<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Si Tukang Review &#187; Jin</title>
	<atom:link href="http://tukangreview.com/tag/jin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tukangreview.com</link>
	<description>a review a day takes your curiosity away</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 01:50:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tekken</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/08/04/tekken/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/08/04/tekken/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 12:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motion Picture]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[Heihachi]]></category>
		<category><![CDATA[Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Jun]]></category>
		<category><![CDATA[Kazama]]></category>
		<category><![CDATA[Kazuya]]></category>
		<category><![CDATA[Mishima]]></category>
		<category><![CDATA[Tekken]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=4666</guid>
		<description><![CDATA[Mengadaptasi game fighting itu susah. Jauh lebih susah dibandingkan mengadaptasi genre game lain ala RPG atau Adventure. Karena pada dasarnya yang namanya game fighting itu ya pasti menjual tontonan orang jotos-jotosan di layar dengan plot cerita setipis kertas. Ya iyalah, berapa sih di antara kita yang main game fighting demi ceritanya? Dan hampir semua game [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/08/tekken-movie-poster-.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4667" title="Tekken Poster" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/08/tekken-movie-poster-.jpg" alt="Tekken Poster" width="216" height="324" /></a></p>
<p>Mengadaptasi game fighting itu susah. Jauh lebih susah dibandingkan mengadaptasi genre game lain ala RPG atau Adventure. Karena pada dasarnya yang namanya game fighting itu ya pasti menjual tontonan orang jotos-jotosan di layar dengan plot cerita setipis kertas. Ya iyalah, berapa sih di antara kita yang main game fighting demi ceritanya? Dan hampir semua game fighting toh hadir dengan premise yang sama: Ada sebuah organisasi jahat (Shadoloo, Mishima Corporation, dll) menyelenggarakan turnamen bela diri yang diikuti orang dengan berbagai motif di dalamnya.</p>
<p>Bagi gamer klise cerita macam ini tidak masalah; yang penting setiap karakternya keren dan berimbang supaya duel bisa berlangsung adil. Celakanya formula klise ini tidak seratus persen berhasil kalau ditranslasikan di layar lebar; apalagi karena semua memakai pakem yang sama. Dalam turnamen sang jagoan ikut serta dan bakalan punya teman dalam turnamen itu. Biasanya dalam turnamen bakalan ada sosok gahar yang bakalan dilawan si jagoan di babak puncak&#8230; kadang demi mengaduk emosi penonton, si sosok gahar bakalan berhadapan dengan teman si jagoan &#8211; berakhir dengan tewas atau terluka parahnya teman itu sehingga si jagoan bakalan &#8216;dendam makin membara&#8217;. Setelah melumpuhkan si sosok gahar itu nongol deh si final boss. Terus si jagoan menang, semua happy dan tamat. Yah bila jujur memang formula ini tidak hanya diikuti oleh adaptasi game fighting macam <strong>Mortal Kombat</strong> atau <strong>Street Fighter</strong> tetapi juga film bela diri lainnya sih&#8230;</p>
<p>&#8230; dan <strong>Tekken</strong> sebagai adaptasi game fighting paling populer saat ini mengikuti jejak yang sama.</p>
