Tag Archive | "List"

Tags: , , , , , , , , , ,

The Top 10 Performance in Glee Volume One

Posted on 10 February 2010 by Si Tukang Review

Are you a gleek?

Are you a gleek?

Sudah biasa kalau saya lagi demam sama sesuatu saya bakalan bikin list terfavoritnya saya mengenai serial itu. Ketika lagi demam Lost, saya menciptakan top 10 karakter favoritku di Lost. Ketika lagi demam Chuck, saya menyusun list momen-momen paling memorable antara Chuck dan Sarah. Sekarang ketika saya tengah demam Glee, sudah layak dan sepantasnya kalau saya menyusun list mengenainya… Dan bicara tentang Glee, kesuksesan serial ini tentu tak bisa dilepaskan dari musiknya.

Bicara jujur, sebenarnya saya hendak menunggu sampai berakhirnya season satu sebelum membuat list top 10 ini. Toh setelah saya memikirkan ulang, kelihatannya dari 13 episode volume pertama saja saya sudah kewalahan diminta memilih 10 lagu terbaik. Maklum, setiap episode Glee rata-rata memiliki lima hingga enam lagu yang berarti totalnya lebih dari 50 lagu untuk 13 episode.

Pemilihan lagu dalam list ini bisa saja berbeda untuk setiap gleek (toh, namanya musik bisa relatif bukan di telinga tiap orang?). Bagi saya pribadi, pemilihan berdasarkan dua kriteria utama: kualitas penampilan (penyanyian dan koreografi) serta relasi lagu tersebut dengan jalan cerita. So without further ado, this is my top ten Glee music performance!

10. Keep Holding On – Episode 07 (By: Avril Lavigne, Performed By: New Directions)
Why? Karena ini merupakan bentuk dukungan Glee Club kepada Quinn Fabray. Menurutku ini adalah salah satu momen pivotal dalam serial ini. Sebelum episode ini, Quinn masih ragu-ragu memilih antara klub cheerleader atau Glee. Toh setelah berita mengenai kehamilannya tersebar ke seluruh sekolah, ia sadar bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikannya – dan ia sudah pasti ditendang keluar dari klub cheerleader. Itulah sebabnya momen di mana para sahabatnya mendukungnya lewat lagu menjadi sesuatu yang sangat mengena… di mana seorang ratu sekolah kini menemukan para sahabat sejati dari para underground sekolah. Itu juga yang saya rasa melatar-belakangi kenapa Quinn mati-matian membela klubnya di akhir episode 12.

09. Imagine – Episode 11 (By: John Lennon, Performed By: New Directions)
Why? Dalam episode ini, anggota Glee – bahkan Will sang guru – merasa kurang pede akan penampilan mereka yang terlalu menonjolkan kekuatan vokal daripada koreografi gerakan. Pada akhirnya Will melakukan keputusan kontroversial dan memutuskan bahwa ‘gaya’ lebih penting dari kualitas suara. Untung saja para penyanyi tuli dari sekolah tuna rungu kemudian menyanyikan lagu Imagine. Walau mereka bernyanyi tanpa nada (ingat, mereka tuli), mereka kemudian mengingatkan kepada anggota Glee bahwa yang paling penting bukan sekedar performa semata, tetapi bagaimana hatimu dalam menyanyi. Beberapa kritikus saya baca mengatakan kalau anggota Glee tidak sopan karena kemudian ikut maju bernyanyi – seakan menyerobot kesempatan para penyanyi tuli. Saya tidak setuju. Bagi saya itu adalah tanda mereka berterima kasih karena telah membukakan kembali telinga mereka yang sempat ‘tuli’. It’s a beautiful song. It’s a beautiful moment. And yes, I did cry.

08. Somebody to Love – Episode 05 (By: Queen, Performed By: New Directions)
Why? Episode lima bagi saya adalah episode di mana anak-anak Glee untuk pertama kalinya menjadi padu dalam satu grup campuran underground dan populer. Tadinya hubungan tersebut sempat retak karena Rachel merasa dianak-tirikan oleh Will (yang sebenarnya hanya ingin memberi kesempatan sama pada semua muridnya). Hal tambah diperumit dengan kedatangan April yang mencuri spotlight dari Rachel. Toh, saat April pergi di akhir episode, Rachel sadar bahwa tempatnya adalah bersama dengan para anggota Glee dan kembali untuk menolong mereka di detik-detik terakhir. Melihat semuanya tampil berbarengan, saya sadar bahwa secinta apapun saya kepada April, saya memang ingin melihat para anggota Glee sebagaimana adanya mereka sekarang.

07. Don’t Rain on My Parade – Episode 13 (By: Funny Girl, Performed By: Lea Michelle)
Why? Sebenarnya hampir semua lagu di finale ini membuat saya terkesima, tetapi karena begitu ketatnya persaingan hanya dua yang bisa saya masukkan dalam list top 10ku. Don’t Rain on My Parade tampil sebagai nomer penyelamat yang meloloskan anggota Glee dari Sectional. Setelah dicurangi oleh Sue, moral para anggota Glee langsung terpuruk karena semua lagu mereka dicuri oleh para rival. Untung saja ada Rachel. Rachel yang memang adalah bintang Glee menyatakan kalau sudah pernah mempelajari lagu ini sejak umur 4 tahun! Dan performanya yang begitu meyakinkan di sini menjadi pembuka sempurna untuk kemenangan sekolah McKinley.

06. And I Am Telling You I’m Not Going – Episode 13 (By: Dreamgirls, Performed By: Amber Riley)
Why? Amber Riley yang memerankan karakter Mercedes banyak menyanyikan lagu-lagu R&B dalam 13 episode pertama Glee. Bust Your Windows, Don’t Make Me Over, sampai Gold Digger semuanya adalah lagu-lagu yang saya sukai. Tapi di antara semua lagu itu, yang paling membekas dan menggetarkan hati saya adalah lagu And I Am Telling You I’m Not Going. Saya sangat kecewa bahwa kesempatan Mercedes untuk menampilkan lagu ini dalam kompetisi Sectional dirampok, padahal ia sudah mati-matian berlatih hingga Rachel pun mengakui bahwa Mercedes lebih layak membawakan lagu itu ketimbang dirinya. Dan melihat penampilannya di awal episode 13… siapa yang tidak berpendapat sama?

05. Mash-Up: It’s My Life / My Confession – Episode 05 (By: Bon Jovi / Usher, Performed By: Boys Side)
Why? Keren! Benar-benar keren! Sekali lagi saya ulangi: keren! Dalam duel Mash-Up antara sisi cewe dan cowo anggota New Directions, saya memilih sisi cowo. Walaupun Mash-Up para cewe sendiri tidak jelek-jelek amat, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau penampilan para cowo yang begitu enerjik (walaupun dalam konteks cerita mereka sebenarnya memakai doping) membuat saya ikut bersemangat mendengarkan lagu mereka. Tidak hanya mereka berhasil memadukan dua lagu menghentak ini dengan sempurna, mash-up ini juga ditunjang dengan penampilan koreografi mereka yang super keren (sorry, I just overused the word ‘keren’). Saya langsung bertepuk tangan ketika penampilan mereka usai!

04. Single Ladies – Episode 04 (By: Beyonce, Performed By: Chris Colfer)
Why? Episode yang berfokus pada Kurt ini dibuka dengan penampilannya yang langsung mengundang gelak tawa. Chris Colfer yang tampil dengan gaya bancinya itu merenggut hati saya ketika berdansa ala Beyonce. Memakai baju terusan hitam latex yang ‘seksi’ benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Melihat para anggota American Football berdansa sebelum mulai permainan strategi mereka juga saya jamin membuat para penonton nyengir. Rasa-rasanya memang cuma Glee yang bisa memasukkan humor edan seperti ini tanpa harus menjadikan serialnya terasa jayus. Sedikit catatan: jangan ditonton saat lagi makan, bisa menghilangkan nafsu makan.

03. Defying Gravity – Episode 09 (By: Wicked, Performed By: Chris Colfer & Lea Michelle)
Why? Sebuah lagu yang sarat akan emosi. Kurt yang sudah terang-terangan mengakui dirinya sebagai seorang gay sangat ingin menyanyikan lagu Defying Gravity walaupun Will sudah memberikan bagian itu kepada Rachel. Demi adilnya (terutama setelah paksaan dari ayah Kurt), Will akhirnya membuka kesempatan audisi bagi keduanya. Sama-sama diminta menyanyikan lagu Defying Gravity, Will menyerahkan hak pilih kepada voting anggota Glee lainnya. Saya tidak mau banyak spoiler mengenai siapa yang akhirnya menang – tetapi implikasinya pada cerita – terutama saat dialog Kurt dengan sang ayah seusai penampilannya menunjukkan hubungan ayah-anak yang saling pengertian dan lebih dari sekedar sebuah penampilan lagu.

02. Maybe This Time – Episode 05 (By: Cabaret, Performed By: Kristin Chenoweth, Lea Michelle)
Why? Halo Kristin Chenoweth! Sejak dicancelnya Pushing Daisies, saya sangat merindukan suara merdu Kristin. Terus terang saja, mendengar Kristin tampil sebagai bintang tamu di Glee-lah yang merupakan salah satu alasan saya untuk tertarik akan serial ini. Di sini Kristin berperan sebagai April Rhodes, seorang murid tua bangka McKinley yang belum lulus. Merasa bahwa April bisa mengajari murid-muridnya, Will mengajaknya bergabung dalam klub untuk menggantikan Rachel. Editing lagu yang menunjukkan bagaimana Kristin (April) dan Lea (Rachel) berduet menyanyikan lagu Maybe This Time seakan menunjukkan kualitas suara kedua artis yang merupakan penyanyi Broadway ini. Kristin tampil dengan kematangannya sementara Lea sendiri tidak mau kalah kelas. Saya tidak tahu siapa yang kualitas vokalnya lebih apik, tetapi paduan keduanya adalah duet terbaik sepanjang 13 episode pertama Glee!

01. Don’t Stop Believing – Episode 01 (By: Journey, Performed By: New Directions)
Why? Sebenarnya episode pertama Glee tidak langsung sempurna di mata saya. Para aktor dan artis yang berperan dalamnya juga masih berusaha mengenali karakter mereka sebagaimana penonton mencoba mengenali mereka. Beberapa lagu intro saat mereka audisi masuk Glee pun rasanya biasa saja. Suara mereka memang di atas rata-rata, tetapi kesan saya hanya seperti menonton sebuah episode audisi American Idol saja. Dengan cerita awal yang biasa ditambah nyanyian yang biasa-biasa, saya hampir saja melabeli Glee sebagai serial yang terlalu dilebih-lebihkan. Lalu datanglah Don’t Stop Believing dari Journey. Saat itulah mata saya terbuka akan potensi Glee yang sesungguhnya. Dan bulu kuduk saya merinding. Dan saya tidak bisa berhenti menonton marathon 12 episode setelahnya. Dan saya menjadi seorang gleek. That song… that performance… It’s life-changing. Hanya mengetik bagian ini saja membuat saya hendak memutar ulang episode pertama dan menonton cuplikannya lagi. In fact, that’s what I’m gonna do right away.

