Tag Archive | "Horror"

Tags: , , , , , , ,

1408

Posted on 19 May 2010 by Si Tukang Review

1408 Poster

1408 Poster

Kalau bicara soal film horror Amerika, apa yang pertama terlintas di benak kalian? Kalau di benak saya: film-film gore dan berisi psikopat. Contohnya mudah. Setiap tahun di masa Halloween selalu beredar film baru Saw selama enam tahun terakhir. Bahkan sampai ada istilah kalau Halloween, berarti ada Saw. Beberapa tahun terakhir juga terlihat menjamurnya remake-remake film slasher dari era 1970-1980an. Sosok seperti Michael Myers, Jason Voorhees, sampai Freddie Krueger kembali muncul di era millenium dalam reboot untuk menakut-nakuti generasi baru. Tidak heran kalau saya mengasosiasikan film horror Amerika mayoritas hanya berisi pembantaian dan kesadisan semata. Yang saya lupa: Amerika juga punya salah seorang penulis novel misteri / horor terbaik dunia: Stephen King.

Sejak saya kecil dulu keluargaku (terutama kedua pamanku) selalu melahap novel dari tiga orang penulis. Kalau hukum, mereka selalu membaca novelnya John Grisham. Kalau petualangan dan sci-fi, pasti Michael Crichton. Kalau horror? Stephen King. Saking senangnya pamanku dengan Stephen King, hampir setiap novelnya dia miliki baik dalam bentuk E-Book ataupun buku asli. Walhasil walaupun saya tidak pernah membaca karyanya (pernah melihat sekilas novel The Boy Who Loved Tom Gordon – tetapi tidak tertarik melanjutkannya) nama Stephen King sudah familiar lama di benak saya. Saya juga tahu bahwa banyak karyanya yang dijadikan film tapi sayangnya tidak semuanya saya tonton. Kalaupun ada bukan yang bergenre horror seperti The Shawshank Redemption.

Dan hadirlah 1408 yang melulu disodorkan teman padaku. “Harus kamu tonton ini Nis!” katanya, berjanji bahwa ini bukan semata-mata horor biasa. Setelah beberapa bulan menunda-nunda karena proyek lainnya, saya akhirnya menyelesaikan film ini kemarin. Bagaimana pendapatku akannya?

Mike Enslin adalah seorang penulis tempat-tempat angker yang ironisnya tidak pernah percaya akan keberadaan hantu dan sebangsanya. Ketika dia diundang untuk datang ke sebuah hotel bernama Dolphin dan diwanti-wanti jangan masuk ke kamar 1408, Mike Enslin justru tambah penasaran. Mike kemudian nekat untuk menginap di kamar hotel itu walaupun Gerald Olin yang menjadi manager hotel itu sudah menyegelnya selama lebih dari 20 tahun. Kata Olin semua orang yang pernah masuk ke dalam kamar itu tidak pernah keluar hidup-hidup lagi. Semuanya mati dengan cara bunuh diri atau dengan cara-cara ‘misterius’ lainnya. Tidak ada yang bisa bertahan hidup lebih dari 60 menit di dalamnya. Akankah Mike menjadi korban berikutnya, atau kamar 1408 hanyalah sebuah tipuan lain guna menaikkan pamor hotel Dolphin?

Saya tidak habis mengerti kenapa film ini diberi rating PG-13. Wow. Badan sensor Amerika pasti ingin membuat para penonton remaja yang berusia 13 tahun jadi trauma. Tahun 2009 lalu saya banyak menonton film horror yang berkualitas. Paranormal Activity, Orphan, dan Drag Me to Hell menurut saya sangat mantap karena berbeda dengan horror-horror gore slasher flick biasanya. Akan tetapi film 1408 melebihi ketiga film itu bagiku. Beberapa reviewer Amerika sampai membandingkannya dengan salah satu maha karya Stephen King yang diadaptasi lainnya: The Shining. Percaya tidak percaya, ini adalah film horror kedua setelah The Exorcism of Emily Rose yang membuat sekujur bulu kuduk tubuhku merinding dan bercucuran keringat dingin.

