Tag Archive | "Heroes"

Tags: , , , ,

I Love You, Beth Cooper

Posted on 15 January 2010 by Si Tukang Review

I Love You, Beth Cooper Poster

I Love You, Beth Cooper Poster

Akhir-akhir ini semakin banyak saja film yang mengangkat kaum nerd sebagai jagoan utamanya maupun film tentang pendewasaan diri. I Love You, Beth Cooper yang merupakan gabungan dua genre di atas pun mengikuti jejak serupa. Ini adalah cerita mengenai seorang nerd jenius yang jatuh cinta pada gadis tercantik di sekolahnya. Lantas apa yang membedakannya dengan film-film lain yang sejenis? Karena film ini disadur oleh Larry Doyle yang adalah salah satu mantan penulis skenario serial TV The Simpsons, dan juga karena film ini disutradarai Chris Colombus yang sukses dengan film-film drama keluarga seperti Mrs Doubtfire, Home Alone, dan dua film pertama Harry Potter.

Denis Cooverman seumur hidupnya adalah seorang nerd. Selama masa SMU dulu, kerjaannya selain belajar (sampai menjadi lulusan dengan nilai terbaik seluruh SMU!) adalah duduk di belakang kepala cheerleader sekolahnya: Claire Bennet… ups maaf, maksudku Beth Cooper. Sayang karena dunia mereka berdua begitu jauh berbeda, keberadaan Denis tidak pernah disadari oleh Beth… sampai pada upacara kelulusan mereka. Atas bujukan Rich, sahabatnya, saat pidato kelulusan Dennis ia mengatakan kepada Beth Cooper bahwa ia mencintainya. Pengakuan cinta terang-terangan di depan seluruh sekolah ini membuat Beth akhirnya menyadari keberadaan Denis.

Dan celakanya bukan sekedar Beth saja yang menyadari keberadaan Denis, tetapi juga Kevin - pacar Beth yang adalah senior Denis dan kini adalah dalam divisi tentara. Sore hari setelah Denis dan Rich mengundang Beth serta kedua temannya makan-makan di rumahnya, Kevin dan kawan tentaranya tak disangka ikut muncul dan mengobrak-abrik rumah si nerd malang itu. Akhirnya Denis, Rich, Beth, dan kedua temannya itu memutuskan untuk melarikan diri dan bersama-sama menghabiskan malam terakhir mereka di SMU.

Dinilai secara obyektif, tidak ada yang spesial dari film ini. Berbeda dengan kebanyakan karakter geek yang biasa tergambar lugu di film, akting Paul Rust yang memerankan Denis membuat dia jatuh sebagai karakter yang menyebalkan hampir sepanjang film (hanya tertolong pada bagian-bagian terakhir saja). Belum lagi usia Rust yang sudah kepala tiga membuatnya tampak ketuaan menyamar sebagai anak SMU yang baru lulus. Salah satu adegan Rust yang membuat saya, bahkan sebagai pria, jengkel adalah ketika ia mengeluh bahwa Beth dalam realita tidak sesuai dengan Beth impiannya. Saya heran kenapa Beth tidak serta menamparnya di saat itu juga. Memangnya siapa dia sampai Beth harus memenuhi impiannya? Karakter yang jatuh paling simpatik di mata saya justru si Beth sendiri. Saya tadinya menganggap bahwa Beth bakalan jadi gadis cheerleader yang sombong dan melecehkan Denis serta Rich. Jauh dari itu, justru ia malahan menunjukkan bahwa ia bersedia berteman dengan siapa saja walaupun orang itu seorang nerd yang diam-diam jadi stalkernya selama enam tahun. Hayden Panettiere terasa nyaman memainkan Beth Cooper, mungkin sekali karena dia sudah biasa tampil sebagai Claire Bennet dalam serial Heroes. Sebagai scene stealer adalah Rich, sahabat Denis, yang sepanjang film berusaha mencari tahu apakah dirinya itu gay atau bukan.

Toh, apabila saya menilainya secara subyektif, saya menilai kalau film ini sangat personal bagiku. Karakter Beth Cooper di sini seakan menjadi amalgam (campuran) dari tiga gadis berbeda yang pernah hadir dalam kehidupanku. Saya mengatakan Denis tolol ketika ia mengeluh bahwa Beth realita jauh berbeda dengan Beth impiannya, tetapi saya sendiri pernah mengatakan kata-kata yang sama ketika gadis yang diam-diam kusenangi ternyata ketika sudah kukenal lebih dekat jauh dari apa yang kubayangkan. Atau ketika Beth mengajarkan kepada Denis (secara tidak langsung) bahwa kadang ada satu garis dalam kehidupan yang boleh kita lalui sejenak sekedar untuk bersenang-senang, saya pun teringat akan gadis lain yang pernah mengajarkan padaku bahwa hidup itu lebih dari sekedar layar komputerku saja. Mungkin juga karena alasan-alasan personal itu, film yang seharusnya di bawah standar ini mendapatkan apresiasi lebih di mataku.

