Tag Archive | "Hero"

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Eight: Paper Dolls)

Posted on 19 November 2009 by Si Tukang Review

Y: The Last Man 40 Cover

Y: The Last Man 40 Cover

Setelah membacanya untuk kali kedua, saya baru menyadari bahwa Girl on Girl merupakan karya story arc pertama bagi Goran Sudzuka. Sudzuka sebenarnya bukan ilustrator yang buruk dan ia berusaha sebisa mungkin untuk menggambar dengan gaya yang mirip dengan Pia Guerra supaya menjaga feel serial ini. Keberhasilannya ‘menipu’ mata saya untuk satu story arc sudah merupakan bukti dari hal tersebut tetapi pada saat ketika saya membaca Paper Dolls, saya disadarkan bahwa Pia Guerra memang merupakan ilustrator paling tepat untuk serial ini. Goresan Guerra tidak setegas Sudzuka, tetapi ia jauh lebih jago menangkap raut muka dan wajah yang penting untuk menghidupkan ekspresi para karakter di dalam serial ini.

Paper Dolls adalah story arc yang sedikit pendek karena hanya terdiri dari tiga bagian dan menyinggung cerita yang kurang menarik di mana pembaca sudah bisa menebak kira-kira bagaimana konklusinya. Premisenya sendiri sebenarnya memiliki potensi mengundang yang sangat besar. Perlu diingat bahwa Yorick pertama kali berkeliling dunia dengan harapan untuk mencari Beth sang tunangannya. Tak disangka bahwa serangan pada akhir Girl on Girl membawanya ke benua Kanguru tersebut. Yorick tentu saja tidak membuang waktu untuk mencari Beth, walaupun kapal selam tersebut sebenarnya hanya berhenti selama satu hari saja di sana Sydney. Celakanya pencarian Yorick justru berbuah petaka ketika seorang reporter ambisius menemukan jati dirinya sebagai sang pria terakhir bumi, memfotonya, dan mulai menyebarkan jati diri Yorick di media massa.

Seperti yang saya bilang, cerita utama dari Paper Dolls sendiri pada akhirnya tidak memiliki sesuatu yang signifikan terhadapi mitologi Y – The Last Man secara keseluruhan. Malahan beberapa jalan cerita sampingan menjadi hal-hal menarik yang membuat saya kecewa tidak dieksplorasi lebih lanjut. Kembalinya Alter dalam pemburuan Yorick dan balas dendamnya merupakan satu dari banyak hal yang membuat Alter sebagai sosok paling kompleks dalam serial ini. Selain itu, Rose dan Dr Mann yang memulai hubungan lesbian mereka juga mendapat sorotan di sini – apakah Rose tulus atau tidak dalam perasaannya merupakan awal dari hubungan penuh gonjang-ganjing keduanya yang saya harap lebih banyak disorot Brian K. Vaughan.

Setelah tiga edisi Paper Dolls, Y – The Last Man kembali diselingi dengan tiga cerita one-shot sebelum menuju cerita berikutnya. Ketiganya adalah: The Hour of Our Death, Buttons, dan 1000 Typewriters. Kali ini Pia Guerra kembali absen dan digantikan oleh Goran Sudzuka sebagai ilustrator (tebakan saya adalah karena Guerra harus fokus menggambar untuk Kimono Dragon yang adalah story arc berikutnya). Ketiga one-shot ini uniknya justru lebih berkualitas dan membedah banyak hal ketimbang Paper Dolls sendiri. The Hour of Our Death mempertemukan Hero dan Beth kedua serta memberi perkembangan cerita yang tak terduga (juga one-shot favorit saya). Buttons mengungkapkan lebih banyak tabir masa lalu dari Agent 355 yang misterius (sialnya, kita tetap saja belum tahu nama aslinya). Yang terakhir, 1000 Typewriters menceritakan mengenai keberadaan Ampersand – dan sejarahnya dengan Yorick dan wabah yang menyapu kaum pria itu.

