stagenya didesign dalam air) bernama Densetsu no Starfy. Tidak tanggung-tanggung, semenjak kelahirannya di tahun 2002 dulu, franchise ini sudah menelurkan lima serial. Serial yang terakhir inilah yang akhirnya dibawa ke Amerika dan dirilis dengan nama The Legendary Starfy (TLS).

Starfy adalah pangeran dari Pufftop Palace (sebuah istana yang melayang di angkasa) yang gemar bersantai. Suatu hari ia mendapat kejutan ketika seekor kelinci dalam baju angkasa mendarat di kamarnya. Belum habis keterkejutan Starfy, beberapa sosok misterius yang mengejar kelinci itu datang. Starfy dan sahabatnya Moe berusaha menolong sang kelinci tetapi tanpa sengaja malah jatuh ke laut bawah. Pada dasarnya Starfy adalah sosok yang baik hati, bukannya mendengarkan saran Moe untuk mencari jalan kembali ke Pufftop Palace, Starfy malah menawarkan dirinya untuk membantu si kelinci yang belakangan namanya disebut sebagai Bunston. Siapakah Bunston? Kenapa ia dikejar-kejar?

Salah satu ciri game TLS yang langsung membedakannya dengan game platform sejenis adalah nuansanya. Stage-stage dalam TLS bisa saja memakai template dari game platform lain; ada stage salju, stage api, stage hutan, dan lain-lain, tetapi ada keunikan sendiri dari design tiap stagenya yang menunjukkan jati diri bahwa ini adalah franchise Starfy. Dunia Starfy juga diperkaya dengan supporting character yang nyeleneh tetapi bersahabat. Selain Moe dan Bunston, ada Starly; adik Starfy yang berusaha membantu kakaknya yang bermasalah (bisa dikendalikan pemain kedua), ada juga Mermaid yang berfungsi sebagai tempat save, dan banyak karakter lainnya. Mengingat ini game kelima dalam serial Starfy maka ada kemungkinan beberapa gamer sedikit bingung dengan relasi antar karakternya. Toh mengingat ada penjelasan backstory tiap karakter, gamer bisa mempelajari karakter-karakter tersebut sambil memainkannya. Sistem penceritaan yang menggunakan gabungan cutscene ala komik juga membuat narasi cerita hidup dan menarik untuk diikuti.

Dunia bawah air TLS juga menawan dijelajahi dengan kekayaan dan variasi warna dalamnya. Seperti yang saya sebutkan tadi, stage dalam TLS boleh mengambil template yang sama dengan game platform lainnya, tetapi TOSE selaku developer dengan cerdik memberi TLS twistnya sendiri. Salah satu contoh paling kreatif adalah ketika kamu diharuskan melompat dan berpindah dari satu gelembung air ke gelembung air lainnya untuk memanjat ke atas. Starfy juga akan mempelajari (atau lebih tepatnya mengingat kembali) gerakan-gerakan baru (atau lama, tergantung kamu sudah belum memainkan prekuelnya) setelah diingatkan oleh Moe. Kalau kamu bosan dengan permainan utama game ini, TLS juga menyediakan berbagai fitur lain untuk dicoba. Kamu bisa menonton talk show yang menyajikan dialog-dialog kocak antara Moe dan berbagai karakter yang kamu temui sepanjang perjalananmu, sampai memainkan variasi mini-game yang ada.

Saya tidak habis mengerti apa yang memakan waktu begitu lama bagi Starfy untuk ditranslasikan. Hanya memainkan satu game dan saya percaya bahwa Starfy bersama para sahabatnya layak masuk jajaran maskot-maskot ternama Nintendo seperti Mario, Link, maupun Kirby. Siapapun yang memiliki DS dan haus akan game platform 2D yang berkualitas harus memainkan game ini. It’s a definite classic.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Mayoritas waktumu dihabiskan dengan berenang (yang memberi dinamika baru dalam genre platform). Tapi ada kalanya Starfy juga harus berkelana di darat. Dengan kostum power-up dan gerakan-gerakan baru yang bisa dipelajari, setiap stage tidak pernah membosankan. Sayang kebanyakan bosnya tidak memberi tantangan untuk dilawan.