Pengalaman intens langsung terasa begitu Mike masuk ke dalam ruangan 1408. Mikael Hafstrom dengan efektif membangun ketakutan penonton dengan membeberkan semua keangkeran kamar 1408. Seperti kata-kata Olin “Bukan roh jahat bersemayam di sana, tapi kamarnya sendiri yang iblis…“. Akan tetapi begitu masuk ke dalam kamar itu, John Cusacklah yang bersinar. Saya malah bingung kenapa Samuel L. Jackson namanya turut ditempel di poster film padahal perannya bisa dibilang amat sangat minim. Akting Cusack dalam film ini hampir sempurna. Dari sosok yang pede dan skeptis, kejadian demi kejadian absurd (saya tidak mau menspoilerkannya untuk kalian – kalian harus alami ketakutan itu sendiri!) yang dialaminya membuatnya sinting dan gila sedikit demi sedikit. Kepiawaian penyutradaraan Mikael, apiknya akting John Cusack, ditambah sound effect yang mencekam membuat latar yang semestinya cuma satu kamar menimbulkan kesan claustrophobic (ketakutan terperangkap dalam ruangan) yang kuat untuk penonton sekalipun. Tetapi Stephen King bukanlah seorang penulis yang hanya dikenal karena gaya horrornya. Ada beberapa bagian dalam 1408 yang memutar arah film ini ke drama. Bagian ini bisa dibilang menjadi titik-titik terlemah dari 1408 tetapi toh itu pun tidak sampai membuat filmnya jadi membosankan.

So my verdict is… watch this movie. Film ini sedikit mengendurkan tempo di sepertiga akhir yang membuat saya terpaksa menilainya sedikit lebih rendah dari yang saya inginkan – tetapi 2/3 awal film ini adalah momen-momen paling menegangkan yang pernah saya alami selama menonton film.

Note: Ada dua ending untuk film ini. Original ending yang ditayangkan di bioskop adalah yang happy ending dan dikritik karena tidak sesuai dengan jiwa film ini (tadinya dimasukkan karena takut ending yang disiapkan sang sutradara terlalu menganggu). Ending alternatif film ini – walaupun tidak seratus persen happy – justru lebih mengena dan sesuai dengan tema keseluruhan film.

Note 2: Lagu We’ve Only Just Begun yang diputar di film ini dinyanyikan oleh salah satu grup penyanyi lawas Carpenters, yang vokalisnya (Karen Carpenter) meninggal dengan cara yang tidak wajar akibat cara makan yang tidak teratur. Lagu ini juga sering dipakai untuk pesta pernikahan.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Mikael Hafstrom
Cast: John Cusack, Samuel L. Jackson
Running Time: 106 Minutes

Comments (3)

Tags: , , ,

Ougon Kishi Garo (Garo: Savior in the Dark)

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

Garo Opening Title Card

Garo Opening Title Card

(Review Ditulis Di Tahun 2007)

Where there is light, shadow lurk and fear reigns… yet by the blade of Knights, mankind was given hope

Beware the Horror

Bagi yang tidak mengerti mengenai apa arti kata tokusatsu mungkin akan mengerti Kamen Rider atau Ultraman. Tepat. Garo adalah sebuah serial tokusatsu; itu lo serial di mana karakter utamanya berubah menjadi jagoan pembela kebenaran yang membela pihak lemah tertindas. Kebanyakan orang hanya mengenal kata tokusatsu ini sebatas keluarga Kamen Rider dan Ultraman (dan ironisnya dicap sebagai tontonan anak kecil semata). Hal itu sangat disayangkan; karena komunitas tokusatsu terus berkembang di Jepang dan tidak lagi terbatas untuk anak kecil semata.

Ougon Kishi Garo atau Garo Savior in the Dark sebagai salah satu tontonan tokusatsu yang didesign untuk orang dewasa. Tidak percaya? Coba saja tonton film yang banyak menyuguhkan aksi kekerasan (potong kepala contohnya) bahkan terkadang sampai adegan telanjang bulat! Karena banyaknya adegan yang tidak layak ditonton anak kecil inilah Garo ditayangkan pada malam hari. Cobalah menonton serial ini, dan saya yakin kalau sudut pandang anda bahwa tokusatsu hanya untuk anak kecil akan berubah.

