Tag Archive | "Heist"

Tags: , , , ,

The Maiden Heist

Posted on 10 January 2010 by Si Tukang Review

The Maiden Heist Poster

The Maiden Heist Poster

Saya sebenarnya penasaran kenapa The Maiden Heist tidak pernah dirilis di bioskop Amerika sana padahal dibintangi oleh tiga aktor gaek yang lumayan terkenal: Christopher Walken, Morgan Freeman, dan William H. Macy. Walau ketiganya jarang didapuk menjadi bintang utama sebuah film, ketiganya termasuk aktor yang konsisten dalam aktingnya. Seusai menonton filmnya saya jadi mafhum kenapa film ini tidak dilirik masuk ke bioskop. Apa yang melintas di benak kalian bila mendengar kata heist? Tentunya film-film berbudget besar macam trilogi Ocean ataupun The Italian Job bukan? Kalau tidak ingin kecewa, sebaiknya sebelum menonton The Maiden Heist, buang pemikiran seperti itu jauh-jauh.

Roger Barlow menghabiskan seumur hidupnya menjadi penjaga di sebuah museum. Bersama dengan istrinya, mereka mengumpulkan uang dan berharap bahwa suatu hari nanti bisa pergi berlibur ke Florida dengan uang tabungan mereka. Hari demi hari berlalu begitu saja bagi Roger yang mendapat penghiburan dengan melihat gambar The Lonely Maiden. Ada sesuatu dalam lukisan itu yang begitu hidup - dan membuat Roger jatuh hati kepada gadis di lukisan. Oleh karena keterikatannya pada lukisan itulah berita mendadak dari museum mengagetkannya.

Museum di mana Roger bekerja memutuskan untuk melego barang-barang ekshibisi mereka ke museum lain di Denmark. Hati Roger hancur mendengar bahwa lukisan favoritnya turut dilego ke sana. Di tengah keputusasaan, Roger menemukan bahwa ia tidak sendiri karena ada dua orang penjaga satpam malam sepertinya yang berat berpisah dengan barang seni favorit mereka: George dan Charles. Semua sudah bertahun-tahun bekerja di museum itu dan mereka bertiga memiliki kesamaan: tidak rela barang favorit mereka ditransfer ke Denmark. Sebab itu ketiganya mulai menyusun taktik untuk mencuri barang favorit mereka. Bagaimana caranya?

Seperti yang saya katakan tadi, kalau kalian sudah terbiasa dengan film heist dengan premise gila-gilaan seperti merampok kasino (Ocean’s Eleven) atau mencuri mobil dalam 60 detik (Gone in 60 Seconds), maka melihat The Maiden Heist yang berisi tiga orang tua (satunya suka telanjang pula) bersusah payah mencuri tiga barang seni mungkin akan terasa membosankan, apalagi karena The Maiden Heist menghabiskan terlalu banyak waktu memperkenalkan karakter-karakter film ini kepada kita dalam paruh pertamanya. Walaupun saya tidak sampai kebosanan, itu bukan berkat pacing cerita, tetapi berkat akting dan chemistry yang apik dari ketiga pemeran utamanya. Bila bukan karena mereka, mungkin saya sudah tidak selesai menonton film ini.

Bagian di mana The Maiden Heist mulai lucu dan (sedikit) menegangkan ada pada paruh keduanya. Di sini rencana pencurian yang dipersiapkan ketiganya sudah matang dan siap dilaksanakan. Tentu saja yang namanya praktek tidak akan segampang teori, dan ketiganya akan menghadapi masalah demi masalah saat pencurian mereka. Komedi dalam film ini untungnya tidak bergantung pada hal-hal jorok atau adegan-adegan slapstick yang berlebihan. Sebaliknya hampir semua kelucuan dalam film ini mengalir karena memang karakter dan situasinya tidak dibuat-buat seperti bisa terjadi karena miskomunikasi antar para karakter dalam film ini, atau pertentangan suami-istri yang salah tempat. Kita sebagai penonton pun diam-diam mengharapkan ketiganya berhasil dalam pencurian mereka sebab mereka kebanyakan diposisikan sebagai underdog sepanjang film.

