Tag Archive | "Lost"

Tags: , , , , , ,

My Afterthought: Lost Series Finale

Posted on 01 June 2010 by Si Tukang Review

Kalau kalian penggemar serial Lost maka kalian pasti tahu kalau serial paling fenomenal dekade ini baru saja tamat minggu ini. Seperti biasanya Lost, apa yang terjadi dalamnya selalu memancing perdebatan tak habis-habis dari para fansnya. Series finale ini bukan perkecualian, selesai ditayangkan langsung muncul pihak pro-kontra mengenainya. Blog ini saya tulis untuk mengenang Lost sekaligus merefleksikan pandanganku sendiri mengenainya.

Saya rasa kadar kepuasan atau kekecewaanmu menonton finale ini tergantung dari bagaimana kamu memandang Lost. Bila kamu memandangnya sebagai serial misteri sci-fi maka kemungkinan besar kamu bakalan kecewa… karena memang para kreator di Lost tidak menjawab semua misteri yang mereka tebar selama ini. Beberapa misteri memang terjawab, tetapi beberapa lagi dibiarkan tetap mengambang. Sebaliknya bila kamu memandang Lost sebagai sebuah serial mengenai intropeksi diri dan filosofi mengenai kehidupan, saya rasa kamu akan dipuaskan oleh finale yang memberikan closure untuk hampir setiap karakter utama di dalamnya.

Saya senang sekali melihat banyak karakter-karakter lama favorit saya muncul kembali di finale ini. Melihat Charlie, Ana Lucia, Libby, Michael, dan lain-lain memberi saya rasa nostalgia yang manis sekaligus sedih. Manis karena saya mengingat waktu saya dalam Lost dan sedih karena tahu bahwa serial ini sebentar lagi akan berakhir. Pun hati saya terharu melihat para Losties itu mengingat kembali apa yang terjadi dalam kehidupan mereka di alam sana. Melihat Sayid kembali bertemu dengan Shannon, Charlie kembali bersama dengan Claire, Juliet dengan Sawyer, sampai Jack yang akhirnya menerima realita bahwa ia sudah meninggal dunia… semuanya disampaikan secara indah. Kalau ada sebuah serial yang bisa membuat saya menangis tersungguk-sungguk, pastilah itu Lost.

Orang yang kontra terhadap finale ini menyebutkan bahwa Lost terlalu menitik-beratkan temanya pada filosofi kehidupan dan kematian. Tetapi bukankah itu yang selama ini disampaikan oleh Lost? Duel filosofi antara Locke yang merepresentasikan man of faith dan Jack yang merepresentasikan man of science contohnya. Atau dualitas warna hitam putih yang kerap muncul. Atau kehendak bebas VS nasib yang sudah ditentukan. Di finalenya ini semua terjawab, terutama dari kacamata Jack yang mengalami perubahan terbesar di season lima dan enam. Jack selama ini ditakdirkan menjadi kandidat pengganti Jacob; itu adalah nasibnya. Tetapi adalah kehendak bebasnya yang membuatnya memilih menjadi pengganti Jacob. Satu lagi tema yang dominan di finale ini adalah cinta. Hampir semua Losties di sini berhasil mengingat kembali masa lalu mereka dikarenakan ikatan kasih mereka terhadap orang yang terpenting di hidup mereka. Ketika tahu bahwa dunia alternatif yang kita ikuti selama ini sebenarnya merupakan tempat yang mereka ciptakan supaya mereka bisa kembali bertemu, tidakkah kalian merasa itu puitis sekali?

Dan percaya atau tidak, Lost berhasil melakukan sesuatu yang gagal dilakukan berbagai macam doktrin agama yang mencoba menghipnotisku selama 20 tahun. Ia memberiku harapan akan adanya sebuah kehidupan setelah kematian di mana kita bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang kita kasihi. Ia memberiku harapan bahwa ada sebuah tempat yang disebut surga di mana semua orang – tanpa peduli agama mereka dan asalkan mereka mau menerima dan mengatasi kekurangan mereka – bisa masuk. Dan yang terpenting, ia menyadarkan padaku bahwa masih ada sedikit faith di dalam diri seorang man of science sepertiku. Well, kalau Jack bisa berubah… mungkin saja suatu hari nanti saya pun bisa melihat dari sudut pandang man of faith bukan?

Terima kasih Lost… untuk sebuah perjalanan spiritual sepanjang enam tahun yang begitu emosional.

Comments (3)

Tags: , , , , , , , , ,

Lost – The Complete Season Six

Posted on 01 June 2010 by Si Tukang Review

Lost Season 6 Promo Poster

Lost Season 6 Promo Poster

A moment of silence

“…”

Dan berakhirlah salah satu serial terbaik (bagi saya) yang pernah hadir di layar kaca. Saya tahu bahwa tidak semua pembaca bakalan sependapat dengan saya. Ada yang mengatakan kalau Lost terlalu membingungkan. Ada yang mengatakan Lost makin lama makin ngawur. Sampai ada juga yang mengatakan kalau serial ini sudah lewat jamannya. Tapi bagi saya pribadi, di antara semua serial yang pernah saya tonton hingga tamat, Lostlah yang saya nilai paling berhasil menutup kisah panjang yang disajikannya selama enam tahun kepada kita.

Selama tiga season pertamanya, Lost menggunakan metode flashback untuk memperkenalkan kepada kita masa lalu para karakter yang ada di dalamnya. Uniknya, tiga musim berikutnya memberi penuturan yang berbeda-beda kepada kita. Season empat beralur flashforward, season kelima memakai cara time travel, sementara season terakhir ini menggunakan dua kisah alternatif berbeda yang disebut flash-sideways oleh para penggemar Lost.

Ingatkah kalian finale season lima di mana Juliet meledakkan bom hidrogen kemudian semua menjadi putih? Penantian panjang dari season lima ke enam diisi para fans dengan debat kusir di internet. Satu kubu berkata kalau bom hidrogen tersebut berhasil dan waktu kembali diputar balik ke season pertama sementara kubu lain yakin bahwa cara tersebut gagal dan kisah terus berlanjut. Kalian sepertinya tahu bukan format flash-sideways ini seperti apa? Tepat. Damon Lindelof dan Carlton Cuse menuturkan kisah lagi-lagi terbagi dua. Yang pertama adalah kisah di dalam pulau sendiri di mana bom hidrogen gagal mengubah apapun sementara yang kedua adalah kisah di mana mereka berhasil dan Oceanic 815 tidak pernah mengalami kecelakaan.