Bila diminta mencari film coming-to-age (pendewasaan diri) terbaik tahun ini, saya masih tetap memilih Adventureland sementara kalau kalian lebih suka petualangan gila-gilaan lebih baik menonton film klasik Ferris Bueller’s Day Off atau Road Trip dan Euro Trip. Kendati begitu, bagi kalian yang memiliki memori indah semasa SMU boleh juga bernostalgia dengan I Love You, Beth Cooper secara film Adventureland yang tadi saya sebutkan adalah pendewasaan diri selepas masa kuliah.

Score: 7.0

Movie Details
Director: Chris Colombus
Cast: Hayden Panettiere, Paul Rust
Running Time: 102 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , , , ,

The 5 TV Series Moments That Made Me Cry

Posted on 05 August 2009 by Si Tukang Review

Bukan rahasia kalau gw pernah (sering?) nangis dalam nonton film. Gw memang bukan seorang yang merasa harus menahan tangis bila memang perlu menangis. Asalkan sebuah media (apapun itu; mulai dari film, komik, bahkan musik) menyentuh hatiku, maka gw selalu mengijinkan diri gw menangis. Nah, sebelumnya gw pernah melist beberapa film yang pernah membuatku menangis. Bagaimana dengan serial TV? Ini dia list lima momen dalam serial TV yang pernah membuat gw menangis. Bagaimana dengan kalian? Apakah menangis juga dalam momen-momen yang kusebutkan ini? Perhatian, list ini hanya akan mengikutkan serial-serial barat, jadi jangan mengomel kalau serial Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, China atau sinetron Manohara favorit kalian tidak masuk dalam list ini. Obviously contain SPOILER.

5. Chuck Defends Morgan
TV Series: Chuck
Episode: Season 2, Chuck VS The Best Friend
Scene: Secara keseluruhan, episode ini menyorot hubungan Chuck dengan Morgan. Sering kali ketika Chuck absen dari kerjaan dan harus melakoni tugasnya sebagai agen rahasia, Morgan selalu menutupi jejaknya walau tidak tahu apa yang sebenarnya Chuck lakukan. Ketika dalam sebuah misi, Chuck harus mengkhianati Morgan (walau demi menyelamatkan nyawanya), saya bisa melihat bagaimana hal tersebut nyaris menghancurkan persahabatan keduanya, dan bagaimana hancurnya hati Chuck ketika ia  dipaksa mengatakan kata-kata yang menjelekkan sahabatnya. Ketika Chuck menjelaskan hubungannya dengan Morgan kepada Sarah, mata gw berkaca-kaca karena terharu. Dialog itu benar-benar mendeskripsikan persahabatan keduanya. Ending episode ini juga sangat pas dengan Jeffster menyanyikan lagu Africa-nya Toto serta menunjukkan perubahan dalam diri Morgan untuk tumbuh lebih dewasa dan tidak melulu tergantung pada Chuck. Definitely one of the best episode in an already awesome TV Series.

Link: Jeffster singing Africa to close this wonderful episode

4. I love you Claire Bear
TV Series: Heroes
Episode: Season 1, Company Man
Scene: Ada kalanya di mana gw adalah pecinta serial Heroes. Itu adalah masa-masa season pertamanya saat Heroes masih merupakan serial yang fresh dan penuh dengan ide orisinil. Salah satu ide yang menarik di Heroes adalah bagaimana mereka berusaha menyorot cerita satu demi satu karakter: mulai dari Hiro, Peter, Claire, dan lain-lain. Ironis bahwa sebuah serial yang terkenal dengan beberapa skenario dalam satu episodenya, episode terbaiknya justru datang dari episode yang fokus pada hanya satu karakter saja. Episode ini ditulis dan digarap oleh Bryan Fuller dan menitikberatkan cerita pada Claire dengan sang ayah angkatnya Noah Bennet (kala itu hanya dikenal dengan nama HRG - Half Rimmed Glass). Hubungan keduanya dibangun dengan pelan-pelan hingga kita sebagai penonton disadarkan kenapa Noah begitu menyayangi Claire. Endingnya di mana Noah mengorbankan dirinya dan membiarkan ingatannya dihapus supaya Claire bisa kabur dari kejaran The Company adalah salah satu bukti nyata bahwa Heroes - pernah bisa - menyentuh hubungan dan emosi ayah-anak yang terdalam.