Nah, jadi itulah sepuluh performa terbaik volume pertama Glee bagiku. Bagaimana denganmu? Setuju? Berbeda pendapat? Ada lagu favorit kalian yang tidak masuk? Ayo para gleek, mari kita diskusikan!

Comments (15)

Tags: , , , , ,

Top 5 Chuck – Sarah Moments

Posted on 22 August 2009 by Si Tukang Review

Mungkin bukan rahasia lagi kalau gw CINTA dengan serial Chuck. In fact, sebelum gw menonton Chuck serial favorit gw berisi daftar: Friends, Lost, How I Met Your Mother, Pushing Daisies dan Terminator: The Sarah Connor Chronicles… dan setelah nonton Chuck list tersebut berubah menjadi: Chuck, Chuck, Chuck, Chuck, dan… Chuck. Maaf buat semua serial TV yang lain – but Chuck is just too damn good. (Chuck nerd mode: On)

Dan sebagaimana kebanyakan serial favorit gw lainnya, gw mendedikasikan satu list lima moment terbaik Sarah dan Chuck (yang sekaligus juga my favorite on-screen couple saat ini!). Kenapa gw begitu suka dengan mereka berdua? Entah. Mungkin karena chemistry sempurna dari Zachary Levi dan Yvonne Strahovski? Mungkin karena hubungan manis mereka yang selalu antara on-off membuatmu berharap mereka bisa jadian?

So without further ado, these are the top five moments in Chuck: (Content SPOILER, so be warned!)

05. Chuck VS The Helicopter (Season 1, Episode 2)
Scene: Setelah Sarah diselamatkan oleh Chuck, Chucknya sendiri malah terjebak dan harus naik mengemudikan helikopter. Beruntung bahwa Sarah kemudian menginstruksikan kepada Chuck bagaimana untuk menjalankan helikopter secara benar. Setelah mendarat, Sarah memarahi Chuck karena menganggapnya tidak bertanggung jawab dan menyalahi perintah langsung darinya.

04. Chuck VS The Wookie (Season 1, Episode 4)
Scene: Ketika Chuck sampai jatuh berlutut dan bertanya dengan memohon kepada Sarah untuk memberitahukan kepadanya sesuatu mengenai dirinya – sekedar nama tengahnya yang tidak dijawab Sarah apapun juga. Tetapi ketika Chuck berlalu, Sarah berbisik pelan bahwa nama tengahnya adalah “Lisa”. Itu momen pertama dalam Chuck yang membuatku trenyuh dan benar-benar berharap bahwa mereka bisa jadian.

03. Chuck VS The Truth (Season 1, Episode 8 )
Scene: Setelah kena serum kejujuran, Chuck menggunakan hal ini untuk menanyakan kepada Sarah bagaimana perasaan Sarah sesungguhnya kepada Chuck… yang dijawab Sarah dengan kata-kata bahwa ia biasa-biasa saja dengan Chuck… Dan mematahkan hati Chuck. Belakangan setelah Sarah sendiri, ia baru mengakui kalau ia sudah dilatih untuk berbohong bahkan di bawah serum kejujuran sekalipun.

02. Chuck VS the EX / the Fat Lady / the Gravitron (Season 2, Episode 6 – 8 )
Scene: Ketika mantan pacar Chuck, Jill, yang sudah begitu dalam melukai hati Chuck kembali lagi. Sarah terbakar api cemburu. Tetapi Chuck sendiri malah CLBK. Di akhir sebuah episode setelah menyelamatkan Jill, Sarah mengatakan bahwa untuk membalas budinya “Jill tidak boleh melukai Chuck lagi”. Sesuatu yang dilakukan oleh Jill tepat satu episode kemudian setelah dia ketahuan merupakan agen FULCRUM. Dan gw bersorak bahwa di akhirnya Chuck memilih menangkap Jill dan melupakan CLBKnya setelah Jill hendak melukai Sarah. Cinta lama memang harus digantikan cinta baru!

01. Chuck VS The Imported Hard Salami (Season 1, Episode 9)
Scene: Sebuah bom yang hampir meledak gagal dicegah oleh Sarah dan Chuck. Di saat detik-detik terakhir sebelum meledak, Sarah tidak bisa lagi menahan perasaannya dan langsung mencium Chuck – sebuah ciuman terakhir sebelum bom tersebut meledak. Anehnya, bom tersebut tidak jadi meledak… tetapi sekaligus menyadarkan Chuck bahwa Sarah memang menyimpan rasa terhadap dirinya.

Dan sebenarnya ada segudang lagi adegan-adegan romantis di dalam Chuck. Kurasa keberadaan kedua orang yang saling mengisi dengan sempurna inilah yang membuat kita mau mendukung hubungan keduanya. Ingat bagaimana Chuck masih patah hati setelah Jill mencampakkannya? Seperti kata pepatah bahwa cinta barulah yang membuatmu lupa akan cinta lama, Sarah datang untuk membuat Chuck akhirnya lupa kepada Jill (dan semua keluarga dan sahabat Chuck mendukung Sarah ketimbang Jill). Setali tiga uang dengan Sarah, berada bersama Chuck membuatnya dia bisa mengingat kembali hidup normal tanpa menjadi seorang agen rahasia.

Chuck dan Sarah… bahagialah selamanya!

Comments (103)

Tags: , , , , , , ,

The 5 TV Series Moments That Made Me Cry

Posted on 05 August 2009 by Si Tukang Review

Bukan rahasia kalau gw pernah (sering?) nangis dalam nonton film. Gw memang bukan seorang yang merasa harus menahan tangis bila memang perlu menangis. Asalkan sebuah media (apapun itu; mulai dari film, komik, bahkan musik) menyentuh hatiku, maka gw selalu mengijinkan diri gw menangis. Nah, sebelumnya gw pernah melist beberapa film yang pernah membuatku menangis. Bagaimana dengan serial TV? Ini dia list lima momen dalam serial TV yang pernah membuat gw menangis. Bagaimana dengan kalian? Apakah menangis juga dalam momen-momen yang kusebutkan ini? Perhatian, list ini hanya akan mengikutkan serial-serial barat, jadi jangan mengomel kalau serial Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, China atau sinetron Manohara favorit kalian tidak masuk dalam list ini. Obviously contain SPOILER.

5. Chuck Defends Morgan
TV Series: Chuck
Episode: Season 2, Chuck VS The Best Friend
Scene: Secara keseluruhan, episode ini menyorot hubungan Chuck dengan Morgan. Sering kali ketika Chuck absen dari kerjaan dan harus melakoni tugasnya sebagai agen rahasia, Morgan selalu menutupi jejaknya walau tidak tahu apa yang sebenarnya Chuck lakukan. Ketika dalam sebuah misi, Chuck harus mengkhianati Morgan (walau demi menyelamatkan nyawanya), saya bisa melihat bagaimana hal tersebut nyaris menghancurkan persahabatan keduanya, dan bagaimana hancurnya hati Chuck ketika ia  dipaksa mengatakan kata-kata yang menjelekkan sahabatnya. Ketika Chuck menjelaskan hubungannya dengan Morgan kepada Sarah, mata gw berkaca-kaca karena terharu. Dialog itu benar-benar mendeskripsikan persahabatan keduanya. Ending episode ini juga sangat pas dengan Jeffster menyanyikan lagu Africa-nya Toto serta menunjukkan perubahan dalam diri Morgan untuk tumbuh lebih dewasa dan tidak melulu tergantung pada Chuck. Definitely one of the best episode in an already awesome TV Series.

Link: Jeffster singing Africa to close this wonderful episode

4. I love you Claire Bear
TV Series: Heroes
Episode: Season 1, Company Man
Scene: Ada kalanya di mana gw adalah pecinta serial Heroes. Itu adalah masa-masa season pertamanya saat Heroes masih merupakan serial yang fresh dan penuh dengan ide orisinil. Salah satu ide yang menarik di Heroes adalah bagaimana mereka berusaha menyorot cerita satu demi satu karakter: mulai dari Hiro, Peter, Claire, dan lain-lain. Ironis bahwa sebuah serial yang terkenal dengan beberapa skenario dalam satu episodenya, episode terbaiknya justru datang dari episode yang fokus pada hanya satu karakter saja. Episode ini ditulis dan digarap oleh Bryan Fuller dan menitikberatkan cerita pada Claire dengan sang ayah angkatnya Noah Bennet (kala itu hanya dikenal dengan nama HRG -- Half Rimmed Glass). Hubungan keduanya dibangun dengan pelan-pelan hingga kita sebagai penonton disadarkan kenapa Noah begitu menyayangi Claire. Endingnya di mana Noah mengorbankan dirinya dan membiarkan ingatannya dihapus supaya Claire bisa kabur dari kejaran The Company adalah salah satu bukti nyata bahwa Heroes -- pernah bisa -- menyentuh hubungan dan emosi ayah-anak yang terdalam.

Link: What a father would do for his daughter

3. Marshall And Lily in the Airport
TV Series: How I Met Your Mother
Episode: Season 4, Three Days of Snow
Scene: Marshall dan Lily sempurna sebagai pasangan. Salah satu daya tarik utama dalam HIMYM adalah melihat keduanya bersama. Walaupun kelihatan membosankan (mereka pacaran selama lebih dari sepuluh tahun, dan berujung pada pernikahan, tanpa pernah punya pacar lain lagi!) menurutku Marshall dan Lily adalah sebuah bukti dari the one and only love; soulmate. Keduanya juga memiliki tradisi unik buat menjaga keromantisan pernikahan mereka. Seperti sama-sama membuat janji menu makan malam, atau keharusan Marshall menjemput Lily dari airport. Salah satu ujian terbesar hubungan mereka datang ketika usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun kedua. Apakah memang masih perlu segala tradisi formal semacam menjemput istrimu dari airport? Apalagi ketika itu tengah turun badai salju terbesar sepanjang sejarah di New York! Episode ini sendiri penuh dengan plot twist sehingga gw tidak mau banyak menspoilerkannya. Satu hal yang jelas, ketika ending dan plot twist tersebut tersibak, gw spontan bangkit berdiri dan ikut bertepuk tangan. Yes. It’s THAT moving.