Toh walaupun paruh keduanya saya nilai meningkat dibandingkan bagian pertamanya, masih juga tidak sempurna. Saya terutama geregetan pada endingnya yang kurang greget. Rasanya penyelesaian dari masalah yang ada dibuat terlalu mudah. Menonton sampai saat itu tentu telah menyadarkanku bahwa ini film bergenre komedi, bukan heist kriminal murni, tetapi tetap saja penyelesaiannya terasa terlalu digampangkan. Terlepas dari beberapa kekurangan minor yang ada, buat kalian yang gemar film komedi dan ingin mencoba film heist yang lain dari yang lain, tidak ada salahnya mencoba menonton film ini.

Note: Selain temanya yang tidak biasa, satu lagi alasan kenapa film ini tidak diedarkan di bioskop adalah karena Yari Film Group yang bertanggung jawab mendistribusikan film ini bangkrut sebelum ia dirilis

Score: 6.0

Movie Details
Director: Peter Hewitt
Cast: Christopher Walken, Morgan Freeman, William H. Macy
Running Time: 88 Minutes

Comments (2)

Tags: , , ,

Gone in 60 Seconds (2000)

Posted on 21 December 2009 by Si Tukang Review

Gone in 60 Seconds (2000) Poster

Gone in 60 Seconds (2000) Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2006)

Sudah merupakan rahasia umum bila nama Jerry Bruckheimer adalah jaminan sebuah film box office. Tilik saja catatan karya-karyanya: Armageddon, The Rock, Pirates of the Carribeans, National Treasure, dan banyak lagi. Sebagaimana halnya setiap sutradara kadang memiliki aktor favorit; favorit si produser Jerry Bruckheimer nampaknya Nicholas Cage. Terbukti sudah ada 4 karya kolaborasi mereka yang mencetak box office. The Rock; Con Air; National Treasure; dan tentu saja Gone In 60 Seconds. Untuk Gone In 60 Seconds, film ini cukup istimewa; karena menceritakan mengenai perampokan mobil (theft auto) secara stylish dan besar-besaran ala Jerry Bruckheimer.

Memphis Cage sudah insyaf dari dunia pencurian mobil. Dia tidak mau lagi melakukan pencurian seperti yang ia lakukan di masa lampau. Cukup sudah dengan urusan pencurian mobil. Kendati dia memang sangat mencintai aksi kebut-kebutan dan mobil yang ia anggap sebagai wanita; kematian silih berganti teman-temannya, ditambah dengan nyawanya yang selalu berada dalam bahaya membuatnya memilih jalan hidup sebagai orang biasa saja. Sayangnya; 6 tahun berlalu, sebuah masalah datang dan membuat ia harus memasuki dunia gelap ini sekali lagi. Adiknya: Kip Raine terlibat dalam pencurian mobil. Celakanya ia gagal dan kini nyawanya ada di ujung tanduk. Sang bos di mana adiknya bekerja itu menuntut penyediaan 50 mobil; atau Kip sekeluarga akan dihabisi. Memphis tentu kalang kabut; apalagi 50 mobil itu harus didapatkan dalam waktu 3 hari. Sebuah rencana besar-besaran pun ia siapkan. Ia kumpulkan kembali anggota-anggotanya yang dahulu; menyiapkan skema pencurian yang sempurna, dan hari Hnya pun tiba. Tentu saja tidak semudah itu; karena Detektif Castleback yang geregetan ingin menangkap Memphis selalu mengikuti mereka dalam segala situasi; siap menangkap mereka begitu ada kelalaian !