Aneh mungkin, tetapi pada akhirnya ketiga cerita one-shot ini justru memberikan lebih banyak penjelasan mengenai mitos-mitos seputar Y ketimbang Paper Dolls. Salah satu alasan kenapa Paper Dolls tidak lagi menarik sebenarnya adalah blunder yang dilakukan oleh Vaughan sendiri dengan menerbitkan volume 36 terlebih dahulu (yang praktis merupakan spoiler dari ending Paper Dolls). Bila saja Paper Dolls terlebih dahulu diterbitkan baru disusul dengan volume 36, mungkin saja story arc tersebut akan lebih menggigit. Siapa yang deg-degan dengan apakah Yorick dan Beth akan bertemu atau tidak kalau sudah diberitahu sebelumnya bahwa Beth berangkat ke Paris demi mencari Yorick yang dilihatnya dalam visinya?

Y – The Last Man sedikit kehilangan gregetnya pada story arc-story arc belakangan ini. Mari kita berharap bahwa Brian K. Vaughan kembali menemukan touchnya pada Kimono Dragon, yang merupakan awal dari kisah panjang rombongan Yorick di Jepang.

Score: 7.2

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Artist: Goran Sudzuka
Publisher: Vertigo (DC Comics)
Volume: 37 – 42

Comments (3)

Tags: , , , ,

Half-Minute Hero

Posted on 15 November 2009 by Si Tukang Review

Half-Minute Hero Cover

Half-Minute Hero Cover

Kalau ada yang menanyakan kepadaku game PSP apa yang paling berkesan tahun ini, saya pasti menjawab Half-Minute Hero. Kok bisa, padahal tahun ini PSP banyak sekali mendapatkan port dari versi konsol Playstation 1 dan 2 (Persona, Disgaea 2, dan banyak lagi) sampai downgrade dari versi Playstation 3 (Little Big Planet, Assasin’s Creed, Soul Calibur IV, dan lain-lain). Jawabannya: karena Half-Minute Hero memiliki sesuatu yang tidak dimiliki game-game PSP yang lain. Di balik grafisnya yang bergaya 8-bit, terselip sebuah gameplay orisinil… tamatkan RPG dalam waktu hanya 30 detik saja! Tidak percaya?

Game Half-Minute Hero terbagi dalam empat skenario yang menyuguhkan elemen gameplay yang berbeda-beda. Hero 30, Evil Lord 30, Princess 30, dan Knight 30 yang baru bisa diunlock setelah menyelesaikan tiga mode di atas. Menyelesaikan keempat mode tersebut akan membuka bagian terakhir dari Half-Minute Hero. Mengingat empat cerita ini terjadi pada periode yang berbeda-beda namun dengan karakter yang memiliki kaitan erat satu sama lain, bagian terakhir tentunya adalah kulminasi dari cerita keempat skenario itu.

Mode permainan utama, sekaligus yang paling menyita waktu, adalah Hero 30. Dalam rata-rata game RPG, pemain sudah biasa menghabiskan puluhan jam untuk mencari item, level-up, dan mengikuti cerita. Tidak demikian dalam Half-Minute Hero. Para penjahat kakap dunia (Evil Lord) kini memiliki sihir maut yang bisa mengakhiri dunia dalam waktu 30 detik saja. Itu berarti kamu sebagai sang jagoan harus bisa mengatur baik-baik waktumu, menaikkan level, mencari uang untuk membeli senjata, lantas menggempur dan mengalahkan para Evil Lord yang mengeluarkan mantera tersebut. Bila hal ini tidak memungkinkan, maka Time Goddess yang ada di sisimu bisa memutar balik waktu kembali menjadi 30 detik. Eits, jangan kira kamu bisa seenaknya memutar balik waktumu terus menerus karena sang dewi waktu ini mata duitan dan akan terus mengambili uangmu setiap kamu memutar balik waktu.

Evil Lord 30 memiliki mode gameplay yang total berbeda – walau memiliki batasan waktu 30 detik yang sama. Kamu sebagai Evil Lord bisa mensummon monster untuk melawan musuh-musuhmu. Gameplay ini bergenre Real Time Strategy sederhana di mana setiap monster yang kamu hadapi dan kamu summon terbagi dalam tiga kelas: Lincah, Barbar, dan Penembak. Lincah lemah menghadapi kaum Barbar, tetapi tangguh untuk Penembak. Sebaliknya Penembak yang kurang efektif menghadapi Lincah sangat efektif menghadapi Barbar. Dalam mode ini dituntut kejelian kamu melihat musuh macam apa yang kamu hadapi, dan monster seperti apa yang harus kamu keluarkan untuk melawannya. Tentu saja seperti perang sungguhan, kemunculan bantuan musuh yang tiba-tiba bisa mengacak-acak strategimu. Fleksibelkah kamu mengatasinya?

