Tag Archive | "Hawkeye"

Tags: , , , , , ,

Ultimate Comics Avengers: The Next Generation

Posted on 23 April 2010 by Si Tukang Review

Ultimate Comics Avengers #1 Cover

Ultimate Comics Avengers #1 Cover

Di akhir Ultimatum – bahkan season ketiga The Ultimates sekalipun, saya sadar bahwa tim Avengers dunia Ultimate tidak akan pernah sama lagi. Terlalu banyak kerusakan yang dilakukan Jeph Loeb pada tim favorit saya ini. Dalam season ketiga The Ultimates, Loeb menghabisi Scarlet Witch. Di Ultimatum Ant Man, The Wasp, dan banyak – banyak jagoan lagi menjadi korban. Thor memang tidak tewas, tetapi ia harus turun ke dunia kematian untuk menebus nyawa sang kekasih. Ketika Ultimatum berakhir, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Bagaimana kiranya dunia ini bisa diselamatkan?

Joe Quesada memiliki jawabannya sendiri. Ia mengontak Mark Millar dan meminta orang yang menciptakan The Ultimates ini kembali lagi. Harapan saya sontak bangkit. Kalau ada satu orang yang saya harapkan bisa membalikkan keadaan ini, mengubah keputus-asaan menjadi harapan (lebay mode: on), orang itu adalah Mark Millar. Bukankah dia ini orang yang menggarap graphic novel Wanted? Yang menggarap Kick Ass? Tentunya dia bisa mengundo kerusakan yang dilakukan Jeph Loeb bukan? Jadi bagaimanakah story arc pertama yang ditanganinya ini?

Perubahan drastis terjadi dalam tubuh Avengers. Iron Man masih merasa bersalah ketika armornya diperalat oleh Magneto membunuh Wolverine (ini terjadi dalam Ultimatum) sehingga Tony menjadi pemabuk dan praktis tidak banyak berguna dalam Avengers. Grup baru ini bahkan sudah tidak dikepalai oleh Nick Fury melainkan Carol Danvers. Muka-muka lamanya paling hanya Hawkeye dan Captain America. Mereka digabungi banyak anggota-anggota baru tapi lama seperti Black Widow baru, Wasp baru, Hulk baru, dan War Machine yang mengambil posisi Iron Man. Di tengah kondisi tim yang masih belum kondusif, ancaman muncul dalam sosok Red Skull.

Red Skull ini adalah anak haram Captain America hasil hubungan intim dengan tunangannya sebelum Cap missing in action. Pada masa mudanya, Red Skull diambil oleh pemerintah Amerika dan dilatih supaya bisa menjadi Captain America berikutnya. Apa daya, walaupun ia anaknya, itu tidak berarti Red Skull mewarisi semangat kebangsaan sang ayah. Ia justru kabur setelah membantai semua ilmuwan di fasilitas penelitian tersebut dan menjadi mercenary kelas kakap. Sudah menghilang di balik layar bertahun-tahun lamanya, Red Skull muncul lagi sekarang dan mengincar Cosmic Cube, alat yang bisa mengubah realita dunia. Bisakah tim Avengers yang baru menghentikan ambisinya? Apakah Cap akan berduel dengan anaknya sendiri?

Entah kebetulan entah tidak, baru saja di review Out of Time sebelumnya saya juga membahas mengenai kisah Captain America yang berbasis Cosmic Cube. Dan dibandingkan penanganan Ed Brubaker, Mark Millar jauh lebih keteteran dalam membatasi kekuatan Cosmic Cube. Disebutkan oleh karakter-karakter dalam komik bahwa Cosmic Cube adalah sebuah alat yang sangat berbahaya, dan itu tidak hanya berlaku dalam konteks cerita tetapi juga pada penulis cerita. Dalam Out of Time, Brubaker menggambarkan Cosmic Cube sebagai alat yang maha daya tetapi juga sudah rusak parah sehingga kemampuannya dilimitasi. Di sini Cosmic Cube jelas berfungsi sempurna sehingga beberapa koreografi pertempurannya memaksa pembaca bertanya “Kenapa si penjahat tidak langsung saja mengharapkan para lakon hilang?“. Tadinya saya malahan setengah berharap kalau Millar bakalan menggunakan Cosmic Cube sebagai alat untuk merevisi kisah Ultimatum.