Link: Download the episode here (

http://hotfile.com/dl/8776373/4bb458e/How_I_Met_Your_Mother_-_s04e13_-_Three_Days_Of_Snow.mkv.html)

2. She’s already a mother
TV Series: Friends
Episode: Season 10, The One With the Birth Mother
Scene: Kalau Marshall dan Lily adalah salah satu pasangan terbaik di layar kaca, maka gelar pasangan terbaik bagiku jatuh di tangan pasangan Monica -- Chandler. Pasangan ini dari awalnya sudah unik dan romantis. Ingat finale season enam di mana Chandler meminta Monica menikahinya (dan ternyata Monica juga sudah menyiapkan hal yang sama?). Sangat romantis! Tetapi momen terbaik keduanya bagiku datang saat Monica dan Chandler (yang sebenarnya sangat menghendaki bayi) menyadari bahwa mereka tidak bisa memiliki bayi. Mereka mengambil satu-satunya cara yang lain: mengadopsi bayi. Demi memperbesar peluang, mereka sampai berpura-pura menjadi orang lain. Malangnya, kedok mereka terbongkar dan ibu sang bayi sempat ogah menyerahkan bayi itu kepada mereka. Itulah saat Chandler keluar dan praktis memohon kepada sang ibu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Itulah saat pertama gw menonton serial TV dan tidak bisa menahan air mata gw tumpah. Chandler… you’re the man.

Link: Chandler Speech

1. My Greatest Hits
TV Series: Lost
Episode: Season 3, Greatest Hits
Scene: Ayolah. Siapa di antara kalian yang tahu gw dan tidak tahu that this is coming?

Charlie Pace adalah karakter favoritku di Lost. Gw pernah menulis kenapa dia jadi idola gw walaupun dia terbilang biasa dan sebenarnya lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Charlie adalah pecandu narkoba sebelum pesawat Oceanic 815 jatuh ke pulau tersebut. Ketika semua orang hanya beradaptasi dengan kehidupan di pantai, Charlie juga harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa narkoba. Dan ia berhasil menahan godaan itu! Sialnya, di season ketiga, Desmond (karakter lain di Lost) terus mengalami visi bahwa Charlie akan meninggal dan Desmond terus berusaha mencegah dan menghentikannya.

Sampai sebuah visi yang menunjukkan bahwa supaya Claire -- gadis yang diam-diam disukai Charlie -- bisa meloloskan diri dari pulau itu, Charlie harus mati. Sebelum Charlie menerima kematiannya, ia menuliskan lima hal yang merupakan memori terindah dalam hidupnya. Bisakah kalian menebak apa yang merupakan peringkat pertama dari kelimanya?

Ia menulis “The day I meet you” di peringkat pertama dan menujukan surat itu kepada Claire.

Flashback menunjukkan bahwa dari saat pertama Charlie melihat Claire, ia sudah mencintai gadis itu, dan walau ia tak pernah mengatakan apapun kepada Claire (dan Claire juga salah kaprah dan menyangka bahwa Charlie hanya teman baiknya), Charlie SELALU melakukan segalanya -- bahkan mengorbankan nyawanya -- bagi Claire. I think that’s the measure of a true gentleman. Itulah yang menjadikan Charlie Pace my most favorite TV character. Ever.

Oh, dan kelihatannya Charlie juga merupakan karakter favorit banyak orang. Pada konferensi Lost baru-baru ini, ketika ditunjukkan slideshow dari karakter-karakter yang sudah meninggal, tebak siapa yang mendapat applause paling panjang dan meriah? You guessed it. It’s Charlie.

Link: Charlie’s Greatest Hits

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

The Top 15 Games That Makes You Wish 2009 Comes Faster – Retrospeksi

Posted on 28 July 2009 by Si Tukang Review

Di akhir tahun 2008, saya menulis sebuah artikel tentang ‘The Top 15 Games That Makes You Wish 2009 Comes Faster’. Sekarang sudah lebih dari setengah tahun berlalu, dan saya ingin melihat ulang list tersebut. Apakah hal-hal yang saya tulis benar-benar membuat saya mengenang tahun 2009 dengan bahagia? Let’s check it out!

15. War in the Future (Terminator: Salvation)
Walaupun hypenya tergolong dahsyat, film keempat dalam franchise Terminator ini bisa dibilang flop di pasaran. Pendapatannya hanya 120 Juta USD, secara signifikan lebih rendah ketimbang dua prekuel sebelumnya. Secara kualitas, saya sendiri menilai kalau Salvation sedikit lebih baik daripada T3, tetapi masih jauh di bawah kedua film pertama franchise ini. Seakan menabur garam di atas luka, film serial The Sarah Connor Chronicles juga dihentikan di season keduanya karena rating yang terus anjlok. Apakah sudah saatnya franchise Terminator diterminate?
Verdict: Below Expectation

14. The Appearance of Legion (Smallville)
Sukses besar! Geoff Johns membuktikan kalau dirinya bukan hanya penulis komik yang piawai, tetapi juga seorang penulis skenario film yang handal! Legion bukan sekedar episode terbaik dalam Smallville season ini, tetapi juga membantu kebanyakan orang yang semula asing mengenal kumpulan superhero masa depan DC ini. Kalau kalian beranggapan menonton sejam Legion di Smallville tidak cukup, langsung saja cari tie-in Final Crisis: Legion of Three Worlds, juga dikarang oleh Geoff Johns.
Verdict: Above Expectation

13. Konoha VS Pain (Naruto)
Pertempuran antara Naruto dan Pain benar-benar dahsyat dan memukau. Jurus-jurus jutsu yang diperagakan dua pihak benar-benar luar biasa. Sudah lama saya tidak membaca pertarungan sedahsyat ini di Naruto. Dan itu semua ditutup dengan konklusi yang… jujur saja… sedikit mengecewakan. Bagaimana Naruto memutuskan untuk “tidak membenci dan mendendam” langsung mengubah keyakinan Pain terasa terlalu cepat dan gampang. Bukankah ini sosok yang bisa membunuh mantan gurunya tanpa merasa bersalah? Still, it’s a solid Naruto story arc.
Verdict: As Expected

12. Blizzard Big Year (Diablo III and Starcraft II)
Diablo III dan Starcraft II belum dirilis – dan mungkin tidak jadi dirilis tahun ini. Boo! Boo! Boo!
Verdict: No verdict

11. The Day Evil Finally Won Has Arrived (Final Crisis)
Dari semula saya selalu merasa bahwa karya Grant Morrison itu hit dan miss di mataku. Terkadang saya bisa sangat enjoy dengan gaya penuturannya, terkadang saya sama sekali tidak mengerti kalau dia sudah menggunakan dialog super aneh dari karakter-karakter DC yang sudah lama terlupakan. Ini membuat Final Crisis menjadi karya yang sulit kunilai. Sebagian diriku mencintainya karena format penceritaannya yang berbeda dengan event komik biasa, sebagian lagi membencinya juga karena format penceritaannya yang terlalu njelimet untuk kumengerti.
Verdict: Slightly Below Expectation

10. The Grandest Battle (One Piece)
Ini adalah sebuah pembuktian kenapa One Piece adalah satu-satunya raja Shounen Manga di Jepang sana. Oda-sensei merupakan satu-satunya mangaka yang mampu mengombinasikan unsur misteri, komedi, aksi, hingga drama dalam satu saga panjang yang luar biasa ini. Siapa yang menebak kalau Ace adalah anak dari Gold D. Roger misalnya? Siapa yang tidak terharu melihat Bon Clay sekali lagi mengorbankan dirinya demi keselamatan Luffy dan kawan-kawan? Siapa yang menyangka One Piece tetap bisa menjaga momentumnya walau tanpa karakter-karakter Bajak Laut Topi Jerami yang sudah kita kenal selama ini?
Verdict: Above Expectation

09. Akhirnya tahu dari mana Wolverine dapat kuku panjangnya itu (Wolverine)
Tak disangka, saya sebenarnya lebih menikmati Wolverine ketimbang film trilogi X-Men sebelumnya. Mungkin karena fokus yang hanya pada karakter Wolverine membuat saya lebih bisa bersimpati dan berempati kepadanya. Film ini tidak sempurna, mengingat mutant selain Wolverine hanya jadi sampingan (but then again; that’s why it’s called Wolverine right?), juga cerita antara Sabretooth dan Wolverine diubah (tapi malah menjadikan hubungan mereka lebih erat). Overall, it’s a solid summer blockbuster!
Verdict: As Expected

08. When Cobra Comes… Who’d You Call? (GI Joe)
Sayangnya, film ini belum dirilis ketika saya menulis artikel ini. Jangan khawatir, saya akan menulis review lengkapnya begitu film ini turun.
Verdict: No verdict

07. HADOUKEN! (Street Fighter IV)
Segala yang lama menjadi baru lagi dalam game ini. Begitu game ini keluar, semua orang seakan teringat akan demam Street Fighter lagi. Game keempat ini mengingatkan kita semua kenapa kita pernah menghabiskan masa kecil kita selama berjam-jam di arcade untuk berlatih mengeluarkan semua jurus jagoan kita… termasuk mengeluarkan Shoryuken di saat yang tepat untuk mengcounter Psycho Drive terkutuknya M. Bison itu. Mark my words: Street Fighter IV akan menjadi modern classic dari tahun 2009 ini!
Verdict: Above Expectation

06. A Neverending Journey (Final Fantasy XIII)
Dengan begitu banyaknya berita heboh mengenai Final Fantasy XIII dan segala versinya, sayangnya belum satupun dirilis – bahkan dengar-dengar game ini diundur lagi perilisannya.
Verdict: No verdict

05. What is Gantz? (Gantz)
Gantz menjadi salah satu manga yang mengecewakan tahun ini. Setelah kembalinya Kurono Kei, entah kenapa jalan ceritanya menjadi semakin amburadul. Saya tahu kalau Gantz selama ini selalu berada di ambang fantasi dan sci-fi, tetapi akhir-akhir ini jalan ceritanya makin ge-je dan membingungkan. Janji untuk mengungkap apakah Gantz juga terasa sangat bias dan kabur. Apabila tidak ada perbaikan signifikan di chapter-chapter berikutnya, nampaknya saya terpaksa meninggalkan Gantz.
Verdict: Below Expectation

04. Blasting Zombie’s Head (Resident Evil 5)
Begitu tingginya ekspektasi akan game ini karena Resident Evil 4 adalah satu-satunya kejatuhan game ini. Dengan tambahan bermain sebagai dua pemain, permainan yang sedikit lebih panjang, serta grafis next-gen yang membuat mata membelalak, Resident Evil 5 tidak melakukan perubahan apapun dari gameplay Resident Evil 4 yang dinilai banyak orang revolusioner. Ini adalah sebuah game ‘besar’ dan ‘oke’ tetapi ke depannya ia akan menjadi salah satu titel biasa yang terlupakan di tengah serbuan banyak game Resident Evil di masa depan (percayalah, bakalan banyak game Resident Evil yang dirilis lagi)
Verdict: Slightly Below Expectation

