Tag Archive | "Infinity"

Tags: , , , , , , , , , , ,

Toy Story 3

Posted on 17 June 2010 by Si Tukang Review

Toy Story 3 Poster

Toy Story 3 Poster

And as the years go by, our friendship will never die
- Randy Newman, You’ve Got A Friend In Me

Toy Story yang pertama dan kedua akan selalu masuk dalam jajaran animasi favorit saya sepanjang masa. Keduanya memberi penonton sebuah kisah tentang persahabatan, kesetiaan, dan impian masa kanak-kanak yang sempurna. Tapi sebagaimana kehidupan, masa kanak-kanak pun tak bisa berlangsung selamanya. Sebelas tahun setelah Toy Story 2, Woody, Buzz, dan kawan-kawannya kembali lagi. Hanya ada dua franchise animasi selain Toy Story yang menginjak angka 3 di layar lebar; Ice Age dan Shrek (si ogre hijau malah sudah menginjak angka 4) tetapi kedua franchise itu terus menurun dari segi kualitas. Lantas bagaimana dengan Toy Story? Perlukah saya sebenarnya mereviewnya? Ini Pixar bung! Studio film yang tidak pernah bikin film jelek (Cars is mediocre, but not bad).

Ada bagian cerita dalam Toy Story 3 yang bisa dibilang merupakan pengulangan tidak langsung dari Toy Story 2. Ingat kisah di mana Jessie terbuang saat Emily menjadi dewasa? Kali ini Andy juga telah tumbuh dewasa dan akan berangkat ke universitas. Bahkan sudah lama sekali sejak dia bermain kembali dengan Woody dan kawan-kawan. Para mainan itu bisa mengerti: Andy bukan lagi anak-anak, dan mereka menerima nasib untuk disimpan dalam gudang. Karena, toh, nasib itu masih lebih baik ketimbang mereka terpencar-pencar karena disumbangkan sana-sini sebagaimana beberapa kolega mereka. Akan tetapi karena sebuah kesalahpahaman, ibu Andy justru mengirimkan box mainan (minus Woody) ke tempat penitipan anak Sunnydale.

Woody mengejar para teman-temannya dan meminta mereka kembali. Sial baginya, para mainan lain salah paham dan keburu sakit hati dengan perlakuan Andy sekaligus merasa sudah saatnya mereka dimainkan oleh anak lain, apalagi karena Sunnydale tampaknya begitu menyenangkan. Kebahagiaan itu, sayangnya, hanya kesemuan semata. Sebenarnya Sunnydale dikuasai oleh geng mainan jahat yang dipimpin oleh Lotso si beruang ‘tukang peluk’ beraroma stroberi. Bisakah para mainan Andy meloloskan diri dari tempat itu? Akan tetapi dengan Andy sudah melupakan para mainan, masih bisakah mereka menemukan rumah?

Saya ingat masih berumur 10 tahun ketika Toy Story pertama dirilis. Sudah 15 tahun berlalu sehingga karakter Woody, Buzz, Mr dan Mrs Potato, Rex, dan lain-lain sudah tumbuh layaknya bagian keluarga di hatiku ketika Toy Story 3 dirilis. Dan Pixar sungguh mengambil momentum dari rasa nostalgia itu. Seperti yang saya bilang tadi, ada sedikit aroma pengulangan Toy Story 2 di kisah ini, tetapi efek emosi yang dihasilkan sangat berbeda. Melihat Woody dan Buzz perlahan tapi pasti dilupakan oleh Andy membuat hatiku sakit walau sudah tahu bahwa Jessie diperlakukan sama oleh Emily di flashback Toy Story 2.

Pixar sepertinya juga tahu benar bahwa tidak semua penonton film ini adalah anak-anak (saya rasa malahan banyak yang remaja atau dewasa mengajak anak-anak mereka menonton karena anak-anak jaman sekarang belum lahir saat Toy Story pertama dirilis) dan itu direpresentasikan dalam ceritanya yang dark. Walaupun ada banyak humor lucu, beberapa cerdas beberapa lagi slapstick, yang bikin saya tertawa terbahak-bahak sepanjang film (franchise ini telah diberkati dengan segudang karakter yang memorable) tapi banyak sekali adegan yang ‘gelap’. (MINOR SPOILER) Satu adegan mendekati klimaks film terutama hampir-hampir bersentuhan dengan kematian; sesuatu yang belakangan ini seakan jadi hal tabu dalam dunia animasi selain disebut sambil lalu. Salut untuk Pixar yang sekali lagi tidak takut mendobrak tradisi.