Untuk Princess 30, mode ini terbilang paling sederhana (dan bisa paling cepat diselesaikan) dibandingkan dengan mode lainnya. Sebagai sang putri yang ingin menyembuhkan ayahnya yang sakit, kamu didampingi (tepatnya diangkat) oleh para ksatriamu masuk ke dalam berbagai kawasan liar. Senjatamu yang handal adalah tembakan panahmu. Tipe permainannya seperti game shoot-em-up yang lagi-lagi dibatasi oleh waktu 30 detik. Artinya kamu harus berpacu secepat mungkin untuk menembaki musuh, menghindari serangan mereka (karena walau tidak bisa membunuh tapi akan memperlambat gerakanmu), dan menyelesaikan level tersebut di bawah setengah menit.

Terakhir adalah mode Knight 30. Mode ini adalah mode kedua favoritku setelah Hero 30. Di sini waktu bukan lagi ‘musuh’mu seperti pada ketiga mode sebelumnya melainkan temanmu. Sebagai ksatria, kamu harus melindungi seorang penyihir (sage) dari para monster yang menyerangnya. Uniknya, sang sage ini bisa merapal mantra untuk membunuh semua monster tetapi memerlukan waktu… yap, seperti yang kamu duga, 30 detik. Ketangkasanmu sebagai ksatria untuk menjaga nyawa sang Sage adalah kunci utama menyelesaikan mode ini.

Bila dilihat dari screenshot game ini, kamu mungkin akan berpikir “Apa-apaan ini game PSP dengan grafis ala Nintendo jadul gini?”. Justru dengan grafis yang seperti ini, Half-Minute Hero berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh beberapa RPG yang berusaha mengusung (I’m looking at you Nostalgia and Black Sigil): rasa kangen terhadap game-game RPG jaman dulu. Nuansa 8-bit yang kental itu kian kentara ketika saat percakapan dan wajah karaktermu dibesarkan di layar, semuanya nampak pecah dan terlihat pixel-pixelnya. Saya sempat kaget dengan grafis ini, apa lagi karena di beberapa detik opening movienya terlihat kualitas gambar animasi yang sangat halus. Toh, kekagetan saya tak berlangsung lama dan berganti jatuh hati pada keimutan yang ditawarkan game ini. Audionya walaupun tidak membawa musik jaman NES juga sangat impresif dan berhasil menghidupkan momen-momen dalam game ini, mulai dari momen yang jayuz sampai pada momen-momen singkat yang menyentuh hati.

Singkat kata: bila kamu pemilik PSP yang rindu akan RPG orisinil yang bermutu untuk handheldmu, Half-Minute Hero adalah jawaban dari mimpimu. Jangan lewatkan game ini.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Benar-benar inovatif dan mendobrak anggapan bahwa RPG harus memakan waktu puluhan jam untuk dimainkan. Selain mode utama Hero 30 juga ada tiga mode lain yang menawarkan gameplay yang berbeda-beda supaya kamu tidak bosan. Uniknya, semua cerita pada masing-masing mode baru bisa dimengerti kaitannya ketika kamu memasuki babak terakhir game ini.

Graphic / Sound: 8.0
Nuansa 8-bit sangat terasa pada presentasinya tetapi justru itulah yang membuat Half-Minute Hero berbeda dengan game-game RPG lain. Dengan segala kesederhanaan yang ia tawarkan, gabungan dari grafis 8-bit dengan artwork anime dan musik techno-rock yang dominan, menjadikan game ini langsung tampil beda dari begitu banyaknya RPG serupa tapi tak sama yang menyerbu pasar akhir-akhir ini.