Penyingkapan terbesar dalam finale season lima bukan sekedar itu. Kini kita tahu bahwa sang asap hitam (mulai sekarang akan dipanggil Smokie) telah menyamar sebagai Locke yang meninggal dunia. Dengan kematian Jacob di season lima, Smokie kini bebas mengatur strategi untuk meloloskan diri dari pulau yang dijadikan penjaranya itu. Akan tetapi Jacob tidak kalah strategi. Selama ini ia mengumpulkan orang-orang di pulau itu untuk dijadikan kandidat penggantinya. Siapa yang pada akhirnya akan menjadi pengganti Jacob? Apakah Smokie akan lolos dari pulau itu? Apa sebenarnya pulau itu? Apa kaitannya dengan dunia paralel di mana Oceanic 815 mendarat dengan sukses di LAX dan melanjutkan kehidupan mereka masing-masing?

Kalau kalian menonton Lost selama ini dan masih menyangka bahwa ini adalah sebuah serial sci-fi… berarti kalian sudah meninjau dan menilai Lost dari sisi yang salah. Saya tahu apa yang kalian pikirkan “Sebuah serial tentang time travel, konsep masa depan, dunia paralel, dan segudang hal ilmiah lain BUKAN serial sci-fi? Jangan-jangan habis ini Tukang Review bakalan mengklaim kalau Friends bukan sitkom tapi serial thriller!“. Memang Lost memiliki unsur sci-fi di dalamnya, tetapi itu hanyalah balutan semata. Pada intinya apa yang hendak digarap oleh Lindelof dan Cuse adalah sebuah seri mengenai pencarian jati diri. Kalau mau istilah kerennya: a spiritual journey. Lihat saja tema yang dominan selama ini direpresentasikan di Lost. Apakah kehidupan ini adalah hasil dari pilihan bebas manusia atau sudah ditentukan nasib? Apakah kamu seorang man of science atau man of faith? Simbol hitam dan putih yang juga representasi dari kebaikan dan kejahatan. Dan serial ini berhasil karena memiliki karakter-karakter yang brilian di dalamnya. Saya menonton banyak serial TV; tapi sedikit yang memiliki karakter yang lebih berkesan ketimbang Lost.

Saya juga membaca banyak sekali bulletin board dan message board dan forum di mana terjadi pro kontra finale Lost. Ada yang menilai finale ini brilian karena menutup hampir setiap kisah dari para karakter di dalamnya, sementara ada yang merasa tertipu karena finale ini tidak membeberkan jawaban untuk semua misteri yang timbul saat menonton serial ini. Saya pribadi merasa bahwa langkah ini sudah tepat. Saya mencintai Lost karena karakter-karakter di dalamnya yang begitu hidup dan berbeda satu sama lain; misteri yang ada bisa dibilang – dalam pepatah Inggris – sebuah icing on the cake. Saya tidak akan malu mengakui bahwa finalenya membuat saya menangis tersungguk-sungguk. Melihat begitu banyak karakter baru dan lama (kalian tidak akan kecewa, hampir 90 persen karakter penting di Lost kembali muncul di sini… kecuali Mr Eko! Where are you Eko?) memberi kesan nostalgia yang mendalam; sesuatu yang ajaib mengingat saya sebenarnya baru mengikuti Lost selama dua tahun (dari saat season keempat berakhir). Saya tidak bisa membayangkan bagaimana campur aduknya perasaan orang yang menontonnya dari awal season pertama melihat karakter-karakter seperti Faraday, Charlie, Ana Lucia, Libby, dan banyak-banyak lagi muncul kembali di sini.

Walaupun saya merasa bahwa season enam ini tidak termasuk dalam season terbaik Lost, hal itu bisa saya maafkan setelah menonton finalenya yang brilian. Bravo untuk semua orang yang terlibat di dalamnya mulai dari… JJ Abrams, Damon Lindelof, Carlton Cuse, Jeffrey Lieber terima kasih untuk menciptakan dan memenai serial yang luar biasa ini. Terima kasih untuk Michael Giachino untuk musik yang menggugah emosi sepanjang serial ini. Terima kasih untuk Matthew Fox, Evangeline Lily, Josh Holloway, Terry O’Quinn, dan semua-semua aktor-artis yang telah bermain dalam serial ini. Terima kasih untuk enam season yang luar biasa… Situs IGN bertanya apakah Lost serial terbaik sepanjang masa? Saya tidak tahu. Tapi bila ditanya apakah ia serial terbaik yang saya tonton selama ini? Maka jawaban yang saya berikan adalah anggukan yakin yang disertai ucapan “Ya. Tentu saja.

Score: 9.0

TV Series Details
Creator: JJ Abrams, Damon Lindelof, Jeffrey Lieber
Cast: Matthew Fox, Evangeline Lily, Josh Holloway, Terry O’Quinn
Running Time: 42 Minutes per Episode

Comments (3)

Tags: , , , ,

V – The Complete Season One

Posted on 27 May 2010 by Si Tukang Review

V Poster

V Poster

Salah satu serial sci-fi baru yang paling mengundang perhatian di channel ABC selain FlashForward pada tahun ini adalah V. Serial mengenai Alien yang datang ke bumi sebagai tamu (Visitor) dengan membawa segudang berkat bagi manusia (teknologi penyembuhan, energi ramah lingkungan) tapi juga memiliki agenda misterius tersendiri adalah remake – atau lebih tepat disebut reimagining – dari serial orisinilnya yang diputar pada tahun 1980an. Digarap dengan dukungan teknologi masa kini, bisakah V versi baru ini membedakan dirinya dengan serial-serial bertema alien kebanyakan?

Seluruh dunia tercengang saat mendadak saja begitu banyak kapal alien muncul di atas langit bumi. Sebelum terjadi kekisruhan, alien-alien di bawah pimpinan sosok bernama Anna menyebut diri mereka sebagai Visitor (kemudian disingkat menjadi V) dan berjanji bahwa para alien datang dengan damai. Mereka hanya ingin sedikit dari sumber daya manusia untuk mereka tukar dengan pengetahuan dan teknologi mereka yang jauh di atas kemampuan manusia saat ini. Awalnya para manusia sempat pro-kontra mengenai kehadiran para V tetapi melihat ‘kebaikan’ mereka, makin banyak yang menjadi pro V. Akan tetapi kita tidak mau menonton sebuah film tentang alien-manusia bergandeng tangan dengan damai bukan? Tidak berapa lama kemudian beberapa manusia yang nasibnya ‘apes’ menemukan bahwa V tidak seperti yang mereka klaim. Diam-diam mereka mengadakan persiapan untuk menguasai bumi. Berhasilkah manusia-manusia yang tahu berikut beberapa V yang memberontak menghentikan invasi Anna dan para V lainnya?