03. Lost Season 5 (Lost)
Hampir serupa dengan Resident Evil 5, season 5 Lost ini menderita karena dibandingkan dengan season sebelumnya yang hampir sempurna. Buat yang lupa, season keempat Lostlah yang membawa serial ini kembali dibicarakan orang setelah pada season ketiga menjadi sasaran kritik karena pacingnya yang terlalu lambat. Kelemahan season 5 terletak pada plot time travel yang melempar beberapa Islanders pada jaman lalu. Saya tahu Lost memang penuh dengan misteri dan sci-fi, tetapi memakai time travel secara berlebihan membuat saya jadi memikirkan mengenai konsep paradoks (padahal tanpa itu saja sudah banyak sekali kontroversi menyangkut Lost!)
Verdict: Slightly Below Expectation

02. Beware… For the Dead Shall Rise Again (Blackest Night)
Mari kita lihat siapa saja yang sudah dipersiapkan oleh Geoff Johns untuk menjadi Black Lantern. Ada Superman Earth Two. Ada Aquaman. Ada Elongated Man dan Sue Dibny. Ada Martian Manhunter. Kemudian di volume pertamanya Hawkman dan Hawkgirl sudah menjadi korban. Kemudian di Green Lantern #44, Hal Jordan dan Barry Allen sudah harus berduel dengan Jonn. Apa saya perlu mengatakan lebih banyak lagi? Saya rasa tidak. Blackest Night is – without a doubt – the best comic event of this year.
Verdict: Above Expectation

01. Transformers 2 and Watchmen
Oh Tuhan. Adalah dosa laknat menyatukan keduanya dalam satu kalimat. Saya bahkan tidak percaya saya telah melakukannya.

Watchmen adalah salah satu film superhero yang berani mendobrak tradisi. Bersama dengan Iron Man, Superman (yang pertama), dan Batman karya Christopher Nolan, ia akan selalu tergabung dalam film superhero favoritku sepanjang masa. Tidak banyak orang yang bisa mengerti ceritanya sehingga berakhir dengan menjelek-jelekkan Watchmen. Shame on those people. Untuk mereka yang membaca komiknya dan mengetahui karya Alan Moore, Watchmen might be the best superhero movie of all time just behind The Dark Knight. Definitely… ABOVE EXPECTATION

Transformers 2: Revenge of the Fallen. Gw tertipu oleh trailernya. Trailernya super keren. Dan prekuelnya juga lumayan dahsyat. Tapi film keduanya ini… adalah kumpulan dari: adegan ledak-ledakan, adegan drama yang tidak kalah picisan dengan sinetron Indonesia, adegan ledak-ledakan lagi, adegan drama yang menyedihkan, adegan ledak-ledakan (lagi), adegan komedi yang gak lucu sama sekali, dan tebak ditutup dengan apa? Yap. Adegan LEDAK-LEDAKAN LAGI.

Selain menaruh Transformers 2 sebagai hal yang paling kuantisipasi di tahun 2009, blunder terbesarku adalah tidak menaruh Star Trek dalam deretan list 15 besar di atas. Keterlaluan! Sungguh keterlaluan! Apabila keadaan di balik sekarang, saya akan menghapus Transformers 2 dari list di atas dan menggantinya dengan Star Trek. Remake dari Star Trek adalah comeback gemilang dari JJ Abrams dan juga film Star Trek yang telah lama didamba-dambakan para fans. Jangan sampai tidak menontonnya – atau kamu akan kelewatan apa yang mungkin saja menjadi film terbaik tahun ini.

Comments (10)

Tags: , , , , , ,

The Six Games That Defines the 32-bit Gaming Era

Posted on 22 March 2009 by Si Tukang Review

Menurutku era yang paling penting bagi video game adalah era kelimanya; era yang lebih dikenal juga oleh para gamer sebagai era 32-bit. Saya pribadi sih kurang setuju menyebut era tersebut 32-bit mengingat ada Nintendo 64 yang berkekuatan 64-bit.

Kenapa saya menganggap masa tersebut penting bagi industri video game? Beberapa orang mungkin mendebat dan mengatakan kalau 8-bit adalah era terpenting dalam video game. Ada juga yang mengatakan 16-bit di mana pertama kali hegemoni Nintendo ditantang Sega merupakan era terpenting. Malahan ada yang berpendapat bahwa sekaranglah era yang terpenting dalam video game.

Alasan kenapa saya memiliki anggapan bahwa era 32-bit adalah era terpentingnya video game adalah karena di jaman inilah lahir game-game yang membuka pendapat masyarakat bahwa game bukan sekedar buat anak-anak dan remaja. Di jaman SNES dan Sega memang ada Mortal Kombat dan Street Fighter yang dikritik para orang tua karena dianggap mempelopori kekerasan, tetapi secara keseluruhan jaman tersebut masih identik dengan Mario dan Sonic. Identik dengan anak-anak. Jaman 32-bit juga merupakan jaman pergeseran. Mulai dari digesernya Nintendo yang sebelumnya menguasai pasar game dunia oleh Sony, sampai berevolusinya game dari 2D menuju 3D. Begitu banyaknya hal penting yang terjadi turut membawa dunia game dikenal oleh banyak orang. Orang tua mulai sadar bahwa mereka tidak melulu harus membelikan konsol game untuk anak mereka – karena mereka sendiri pun bisa memainkannya!

Dan inilah beberapa game yang saya anggap berhasil merevolusi dunia game selamanya. Perlu diperhatikan kalau list ini bukan Countdown terbaik karena bagi saya enam game di bawah sama pentingnya mendefinisikan dunia game di jaman itu.

6. Tekken


Populernya genre fighting hingga dimainkan oleh banyak orang adalah jasa Street Fighter dan Mortal Kombat. Dunia 3D Fighting pun dipelopori oleh Virtua Fighter. Walaupun demikian, franchise yang berjasa mempertahankan game fighting dalam aliran mainstream hingga kini tidak lain tidak bukan adalah Tekken. Apabila generasi 80an mengenal nama-nama seperti Ryu, Ken, atau Chun Li, maka generasi 90 pasti lebih ngeh dengan nama Hwoarang, Jin, maupun Kazuya.

Di jaman Playstation dulu ada game seperti Tobal, Toshinden, hingga Soul Edge yang juga sama-sama buatan Namco. Tetap saja game fighting terbaik di era tersebut hadir melalui Tekken 3 yang adalah penyempurnaan dari para prekuelnya. Saya masih ingat bagaimana saya dibuat terbengong-bengong oleh grafis dan gameplay Tekken 3 yang berani memadukan karakter lama dan baru (membuang Jun, Baek, Kazuya, Ganryu, dan banyak lagi karakter dari prekuelnya, tetapi juga memperkenalkan Eddy, Xiaoyu, sampai Jin dan Hwoarang). Saya juga ingat menghabiskan waktu berjam-jam mengadu dan mengasah kemampuan Hwoarang-ku untuk beradu melawan teman-temanku.

Ironisnya, memang saya ini kurang jago dalam main game fighting sehingga berakhir dengan dipecundangi orang sana-sini.

5. Gran Turismo


Need for SpeedRidge Racer… mungkin saja dua game itu terkenal dan banyak menghasilkan sekuel demi sekuel. Tapi coba tanyakan kepada para pecinta game driving sejati apa game driving yang paling realistis di mata mereka. Jawaban mereka hampir serempak pasti menyebut: Gran Turismo.

Need for Speed boleh melahirkan sekuel demi sekuel per tahunnya, Ridge Racer boleh menggelar cewe-cewe racing virtual yang cantik, tapi soal realisme dalam gameplay, tidak ada yang bisa menandingi Gran Turismo. Saking realnya, Gran Turismo melahirkan genre baru yang disebut sebagai Driving Simulation. Satu dua temanku bahkan mengaku kalau mereka sampai membeli peralatan setir khusus untuk lebih menikmati memainkan game ini.

4. Super Mario 64


Generasi kelima adalah generasi di peralihan dari 2D menuju 3D. Semua pihak seakan berlomba-lomba menjadikan game mereka modern dengan mengubahnya menjadi 3D. Banyak yang gagal total. Lihat saja game seperti Contra, Worms, Castlevania sampai-sampai maskot Sega Sonic sekalipun. Game-game yang begitu adiktif dan menyenangkan saat dimainkan versi 2Dnya gagal berevolusi ke 3D.

Bagaimana dengan maskot utama dari Nintendo dan dunia game sendiri – the plumber Mario? Jangan khawatir; tidak hanya petualangan 3D Mario adalah salah satu game action adventure 3D pertama, ia masih merupakan game 3D adventure terbaik sepanjang masa. Sebagaimana yang dilakukan oleh Super Mario Bros, Super Mario 64 meletakkan fondasi untuk game-game adventure platform 3D yang kamu mainkan sekarang ini. Nintendo memang layak diacungi jempol semua franchise unggulannya mulai dari Mario, Zelda, sampai Metroid sukses berevolusi seiring berjalannya waktu.

3. Final Fantasy VII


Adalah hal yang aneh bahwa saya pertama kali tahu nama Final Fantasy VII dari sebuah tabloid komputer bernama Komputek. Ketika saya membaca guide dari game tersebut, saya keheranan. Kok ada orang masuk ke penjara… meloloskan diri dengan motor… bahkan sampai bertarung dengan monster raksasa dan naik pesawat terbang. Apa mungkin sih ini game? Di benak saya (dan banyak gamer lainnya) yang namanya game saat itu adalah lompat di platform demi platform ala Sonic, fighting gebuk-gebukan ala Street Fighter atau Mortal Kombat, atau mungkin menghajar puluhan musuh sepanjang jalan ala Final Fight. Sesekali mungkin ngedunk atau melakukan gol di game olahraga.

Final Fantasy VII memperkenalkan kepada dunia apa potensi dari sebuah genre kecil bernama RPG. RPG yang sebelumnya dianggap genre yang hanya akan dimainkan orang-orang aneh berubah menjadi genre berkelas yang menjanjikan puluhan jam gabungan dari cerita dan gameplay yang menawan. Game seperti Suikoden, Wild Arms, Breath of Fire, dan banyak lagi harus berterima kasih pada Squaresoft karena Final Fantasy VII lah yang membawa dan memperkenalkan RPG pada dunia.

