Tag Archive | "Japan"

Tags: , ,

Hellboy: Sword of Storms

Posted on 29 December 2009 by Si Tukang Review

hellboy-sword-of-storms

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Kesuksesan Hellboy pada tahun 2004 lalu sebagai sebuah film superhero kelas B tidak terlepas dari campur tangan sutradara Guillermo del Toro. Sebuah sekuel telah dipersiapkan untuk tahun 2008 nanti dengan budget lebih mewah dan efek lebih spesial – tetapi sebelum itu semua dihadirkan, kita lebih dahulu disuguhi Hellboy animasi yang langsung rilis ke DVD: Sword of Storms. Guillermo del Toro bukanlah orang yang berdiri sebagai sutradaranya tetapi hanya mengawasi dari belakang sebagai sang produser.

Film ini sendiri merupakan sekuel langsung dari Hellboy dulu. Dikisahkan kalau sekarang Hellboy, Liz, dan Abe Sapien semakin padu dalam bekerja sama melakukan tugas-tugas mereka. Pada awal film mereka berhadapan dengan monster kelelawar raksasa. Liz memang sudah bisa lebih menerima keadaannya sebagai “bom berjalan” terutama dengan dukungan Hellboy dan Abe. Tanpa disadari oleh ketiganya, sebuah kejadian mengerikan tengah terjadi di belahan dunia timur sana…

Seorang professor arkeolog tanpa sengaja melepas segel kutukan dua putra langit. Dua putra langit itu adalah Lightning (Petir) dan Thunder (Guntur). Keduanya ingin menguasai dunia dengan cara melepaskan saudara mereka sang naga dari ikatan segelnya. Tercatat bahwa ratusan tahun yang lalu seorang samurai pemberani menyegel kedua dewa itu guna menyelamatkan putri yang dia sayangi (putri itu hendak dijadikan korban untuk memadamkam amarah dua bersaudara dewa itu). Tentu saja Lightning dan Thunder tidak lupa dengan misi mereka walau ratusan tahun sudah berlalu.

Hellboy yang baru pulang bertugas dari melawan para kelelawar pun diberangkatkan segera ke lokasi untuk menyelidiki kerusakan di sana. Anehnya, mendadak saja Hellboy hilang dan dibawa ke dimensi lain untuk bertarung dengan para iblis monster dari legenda-legenda mitologi hantu timur. Berhasilkah Hellboy menyelamatkan dirinya dari dimensi yang hilang itu? Apakah para monster berwujud dewa (atau kebalikannya? Entahlah) berhasil menguasai dunia? Lantas bagaimana dengan sang samurai pemberani ratusan tahun yang lampau itu?

Buruk, jelek, dan membosankan. Itulah pendapat saya seusai menonton film Hellboy ini. Saya tidak menyukai legenda-legenda hantu timur dari Jepang dan menonton Hellboy yang melakukan beberapa kesalahan dan menggabungkan mitologi-mitologi itu membuat saya lebih kesal lagi. Perpindahan dimensi Hellboy dari dunia kita ke dunia para hantu itu saja sudah membuat jalan cerita dari film ini bisa ditertawakan. Ayolah, film animasi bukan berarti harus memiliki cerita yang hanya bisa dinikmati anak berusia di bawah lima tahun bukan?

Apabila ada satu hal yang menolong penilaian saya akan Hellboy adalah keseriusan dalam menggarap aspek eksternal dalam film ini. Semua aktor dan artis dari film pertamanya dipertahankan untuk mengisi suara mereka di dalam film ini termasuk Perlman, Blair, maupun Jones. Hal ini memberi penonton sebuah kesan yang familiar mendengar suara-suara para jagoan mereka dahulu. Film ini juga memberikan beberapa poin yang bisa dikembangkan lebih lanjut lagi di film keduanya (hint hint: kemampuan Sherman, dan kemungkinan hubungan romantis antara Sapiens dan Sherman). Film ini juga digarap dengan animasi yang sebisa mungkin menggabungkan kedua jenis budaya timur dan barat.

Walau begitu secara keseluruhan, film ini tetap mengecewakan saya sebagai seorang penggemar Hellboy. Setelah menonton film ini, saya malah tidak jadi terlalu mengharapkan film sekuel dari sang pemilik Right Hand of Doom ini.

