Kalau kalian penggemar serial Lost maka kalian pasti tahu kalau serial paling fenomenal dekade ini baru saja tamat minggu ini. Seperti biasanya Lost, apa yang terjadi dalamnya selalu memancing perdebatan tak habis-habis dari para fansnya. Series finale ini bukan perkecualian, selesai ditayangkan langsung muncul pihak pro-kontra mengenainya. Blog ini saya tulis untuk mengenang Lost sekaligus merefleksikan pandanganku sendiri mengenainya.
Saya rasa kadar kepuasan atau kekecewaanmu menonton finale ini tergantung dari bagaimana kamu memandang Lost. Bila kamu memandangnya sebagai serial misteri sci-fi maka kemungkinan besar kamu bakalan kecewa… karena memang para kreator di Lost tidak menjawab semua misteri yang mereka tebar selama ini. Beberapa misteri memang terjawab, tetapi beberapa lagi dibiarkan tetap mengambang. Sebaliknya bila kamu memandang Lost sebagai sebuah serial mengenai intropeksi diri dan filosofi mengenai kehidupan, saya rasa kamu akan dipuaskan oleh finale yang memberikan closure untuk hampir setiap karakter utama di dalamnya.
Saya senang sekali melihat banyak karakter-karakter lama favorit saya muncul kembali di finale ini. Melihat Charlie, Ana Lucia, Libby, Michael, dan lain-lain memberi saya rasa nostalgia yang manis sekaligus sedih. Manis karena saya mengingat waktu saya dalam Lost dan sedih karena tahu bahwa serial ini sebentar lagi akan berakhir. Pun hati saya terharu melihat para Losties itu mengingat kembali apa yang terjadi dalam kehidupan mereka di alam sana. Melihat Sayid kembali bertemu dengan Shannon, Charlie kembali bersama dengan Claire, Juliet dengan Sawyer, sampai Jack yang akhirnya menerima realita bahwa ia sudah meninggal dunia… semuanya disampaikan secara indah. Kalau ada sebuah serial yang bisa membuat saya menangis tersungguk-sungguk, pastilah itu Lost.
Orang yang kontra terhadap finale ini menyebutkan bahwa Lost terlalu menitik-beratkan temanya pada filosofi kehidupan dan kematian. Tetapi bukankah itu yang selama ini disampaikan oleh Lost? Duel filosofi antara Locke yang merepresentasikan man of faith dan Jack yang merepresentasikan man of science contohnya. Atau dualitas warna hitam putih yang kerap muncul. Atau kehendak bebas VS nasib yang sudah ditentukan. Di finalenya ini semua terjawab, terutama dari kacamata Jack yang mengalami perubahan terbesar di season lima dan enam. Jack selama ini ditakdirkan menjadi kandidat pengganti Jacob; itu adalah nasibnya. Tetapi adalah kehendak bebasnya yang membuatnya memilih menjadi pengganti Jacob. Satu lagi tema yang dominan di finale ini adalah cinta. Hampir semua Losties di sini berhasil mengingat kembali masa lalu mereka dikarenakan ikatan kasih mereka terhadap orang yang terpenting di hidup mereka. Ketika tahu bahwa dunia alternatif yang kita ikuti selama ini sebenarnya merupakan tempat yang mereka ciptakan supaya mereka bisa kembali bertemu, tidakkah kalian merasa itu puitis sekali?
Dan percaya atau tidak, Lost berhasil melakukan sesuatu yang gagal dilakukan berbagai macam doktrin agama yang mencoba menghipnotisku selama 20 tahun. Ia memberiku harapan akan adanya sebuah kehidupan setelah kematian di mana kita bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi. Ia memberiku harapan bahwa ada sebuah tempat yang disebut surga di mana semua orang – tanpa peduli agama mereka dan asalkan mereka mau menerima dan mengatasi kekurangan mereka – bisa masuk. Dan yang terpenting, ia menyadarkan padaku bahwa masih ada sedikit faith di dalam diri seorang man of science sepertiku. Well, kalau Jack bisa berubah… mungkin saja suatu hari nanti saya pun bisa melihat dari sudut pandang man of faith bukan?
Terima kasih Lost… untuk sebuah perjalanan spiritual sepanjang enam tahun yang begitu emosional.


