Seperti halnya Lost, FlashForward, dan beberapa serial TV sekarang, kisah dalam V berjalan pada beberapa sub-plot sekaligus tetapi juga berkaitan satu sama lainnya. Plot yang paling dominan adalah kwartet Erica Evans (seorang agen FBI), Ryan Nichols (seorang V pemberontak), Kyle Hobbes (seorang teroris) dan Jack Landry (seorang Pastur) bergabung untuk mencoba menghentikan invasi diam-diam para V. Pertempuran menghadapi para V ini sebenarnya tidak hanya dilakukan mereka tetapi oleh orang-orang lain yang tergabung dalam organisasi yang disebut Fifth Column. Masalahnya, Fifth Column ini justru dipandang masyarakat yang keburu menyanjung V sebagai grup teroris. Ironis bukan? Masih ada juga plot lain yang nantinya menyambung ke plot utama, seperti reporter Chad Decker yang haus akan popularitas bekerja sama dengan para V menjadi corong media mereka, atau Tyler, anak Erica yang jatuh cinta dengan Lisa, seorang V penting anak Anna.

Disajikan dalam 12 episode, salah satu masalah utama V adalah pacing cerita yang lambat di tengah season. Serial ini langsung menarik perhatianku dengan pacing yang cepat di episode pertama dan keduanya. Sayang setelah itu beberapa episode diisi dengan kisah stand-alone sementara kisah utamanya sendiri malah ditarik ulur. Sebagai penonton saya geregetan setengah mati melihat Erica merahasiakan wajah asli V dari anaknya Tyler yang makin hari makin pro dengan V. Untungnya saja menjelang episode-episode akhir (mulai episode 9), beberapa cerita yang tadinya berdiri sendiri mulai terikat satu sama lain untuk membangun konklusi yang menegangkan di akhir season. Dengan kepastian bahwa V akan diperpanjang ke satu season depan, plus beberapa misteri dan cliffhanger yang belum terjawab membuat saya berharap mereka bisa meningkatkan lagi kualitas serial ini.

Hampir semua cast dalam serial ini memiliki pengalaman berakting dalam serial bergenre sci-fi sebelumnya. Elizabeth Mitchell dari Lost, Morena Baccarin dari Firefly, Joel Gretsch dari The 4400, sampai beberapa kast pendukung seperti Rekha Sharma (Battlestar Galactica) dan Lexa Doig (Andromeda). Singkatnya saja: kalau kamu penggemar serial sci-fi, kamu bakalan menjumpai banyak sekali wajah familiar hadir di sini. Dan semuanya berperan dengan sangat baik. Elizabeth Mitchell, Joel Gretsch, dan Morenna Baccarin buatku adalah tiga artis yang paling baik memainkan peran mereka. Mitchell dan Baccarin praktis adalah pemimpin dari dua kubu masing-masing dan sepanjang satu season kita melihat keduanya sibuk mengatur strategi satu sama lain untuk menghabisi lawannya. Gretsch di sini tampil sebagai pastur yang terbelah bingung dengan imannya; dan menawarkan pertanyaan moral bagi kita sebagai penonton: Apabila ada alien yang memberikan teknologi luar biasa kepada kita, memberikan kesembuhan mukjizat, memberi kita sumber energi ramah lingkungan, akankah kita mengikuti dan menyembahnya? Just a food for thought; what if the god that people worship is just in fact a high-tech alien?

So my verdict is… season pertama V tidak sesempurna harapan saya setelah menonton dua episode pertamanya. Toh dengan begitu banyak misteri yang masih menyelubunginya, saya sudah memasukkan season kedua V dalam daftar wajib tonton saya… apalagi karena Lost tamat dan FlashForward dicancel.

Score: 7.0

TV Series Details
Creator: Kenneth Johnson
Cast: Elizabeth Mitchell, Morris Chestnut, Joel Gretsch, Laura Vandervoort
Running Time: 40 Minutes Per Episode

Comments (12)

Tags: , , , , , , , , ,

How Geek Can You Go?

Posted on 25 November 2009 by Si Tukang Review

Ini adalah kuis iseng-iseng yang saya ciptakan ketika saya nganggur (walaupun masih ada setumpuk game dan film yang belum saya jamah maupun saya review). Kuis ini sendiri bertujuan mencari tahu segeek apakah kamu dan terbagi dalam empat kategori: film / serial TV, anime / manga / tokusatsu, game, dan komik. Kuis ini juga dibagi dalam lima tingkat kesulitan mulai dari yang paling mudah ke yang paling sulit. Jawaban saya sertakan di akhir tiap kuis, tetapi usahakan untuk mencoba menjawab terlebih dahulu sebelum melihat kuncinya. Kalau sekedar mengintip kuncinya saja tidak seru bukan?

Jadi… apakah kamu siap mencari tahu seberapa geeknya dirimu?

nerd-4

Stage I: A Geeky Beginning

Tingkat kesulitan: Sangat gampang. Kecuali kamu hidup di bawah batu atau di dalam gua selama ini kamu seharusnya tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut.

1. Superman adalah salah seorang superhero terkuat yang pernah diciptakan. Hanya saja itu bukan berarti dia tidak punya kelemahan. Apakah kelemahan utama Superman? (Komik)
a. Batu bara
b. Warna kuning
c. Wanita
d. Batu kryptonite
e. Emas

2. Dalam tubuh Naruto, bersemayam jiwa siluman…? (Anime / Manga)
a. Rubah berekor sembilan
b. Elang berekor dua
c. Gurita berkaki delapan
d. Monster berkaki satu
e. Mata tanpa kaki

3. Mana di antara karakter berikut yang tidak berasal dari Nintendo? (Game)
a. Master Chief
b. Mario
c. Link
d. Samus Aran
e. Kid Icarus

4. Film animasi layar lebar berwarna pertama dari Disney adalah? (Film)
a. Steamboat Willie
b. Cinderella
c. The Little Mermaid
d. Peter Pan
e. Snow White and the Seven Dwarfs

Kunci Stage I: d, a , a, e

nerd-51

Stage II: Embrace the Nerd You

Tingkat kesulitan: Sedikit lebih sulit dibandingkan stage pertamanya, seharusnya stage ini belum memberi kesulitan apapun bagi kalian para geek sejati.

1. Kota manakah yang menjadi basis operasi Spider-man dalam memberantas kejahatan? (Komik)
a. San Diego
b. San Fransisco
c. New York
d. Los Angeles
e. Seattle

2. Serial Kamen Rider manakah yang melabeli monsternya dengan nama Unknown? (Tokusatsu)
a. Kamen Rider Ryuki
b. Kamen Rider Agito
c. Kamen Rider Black RX
d. Kamen Rider Super One
e. Kamen Rider Kabuto

3. Mana di antara game di bawah ini yang belum pernah digarap versi layar lebarnya? (Game)
a. Super Mario Bros
b. Tomb Raider
c. Metroid
d. Mortal Kombat
e. Doom

4. Titanic memang menjadi film terlaris sepanjang masa, tetapi bila disesuaikan dengan inflasi, manakah film yang sebenarnya menjual paling banyak tiket? (Film)
a. Masih tetap Titanic
b. Gone with the Wind
c. Star Wars
d. The Dark Knight
e. Casablanca

Kunci Stage II: c, b, c, b
nerd-2

Stage III: May the Nerd be with you

Tingkat kesulitan: Di sinilah ke’nerd’an kalian akan mulai diuji. Buat kalian yang hanya kuat di satu dua bidang tertentu saja sebaiknya berpikir-pikir lagi sebelum masuk ke sini. Ingat, the way of the geek is a path hard to follow (mode lebay: on).