Play Time: 7.0
Game ini bisa kamu selesaikan dalam kurun waktu 10 – 15 jam namun masih ada satu mode bonus (dan mode ini sangat menantang untuk dimainkan) juga fitur multiplayer untuk memainkan game ini bersama dengan kawanmu. Siapa yang menjadi pahlawan sejati sebenarnya?

Overall: 8.0

Game Details
Developer: Opus
Publisher: Marvelous
Genre: RPG

Comments (3)

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Six: Hero’s Journey & Ring of Truth)

Posted on 21 May 2009 by Si Tukang Review

Sejak awal terbitnya Y, Brian K. Vaughan berjanji bahwa ia akan menjelaskan bagaimana terjadinya gendercide yang praktis memusnahkan semua jenis kelamin jantan di dunia. Hanya saja, Vaughan juga menggoda pembaca dengan sengaja menempatkan beberapa – bukannya satu – kemungkinan kenapa gendercide tersebut bisa terjadi. Nah, bagi fans komik Y, penyebab gendercide terjadi sering dijadikan bahan diskusi dan perdebatan di forum online. Salah satu kemungkinan paling terkenal adalah teori ilmiah yang dijelaskan oleh Vaughan dalam Ring of Truth.

Sebelum masuk ke story arc baru dari volume 28 sampai 31, di volume 27 kita lebih dulu dibawa untuk lebih mengenali karakter Hero Brown. Kalau diingat, pertama kali kita mengenal Hero di volume pertama ia masih seorang gadis suster yang sedikit playgirl. Apa yang terjadi setelah musibah? Kenapa ia menjadi salah satu dari anggota Daughter of Amazons? Dan apa yang terjadi setelah ia meloloskan diri dari penjara?

Setelah membeberkan latar belakang Hero dalam satu edisi one-shot, fokus kembali dibawa ke trio utama kita. Dalam sebuah insiden, kalung Yorik yang selama ini dipakai lepas dan dirampas oleh kelompok penyerang. Tanpa alasan, mendadak saja Yorick pucat dan jatuh sakit. Apakah kalung yang selama ini dipakai Yorick memiliki kekuatan magis yang melindunginya? Selagi memeriksa Yorick, Dr Mann justru menemukan apa yang mungkin menjadi penyebab Yorick berhasil selamat dan tetap survive selama ini.

Setelah story arc yang mengecewakan di Widow’s Pass, Vaughan seakan menebus dosa di sini. Hero’s Journey, walaupun one-shot, menjadi prolog pembuka bagi kisah Ring of Truth. Ia juga berfungsi memberi update apa yang terjadi pada Natalya dan para ilmuwan. Nah, Ring of Truth sendiri menarik berbagai unsur dari story arc-story arc sebelumnya. Karakter misterius yang mengintai Ampersand saat sang monyet berpetualang sendiri kali ini langsung mencegat rombongan Yorick – sekaligus menjanjikan adegan duel yang seru dengan Agent 355. Walau banyak adegan aksi, ada juga banyak momen emosional dalam volume ini, mulai dari pergumulan pribadi di kepala Hero, emosi campur-aduk diri Agent 355 mendengar Agent 711 terbunuh di akhir story arc Safewords. Bagiku pribadi, highlight dalam Ring of Truth adalah pertemuan kembali kakak beradik Brown. Kalau ada di antara kalian yang meragukan kenapa Pia Guerra disebut sebagai salah satu artis yang paling mampu menggambarkan ekspresi wajah – silahkan baca reuni antara Yorick dan Hero.

Aman rasanya untuk mengatakan bahwa volume tujuh kembali membawa Y pada puncak performanya. Vaughan sekali lagi berhasil mencampur unsur ilmiah (sci-fi), aksi, dan drama dalam satu petualangan yang mendebarkan. Berikutnya adalah petualangan Yorick ke negeri matahari terbit: Jepang. Kekisruhan apa lagi yang bakalan menghadang dalam perjalanan mereka ke sana?

Score: 8.9

Graphic Novel Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 26 – 31

Comments (0)

Tags: , , ,

Y: The Last Man (Volume Two: Cycles)

Posted on 09 April 2009 by Si Tukang Review

cycles

Kalau volume pertamanya gagal menarik perhatianmu (hampir mustahil sih) maka rasanya volume kedua Y pasti menarik minatmu. Dalam Unmanned, Vaughan memberikan pada kita gambaran mengenai apa yang kira-kira terjadi pada dunia yang telah ditinggalkan dari para laki-laki, Cycles – volume keduanya – memberi kita detail yang lebih mendalam mengenai keadaan ini.