Link: What a father would do for his daughter

3. Marshall And Lily in the Airport
TV Series: How I Met Your Mother
Episode: Season 4, Three Days of Snow
Scene: Marshall dan Lily sempurna sebagai pasangan. Salah satu daya tarik utama dalam HIMYM adalah melihat keduanya bersama. Walaupun kelihatan membosankan (mereka pacaran selama lebih dari sepuluh tahun, dan berujung pada pernikahan, tanpa pernah punya pacar lain lagi!) menurutku Marshall dan Lily adalah sebuah bukti dari the one and only love; soulmate. Keduanya juga memiliki tradisi unik buat menjaga keromantisan pernikahan mereka. Seperti sama-sama membuat janji menu makan malam, atau keharusan Marshall menjemput Lily dari airport. Salah satu ujian terbesar hubungan mereka datang ketika usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun kedua. Apakah memang masih perlu segala tradisi formal semacam menjemput istrimu dari airport? Apalagi ketika itu tengah turun badai salju terbesar sepanjang sejarah di New York! Episode ini sendiri penuh dengan plot twist sehingga gw tidak mau banyak menspoilerkannya. Satu hal yang jelas, ketika ending dan plot twist tersebut tersibak, gw spontan bangkit berdiri dan ikut bertepuk tangan. Yes. It’s THAT moving.

Link: Download the episode here (
http://hotfile.com/dl/8776373/4bb458e/How_I_Met_Your_Mother_-_s04e13_-_Three_Days_Of_Snow.mkv.html)

2. She’s already a mother
TV Series: Friends
Episode: Season 10, The One With the Birth Mother
Scene: Kalau Marshall dan Lily adalah salah satu pasangan terbaik di layar kaca, maka gelar pasangan terbaik bagiku jatuh di tangan pasangan Monica - Chandler. Pasangan ini dari awalnya sudah unik dan romantis. Ingat finale season enam di mana Chandler meminta Monica menikahinya (dan ternyata Monica juga sudah menyiapkan hal yang sama?). Sangat romantis! Tetapi momen terbaik keduanya bagiku datang saat Monica dan Chandler (yang sebenarnya sangat menghendaki bayi) menyadari bahwa mereka tidak bisa memiliki bayi. Mereka mengambil satu-satunya cara yang lain: mengadopsi bayi. Demi memperbesar peluang, mereka sampai berpura-pura menjadi orang lain. Malangnya, kedok mereka terbongkar dan ibu sang bayi sempat ogah menyerahkan bayi itu kepada mereka. Itulah saat Chandler keluar dan praktis memohon kepada sang ibu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Itulah saat pertama gw menonton serial TV dan tidak bisa menahan air mata gw tumpah. Chandler… you’re the man.

Link: Chandler Speech

1. My Greatest Hits
TV Series: Lost
Episode: Season 3, Greatest Hits
Scene: Ayolah. Siapa di antara kalian yang tahu gw dan tidak tahu that this is coming?

Charlie Pace adalah karakter favoritku di Lost. Gw pernah menulis kenapa dia jadi idola gw walaupun dia terbilang biasa dan sebenarnya lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Charlie adalah pecandu narkoba sebelum pesawat Oceanic 815 jatuh ke pulau tersebut. Ketika semua orang hanya beradaptasi dengan kehidupan di pantai, Charlie juga harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa narkoba. Dan ia berhasil menahan godaan itu! Sialnya, di season ketiga, Desmond (karakter lain di Lost) terus mengalami visi bahwa Charlie akan meninggal dan Desmond terus berusaha mencegah dan menghentikannya.

Sampai sebuah visi yang menunjukkan bahwa supaya Claire - gadis yang diam-diam disukai Charlie - bisa meloloskan diri dari pulau itu, Charlie harus mati. Sebelum Charlie menerima kematiannya, ia menuliskan lima hal yang merupakan memori terindah dalam hidupnya. Bisakah kalian menebak apa yang merupakan peringkat pertama dari kelimanya?

Ia menulis “The day I meet you” di peringkat pertama dan menujukan surat itu kepada Claire.

Flashback menunjukkan bahwa dari saat pertama Charlie melihat Claire, ia sudah mencintai gadis itu, dan walau ia tak pernah mengatakan apapun kepada Claire (dan Claire juga salah kaprah dan menyangka bahwa Charlie hanya teman baiknya), Charlie SELALU melakukan segalanya - bahkan mengorbankan nyawanya - bagi Claire. I think that’s the measure of a true gentleman. Itulah yang menjadikan Charlie Pace my most favorite TV character. Ever.

Oh, dan kelihatannya Charlie juga merupakan karakter favorit banyak orang. Pada konferensi Lost baru-baru ini, ketika ditunjukkan slideshow dari karakter-karakter yang sudah meninggal, tebak siapa yang mendapat applause paling panjang dan meriah? You guessed it. It’s Charlie.

Link: Charlie’s Greatest Hits

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

Push

Posted on 16 July 2009 by Si Tukang Review

Push Poster

Push Poster

Konsep dari Push mirip sekali dengan Heroes, X-Men, maupun The 4400. Walaupun kisah orisinal mereka berbeda-beda (Heroes mendapatkan kekuatan secara mendadak, X-Men karena mereka mutan, dan The 4400 diberi kekuatan manusia masa depan) pada intinya inti ceritanya adalah tentang sekumpulan manusia yang memiliki kekuatan selain manusia biasa - dan menggunakan kekuatan itu untuk bertarung ataupun menyelamatkan diri.