Di luar plot utamanya mengenai Cosmic Cube yang kurang sreg di hatiku, Mark Millar juga gagal memenangkan hatiku dengan line-up tim Avengers yang baru ini. Melihat mereka seperti melihat tiruan-tiruan dari karakter yang sebelumnya amat kusayangi. Hulk yang di sini warnanya abu dan bisa bicara (plus pengecut!)… bukankah itu versi Hulk yang paling gagal di lini utama Marvel? Dia bahkan bukan Bruce Banner tetapi sekedar tiruannya. Atau Black Widow baru yang adalah mantan istrinya Nick Fury. Mungkin harapan saya kelewat tinggi dan saya harus memberi waktu lebih banyak pada diri saya untuk beradaptasi dengan tim baru ini? Dinamika dalam tim ini memang menarik, tetapi untuk hal inipun saya rasa Millar sudah kelewatan. Avengers di sini lebih mirip gerombolan preman berkekuatan ketimbang superhero. Ingat bung Millar, ada kata ‘hero’; pahlawan dalam superhero, dan hanya dua karakter di sini yang saya lihat masih mempertahankan karakteristik itu: Hawkeye dan Captain America. Saya cemas Millar terlalu asyik bermain didaerah abu-abu dan lupa menunjukkan pada pembaca sisi heroik anggota-anggota baru ini.

Mark Millar mendapat partner in crime yang baru dalam serial ini. Bukan Bryan Hitch lagi yang menjadi duetnya berkisah tetapi Carlos Pacheco. Untungnya saja Pacheco membuktikan diri sebagai artis yang bisa mengimbangi visi gila Millar. Adegan pertarungan keroyokan Captain America melawan Avengers yang baru, atau bagaimana Avengers baru menghadapi Red Skull dijamin memuaskan penggemar komik maupun film aksi manapun. Semoga saja tren positif ini bisa diikuti oleh Leinil Yu yang ditugasi menjadi ilustrator utama story arc berikutnya.

So my verdict is… sementara story arc The Next Generation ini tidak buruk-buruk amat (jauh jauh lebih baik dari season tiga The Ultimates!), saya masih merasa ada yang kurang darinya dibanding dua season pertamanya. Akan tetapi ini sudah merupakan awal langkah yang benar. Semoga Marvel bisa tetap mempertahankan Mark Millar dalam serial ini.

Score: 7.3

Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Artist: Carlos Pacheco
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 06

Comments (3)

Tags: , , , , , , , ,

The Ultimates – The Complete Season Two

Posted on 15 September 2009 by Si Tukang Review

The Ultimates Volume Two Cover

The Ultimates Volume Two Cover

Setelah mini-seri pertama The Ultimates mendapatkan kesuksesan besar, Marvel tidak tinggal diam begitu saja. Mark Millar dan Bryan Hitch langsung dikontrak ulang untuk menggarap 13 edisi berikutnya. Antisipasi publik saat ini kian meningkat. Semua menanti dengan penasaran, apa lagi yang bakalan disuguhkan duet Millar dan Hitch kepada pembaca kali ini? Edisi pertamanya langsung menjadi rebutan dan terjual bak kacang goreng di mana-mana. Sayangnya, season kedua ini dikenal dengan satu problem besar: jadwal terbit yang tidak teratur. Salah satu penundaan yang saya ingat ketika itu membuat saya sangat frustasi adalah tertundanya edisi terbitan edisi ke 13 selama hampir setengah tahun! Pasalnya, Mark Millar saat itu juga menghelmi proyek crossover terbesar sepanjang sejarah Marvel; Civil War dan dipaksa untuk berkonsentrasi terhadap proyek itu terlebih dahulu. Toh, setelah kini membaca semua rentetan buku season kedua The Ultimates, saya tahu bahwa keputusan Marvel saat itu tepat. Ketimbang buru-buru merilis sebuah komik dengan kualitas yang timpang, lebih baik merilisnya dengan kualitas sempurna.