Film ini memiliki semua tanda tangan dari Jerry Bruckheimer. Gaya penceritaan yang lugas - cenderung tidak masuk akal; Tata pengambilan gambar ala MTV style; Karakterisasi yang bumi - menghangat - dan dengan segala keunikan mereka dapat mengeratkan diri dengan penonton; tentu saja ada sosok hero yang mumpuni serta karismatik dalam cerita. Gone In 60 Seconds memiliki semuanya! Gaya penceritaannya tidak usah diambil pusing; sudah barang tentu maling paling kaliber sekalipun tak dapat mencuri 50 mobil dalam semalam tanpa tertangkap. Karakter-karakter dalam film ini hadir dengan gaya mereka masing-masing dan semuanya tentu dapat diingat oleh penonton kendati aktor yang familiar mungkin hanyalah Nicholas Cage dan Angelina Jolie semata. Nicholas Cage juga tampil sebagai hero di sini dengan tabiat sebagai maling bertobat yang berjuang demi hidup sang adik. Terjepit antara dua pilihan. Angelina Jolie ? Entah mengapa porsinya dalam film ini terlalu diminimalisasi sehingga tak perlu artis sebeken Jolie untuk memerankan Sway.

Toh begitupun, bagi mereka yang menyenangi film ala Bruckheimer; ringan tanpa perlu memeras otak serta mementingkan style akan menggemari film ini. Film ini memang lebih bergaya heist daripada action murni. Sekuen action yang benar-benar terjadi cuma di saat-saat terakhir saat Memphis memacu mobil terakhir menuju tempat pengantaran. Di luar itu; plot cerita lebih bergerak ke arah bagaimana Memphis dan kawan-kawannya menyiapkan taktik untuk memperdayai polisi. Sekalipun sama-sama berasal dari Bruckheimer; toh ia berbeda dengan The Rock ataupun Con Air yang lebih menitikberatkan segi action. Gone in 60 Seconds pada akhirnya tampil sebagai film heist standard. Jangan terlalu mengharapkan kecerdikan plot heist ala The Italian Job atau Ocean’s Eleven dan anda takkan kecewa. It’s Bruckheimer; what do you expect ?

Score: 6.0

Movie Details
Director: Dominic Sena
Cast: Nicholas Cage, Angelina Jolie
Running Time: 117 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Public Enemies

Posted on 30 July 2009 by Si Tukang Review

Public Enemies Poster

Public Enemies Poster

Michael Mann adalah salah seorang sutradara favorit saya. Saya sudah nonton kebanyakan filmnya; mulai dari The Last of the Mohicans, Heat, Collateral, sampai Miami Vice. Salah satu ciri khas dari Mann adalah memakai dua aktor untuk berduet di filmnya. Dalam Heat ada Robert De Niro dan Al Pacino. Dalam Collateral ada Tom Cruise dan Jamie Foxx. Terakhir dalam Miami Vice ada duet Colin Farrell dan lagi-lagi Jamie Foxx. Setelah absen berkarya selama tiga tahun, Mann berencana mengangkat sebuah film semi-biografi mengenai salah seorang perampok bank paling terkenal di Amerika: John Dillinger.

Semula, karakter Dillinger hendak dimainkan oleh Leonardo DiCaprio. Rencana ini terpaksa diurungkan setelah DiCaprio memutuskan untuk syuting Shutter Island - film terbarunya Scorcese yang juga rilis di bulan Oktober 2009 nanti. Akhirnya peran Dillinger jatuh ke tangan Johnny Depp. Sebagai agen FBI yang memburu Dillinger, Melvin Purvis, diperankan oleh Christian Bale. Keduanya dikenal sebagai aktor watak yang berbakat dan saya masuk ke dalam gedung bioskop berharap dengan suguhan sekelas Heat.