Dalam introduksi singkatnya, Push memperkenalkan kepada kita bahwa ada manusia-manusia yang memiliki kekuatan spesial setelah masa perang dunia kedua. NAZI sempat mengadakan percobaan untuk membuat tentara super. Walaupun mereka gagal, percobaan mereka diteruskan oleh berbagai negara. Hasilnya adalah munculnya berbagai orang berkekuatan yang dikelompokkan dalam berbagai kategori. Ada Pusher yang memiliki kemampuan memanipulasi emosi dan memori seseorang; Watcher yang memiliki kemampuan melihat masa depan; Mover yang memiliki kemampuan telekinesis, dan macam-macam lagi. Walaupun orang-orang ini memiliki kemampuan spesial, itu tidak berarti mereka hidup dalam damai. Mereka terus menerus diburu oleh sebuah kelompok khusus bernama Division.

Nick Grant adalah seorang mover yang selama ini hidup diam-diam di Hong Kong untuk menghindari keberadaan pemerintah. Ia masih trauma ketika nyawa ayahnya terenggut di depan matanya. Kehidupan damai dari Nick Grant berantakan total ketika seorang gadis watcher muda bernama Cassie Holmes mendadak muncul di apartemennya dan mengatakan bahwa mereka harus menolong seorang gadis karena gadis tersebut memegang kunci yang bisa menyelamatkan nyawa para orang-orang berkemampuan khusus dari anggota Division. Siapakah gadis misterius itu? Berhasilkah Nick dan Cassie menemukannya sebelum anggota Division di bawah pimpinan Agen Carver menangkapnya?

Kalau membaca ringkasannya tadi tidakkah kalian langsung bisa menarik persamaan darinya dengan serial macam Heroes dan The 4400? Dengan tambahan pemburuan manusia berkekuatan oleh organisasi khusus saya juga terkadang merasa seakan Push memiliki kemiripan dengan Jumper. Sayangnya dengan waktu tayang hanya 111 menit, Push terasa terlalu tergesa-gesa memasukkan berbagai unsur cerita di dalamnya. Penonton yang tidak biasa menonton film berjenis ini mungkin akan bingung dengan berbagai istilah macam “Watcher”, “Sniffer”, “Shadow” dan banyak lagi yang mendadak saja diucapkan para karakter dalam film ini. Jalan ceritanya sendiri juga dangkal dan apabila dicerna sungguh-sungguh memiliki banyak lubang logika.

Dari banyaknya karakter yang muncul di film ini empat orang mengambil peran utamanya. Chris Evans kali ini tampil lebih serius dibanding saat ia muncul di Fantastic Four sebagai Human Torch; walau tidak pernah menjadi favorit utamaku saya tidak pernah bisa membenci akting Evans semenjak menontonnya di Cellular. Camilla Belle lagi-lagi disia-siakan dengan sedikitnya waktu baginya muncul; saya sedikit kecewa karena berharap kalau kali ini ia diberi peran lebih banyak dibanding saat muncul di 10.000 BC dulu. Djimon Honsou berposisikan seperti Samuel L. Jackson di Jumper dan menunjukkan akting yang solid sebagai Agent Carver, ia memiliki karisma dan membuat orang segan kepadanya tanpa menunjukkan kalau dirinya penjahat klise dari buku. Ketiganya berakting dengan baik, tetapi perhatianku tercuri oleh Dakota Fanning yang berusaha memantapkan dirinya sebagai artis remaja dalam film ini. Push adalah pilihan tepat untuk mendorong Fanning lepas dari citra artis cilik yang selama ini lekat dengannya (saat syuting, Fanning juga berusia 13 tahun seperti karakter Cassie yang ia perankan).

Lagi-lagi sebagaimana halnya dengan Jumper, saya lebih sreg melihat Push sebenarnya menjadi episode pilot dari serial televisi. Setidaknya konsep pembagian kekuatan unik dalam dunia Push lebih tertata rapi dibandingkan Heroes yang kekuatan karakternya sudah hilang dan muncul secara tidak jelas. Paul McGuigan juga terampil mengambil gambar dan memberi kita lebih banyak adegan aksi dan pertarungan manusia berkekuatan dalam film ini (ditambah dengan penggunaan kekuatan mereka secara lebih kreatif) bagi kalian yang merasa Heroes tidak pernah memperlihatkan adegan duel manusia berkekuatan (ingat finale season ketiga di mana kita lagi-lagi dirampok dari duel Petrelli bersaudara melawan Sylar?). Akhir kata, kalau kamu penggemar film superhero, Push boleh kamu dijadikan tontonan ringan akhir pekan.