1. Mana di antara karakter penjahat berikut yang tidak tergabung dalam gallery villain-nya Batman? (Komik)
a. Captain Cold
b. Joker
c. Killer Croc
d. Hush
e. Scarecrow

2. Berapakah harga bounty buruan dari Tony Tony Chopper sekarang ini (setelah insiden Water Seven)? (Anime / Manga)
a. 500.000.000 B
b. 50.000.000 B
c. 500.000 B
d. 50 B
e. 0.5 B

3. Karakter burung kuning yang selalu menjadi tunggangan setiamu setiap berpetualang di dunia Final Fantasy adalah? (Game)
a. Moogle
b. Kuhjara
c. Quack
d. Chocobo
e. Bahamut

4. Dalam film Star Trek yang manakah terjadi dialog berikut ini “The need of the many outweighs the need of a few, or the one” (Film)
a. Star Trek: First Contact
b. Star Trek: Wrath of Kahn
c. Star Trek: Nemesis
d. Star Trek
e. Star Trek: The Voyage Home

Kunci Stage III: a, d, d, b
nerd-1

Stage IV: Nerd Herd

Tingkat Kesulitan: Kalau kamu bisa sampai di tingkatan ini, kamu bisa menepuk dadamu sendiri dan dengan bangga berkata kalau kamu seorang nerd. Nah sekarang coba jawab pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa diketahui para geek berikut ini.

1. Civil War membelah para superhero Marvel dalam dua kubu besar. Siapakah karakter superhero yang akhirnya tewas di penghujung cerita Civil War? (Komik)
a. Wolverine
b. Iron Man
c. Captain America
d. Cyclops
e. Black Widow

2. Gundam kedua yang dipiloti oleh Athrun Zala dalam serial Gundam Seed adalah? (Anime)
a. Aegis Gundam
b. Wing Gundam
c. Freedom Gundam
d. Justice Gundam
e. Zeta Gundam

3. Ketika kamu hendak menghentikan jaksa yang terus menekan tersangkamu, apa kata-kata yang harus kamu teriakkan di mikrofon DSmu ketika bermain Phoenix Wright? (Game)
a. Take that!
b. Wait a minute!
c. Stop it!
d. Shut up!
e. Objection!

4. Siapa di antara para artis berikut yang tak pernah tampil satu film dengan Brad Pitt? (Movie)
a. Angelina Jolie
b. Tom Cruise
c. Kirsten Dunst
d. Jennifer Aniston
e. Christoph Waltz

Kunci Stage IV: c, d, e, d
need-3

Stage V: Nerd as the way of life for Geeky is the new Sexy

Tingkat Kesulitan: Sebelum mengerjakan bagian terakhir dari kuis ini berjanjilah dulu kepadaku untuk keluar dari kamarmu setelahnya. Sungguh. Hidup ini lebih dari sekedar baca komik, main game dan nonton film dan serial favoritmu kok. Oke? Oke?

1. Ada banyak karakter yang menyandang nama Green Lantern di dunia DC, tetapi manakah yang di antara mereka merupakan Green Lantern yang paling pertama diperkenalkan pada pembaca? (Komik)
a. Abin Sur
b. Sinestro
c. Guy Gardner
d. Hal Jordan
e. Alan Scott

2. Identitas asli dari Servant Saber di Fate / Stay Night adalah? (Anime)
a. Jean D’Arc
b. Hercules
c. Gilgamesh
d. Arturia Pendragon
e. Miyamoto Musashi

3. Game manakah yang mencetak penjualan terbesar di hari pertamanya dirilis? (Game)
a. Halo 3
b. Grand Theft Auto IV
c. Call of Duty: Modern Warfare 2
d. Metal Gear Solid 4: Gun of the Patriot
e. Super Mario Galaxy

4. Karakter-karakter serial TV Lost ini meninggal dunia di season ketiga kecuali: (TV)
a. Charlie Pace
b. Mr Eko
c. Ana Lucia
d. Paulo Fernandez
e. Niki Fernandez

Kunci Stage V: e, d, c, c

Nah. Bagaimana hasil dari kuis kalian? Mau dipost dalam bagian komentar supaya bisa didiskusikan bersama? ^^;

Comments (2)

Tags: , ,

Land of the Lost

Posted on 14 August 2009 by Si Tukang Review

Land of the Lost Poster

Land of the Lost Poster

Dengan kesuksesan Journey to the Centre of the Earth tahun lalu, sebuah film petualangan ke tanah asing bin ajaib lagi-lagi dirilis Hollywood. Kali ini dibintangi oleh salah satu komedian kelas atas Amerika Will Ferrell sekaligus juga adaptasi dari serial TV klasik dengan judul yang sama: Land of the Lost. Walaupun film ini gagal ketika dirilis di Box Office Amerika di bulan Juni, saya masih ingin menontonnya karena menghormati nama sang sutradara. Saya memang punya kenangan manis dengan Brad Silberling yang menyutradarai Casper dan Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events. Sangkaan saya, Land of the Lost tentunya adalah suguhan film keluarga lain darinya.

Tidak ada yang percaya pada sang palaentologist (pekerjaan yang sama dengan Alan Grant di Jurassic Park) Rick Marshall ketika ia mengungkapkan teori bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan krisis energi adalah dengan teori perpindahan waktu. Terdepak dari posisi terhormatnya, Marshall kini bekerja sebagai guru anak-anak sampai seorang wanita bernama Holly Cantrell. Holly sangat mengagumi karya Marshall dan mendorongnya menyelesaikan alat bernama Tachyon Amplifier. Tak disangka bahwa setelah Marshall menyalakan Tachyon Amplifier tersebut, ia dan Holly (dan seorang pemandu tur bernama Will) terlempar ke sebuah dunia paralel. Dunia paralel tersebut berbeda dengan bumi yang biasa kita kenal dan dipenuhi marabahaya di mana-mana, mulai dari dinosaurus yang buas, manusia setengah kera, manusia kadal ala zombie, sampai nyamuk penghisap darah ala raksasa. Apakah trio ini bisa selamat?

