Saya sebenarnya penasaran kenapa The Maiden Heist tidak pernah dirilis di bioskop Amerika sana padahal dibintangi oleh tiga aktor gaek yang lumayan terkenal: Christopher Walken, Morgan Freeman, dan William H. Macy. Walau ketiganya jarang didapuk menjadi bintang utama sebuah film, ketiganya termasuk aktor yang konsisten dalam aktingnya. Seusai menonton filmnya saya jadi mafhum kenapa film ini tidak dilirik masuk ke bioskop. Apa yang melintas di benak kalian bila mendengar kata heist? Tentunya film-film berbudget besar macam trilogi Ocean ataupun The Italian Job bukan? Kalau tidak ingin kecewa, sebaiknya sebelum menonton The Maiden Heist, buang pemikiran seperti itu jauh-jauh.
Roger Barlow menghabiskan seumur hidupnya menjadi penjaga di sebuah museum. Bersama dengan istrinya, mereka mengumpulkan uang dan berharap bahwa suatu hari nanti bisa pergi berlibur ke Florida dengan uang tabungan mereka. Hari demi hari berlalu begitu saja bagi Roger yang mendapat penghiburan dengan melihat gambar The Lonely Maiden. Ada sesuatu dalam lukisan itu yang begitu hidup - dan membuat Roger jatuh hati kepada gadis di lukisan. Oleh karena keterikatannya pada lukisan itulah berita mendadak dari museum mengagetkannya.
Museum di mana Roger bekerja memutuskan untuk melego barang-barang ekshibisi mereka ke museum lain di Denmark. Hati Roger hancur mendengar bahwa lukisan favoritnya turut dilego ke sana. Di tengah keputusasaan, Roger menemukan bahwa ia tidak sendiri karena ada dua orang penjaga satpam malam sepertinya yang berat berpisah dengan barang seni favorit mereka: George dan Charles. Semua sudah bertahun-tahun bekerja di museum itu dan mereka bertiga memiliki kesamaan: tidak rela barang favorit mereka ditransfer ke Denmark. Sebab itu ketiganya mulai menyusun taktik untuk mencuri barang favorit mereka. Bagaimana caranya?
Seperti yang saya katakan tadi, kalau kalian sudah terbiasa dengan film heist dengan premise gila-gilaan seperti merampok kasino (Ocean’s Eleven) atau mencuri mobil dalam 60 detik (Gone in 60 Seconds), maka melihat The Maiden Heist yang berisi tiga orang tua (satunya suka telanjang pula) bersusah payah mencuri tiga barang seni mungkin akan terasa membosankan, apalagi karena The Maiden Heist menghabiskan terlalu banyak waktu memperkenalkan karakter-karakter film ini kepada kita dalam paruh pertamanya. Walaupun saya tidak sampai kebosanan, itu bukan berkat pacing cerita, tetapi berkat akting dan chemistry yang apik dari ketiga pemeran utamanya. Bila bukan karena mereka, mungkin saya sudah tidak selesai menonton film ini.
Bagian di mana The Maiden Heist mulai lucu dan (sedikit) menegangkan ada pada paruh keduanya. Di sini rencana pencurian yang dipersiapkan ketiganya sudah matang dan siap dilaksanakan. Tentu saja yang namanya praktek tidak akan segampang teori, dan ketiganya akan menghadapi masalah demi masalah saat pencurian mereka. Komedi dalam film ini untungnya tidak bergantung pada hal-hal jorok atau adegan-adegan slapstick yang berlebihan. Sebaliknya hampir semua kelucuan dalam film ini mengalir karena memang karakter dan situasinya tidak dibuat-buat seperti bisa terjadi karena miskomunikasi antar para karakter dalam film ini, atau pertentangan suami-istri yang salah tempat. Kita sebagai penonton pun diam-diam mengharapkan ketiganya berhasil dalam pencurian mereka sebab mereka kebanyakan diposisikan sebagai underdog sepanjang film.
Toh walaupun paruh keduanya saya nilai meningkat dibandingkan bagian pertamanya, masih juga tidak sempurna. Saya terutama geregetan pada endingnya yang kurang greget. Rasanya penyelesaian dari masalah yang ada dibuat terlalu mudah. Menonton sampai saat itu tentu telah menyadarkanku bahwa ini film bergenre komedi, bukan heist kriminal murni, tetapi tetap saja penyelesaiannya terasa terlalu digampangkan. Terlepas dari beberapa kekurangan minor yang ada, buat kalian yang gemar film komedi dan ingin mencoba film heist yang lain dari yang lain, tidak ada salahnya mencoba menonton film ini.
Note: Selain temanya yang tidak biasa, satu lagi alasan kenapa film ini tidak diedarkan di bioskop adalah karena Yari Film Group yang bertanggung jawab mendistribusikan film ini bangkrut sebelum ia dirilis
Score: 6.0
Movie Details
Director: Peter Hewitt
Cast: Christopher Walken, Morgan Freeman, William H. Macy
Running Time: 88 Minutes