Alkisah di dalam dimensi dunia Garo, ada monster-monster yang mengincar hidup manusia. Monster itu dinamakan Horror. Ironisnya adalah para Horror ini tercipta oleh niat jahat manusia seperti dengki, iri, dan segala perasaan negatif lainnya itu. Sebuah kiasan yang menarik yang menunjukkan bahwa pada akhirnya yang mengkonsumsi manusia jugalah sisi negatif mereka.

The Legend of Makai Knight

Apakah manusia sudah kehilangan harapan dan hanya menunggu diri mereka dimangsa horror satu demi satu? Untungnya tidak. Masih ada harapan bagi umat manusia yang hadir dalam sosok Makai Knight. Di setiap distrik daerah selalu ada satu orang yang terpilih menjadi sosok Makai Knight; para knight inilah yang memiliki kemampuan untuk mengalahkan para horror dan menghabisi mereka. Makai Knight inilah yang menjadi harapan dari para umat manusia.

Di antara deretan para Makai Knight sosok terkuat mereka mendapatkan julukan Garo dengan baju jubah emas yang bercahaya terang. Sosok Garo inilah yang dilihat oleh seorang gadis muda bernama Kaoru dahulu. Kaoru ingat bahwa di masa kecil dahulu horrors menyerangnya, namun ia beruntung karena satu sosok ksatria emas ini berhasil mengalahkannya.

Apa yang dilihat Kaoru dahulu kini tinggal kenangan belaka, tersisa dalam sebuah buku cerita yang dikarang oleh ayahnya (mengisahkan mengenai cerita perjuangan sang ksatria emas). Yang membuat Kaoru bingung sekaligus gundah adalah karena halaman terakhir dari buku cerita ayahnya dibiarkan kosong. Apa sebenarnya yang dipikirkan ayahnya? Toh, ketimbang memikirkan hal seperti itu Kaoru lebih bingung tentang bagaimana dia harus mencari penghidupan dan mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Maklum, hidup sebagai pelukis seniman berarti pendapatan Kaoru tidak tetap.

Ironis bagi Kaoru, tepat ketika dia hendak menggelar pameran lukisan pertamanya ia justru diserang oleh Horror lagi. Beruntung bagi Kaoru kembali seorang ksatria emas menampakkan diri di hadapannya. Kaoru tercengang melihat bagaimana tangguhnya ksatria emas itu menghabisi Horror yang ada. Lebih tercengang lagi ketika sosok itu nantinya berubah menjadi pria seusianya yang nanti ia kenal dengan nama Saejima Kouga.

Saejima Kouga adalah sosok pria yang dingin dan tertutup. Seumur hidupnya ia hanya mendedikasikan hidupnya untuk memburu Horror dan berlatih terus untuk menjaga fisiknya. Singkatnya, dia adalah kebalikan dari Kaoru yang jenaka. Kendati dia orang yang keras, hati dari Saejima Kouga tulus. Ia melihat Kaoru yang terkena cipratan darah horror pertama yang ia habisi. Peraturan mengharuskan bahwa ia membunuh Kaoru karena manusia yang terkontaminasi darah horror tidak boleh dibiarkan hidup.

Toh pada akhirnya Kouga tidak tega dan membiarkan Kaoru hidup. Alasannya sederhana. Ia menganggap Kaoru adalah umpan untuk menarik perhatian para horror lainnya. Bau manusia yang telah terkontaminasi memang akan menarik perhatian para horror. Tentu saja ia menyimpan rahasia ini dari Kaoru.

Nah, karena Kouga tidak mau dia diserang oleh Horror maka ia mengajak Kaoru ke dalam rumahnya. Dari sini dimulailah petualangan Kaoru untuk mengenal lebih jauh mengenai Kouga. Kouga mungkin bisa membasmi kegelapan yang mengancam orang lain, tetapi jelaslah kehadiran Kaoru di sini berguna untuk menerangi gelap yang ada di hatinya.

The World of Garo

Seperti yang saya katakan tadi. Garo bukanlah tipe cerita Kamen Rider atau Ultraman biasanya. Mereka yang mengenal tokusatsu klasik macam Lionmaru mungkin akan lebih membandingkan kedua serial ini mengingat Garo juga mengambil bentuk seekor serigala / harimau ketimbang serangga atau alien.