Graphic / Sound: 9.0
Grafis yang kaya warna serta musik yang ceria (dan sound effect yang lucu) sangat membantu menghidupkan dunia Starfy yang pas buat anak-anak.

Play Time: 9.5
Petualangan utamanya memakan waktu 5 – 10 jam untuk diselesaikan, tapi ada berbagai faktor x yang memberimu alasan untuk memainkan game ini dengan lebih teliti. Seperti menemukan kotak harta karun yang memberi Starfy kostum baru. Seperti menemukan hint untuk menuju ke stage rahasia. Seperti memainkan stage-stage rahasia. Atau sekedar mendengar obrolan kocak Moe dan bintang tamu acaranya. Ada banyak alasan untuk larut dalam dunia bawah air ini.

Overall: 9.4

Game Details
Developer: TOSE
Publisher: Nintendo
Genre: Platform 2D

Comments (0)

Tags: , , , ,

New Super Mario Bros

Posted on 14 April 2009 by Si Tukang Review

New Super Mario Bros Cover

New Super Mario Bros Cover

Before I ever played Super Mario Bros., I remember my friend telling me all about the arcade game and it just didn’t seem possible. He talked about shooting fireballs, secret tunnels, bullets you could bounce off of, hidden beanstalks leading into the clouds—all these amazing, crazy things that I just couldn’t imagine all fitting into one game. At a time when you could sum up most games in 30 seconds, he went on and on like this for 30 minutes; I could tell he was getting excited to play it again just talking about it. When I finally saw the game, I was…I’m not sure how to put it. Awestruck, I guess. Not only was everything my friend said true, he had barely scratched the surface.
- EGM Executive Editor Mark MacDonald

Whenever I tell people what I do for a living, the most common response is, ‘Games have gotten too complicated for me, but I really loved that Super Mario Bros.’ Everyone—young, old, boy, girl, gamer, non-gamer—has played Miyamoto’s masterpiece and, more importantly, thoroughly enjoyed it. What kind of impact has the plumber’s NES debut had on the public? Well, my girlfriend can’t tell you what kind of game Halo 2 is, but she still knows exactly where to find Super Mario Bros.’ first warp zone.
- EGM News Editor Bryan Intihar

Mario is the game that introduced me to the world of video game and the one responsible for making me a gamer up until this day. This is the game that defines what video game is.
- Si Tukang Review

Masih perlukah kita pengenalan lain mengenai Mario? Bisa dibilang kalau ikon dari video game adalah Mario sebagaimana Superman atau Spider-man adalah ikon dari dunia komik. Pertanyaannya adalah: apakah 2D Platform masih relevan untuk jaman sekarang? Hampir 20 tahun yang lalu Mario hadir dengan petualangannya di Super Mario Bros – ketika Nintendo sekarang memperbarui tampilannya dengan cita rasa yang sama – apakah daya magis itu masih bisa bertahan? Atau tergerus oleh aliran waktu?

Graphic (8.5 / 10)

Begitu memainkan New Super Mario Bros untuk pertama kalinya saya langsung takjub. Grafisnya berubah dari Mario yang biasa saya kenal. Mario kali ini hadir dengan balutan grafis 3D sebagai render karakternya tetapi tetap dengan gameplay 2D seperti yang kita kenal biasanya. Jangan khawatir, balutan grafis 3D ini tidak merenggut nuansa dunia Mario 2D kok. Ini mungkin bukan hal yang terlalu orisinil karena sudah banyak game yang memakai cara yang sama (Sonic Rush sebagai sesama maskot game sudah memakai metode yang sama). Toh, yang membuatku takjub bukan hanya pada perubahan 3D Mario tetapi juga pada dunianya.

Dunia-dunia yang ada di dalam game ini masing-masing berbeda dan kaya akan warna-warna yang cerah, colorful dan dinamis. Setiap dunia memiliki temanya sendiri dalam desainnya. Ada dunia para jamur (yang menjadi awal petualangan Mario), dunia padang pasir, dunia es, sampai dunia Bowser yang gelap dan menakutkan sekalipun! Variasi dunia (yang ada delapan) benar-benar menyegarkan. Walaupun tidak ada dunia yang benar-benar orisinil (kebanyakan sudah pernah ada di game Mario sebelumnya) tetap saja memainkan stage-stage ini memberi kesan nostalgia yang unik untuk saya yang tumbuh dengan Mario – tetapi tetap mampu diterima dengan baik oleh adik-adik saya yang belum lahir saat Mario pertama beraksi.

