Tag Archive | "Infinite"

Tags: , , , ,

Disgaea Infinite

Posted on 25 June 2010 by Si Tukang Review

Disgaea Infinite Cover

Disgaea Infinite Cover

Walaupun hanya pernah memainkan game pertama Disgaea (Hour / Afternoon of Darkness), saya langsung kesengsem dengan game bertokoh utamakan Laharl itu. Maklum, ia penuh dengan karakter-karakter sinting dan menggemaskan, sibuk memparodikan anime ini itu sekaligus menguntai jalan cerita yang humoris dan menyentuh dengan gameplay yang dalam dan sangat adiktif. Saya sudah mengenal banyak gamer yang rela menghabiskan ratusan jam dalam hidup mereka dalam Disgaea, sebuah bukti bagaimana menghipnotisnya game ini. Belakangan ini Nippon Ichi Software selaku pengembang Disgaea fanbase mereka terus bertambah besar sehingga berani bereksperimen merambah ke genre lain di luar Strategy RPG. Percobaan pertama mereka adalah Prinny: Can I Really Be the Hero? yang lumayan seru – tapi sulit setengah mati. Tahun ini sekali lagi muncul game Disgaea, kali ini dalam bentuk Visual Novel, berjudul Disgaea Infinite.

Tema utama dalam Disgaea Infinite adalah upaya pembunuhan Laharl! Ya, jagoan utama kita di dalam Disgaea itu hendak dibunuh! Sial bagi sang pembunuh misterius, Laharl tidak mati dalam usaha pembunuhan ini… Tapi?!?!? Itu justru baru awal dari petualanganmu! Di sini lagi-lagi kamu berperan sebagai Prinny yang tertimpa nasib paling sial. Kamu dituduh sebagai pelaku yang mencoba membunuh bosmu. Mana mungkin para penguin imut dunia arwah itu melakukannya bukan????? Tapi tanpa mau mendengar pembelaan para penguin malang itu, tidak tanggung-tanggung, Laharl menjatuhkan hukuman paling sadis untukmu. Kamu disuruh untuk… bekerja kepadanya dan masih harus membayar dia! Untung saat Prinny ditendang keluar, kamu mendapatkan sebuah artifak misterius yang bisa memutar balik waktu dan merasuki karakter-karakter di game ini. Bisakah kamu mengungkap misteri ini dan menyelamatkan nyawa Laharl… errr… atau tepatnya nasib gajimu???

Seperti yang diharapkan dari game bertitel Disgaea jalan ceritanya sendiri sudah pasti jayus bin kocak. Semua karakter-karakter favorit seperti Etna, Jennifer, Gordon, Flonne, dan lain-lain dari game pertamanya muncul di sini sehingga kamu bisa memuaskan rasa nostalgiamu. Namanya juga visual novel sehingga gameplay di sini pun tidak terlalu ribet. Saat memainkan saya malah merasa game ini seperti Disgaea: Pilih Sendiri Petualanganmu. Kalau tidak percaya, coba lihat saja: sebagai Prinny kamu bisa merasuki karakter yang berbeda-beda. Terkadang saat karakter yang kamu rasuki berbicara dengan karakter lain, kamu punya kemampuan Mind Control untuk mempengaruhinya. Efeknya bisa lucu-lucu, seperti Laharl yang mendadak jadi gemas dan memeluk-meluk Prinny (jijay bajay!). Nah, andaikata kamu salah pilih (atau salah skenario) dan gagal menghentikan pencobaan pembunuhan Laharl, game pun direset kembali. Dan sebagaimana halnya sebuah buku Pilih Sendiri Petualanganmu, Disgaea juga memiliki replay value yang tinggi dengan pilihan 14 ending yang berbeda.