Di awalnya saya merasa Garo sangat refreshing setelah saya jenuh menonton cerita Kamen Rider dan Ultraman. Tetapi menjelang episode belasan saya mulai lelah mengikuti Garo. Apa pasal? Tendensi Garo untuk mengulang-ulang ceritanya membuatnya polanya terasa membosankan. Polanya sederhana: muncul seorang horror baru dengan kemampuan khusus – Horror ini mengincar Kaoru – Kouga datang menyelamatkan dia – ulangi rentetan cerita ini di minggu mendatang dengan pola variasi yang sedikit berbeda.

Seakan itu tidak cukup, Garo juga memiliki adegan-adegan aksi yang sangat buruk. Hal ini sebenarnya sangat saya sayangkan karena koreografi pertarungan dalam Garo sangat baik. Saya sangat menikmati setiap pertarungan yang dilakukan oleh Saejima Kouga, tetapi saya memilih menutup mata untuk melihat ketika ia mulai berubah menjadi Garo. Apa pasal? Kendati adegan fightingnya sebenarnya memiliki koreografi yang luar biasa – eksekusinya sangat buruk karena kekurangan budget. Saya hampir tidak pernah melihat animasi pertarungan yang lebih buruk dari ini. Inilah kelemahan besar Garo; terlalu banyak mengandalkan efek 3D dalam pertarungannya. Tidak semua adegan yang menggunakan efek 3D digarap dengan buruk, setidaknya episode-episode awal masih terlihat apik – kendati kualitas ini tidak bisa terus dipertahankan pada episode-episode berikutnya.

Karakter yang dibangun dengan baik pada pertengahan cerita sekali lagi menjadi makin buruk menjelang pengakhirannya. Peran Kaoru utamanya makin terreduksi menjadi tukang jerit-jerit. Saya merasa kecewa. Karakter-karakter lain kendati tidak separah Kaoru tidak bisa mengembangkan diri mereka lebih jauh lagi karena terbatas oleh skrip yang ada.

Apakah Garo memang hanya memiliki sisi negatif saja? Salah. Seperti yang saya katakan, adegan pertarungan Garo selama bentuk manusia adalah salah satu bentuk pertarungan terbaik yang pernah saya tonton, dan itu bukan satu-satunya kelebihan dari serial ini. Musik tema utama Garo yang diubah menjadi bentuk orkestra menjadi salah satu musik terbaik yang terus saya pasang di computer saya bahkan beberapa minggu setelah saya menyelesaikan serial ini. Ini adalah salah satu musik terheroik tokusatsu yang pernah saya dengar.

Saya juga memuji bagaimana Garo bisa menciptakan realm baru yang mengambil banyak unsur mitologi sana-sini. Contohnya adalah watchdog bagian timur yang menjadi penunjuk jalan bagi Kouga adalah referensi dari Cerberus, sang anjing kepala tiga yang menjadi penjaga pintu neraka. Saya berharap kalau Garo memang dibuat season duanya, ia akan mengeksplorasi lebih jauh mengenai realm yang telah diciptakannya ini. Buat mereka yang menyukai tokusatsu dan sudah bosan dengan Kamen Rider atau Ultraman, silahkan coba sensasi baru bersama Garo!

Score: 7.0

TV Details
Director: Keita Amemiya
Cast:

Hiroki Konishi (Kouga Saejima / Golden Fang Garo)
Mika Hiiji (Kaoru Mitsuki)
Rei Fujita (Rei Suzumura / Silver Fang Zero)
Yukijirou Hotaru (Gonza)

Genre: Drama
Year: 2005 (25 Episodes, 2 OVA, 1 Special)
Running Time: 25 Minutes (50 Minutes for OVA)

Comments (0)

Tags: , , , ,

Monster House

Posted on 05 May 2009 by Si Tukang Review

Monster House Poster

Monster House Poster

Makin lama rasanya makin bervariasi saja tontonan film animasi. Setelah ada film animasi dengan humor yang lebih dewasa seperti Hoodwinked, sekarang ada Monster House: sebuah film animasi yang sebenarnya lebih layak bila digarap dengan metode ala film horror klasik. Lo? Ya, Monster House bisa dibilang sebagai film animasi yang paling ‘menakutkan’ yang pernah saya tonton (kendati kalian jangan menyamakan kadar menakutkan dalam film ini dengan film Ju-On atau The Ring atau segala macam film horror Jepang lainnya).