So my verdict is… bagaimana dalamnya kamu mengapresiasi film Toy Story 3 tergantung dari sudah belumkah kamu menonton kedua prekuelnya? Tanpa menonton kedua film pertamanya, film ini masih merupakan sebuah film animasi berkualitas tinggi baik dari segi visual (Pixar tidak mengeksploitasi aspek 3D) dan ceritanya, akan tetapi bila kamu sudah menonton kedua prekuelnya dan membiarkan karakter-karakter dalam franchise ini tumbuh di hatimu, Toy Story 3 bakalan menjadi penutup yang menguras emosi untuk trilogi sempurna para mainan favorit kita. Saya rangkum begini: Begitu emosionalnya sepuluh menit terakhir, saya sampai harus mati-matian menahan air mataku tidak tumpah. Tapi duduk di kananku adalah seorang bapak-bapak berusia 30an tahun berlinangan air mata sementara duduk di samping kiriku seorang gadis kecil tidak sampai 10 tahun juga tengah menangis. So I say “Screw it” dan ikut sesunggukan tanpa malu lagi.

Note: Ada cameo mainan Totoro dari Studio Ghibli. Bisakah kalian menemukannya? Dan kalau penasaran lagu You’ve Got A Friend In Me dalam bahasa Spanyol harus nonton film ini.

Score: 9.8

Movie Details
Director: Lee Unkrich
Cast: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, Ned Beatty, Michael Keaton
Running Time: 103 Minutes

Comments (8)

Tags: , , , ,

Toy Story 2

Posted on 02 October 2009 by Si Tukang Review

Toy Story 2 Poster

Toy Story 2 Poster

Film pertama Pixar, Toy Story, adalah sebuah masterpiece yang bahkan sulit ditandingi oleh Pixar sendiri. Film kedua yang digarap Pixar adalah A Bug’s Life yang sebenarnya secara kualitas tidak buruk tetapi masih di bawah standar film pertama mereka. Di saat Toy Story pertama sukses secara finansial, Disney meminta Pixar membuat sekuelnya untuk dirilis langsung ke DVD, seperti halnya Simba’s Pride atau Return of Jafar untuk The Lion King dan Aladdin. Setelah para petinggi Disney melihat ide dari Toy Story 2, mereka sangat terkesan akannya dan memutuskan untuk memberi film ini kesempatan rilis di theater. Toy Story 2 tercatat menjadi film animasi sekuel Disney pertama yang dirilis di theater.

Beberapa tahun sudah berlalu dari akhir film pertama. Andy sudah lebih dewasa dari sebelumnya, tetapi ia masih terus bermain dengan mainannya, terutama Woody dan Buzz yang adalah favoritnya. Suatu saat ketika Woody hendak dibawa ke kamp para koboi oleh Andy, tanpa sengaja tangan Woody (yang terbilang merupakan mainan renta) robek saat dipakai buat bermain. Andy tidak jadi membawa Woody sehingga membuat sang mainan kecewa setengah mati. Kekecewaan Woody berganti dengan kepanikan ketika ia menyadari ibu Andy menggelar sebuah cuci gudang besar-besaran (Garage Sale).

Garage Sale berarti banyak barang tak terpakai (termasuk mainan rusak) yang akan diobral. Ketika Woody melihat salah satu mainan usang hendak diobral, ia turun tangan dan membantu merebut kembali mainan tersebut. Sial bagi Woody, ia justru menarik perhatian seorang kolektor mainan bernama Al. Al mencuri Woody dan hendak menjualnya ke sebuah museum di Jepang. Para mainan Andy tentu tidak tinggal diam. Dipimpin oleh Buzz Lightyear, sebuah regu penyelamat dikirim. Di kediaman Al, Woody kemudian bertemu dengan para mainan baru seperti Jessie si koboi wanita dan Bullseye. Uniknya, Woody baru tahu bahwa mereka semua adalah bagian dari geng Woody’s Roundup, sebuah show mengenai Woody saat ia populer dulu. Apakah misi menyelamatkan Woody bakalan berhasil?