Walau dengan segudang pujian di atas tetap tidak berarti kalau Disgaea Infinite ini sempurna. Sebaliknya saya merasa bahwa game ini terlalu pendek untuk ukuran sebuah Visual Novel. Menyelesaikan satu skenario dalam game ini paling-paling diperlukan waktu 15 – 20 menit. Replay value dalam 14 ending berbeda tadi pendek-pendek karena syarat mendapatkan ending berlainan hanya terletak pada pilihan-pilihan terakhir. Gamer bakalan sering melakukan skip adegan-adegan yang sudah dilihat ketimbang menontonnya lagi. Adegan lucunya sih banyak, tapi masa mau menonton adegan lucu yang sama lima sampai sepuluh kali berturut-turut? Untuk game yang mengembel-embeli judulnya dengan kata Infinite, amat disayangan bahwa kita hanya disuguhi game yang sangat pendek, terbatas, dan ‘finite’.

So my verdict is… untuk sebuah game harga premium (bukan download content) waktu main Disgaea Infinite yang terlalu pendek membuatnya sulit saya rekomendasikan. Penggemar berat Disgaea mungkin mau membelinya demi melengkapi koleksinya tetapi gamer lain hanya perlu meminjamnya untuk hiburan santai selama beberapa jam.

Final Verdict

Gameplay: 2.0
Bukannya saya mengatakan kalau Disgaea Infinite gameplaynya jelek sih… tapi jujur saja ini bukan game tapi Visual Novel bergaya Pilih Sendiri Petualanganmu. Gameplaynya sangat sederhana kalau tidak mau dibilang tidak ada.

Graphic / Sound: 8.5
Kalau kamu suka dengan warna-warni cerah dunia Disgaea, game ini tidak mengecewakan. Artwork karakter dan musik masih sama dengan yang dipakai pada game-game sebelumnya.

Play Time: 2.5
Saya menghabiskan waktu sekitar 80 jam memainkan Disgaea pertama (belum memainkan Disgaea 2 karena takut ketagihan), akan tetapi Disgaea Infinite saya selesaikan dengan waktu tiga jam. Waktu ini bahkan bisa dipotong lebih pendek lagi andaikata saya memakai guide di Gamefaqs. Ini terlalu pendek – bahkan untuk ukuran sebuah Visual Novel sekalipun.

Overall: 4.3

Game Details
Developer: Nippon Ichi Software
Publisher: NIS
Genre: Visual Novel / Adventure

Comments (1)

Tags: , , , , , , , ,

Justice League: Crisis On Two Earths

Posted on 05 March 2010 by Si Tukang Review

Justice League: Crisis On Two Earths DVD Cover

Justice League: Crisis On Two Earths DVD Cover

Sebuah film animasi direct-to-DVD yang baru lagi dari DC! Kelihatannya film animasi sekarang telah menjadi media yang tepat untuk mentranslasikan serial-serial komik DC dan Marvel. Justice League: Crisis on Two Earths merupakan titel yang spesial karena untuk pertama kalinya DC mengangkat kata ‘Crisis’ yang sinonim dengan judul-judul besar ke layar lebar.  Seperti halnya Green Lantern: First Flight yang dirilis beberapa waktu lalu, Crisis on Two Earths menanamkan benih krisis lebih besar yang nantinya akan mengancam seluruh multiverse DC.

Kalau kalian belum terlalu familiar dengan konsep multiverse DC, saya sarankan untuk membaca review saya mengenai graphic novel Crisis on Infinite Earths, Infinite Crisis, dan 52. Kelamaan apabila saya harus menjelaskan lagi mengenai asal muasal dan arti multiverse. Intinya universe yang pembaca komik kenal selama ini tidak hanya satu. Di jagad raya yang kita kenal sekarang ini Superman, Batman, Wonder Woman, dan para jagoan lain membentuk Justice League dan merupakan pelindung bumi. Akan tetapi, belum tentu kenyataan begitu sama di setiap jagad raya lainnya.

Pada awal film ini, diperlihatkan Lex Luthor dan The Joker tengah bekerja sama untuk membobol sebuah brankas rahasia. Lagi-lagi rencana iblis? Tunggu dulu. Ada yang aneh. Di sini Joker mendadak saja mengorbankan diri supaya Lex bisa lolos dari kejaran musuh mereka. Lebih anehnya lagi, para superhero yang muncul dengan kejinya membunuh The Joker yang sudah tidak berdaya melawan. Ini karena dunia yang kita lihat bukanlah dunia kita biasa melainkan sebuah dunia lain bernama Earth-Two. Di sini peran masing-masing karakter terbalik. Lex Luthor dan The Jester (versi The Joker dunia ini) adalah pemimpin Justice League sementara Ultraman (Superman), Owlman (Batman), Superwoman (Wonder Woman), dan yang lainnya justru membentuk liga kejahatan yang bernama Crime Syndicate of America (CSA).