DJ mengira dia sedang menjalani masa pubertasnya. Masa pubertas ini berarti dia harus bertengkar dengan orang tuanya yang terus mengira dia adalah anak kecil, dia bahkan sudah tidak berniat lagi melakukan trick or treat. Tetapi yang paling membuatnya bingung adalah ia mulai membayangkan hal-hal yang aneh. Masakan dia melihat bahwa rumah seberang rumahnya hidup? Oke, tetangganya si Necker-apapun itu memang menyebalkan. Tetapi masakan orang tua menyeramkan itu bisa membuat rumahnya hidup? Engga mungkin kan? Tidak hanya sang pengasuh yang menertawakannya tetapi juga Chowder. Tetapi segalanya itu berubah begitu DJ melihat kalau rumah itu kemudian bergerak dan berusaha memangsa apapun yang melintas di dekatnya. Yang lebih gawat lagi sekarang pemilik rumah itu mati karena ulah DJ. Jangan-jangan gara-gara itu arwahnya menjadi penasaran lantas merasuki rumahnya? Atau mungkinkah ada suatu hal lain? Suatu rahasia terpendam yang lebih mengerikan sehingga menjadikan rumah ini sebagai sebuah rumah yang ganas? Atau… mungkinkah sebenarnya segala gerakan rumah itu hanyalah angan-angan dari DJ yang ketakutan saja? Anak-anak suka berimajinasi bukan?

Monster House seperti yang saya katakan tadi bukanlah film yang sepenuhnya cocok buat anak-anak kendati diperankan oleh anak-anak dan memiliki format film animasi. Bahkan adik saya yang berusia 5 tahun menangis ketakutan gara-gara menonton film ini. Film ini banyak menampilkan setting suram semacam Ghostbuster atau Evil Dead dulu. Bagi yang sudah pernah membaca Goosebumps atau The Nightmare Roomnya RL Stine malahan akan menemukan banyak kemiripan dengan film ini. Monster House sendiri memiliki tampilan animasi yang cukup menarik (tidak bisa dibilang menawan dan cerah sih, tetapi untuk membangkitkan suasana suram dan horror film ini sudah berhasil). Pengisi suaranya juga bisa dibilang telah berusaha dengan baik dalam mengisi suaranya. Tetapi masalahnya justru terletak pada cara penyutradaraan Gil Kenan. Saya menilai bahwa dia masih kurang berhasil menghidupkan adegan-adegan yang seharusnya bisa menjadi adegan kunci yang menyulut rasa haru atau simpati penonton.

Lebih celakanya lagi, Kenan juga membuat blunder fatal di bagian akhir film (anda akan menyadarinya begitu menontonnya). Hasilnya, film Monster House ini menjadi tontonan serba tanggung. Kalau mau ditonton bersama anak-anak, maka mereka akan merasa bahwa film ini terlalu menakutkan (apalagi untuk ukuran sebuah film yang diedarkan sebelum masa Halloween). Di lain pihak, pemuda seumuran saya akan merasa bahwa Monster House terlalu absurd dan terlalu bertele-tele (dan tidak logis) dalam menjelaskan bagaimana sang rumah pada awalnya berhantu.

Nampaknya ini bukanlah sebuah awal yang baik bagi Steven Spielberg dalam menjadi produser sebuah film animasi. Mungkin perlu turun tangan sendiri Mr. Spielberg?

Score: 6.0

Movie Details
Director: Gil Kenan
Cast: Michael Musso, Sam Lerner, Spencer Locke, Maggie Gyllenhaal
Running Time: 109 Minutes

Comments (2)

Tags: ,

Dead End

Posted on 17 February 2009 by Si Tukang Review

Dead End Poster

Dead End Poster

Dead End adalah sebuah contoh nyata bahwa film horror indie berbudget rendah terkadang bisa lebih efektif menakuti, juga lebih banyak memberikan rasa penasaran ketimbang film horror Holywood yang berbudget tinggi tetapi kebanyakan mengandalkan efek, rasa kejut kaget-kagetan, dan darah gore yang banyak dan aksi bantai-bantaian. Dead End yang disutradarai oleh Jean-Baptiste Andrea ini semula saya tonton dengan nada pesimistis. Pada dasarnya, saya bukan seorang yang gemar dengan film horror maupun film thriller yang meningkatkan detak jantung saya tidak beraturan. Nyatanya Dead End tidak hanya berisi sekedar adegan seram semata, tetapi juga pandai menyisipkan komedi-komedi serta misteri yang unik di dalamnya.