Score: 5.6

Movie Details
Director: Paul McGuigan
Cast: Chris Evans, Dakota Fanning, Camilla Belle, Djimon Honsou
Running Time: 111 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , , ,

Heroes - The Complete Volume Four (Fugitive)

Posted on 12 May 2009 by Si Tukang Review

Catatan: Ada spoiler minor mengenai cerita Fugitive dalam review ini.

Mau tahu bagaimana penurunan kualitas Heroes? Di season pertamanya, Heroes dipuji sebagai serial TV paling inovatif yang hadir di layar kaca. Ia didaulat sebagai Lost kedua; sebuah serial TV yang tidak hanya sukses di Amerika tetapi juga mendapatkan pengikut fanatik di seluruh dunia. Bedanya: Lost berhasil mempertahankan momentum tersebut hingga kini sementara Heroes kini hampir secara universal dimaki karena penurunan kualitas ceritanya. Saya sendiri hampir putus asa mengikuti Heroes setelah volume ketiganya begitu amburadul.

Lantas saya membaca berita bahwa Bryan Fuller kembali ke Heroes mulai di episode ke 20nya. Bagi yang sudah membaca reviewku mengenai Pushing Daisies tentu tahu siapa itu Bryan Fuller. Fuller tidak lain tidak bukan adalah penggagas dari serial Pushing Daisies sekaligus penulis dari season pertama Heroes. Apakah sentuhan midas Fuller masih bisa menyelamatkan Heroes?

Fugitive dibuka dengan adegan pertemuan Nathan dan sang presiden. Berawal dari kejadian di volume sebelumnya (Villains), Nathan merasa bahwa para orang berkekuatan super harus dikarantina. Mendapatkan persetujuan dari sang Presiden, Nathan pun langsung membentuk kelompok khusus yang bertujuan menangkapi mereka. Segalanya berjalan lancar. Mohinder, Peter, Hiro, dan satu demi satu orang berkemampuan berjatuhan ke tangan Nathan yang dibantu oleh Noah. Yang tak disangka oleh kedua ‘ayah’ ini: anak gadis mereka Claire tidak setuju dengan perbuatan mereka dan membantu para tawanan meloloskan diri. Dimulailah pemburuan kucing tikus antara mereka.

Permasalahan dalam Fugitive sama dengan permasalahan pada Villains. Ia memiliki konsep yang menarik dengan eksekusi yang berantakan. Berapa kali kita sudah mendengar konsep Claire mau menjadi pahlawan dan tak mau menjadi gadis biasa? Kemudian kenapa Nathan mau menangkapi para orang berkekuatan super padahal baru di akhir Villains dia hendak memberikan SEMUA orang kekuatan super? Tidak masuk akal dan penuh plot hole. Dosa paling besar dari Fugitive (setidaknya pada bagian pertamanya) adalah bagaimana ia menangani karakter Sylar. Kenapa Sylar malah dijadikan seorang babysitter cengeng yang mencari-cari sang ayah melulu? Dan jangan bilang saya tidak mengerti perasaan Sylar; saya seorang anak yang tidak kenal ayah saya mulai umur 5 tahun dan tidak tumbuh menjadi seorang bersosok father-complex alanya. What happen to Sylar? Di Villains dia ditipu mentah-mentah oleh keluarga Petrelli, sekarang dia merasa perlu ayahnya untuk tahu tujuan hidupnya. Ke mana hilangnya si badass Sylar?

Lantas datanglah Bryan Fuller.

Dan ajaibnya Fugitive berubah jadi bagus lagi.

Perbedaan kualitas Heroes langsung terlihat begitu Fuller datang. Heroes bukan lagi menjadi sebuah serial yang menggunakan asas “mari kita lupakan apapun yang terjadi di season sebelumnya“. Fuller dengan berani menarik kembali elemen yang sudah terlupakan dari season-season sebelumnya. Cinta engga jelas Matt dan Daphne dihapus sementara anak (bayi) dan istri lama Matt Parkman dikembalikan. Alasan kenapa Angela mencuri di season pertama dijelaskan. Bahkan Fuller menjelaskan mengenai asal usul Company dan menanam benih cerita yang bisa dikembangkan di season mendatang. Yang paling saya kagumi adalah bagaimana Fuller mengembalikan Sylar menjadi seorang badass sejati hanya dalam hitungan empat hingga lima episode. Sylar kembali menjadi psikopat sinting yang haus kuasa - the Sylar we knew in Season pertama Heroes.

Fuller juga tidak melulu mengganti-ganti fokus karakter di Heroes hingga membingungkan penonton. Tiap episode biasanya berfokus pada dua atau tiga sub-plot yang difungsikan membangun cerita utama. Klimaks dari Fugitive juga mengesankan karena Fuller dengan cerdik membunuh salah satu karakter utamanya. Bahkan sayapun tak menyangka Fuller berani mengeksekusinya!