<p>Kota Tekken berada dalam kekuasaan perusahaan Mishima. Seorang pemuda jalanan bernama Jin diajari bela diri oleh ibunya yang kemudian terbunuh oleh para prajurit Mishima. Jin kesal pada pimpinan perusahaan tersebut: Heihachi Mishima, yang ia anggap sebagai biang kerok kematian ibunya. Jin pun mengikuti kualifikasi dan secara mengejutkan bisa diundang untuk ikut ke dalam turnamen bela diri Tekken (yeah, kesamaan namanya memang membingungkan). Demi bisa menemui Heihachi, Jin harus terus menerus menang, tanpa sadar bahwa dalam grup Mishima, anak Heihachi bernama Kazuya pun tengah berencana mengkudeta sang ayah.</p>
<p>Seperti yang saya bilang tadi, film Tekken ini bisa dibilang kumpulan dari semua klise B-movie dan dijadikan satu. Dari menit pertama kamu pasti bisa menebak ke mana cerita bakalan bergulir. Saya sendiri bukan fans berat game Tekken (berbeda dengan teman saya yang sampai menghabiskan waktu beberapa belas jam demi menghafalkan tombol bantingan berkali-kali King), tapi toh saya tetap lumayan tahu karakter-karakter di Tekken sehingga bingung dengan deretan petarung yang disuguhkan di sini. Kenapa banyak karakter favorit pemain justru keluar hanya sekilas (atau malahan absen) lalu sementara karakter yang biasa-biasa saja justru nongol lama? Siapa coba yang peduli karakter Raven atau Dragunov? Lantas kenapa Jin malah dekat dengan Christie dan bukannya Xiaoyu? Are the filmmakers racist or something? Yang paling kocak adalah casting untuk Kazuya. Ian Anthony Dale is not a bad actor, tapi Heihaci dan Jin diperankan orang Asia, kenapa Kazuya-nya bule?</p>
<p>Tapi sudahlah, kekurangan-kekurangan seperti perubahan karakter (tidak bisa bukan memasukkan favorit semua orang dari 40 lebih karakter di Tekken?) atau sederhanya (baca: klise) jalan cerita takkan saya permasalahkan lebih lanjut. Kekurangan terbesar dalam Tekken ini adalah sinematografinya. Sebenarnya film ini sudah mengambil keputusan benar dengan menunjuk Cyril Raffaelli sebagai koreografer pertarungannya. Kalau ada orang Eropa yang bisa menandingi kemampuan koreografi orang Hong Kong maka dia pastilah Cyril Raffaelli. Penggemar film pasti mengenal laganya dalam District 13 dan District 13: Ultimatum, serta dalam sekuel keempat film Die Hard. Sayangnya, pertarungan dalam film ini disyuting dalam jarak terlalu dekat dan goyang sehingga gerakan-gerakan para karakternya kurang terlihat jelas. Padahal yang dicasting dalam film ini rata-rata semua adalah martial artist yang bisa bertarung dengan gaya seperti karakter yang mereka perani.</p>
<p>Mungkin juga karena rata-rata mereka adalah Martial Artist, jadinya akting dalam film ini terlihat kaku. Saya hampir tertawa terbahak-bahak ketika melihat Jon Foo dan Kelly Overton berusaha kencan&#8230; Duh engga banget deh. Dari tampang Jon Foo masih amat sangat bocah plus belum sampai setengah jam sebelumnya dia lagi pacaran sama cewe lain. Sejak kapan ya Jin jadi womanizer begini? Untungnya saja Cary-Hiroyuki Tagawa bisa mempertahankan karismanya sebagai sosok Heihachi Mishima (walau kemampuan bertarungnya menyedihkan dan bodynya kurang gahar)&#8230; tapi di sisi lain Gary Daniels di sini benar-benar underused. Padahal dia bisa dibilang nama Martial Artist paling ngetop di sini.</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> Sebagai hiburan film B, Tekken bolehlah. Tidak heran film ini langsung rilis direct-to-DVD, memang kualitasnya hanya segitu saja. Yang jelas, jangan berharap banyak. Saya pribadi masih lebih suka dengan <strong>Dead or Alive</strong> &#8211; setidaknya cewe-cewenya lebih menyegarkan mata.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Score</span>: <strong>C+</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Movie Details</strong></span><br />
Director: Dwight H. Little<br />
Cast: Jon Foo, Kelly Overton, Cary-Hiroyuki Tagawa, Ian Anthony Dale, Gary Daniels<br />