Pada akhir season pertamanya, The Ultimates sudah menjadi selebriti dunia. Superhero paling ngetop. Bagaimana tidak? Mereka menggagalkan serangan monster bernama The Hulk. Mereka juga menghentikan invasi dari para alien bernama Chitauri. Walaupun begitu, diam-diam para musuh sudah bekerja di balik layar untuk menjatuhkan The Ultimates. Korban paling pertama adalah Bruce Banner. Data dari SHIELD dibocorkan oleh pihak misterius ke pers. Pers yang mendesus bahwa The Hulk dan Bruce Banner adalah satu orang langsung memintanya dieksekusi mati. Demi menjaga nama baik pemerintah dan memutus hubungan dengan sang Hulk, Bruce terpaksa dihukum mati oleh sahabat-sahabatnya sendiri.

Itu tidak berakhir di sana. Masa lalu Thor terungkap. Dia ternyata bukan superhero ataupun anak dewa Odin seperti yang selalu ia ungkapkan. Ia hanya seorang pasien RSJ yang meloloskan diri sambil membawa palu berkekuatan listrik Mjolnir. Thor yang dituduh banyak pihak sinting tidak punya pilihan lain selain melawan para sahabatnya sendiri. Toh ketika The Ultimates mulai menyerang negara-negara asing, Thorlah yang paling vokal menyatakan keberatannya karena menganggap bahwa The Ultimates sudah menginvasi negara-negara tersebut. Sebelum Thor ditangkap pemerintah, ia terus memberikan peringatan. Katanya kenyataan dan realitas sudah diputarbalikkan oleh Loki. Sang saudara tiri Thor itu adalah dewa tukang tipu sejati. Apakah The Ultimates sudah terkena tipuannya? Atau jangan-jangan Thor memang sudah gila?

Hampir seperti season pertama, season kedua dalam The Ultimates kali ini juga terbagi dalam dua story arc, tetapi kali ini memiliki kaitan yang lebih berdekatan. Apabila sebelumnya perang melawan Hulk dan perang melawan Chitauri jelas terpisah, kali ini pertikaian di tubuh anggota The Ultimates sendiri seakan merupakan prolog menjelang rencana besar sang musuh. Hasilnya, 13 edisi season kali ini lebih dekat berkaitan satu sama lain. Mengingat Millar tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan karakter A itu siapa dan B itu siapa, maka ia langsung mengembangkan karakter-karakter tersebut dengan asumsi kita sudah membaca season pertamanya. Setiap karakter tetap mendapatkan spotlight yang sama, dan dua karakter Scarlet Witch dan Quicksilver yang sebelumnya lebih berposisi sebagai cameo kini masuk ke dalam deretan tim utama The Ultimates.

Mark Millar kali ini juga banyak memasukkan tema-tema politik dan agama. Ingat bahwa di tahun 2005 saat komik ini dirilis, publik Amerika banyak mendapat kecaman karena pasukan Amerika terus menginvasi daerah Timur Tengah (terutama Irak dan Afghanistan). Lebih dari itu Bush bahkan sembarangan menuduh Korut dan negara-negara tertentu sebagai ‘axis of evil’, sesuatu yang digambarkan secara gamblang oleh Millar di komik ini. Untuk referensi agamanya, Thor adalah analogi yang jelas dari sosok Yesus. Sama-sama mengaku sebagai anak Tuhan, dan sama-sama tidak dipercaya di masanya.