Film Brad Silberling ini sangat – sangat mengecewakanku. Saya menyesal sekali menonton film ini di bioskop bahkan berkali-kali saya hampir ketiduran menontonnya! Apa pasal? Pertama-tama adalah terlalu banyak adegan yang menyalahi logika dalam film ini. Saya tahu ini film komedi tetapi mungkin tidak sih kalau seseorang bisa berlari lebih cepat daripada seekor T-Rex? Kalau itu tidak cukup aneh, bagaimana dengan adegan ketiganya  sedang dikejar-kejar oleh T-Rex tapi masih mau berpose di hadapan sang raja karnivora untuk berfoto ria? Ada batas yang jelas antara lucu dan jayus. Tidak sulit untuk menebak humor yang ditawarkan oleh Land of the Lost jatuh di kategori yang mana.

Belum lagi karakter-karakter di film ini yang semuanya klise dan menjengkelkan. Rasanya setelah Elf, tingkah laku Will Ferrell semakin memuakkan di mataku. Gaya humornya terlalu slapstick, kasar, dan tidak berbobot. Ada satu adegan di mana karakter Ferrell ditelan oleh dinosaurus dan saya tanpa sadar bergumam “Oh Tuhan terima kasih – semoga dia mati” (tentu saja ia berhasil keluar). Parahnya, seburuk-buruknya penampilan Ferrell sebagai Marshall dalam film ini, saya bahkan lebih membenci karakter Chaka yang diperani oleh Jorma Taccone. Bagaimana bisa karakter super menyebalkan – super porno – super menjijikkan macam dia bisa masuk ke dalam film ini sih? Bisa dibilang dari deretan pemainnya, yang bisa kutolerir hanyalah Anna Friel – penampilannya di sinipun masih kalah jauh dengan penampilannya sebagai Chuck dalam Pushing Daisies.

Land of the Lost jatuh dalam kategori yang tidak jelas. Tema petualangannya yang serupa dengan Journey to the Center of the Earth jelas membidik pasaran anak-anak dan remaja, tetapi humor-humor kotor dalamnya membidik pasaran dewasa. Pantas saja film ini gagal. Terlihat juga kalau Silberling bingung mau menekankan film ini lebih ke arah petualangannya atau ke humornya. Ironisnya, hal itu bisa kentara terdengar dari musik-musik gubahan Michael Giacchino. Giacchino yang bertanggung jawab atas musik di serial Lost membubuhi film ini dengan musik-musik yang serupa. Hasilnya jadi aneh karena musiknya ‘tegang’ tetapi adegannya ‘humor’.

Pada akhirnya, Land of the Lost adalah contoh yang pas untuk sebuah film yang bingung dengan identitasnya sendiri. Nah, kalau filmnya saja bingung, apalagi penontonnya? Nonton film ini bisa bikin kamu benar-benar lost!

Score: 3.6

Movie Details
Director: Brad Silberling
Cast: Will Ferrell, Anna Friel, Danny McBride, Jorma Taccone
Running Time: 101 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , , , , ,

The 5 TV Series Moments That Made Me Cry

Posted on 05 August 2009 by Si Tukang Review

Bukan rahasia kalau gw pernah (sering?) nangis dalam nonton film. Gw memang bukan seorang yang merasa harus menahan tangis bila memang perlu menangis. Asalkan sebuah media (apapun itu; mulai dari film, komik, bahkan musik) menyentuh hatiku, maka gw selalu mengijinkan diri gw menangis. Nah, sebelumnya gw pernah melist beberapa film yang pernah membuatku menangis. Bagaimana dengan serial TV? Ini dia list lima momen dalam serial TV yang pernah membuat gw menangis. Bagaimana dengan kalian? Apakah menangis juga dalam momen-momen yang kusebutkan ini? Perhatian, list ini hanya akan mengikutkan serial-serial barat, jadi jangan mengomel kalau serial Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, China atau sinetron Manohara favorit kalian tidak masuk dalam list ini. Obviously contain SPOILER.

5. Chuck Defends Morgan
TV Series: Chuck
Episode: Season 2, Chuck VS The Best Friend
Scene: Secara keseluruhan, episode ini menyorot hubungan Chuck dengan Morgan. Sering kali ketika Chuck absen dari kerjaan dan harus melakoni tugasnya sebagai agen rahasia, Morgan selalu menutupi jejaknya walau tidak tahu apa yang sebenarnya Chuck lakukan. Ketika dalam sebuah misi, Chuck harus mengkhianati Morgan (walau demi menyelamatkan nyawanya), saya bisa melihat bagaimana hal tersebut nyaris menghancurkan persahabatan keduanya, dan bagaimana hancurnya hati Chuck ketika ia  dipaksa mengatakan kata-kata yang menjelekkan sahabatnya. Ketika Chuck menjelaskan hubungannya dengan Morgan kepada Sarah, mata gw berkaca-kaca karena terharu. Dialog itu benar-benar mendeskripsikan persahabatan keduanya. Ending episode ini juga sangat pas dengan Jeffster menyanyikan lagu Africa-nya Toto serta menunjukkan perubahan dalam diri Morgan untuk tumbuh lebih dewasa dan tidak melulu tergantung pada Chuck. Definitely one of the best episode in an already awesome TV Series.

Link: Jeffster singing Africa to close this wonderful episode

4. I love you Claire Bear
TV Series: Heroes
Episode: Season 1, Company Man
Scene: Ada kalanya di mana gw adalah pecinta serial Heroes. Itu adalah masa-masa season pertamanya saat Heroes masih merupakan serial yang fresh dan penuh dengan ide orisinil. Salah satu ide yang menarik di Heroes adalah bagaimana mereka berusaha menyorot cerita satu demi satu karakter: mulai dari Hiro, Peter, Claire, dan lain-lain. Ironis bahwa sebuah serial yang terkenal dengan beberapa skenario dalam satu episodenya, episode terbaiknya justru datang dari episode yang fokus pada hanya satu karakter saja. Episode ini ditulis dan digarap oleh Bryan Fuller dan menitikberatkan cerita pada Claire dengan sang ayah angkatnya Noah Bennet (kala itu hanya dikenal dengan nama HRG -- Half Rimmed Glass). Hubungan keduanya dibangun dengan pelan-pelan hingga kita sebagai penonton disadarkan kenapa Noah begitu menyayangi Claire. Endingnya di mana Noah mengorbankan dirinya dan membiarkan ingatannya dihapus supaya Claire bisa kabur dari kejaran The Company adalah salah satu bukti nyata bahwa Heroes -- pernah bisa -- menyentuh hubungan dan emosi ayah-anak yang terdalam.