2. Metal Gear Solid


Kalau Final Fantasy VII mengangkat nama Squaresoft menjadi perusahaan besar, maka Metal Gear Solid mengangkat nama sang kreator didapuk sebagai salah seorang kreator terbaik sepanjang masa: Hideo Kojima. Sejarah franchise ini sebenarnya sudah dimulai semenjak Metal Gear di NES, tapi jujur saja, teknologi di jaman itu belum bisa menghidupkan visi dari Kojima. Ayo jujur, berapa di antara kalian yang pernah main game Metal Gear, atau bahkan pernah mendengar namanya sebelum Metal Gear Solid hadir di Playstation? Saya rasa jumlahnya sangat sedikit kalau bukan bahkan tidak ada!

Metal Gear Solid menghadirkan game yang lain dari lain di jamannya. Ketika biasanya game mengharuskan kita menerjang dan membabat semua musuh yang ada, game ini justru menekankan betapa pentingnya melakukan stealth, menyelinap secara diam-diam. Gameplay yang revolusioner itu dikombinasikan dengan jalan cerita yang sangat dalam dan penuh intrik politik. Game ini seakan membuktikan bahwa media video game pun mampu menghadirkan sebuah jalan cerita yang tidak kalah dengan film-film berkualitas Oscar sekalipun.

1. Resident Evil


Mengira kalau game aman dikonsumsi anak-anak? Silahkan mainkan Resident Evil. Ibuku yang terkenal kolot sekalipun terhenyak ketika saya memainkan Resident Evil 2. Ia turut berteriak dan menjerit kaget ketika pertama kali melihat para zombie merangsek maju untuk menyerang.

Itu baru orang yang melihat. Bayangkan bagaimana terpacunya adrenalin orang yang memainkan game ini. Selain berhadapan dengan para makhluk haus darah, mereka juga harus berpikir bagaimana menghemat persediaan amunisi yang terbatas, memecahkan teka-teki yang ada, serta bertahan hidup sambil menuntaskan misteri yang ada. Sukses Resident Evil bukan hanya melahirkan genre Survival Horror, tetapi juga melahirkan banyaknya pesaing-pesaing serupa; beberapa di antaranya berkembang menjadi franchise sukses sendiri (seperti: Silent Hill dan Fatal Frame).

Keenam game di atas adalah bukti nyata betapa pentingnya era keempat dalam perkembangan video game.

Era tersebut menjadi era yang membuktikan bahwa franchise klasik yang bisa berevolusilah yang bisa bertahan. Franchise klasik seperti Mario, Zelda, hingga Castlevania (versi Symphony of the Night) bertahan karena berinovasi dalam gameplay mereka. Beberapa lainnya seperti Sonic, Contra, atau Golden Axe pudar karena gagal menyesuaikan diri dengan selera pasar. Ia juga era yang menjadi saksi lahirnya franchise baru seperti Resident Evil dan lahir laginya franchise yang dulu kurang terkenal macam Metal Gear dan Final Fantasy.

Kenapa era ini begitu berbeda dengan era-era sebelumnya? Perlu diingat bahwa konsol game mulai diperkenalkan dengan hadirnya NES di tahun 80an. Seiring dengan bergantinya era demi era game, muncullah kebiasaan baru yang tidak disadari oleh Nintendo saat itu. Para gamer juga tumbuh dewasa. Mereka menghendaki sebuah game dengan jalan cerita maupun gameplay yang lebih dalam dan kompleks ketimbang sekedar ‘lompati jurang itu‘ dan ‘hajar musuh itu‘. Ceruk pasar itulah yang akhirnya diambil oleh Sony sehingga mereka mampu menjadi penguasa pasar (Nintendo learned their lesson and did their revenge with Wii and the Casual Gamer in this generation though).

PS: Dan kalau boleh jujur sejujur-jujurnya, ada satu game lagi yang layak disebut berpengaruh setidaknya untuk dunia game Indonesia. Apalagi kalau bukan… Winning Eleven (WE)?

Comments (2)

Tags: , , , ,

My Top 10 Steven Spielberg Movie

Posted on 22 January 2009 by Si Tukang Review

- a tribute to one of the greatest director of our time -

Saya rasa hampir setiap penggemar film pernah mendengar atau menonton film garapan Steven Spielberg. Sepanjang 30 tahun lebih berkarya, Steven Spielberg telah menghadirkan puluhan film-film monumental sepanjang sejarah. Banyak orang menganggapnya sebagai salah seorang dari tiga sutradara ‘terbesar’ bersama James Cameron (Titanic, Terminator) dan George Lucas (Star Wars). Setiap orang pun pasti memiliki film favorit garapan Spielberg. Dalam artikel ini, gw akan melist sepuluh film terbaik dari Spielberg di mata gw. Siap?

10. The Color Purple (1985)
Box Office    : US$ 93,589,701
Description    : Film ini meraih sebelas nominasi Oscar. Walaupun ia gagal memenangkan satupun di antaranya, ini adalah salah satu bukti kualitas dari film ini. Selain Whoopi Goldberg, Danny Glover dan Oprah Winfrey juga membintangi film yang mengisahkan kehidupan seorang African-American bernama Celie Johnson. Bagi beberapa penggemarnya, ending dalam film ini adalah ending terbaik yang pernah digarap oleh Steven Spielberg dari semua film yang pernah ia buat. Entah kenapa bagi saya, pengalaman lebih menyeluruh masih saya dapatkan ketika membaca novel berjudul sama yang menjadi referensi Spielberg ketika menggarap film ini.

09. Catch Me If You Can (2004)
Box Office    : US$ 164,606,800
Description    : Film ini mempertemukan Leonardo Di Caprio dan Tom Hanks dalam satu layar. Catch Me If You Can adalah sebuah biopic seorang penipu muda bernama Frank Abagnale Jr. Kehidupan penuh warna dari Frank yang dalam usia muda berhasil menipu ratusan orang dan merenggut mendapatkan jutaan Dollar berhasil ditranslasikan secara sempurna oleh Spielberg ke layar lebar. Hasilnya? Catch Me If You Can tidak hanya berhasil menyajikan kisah kehidupan flamboyan Abagnale Jr, tetapi juga berhasil menggali sisi humanis dalam diri sang penipu muda.

08. Artificial Intelligence (2001)
Box Office    : US$ 78,616,689
Description    : Film ini digarap oleh Spielberg untuk menghormati Stanley Kubrick – sahabatnya yang meninggal sebelum sempat menggarap AI. Kisah ini banyak dianggap orang sebagai Pinokio modern. Seorang android yang begitu mendambakan kasih seorang ibu sehingga ia rela melakukan segalanya demi menjadi seorang manusia. Dari premisenya, film ini sangat mungkin menjadi film keluarga standar dan biasa – tetapi di tangan Spielberg (dan muka menggemaskan Haley Joel Osment), AI berubah menjadi sebuah drama humanis yang membuat diri kita menjadi bertanya-tanya, apa benar android tak punya perasaan?

07. Indiana Jones – Raiders of the Lost Ark (1981)
Box Office    : US$ 245,034,358
Description    : Satu-satunya alasan kenapa film ini tidak berada di peringkat yang lebih tinggi adalah karena serial Indiana Jones bukanlah murni hasil karya Steven Spielberg; tetapi adalah hasil kolaborasinya dengan George Lucas. Ketika Steven Spielberg dan George Lucas menyatakan kolaborasinya di masa itu; dunia tahu mereka akan mendapatkan sebuah mahakarya yang besar. Maklum, Spielberg di masa itu terkenal dengan Jaws dan George Lucas menghasilkan Star Wars. Harapan dunia terbukti; Raiders of the Lost Ark adalah pembuka seri Indiana Jones yang nantinya akan menjadi salah satu trilogi tersukses sepanjang masa.

06. Saving Private Ryan (1998 )
Box Office    : US$ 216,335,085
Description    : Film pertama yang menampilkan kerjasama antara Spielberg dan Tom Hanks menjadi film yang membuahkan Spielberg Oscar keduanya. Film dengan setting yang begitu realistis mengenai Perang Dunia II ini dinyatakan banyak pihak sebagai salah satu film perang terbaik sepanjang masa. Gaya realistis dalam film ini pada akhirnya ‘ditiru’ oleh banyak film-film lain macam The Thin Red Line, Black Hawk Down, sampai Behind the Enemy Lines. Toh, tidak ada yang mampu membuahkan kesuksesan (baik secara kualitas maupun secara finansial) seperti Saving Private Ryan.

05. Schlinder’s List (1993)
Box Office    : US$ 96,067,179
Description    : Lagi-lagi sebuah film dengan tema Perang Dunia II – inilah film yang pertama kali membuat Steven Spielberg meraih Oscar. Tidak hanya memenangkan penghargaan sutradara terbaik, Schlinder’s List juga dinobatkan menjadi film terbaik pada tahun tersebut! Steven Spielberg sendiri mengakui bahwa Schlinder’s List adalah film terbaik yang pernah ia buat – dan “saya tidak akan pernah bisa membuat sebuah film seperti ini lagi”. Kisah mengenai Holocaust ini digarap dalam format hitam putih dan membuat banyak orang yang hidup di jaman perang dunia menangis mengingat kekejaman di masa itu.

04. Minority Report (2003)
Box Office    : US$ 132,014,112
Description    : Lupakan pesawat antariksa yang aneh. Lupakan perjalanan menuju ke planet lain. Gambaran masa depan dalam Minority Reportnya Steven Spielberg bukan gambaran muluk-muluk tetapi sebuah gambaran realistis dunia masa depan. Apakah dunia masa depan yang sempurna adalah dunia di mana pembunuhan tak pernah terjadi? Dengan pertanyaan berani yang diangkat dalam film ini, Minority Report menjadi salah satu film science-fiction terbaik sepanjang masa. Saking ‘dalam’nya film ini, seorang dosen saya sampai mengangkat film ini menjadi topik diskusi dalam satu proyek universitas kita!

03. Jaws (1975)
Box Office    : US$ 260,000,000
Description    : Ketika kita bicara soal film Box Office, kita tak bisa lepas dari Jaws – karena film inilah yang membuat nama Box Office muncul. Box Office berarti sebuah film yang mampu menembus 100 Juta USD, dan Jawslah film pertama yang berhasil melakukan ini. Begitu menyeramkan dan menegangkannya film ini pada masanya hingga membuat banyak orang anti pada ikan hiu, dan ikan hiu hingga kini pun masih dianggap binatang antagonis terbesar umat manusia.

02. E.T – Extra Terrestrial (1982)
Box Office    : US$ 435,110,554
Description    : “ET Phone Home” adalah film yang menjadi landmark bagi Spielberg di era 80an. Nama ini melambungkan karir Drew Barrymore, dan film ini menjadi salah satu film keluarga terbaik sepanjang masa. Film ini juga meninggalkan jejak yang sangat mendalam bagi Spielberg sehingga lambang anak yang menaiki sepeda menuju ke angkasa sempat menjadi simbol bagi studio Dreamworks yang ia dirikan. ET juga adalah satu dari hanya tujuh film sepanjang sejarah yang berhasil menembus angka keramat 400 Juta USD.