Lex yang terdesak menggunakan barang yang tadinya dicuri dari brankas untuk pindah dimensi ke dunia para superhero DC. Walaupun semula sempat terjadi salah sangka (maklum, Lex Luthor kan penjahat besar di dunia ini), Superman dan anggota Justice League lain bersedia untuk membantu Lex. Permasalahan ternyata jauh lebih pelik daripada yang dibayangkan semula. Di dunia Earth-Two, bahkan para penduduk bumi sudah ketakutan dan tidak berani melawan para CSA. Satu-satunya yang menghentikan CSA mengambil alih pemerintahan adalah senjata nuklir yang siap diledakkan oleh sang presiden apabila CSA melakukan kudeta. Tambahan lagi, Owlman (kembaran Batman) ternyata memiliki adegan terselubung…

Secara keseluruhan, saya lebih puas dengan Crisis on Two Earths dibandingkan percobaan DC sebelumnya (Superman/Batman: Public Enemies). Pertarungan demi pertarungan yang disajikan kali ini juga lebih kreatif mengingat ada lebih banyak karakter yang tergabung di sini. Walau penuh dengan baku hantam di sana-sini, Crisis on Two Earths tidak melupakan cerita. Satu hal terpenting yang akhirnya berhasil diangkat film ini adalah menahbiskan konsep multiverse di bumi. Konsep dunia paralel ini dijelaskan kepada penonton oleh Owlman (dalam adegan di mana ia menjelaskan pada Superwoman) dengan sangat jelas sehingga semua orang pasti bisa mengertinya. Ini tentu membuka jalan crossover-crossover yang lebih megah lagi di masa mendatang. Crisis on Infinite Earths anyone?

Crisis on Two Earths ini juga tentunya tidak sempurna. Beberapa karakter seperti Green Lantern atau Wonder Woman seakan hadir sebagai tempelan saja di film ini sementara Martian Manhunter dan Batman lebih dikedepankan. Mungkinkah ini karena Green Lantern dan Wonder Woman sudah pernah mendapatkan feature filmnya sendiri? Omong-omong soal sosok Green Lantern, saya menerima dengan baik perubahan karakter dari John Stewart ke Hal Jordan. Maaf bung Stewart, but Hal Jordan really is the greatest GL ever.

Meski demikian, perubahan para pengisi suara film ini tidak saya terima dengan baik. Untuk pertama kalinya pengisi suara film ini adalah nama-nama yang sama sekali tidak familiar di telinga saya. Siapa itu Mark Harmon? Vanessa Marshall? James Woods? Ke mana Kevin Conroy? Keri Russell? Tim Daly? Saya sangat kecewa para karakter yang biasa mengisi suara para anggota Justice League ini absen secara misterius. Walaupun para pengisi suara film ini tidak buruk-buruk amat, mereka masih kalah kelas dengan para pengisi suara terdahulu yang sudah memiliki pengalaman dan intimasi dengan karakter-karakter superhero DC. Satu-satunya yang memiliki kualitas di atas rata-rata hanyalah James Woods yang mengisi suara Owlman.

So my verdict is… apabila kamu penggemar komik-komik DC, apa lagi yang kalian tunggu? Segera buru film ini karena dijamin takkan mengecewakanmu!

Note: Saya menonton versi bajakannya, untuk versi aslinya ada bonus animasi pendek mengenai The Spectre, salah satu sosok terkuat di karakter DC yang adalah roh pembalas dendam. Oh ya, Sam Liu yang menyutradarai film ini juga menyutradarai film Planet Hulk.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Lauren Montgomery, Sam Liu
Cast: Mark Harmon, James Woods, Chris Noth, William Baldwin, Gina Torres
Running Time: 75 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here