Di akhir Ultimatum – bahkan season ketiga The Ultimates sekalipun, saya sadar bahwa tim Avengers dunia Ultimate tidak akan pernah sama lagi. Terlalu banyak kerusakan yang dilakukan Jeph Loeb pada tim favorit saya ini. Dalam season ketiga The Ultimates, Loeb menghabisi Scarlet Witch. Di Ultimatum Ant Man, The Wasp, dan banyak – banyak jagoan lagi menjadi korban. Thor memang tidak tewas, tetapi ia harus turun ke dunia kematian untuk menebus nyawa sang kekasih. Ketika Ultimatum berakhir, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Bagaimana kiranya dunia ini bisa diselamatkan?
Joe Quesada memiliki jawabannya sendiri. Ia mengontak Mark Millar dan meminta orang yang menciptakan The Ultimates ini kembali lagi. Harapan saya sontak bangkit. Kalau ada satu orang yang saya harapkan bisa membalikkan keadaan ini, mengubah keputus-asaan menjadi harapan (lebay mode: on), orang itu adalah Mark Millar. Bukankah dia ini orang yang menggarap graphic novel Wanted? Yang menggarap Kick Ass? Tentunya dia bisa mengundo kerusakan yang dilakukan Jeph Loeb bukan? Jadi bagaimanakah story arc pertama yang ditanganinya ini?
Perubahan drastis terjadi dalam tubuh Avengers. Iron Man masih merasa bersalah ketika armornya diperalat oleh Magneto membunuh Wolverine (ini terjadi dalam Ultimatum) sehingga Tony menjadi pemabuk dan praktis tidak banyak berguna dalam Avengers. Grup baru ini bahkan sudah tidak dikepalai oleh Nick Fury melainkan Carol Danvers. Muka-muka lamanya paling hanya Hawkeye dan Captain America. Mereka digabungi banyak anggota-anggota baru tapi lama seperti Black Widow baru, Wasp baru, Hulk baru, dan War Machine yang mengambil posisi Iron Man. Di tengah kondisi tim yang masih belum kondusif, ancaman muncul dalam sosok Red Skull.
Red Skull ini adalah anak haram Captain America hasil hubungan intim dengan tunangannya sebelum Cap missing in action. Pada masa mudanya, Red Skull diambil oleh pemerintah Amerika dan dilatih supaya bisa menjadi Captain America berikutnya. Apa daya, walaupun ia anaknya, itu tidak berarti Red Skull mewarisi semangat kebangsaan sang ayah. Ia justru kabur setelah membantai semua ilmuwan di fasilitas penelitian tersebut dan menjadi mercenary kelas kakap. Sudah menghilang di balik layar bertahun-tahun lamanya, Red Skull muncul lagi sekarang dan mengincar Cosmic Cube, alat yang bisa mengubah realita dunia. Bisakah tim Avengers yang baru menghentikan ambisinya? Apakah Cap akan berduel dengan anaknya sendiri?
Entah kebetulan entah tidak, baru saja di review Out of Time sebelumnya saya juga membahas mengenai kisah Captain America yang berbasis Cosmic Cube. Dan dibandingkan penanganan Ed Brubaker, Mark Millar jauh lebih keteteran dalam membatasi kekuatan Cosmic Cube. Disebutkan oleh karakter-karakter dalam komik bahwa Cosmic Cube adalah sebuah alat yang sangat berbahaya, dan itu tidak hanya berlaku dalam konteks cerita tetapi juga pada penulis cerita. Dalam Out of Time, Brubaker menggambarkan Cosmic Cube sebagai alat yang maha daya tetapi juga sudah rusak parah sehingga kemampuannya dilimitasi. Di sini Cosmic Cube jelas berfungsi sempurna sehingga beberapa koreografi pertempurannya memaksa pembaca bertanya “Kenapa si penjahat tidak langsung saja mengharapkan para lakon hilang?“. Tadinya saya malahan setengah berharap kalau Millar bakalan menggunakan Cosmic Cube sebagai alat untuk merevisi kisah Ultimatum.
Di luar plot utamanya mengenai Cosmic Cube yang kurang sreg di hatiku, Mark Millar juga gagal memenangkan hatiku dengan line-up tim Avengers yang baru ini. Melihat mereka seperti melihat tiruan-tiruan dari karakter yang sebelumnya amat kusayangi. Hulk yang di sini warnanya abu dan bisa bicara (plus pengecut!)… bukankah itu versi Hulk yang paling gagal di lini utama Marvel? Dia bahkan bukan Bruce Banner tetapi sekedar tiruannya. Atau Black Widow baru yang adalah mantan istrinya Nick Fury. Mungkin harapan saya kelewat tinggi dan saya harus memberi waktu lebih banyak pada diri saya untuk beradaptasi dengan tim baru ini? Dinamika dalam tim ini memang menarik, tetapi untuk hal inipun saya rasa Millar sudah kelewatan. Avengers di sini lebih mirip gerombolan preman berkekuatan ketimbang superhero. Ingat bung Millar, ada kata ‘hero’; pahlawan dalam superhero, dan hanya dua karakter di sini yang saya lihat masih mempertahankan karakteristik itu: Hawkeye dan Captain America. Saya cemas Millar terlalu asyik bermain didaerah abu-abu dan lupa menunjukkan pada pembaca sisi heroik anggota-anggota baru ini.
Mark Millar mendapat partner in crime yang baru dalam serial ini. Bukan Bryan Hitch lagi yang menjadi duetnya berkisah tetapi Carlos Pacheco. Untungnya saja Pacheco membuktikan diri sebagai artis yang bisa mengimbangi visi gila Millar. Adegan pertarungan keroyokan Captain America melawan Avengers yang baru, atau bagaimana Avengers baru menghadapi Red Skull dijamin memuaskan penggemar komik maupun film aksi manapun. Semoga saja tren positif ini bisa diikuti oleh Leinil Yu yang ditugasi menjadi ilustrator utama story arc berikutnya.
So my verdict is… sementara story arc The Next Generation ini tidak buruk-buruk amat (jauh jauh lebih baik dari season tiga The Ultimates!), saya masih merasa ada yang kurang darinya dibanding dua season pertamanya. Akan tetapi ini sudah merupakan awal langkah yang benar. Semoga Marvel bisa tetap mempertahankan Mark Millar dalam serial ini.
Score: 7.3
Graphic Novel Details
Writer: Mark Millar
Artist: Carlos Pacheco
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 06