01. Jurassic Park (1993)
Box Office    : US$ 357,067947
Description    : Setiap orang memiliki film Spielberg favorit mereka. Paman saya mengagungkan ET yang merupakan film favoritnya pada saat anak-anak dulu. Teman saya dari Israel mengatakan bahwa Schlinder’s List adalah film terbaiknya Spielberg. Bagi saya pribadi, film terbaik Spielberg adalah Jurassic Park. Saya masih ingat bagaimana raungan T-Rex ketika pertama kali muncul membuat suara saya yang pada saat itu delapan tahun tercekat di tenggorokan; Saya ingat bagaimana saya memegang erat-erat tangan mama saya ketika melihat para raptor mendengus mencari mangsa mereka di dalam dapur yang tertutup; Untuk sederhananya, Jurassic Park adalah film yang membuat impianku – dan impian banyak anak lain – terwujud. Melihat dinosaurus di kehidupan nyata. And for that, I thank you Mr. Spielberg.

Steven Spielberg tak bisa disangkal adalah salah seorang sutradara terbaik di masa ini. Kendati ada beberapa filmnya yang gagal di pasaran (The Terminal, AI, dan banyak lagi) dan tidak laku, tetapi hampir secara keseluruhan film-film garapan Spielberg selalu mendapat pujian dari para kritikus dan mendapatkan posisi tersendiri di hati para penikmat film. Untuk ke depannya, Spielberg berencana menggarap sebuah biopic tentang presiden Amerika: Abraham Lincoln dan berkolaborasi dengan Peter Jackson (Lord of the Rings, King Kong) untuk menggarap film animasi wartawan jambul kecintaan kita semua: Tintin. Mari kita nantikan karya-karya selanjutnya Spielberg!

Comments (1)

Tags: ,

My Top Movies of 2008

Posted on 04 January 2009 by Si Tukang Review

Tahun 2008 baru saja berakhir. Gw sebagai pecinta film kembali menyatakan tahun tersebut sebagai salah satu tahun yang sangat menyedihkan buat gw. Dua tahun yang lalu, gw berada di China hampir sepanjang tahun dan praktis melewatkan hampir semua film blockbuster besar (seingatku aku cuma sempat menonton Transformers, Harry Potter, dan Spider-man 3 di layar lebar saat itu). Tahun ini, hal yang serupa tapi tak sama kembali berulang. Kendati gw sudah pulang dari China, gw ‘hilang‘ di kota Solo.

As we all know, Solo adalah kota yang kecil, mungil, dan terpencil. Ketika teman gw sibuk membicarakan Bolt dan Twilight misalnya, orang-orang di Solo sibuk menonton Pocong vs Kuntilanak dan Si Jago Merah. Gimana gw engga frustasi dan merasa tahun ini sebagai tahun yang menyedihkan buat gw (the worse thing is: this trend will most likely continue next year kalau sampai gw ga jadi ke luar negeri lagi).

So, tanpa banyak basa-basi, gw akan mempresentasikan 10 film terbaik menurut gw tahun ini. List ini bisa saja berbeda buat anda (ingat, banyak film yang belum gw tonton tahun ini).

10. Death Race (Jason Statham / Action Racing)
Film-filmnya Paul WS Anderson itu selalu antara hit atau miss di mata gw. Ada beberapa filmnya yang sibuk gw kutuk-kutuk seperti Resident Evil Apocalypse. Ada filmnya yang biasa-biasa saja di mata gw seperti Alien VS Predator. Dan tentu ada juga filmnya yang kupuji seperti Mortal Kombat dan Resident Evil pertama. Untungnya Death Race termasuk kategori yang terakhir. Film ini mengikuti pakem-pakem standar film garapan Paul. Brainless story dengan aksi yang  meledakkan layar. Remake dari film ini nyatanya berhasil memacu adrenalin gw sepanjang film. So I say it’s a success. Dan yang lebih penting lagi adalah gw berhasil enjoy menonton film ini. Suatu hal yang tidak mudah dilakukan film mengingat gw sulit untuk enjoy film-film berkualitas rendah.

09. Harold and Kumar – Escape from Guantanamo Bay (Kal Penn / Buddy Comedy)
Apa jadinya kalau satu orang Korea dan satu orang India bikin rusuh di pesawat? Mereka dikirim ke Guantanamo Bay, sebuah penjara khusus para tukang rusuh dan teroris di Amerika. Escape from Guantanamo Bay adalah sekuel dari Go to White Castle yang adalah sebuah cult hit. Menonton film pertamanya, gw langsung jatuh cinta sama duo sahabat sinting ini. Escape from Guantanamo Bay kualitasnya SEDIKIT menurun dari sang prekuel, tetapi it’s still the best comedy of the year – hands down. Yes, it’s much much better than that overhype for no good Tropic Thunder (shame on you Stiller). Dan any movie that can actually make me say that George W. Bush is cool gotta mean something.

08. Wanted (Angelina Jolie / Action)
What? Matrix Reloaded? Matrix Revolution? Nope. 10 tahun dari sekarang bukan Matrix Reloaded dan Matrix Revolution lagi yang dianggap sebagai sekuel dari The Matrix tetapi Wanted. Entah kenapa ketika menonton Wanted, saya merasa seperti menonton spiritual successor dari The Matrix. Mulai dari karakter utama yang mendadak saja menyadari bahwa dia memiliki kemampuan khusus (tergabung dalam guild para assasin), sampai kemampuan membelokkan peluru. Penggunaan bullet-time effect juga digunakan dengan maksimal di sini. Saya sarankan kalian untuk membaca graphic novel dari Wanted garapan Mark Millar yang menunjukkan dystopia yang lebih kelam ketimbang versi layar lebarnya.

07. Quantum of Solace (Daniel Craig / Action)
Bagaimanapun luar biasanya adegan aksi dari Quantum of Solace, saya tetap tidak bisa mengatakan bahwa film ini lebih baik ketimbang Casino Royale. Quantum of Solace menyajikan adegan aksi yang dahsyat, banyak ledakan di sana-sini, serta sebuah cerita yang kuat. Sayangnya, film ini kehilangan satu esensi terpentingnya: James Bond itu sendiri. Daniel Craig masih mempesona sebagai sang agen 007, tetapi James Bond dalam film ini lebih mirip Jason Bourne ketimbang James Bond. We want Bond. We want more women, and we want more gadget (no, not like the invisible car in Die Another Day though).

06. Cloverfield (Nick Stahl / Monster)
Menonton Cloverfield memulihkan kepercayaan saya kepada JJ Abrams (setelah sebelumnya sempat terkoyak ketika saya menonton Mission Impossible III). Maklum saja, Cloverfield adalah anak luar nikahnya Blair Witch Project (dengan sistem kamera handheld) dengan Godzilla (tipe monster movie). JJ Abrams tidak serta merta menunjukkan kehadiran sang monster (bahkan bisa dibilang presence dari monster itu hanya sesekali dimunculkan). Itu justru menunjukkan sebuah film survival yang lebih real. Beginilah seharusnya War of the Worlds perlu digarap pak Spielberg. Jangan dengan alien yang mati karena kena virus bumi.

05. Red Cliff / Chi Bi (Takeshi Kaneshiro / Medieval War)
Romance of Three Kingdoms adalah salah satu dari empat karya sastra klasik terbesar China (tiga lainnya adalah Dream of the Red Mansion / Hong Lou Meng, Journey to the West / Saiyuki, dan Outlaw of the Marsh / Suikoden). Cukup dengan pelajaran sejarah China. Film Red Cliff ini merupakan film perang terbesar pada Romance of Three Kingdoms. Kepulangan John Woo dari Hollywood memberikan kegairahan tersendiri untuk Red Cliff. Film ini dibagi menjadi dua bagian; bagian pertamanya merupakan salah satu film kolosal terbaik yang pernah saya tonton dan saya sangat menunggu bagian keduanya awal tahun depan.

04. Kung Fu Panda (Dreamworks Studio / Animation)
Dreamworks kapan pernah mengecewakanku? Selain Shrek the Third, rasanya film-film Dreamworks hampir selalu berhasil membuatku terpingkal-pingkal. Kung Fu Panda berhasil menggabungkan elemen timur dan barat dengan sukses. Sebagai bukti; bahkan surat kabar di China yang terkenal konservatif saja meminta pemerintah China untuk melonggarkan aturan bagi para pembuat film supaya para sineas di China bisa menggarap film seperti Kung Fu Panda. “Panda adalah mustika bagi negeri China” tulis surat kabar tersebut “tetapi justru orang baratlah yang bisa mengerti esensi dari panda itu sendiri“. Saya rasa itu menjadi testamen bagaimana Kung Fu Panda adalah salah satu film animasi yang tak boleh anda lewatkan.

03. Iron Man (Robert Downey Jr / Superhero)
Robert Downey Jr adalah Tony Starks. Iron Man adalah film pertama yang dikeluarkan oleh Marvel Studio. Marvel rupanya gerah aset-aset terbesarnya seperti Spider-man, X-Men, sampai Fantastic Four diambil dan digarap pihak lain. Kendati film-film itu menjadi box office raksasa, tetapi Marvel sendiri hanya mendapat share yang sedikit. Akhirnya, Marvel pun menyiapkan Iron Man. Iron Man sukses luar biasa (menjadi film kedua terlaris tahun ini); toh, hal yang paling sukses dilakukan oleh Iron Man adalah menghadirkan Nick Fury sekaligus meletakkan dasar untuk gabungan superhero pertama di dunia. Prepare for the Avengers!

02. Wall-E (Pixar Studio / Animation)
Wall-E dan kawan-kawannya sempat menciutkan hati saya. Maklum saja, Pixar memang selalu dikenal sebagai penghasil animasi berkelas; tapi rasanya resiko yang mereka ambil dengan film ini terlalu besar. Sebuah film yang karakter-karakter utamanya tidak bicara. Apa anak-anak mau menontonnya? Terbukti ketika saya menonton film ini, banyak anak kecil menangis karena bosan lantas merengek keluar. Saya sendiri? I personally find Wall-E to be among the best of Pixar – bahkan film-film animasi. Saya mencintai segalanya dari film ini. Mulai dari bagaimana Wall-E menghabiskan kesendiriannya di bumi yang sudah hancur, sampai kisah romansanya dengan Eve. This movie can easily the top spot for the best movie last year. Too bad this year there’s……..