Nintendo juga menggarap karakter-karakter yang ada di dalam game ini dengan rapi: Mario dengan segala perubahannya didesain dengan apik. Tidak percaya? Silahkan lihat bagaimana perubahan Mario menjadi raksasa, atau variasi musuh yang ada di dalam game ini!

Sound (8.5 / 10)

Berapa game yang bisa kalian kenal dari sound effectnya semata? Tidak banyak – dan Mario adalah salah satunya. Saya bisa mengenali game ini hanya dari suara lompatan Mario yang tersohor itu. Dan sekali lagi Nintendo menggarap bidang ini dengan sempurna.

Musik-musik di berbagai dunia pas dengan temanya sekaligus tetap bisa diterima oleh anak-anak. Musik di dunia jamur di mana Mario mulai misalnya sangat ceria dan kontras dengan dunia Bowser yang suram dan menakutkan (sekali lagi – walaupun menakutkan, tetapi tidak memberi kesan horror yang membuat anak kecil enggan memainkannya). Banyak sekali remix dari musik Mario yang lama yang tetap enak didengar hingga sekarang sekalipun. Percaya tidak percaya saya langsung bersenandung begitu musik tema Mario dimulai. Catch-phrasenya Mario sendiri? Tentu saja tetap ada. Mario yang mulai bersuara semenjak masuk ke console-console generasi baru tetap memiliki suara-suara yang dia katakan setiap melakukan action tertentu.

Musiknya sempurna dan begitu pula sound effectnya. Saya sudah menyebutkan mengenai sound effect lompatan legendarisnya Mario. Toh, setelah saya memainkan game ini lebih lanjut saya baru menyadari betapa banyaknya sound effect yang legendaris dari Mario. Ingatan saya kembali dibangkitkan ketika mendapatkan jamur pertama kali dan melihat Mario mendapat power-upnya (begitu juga ketika Mario menjadi kecil kembali kalau kena serangan musuh), saya juga ingat kembali bagaimana merdunya mendapatkan nyawa 1-up dari jamur hijau, atau bunyi Mario ketika masuk ke dalam tunnel rahasia. It’s an unforgettable classic.

Gameplay (8.5 / 10)

Mencari sebuah game 2D platform sekarang ini sangat sulit. Mencari yang berkualitas? Lebih sulit lagi. Kalau anda seorang penggemar game bertipe ini mungkin mengerang karena kebanyakan game-game 2D platform sekarang kebanyakan berasal dari movie–to–game yang kualitasnya kebanyakan digarap dengan asal-asalan dan bertujuan mencari untung dari aji mumpung sesaat. Untung saja New Super Mario Bros memuaskan dahagaku untuk game-game 2D platform bermutu.

Elemen-elemen yang pernah membuat Mario dahulu adiktif semuanya dikembalikan di sini. Power-up baru yang bisa didapat oleh Mario adalah tempurung kura-kura biru, jamur raksasa, dan jamur mini. Sementara semua power-up baru ini sangat inovatif dan menyenangkan ketika kita dapat (percaya tidak percaya, kini tiang bendera itu bisa kita tabrak sampai hancur!) – kita akan lebih sering menjelajahi dunia ini dengan jamur dan fire flower klasiknya Mario.

Kita disuguhi delapan dunia secara keseluruhan, tetapi kita hanya akan menjelajahi 6 dunia sekali main. Alternative path di sana-sini disediakan oleh Nintendo sehingga kejelian kita dalam mencari jalan akan menjadi penentu dunia mana yang akan kita jelajahi berikutnya. Tentunya masih banyak sekali rahasia-rahasia yang tersimpan di balik setiap stage-stagenya. Stage-stage individualnya sendiri terkesan pendek dan sangat mudah. Saya sendiri baru mendapatkan tantangan di dunia terakhir, dan itupun masih terbilang relatif mudah dibandingkan dengan game-game Mario dulu.