Saya belum sepenuhnya memaafkan serial ini. Kesalahan yang ia lakukan terhadapku (dan banyak penonton lainnya) terlalu besar dan terlalu dalam. Tapi setidaknya Fugitive (dan Fuller) memberi harapan bahwa ada kemungkinan Heroes kembali pada jalurnya yang benar. Dan fakta ironisnya adalah volume kelima yang akan menjadi ajang pembuktian itu dijuduli “Redemption / Pengampunan”.

Score: 7.5

TV Details
Creator: Tim Kring
Cast: Milo Ventimiglia, Adrian Pasdar, Ali Larter, Zachary Quinto
Running Time: 40 Minutes per Episode

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Heroes - The Complete Volume Three (Villains)

Posted on 04 March 2009 by Si Tukang Review

season-3

(Perhatian: Akan ada spoiler untuk cerita di season pertama dan kedua, juga sedikit spoiler untuk cerita di volume ini)

Sebelum menggali lebih dalam ke volume ini, ijinkan saya membetulkan kesalah-kaprahan yang terjadi di tengah penonton Heroes Indonesia. Pertama; Villains bukan keseluruhan season ketiga Heroes melainkan bagian pertama dari season ketiganya. Setelah berakhirnya Writer’s Strike, episode serial TV kembali pada jumlah yang semestinya yaitu 22 - 24 episode per seasonnya. Hal yang sama berlaku bagi Heroes. Tim Kring mengumumkan bahwa season ketiga Heroes akan berisi chapter (di Heroes disebut Volume) ketiga dan keempat ceritanya. Benar, Fugitive yang kini tengah kalian ikuti BUKAN season keempat Heroes.

Now that the confusion is all cleared, let’s get to slaughter this volume.

Saya sangka kalau Heroes season kedua sudah buruk. Dan sejujurnya saya tidak sendiri. Banyak sekali penonton TV berharap kalau season ketiga ini akan benar-benar diperbaiki oleh Tim Kring seperti yang ia janjikan. Dan di episode-episode awal, sepertinya hal itu berhasil ia lakukan. Kelemahan-kelemahan mencolok seperti plot yang lambat dan membosankan dipercepat. Karakter yang kurang menarik seperti keluarga Sanders, dan pacar terbang Claire dikeluarkan dari cerita. Walau beberapa orang mengomel dan menanyakan “berapa kali sih Heroes harus menunjukkan masa depan yang harus dihentikan?“, orang setidaknya memberikan reaksi positif untuk awal season ini.

Sebelum jalan ceritanya mulai bergerak menuju spiral yang tidak memiliki ujung pangkalnya. Kalau kalian bertanya “Hei, tolong rangkumkan cerita di volume ketiga Heroes ini!” maka saya akan jujur menjawab “Saya tidak tahu”. Saya tidak tahu apa korelasinya masa depan di mana Sylar menjadi baik dan memberikan kekuatan pada semua orang. Kenapa Sylar menjadi baik-jahat-baik lagi? Kenapa Mohinder mau-maunya menjadikan diri ujicoba akan sebuah serum yang tidak teruji? Bagaimana karakter Tracy bisa mendadak muncul sebagai kembaran ketiga Nicki? Kenapa Nathan selalu berubah pendirian di tiap episode? Apa gunanya Arthur memberikan kekuatan untuk setiap orang? Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak sub-plot, tetapi tidak ada apapun yang berhasil dicapai oleh Villains selain merusak karakter-karakter yang ada.

Ambil contoh Nathan. Lihat berapa kali dia berubah keputusan sepanjang season ini. Di awal season ia ingin memberitahukan kepada dunia mengenai kekuatan superpower. Lantas beberapa episode kemudian dia hendak menjadi senator dan merahasiakan kekuatan superpower. Ehhh tak berapa episode kemudian ia menolak ayahnya memberi kekuatan superpower melalui serum biasa. Tapi ia lalu menyetujui pemberian superpower dan mendukung ayahnya. Tak lama kemudian ia menyatakan kalau semua orang yang punya superpower harus ditangkap pemerintah.

HELLO!!! Di mana logikanya? Mungkinkah kekuatan tersembunyi Nathan sesungguhnya bukan terbang tetapi tidak punya pendirian?

Contoh lain? Berapa kali dalam episode ini masa depan berubah? Ada masa depan di mana Sylar menjadi baik… ada masa depan di mana para superhero diburu… ada masa depan di mana semua orang punya superpower (yang otomatis tidak mungkin membuat mereka semua diburu)… ada masa depan di mana Ando menghentikan Hiro sebelum dunia kembali hancur… Ya Tuhan, saya pusing melihat betapa banyaknya masa depan yang mendadak saja dianggap tidak ada sangkut-pautnya di episode-episode mendatang.

Itu hanya satu dari berbagai contoh kekisruhan yang terjadi sepanjang episode ini. Salah satu problem mengganjal di Heroes yaitu kekuatan yang berlebihan beberapa karakternya lambat laun menjadi kendala yang mencolok di sini. Hiro dan Peter yang memiliki kekuatan terkuat praktis dimalfungsikan sepanjang season. Pada akhirnya, keduanya bahkan kehilangan kemampuan laten mereka.