01. The Dark Knight (Heath Ledger & Christian Bale / Superhero)
Simply. The. Best. Superhero. Movie. Ever.

No. Jangan mencoba mendebatnya. Jangan mencoba mempertanyakannya. Itu hanya akan membuat anda kelihatan sebagai orang idiot. Kendati saya belum menonton semua film di tahun ini, saya berani menjamin kalau TIDAK ADA SATU FILM DI TAHUN 2008 YANG BISA LEBIH BAGUS DARI THE DARK KNIGHT.

Apakah itu statement yang berlebihan? Sebaliknya. Mengatakan bahwa The Dark Knight adalah film terbaik tahun ini sebenarnya adalah sebuah statement yang MERENDAHKAN. Lihat saja IMDB dan cek pada urutan keberapakah The Dark Knight. Lihat saja list dari karakter paling berpengaruh tahun ini dan lihat urutan keberapa Joker dari The Dark Knight. Simply said: This might be the best movie ever.

Why so serious? Let’s put a SMILE on that face!

Honorable Mention:
- Mamma Mia
- Hellboy II: The Golden Army

Comments (3)

Tags:

Top 10 Favorite Characters in Lost

Posted on 31 December 2008 by Si Tukang Review

Salah satu hal yang membuat Lost berbeda dengan serial-serial TV lain adalah deretan pemainnya. Apabila sebuah serial TV rata-rata hanya memiliki lima sampai enam pemeran utama dengan beberapa guest star, maka Lost memiliki sekurang-kurangnya 12 pemeran utama (di season 3 bahkan sampai 16 pemeran utama kalau tidak salah dengan guest star yang jumlah hampir sama banyaknya. Dari begitu banyaknya karakter utama di Lost, hampir semuanya memiliki karakter-karakter unik yang membuat kita cinta – atau benci kepada mereka. Setelah menonton empat season Lost, saya memutuskan untuk membuat list dari Top 10 karakter favorit saya di Lost. Here they are:

10. Hugo (Season 1 – Now)
Semula mengenal Hugo, sebagai pemirsa kita akan merasa bahwa dia orang yang baik, ramah, selalu siap menolong orang, dan… gendut (hey, he’s super fat. That’s undeniable). Kendati apa yang terlihat di luaran itu memang demikian adanya, dalam Hugo ada sisi kelam yang tak terlihat pada awalnya. Hugo ternyata pernah memenangkan lotere dengan menggunakan nomer di Lost (you know that ever so popular number of 4, 8, 15, 16, 23, 42) dan semenjak saat itu terus terkena nasib buruk. Yang lebih mengejutkan adalah Hugo pernah juga dirawat di Rumah Sakit Gangguan Mental, memiliki teman bicara yang ‘tak pernah ada’, dan penyakit suka makan yang berlebihan (well – yang terakhir ga terlalu mengejutkan sih, semua teman gendut yang kukenal juga suka makan berlebihan). Toh, terlepas dari semua itu, Hugo selalu ada untuk menyajikan comic relief dan pembuat fun dalam tim. Tanpa ada dia, Lost rasanya akan terlalu serius.

09. John Locke (Season 1 – Now)
Salah satu karakter misterius yang paling kugemari di season-season awal, penilaianku terhadap karakter John makin menurun setelah kelakuannya di season-season berikutnya. Ketika di episode pertama menontonnya dan melihat dia malah berhujan-hujanan sementara semua orang berteduh, saya menyangka kalau ia seorang psikopat. Di episode keempat (Walkabout), misteri besar tersibak yang membuat saya merenung kembali dan menyadari bahwa apa yang dilakukan John sangat-sangat masuk akal. Bayangkan, kau lumpuh dan ada di kursi roda selama bertahun-tahun dan sang pulau menyembuhkanmu. Tidakkah kau akan bersujud dan bersyukur pada pulau tersebut? John mungkin hadir sebagai anti-thesis dari Jack. Apabila Jack adalah seorang man of science, maka John hadir sebagai man of faith. Terlepas dari apakah anda suka tingkah laku John atau tidak – tidak bisa dipungkiri dia adalah seorang yang sangat berpengaruh di Lost.

08. Libby (Season 2)
Libby adalah karakter yang mementahkan pemikiranku bahwa “Cowo obesitas seperti Hugo dapat pacar? Aiya – mimpi kali ye… Cowo baik dan gendut hanya cocok dijadikan teman. Kalau mau cari pacar – silahkan cari yang ganteng… like Sawyer or Jack. Hugo cukup jadi teman curhat saja la yaw”. (Hey admit it girls. Cowo gendut tidak atraktif). But Libby is different, kisah cintanya dengan Hugo membuatku terharu, dan kematiannya yang begitu mendadak adalah salah satu “WTF!?” momen yang paling mengejutkan di Lost. Kematiannya juga membuat misteri yang menyelimuti dirinya (seperti bagaimana ia memberi kapal pada Desmond atau berada di Rumah Sakit Jiwa yang sama dengan Hugo) belum tersibak. Konon para produser Lost menjanjikan bahwa misteri mengenai siapa Libby akan dibuka di season 5 – membuktikan bahwa karakter ini memang masih memiliki daya tarik di mata para penggemar Lost.

07. Mr Eko (Season 2 – 3)
Selain John, karakter yang diselubungi oleh misteri dan merupakan man of faith lain adalah Mr Eko. Bedanya, apabila John percaya kepada sang pulau misterius, Mr Eko percaya pada Tuhan. Semula Eko adalah seorang pengedar obat bius, senjata, dan segala macam kegiatan haram di Afrika sana. Kisah awalnya di mana ia mengotori tangannya demi menolong sang adik menjadikan karakter ini menarik simpati banyak orang. Satu hal lagi mengenai Eko adalah dia berani berkonfrontasi secara langsung dengan monster asap hitam yang begitu ditakuti oleh semua orang di pulau itu. Dahsyatnya lagi, monster asap hitam itu justru yang mundur menjauhi Eko. Sayang, pada pertemuan kedua monster asap hitam itu menjadi lebih ganas dan menghabisi Eko. Still, he remain the most interesting character from the plane’s tail section.

06. Benjamin Linus (Season 2 as Henry Gale, Season 3 – Now)
Saya tidak tahu apakah harus benci atau cinta dengan orang ini. Benjamin ‘Ben’ Linus adalah The Others yang paling cerdik. Tidak ada The Others seperti dia. Ethan dan Goodwin mungkin kuat secara fisik, tetapi Ben adalah seorang manipulator. Acap kali saya membandingkan dirinya dengan Loki dari mitologi Norse. Tatapan matanya yang dingin dan penuh kalkulasi, kata-katanya yang berbalik antara penuh sarkasme dan manis, sampai dengan kejeliannya memikirkan segalanya sampai beberapa langkah ke depan… dia sepertinya memenuhi semua syarat untuk menjadi penjahat utama dalam seri ini. Anehnya, Ben tidak pernah juga membuat kita benci total padanya. Adegannya dengan anaknya di season 4 membuatku tetap tersentuh. Ben benar-benar karakter yang unik dan tiada duanya. Gara-gara ada dia, Lost jadi kian berwarna.

05. Sayid (Season 1 – Now)
Banyak orang mengatakan kalau mereka diberi kesempatan berdekatan dengan satu orang supaya bisa selamat dari pulau Lost, mereka akan memilih untuk berdekatan dengan John atau Jack. Saya berbeda. Kalau saya suruh memilih, saya akan memilih Sayid. Apa yang kurang dari dia? Dia seorang tentara Irak (buat yang tidak mengerti; zona perang di Irak adalah zona perang yang paling ganas di dunia), seorang penyiksa yang siap mengekstrak informasi yang dibutuhkan dengan cara apapun juga, dan tangkas dengan senjata dan alat komunikasi. Jelas Sayid adalah pilihan utamaku kalau aku mau selamat di sebuah pulau yang dihuni oleh The Others yang kapanpun bisa menculikku.

04. Jin (Season 1 – 4?)
Ketika melihat Jin di premiere dari Lost, saya yakin hampir semua orang bersumpah-serapah yang sama dengan yang saya lakukan: “Apa yang si keparat itu lakukan pada si seksi Sun?!?! Dasar cowo ga tahu diri… Dasar cowo bejat… Dasar cowo ga bisa memperlakukan cewe sama sekali…! Ga gentleman!!!” Dan saya berpikir kalau saya ke Korea, saya pasti bisa dengan mudah memikat hati cewe-cewe di sana (yah, kalau saingan cowo bejat macam Jin semua sih…). Lantas flashback pertama Jin dan Sun muncul, kisah dari keduanya diperdalam, dan saya menemukan bahwa Jin bukanlah cowo keparat dan bejat. Jin justru cowo paling gentleman di seluruh pulau Lost. Apa yang ia lakukan selama ini adalah demi melindungi Sun. Jin yang mulanya begitu kaku, berubah menjadi pria yang hangat dan disenangi siapa saja di pulau itu. Terlihat sekali ia berjuang mati-matian untuk kembali menjadi pria yang dulunya pernah memenangkan hati Sun. Siapa yang tidak simpatik dengan pria seperti itu? Rasanya saya jadi minder untuk pergi ke Korea kalau disuruh bersaing dengan pria macam Jin…

03. Desmond (Season 2 – Now)
Entah apa yang membuat saya tertarik kepada karakter Desmond. Apa aksen Scottishnya yang menyebut semua orang dengan “Brother” dan menjawab pertanyaan dengan “Aye”? Apa kisah cintanya dengan Penelope yang begitu mendayu-dayu, tetapi sekaligus bisa kurelate? Entahlah. Yang jelas, semenjak awal kehadirannya, Desmond sudah mencuri perhatianku. Ia makin memperoleh simpatiku di season tiga ketika ia berulang kali menolong Charlie dari ‘kematian’nya dan kisah tragisnya dengan Penny diperdalam. Ketika di episode The Constant mereka untuk pertama kalinya berkomunikasi satu sama lainnya, air mataku merembes tak tertahankan. Buat mereka yang pernah mengalami pacaran jarak jauh pasti mengerti benar apa yang kumaksud.