Film dibuka dengan Dillinger yang membebaskan beberapa temannya dari penjara. Segera setelah ia membebaskan mereka, Dillinger memulai serial perampokan sukses yang membuat namanya tenar di bagian midwest Amerika - terutama Chicago. Dillinger sulit ditangkap FBI di jaman itu sebab para mafia selalu melindunginya. Tentu saja FBI juga panas melihat buruan mereka selalu kabur dari tangan mereka. Seorang agen berbakat: Melvin Purvis ditugaskan untuk menangkap Dillinger dengan cara apapun. Keduanya sekilas memiliki watak yang berbeda tetapi juga sama: berdedikasi pada pekerjaan mereka. Apa yang membuat Dillinger begitu berbeda dengan para bawahannya adalah karena ia tidak pernah puas akan uang yang dia curi. Yang ia kehendaki adalah menyusun bagaimana cara membobol satu demi satu bank. Di lain pihak, Purvis juga bersedia melakukan cara apapun juga guna membekuk Dillinger. Permainan kucing dan tikus pun dibuka, siapa yang pada akhirnya akan menang?

Walaupun Christian Bale memerankan Purvis dengan tegas, dingin, dan berdedikasi; sulit untuk dipungkiri bahwa bintang utama dalam film ini memang John Dillinger; sang Johnny Depp sendiri. Bagi kita yang tinggal di luar Amerika, nama Dillinger mungkin asing. Ini beda dengan para penonton Amerika. Bagi mereka, Dillinger adalah campuran sosok perampok eksentrik (maka disebut Public Enemies) ala Robin Hood modern. Sebabnya, saat itu bank Amerika mendapat dikecam habis-habisan karena dianggap gagal mengelola uang masyarakat Amerika. Antipati pada bank membuat Dillinger dianggap sebagai pahlawan yang berani menentang sistem. Dengan begitu banyaknya pendapat sejarah (dan cerita) soal Dillinger, saya salut bahwa Mann memutuskan untuk tidak berat sebelah dalam menyorot dirinya. Dillinger di film ini bukan penjahat yang kejam, bukan sosok Robin Hood yang membagi-bagi uang kepada masyarakat. Ia hanya manusia biasa yang memiliki hobi aneh tapi juga percaya diri dan cinta dengan hobinya itu. Oh, dan ia juga manusia biasa yang bisa jatuh cinta.

Satu hal lagi yang saya kagumi dalam film ini adalah totalitas mereka membangun setting tahun 30an. Detailnya mengagumkan! Perhatikan dari gaya busana, mobil, senjata, latar bangunan dan gedung theater sampai lagu yang dipakai semua datang dari era tersebut. Sekedar informasi saja: musik dalam film ini digubah oleh Elliot Goldenthal, sosok yang sama yang bertanggung jawab untuk musik dalam Heat. Bryan Burrough, pengarang buku non-fiksi yang merupakan dasar setting film ini pun turut memuji Public Enemies dan mengatakan bahwa film ini sudah sebisa mungkin berusaha mengikuti sejarah yang ada.

Buat kalian penggemar Johnny Depp atau Christian Bale, film Public Enemies tidak boleh kalian lewatkan. Tonton film ini untuk mencari tahu jawaban kenapa John Dillinger - walau hanya berkiprah selama kurang lebih setahun - merupakan sosok legendaris penuh kontroversi yang sukses memaksa FBI mengubah sistem hukum mereka.

Score: 7.7

Movie Details
Director: Michael Mann
Cast: Johnny Depp, Christian Bale, Marion Cotillard
Running Time: 130 Minutes

Comments (10)

Tags: , , ,

Duplicity

Posted on 19 July 2009 by Si Tukang Review

Duplicity Poster

Duplicity Poster

Saya selalu suka film-film heist yang cerdas. Film macam Inside Man atau Heat misalnya membantu membuat otak saya tetap bergerak ketika menonton film. Merupakan satu kebanggaan tersendiri ketika saya bisa menebak plot twistnya, dan merupakan kejutan yang menyenangkan bila sebuah film mampu menjungkir-balikkan perkiraanku. Duplicity adalah salah satu film seperti itu, menyajikan intrik-intrik penipuan kelas tinggi dibalut dengan drama asmara antara dua orang penipu yang terlibat di dalamnya.