Score: 5.5

Movie Details
Director: Phil Weinstein
Cast: Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones
Running Time: 96 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Y: The Last Man (Volume Nine: Kimono Dragons)

Posted on 28 November 2009 by Si Tukang Review

Kimono Dragons Cover

Kimono Dragons Cover

Sempat melempem dalam beberapa edisi sebelumnya, Brian K. Vaughan kembali menemukan sentuhan emasnya dalam story arc kali ini. Perpindahan setting Y ke Jepang membuka berbagai tabir misteri baru mengenai kehilangan Ampersand, sampai koneksi antara keluarga Dr Mann dengan Yorick. Mungkin memang perubahan lokasi adalah angin segar yang dibutuhkan oleh serial ini.

Kimono Dragons segera terbagi dalam dua segmen cerita. Sesampainya di pelabuhan Yokogata di kota Tokyo, grup Yorick mengalami perpecahan mengenai keberadaan Ampersand. Agent 355 ingin melacak Ampersand menggunakan GPS sementara Dr Mann bersikeras untuk mencari ibunya yang tinggal di Tokyo karena yakin bahwa ibunya berkaitan dengan diculiknya Ampersand. Keduanya pun berpisah dalam dua grup. Yorick pergi dengan Agent 355 sementara Rose menemani Dr Mann.

Kelemahan story arc Paper Dolls bagiku sebelumnya adalah story arc tersebut terlalu pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian. Beruntung kali ini Vaughan memperpanjangnya menjadi empat bagian. Penambahan jumlah edisi ini memberi ruang yang lebih lega bagi Vaughan untuk menuturkan ceritanya. Hasilnya langsung kentara jelas, kedua segmen cerita berjalan seiringan tanpa pernah terasa timpang atau berat sebelah. Vaughan tidak hanya berhasil menyorot kondisi tubuh (baca: keinginan seksual) wanita seusai wabah, tetapi juga mengungkapkan kilas balik mengenai kehidupan Dr Mann.

Sayangnya, ada satu hal yang menurut saya tidak dimaksimalkan oleh Vaughan – mungkin saja karena ia tidak seberapa mengenal kebudayaan Jepang. Jepang adalah negara yang unik karena sangat mementingkan pria ketimbang wanita di dalam kehidupan sosial mereka. Ketika wabah membunuh semua pria di dunia, saya sebenarnya menebak bahwa struktur ekonomi dan budaya Jepanglah yang seharusnya paling pertama runtuh. Efek dari wabah nyatanya kurang terasa dampaknya di luar permintaan seksual wanita yang meningkat dan dipenuhi oleh para persocon.

Selain empat bagian dalam Kimono Dragons, Vaughan menyisipkan dua cerita one-shot mengenai Dr Mann dan Alter. Dua-duanya sama menarik dan menambah kaya latar belakang cerita. The Tin Man (edisi 47) menceritakan bagaimana masa lalu Dr Mann mengubahnya menjadi dirinya seperti sekarang. Diceritakan pula mengenai keluarganya, yang – SPOILER ALERT – memegang peranan penting dalam cerita story arc berikutnya. Kisah The Tin Man merupakan cerita yang layak diikuti supaya pembaca memiliki persiapan mengikuti cerita story arc berikutnya. Gehenna (edisi 48)yang mengisahkan masa lalu Alter bahkan lebih menarik lagi. Sampai titik ini, pembaca (termasuk saya) selalu digiring oleh Vaughan untuk percaya bahwa Alter adalah sosok penjahat kejam. Setelah Gehenna, saya berpikir ulang lagi mengenai tujuan Alter mencari Yorick. Alter mungkin adalah wanita yang ‘sakit’, tetapi ia memiliki visi akan hal yang benar. Padanannya mungkin seperti karakter Magneto dalam dunia X-Men.

Setelah dalam dua story arc sebelumnya sedikit melempem, saya bahagia membaca dialog-dialog tajam Vaughan kembali. Walau belum kembali sampai pada titik puncak performanya, mengingat serial ini sudah menginjak perempat akhir cerita, saya percaya bahwa tensi cerita akan terus meningkat dari sini. What a ride… what a ride…

Score: 8.6

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 43 – 48

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here