Mungkin sekali game ini terasa lebih mudah karena Mario mendapatkan upgrade-upgrade dalam petualangannya kali ini. Sekarang ia bisa melompat tiga kali asal timing anda benar (triple jump) sampai melompat dengan menggunakan tembok (wall jump).

Selain game utamanya, Nintendo juga menyediakan kita mini game dan wireless mode untuk kita mainkan bersama teman-teman kita. Mini game dan wireless mode adalah sebuah tambahan yang menarik tapi lebih berfungsi sebagai pengalih perhatian sesaat. Sekedar buat break kalau kita sudah menamatkan game ini sebelum mencoba mengulangnya lagi mungkin?

Longetivity (8 / 10)

Sementara nilai longetivity dalam game ini tidak tinggi, nilai replayability dari game ini sangat tinggi. Kenapa? Saya menyelesaikan game ini dalam waktu empat jam pertama kali memainkannya, lantas tiga jam saat memainkannya kali kedua, dan dua jam setiap kali memainkannya setelah itu. Saya sudah mengatakan kalau game Mario ini memiliki tingkat kesulitan yang rendah (bahkan terlalu rendah kalau dimainkan oleh seorang pemain veteran). Hadapi setiap boss dengan setidaknya menjadi seorang Mario dengan kemampuan menembakkan api untuk mengerti apa yang saya maksud.

Toh, mendapatkan tiga koin emas untuk setiap stage, membuka setiap stage yang ada, sampai sekedar bernostalgia untuk memainkan game ini sekali lagi akan membuat anda terus memainkannya berkali-kali. Mendapatkan sebuah secret baru yang membawa anda melompati dunia-dunia akan terasa sama menyenangkannya seperti ketika memainkan Mario klasik dulu. Belum lagi banyak rahasia lain yang mungkin hanya bisa diakses ketika anda memiliki power up tertentu (hint: Mini Mario bisa menjelajahi lebih banyak tempat dari yang bisa dibayangkan oleh Mario normal!).

This game is a modern classic, dan itu berarti game ini tidak akan membosankan walaupun ketika anda memainkannya bertahun-tahun kemudian.

Editor’s Tilt (10 / 10)

Memainkan game ini membuat saya sadar bahwa Nintendo sudah melakukan hal yang tepat. Mungkin bukan Super Mario Bros pertama yang paling mirip dengan game ini melainkan Super Mario Worldnya SNES atau Super Mario Bros 3nya NES. Toh, itu menurutku adalah hal yang bagus karena kedua game itu dianggap sebagai pengembangan paling sempurna dari Super Mario Bros orisinil. Ini juga adalah sebuah bukti bahwa gameplay Mario tidak akan uzur dimakan oleh waktu. Terbukti bukan hanya saya yang menikmati game ini, tetapi juga teman-temanku yang hampir tidak pernah memainkan game sebelumnya, dan adik-adikku yang sekarang berebut mencoba menemukan rahasia-rahasia yang baru dalam game ini untuk mereka bangga-banggakan (tidakkah itu seperti kita dulu ketika menemukan rahasia-rahasia baru dalam game klasiknya dulu?).

Saya akan meringkas game ini dalam kalimat penutup berikut ini: Super Mario Bros pertama adalah sebuah game klasik yang 20 tahun berlalu pun tetap nikmat dimainkan. New Super Mario Bros akan menjadi sebuah game klasik yang 20 tahun nantinya pun akan tetap dikenang sebagai update yang berhasil dari sang kakak.

Overall: 8.7

Game Details
Publisher: Nintendo
Developer: Nintendo
Genre: 2D Platform

Comments (0)

Tags: , ,

The Top 8 Worst Game – Movie Adaptation

Posted on 07 March 2009 by Si Tukang Review

Hollywood hampir tidak pernah gagal mengadaptasi sebuah media lain dan mengubahnya menjadi hit di layar lebar. Dari serial TV ada The Simpsons, Transformers dan Sex and the City yang sukses besar. Berbagai judul novel termasuk Harry Potter dan Lord of the Rings juga sudah diadaptasi dan mendapat pujian para kritikus. Bahkan para superhero dunia komikpun (The Dark Knight dan Spider-man, anyone?) tiap tahun menjadi jawara box office. Bisa dibilang hanya satu media saja yang hingga kini belum bisa sukses digarap oleh Hollywood: Game.