Claire dan Ray pertama kali bertemu lima tahun sebelum film ini dimulai. Setelah Ray flirting dengan Claire, mereka berakhir dengan bercinta di kamar tidur. Kasihan buat si Ray, Claire adalah agen CIA yang menggunakan perasaan Ray untuk membiusnya lantas mengambil semua hasil penyelidikan Ray diam-diam. Ray - anggota MI6 - geram dan berusaha mencari tahu akan siapa sebenarnya si Claire. Lima tahun kemudian mereka bertemu kembali di New York saat Ray memulai pekerjaan barunya.

Keduanya kali ini tidak lagi menjadi agen pemerintah tetapi bekerja dalam satu grup pencari informasi (counter-intelligence). Equikrom dan Burkett & Randle adalah dua perusahaan kelas kakap yang selalu bersaing secara intens. Kedua pemiliknya, Howard dan Garsik saling benci dan saling berusaha mencari tahu kelemahan perusahaan lainnya. Ketika Howard selaku CEO Burkett & Randle menggelar konferensi intern perusahaan dan mengatakan bahwa ia akan menggarap produk baru yang mengubah pasaran, Garsik yang adalah CEO Equikrom jelas mencak-mencak.

Claire bertugas sebagai agen Equikrom yang menyelinap diam-diam di Burkett & Randle sementara Ray bertugas di balik layar memonitor aksi Claire. Tapi bagaimana mengenai perasaan mereka dari lima tahun yang lalu?

Jujur saja apa yang saya tulis di atas benar-benar hanya garis besar dari cerita film ini (bila saya tulis lebih dari ini sudah merupakan spoiler). Saran saya: jangan sekali-kali berkedip selama kamu menonton film ini. Tony Gilroy dengan cerdas meramu sebuah cerita yang benar-benar rumit di dunia intelegensi. Siapa yang bisa kamu percaya? Siapa yang tidak bisa kamu percaya? Selain memberi berbagai lapisan dan plot twist dalam ceritanya, Tony juga dengan cerdik bisa menyisipkan sebuah pertanyaan: bisakah ada cinta (yang membutuhkan kepercayaan) di antara dua agen yang terlibat di dunia penuh tipu muslihat ini?

Tentunya tema seperti ini tidak bisa sukses kalau tidak digawangi oleh pemain yang kompeten. Untungnya saja Clive Owen dan Julia Roberts adalah dua pemain watak yang unggulan. Menyaksikan bagaimana mereka berdialog menunjukkan bahwa mereka saling suka satu sama lain - tetapi juga takut untuk mengambil langkah lebih jauh mengingat keduanya juga bahwa mereka bisa saja ditipu oleh pihak lainnya. Chemistry keduanya unik - tidak seperti yang biasa kita tonton di film-film komedi romantis lainnya sehingga membuat kita tidak pernah tahu apakah mereka akan jadi pasangan atau justru musuh bebuyutan di akhir film. Selain keduanya, Tom Wilkinson dan Paul Giamatti juga sukses membuat penonton antipati dengan keduanya yang saling berseteru (tapi opening film yang menunjukkan mereka adu jotos secara slow-motion benar-benar kocak!).

Duplicity bukan film buat semua orang. Kalau kamu mengira Duplicity seperti film-film heist dengan plot sederhana dengan aksi-aksi ajaib seperti Ocean’s Trilogy - kamu salah besar. Kalau kamu suka film-film action macam Transformers yang bertujuan meledakkan semua barang di layar - lupakan film ini. Tapi kalau kamu suka film berat yang memacu otakmu berpikir atau menyukai film yang plotnya tidak kacangan serta bisa membuatmu melongo bergumam “oooo…” panjang di akhir film, nah, by all means please do watch this movie. It’s that entertaining.