Keluarga Harrington menyangka kalau malam natal ini sama seperti biasanya. Seharusnya sih begitu. Tetapi ketika sang ayah, Frank Harrington mengambil jalan memutar untuk sampai ke rumah mertuanya, segalanya menjadi kacau. Mereka mendapat petunjuk menuju sebuah tempat bernama Marcott. Tetapi anehnya, kota bernama Marcott ini tidak tercantum di dalam peta manapun. Petunjuk jalan terus menunjuk ke Marcott tanpa ada ujungnya. Lebih ngeri lagi ketika mereka menemui seorang gadis misterius berbaju putih. Kemunculan gadis ini menyebabkan satu demi satu keluarga Harrington menghilang. Mereka seakan disekap di dalam sebuah mobil hitam misterius yang berujung pada kematian dari orang yang tersekap itu. Misteri apa sebenarnya yang ada di balik hutan itu? Apa makna dari tanda Marcott yang terus ditemui sepanjang jalan? Bisakah keluarga Harrington sampai ke tujuan mereka dengan selamat?

Saya masih kagum dengan kemampuan Jean dalam membangun tensi penonton. Jelas sekali kalau film ini hanya memiliki tidak lebih dari 5 latar dalam film (bahkan hanya ada 2 latar yang dipakai secara ekstensif, di dalam mobil dan di luar mobil), tetapi suasana tegang dan seram bisa digarap dengan efektif hanya dengan kedua latar tersebut. Skripnya memang kadang kedodoran di saat-saat tertentu, seperti saat sang ayah mulai menceritakan mengenai sosok hantu yang berkeliaran di daerah itu (sangat klise bukan?). Tetapi suasana Dead End secara keseluruhan memang bukan diposisikan sebagai film yang akan membuat kita terkaget-kaget dengan hantu muncul mendadak, tetapi lebih seperti sebuah film teror psikologis.

Perubahan karakter dalam film ini juga tergarap dengan baik. Masing-masing karakter makin stress dan makin menyalahkan. Mulailah borok dan rahasia kelam keluarga (yang nampak normal) terungkap. Beberapa karakter dalam cerita ini juga tidak bisa menahan guncangan mental dan menjadi makin sinting seiring berjalannya cerita. Penampilan paling memuaskan mungkin saya hadiahkan kepada Mick Cain yang cukup lucu dalam memberikan one-line jokenya (soal alien itu benar-benar membuat saya terbahak-bahak). Alexandra Holden yang sebelum ini terkenal sebagai pacar Ross di Friends juga efektif sebagai eye candy dan tukang menjerit dalam film ini (toh, makin ke belakang karakternya juga makin klise). Pasangan Ray Wise dan Lin Shaye juga cukup padu sebagai pasangan. Sayang saja kalau penampilan Amber Smith sebagai sang Lady In White juga tidak cukup seram, itupun dengan sebuah penjelasan kenapa. Suara dalam film ini juga bisa terbilang minimalis tetapi (sekali lagi) efektif dipakai untuk meningkatkan adrenalin penonton.

Akhir kata, film ini adalah sebuah film horror kelas B yang mungkin tak lolos ke dalam theater. Tetapi kalau anda memberinya kesempatan dan menontonnya sendiri (menonton beramai-ramai tak pernah seru untuk film horror bukan?) mungkin sesekali film ini akan membuat bulu kuduk anda merinding. Dan kalau ada yang sudah nonton… tidakkah tertarik untuk mendiskusikan makna endingnya yang cukup twisted itu? Siapa bilang film indie itu tidak layak tonton?

Score: 7.5

Movie Details

Director: Jean-Baptiste Andrea
Cast: Ray Wise, Lin Shaye, Alexandra Holden
Running Time: 85 Minutes

Dead End Trailer

Comments (3)

Advertise Here
Advertise Here