Saya tidak bisa banyak komentar tentang Bryan Hitch selain… luar biasa. Walaupun pada awalnya artworknya sedikit kedodoran (mungkin karena mengejar deadline?), Bryan Hitch adalah jaminan mutu bila ia memiliki cukup waktu untuk bekerja. Sebagai bukti adalah sepuluh halaman artwork yang menyambung satu sama lain membentuk landscape raksasa di edisi 13. Kalau saya di Amerika, saya jamin saya sudah membeli tiga edisi komik tersebut. Satu untuk saya robek halamannya dan jadikan poster di kamar, satu untuk saya simpan sebagai koleksi, sementara satu lagi untuk saya pamerkan kepada teman-teman saya. It’s that good.

Season kedua dari The Ultimates merupakan sebuah bukti bahwa sekuel tidak berarti lebih buruk dari prekuelnya. Walau saya tidak bilang bahwa season keduanya kali ini lebih baik dari season pertamanya, duet Millar dan Hitch lagi-lagi menyuguhkan sebuah komik superhero dengan drama politik dan plot twist yang cerdas. Membacanya lagi mengingatkan kenapa saya membenci Jeph Loeb yang menghancurkan dunia sempurna ini lewat garapannya di season ketiga The Ultimates dan Ultimatum.

Score: 9.5

Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Penciller: Bryan Hitch
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 13

Comments (0)

Tags: , , , , ,

The Ultimates – The Complete Season One

Posted on 14 September 2009 by Si Tukang Review

The Ultimates Volume 1 Cover

The Ultimates Volume 1 Cover

Bagi pengikut komik Marvel tentu tahu bahwa dunia Ultimate yang diciptakan penerbit tersebut disokong oleh empat komik: Ultimate Spider-man, Ultimate X-Men, Ultimate Fantastic Four, dan The Ultimates. Saya rasa semua pengikut komik juga tahu bahwa Ultimate X-Men dan Ultimate Fantastic Four tidak pernah bisa menyamai serial paralelnya di kontinuitas resmi Marvel. Beda halnya dengan Ultimate Spider-man dan The Ultimates. Saya sudah mereview Ultimate Spider-man menjelang direbootnya serial ini oleh Marvel. Kini adalah giliran The Ultimates.

Pada hakikatnya, The Ultimates adalah The Avengers versi dunia Ultimate. Setiap karakter yang dulu pernah tergabung dalam The Avengers pun tergabung dalam The Ultimates seperti Captain America, Iron Man, Thor, Wasp, Hulk, dan banyak lainnya. Mereka dikomandoi oleh pemimpin SHIELD sendiri; tidak lain dan tidak bukan Nick Fury. Berbeda dengan Ultimate Spider-man yang merombak banyak hal tentang Peter Parker (seperti menjadikannya seorang anak remaja kembali), The Ultimates hampir selaras dengan padanannya di kontinuitas resmi. Captain America masih pahlawan perang yang sempat menghilang selama puluhan tahun sebelum ditemukan kembali di es. Begitu juga dengan Iron Man masih Tony Stark yang pemabuk tetapi juga konglomerat playboy.

Kenapa saya menulis season pertama untuk The Ultimates? Karena format penerbitannya berbeda dengan tiga komik yang lain. The Ultimates diterbitkan dalam bentuk mini-seri 13 edisi dan ditangani oleh duet Mark Millar dan Bryan Hitch. Keduanya saling melengkapi dengan sempurna. Millar adalah jagonya menulis cerita superhero dengan konspirasi politik, tidak hanya itu ia juga piawai meramu adegan aksi yang menegangkan dan memacu adrenalin. Visi Millar yang kadang gila-gilaan ini kemudian dibawa hidup di kertas oleh goresan Hitch. Ciri khas dari Bryan Hitch adalah penggambaran karakter realistis dan penggambaran dengan sudut pandang yang mementingkan aksi. Gabungan keduanya ditambah format penerbitan The Ultimates membuat komik ini seperti serial TV. Saya harus jujur bahwa setelah mendengar Disney membeli Marvel saya langsung berharap bahwa The Ultimates bisa diangkat ke layar kaca, baik dalam bentuk animasi atau dalam bentuk live-action. Memang pada kenyataan serial dunia Ultimate ini lebih ‘mudah’ difilmkan. Terbukti beberapa unsurnya sudah diadaptasi di dunia film. Film Iron Man mengambil basis karakter Tony Starks dari dunia Ultimates, demikian pula dengan karakter Nick Fury yang diperankan oleh Samuel L. Jackson (sudah direferensikan dalam komiknya setengah bercanda!). Terakhir, adegan di mana Bruce Banner dijatuhkan dan dipaksa menjadi Hulk pun dijiplak mentah-mentah (dalam kondisi berbeda) dalam reboot film The Incredible Hulk tahun lalu.