02. Sawyer (Season 1 – Now)
“Apa? Kamu paling suka Sawyer? Kok bisa sih? I mean he’s interesting I give you that. The bad boy type… the guy with a bad past… turns him into a big bastard too… Yea… but come on… Favorite? Why?”
Itu kata-kata yang kuucapkan ketika berdiskusi dengan temanku mengenai Lost. Saat itu aku berada di pertengahan season 2. Akhir season empat memantapkan Sawyer untuk berada di posisi dua, dan mengingat karakter di posisi pertama sudah meninggal dunia, apabila Sawyer terus menarik simpatiku seperti ini, ia bisa jadi menjadi karakter favoritku di Lost. Sederhananya begini, tidak ada karakter yang mengalami perubahan paling besar di Lost kalau bukan Sawyer. Sawyer yang pertama kita kenal adalah Sawyer yang tamak, serakah, dan selalu berprinsip semaunya sendiri yang penting gw selamat. Egois setengah mati. Menyebalkan. Tetapi perlahan-lahan citra itu mulai luntur. Kalau anda melihat season empat di mana ia berlari menyelamatkan Claire atau bagaimana ia melompat dari helikopter merelakan dirinya tidak diselamatkan demi keselamatan seluruh kru yang lain, anda akan sadar betapa berubahnya Sawyer. Dan mau tidak mau anda akan merasa bersimpati dengannya.

01. Charlie Pace (Season 1 – 3)
Ah, pilihan yang sama sekali tak disangka-sangka siapapun bukan? Bukannya Jack atau Kate (ya, mereka tidak masuk karakter favoritku walau di season-season awal sempat kugemari) tapi malahan si mantan pecandu heroin Charlie. Charlie memang tidak pernah menjadi karakter dominan dalam Lost. Ketika semua orang hanya sibuk beradaptasi dengan kehidupan di pulau itu, Charlie harus sibuk beradaptasi dengan dua hal, kehidupan di pulau itu dan kehidupan tanpa heroinnya. Yang membuat saya terkesan dengan Charlie adalah kendati muncul godaan baru mengenai kecanduan heroinnya, ia tidak pernah sampai terjebak lagi ke dalam lingkaran setan itu. Berbeda dengan kematian karakter-karakter lain yang mengagetkan dan tak disangka-sangka, kematian dari Charlie sudah diprediksikan dari awal season tiga. Ia yang semula terus menolak takdir, akhirnya menerima takdir itu demi kebahagiaan Claire. Saya tidak tahu dengan kalian, tetapi ketika ia menulis bahwa dalam saat yang paling membahagiakan dalam kehidupannya adalah saat ia pertama kali melihat dan jatuh cinta pada Claire, saya menangis. Saya sepenuhnya mengerti apa yang Charlie rasakan saat itu. Saya tahu Charlie bukan pilihan semua orang – tapi bagi saya secara pribadi; Charlie will always be one of my favorite character.

Comments (1)

Tags:

The Top 15 Things That Makes You Wish 2009 Comes Faster

Posted on 29 December 2008 by Si Tukang Review

15. War in the Future (Movie: Terminator Salvation)
Franchise Terminator sudah memiliki tiga film layar lebar dan satu serial televisi, tapi tidak ada satupun yang memberikan gambaran detail dan konklusif mengenai masa depan suram manusia. Kini, Terminator Salvation tidak sekedar memberi kita bayangan masa depan – tetapi membawa kita di tengah perang besar antara manusia melawan mesin.

14. The Appearance of Legion (TV: Smallville)
Di luar dugaan, Smallville yang kehilangan Lana serta Lex justru memperoleh nafas segar di season baru ini. Dengan karakter-karakter baru, dinamika baru pun bisa tercipta. Hasilnya, Smallville akan segera kedatangan kawan-kawan Superboy dari masa depan; The Legion of Superheroes. Tebak siapa yang menulis skenarionya? Geoff Johns.

13. Konoha vs Pain (Manga: Naruto)
Perang Konoha melawan Pain kian membara. Korban sudah berjatuhan dari sisi Konoha, mulai dari Jiraiya hingga Naruto. Siapa lagi yang akan menjadi tumbal keganasan Pain? Fans berspekulasi mulai dari Ebisu, Tsunade, Konohamaru, bahkan Naruto sendiri. Saksikan akhir dari Konoha Attack ini di tahun 2009.

12. Blizzard Big Year (Game: Diablo III dan Starcraft II)
Ketika berita bahwa Diablo III dan Starcraft II (yang terbagi menjadi tiga game sesuai tiga ras yang ada) sudah digarap oleh Blizzard, people around the internet goes mad. Blizzard adalah sebuah nama yang menjadi jaminan mutu di dalam dunia PC Gaming. Setelah beberapa tahun terakhir sibuk dengan franchise Warcraft dan WoW, dua franchise besar Blizzard yang terlupakan siap melakukan comeback di tahun depan.

11. The Day Evil Finally Won Has Arrived! (Comic: Final Crisis)
Ya. Tewasnya Batman, hilangnya Superman, serta berbaliknya Wonder Woman pada kegelapan membuat DC kehilangan trinitas sucinya. Sebaliknya Darkseid selaku pemimpin Apokolips telah mendapatkan Anti-Life Equation dan mencuci otak seluruh dunia guna menyembah dia. Apa para superhero lain bisa menyatukan kekuatan untuk membalikkan keadaan? Or will there be one world under Darkseid?

10. The Grandest Battle (Manga: One Piece)
Perang besar yang konon menurut Oda-sensei akan mengguncang seluruh fondasi One Piece. Suatu hal yang diperlukan mengingat One Piece sudah terlalu lama berada pada kondisi status quo. Sebuah perang besar antara seluruh pasukan Admiral dan Whitebeard demi menentukan nasib Ace (ditambah Luffy dan kawan-kawan yang terjebak di tengahnya) jelas menjadi suguhan tersendiri untuk sepanjang tahun depan.

09. Akhirnya tahu dari mana Wolverine dapat kuku panjangnya itu (Movie: Wolverine)
Ketika film The Day The Earth Stood Still dirilis, orang berbondong-bondong datang tidak semata-mata untuk menonton Keanu Reeves saja tetapi untuk menonton trailer pertama dari Wolverine. Hasilnya menurut orang tidak mengecewakan. Dan bagi anda pecinta karakter Gambit – bersukacitalah. Akhirnya dia dapat kesempatan nongol juga di sini.

08. When Cobra Comes… Who’d You Call? (Movie: GI Joe)
Saya adalah seorang penggemar berat GI Joe. Ingat robot-robotan GI Joe (buat yang cowo dijamin mengerti apa yang saya maksud) yang sangat populer ketika kita SD dulu? Sampai sekarang pun saya masih punya satu yang setia menemani saya tidur. Sayang sangat sulit mencari action figure GI Joe yang baru – toh, saya rasa apabila filmnya dirilis tahun ini semuanya akan berubah.

07. HADOUKEN! (Game: Street Fighter IV)
Street Fighter punya kebiasaan buruk. Setiap kali merilis seri baru jedanya selalu lama bukan main. Berapa lama semenjak terakhir kali kita mendengar ada Street Fighter baru (tanpa embel-embel Championship Edition, bla-bla Edition) keluar? Kendati begitu dari trailer dan demonya, nampaknya penantian lama kita akan lunas terbayar. Street Fighter IV looks gorgeous!

06. A Neverending Journey (Game: Final Fantasy XIII)
Final Fantasy tidak punya sekuel dan selalu berdiri sendiri? Ah, itu mah dulu. Semenjak Final Fantasy X, Square-Enix memutuskan untuk mengkapitalisasi nama besar Final Fantasy. Walhasil Final Fantasy X dan XII masing-masing sudah memiliki sekuelnya. Toh, tidak ada proyek seambisius Final Fantasy XIII yang konon bakal langsung dirilis beberapa versinya secara simultan.

05. What is Gantz? (Manga: Gantz)
Selama lebih dari 5 tahun lamanya pembaca setia manga Gantz terus dibawa mengikuti petualangan para orang mati yang berusaha mengumpulkan angka untuk hidup kembali. But now that kedua tokoh utama dari Gantz sudah hidup kembali, the new question arise. What is Gantz actually? Kenapa ada sebuah pabrik di Jerman yang memproduksi Gantz secara massal? Apa keberadaan Gantz sesungguhnya mempersiapkan kita untuk sebuah rencana yang lebih besar?

04. Blasting Zombie’s Head (Game: Resident Evil 5)
Kalau anda merasa bahwa Resident Evil 4 adalah wajah baru dari dunia survival horror-nya Capcom… anda salah. Lihat trailer dari Resident Evil 5, ganas dari para zombie (masih bolehkah kita menyebutnya zombie?) yang bergerombol untuk mengepung, menyerbu dan menghabisi anda rasanya bisa membuat anda terkencing-kencing ketakutan saat memainkannya malam hari nanti.

03. Lost Season 5 Premiere (TV Series: Lost)
Satu hal yang membedakan Lost dengan serial TV lain yang ada di pasaran saat ini adalah Lost memiliki tujuan. Ketika JJ Abrams menulis Lost, ia tahu dengan persis bagaimana kisah ini akan dibuka, dibawa, dan diakhiri. Hasilnya; kendati ada kalanya Lost terasa kedodoran, tapi tak bisa dipungkiri bahwa dia masih salah satu TV series paling berkualitas yang tersaji di layar kaca.

02. Beware… for the Dead Shall Rise Again (Blackest Night)
Semenjak akhir dari Sinestro Corps War di tahun 2007, satu-satunya event yang paling dinanti-nantikan oleh penggemar komik tidak lain dan tidak bukan adalah Blackest Night. Akhirnya sebuah crossover besar DC yang tidak melulu berpusat pada Superman, Batman, dan Wonder Woman… Blackest Night memfokuskan pada kisah para Green Lantern menghadapi para Lantern spektrum cahaya lain. Yellow represents Fear. Red represents Rage. And Black? It represents Death. This, my friend, is the Star Wars of comic. Beginning with Green Lantern Rebirth in 2005, continuing with Sinestro Corps War in 2007 and ends with the Blackest Night next year. What more can you ask for?

01. Transformer 2 and Watchmen
Maaf saya sedikit curang dengan memasukkan dua film di spot teratas. Apa boleh buat. Saya kesulitan untuk memilah mana di antara keduanya yang lebih layak mendapatkan tempat teratas. Transformer 2 Rise of the Fallen merupakan sekuel dari smash hit tahun 2007. Prepare for more robots (and more Megan Fox hotness)! Dan Watchmen? Ini adalah sebuah film yang anda dapat ketika sutradara 300 menggarap komik yang disebut sebagai tonggak permulaan komik modern. Superman defines the Gold Age. Spider-man defines the Silver Age. And Watchmen defines the Modern Age. Oh, sudah saya katakan kalau dia adalah komik karangan Alan Moore yang adalah sesepuh komik?

Honorable Mention:
- The Death of Dumbledore (Movie: Harry Potter and the Half Blood Prince)
- Heath Ledger Final Movie (Movie: The Imaginarium of Doctor Parnassus)
- VS The Deathbringers (Manga: Bleach)
- Elementary, My Dear Watson (Movie: Sherlock Holmes)
- A Very Dark Marvel (Comic: Dark Reign)

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here