Tag Archive | "Hironobu Sakaguchi"

Tags: , , , ,

Final Fantasy VII (PS)

Posted on 23 April 2009 by Si Tukang Review

Final Fantasy VII Cover

Final Fantasy VII Cover

Ada ratusan game RPG yang hadir sebelumnya, dan ratusan game RPG yang hadir sesudahnya tapi Final Fantasy VII (FFVII) hingga hari ini masih bertahan menjadi salah satu game RPG favorit saya. Sulit dipercaya bahwa 12 tahun semenjak dirilisnya dulu, game buatan Squaresoft ini masih menjadi primadona di kalangan para gamer, dan bisa dibilang merupakan Final Fantasy yang tersukses.

FFVII mengikuti cerita dari seorang mantan anggota SOLDIER bernama Cloud Strife. Setelah hari-harinya di kesatuan elit tersebut usai, Cloud bekerja sebagai tentara bayaran untuk pemberontak Avalanche. Ironisnya, Avalanche justru menciptakan keonaran dan melawan Shin-Ra; korporasi raksasa yang memiliki SOLDIER. Apa yang awalnya bermula dari pemberontakan ini nantinya berkembang lebih lanjut menjadi perjalanan menyelamatkan seluruh dunia. Cloud kemudian menemukan koneksi antara Shin-Ra dengan Sephiroth, seorang SOLDIER legendaris yang menjadi pahlawan serta pujaan banyak orang sebelum menjadi sinting. Apa yang tidak ia – maupun para gamer – sadari, adalah keterkaitan Sephiroth dengan masa lalunya yang terpendam.

Ketika dirilis pada tahun 1997 dulu, FFVII langsung memukau orang dengan grafisnya. Grafis menggabungkan FMV dengan gaya render karakter yang realistik sementara menggunakan gaya render semi-deformed untuk permainannya. FFVII juga merupakan Final Fantasy di mana Yoshitaka Amano tidak berperan sebagai ilustrator utama. Sebaliknya, tugas ini diemban oleh artis muda Tetsuya Nomura. Hasilnya adalah karakter-karakter seperti Cloud, Sephiroth, Tifa, Aeris, yang namanya dikenal oleh mayoritas gamer. Di luar karakternya yang begitu memorable, FFVII juga dikenal dengan design lokasi yang begitu berbeda dan unik. Siapa bisa lupa keindahan Midgar dengan sektor-sektor yang begitu berbeda, mulai dari kalangan mewahnya yang aristokrat, kehidupan malamnya yang meriah, kehidupan gereja yang tenang, sampai kehidupan kumuhnya yang penuh penderitaan? Atau siapa bisa lupa betapa surealnya nuansa di Cosmo Canyon? Orientalnya Wutai? Misteriusnya Nibelheim? Dibandingkan dengan kota dalam game RPG lain yang pada era tersebut serupa tapi tidak sama, design dalam FFVII langsung membekas di hati para gamer. Tidak hanya memukau pada latar belakang, karakternya, dan FMVnya, FFVII juga mengesankan di battlenya. Bukan cuma variasi serangan dan magic, game ini juga memanjakan mata dengan peragaan Summon dan Limit Break yang berbeda-beda.

Selain grafisnya yang memukau, OST dalam Final Fantasy VII juga diakui banyak gamer sebagai kumpulan musik berkelas. Nobuo Uematsu yang di masa itu sudah identik dengan Final Fantasy menunjukkan kelasnya dan menggunakan kapasitas CD Playstation. Musik-musik FFVII memiliki variasi yang lebih kaya ketimbang kebanyakan Final Fantasy sebelumnya. Toh walau menghadirkan score seperti One Winged Angel, Aerith’s Theme, Tifa’s Theme, dan banyak lagi; saya pribadi masih menganggap kalau deretan soundtrack di FFVII kalah tipis dengan dua Final Fantasy klasik; Final Fantasy VI dan IV.