Score: 7.9

Movie Details
Director: Tony Gilroy
Cast: Julia Roberts, Clive Owen, Tom Wilkinson, Paul Giamatti
Running Time: 125 Minutes

Comments (3)

Tags: , , ,

Inside Man

Posted on 18 July 2009 by Si Tukang Review

Inside Man Poster

Inside Man Poster

(Review Ditulis di Tahun 2006)

Nama Spike Lee sebagai sutradara sebuah film akan mulai kuperhatikan semenjak sekarang. Maklum saja, Inside Man adalah film yang paling memuaskan yang saya tonton hingga tengah tahun ini. Jalan ceritanya begitu solid dengan mengandalkan adu akting antara para pemainnya tanpa perlu dijejali adegan aksi beragam rupa. Maklum, karena ada tiga bintang besar beradu di sini (dan ada banyak juga yang tampil sebagai karakter pendukung).

Segalanya diawali dengan hari sibuk biasa di sebuah bank. Ketika semua orang tengah sibuk dengan transaksi mereka, mendadak saja ada empat orang yang datang dengan membawa senjata dan merampok bank tersebut. Alih-alih mengambil uang dan langsung meninggalkan tempat itu, mereka justru menjadikan 50 orang lebih dalam bank tersebut sebagai sandera. Jelas kepolisian menjadi panik dan langsung menerjunkan sebuah tim untuk menangani situasi tersebut.

Selagi berunding dengan para teroris yang menguasai tempat itu, perlahan demi perlahan makin banyak kejanggalan. Para teroris tersebut menuntut permintaan yang berlebihan dan absurd seperti penyediaan pesawat jet dan bus sebagai angkutan para sandera. Penyelidikan para polisi makin diperkeruh dengan turut campurnya Arthur Chase (sang pemilik bank yang disandera) karena kepentingannya sendiri. Apa yang sebenarnya adalah perampokan bank berkembang menjadi peristiwa penyanderaan - dan mungkin lebih dari sekedar itu.

Film ini adalah salah satu film heist terbaik yang pernah saya nikmati selama bertahun-tahun. Digarap dengan serius ditambah berbagai intrik di sana-sini dalam jalan ceritanya membuat saya berusaha menebak-nebak sepanjang film mengenai arah ceritanya (dan ini adalah satu dari sedikit film yang plintiran filmnya membuat saya tertipu). Plot yang menarik ini diperkuat juga dengan permainan ketiga aktornya yang padu. Beberapa kali ketiga aktor utama film ini saling beradu akting dan menampilkan performa yang kuat. Washington dan Foster, Foster dan Owen, Owen dan Washington diberi kesempatan yang sama untuk saling menunjukkan kualitas aktingnya (Foster sedikit kecil tetapi tetap mampu mencuri perhatian tiap diberi kesempatan). Satu-satunya yang saya sayangkan hanya Dafoe yang perannya terbilang minim bahkan untuk disebut sekedar sebagai peran pembantu.

Kendati demikian, Inside Man bukannya tidak memiliki kelemahan, beberapa teman saya mengeluhkan pace cerita yang bergerak terlalu lambat dan sedikitnya adegan action yang ada. Mereka yang terbiasa dengan adegan laga atau rencana heist sinting-sintingan ala Ocean Eleven misalnya, mungkin akan kecewa melihat heist dalam film ini yang berkesan sangat sederhana (namun di mata saya sekaligus membuatnya terlihat real). Akhir kata, film ini bukan untuk dinikmati oleh semua orang. Bagi kalian yang menggemari film yang memerlukan otak anda untuk berpikir niscaya akan menggemari film ini. Sebaliknya, mereka yang lebih menggemari film bertema action sebaiknya menghindari film ini ketimbang ketiduran saat menontonnya.

Score: 8.0

Movie Details
Director: Spike Lee
Cast: Denzel Washington, Clive Owen, Jodie Foster
Running Time: 129 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here