Running Time: 92 Minutes</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/08/04/tekken/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BlazBlue: Calamity Trigger Portable</title>
		<link>http://tukangreview.com/2010/04/13/blazblue-calamity-trigger-portable/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2010/04/13/blazblue-calamity-trigger-portable/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 12:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Alucard]]></category>
		<category><![CDATA[BlazBlue]]></category>
		<category><![CDATA[Guilty Gear]]></category>
		<category><![CDATA[Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Noel]]></category>
		<category><![CDATA[Rachel]]></category>
		<category><![CDATA[Ragna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=3911</guid>
		<description><![CDATA[(Review Based On PSP Version) Pada jaman dahulu kala (atau tepatnya sekitar 15 tahun yang lalu) dunia fighting 2D identik dengan dua perusahaan dan dua titel: Capcom dan SNK yang memiliki tradisi penghasil game fighting yang berkualitas. Flagship dari Capcom tentunya adalah serial Street Fighter yang turut diperkaya dengan crossover dunia komik (ingat X-Men VS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3912" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/blazblue-calamity-trigger-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-3912" title="BlazBlue: Calamity Trigger Portable Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2010/04/blazblue-calamity-trigger-cover.jpg" alt="BlazBlue: Calamity Trigger Portable Cover" width="256" height="439" /></a><p class="wp-caption-text">BlazBlue: Calamity Trigger Portable Cover</p></div>
<p>(<span style="text-decoration: underline;">Review Based On PSP Version</span>)</p>
<p>Pada jaman dahulu kala (atau tepatnya sekitar 15 tahun yang lalu) dunia fighting 2D identik dengan dua perusahaan dan dua titel: Capcom dan SNK yang memiliki tradisi penghasil game fighting yang berkualitas. Flagship dari Capcom tentunya adalah serial <strong>Street Fighter</strong> yang turut diperkaya dengan crossover dunia komik (ingat <strong>X-Men VS Street Fighter</strong> sampai <strong>Marvel VS Capcom</strong>?). SNK juga tidak kalah; mereka punya <strong>Fatal Fury</strong>, <strong>Art of Fighting</strong>, <strong>Last Blade</strong> sampai tentunya <strong>King of Fighters</strong> yang legendaris itu. Game fighting demi game fighting diluncurkan oleh mereka dan dominasi itu sepertinya tak terpatahkan sampai Arc System Works merilis <strong>Guilty Gear </strong>pada tahun 1998.</p>
<p>Guilty Gear memang menjadi game percobaan fighting bagi Arc System Works, tetapi adalah <strong>Guilty Gear X</strong> yang memasukkan nama developer ini menjadi kontender serius bagi Capcom dan SNK. Di saat para gitar mulai bosan dengan crossover tak habis-habisnya dari Capcom dan grafis King of Fighters-nya SNK yang tak kunjung mengalami peningkatan, sistem pertarungan Guilty Gear X yang cepat, musik rock yang menghentak ditambah kualitas gambar yang superb menjadikannya game 2D fighting terbaik dan terpopuler di masa itu. Dengan kemunduran (kebangkrutan?) SNK dan Capcom, Arc System Works praktis menguasai pasar game fighting 2D seorang diri, merilis update maupun lanjutan Guilty Gear.</p>