Karena ini season pertama, Mark Millar tidak semata-mata langsung terjun dalam aksi-aksi. Dalam tiga komik pertamanya ia hanya menguraikan kepada kita mengenai pembentukan The Ultimates, ditemukannya Captain America, dan memperkenalkan kita kepada karakter-karakter penting lain dalam komik ini. Kita diajak untuk sekali lagi mengenali para karakter klasik yang diintepretasikan ala Millar. Setelah semua pion tersusun rapi, Millar tancap gas. Misi pertama yang harus dihadapi oleh The Ultimates adalah melawan Bruce Banner yang karena cemburu mengubah dirinya menjadi Hulk. Baru selesai masalah yang satu ini, ancaman lebih besar muncul. Makhluk alien bernama Chitauri diketahui sudah bersembunyi di balik manusia selama puluhan tahun lamanya dan berusaha untuk menguasai manusia. Setelah mengetahui keberadaan makhluk ini, The Ultimates pun bergerak menghentikan mereka – tapi bisakah mereka melawan musuh yang mereka sendiri tidak tahu siapa? Bila ini mengingatkan kalian pada Secret Invasion, itu karena nama lain dari Chitauri adalah Skrull; nama yang cukup familiar bukan? Toh bagi saya sendiri, The Ultimates season pertama jauh lebih berkualitas daripada Secret Invasion yang kebanyakan aksi tapi minim cerita maupun pengembangan karakter.

Tidak peduli apakah kamu pembaca komik mula-mula atau veteran, apabila kamu belum pernah membaca The Ultimates, hanya satu hal yang bisa kukatakan padamu: kamu kelewatan sebuah maha-karya!

Score: 9.5

Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Penciller: Bryan Hitch
Publisher: Marvel
Volume: 01 – 13

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Captain America and The Avengers (NES)

Posted on 02 August 2009 by Si Tukang Review

Captain America and The Avengers NES Cover

Captain America and The Avengers NES Cover

Salah satu game arcade yang paling berkesan bagiku adalah Captain America and The Avengers. Selain memiliki grafis dan gameplay ala komik (lengkap dengan kata-kata “POW” klasik di layar) dan keempat karakter Avengers yang bisa dimainkan (Captain America, Vision, Iron Man, juga Hawkeye. Selain keempatnya, beberapa anggota Avengers lain juga tampil sebagai cameo dalam game ini. Dengan segala elemen tersebut, game ini menjadi sebuah klasik yang juga diport ke Sega Genesis dan SNES. Hanya saja review Retro kali ini bukan untuk game klasik tersebut. Ada satu port lagi yang dilakukan oleh DataEast (developer game ini) untuk NES. Tapi dengan kapasitas NES yang terbatas tentu tidak mungkin mengemulasikan game arcadenya secara sempurna.

Perubahan paling mencolok yang terjadi adalah genre game ini yang berubah dari beat-em-up menjadi action sidescrolling. Sebenarnya saya tidak mengerti kenapa DataEast harus mengubah genrenya, toh NES bukan tidak mampu menangani genre beat-em-up. Ingat Battletoads maupun Double Dragon yang menyajikan game beat-em-up yang memuaskan? Toh action sidescrolling juga merupakan genre unggulan buat NES, jadi saya tidak mau banyak mengeluh soal ini.