Entah kenapa justru industri hiburan terbesar ini selalu saja gagal diterima kritikus maupun penggemar di Box Office. Beberapa film dicerca karena dianggap memiliki plot yang terlalu dangkal dan menyimpang dari gamenya (contoh: Final Fantasy di luar angkasa); sedangkan beberapa dicerca karena dirasa terlalu banyak memasukkan unsur dari gamenya (contoh: Doom dengan sinematografi FPSnya)! Countdown kali ini tidak mau lebih lanjut mendiskusikan mengenai kenapa adaptasi game ke layar lebar gagal melulu; sebaliknya saya akan menyorot delapan film adaptasi yang saya anggap terburuk hingga saat ini… siap?

8. Resident Evil Extinction

Rotten Tomatoes Concensus: 22%
Box Office: $50,648,679
Why It Sucks: Karena film tentang zombie seharusnya seram! Apa yang dilakukan dalam film ini merusak citra Resident Evil. Film pertama Resident Evil merupakan adaptasi yang lumayan dan cukup berhasil di mataku. Film keduanya mulai jeblok karena memasukkan unsur kekuatan super di dalamnya – tapi setidaknya si seksi Jill Valentine dan karakterisasi Nemesis yang spot-on menyelamatkannya. Film ketiganya? Duh, ketimbang menontonnya lagi, lebih baik saya menonton film Dawn of the Dead. Repeat after me: Resident Evil is not a stylish action movie. It’s supposed to be a survival horror!

7. Mortal Kombat Annihilation

Rotten Tomatoes Concensus: 04%
Box Office: $35,927,406
Why It Sucks: Mau tahu betapa kacaunya Annihilation? Film pertamanya yang cukup sukses seharusnya membuat para aktris yang terlibat di dalamnya ingin kembali. Kenyataannya? Selain Robin Shou dan Talisa Soto semua aktor dalam film ini berganti, kurasa mereka menolak ikut dalam film ini begitu melihat skrip yang ditawarkan. Adegan aksinya memang makin banyak – sampai memasukkan CG Animality yang memalukan itu – tetapi cerita yang di prekuelnya terasa dangkal di sini mendadak terasa lenyap tak berbekas.

6. Bloodrayne

Rotten Tomatoes Concensus: 04%
Box Office: $1,550,000
Why It Sucks: Ah, Uwe Boll. Ketika saya pertama kali mendengar ada seorang sutradara yang begitu giat mengadaptasi video game ke movie saya pikir “Finally! Somebody that respects Video Game!“. Tidak makan waktu lama bagi saya untuk menyadari kalau orang inilah mesias kehancuran bagi film adaptasi video game. Bloodrayne merupakan filmnya yang paling lumayan bukan karena jalan cerita ataupun aksinya, tetapi karena di DVD Uncutnya anda bisa melihat – maaf – nipplesnya Kristanna Loken. Thanks God for the fast-forward button in your DVD remote control!

5. Double Dragon

Rotten Tomatoes Concensus: 00%
Box Office: $2,341,309
Why It Sucks: Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa Double Dragon? Bukankah sebagai adaptasi dari video game dia cukup ‘pas‘ dengan gamenya? Bukankah koreografi pertarungannya tergolong lumayan untuk jamannya? Well – the main reason Double Dragon is in this list is because it’s just racist! Duo karakter utamanya bernama Billy dan Jimmy LEE. Halo? LEE? Seperti Bruce Lee? Ada segudang aktor keturunan Cina dan Hollywood memakai orang bule (Scott Wolfman dari Party of Five)? dan Mark Dacascos? Puh-lease!

4. Alone in the Dark

Rotten Tomatoes Concensus: 01%
Box Office: $5,178,569
Why It Sucks: Uwe Boll – lagi (jangan khawatir, this is not the last you’ll see his name in this list). Bagi penonton umum, Alone in the Dark mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi bagi para gamer titel ini merupakan milestone di dunia gaming. Kendati sekarang orang lebih mengenal Resident Evil atau Silent Hill sebagai maskot game Horror, kedua serial tersebut berhutang budi pada Alone in the Dark. Benar. Inilah nenek moyang dari Survival Horror, dan Uwe Boll mengubahnya menjadi… menjadi… okay, film yang dimulai dengan narasi teks yang dibacakan. How lame is that? And for addition: it got the bitchy Tara Reid in it.

