
Final Fantasy VII Cover
Ada ratusan game RPG yang hadir sebelumnya, dan ratusan game RPG yang hadir sesudahnya tapi Final Fantasy VII (FFVII) hingga hari ini masih bertahan menjadi salah satu game RPG favorit saya. Sulit dipercaya bahwa 12 tahun semenjak dirilisnya dulu, game buatan Squaresoft ini masih menjadi primadona di kalangan para gamer, dan bisa dibilang merupakan Final Fantasy yang tersukses.
FFVII mengikuti cerita dari seorang mantan anggota SOLDIER bernama Cloud Strife. Setelah hari-harinya di kesatuan elit tersebut usai, Cloud bekerja sebagai tentara bayaran untuk pemberontak Avalanche. Ironisnya, Avalanche justru menciptakan keonaran dan melawan Shin-Ra; korporasi raksasa yang memiliki SOLDIER. Apa yang awalnya bermula dari pemberontakan ini nantinya berkembang lebih lanjut menjadi perjalanan menyelamatkan seluruh dunia. Cloud kemudian menemukan koneksi antara Shin-Ra dengan Sephiroth, seorang SOLDIER legendaris yang menjadi pahlawan serta pujaan banyak orang sebelum menjadi sinting. Apa yang tidak ia – maupun para gamer – sadari, adalah keterkaitan Sephiroth dengan masa lalunya yang terpendam.
Ketika dirilis pada tahun 1997 dulu, FFVII langsung memukau orang dengan grafisnya. Grafis menggabungkan FMV dengan gaya render karakter yang realistik sementara menggunakan gaya render semi-deformed untuk permainannya. FFVII juga merupakan Final Fantasy di mana Yoshitaka Amano tidak berperan sebagai ilustrator utama. Sebaliknya, tugas ini diemban oleh artis muda Tetsuya Nomura. Hasilnya adalah karakter-karakter seperti Cloud, Sephiroth, Tifa, Aeris, yang namanya dikenal oleh mayoritas gamer. Di luar karakternya yang begitu memorable, FFVII juga dikenal dengan design lokasi yang begitu berbeda dan unik. Siapa bisa lupa keindahan Midgar dengan sektor-sektor yang begitu berbeda, mulai dari kalangan mewahnya yang aristokrat, kehidupan malamnya yang meriah, kehidupan gereja yang tenang, sampai kehidupan kumuhnya yang penuh penderitaan? Atau siapa bisa lupa betapa surealnya nuansa di Cosmo Canyon? Orientalnya Wutai? Misteriusnya Nibelheim? Dibandingkan dengan kota dalam game RPG lain yang pada era tersebut serupa tapi tidak sama, design dalam FFVII langsung membekas di hati para gamer. Tidak hanya memukau pada latar belakang, karakternya, dan FMVnya, FFVII juga mengesankan di battlenya. Bukan cuma variasi serangan dan magic, game ini juga memanjakan mata dengan peragaan Summon dan Limit Break yang berbeda-beda.
Selain grafisnya yang memukau, OST dalam Final Fantasy VII juga diakui banyak gamer sebagai kumpulan musik berkelas. Nobuo Uematsu yang di masa itu sudah identik dengan Final Fantasy menunjukkan kelasnya dan menggunakan kapasitas CD Playstation. Musik-musik FFVII memiliki variasi yang lebih kaya ketimbang kebanyakan Final Fantasy sebelumnya. Toh walau menghadirkan score seperti One Winged Angel, Aerith’s Theme, Tifa’s Theme, dan banyak lagi; saya pribadi masih menganggap kalau deretan soundtrack di FFVII kalah tipis dengan dua Final Fantasy klasik; Final Fantasy VI dan IV.
Selesai membahas grafis dan musiknya, kita beranjak ke gameplaynya. Final Fantasy VII memperkenalkan kepada kita sistem Materia – sebuah sistem yang bersangkutan dengan cerita. Materia berfungsi untuk mengkustomisasi karakter kita. Ada berbagai macam Materia, mulai dari Magic, Summon, Support, dan Command yang bisa dikombinasikan para gamer. Tentunya tidak bisa gamer sembarangan memasang semua materia yang mereka kehendaki. Materia yang bisa dipakai oleh seorang karakter tergantung dari slot materia dari senjata dan armor yang ia equip. Misalnya, senjata Cloud memiliki dua slot materia, sementara armornya memiliki tiga slot materia. Total materia yang bisa dipakai Cloud adalah lima. Seperti para karakter, Materia juga bisa dievolusikan sampai pada level Master apabila mendapat experience pointnya sendiri. Sistem Materia ini mendapat sambutan beragam. Ada yang memuji sistem ini karena simpel dan mudah dipelajari, tetapi ada juga yang mencerca karena menjadikan semua karakter setali tiga uang. Kendati sistem Materia memang membuat tiap karakter menjadi mirip satu sama lain, Squaresoft memasukkan sistem Limit Break untuk membedakan mereka. Limit Break adalah gerakan spesial yang bisa dieksekusi oleh seorang karakter apabila gaugenya penuh. Kriteria memenuhi gauge itu? Diserang musuh.
Tidak peduli apakah kamu suka atau tidak dengannya, tidak bisa dipungkiri kalau FFVII telah menyemenkan statusnya sebagai salah satu – kalau bukan yang terpopuler sepanjang masa. Hingga kini, kalau saya bicara soal game RPG di forum game, banyak orang yang tidak tahu apa itu Suikoden, Wild Arms, bahkan beberapa game Final Fantasy sendiri, tetapi bila saya menanyakan soal Final Fantasy VII mereka bisa dengan cepat menjawab: “Ah… si jabrik berambut kuning bernama Cloud itu ya?“. Kalau kalian – entah apapun alasannya – belum memainkan game ini dan enggan memainkannya karena merasa dia sudah berumur 12 tahun, saya rasa kalian akan menyesal. Ini adalah contoh sempurna dari sebuah game yang makin menunjukkan status legendarisnya seiring dengan pertambahan usianya.
Final Verdict:
Gameplay: 8.5
Dunia RPG yang sukses menggabungkan teknologi dengan pedang. Walaupun bukan sistem battle RPG terinovatif, gameplaynya yang relatif sederhana membuat ia gampang dimainkan siapa saja.
Graphic / Sound: 10
Design karakter dan dunia yang memukau, FMV yang menakjubkan, variasi OST memanjakan telinga. Tidak ada kata lain selain sempurna.
Play Time: 10
Cerita utamanya sendiri memakan waktu 40 – 50 jam untuk dimainkan. Tetapi amat sangat mudah mencurahkan lebih banyak lagi waktu menjelajahi dunia FFVII, menaikkan level, mencari rahasia, menyelesaikan subquest, sampai melawan para boss rahasia yang tersedia.
Overall: 10
Game Details
Developer: Squaresoft
Publisher: Sony
Genre: RPG