<p>Satu dekade lamanya Arc System Works terus identik dengan serial Guilty Gear sehingga para developernya merasa bahwa sudah saatnya mereka memiliki sebuah serial yang baru. Capcom selain punya Street Fighter punya <strong>Darkstalkers</strong>. SNK juga punya Fatal Fury selain King of Fighters. Berangkat dari sini, Arc System Works pun merilis BlazBlue: Calamity Trigger dengan menggunakan board Taito Type X2, engine yang sama yang dipakai oleh Capcom mendevelop <strong>Street Fighter IV</strong>. Hasilnya jelas: BlazBlue menjadi salah satu game fighting tercantik yang pernah saya lihat di pasar saat ini, apa lagi para gitar tentu tahu kalau pengembang yang satu ini selalu saja menghadirkan karakter-karakter ‘ajaib’ dalam deretan roster fighter mereka. Mulai dari yang cool seperti Ragna, bishounen ala Jin, kawaii ala Noel, sampai yang downright weird macam Taokaka dan Arakune.</p>
<p>Saya pernah memainkan versi 360 dari game ini yang memiliki kualitas tampilan mirip dengan versi Arcadenya sehingga memainkan versi PSPnya tentu saja berimbas pada keindahan grafisnya. Banyak sekali detail-detail warna yang tinggi di background game ini terpaksa dikorbankan supaya gameplaynya BlazBlue Portable tetap mulus. Kendati demikian, kalau mau adilnya, BlazBlue Portable masihlah game 2D fighting tercantik di PSP sekarang ini. Dibandingkan dengan Darkstalkers atau <strong>Street Fighter Alpha Max</strong>? Lewat deh dua game itu.</p>
<p>Sebenarnya karakter dalam game ini jumlahnya terbilang sedikit. Di era di mana game fighting berloma-lomba mengeluarkan karakter sebanyak mungkin, BlazBlue bersikap bijaksana dan mengikutkan hanya 12 karakter dalam game ini. Kendati hanya 12 karakter, setiap satu dari mereka memiliki ciri fighting yang berbeda. Saya rasa semua gitar bakalan merasa terpuaskan dengan sekurang-kurangnya satu petarung di sini karena variasi yang mereka miliki. Itu tidak berarti semua karakter memiliki learning curve yang sama. Saya sudah mencoba semua karakter di sini dan menemukan beberapa seperti Jin lebih gampang dipelajari dibandingkan Rachel atau Bang. Kalau ditanya soal jagoan favorit saya, saya bakalan memilih Jin (seperti yang saya bilang, eksekusi jurus plus timing combonya relatif mudah) dengan cadangan Ragna dan Iron Tager.</p>
<p>Dalam versi PSP ini, ada mode baru yang ditambahkan untuk mengobati kekecewaan soal downgrade grafis dan hilangnya online mode; Legion Mode. Saya pribadi merasa bahwa mini-game yang sebenarnya lebih mirip Endless Mode ini tidak seru-seru amat. Kalau diminta memilih, daripada memilih menghadapi segudang lawan CPU, lebih seru berhadapan dengan player lain di dunia maya. Mungkin sistem online server Arc System Works masih disempurnakan. Semoga saja bila port sekuelnya digarap (<strong>BlazBlue: Continuum Shift</strong> Portable anyone?) fitur duel online bisa diikutkan.</p>
<p>Secara keseluruhan, tambahan-tambahan lain untuk BlazBlue Portable ini digarap serius. Kalau kamu bosan bertarung di Arcade Mode, di sini disediakan Story Mode di mana kamu akan mengetahui jalan cerita setiap karakter lebih detail. Di sini terbukti bahwa BlazBlue memang sudah disiapkan menjadi franchise baru oleh sang pengembang. Semua jalan ceritanya masih tanggung dan mentah sekali dijelaskan. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan ini baru prolog yang menceritakan latar belakang tiap karakter di universe ini. Untuk membantu gamer mengerti detailnya, bahkan ada presentasi humoris ala Tiger Dojo di <strong>Fate/Stay Night</strong>, di sini dinamai “Teach Me, Miss Litchy!”</p>
<p><em>So my verdict is&#8230;</em> kalau kamu menghendaki sebuah game tarung berkualitas yang bisa kamu ajak jalan-jalan, BlazBlue Portable ini menjadi satu yang tak boleh dilewatkan. Ini adalah game yang langsung membuat saya ketagihan bermain game fighting lagi, genre yang jarang saya sentuh setelah dua bulan ketagihan bermain Street Fighter IV dari Capcom tahun lalu.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 9.0<br />
