Sempat melempem dalam beberapa edisi sebelumnya, Brian K. Vaughan kembali menemukan sentuhan emasnya dalam story arc kali ini. Perpindahan setting Y ke Jepang membuka berbagai tabir misteri baru mengenai kehilangan Ampersand, sampai koneksi antara keluarga Dr Mann dengan Yorick. Mungkin memang perubahan lokasi adalah angin segar yang dibutuhkan oleh serial ini.
Kimono Dragons segera terbagi dalam dua segmen cerita. Sesampainya di pelabuhan Yokogata di kota Tokyo, grup Yorick mengalami perpecahan mengenai keberadaan Ampersand. Agent 355 ingin melacak Ampersand menggunakan GPS sementara Dr Mann bersikeras untuk mencari ibunya yang tinggal di Tokyo karena yakin bahwa ibunya berkaitan dengan diculiknya Ampersand. Keduanya pun berpisah dalam dua grup. Yorick pergi dengan Agent 355 sementara Rose menemani Dr Mann.
Kelemahan story arc Paper Dolls bagiku sebelumnya adalah story arc tersebut terlalu pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian. Beruntung kali ini Vaughan memperpanjangnya menjadi empat bagian. Penambahan jumlah edisi ini memberi ruang yang lebih lega bagi Vaughan untuk menuturkan ceritanya. Hasilnya langsung kentara jelas, kedua segmen cerita berjalan seiringan tanpa pernah terasa timpang atau berat sebelah. Vaughan tidak hanya berhasil menyorot kondisi tubuh (baca: keinginan seksual) wanita seusai wabah, tetapi juga mengungkapkan kilas balik mengenai kehidupan Dr Mann.
Sayangnya, ada satu hal yang menurut saya tidak dimaksimalkan oleh Vaughan – mungkin saja karena ia tidak seberapa mengenal kebudayaan Jepang. Jepang adalah negara yang unik karena sangat mementingkan pria ketimbang wanita di dalam kehidupan sosial mereka. Ketika wabah membunuh semua pria di dunia, saya sebenarnya menebak bahwa struktur ekonomi dan budaya Jepanglah yang seharusnya paling pertama runtuh. Efek dari wabah nyatanya kurang terasa dampaknya di luar permintaan seksual wanita yang meningkat dan dipenuhi oleh para persocon.
Selain empat bagian dalam Kimono Dragons, Vaughan menyisipkan dua cerita one-shot mengenai Dr Mann dan Alter. Dua-duanya sama menarik dan menambah kaya latar belakang cerita. The Tin Man (edisi 47) menceritakan bagaimana masa lalu Dr Mann mengubahnya menjadi dirinya seperti sekarang. Diceritakan pula mengenai keluarganya, yang – SPOILER ALERT – memegang peranan penting dalam cerita story arc berikutnya. Kisah The Tin Man merupakan cerita yang layak diikuti supaya pembaca memiliki persiapan mengikuti cerita story arc berikutnya. Gehenna (edisi 48)yang mengisahkan masa lalu Alter bahkan lebih menarik lagi. Sampai titik ini, pembaca (termasuk saya) selalu digiring oleh Vaughan untuk percaya bahwa Alter adalah sosok penjahat kejam. Setelah Gehenna, saya berpikir ulang lagi mengenai tujuan Alter mencari Yorick. Alter mungkin adalah wanita yang ‘sakit’, tetapi ia memiliki visi akan hal yang benar. Padanannya mungkin seperti karakter Magneto dalam dunia X-Men.
Setelah dalam dua story arc sebelumnya sedikit melempem, saya bahagia membaca dialog-dialog tajam Vaughan kembali. Walau belum kembali sampai pada titik puncak performanya, mengingat serial ini sudah menginjak perempat akhir cerita, saya percaya bahwa tensi cerita akan terus meningkat dari sini. What a ride… what a ride…
Score: 8.6
Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 43 – 48