Saat ini, saya beranggapan kalau Heroes adalah serial TV terburuk yang tengah saya tonton, apakah saya beranggapan bahwa Heroes tidak tertolong lagi? Jangan keburu berasumsi demikian. Dulu Lost pun memiliki fase serupa, awal season ketiganya dianggap membosankan dan bertele-tele, tapi paruh keduanya melejitkannya mendapat nominasi Emmy Award di tahun itu. Tidak mungkin memang Heroes bisa melakukan keajaiban seperti yang dilakukan Lost saat itu. Toh dengan kembalinya Bryan Fuller seusai dicancelnya Pushing Daisies, saya masih berharap ia bisa menginjeksikan magisnya untuk memperbaiki Heroes. Rasanya sudah begitu lama saya menonton episode Heroes di mana hati ini berdebar menunggu twist apa yang mereka lakukan - ketimbang berdebar ketakutan menunggu kerusakan apa yang akan mereka lakukan pada mantan karakter-karakter favoritku.

Score: 2.0

TV Details
Creator: Tim Kring
Cast: Milo Ventimiglia, Adrian Pasdar, Ali Larter
Running Time: 40 Minutes per Episode

Comments (0)

Tags: , , ,

Heroes - The Complete Season Two

Posted on 03 March 2009 by Si Tukang Review

heroes-season-two-cover

(Review ini dibuat dengan anggapan pembaca sudah menonton season sebelumnya. Bagi yang belum, hati-hati terhadap spoiler plot cerita di season pertama)

Setelah season pertama yang begitu fenomenal, semua orang menunggu-nunggu season kedua Heroes. Begitu banyak pertanyaan menggantung di benak para fans. Siapakah boogeyman yang disebut Molly lebih menakutkan daripada Sylar? Ke mana Sylar - dan apakah dia sudah mati? Bagaimana dengan Matt dan DL? Apakah mereka meninggal karena luka-luka mereka? Siapa karakter baru yang akan muncul di season kedua dan apa kekuatan yang mereka miliki? Siapa - atau apakah The Company itu? Bagaimana nasib Petrelli bersaudara?

Dan lain-lain, dan lain-lain…

Dan dengan ekspektasi begitu besar, season kedua menjadi awal dari kejatuhan Heroes.

Season kedua Heros diawali dengan penjelasan mengenai apa saja yang terjadi selama masa jeda beberapa bulan dari akhir season pertama. Rekap singkat ini juga menjelaskan siapa saja yang tewas dan siapa yang hidup. Para Heroes mulai menyadari bahwa sebuah masa depan yang buruk akan terjadi karena virus yang menginfeksi dan membunuh banyak manusia. Sekali lagi, jalinan nasib mempersatukan mereka untuk bahu membahu menghalangi terjadinya bencana tersebut.

Berbeda dengan season pertama yang mendapat banyak pujian, season kedua ini justru dicaci-maki. Jalan ceritanya dirasa terlalu mirip dengan season pertama (sama-sama menghentikan sebuah bencana, kendati sebuah bencana yang berbeda). Plot introduksinya pun dinilai terlalu lama dan diulur-ulur - keluhan terutama disampaikan pada kasus amnesianya Peter dan perjalanan Hiro ke masa feudal Jepang. Walau nantinya ini terbukti penting untuk jalan cerita keseluruhan, tetap saja penonton sudah keburu bosan. Karakter-karakter baru yang diperkenalkan pun tak satupun mendapat simpati penonton. Terbukti bahwa karakter-karakter yang diperkenalkan di season kedua ini hampir semuanya tidak memiliki dampak di season berikutnya (ada yang mati, ada yang secara terang-terangan tidak disebut sama sekali). Satu-satunya karakter yang menarik simpati penonton adalah Elle - dan itupun karena Kristen Bell selaku pemerannya memiliki fanbasenya melalui serial TV Veronica Mars.

Begitu banyak hal yang salah sehingga di tengah season kedua sang kreator Tim Kring angkat bicara dan minta maaf. Ia berjanji mempercepat kisah Heroes dan menghapus karakter-karakter yang tidak signifikan dalam cerita. Belum sempat ini direalisasikan, Writer’s Strike terjadi dan semua produksi episode TV pun terhambat. Semua serial TV pada tahun itu terkena dampaknya - tak terkecuali Heroes. Walhasil, episode ketiga Heroes yang berjudul Exodus dihilangkan, sementara Villains yang semestinya menjadi episode keempatnya dimajukan menjadi episode ketiga - sekaligus pembuka season ketiganya.

Walaupun Heroes mendapat banyak kritikan di season ini, masih banyak orang yang percaya bahwa kualitas Heroes akan meningkat di season ketiga. Bukankah para kreator serial ini sudah mengaku akan memperbaiki diri? Bukankah ada jeda waktu yang lebih lama untuk memastikan penulisan yang lebih kreatif? Banyak orang merasa bahwa Heroes akan kembali pada puncak performanya di season mendatang. Betapa salahnya mereka, for the worst is yet to come.