Walaupun rosternya hanya 12 orang, semuanya memiliki ciri yang berbeda. BlazBlue Portable termasuk beginner friendly sehingga kamu bisa cepat mempelajari jurus-jurusnya. Akan tetapi menguasai seorang karakter adalah cerita berbeda. Like every great fighting game, it takes a moment to learn &#8211; a lifetime to master. Kalau bosan dengan mode utamanya, selalu ada mode-mode lain yang bisa kamu coba. (PS: Jangan lewatkan tiap episode Miss Litchy!)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 8.0<br />
Saya sedikit ragu menentukan skor di sini. Kalau dibandingkan dengan versi konsol dan arcadenya, tentu saja versi PSPnya &#8211; menurut kata-kata editor IGN &#8211; bikin sakit mata. Tetapi kalau mau jujur dan membandingkannya dengan game fighting 2D di handheld Sony ini, BlazBlue Portable termasuk &#8211; kalau bukan yang &#8211; terbaik. Omong-omong soal setiap karakternya yang ajaib bentuknya, saya tidak akan heran kalau cosplayer mulai berpose sebagai Ragna atau Noel begitu game ini mendaki tangga popularitas.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 8.5<br />
Sayang game ini tidak memiliki fasilitas online play untuk mencari lawan di dunia maya. Seandainya saja ada, saya takkan ragu memberinya nilai 10. Saya pribadi menganggap versi PSPnya sebagai training groundku, di mana setelah menggodok diri di kawah candradimuka, saya siap bertarung di arcade&#8230; (kalau saya bisa menemukannya di kotaku anyway).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>8.5</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Arc System Works<br />
Publisher: Aksys Games<br />
Genre: 2D Fighting</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2010/04/13/blazblue-calamity-trigger-portable/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tekken 6</title>
		<link>http://tukangreview.com/2009/12/26/tekken-6/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2009/12/26/tekken-6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 15:10:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[360]]></category>
		<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Handheld]]></category>
		<category><![CDATA[PS3]]></category>
		<category><![CDATA[PSP]]></category>
		<category><![CDATA[Alisa]]></category>
		<category><![CDATA[Anna]]></category>
		<category><![CDATA[Azazel]]></category>
		<category><![CDATA[Gordo]]></category>
		<category><![CDATA[Heihachi]]></category>
		<category><![CDATA[Hwoarang]]></category>
		<category><![CDATA[Jin]]></category>
		<category><![CDATA[Kazama]]></category>
		<category><![CDATA[Kazuya]]></category>
		<category><![CDATA[Mishima]]></category>
		<category><![CDATA[Nina]]></category>
		<category><![CDATA[Paul]]></category>
		<category><![CDATA[Tekken]]></category>
		<category><![CDATA[Xiaoyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=2963</guid>
		<description><![CDATA[(Review Based on PSP Version) Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik Tekken 5: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2964" class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><a href="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2009/12/tekken-6-cover.jpg"><img class="size-full wp-image-2964" title="Tekken 6 PSP Cover" src="http://tukangreview.com/wp-content/uploads/2009/12/tekken-6-cover.jpg" alt="Tekken 6 PSP Cover" width="256" height="441" /></a><p class="wp-caption-text">Tekken 6 PSP Cover</p></div>
<p>(<span style="text-decoration: underline;">Review Based on PSP Version</span>)</p>