3. House of the Dead

Rotten Tomatoes Concensus: 04%
Box Office: $10,199,354
Why It Sucks: Dan… hore! Lagi-lagi Uwe Boll! Hampir Semua film yang disutradarai olehnya berakhir menjadi bencana, dan film inilah awal dari segalanya. Apabila saya menjadi publisher atau developer game yang menonton film ini, saya akan menolak segala rayuan Boll untuk mengadaptasi game buatanku ke layar lebar. Cerita House of the Dead sendiri? Sekelompok anak-anak yang ingin berpesta di sebuah pulau lantas menyadari kalau pulau itu berisi – surprise – undead. Nuff said.

2. Street Fighter

Rotten Tomatoes Concensus: 14%
Box Office: $33,423,000
Why It Sucks: Dosa Uwe Boll memang besar, tetapi akuilah, kebanyakan dari game yang ia adaptasi bukan game-game ‘kelas kakap‘. Kelas dari Bloodrayne, House of the Dead, maupun Alone in the Dark jelas beda dengan Street Fighter. Bila kamu seorang cowo dan lahir di era 70 atau 80an, hampir tidak mungkin kamu tumbuh tanpa memainkan Street Fighter di arcade dekat rumahmu. Ryu, Ken, Chun-Li, Guile, dan karakter-karakter di dalamnya turut mendefinisikan apa itu video-game. Bayangkan betapa kecewanya para gamer ketika menonton Street Fighter yang tokoh utamanya Guile (Ryu – Ken menjadi figuran! Menyedihkan!). Mungkin demi menebusnya, film ini lantas memasukkan SEMUA karakter Street Fighter yang ada saat itu ke dalam satu film. Relasinya dengan cerita? Entahlah. Film ini begitu kacaunya hingga dikecam dan dianggap sebagai penyebab franchise gamenya mati suri selama beberapa tahun ke depan.

1. Super Mario Bros

Rotten Tomatoes Concensus: $20,844,907
Box Office: 06%
Why It Sucks: Kalau di atas saya mengatakan sebagian besar gamer tahu nama Street Fighter, maka semua orang tahu Mario. Heck, Mario IS videogame, dan seakan mentahbiskannya; Super Mario Bros adalah film adaptasi video game pertama. It supposed to be right. (Arguably) The greatest game ever should have been the first one to be adapted.

Dan hasilnya adalah cemoohan dari semua pihak.

Terlalu banyak hal yang salah dalam film ini sampai saya tidak bisa menyebutnya satu demi satu. Goomba yang bentuknya tidak mirip Goomba, kisah asmaranya malah berkisar antara Luigi – bukan Mario, Bowser adalah keturunan dari… dinosaurus… Film ini bukan sekedar bencana, film ini adalah penghinaan besar terhadap seri videogamenya. How Nintendo let this movie see the light of day is still something I can’t understand.

Walaupun film dari video game terus menerus gagal dan menerima kritikan dari semua orang, itu tidak berarti Hollywood menyerah begitu saja. Setiap tahunnya tetap ada satu dua film yang diangkat dari video game untuk dirilis di layar lebar. 2006 memiliki Hitman, 2007 dengan Max Payne dan In the Name of King (another crappy Uwe Boll’s movie) dan tahun ini ada film Street Fighter: The Legend of Chun-Li (yang berfokus pada, duh, Chun-Li; nasib kalian sungguh malang Ryu dan Ken…), sementara Metal Gear Solid, Lost Planet, Halo, Castlevania, dan banyak titel game lain masih ada dalam perbincangan untuk ditranslasikan. Dan setiap kali sebuah titel game dirilis, sebagian diri saya yang adalah seorang gamer pun masih menanti-nantikannya…

…as long as it’s not directed by Uwe Boll.

Comments (6)

Advertise Here
Advertise Here