Score: 5.0

TV Details
Creator: Tim Kring
Cast: Milo Ventimiglia, Kristen Bell, Adrian Pasdar
Running Time: 40 Minutes Per Episode

Comments (0)

Tags: , , , ,

Heroes - The Complete Season One

Posted on 02 March 2009 by Si Tukang Review

heroes

Ketika sebuah serial TV ‘kecil’ bernama Heroes dimulai di tahun 2006, tidak ada orang yang menyangka bahwa ia akan menjadi fenomena terbesar di tahun tersebut. Cerita Heroes yang berpusat pada orang-orang biasa yang memiliki kemampuan luar biasa mendapatkan simpati penonton maupun kritikus karena berhasil menggabungkan tema superhero, yang identik dengan action, dengan drama seputar kekuatan superhero tersebut. Karena Heroes, orang seakan dibuat percaya bahwa dalam dunia nyata bisa saja benar-benar ada orang dengan kekuatan super. Slogan macam “Milo is my hero” dan “Hiro is my hero” pun ngetop dan tenar di mana-mana.

Cerita dalam Heroes dimulai saat sebuah gerhana terjadi. Bersamaan dengan terjadinya fenomena tersebut, muncullah manusia-manusia dengan kekuatan super. Sebut saja Isaac Mendez, seorang pelukis yang memiliki kemampuan melukis masa depan; Sylar, seorang pembunuh misterius yang mengambil kemampuan para manusia super lain; Matt Parkman, seorang polisi pembaca pikiran; Claire Bennet, seorang gadis cheerleader yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri ala Wolverine; atau Hiro Nakamura, pegawai di perusahaan Jepang yang memiliki kemampuan menghentikan waktu dan teleportasi. Intrik jalan cerita di season pertama bermula saat Hiro melakukan lompatan waktu ke masa depan. Di sana ia melihat bahwa kota New York akan terkena ledakan bom nuklir. Kembali ke masa kini, orang-orang dengan kemampuan luar biasa ini harus bekerja satu sama lain. Kuncinya satu: “save the cheerleader, save the world“.

Dunia seakan-akan terkena demam Heroes ketika season pertamanya muncul. Untuk beberapa saat lamanya, Heroes bahkan menjadi serial TV terpopuler di dunia menggantikan Lost (yang saat itu memasuki season ketiganya). Heroes dipuji karena memiliki jalan cerita yang padat dan cepat. Dalam tiap episode, beberapa jalan cerita bergerak di saat yang bersamaan dan berkaitan satu sama lainnya. Para fans pun terus diajak untuk menebak-nebak mengenai apa yang akan terjadi berikutnya, siapa lagi karakter baru yang akan muncul - kekuatan apa yang mereka miliki, dan siapa karakter yang bakalan mati. Tim Kring memang menyatakan kalau dalam serial ini ‘tidak ada karakter yang benar-benar aman’.

Tentu saja, season pertama Heroes ini bukannya tanpa kelemahan. Karakter yang lama-lama terlalu banyak membuat fokus untuk tiap karakternya jadi melemah. Beberapa karakter akhirnya tidak dikenal untuk sifat dan pembawaannya lagi melainkan dikenal oleh kekuatan yang ia miliki semata. Ini jelas bertentangan dengan apa yang menjadi tujuan dari Heroes yang hendak menunjukkan sebuah show tentang superhero yang tidak melulu mengenai ‘kemampuan yang mereka miliki semata’. Kelemahan kedua, yang sekaligus saya nilai sebagai kelemahan terbesarnya, adalah cerita Heroes tidak independen pada serial TVnya saja. Kadang-kadang cerita latar belakang beberapa karakter seperti Hana Gitelman diulas dalam bentuk graphic novel mingguan yang bisa diunduh gratis di situs resminya. Saya ingat saya sempat bingung di akhir satu episode Sylar baru saja menghabisi Eden sementara di awal episode berikutnya ia sudah kembali mendekam di penjara. Eh ternyata filler kedua adegan itu dirilis pada graphic novel minggu tersebut. Walau bukan masalah bagi penonton di Amerika, ini tentu saja masalah bagi penonton di luar Amerika.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan kecil tersebut, Heroes tetaplah sebuah serial fenomenal. Tidak berlebihan menyebutnya sebagai salah satu serial terbaik yang pernah menghiasi layar kaca. Season 1 ini saya rekomendasikan kepada siapapun - terlepas apakah kamu penggemar cerita superhero atau tidak.

Score: 9.0

TV Details
Creator: Tim Kring
Cast: Milo Ventimiglia, Ali Larter, Hayden Panetierre, Zachary Quinto
Running Time: 40 Minutes Per Episode

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here