<p>Walaupun koleksi library handheld PSP tidak sebanyak DS, itu bukan berarti handheld Sony kalah kualitas dengan handheld Nintendo. Salah satu komplain terbesar yang disampaikan orang terhadap PSP adalah karena terlalu banyak game remake yang hadir di PSP dan saya juga setuju akan hal ini. Toh, kalau remakenya sebaik <strong>Tekken 5: Dark Resurrection</strong> dulu, saya sih tidak merasa akan ada banyak orang yang menggerutu. Semenjak Dark Resurrection diluncurkan, game tersebut kemudian menjadi tonggak bagi game fighting lainnya di PSP. Bahkan remake <strong>Soulcalibur: Broken Destiny</strong> yang dirilis juga oleh Namco dianggap bagus tapi belum sebaik Dark Resurrection.</p>
<p>Sebenarnya di akhir tahun 2007, <strong>Tekken 6</strong> diluncurkan di arcade Jepang. Setahun kemudian versi upgradenya dirilis dengan sub-judul <strong>Bloodline Rebellion</strong> diluncurkan (dengan tambahan dua karakter baru). Seharusnya sih versi PS3 dan PSPnya juga diluncurkan di tahun yang sama, tetapi ternyata dalam ‘penyabotan’ yang dilakukan oleh Microsoft, perilisannya ditunda selama setahun (satu dari beberapa penyabotan yang dilakukan oleh Microsoft, termasuk merebut serial Final Fantasy bernomer dari Sony). Kini di tahun 2009, versi home console dan PSPnya pun dirilis. Bagaimanakah hasilnya?</p>
<p>Tekken 6 ini menampilkan versi Bloodline Rebellion yang berarti selain ada lima karakter baru dan 33 karakter lama (34 kalau menghitung Panda), muncul juga Alisa Bosconovitch; cucu android dari Dr Bosconovitch dan Lars Alexandersson; si anak haram dari Heihachi Mishima. Total jendral ada 41 karakter yang siap kamu pakai dalam game ini &#8211; menjadikan Tekken 6 sebagai Tekken dengan roster terbesar. Apa yang membuat saya kagum dengan versi PSPnya adalah bagaimana handheld ini bisa memasukkan semua karakter dalam handheldnya. Salut Namco. Salut.</p>
<p>Grafis dalam Tekken 6 luar biasa. Tiap karakter game memiliki render animasi dan gerakan yang sangat halus untuk ukuran PSP. Juga beberapa arena tertentu memiliki segi interaktifnya dalam pertarungan. Saat kamu menghajar dan sukses memasukkan combo ke dinding misalnya, maka dinding itu akan jebol dan membuka arena baru untuk pertempuran. Walaupun tentu saja kualitas grafis versi PSP ini tidak bisa dibandingkan dengan home console atau Arcade (come on, they’re next-gen standard), saya tetap salut dengan usaha Namco ini. Siapa sangka mereka masih bisa membuat standar grafis game fighting yang lebih tinggi lagi dibanding apa yang dulu mereka raih melalui Dark Resurrection?</p>
<p>Mengenai karakter lama sendiri, hampir semuanya masih memiliki cara permainan yang sama dengan pada iterasi game sebelumnya sehingga kalau kamu sudah biasa dengan karakter itu, kamu tak perlu belajar lagi cara menggunakan mereka. Saya memang jarang main game fighting dan satu-satunya karakter yang saya percaya saya bisa mainkan dengan ‘lumayan’ (baca: tidak diganyang <em>Perfect</em> oleh para jago Tekken lain) adalah memakai Hwoarang. Ketika saya memainkan game ini lagi, Hwoarang tetap sama cepat dan mematikan tendangannya dengan Tekken 5: Dark Resurrection. Di antara beberapa karakter baru yang dihadirkan, saya paling tertarik dengan tiga karakter: Bob, Alisa, dan Zafina. Bob mendobrak tradisi kalau orang gendut pasti pelan, Alisa adalah robot cyborg yang sekilas lihat agak overpowered (makanya sebagai amatiran Tekken yang suka <em>button mashing</em> dia jadi favorit kedua saya setelah Hwoarang), dan yang terakhir Zafina yang gaya berantemnya agak&#8230; aneh. Salah satu pose kemenangan Zafina di mana ia merangkak ala laba-laba malahan mengingatkan saya pada setannya <strong>Ju-On</strong> (loh, apa hubungannya ya?).</p>