Link: What a father would do for his daughter

3. Marshall And Lily in the Airport
TV Series: How I Met Your Mother
Episode: Season 4, Three Days of Snow
Scene: Marshall dan Lily sempurna sebagai pasangan. Salah satu daya tarik utama dalam HIMYM adalah melihat keduanya bersama. Walaupun kelihatan membosankan (mereka pacaran selama lebih dari sepuluh tahun, dan berujung pada pernikahan, tanpa pernah punya pacar lain lagi!) menurutku Marshall dan Lily adalah sebuah bukti dari the one and only love; soulmate. Keduanya juga memiliki tradisi unik buat menjaga keromantisan pernikahan mereka. Seperti sama-sama membuat janji menu makan malam, atau keharusan Marshall menjemput Lily dari airport. Salah satu ujian terbesar hubungan mereka datang ketika usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun kedua. Apakah memang masih perlu segala tradisi formal semacam menjemput istrimu dari airport? Apalagi ketika itu tengah turun badai salju terbesar sepanjang sejarah di New York! Episode ini sendiri penuh dengan plot twist sehingga gw tidak mau banyak menspoilerkannya. Satu hal yang jelas, ketika ending dan plot twist tersebut tersibak, gw spontan bangkit berdiri dan ikut bertepuk tangan. Yes. It’s THAT moving.

Link: Download the episode here (

http://hotfile.com/dl/8776373/4bb458e/How_I_Met_Your_Mother_-_s04e13_-_Three_Days_Of_Snow.mkv.html)

2. She’s already a mother
TV Series: Friends
Episode: Season 10, The One With the Birth Mother
Scene: Kalau Marshall dan Lily adalah salah satu pasangan terbaik di layar kaca, maka gelar pasangan terbaik bagiku jatuh di tangan pasangan Monica -- Chandler. Pasangan ini dari awalnya sudah unik dan romantis. Ingat finale season enam di mana Chandler meminta Monica menikahinya (dan ternyata Monica juga sudah menyiapkan hal yang sama?). Sangat romantis! Tetapi momen terbaik keduanya bagiku datang saat Monica dan Chandler (yang sebenarnya sangat menghendaki bayi) menyadari bahwa mereka tidak bisa memiliki bayi. Mereka mengambil satu-satunya cara yang lain: mengadopsi bayi. Demi memperbesar peluang, mereka sampai berpura-pura menjadi orang lain. Malangnya, kedok mereka terbongkar dan ibu sang bayi sempat ogah menyerahkan bayi itu kepada mereka. Itulah saat Chandler keluar dan praktis memohon kepada sang ibu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Itulah saat pertama gw menonton serial TV dan tidak bisa menahan air mata gw tumpah. Chandler… you’re the man.

Link: Chandler Speech

1. My Greatest Hits
TV Series: Lost
Episode: Season 3, Greatest Hits
Scene: Ayolah. Siapa di antara kalian yang tahu gw dan tidak tahu that this is coming?

Charlie Pace adalah karakter favoritku di Lost. Gw pernah menulis kenapa dia jadi idola gw walaupun dia terbilang biasa dan sebenarnya lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Charlie adalah pecandu narkoba sebelum pesawat Oceanic 815 jatuh ke pulau tersebut. Ketika semua orang hanya beradaptasi dengan kehidupan di pantai, Charlie juga harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa narkoba. Dan ia berhasil menahan godaan itu! Sialnya, di season ketiga, Desmond (karakter lain di Lost) terus mengalami visi bahwa Charlie akan meninggal dan Desmond terus berusaha mencegah dan menghentikannya.

Sampai sebuah visi yang menunjukkan bahwa supaya Claire -- gadis yang diam-diam disukai Charlie -- bisa meloloskan diri dari pulau itu, Charlie harus mati. Sebelum Charlie menerima kematiannya, ia menuliskan lima hal yang merupakan memori terindah dalam hidupnya. Bisakah kalian menebak apa yang merupakan peringkat pertama dari kelimanya?

Ia menulis “The day I meet you” di peringkat pertama dan menujukan surat itu kepada Claire.

Flashback menunjukkan bahwa dari saat pertama Charlie melihat Claire, ia sudah mencintai gadis itu, dan walau ia tak pernah mengatakan apapun kepada Claire (dan Claire juga salah kaprah dan menyangka bahwa Charlie hanya teman baiknya), Charlie SELALU melakukan segalanya -- bahkan mengorbankan nyawanya -- bagi Claire. I think that’s the measure of a true gentleman. Itulah yang menjadikan Charlie Pace my most favorite TV character. Ever.

Oh, dan kelihatannya Charlie juga merupakan karakter favorit banyak orang. Pada konferensi Lost baru-baru ini, ketika ditunjukkan slideshow dari karakter-karakter yang sudah meninggal, tebak siapa yang mendapat applause paling panjang dan meriah? You guessed it. It’s Charlie.

Link: Charlie’s Greatest Hits

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Lost – The Complete Fourth Season

Posted on 20 January 2009 by Si Tukang Review

Lost Season 4 Cover

Lost Season 4 Cover

Producer: JJ Abrams
Artist: Matthew Fox, Evangeline Lily, Dominic Mognahan
Running Time: 45 Minutes per Episode

(Seperti biasa, review untuk season keempat ini ditulis dengan anggapan kamu sudah menonton tiga season Lost sebelumnya. Apabila kamu belum menontonnya, jangan baca review di bawah karena berisi spoiler untuk kisah tiga season sebelumnya)

How can you top a TV series that ends its season 3 with ‘WE HAVE TO GO BACK KATE. WE HAVE TO GO BACK’? The answer is simple. You simply can’t.

Saya masih ingat bahwa itulah nickname yang saya masukkan di MSN saya begitu selesai menonton season tiga dari Lost. Maklum, kalau kamu sudah cermat mengikuti Lost selama ini, maka season tiga finalenya yang berjudul Through The Looking Glass memberikan hampir segalanya yang bisa kamu harapkan dari Lost. Perseteruan antara para survivor dan para others mencapai puncaknya; kontak dengan dunia luar untuk pertama kali berhasil dilakukan; janji akan diselamatkan untuk pertamanya mencuat dengan jelas. Betapa salahnya saya, karena terbukti bahwa season empat berhasil menyamai kualitas season tiga – bahkan melebihinya.

Dan semuanya ditutup dengan pesan terakhir Charlie: “Not Penny’s Boat“.

Jadi siapa orang-orang yang dijanjikan akan menyelamatkan mereka itu? Apakah mereka kawan? Apakah mereka lawan? Haruskah percaya kepada mereka dan menyelamatkan diri dari pulau misterius itu? Ataukah para survivors itu masih harus tetap tinggal di sana karena itulah takdir mereka?

Hal inilah yang nantinya membagi para survivors menjadi dua kubu. Satu kubu akan dipimpin oleh Jack, yang mengharapkan mereka akan bisa diselamatkan dan meninggalkan pulau ini. Sebaliknya, kubu lain di bawah pimpinan dari John yang merasa bahwa kesempatan mereka untuk hidup adalah dengan bertahan di pulau itu. Walhasil, beberapa survivor memutuskan tinggal di pantai dan menunggu pertolongan, sementara yang lain masuk makin ke dalam hutan guna menghindari pertemuan dengan para penyelamat. Siapa yang benar? Apakah mereka benar-benar bisa meloloskan diri dari pulau itu?