Pixar membuktikan diri kalau Toy Story memang franchise yang mereka kenal. Seperti yang penonton tahu, sangat sedikit film sekuel yang memiliki kualitas sebanding atau lebih baik dari prekuelnya. Toy Story 2 termasuk dalam satu dari sedikit film tersebut. Tema yang diangkat dalam film kali ini lagi-lagi mengena dengan setiap penonton. Bila yang pertama berbicara mengenai iri hati Woody ketika kesaingan Buzz, yang kedua kali ini mempertanyakan sampai kapankah seorang anak akan terus memainkan mainannya? Apa yang terjadi pada mainan tersebut bila sang anak sudah lulus kuliah dan pergi menikah nanti? Pertanyaan ini dirangkum dalam adegan kilas balik Jessie diiringi dengan lagu “When She Loved Me” yang melankolis dan menggetarkan hati.

Para karakter dalam film Toy Story pertama kembali lagi dalam film ini dan diberi porsi yang lebih besar dari sebelumnya. Bila sebelumnya film ini lebih berfokus pada Woody dan Buzz, kali ini karakter seperti Mr Potato Head, Rex, Slinky Dog, dan Hamm juga ikut berpetualang menyelamatkan Woody. Bicara soal karakter pendukung, tidak ada film Pixar yang memiliki deretan seimpresif Toy Story, tidak bahkan Finding Nemo yang karakter pendukungnya hanya hadir untuk satu dua adegan saja. Selain karakter lama, banyak karakter baru baik yang tadinya direferensikan di prekuelnya maupun yang benar-benar baru kali ini dimunculkan. Mrs Potato Head dan si anjing Buster termasuk kategori pertama sementara trio Jessie, Prospector, dan Bullseye termasuk kategori kedua.

Toy Story 2 juga sangat lucu dengan memparodikan berbagai macam film terkenal. Dua yang tidak pernah gagal membuat saya tertawa terbahak-bahak (walau sudah menonton film ini lima kali) adalah parodi The Empire Strikes Back dan Jurassic Park. Ending creditnya juga sangat kreatif dengan memakai konsep outtake ala film sungguhan. Ini adalah sebuah film animasi yang selain lucu juga memiliki makna di dalamnya. Walaupun secara kualitas hampir setingkat, saya merasa bahwa Toy Story 2 masih sedikit lebih apik dibandingkan sang prekuel. Mungkin konsepnya kalah orisinil, tetapi ceritanya lebih tertata rapi dan petualangannya juga lebih seru! Yet another excellent masterpiece from Pixar.

Score: 9.8

Movie Details
Director: John Lasseter
Cast: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack
Running Time: 92 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Toy Story

Posted on 08 September 2009 by Si Tukang Review

Toy Story Poster

Toy Story Poster

Saya rasa sudah sepantasnya kalau film Pixar pertama yang saya review adalah Toy Story. Tidak hanya film ini merupakan film karya Pixar yang pertama, ini juga film animasi 3D pertama. Semua film animasi 3D yang kamu tonton hari ini berhutang banyak pada Toy Story. Saya ingat bahwa pertama kali menonton film ini pada tahun 1995, saya tidak bisa membayangkan seperti apa yang namanya film animasi 3D. Apa bisa semenarik karya-karya animasi 2D Disney seperti The Lion King atau Pocahontas? Toy Story menjawab keraguan itu dan langsung membuat saya – dan jutaan anak di dunia saat itu – jatuh hati dengan genre baru ini. Bayangkan bila Toy Story gagal saat itu! Mungkin saja dunia animasi tidak akan sama seperti sekarang!