<p>Dalam gameplaynya sendiri, satu penambahan yang paling kentara di mataku adalah <em>Rage System</em> di mana ketika darah karaktermu sudah turun di bawah 10% maka karaktermu akan memiliki aura merah yang bersinar di mana semua seranganmu akan memiliki daya rusak yang lebih dahsyat. Kalau kalian pernah bermain <strong>Garou: Mark of the Wolves</strong>, Rage System mirip dengan <em>TOP System</em>-nya. Mode permainan dalam Tekken 6 sendiri sedikit kurang variatif. Terlepas dari Arcade Mode, Story Mode, dan Challenge Mode yang sebenarnya menawarkan hal yang sama, tidak ada lagi tambahan mode selain adu jotos. Hilangnya Scenario Campaign yang mirip dengan Tekken Force agak mengecewakan tetapi sekali lagi menyadari keterbatasan hardware PSP, mungkin ini merupakan keputusan yang terbaik. Toh Scenario Campaign juga banyak dikritik sebagai kelemahan dari Tekken 6 versi konsol kok. Setidaknya semua film ending dari para karakter tetap dipertahankan secara utuh oleh Namco di sini. Beberapa sangat serius, beberapa pendek dan ga jelas, beberapa lagi super kocak dan mengundang tawa terbahak. Bila ada kekurangan vital di gameplay Tekken 6, itu adalah tidak adanya opsi untuk bertarung melawan musuh di dunia online (hanya bisa secara wireless dan itupun temanmu harus memiliki kopi Tekken 6). Yah, mungkin jaringan internetnya sendiri yang kurang memadai? Entahlah.</p>
<p>Lepas dari beberapa kekurangan yang ada, Tekken 6 masih membuktikan dirinya sebagai salah satu franchise fighting terbaik yang ada di pasaran saat ini. Keterlambatan satu tahun rilisnya tidak menjadikan gameplaynya uzur, yang membuktikan bahwa game berkualitas ini selalu bisa kamu mainkan kapan saja bersama teman-temanmu. Siapkah kamu membuktikan apakah kamu masih sang <em>King of Iron Fist</em>?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 9.0<br />
Roster yang lengkap di PSP sejumlah 41 orang membuat saya girang. Semua karakternya juga memiliki kemampuan yang berimbang. Kekurangan mode permainan dan dukungan online play tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada Namco karena keterbatasan hardware PSP. Sebagaimana Dark Resurrection, Tekken 6 juga adalah sebuah game yang must-have bila kamu seorang gamer gitar (gila tarung).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 9.5<br />
Benar-benar nyaris sempurna. Tekken 6 menawarkan variasi tempat tarung yang berbeda, animasi karakter yang sangat halus dari karakter favorit fan ala Jin Kazama, Hwoarang, atau Paul Phoenix, sampai yang kurang dipakai macam Jack-6 atau Roger Jr. Setiap karakter juga didesign dengan berbeda dari pose maupun kostumnya. Kalau kalian bosan dengan kostumnya, ada opsi mengganti penampilan karakter favoritmu dengan membeli aksesoris kustomisasi.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 8.5<br />
Kurangnya dukungan bermain online sedikit mengurangi waktu bermain game ini. Toh bagi saya Tekken 6 di PSP adalah training ground-ku. Saya bisa membawa PSPku ke mana-mana sambil berlatih kemampuan, sementara bermain di 360, PS3, ataupun Arcade adalah saat di mana saya bisa unjuk kemampuan hasil latihanku. Hasilnya? Errr&#8230; kurang begitu berhasil sih. Saya tetap terkapar menghadapi musuh-musuh. Apa mungkin memang tidak bakat ya main game fighting? *<em>menghela nafas panjang</em>*</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>9.0</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Namco Bandai<br />
Publisher: Namco Bandai<br />
Genre: 3D Fighting</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2009/12/26/tekken-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
