Tag Archive | "Grant Morisson"

Tags: , , , , ,

Final Crisis

Posted on 10 February 2009 by Si Tukang Review

Final Crisis Cover

Final Crisis Cover

Writer: Grant Morisson
Penciller: JG Jones, Doug Mahnke
Publisher: DC Comics

Ketika rumor Final Crisis pertama kali muncul, banyak pihak (termasuk saya) heran dengan keputusan DC. Apa ya alasan dari DC mengadakan sebuah krisis besar-besaran lagi? Bukankah dari Crisis on Infinite Earths dan Infinite Crisis (dua krisis terbesar di dunia DC) saja memakan waktu hampir 20 tahun lamanya? Kenapa mendadak mereka membuat krisis lain dalam waktu kurang dari dua tahun?

Jawabannya sebenarnya bisa ditilik posisi industri DC di Amerika saat ini. Walaupun DC memiliki superhero-superhero besar seperti Superman, Batman, dan Wonder Woman, pangsa pasar mereka setelah Infinite Crisis selesai terus tergerus oleh Marvel. Marvel dan DC yang penjualannya biasanya berimbang sekarang sudah banyak berubah. Marvel makin banyak menjual komik, sementara DC yang proyeknya gagal satu dan lainnya terus ditinggalkan penggemarnya.

DC mengharapkan Final Crisis bisa mengubah hal itu dan merilis epik mingguan berjudul Countdown (yang diharapkan menghitung mundur satu tahun menuju Final Crisis). Hasilnya malah lebih berantakan lagi. Countdown dicaci-maki hampir setiap kritikus komik karena plotnya yang dianggap tidak koheren, karakterisasi yang lemah, dan dituding berusaha aji mumpung dengan kesuksesan serial mingguan 52. Buntutnya adalah Final Crisis ikut-ikutan kena imbas negatifnya. Sampai-sampai Dan DiDio sebagai eksekutif DC dan Grant Morisson selaku penulis utama Final Crisis menyatakan bahwa Countdown tidak lagi akan tersangkut paut dengan Final Crisis.

Dengan begitu banyaknya masalah (dan gencar-gencarnya promosi Secret Invasion dari saingan mereka: Marvel), DC tetap pede meluncurkan Final Crisis yang ditangani oleh tim Grant Morisson dan JG Jones (dengan bantuan tim artis Carlos Pacheco, Doug Mahnke, Christian Alamy, dan Marco Rudy). Sesuai dugaan banyak orang, Final Crisis ‘gagal’ berbicara dan kalah pamor dibandingkan Secret Invasion. Toh, produk yang kalah jualan bukan berarti kalah kualitas. Bagaimana kualitas dari Final Crisis sendiri?

Kalau boleh jujur, mereka yang gemar membaca komik saja membaca Final Crisis mungkin bakalan kebingungan dengan ceritanya. Grant Morisson memang memasukkan begitu banyak unsur yang kurang ‘terkenal’ di DC dalam komik ini. Mungkin pembaca setia DC masih tahu siapa itu Darkseid dan Monitor, tetapi Fourth World? New Gods? Dark Monitor? Anti-Life Equation? Libra? Duh, bahkan kepala saya sakit berusaha menjelaskan cerita dalam Final Crisis secara singkat. Intinya sederhana – seperti yang dikatakan oleh Morisson – Final Crisis mengisahkan apa jadinya apabila dunia telah jatuh di tangan para penjahat. Oleh sebab itu, ia diberi tajuk “The Day Evil Won“.

Sayangnya, pacing dalam Final Crisis kurang teratur. Dari tiga buku pertamanya saja Darkseid belum bergerak, tetapi mendadak waktu dilompat beberapa bulan kemudian di mana Darkseid sudah berkuasa. Walhasil, greget di mana para pahlawan harus bersatu untuk menghadapi Darkseid menjadi berkurang. Ini diperparah dengan absennya trinitas DC (Superman, Batman, dan Wonder Woman) di sebagian besar, padahal notabene mereka bertiga merupakan satu-satunya kekuatan yang sanggup menghadapi Darkseid.

Banyak pihak, termasuk IGN, memuji Final Crisis sebagai karya crossover yang tidak lazim. Berbeda dengan karya-karya crossover belakangan yang asyik mengumbar adegan laga, Final Crisis lebih menunjukkan bagaimana usaha mati-matian para superhero tersisa untuk bertahan dari gempuran dewa kegelapan. Inilah bagian yang paling saya nikmati di Final Crisis, dan saya heran dengan Grant Morisson yang tidak mau memperpendek pembukaannya untuk difokuskan pada aksi survival para superhero.

Sekali lagi kelemahan utama dari crossover DC kentara di sini: sulit diikuti. Alasan kenapa DC selama ini sulit diikuti adalah terlalu panjangnya sejarah yang mereka miliki. Kendati Crisis on Infinite Earths dan Infinite Crisis selalu dinyatakan ‘mereset’ DC Universe, pada kenyataannya apa yang terjadi sebelum krisis-krisis itu tetap berpengaruh pada dunia DC yang sekarang (kalau kamu tidak pernah membaca Crisis on Infinite Earths misalnya – nama Monitor tidak akan berarti apapun bagimu). Sebagai pembuktian dari statement saya: silahkan sodorkan crossover DC macam Infinite Crisis atau Final Crisis dan crossover Marvel seperti World War Hulk atau Civil War pada para pembaca baru. Saya kok yakin para pembaca baru akan langsung ngeh dengan crossovernya Marvel ketimbang DC.

Walhasil, saya menutup review ini dengan perasaan campur aduk. Ada titik-titik brilian dalam Final Crisis, terutama pada suasana angst dan kelam di sepanjang komik yang tergambar sempurna oleh penuturan Morisson, tetapi sayangnya kebrilianan ini tersapu dalam cerita yang begitu ruwet dan membutuhkan pembacaan berulang-ulang pada cerita utama (dan seabreg tie-in yang tersedia) untuk bisa dimengerti dan diapresiasi sepenuhnya.

Score: 6.8

Comments (9)

Advertise Here
Advertise Here