Selama ini Woody sang koboi selalu menjadi mainan favorit Andy sehingga ketika sebuah model Space Ranger baru bernama Buzz Lightyear merebut posisinya, Woody langsung cemburu buta. Perselisihan antara Woody dan Buzz kian mencuat karena Buzz tidak sadar bahwa dirinya adalah mainan (menyangka bahwa dirinya itu Buzz Lightyear sungguhan). Puncak dari perselisihan tersebut menimbulkan tragedi ketika Buzz dan Woody kemudian terjatuh di jalanan dan terpisah dari Andy. Lebih tragis lagi mereka kemudian diambil oleh Sid, tetangga Andy yang kejam terhadap para mainan. Apakah keduanya bisa menemukan jalan mereka kembali kepada Andy lagi?

Menonton Toy Story tidak pernah membuat saya bosan. Sebelum saya menulis review ini saya sengaja menontonnya lagi untuk menyegarkan ingatan saya. Nyatanya walau sudah menonton film ini untuk kelima kalinya saya masih saja takjub dengannya. Terhitung sudah hampir 15 tahun berlalu semenjak film ini pertama kali keluar sehingga membandingkan kualitas animasinya dengan film-film baru Pixar seperti Wall-E dan Up tentu tidak adil. Toh dari Toy Story saja Pixar sudah membuktikan diri bahwa mereka tidak main-main dalam kualitas animasinya. Untuk tahun 1995, gerakan animasi para mainan sampai mimik muka dari Woody dan kawan-kawan tergolong sangat ekspresif. Dunia Toy Story pun penuh warna dan terbagi kontras antara kamar Andy yang ceria (kaya akan warna lembut) dan kamar Sid yang kelam dan gelap (dominan dengan warna-warna gelap). Toy Story juga memiliki soundtrack utama lagu “You’ve got a friend in me” yang selain berirama country (sesuai dengan Woody si koboi) juga mengentalkan subyek persahabatan yang diangkat.

Cerita dalam Toy Story sendiri sangat kreatif. “Apa jadinya bila diam-diam tanpa sepengetahuanmu mainanmu hidup ketika kamu tidak bermain dengannya?” diramu dengan nuansa persahabatan di dalamnya sudah memberi film ini nilai plus dari segi konsepnya. John Lasseter juga sukses mengeksekusi konsep ini dalam ke dalam cerita dan dunia animasi mendapat Woody dan Buzz, dua sosok yang bertolak-belakang tapi dalam dunia animasi bahkan perfilman sekalipun sulit mencari kualitas persahabatan seperti yang dimiliki keduanya. Walau Pixar berbeda dengan Dreamworks yang kerjaannya mendatangkan bintang-bintang kelas atas sebagai pengisi suaranya, Woody dan Buzz termasuk pengecualian karena suara mereka diisi oleh Tom Hanks dan Tim Allen. Selain sosok Woody dan Buzz, saya menyukai sosok Sid si antagonis. Film animasi jaman sekarang seperti sudah kurang berani membuat karakter antagonis yang benar-benar jahat (biasanya cenderung bodoh) sehingga menonton seorang karakter yang benar-benar jahat macam Sid membuat saya teringat masa-masa di mana saya benar-benar bisa dibuat geram oleh seorang antagonis.

Pun hanya dalam tempo 81 menit, Toy Story sukses menjaga ritme penceritaannya. Mulai dari memperkenalkan kepada kita karakter Andy dan Buzz, menunjukkan kepada kita rivalisme mereka, sampai penyelesaian konflik yang begitu mendebarkan, semua adegannya efektif memajukan cerita dan tidak satu menitpun terasa terbuang sia-sia. Tidak heran bila di situs Rotten Tomatoes film ini mendapatkan nilai sempurna 100% atau dengan kata lain semua reviewer yang menonton film ini menilainya positif! Bila kamu menyangka bahwa hanya karena ia dirilis di tahun 1995 maka Toy Story sudah ketinggalan jaman, hapus pikiran tersebut dan burulah DVDnya. Film klasik ini hingga kini pun masih layak ditonton karena pesannya yang relevan dan tidak lekang oleh waktu.

Score: 9.7

Movie Details
Director: John Lasseter
Artist: Tom Hanks, Tim Allen
Running Time: 81 Minutes

Comments (5)

Advertise Here
Advertise Here