Kalau bicara soal film horror Amerika, apa yang pertama terlintas di benak kalian? Kalau di benak saya: film-film gore dan berisi psikopat. Contohnya mudah. Setiap tahun di masa Halloween selalu beredar film baru Saw selama enam tahun terakhir. Bahkan sampai ada istilah kalau Halloween, berarti ada Saw. Beberapa tahun terakhir juga terlihat menjamurnya remake-remake film slasher dari era 1970-1980an. Sosok seperti Michael Myers, Jason Voorhees, sampai Freddie Krueger kembali muncul di era millenium dalam reboot untuk menakut-nakuti generasi baru. Tidak heran kalau saya mengasosiasikan film horror Amerika mayoritas hanya berisi pembantaian dan kesadisan semata. Yang saya lupa: Amerika juga punya salah seorang penulis novel misteri / horor terbaik dunia: Stephen King.
Sejak saya kecil dulu keluargaku (terutama kedua pamanku) selalu melahap novel dari tiga orang penulis. Kalau hukum, mereka selalu membaca novelnya John Grisham. Kalau petualangan dan sci-fi, pasti Michael Crichton. Kalau horror? Stephen King. Saking senangnya pamanku dengan Stephen King, hampir setiap novelnya dia miliki baik dalam bentuk E-Book ataupun buku asli. Walhasil walaupun saya tidak pernah membaca karyanya (pernah melihat sekilas novel The Boy Who Loved Tom Gordon – tetapi tidak tertarik melanjutkannya) nama Stephen King sudah familiar lama di benak saya. Saya juga tahu bahwa banyak karyanya yang dijadikan film tapi sayangnya tidak semuanya saya tonton. Kalaupun ada bukan yang bergenre horror seperti The Shawshank Redemption.
Dan hadirlah 1408 yang melulu disodorkan teman padaku. “Harus kamu tonton ini Nis!” katanya, berjanji bahwa ini bukan semata-mata horor biasa. Setelah beberapa bulan menunda-nunda karena proyek lainnya, saya akhirnya menyelesaikan film ini kemarin. Bagaimana pendapatku akannya?
Mike Enslin adalah seorang penulis tempat-tempat angker yang ironisnya tidak pernah percaya akan keberadaan hantu dan sebangsanya. Ketika dia diundang untuk datang ke sebuah hotel bernama Dolphin dan diwanti-wanti jangan masuk ke kamar 1408, Mike Enslin justru tambah penasaran. Mike kemudian nekat untuk menginap di kamar hotel itu walaupun Gerald Olin yang menjadi manager hotel itu sudah menyegelnya selama lebih dari 20 tahun. Kata Olin semua orang yang pernah masuk ke dalam kamar itu tidak pernah keluar hidup-hidup lagi. Semuanya mati dengan cara bunuh diri atau dengan cara-cara ‘misterius’ lainnya. Tidak ada yang bisa bertahan hidup lebih dari 60 menit di dalamnya. Akankah Mike menjadi korban berikutnya, atau kamar 1408 hanyalah sebuah tipuan lain guna menaikkan pamor hotel Dolphin?
Saya tidak habis mengerti kenapa film ini diberi rating PG-13. Wow. Badan sensor Amerika pasti ingin membuat para penonton remaja yang berusia 13 tahun jadi trauma. Tahun 2009 lalu saya banyak menonton film horror yang berkualitas. Paranormal Activity, Orphan, dan Drag Me to Hell menurut saya sangat mantap karena berbeda dengan horror-horror gore slasher flick biasanya. Akan tetapi film 1408 melebihi ketiga film itu bagiku. Beberapa reviewer Amerika sampai membandingkannya dengan salah satu maha karya Stephen King yang diadaptasi lainnya: The Shining. Percaya tidak percaya, ini adalah film horror kedua setelah The Exorcism of Emily Rose yang membuat sekujur bulu kuduk tubuhku merinding dan bercucuran keringat dingin.
Pengalaman intens langsung terasa begitu Mike masuk ke dalam ruangan 1408. Mikael Hafstrom dengan efektif membangun ketakutan penonton dengan membeberkan semua keangkeran kamar 1408. Seperti kata-kata Olin “Bukan roh jahat bersemayam di sana, tapi kamarnya sendiri yang iblis…“. Akan tetapi begitu masuk ke dalam kamar itu, John Cusacklah yang bersinar. Saya malah bingung kenapa Samuel L. Jackson namanya turut ditempel di poster film padahal perannya bisa dibilang amat sangat minim. Akting Cusack dalam film ini hampir sempurna. Dari sosok yang pede dan skeptis, kejadian demi kejadian absurd (saya tidak mau menspoilerkannya untuk kalian – kalian harus alami ketakutan itu sendiri!) yang dialaminya membuatnya sinting dan gila sedikit demi sedikit. Kepiawaian penyutradaraan Mikael, apiknya akting John Cusack, ditambah sound effect yang mencekam membuat latar yang semestinya cuma satu kamar menimbulkan kesan claustrophobic (ketakutan terperangkap dalam ruangan) yang kuat untuk penonton sekalipun. Tetapi Stephen King bukanlah seorang penulis yang hanya dikenal karena gaya horrornya. Ada beberapa bagian dalam 1408 yang memutar arah film ini ke drama. Bagian ini bisa dibilang menjadi titik-titik terlemah dari 1408 tetapi toh itu pun tidak sampai membuat filmnya jadi membosankan.
So my verdict is… watch this movie. Film ini sedikit mengendurkan tempo di sepertiga akhir yang membuat saya terpaksa menilainya sedikit lebih rendah dari yang saya inginkan – tetapi 2/3 awal film ini adalah momen-momen paling menegangkan yang pernah saya alami selama menonton film.
Note: Ada dua ending untuk film ini. Original ending yang ditayangkan di bioskop adalah yang happy ending dan dikritik karena tidak sesuai dengan jiwa film ini (tadinya dimasukkan karena takut ending yang disiapkan sang sutradara terlalu menganggu). Ending alternatif film ini – walaupun tidak seratus persen happy – justru lebih mengena dan sesuai dengan tema keseluruhan film.
Note 2: Lagu We’ve Only Just Begun yang diputar di film ini dinyanyikan oleh salah satu grup penyanyi lawas Carpenters, yang vokalisnya (Karen Carpenter) meninggal dengan cara yang tidak wajar akibat cara makan yang tidak teratur. Lagu ini juga sering dipakai untuk pesta pernikahan.
Score: 8.5
Movie Details
Director: Mikael Hafstrom
Cast: John Cusack, Samuel L. Jackson
Running Time: 106 Minutes