Selesai membahas grafis dan musiknya, kita beranjak ke gameplaynya. Final Fantasy VII memperkenalkan kepada kita sistem Materia – sebuah sistem yang bersangkutan dengan cerita. Materia berfungsi untuk mengkustomisasi karakter kita. Ada berbagai macam Materia, mulai dari Magic, Summon, Support, dan Command yang bisa dikombinasikan para gamer. Tentunya tidak bisa gamer sembarangan memasang semua materia yang mereka kehendaki. Materia yang bisa dipakai oleh seorang karakter tergantung dari slot materia dari senjata dan armor yang ia equip. Misalnya, senjata Cloud memiliki dua slot materia, sementara armornya memiliki tiga slot materia. Total materia yang bisa dipakai Cloud adalah lima. Seperti para karakter, Materia juga bisa dievolusikan sampai pada level Master apabila mendapat experience pointnya sendiri. Sistem Materia ini mendapat sambutan beragam. Ada yang memuji sistem ini karena simpel dan mudah dipelajari, tetapi ada juga yang mencerca karena menjadikan semua karakter setali tiga uang. Kendati sistem Materia memang membuat tiap karakter menjadi mirip satu sama lain, Squaresoft memasukkan sistem Limit Break untuk membedakan mereka. Limit Break adalah gerakan spesial yang bisa dieksekusi oleh seorang karakter apabila gaugenya penuh. Kriteria memenuhi gauge itu? Diserang musuh.

Tidak peduli apakah kamu suka atau tidak dengannya, tidak bisa dipungkiri kalau FFVII telah menyemenkan statusnya sebagai salah satu – kalau bukan yang terpopuler sepanjang masa. Hingga kini, kalau saya bicara soal game RPG di forum game, banyak orang yang tidak tahu apa itu Suikoden, Wild Arms, bahkan beberapa game Final Fantasy sendiri, tetapi bila saya menanyakan soal Final Fantasy VII mereka bisa dengan cepat menjawab: “Ah… si jabrik berambut kuning bernama Cloud itu ya?“. Kalau kalian – entah apapun alasannya – belum memainkan game ini dan enggan memainkannya karena merasa dia sudah berumur 12 tahun, saya rasa kalian akan menyesal. Ini adalah contoh sempurna dari sebuah game yang makin menunjukkan status legendarisnya seiring dengan pertambahan usianya.

Final Verdict:

Gameplay: 8.5
Dunia RPG yang sukses menggabungkan teknologi dengan pedang. Walaupun bukan sistem battle RPG terinovatif, gameplaynya yang relatif sederhana membuat ia gampang dimainkan siapa saja.

Graphic / Sound: 10
Design karakter dan dunia yang memukau, FMV yang menakjubkan, variasi OST memanjakan telinga. Tidak ada kata lain selain sempurna.

Play Time: 10
Cerita utamanya sendiri memakan waktu 40 – 50 jam untuk dimainkan. Tetapi amat sangat mudah mencurahkan lebih banyak lagi waktu menjelajahi dunia FFVII, menaikkan level, mencari rahasia, menyelesaikan subquest, sampai melawan para boss rahasia yang tersedia.

Overall: 10

Game Details
Developer: Squaresoft
Publisher: Sony
Genre: RPG

Comments (5)

Tags: , ,

Away Shuffle Dungeon

Posted on 10 January 2009 by Si Tukang Review

Away Swap Dungeon Cover

Away Swap Dungeon Cover

- kolaborasi kreator Final Fantasy dan Sonic

Publisher: Majesco
Developer: Mistwalker & Artoon
Genre: Action RPG

Dua studio: Artoon dan Mistwalker berkolaborasi untuk membuat sebuah game Action RPG unik bernama Away Shuffle Dungeon (Away). Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa memangnya Artoon dan Mistwalker? Mereka kok developer yang tidak terkenal? Keduanya memang developer baru, tetapi memiliki wajah lama dunia gaming. Artoon didukung oleh Naoto Oshima (orang yang mendesign Sonic si landak biru) sementara Mistwalker didirikan oleh Hironobu Sakaguchi (ayah serial Final Fantasy). Kolaborasi keduanya menjanjikan bahwa  Away akan bernuansa dan bergameplay ala Legend of Zelda.

Alkisah di sebuah desa kecil bernama Webb Village, para penduduk selalu ketakutan akan sebuah fenomena alam aneh bernama Away. Fenomena ini memang menakutkan; tiba-tiba orang bisa lenyap tanpa jejak begitu saja! Anda adalah Sword, seorang yang suatu saat saja muncul di Webb Village tanpa ingatan yang jelas akan masa lalumu. Baru Sword ingin beradaptasi dengan kehidupan di Webb Village (dan jatuh cinta pada seorang gadis), mendadak saja sebuah cahaya putih melingkupi seluruh desa. Ketika cahaya putih itu lenyap Sword tinggal sendiri di desa itu; semua orang lain sudah lenyap!