Keluhan pertama saya datang ketika melihat karakter yang bisa mainkan. Karena poster promosi dan cover game ini sama dengan arcadenya, saya tertipu mengira bisa memainkan empat karakter. Boro-boro empat karakter, di awal saja disebutkan bahwa Mandarin mengalahkan Iron Man dan Vision sehingga karakter yang bisa kamu pakai hanyalah Captain America dan Hawkeye. Semula saya menyangka bahwa kamu mungkin bisa membebaskan Iron Man dan Vision di tengah game dan kemudian menjadikan mereka playable character juga. Harapan tinggal harapan. Sampai akhir game kamu hanya ‘terjebak’ dengan kedua karakter itu, plus Wasp yang kadang menceramahimu saat pergantian stage.

Lebih parahnya lagi, kedua karakter ini tidak berimbang. Captain America jauh jauh jauh lebih superior ketimbang Hawkeye. Kekuatan lemparan tamengnya jauh di atas tembakan panah Hawkeye. Peluru musuh juga mental bila mengenai tamengnya. Cap juga bisa melakukan super dash yang membuat ia kebal sejenak serta bisa menyerang musuh. Praktis kamu bakalan sering memakai Cap ketimbang Hawkeye untuk melalui level-level yang sulit. Satu-satunya kelebihan Hawkeye adalah ia bisa menembak dengan sudut miring, sesuatu yang tidak bisa dilakukan Cap, tapi tidak banyak berguna juga.

Nah, sistem levelnya sialnya lebih menganjurkanmu untuk bermain secara bergantian. Kamu akan mengakses kota-kota dalam map Amerika dan untuk bergerak ke kota lain kamu harus melewati musuh-musuh yang ada dalam kota tersebut. Keuntungan bila kamu memajukan kedua karaktermu bersama-sama adalah bila sampai salah satu karaktermu mati, karakter yang lain bisa melanjutkan tanpa perlu mengulangi dari level-level awal lagi. Bicara soal levelnya, game ini cukup repetitif. Sering kali kamu mengulangi dua hingga tiga stage dengan design yang sama PERSIS hanya dengan warna dan variasi musuh yang berbeda. Ini berbeda dengan stage di game Sonic atau Mario misalnya yang satu dunia satu tema tetapi tiap levelnya berbeda design. Dalam game ini kamu seakan-akan mengulangi level yang sama hanya dengan warna yang berbeda! DataEast seakan ingin memperpanjang waktu main game ini dengan menduplikat level-level yang ada.

Saya rasa kalian sudah tahu bagaimana perasaan saya mengenai game ini. Ketimbang mencari dan memainkan versi inferior ini, lebih baik tiup debu di cartridge SNES / SEGAmu dan mainkan versi superior dari Captain America and The Avengers. AVENGERSSSS… ASSEMBLEEE!!!

Final Verdict

Gameplay: 4.5
Walaupun action sidescrolling, musuhnya terasa kurang greget. Permainan pun terasa kering dan membosankan. Temponya berbeda total dengan versi Arcadenya yang cepat dan seru. Lebih parah lagi, kedua karakter yang disediakan timpang.

Graphic / Sound: 3.0
Memakai ulang level yang sama adalah hal yang benar-benar memalukan DataEast! Kemudian sprite character Cap dan Hawkeye cukup bagus untuk jaman itu, tetapi sedikitnya variasi musuh yang dilempar game ini pada kita sangat mengecewakan.

Play Time: 2.0
Sekalipun kamu penggemar berat grup superhero Marvel ini, rasanya kamu tidak akan tahan memainkan game ini lama-lama. Saya ingat muak memainkannya ketika saya SD dulu dan mengulanginya sekarang membangkitkan kenangan buruk tersebut.

Overall: 3.1

Game Details
Developer: DataEast
Publisher: DataEast
Genre: Action Sidescrolling
System: NES

Comments (2)

Advertise Here
Advertise Here