Cerita dibuka dengan trio Yorick, Agent 355, dan Dr Mann yang hendak meloloskan diri dari Boston. Kekisruhan terjadi dalam perjalanan di kereta sehingga ketiganya terpaksa melompat keluar sebelum sampai tujuan. Walhasil, ketiganya pun terpisah. Yorick yang pingsan ditemukan oleh seorang gadis bernama Sonia dan dibawa ke kota kecil Marisville (di Ohio). Berbeda dengan kota-kota lain, para wanita di Marisville tampak sangat mampu mengurus diri mereka sendiri. Agent 355 yang terluka dibawa oleh Dr Mann ke Marisville dan mendapatkan perawatan. Ketiganya segera menyadari keanehan mengenai kenapa semua fasilitas (termasuk fasilitas kesehatan) tempat tersebut begitu terawat dan terjaga. Tidak hanya trio tersebut yang mengalami rasa penasaran, para penduduk Marisville merasa tidak nyaman dengan kedatangan tiga penduduk asing di tengah mereka. Terlihat jelas bahwa mereka menyembunyikan sesuatu… tetapi apa?

Di lain pihak, tidak semua wanita berduka dengan musnahnya para pria. Kaum feminis bernama Daughters of Amazon di bawah pimpinan Victoria adalah salah satu contohnya. Victoria adalah pembenci pria sejati dan menanamkan doktrin tersebut pada setiap pengikutnya. Menurut Victoria, adalah mother earth sendiri yang ‘membersihkan’ diri dari para pria yang mencemarinya. Menurut Victoria, pria adalah manusia laknat yang mencemari kesucian para wanita. Celakanya, salah seorang bawahan Victoria adalah Hero Brown – kakak Yorick.

Ketika terjadi wabah, Hero tengah berciuman dengan sang pacar. Matinya sang pacar tepat di hadapannya membuat ia menjadi trauma dan menemukan sokongan dalam diri Victoria. Ketika Hero mendengar desas-desus bahwa ada seorang pria yang masih hidup dengan membawa peliharaan seekor monyet, sadarlah ia bahwa Yorick masih hidup. Masalahnya sekarang, Victoria yang mendengar bahwa masih ada satu sisa racun di bumi memutuskan untuk menuntaskannya. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas reuni antara dua kakak beradik ini tidak akan berjalan dengan mulus.

Sekali lagi Vaughan mampu membentuk sebuah cerita yang sangat menarik dari dunia baru yang ia ciptakan ini. Setelah sukses mengobrak-abrik tatanan sosial yang lama di Unmanned, Vaughan memberi contoh ‘begini nih’ tatanan sosial yang terbentuk ketika tanpa pria. Untungnya, Vaughan tidak jatuh dalam klise “semua wanita baik, sementara semua pria selain Yorick bejat”. Ia memaparkan semuanya berdasarkan fakta, dan dibumbui dengan dramanya sendiri.

Vaughan juga menambahkan karakter Hero sebagai salah satu karakter pendukung utama di serial ini. Memang sebelumnya Hero juga sudah menjadi sentral dalam Unmanned, tetapi perannya belum mendapatkan spotlight. Vaughan tidak salah memberinya kesempatan lebih banyak dalam volume ini, karena alur ceritanya sendiri memang lebih ngalir dan tidak terkesan dipaksakan. Siapa yang sudah membaca dan tidak merasakan adrenalin mengalir deras melihat tatap muka antara Yorick dan Hero?

Volume ini lagi-lagi ditutup dalam sebuah cliffhanger. Memang wabah misterius tersebut sudah menyapu bersih para pria yang ada di bumi. Tetapi bagaimana dengan para astronot yang tengah berada di luar angkasa sana? Apa mereka juga terkena efek wabah tersebut?

Score: 9.9

Comic Details
Writer: Brian K. Vaughan
Penciller: Pia Guerra
Publisher: DC Comics (under Vertigo Imprints)
Volume: 6 – 10

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here