Satu konsep baru yang diperkenalkan dalam season ini oleh Lost adalah konsep flash-forward. Apabila biasanya cerita dalam Lost sebelumnya dibagi dalam segmen flashback satu karakter tertentu dan cerita utama di pulau, elemen baru flash-forward ini menunjukkan apa yang terjadi pada masa depan karakter yang bersangkutan. Hal ini membuat jalan cerita menjadi semakin menarik karena para penulis skenario bisa menipu penonton dengan menunjukkan flash-forward yang seakan-akan merupakan flashback (atau sebaliknya). Konsep flash-forward pun merupakan bagian yang lebih integral dengan jalan cerita utama sehingga kita akan cermat mengamatinya supaya tidak kelewatan rahasia-rahasia kecil yang diselipkan oleh para penulis skenario.

Kelemahan utama Lost dulu adalah pacing yang terlalu lambat. Ini paling kentara apabila kamu menonton season ketiga Lost. Paruh pertamanya terasa lambat, bertele-tele dan membosankan. Toh begitu season tersebut memasuki paruh keduanya, pace cerita meningkat, misteri-misteri yang ada dibuka, dan konfrontasi serta penyingkapan misteri terjadi. Walhasil, season keempat Lost bukannya memiliki 22 jumlah episode, hanya memiliki 14 episode saja. Pemotongan jumlah episode yang terjadi untuk semua TV Series Amrik (karena adanya Writer’s Strike tahun 2007) ini bukannya menjadi bencana malahan menjadi berkah bagi Lost. Lost pun disanjung dan dianggap kembali mampu menaikkan pamornya.

Saya sudah menuliskan resensi mengenai empat season Lost dan memuji serial ini setinggi langit. Jujur saja, apabila kamu belum mengikuti serial ini, saya hanya bisa mengulang saran yang rasanya sudah saya tuliskan berulang kali. Lost adalah salah satu serial terbaik yang pernah ditayangkan di layar kaca. Jangan lewatkan.

Score: 9.3

Comments (0)

Tags: , , , ,

Lost – The Complete Third Season

Posted on 19 January 2009 by Si Tukang Review

Lost Season 3 Cover

Lost Season 3 Cover

Producer: JJ Abrams
Artist: Matthew Fox, Evangeline Lily, Dominic Mognahan
Running Time: 45 Minutes per Episode

(Perhatian: Seperti review untuk season dua, bacalah review ini setelah anda menonton kedua season awal Lost karena akan banyak spoiler dalam review ini)

Season tiga adalah titik balik dari serial Lost. Banyak orang sempat merasa bahwa Lost sudah sampai pada titik jenuhnya. Plot yang maju dengan lambat selama dua season pertama (akibat harus berbagi waktu dengan flashback) membuat banyak orang menjadi malas mengikuti serial ini. Karakter di Lost memang menarik – tetapi berapa banyak masa lalu yang bisa anda masukkan ke dalam seorang karakter? Kate adalah seorang penipu, Jack adalah seorang dokter, Locke adalah seorang… petualang (mungkin?), dan Sawyer adalah seorang penipu. Okay, we get it. Stop beating that to our head repeatedly.

Season dua diakhiri dengan ditangkapnya Hugo, Jack, Kate, dan Sawyer karena pengkhianatan Michael. Sesuai janji dari The Others, Michael dan Walt diperbolehkan pulang. Sayid, Jin, dan Sun masih berada di perairan lepas menanti di mana gerangan mereka. Di camp para survivor sendiri, Locke baru menyadari bahwa ia membuat kesalahan besar dengan tidak menekan angka keramat. Hatch yang selama ini menjadi markas kedua para survivor pun meledak sudah. Dengan finale seperti itu, season tiga pun dimulai.

Apabila saya diminta merangkum Lost, saya akan merangkum season satu sebagai pembukaan Lost. Dalam season dua kita mulai diperkenalkan lebih dalam mengenai The Others. Siapa saja mereka yang telah menghuni pulau ini sebelum para survivor tiba? Dalam season tiga, fokusnya adalah konfrontasi antara para survivor dan The Others. The Others di bawah pimpinan Henri Gale (nantinya dikenal sebagai Benjamin Linus) dan para survivor di bawah pimpinan Jack dan John. Kita akan diajak untuk mengenal lebih dalam siapa saja anggota lain dari The Others.

Paruh pertama dari Lost mendapatkan kritik bertubi-tubi dari banyak orang. Jalan cerita dianggap sangat – sangat lambat sehingga membosankan dan membuat banyak orang malas mengikutinya (apabila di tahun yang sama muncul Heroes yang memiliki cerita dengan tempo lebih cepat dan menegangkan). Karakter-karakter baru yang dimasukkan dalam cerita seperti Paolo dan Niki dianggap tidak menarik dan tak bisa bersaing dengan karakter-karakter lama lain. Walhasil, rating dari Lost pun turun dan para produser harus memutar otak guna menggarap paruh akhir musim.

Hasilnya sukses besar. Paruh kedua musim ini menghasilkan episode-episode yang solid. Banyak misteri mulai diungkap, karakter-karakter yang tidak menarik digantikan, dan pace cerita dipercepat. Di saat yang sama Jeffrey Lieber, Damon Lindelof dan JJ Abrams selaku penggarap Lost memastikan bahwa Lost sudah memiliki jadwal cerita. Mereka akan mengakhiri Lost di season enam dengan menggarap 16 episode di tiga season terakhir. Ini memberikan kepastian bagi banyak fans bahwa Lost tidak akan memiliki jalan cerita yang berputar-putar ga jelas. Mendapat sambutan hangat para kritik, Lost kembali menjadi favorit penonton. Saya tantang anda; cari satu episode TV yang memiliki kualitas setaraf dengan Through the Looking Glass (finale dari season tiga Lost). Saya jamin anda takkan bisa menemukannya.

Terus terang saya sendiri pun terbagi mau menilai season tiga. Setengah dari saya ingin menilai ini sebagai season terbaik Lost karena paruh keduanya yang fantastis, tetapi sebagian dari saya yang lain ingin mencercanya karena paruh pertamanya yang sangat buruk. My final verdict is: sabarkan diri anda menonton paruh pertama, karena paruh kedua Lost adalah salah satu sajian paling berkualitas yang pernah hadir di layar kaca.