Sword makin bingung karena ketika ia menemukan terompet Rayre (sang kepala desa), ia membuka portal menuju dunia lain. Di sana Sword berhasil menolong Rayre. Rayre berpendapat bahwa asalkan Sword bisa menemukan benda berharga dari penduduk lain, ia mungkin bisa membuka portal ke sana dan menolong mereka. Dimulailah perjalanan Sword menyelamatkan penduduk desa kecil ini.

Alasan kenapa game ini mendapat tajuk Shuffle Dungeon adalah karena sistem dungeon-nya yang inovatif. Dungeon dalam game ini dibagi dalam dua layar DS. Salah satu layar DS (bisa atas bisa juga bawah) akan menunjukkan timer yang melakukan penghitungan mundur sampai nol. Setiap kali timer mencapai nol, layar tersebut akan bergerak (karena itu diberi nama: swap) dan menampilkan design dungeon yang baru. Kamu harus tangkas bergerak ke atas dan bawah layar karena Sword akan kehilangan nyawanya setiap kali ia terlambat berganti layar. Karena sistem ganti layar ini permainan di Away menjadi sangat intense (perhitungan mundur rata-rata hanya sekitar 5 – 10 detik, bahkan beberapa dungeon menetapkan waktu 3 detik untuk hitung mundur!).

Sayangnya, selain dari sistem dungeon yang cukup orisinil, Away tidak menawarkan inovasi lain. Pertarungan melawan para monster terasa sederhana dengan mengandalkan tebasan-tebasan semata. Para boss yang ditampilkan dalam arena 3D juga terasa monoton untuk dilawan (malahan sekilas lalu tampilan dan pertarungan melawan boss mengingatkan saya pada game Sonic Rush).

Konsep feng shui dalam game ini sebenarnya memiliki potensi – tetapi tak tergarap secara maksimal. Setelah Sword menyelamatkan beberapa penduduk desa tertentu, mereka akan membuka toko mereka kembali. Nah, di mana mereka akan membuka toko kembali menjadi hak yang bisa kamu putuskan. Konon tiap lokasi memiliki keunggulannya sendiri; memilih di lokasi A misalnya akan menjanjikan harga barang yang lebih murah sementara memilih di lokasi B membuat toko menjual barang yang lebih variatif. Toh, ketika saya mencoba mengganti lokasi toko-toko, perubahan yang terjadi tidak terasa signifikan dalam mempengaruhi permainan.

Grafis Away dibalut dalam warna-warna cerah cel shading sehingga bisa memanjakan mata (terutama bagi para gamer muda); memang tidak sebaik Legend of Zelda: Phantom Hourglass tetapi juga tidak buruk. Tiap karakter juga memiliki kepribadian dan sifat mereka sendiri-sendiri yang membuat anda tertarik mengikuti sepak terjang mereka lebih lanjut.

Pada akhirnya, Away termasuk game yang bisa cepat diselesaikan. Saya menamatkan game ini di bawah waktu 15 jam, dan para gamer yang terbiasa akan game bertipe serupa mungkin bisa menyelesaikannya di bawah 10 jam. Game ini memang tidak buruk, tetapi mengingat tim yang sama memberi kita salah satu dari maskot dan seri RPG terkenal sepanjang masa, ia tetap hadir di bawah ekspektasi.

Final Verdict:

Gameplay: 5
Kendati sistem dungeon-nya inovatif, tidak ada tambahan inovasi lain yang dihadirkan oleh Away kepada kita. Sistem magic-nya yang menggunakan fupong malah saya rasa sangat kaku.

Graphic / Sound: 7
Grafis cel shading dalam Away walau terlihat ketinggalan jaman dan kasar, tetap memiliki pesonanya sendiri. Pun begitu dengan musik dalam game ini yang cukup variatif. Sayang design dungeonnya semuanya ‘serupa tapi tak sama’

Play Time: 6.5
Singkat dan terlupakan. Setelah menyelesaikan game ini, saya benar-benar tidak bisa menemukan alasan untuk mengulangi memainkannya lagi.

Overall: 6.2

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here