Score: 9.0

Comments (0)

Tags: , , ,

Lost – The Complete Second Season

Posted on 12 January 2009 by Si Tukang Review

Lost Season 2 Cover

Lost Season 2 Cover

Producer: JJ Abrams
Artist: Matthew Fox, Evangeline Lily, Dominic Mognahan
Running Time: 45 Minutes per Episode

(Perhatian! Sebelum membaca review ini, pastikan anda sudah menonton Lost season pertama terlebih dahulu. Merupakan hal yang hampir mustahil apabila saya berusaha menjelaskan Season 2 dengan merahasiakan semua detail dari Season 1.)

Ketika menyelesaikan Lost Season 2, saya tiba pada kesimpulan bahwa Lost merupakan salah satu TV Series terbaik yang pernah saya tonton. Mengapa demikian?

Dalam season 1, sebagai penonton, kita sudah dikenalkan Jack dan teman-teman. Di akhir dari season pertama Lost, kita mulai ditunjukkan mengenai siapa sebenarnya The Others yang terus disebut dan direferensikan di season pertama. Selain itu, apa yang sebenarnya ada di dalam hatch yang berusaha dibuka oleh Boone dan Locke pun diungkap di sini. Yang mengejutkan bagi para penonton adalah dihadirkannya kelompok Survivor yang lain. Semula, kita menyangka bahwa hanya 48 orang di bawah pimpinan Shephard-lah yang selamat. Tak disangka bahwa ternyata ada beberapa survivor lain (ingat, pesawat mereka terbelah menjadi dua) yang terdiri dari penumpang di bagian belakang pesawat.

Apabila season 1 bertujuan sebagai setup yang memperkenalkan setiap karakter dalam Lost kepada kita, season 2 mulai memajukan cerita. Kali ini para survivor di Lost tidak hanya diam saja menunggu diselamatkan. Selain itu, The Others yang di season 1 terlihat pasif asalkan para survivor tidak menganggu mereka pun mulai bergerak. Bisa ditebak bahwa gerakan ini akan membawa kedua kubu dalam bentrokan yang tidak bisa dihindarkan.

Satu hal yang menarik dari season kedua Lost kali ini adalah keberanian dari sang produser untuk ‘menghabisi’ para karakter yang ada. Tidak seperti series TV lain di mana anda bisa yakin kalau sang jagoan pasti selamat (berapa kali Clark hampir tewas di Smallville, tetapi ternyata dia hidup, baik-baik, dan sehat walafiat?). Tidak demikian halnya dengan season kedua Lost. Saya tak akan memberi banyak spoiler – tetapi percayalah kalau akan ada banyak kematian yang mengejutkan anda.

Beberapa misteri di season pertama pun dibuka di season ini; seperti bagaimana pesawat yang mengangkut heroin itu bisa jatuh di pulau. Atau siapa saja orang yang dikontak oleh Boone ketika menggunakan radio di pesawat. Sebagai gantinya misteri yang diungkap, misteri barupun dimunculkan (hint: nomer mistik). Masa lalu dari setiap karakter pun makin digali (termasuk para karakter-karakter baru) dan saya merasa bahwa banyak dari mereka yang makin nyaman memainkan karakter yang mereka perankan (Sawyer dan Locke terutama terlihat makin matang memainkan karakter mereka). Karakter-karakter baru macam Ana-Lucia, Libby, dan Mr. Eko pun dengan mantap mampu masuk ke dalam jaringan para karakter Lost yang lama.

Lost season kedua memang memiliki penurunan kualitas dibandingkan season pertamanya. Kendati begitu, ini masih sebuah serial yang tidak boleh anda lewatkan.

Score: 8.0

Comments (0)

Tags: , , ,

Lost – The Complete First Season

Posted on 08 January 2009 by Si Tukang Review

Lost Season 1 Cover

Lost Season 1 Cover

Producer: JJ Abrams
Artist: Matthew Fox, Evangeline Lily, Dominic Mognahan
Running Time: 45 Minutes per Episode

Ketika Jack Shephard sadar, ia berada di tengah hutan bambu. Kepalanya pening, badannya sakit, dan ia terdiam di sana, berbaring tanpa bergerak. Jack lantas melihat seekor anjing dan mengira bahwa dirinya berhalusinasi. Tapi sesaat kemudian ia teringat apa yang terjadi, ia bangun dan berlari menuju ke pantai dan saat itulah wajah serial televisi di Amerika berubah selamanya. JJ Abrams menghadirkan kepada kita Lost.

Lost dibuka dengan kecelakaan pesawat terbang Oceania 815. Pesawat ini jatuh di sebuah pulau yang tak berpenghuni – sejumlah 48 orang selamat dari kecelakaan maut ini. Ketika bantuan tidak kunjung datang, mau tidak mau orang-orang yang semula tak saling kenal satu sama lain ini mulai berkenalan, bekerja sama, dan bahu membahu berusaha untuk bertahan hidup di pulau ini. Pulau tempat mereka terdampar pun nampaknya bukan sekedar pulau biasa karena pulau misterius ini menyimpan banyak rahasia di dalamnya. Bukan hanya pulau yang bisa menyimpan misteri. 14 karakter utama disorot secara mendetail dalam interaksi mereka. Mereka ini juga menyimpan masa lalu yang disorot dalam tiap episode di Lost. Manusia-manusia yang pada luarnya nampak begitu normal, ternyata memiliki begitu banyak yang mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan itulah yang diceritakan serial ini melalui flashback-flashback di tiap episode.

Tiap episode dalam Lost bisa dibilang terbagi dalam dua segmen. Segmen pertama bersettingkan di masa kini, di pulau. Segmen kedua biasanya menyorot karakter-karakter tertentu dan mengisahkan masa lalu mereka. Ini terkadang menjadikan pacing dalam Lost terasa lambat – tetapi juga memberi kita waktu untuk lebih dalam mengenali karakter yang ada (dan merasakan keterkaitan dengan mereka). Yang membuat karakter dalam Lost begitu unik dan riil adalah karena mereka semua memiliki kedalaman karakter. Sekilas lihat, mudah mungkin menghakimi mengatakan bahwa si A itu tukang rusuh dalam grup, atau si B adalah juru damai grup, tetapi begitu episode yang berpusat pada mereka ditayangkan, pendapat kita tentang mereka bisa jadi berubah total.

Setting Lost yang kebanyakan berpusat di hutan serta pantai juga hadir dengan warna dan kontras yang tajam. Pun begitu dengan musiknya yang digubah oleh Michael Giacchino. Nampaknya JJ Abrams selaku produser dari serial ini memang mengimpikan Lost bukan sekedar serial biasa – tetapi serial yang memiliki kualitas setingkat film layar lebar.

Season pertama Lost adalah sebuah serial televisi yang saya rekomendasikan kepada siapa saja. Sudah begitu lama (mungkin sejak menonton season pertama 24?) saya tidak pernah menonton maraton serial televisi; Lost membuat kebiasaan buruk saya itu kambuh.

Score: 9.5

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here