“Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah”
Lagu yang pernah dinyanyikan mendiang Chrisye ini rasanya pas untuk merangkum kisah Ocean Waves. Sebenarnya saya sempat ragu untuk memasukkan film ini di dalam bagian Studio Ghibli Marathon-ku dikarenakan Ocean Waves tak pernah dirilis di layar lebar tetapi hanya sebagai film langsung tayang di TV. Hayao Miyazaki dan Isao Takahata pun hanya bertindak di belakang layar sehingga menambah keraguan saya akan film ini. Maklum deh, dua film Studio Ghibli yang tidak ditangani mereka: The Cat Returns dan Whisper of the Heart gagal memenangkan hati saya. Hati saya semakin ketar-ketir ketika mencari info mengenai film ini dan menemukan bahwa ia digarap oleh sekumpulan orang-orang muda berusia 20 hingga 30 tahunan. Apa hasilnya bisa memuaskan?
Ketika sekolah di sebuah kota kecil Jepang Kochi kedatangan seorang siswi pindahan dari Tokyo, semua orang menjadi ikut memperhatikannya; apalagi karena gadis bernama Rikako Muto ini memang sangat menawan hati. Taku Morisaki, tokoh utama dalam cerita ini, sudah melulu dicurhati oleh temannya Yutaka Matsuno yang jatuh hati pada Rikako. Demi menghormati perasaan sahabatnya itu, Taku sebisa mungkin berusaha untuk tidak terlalu banyak mendekati Rikako. Sial bagi Taku, Rikako justru mendadak saja mencarinya tanpa sebab saat liburan sekolah di Hawaii karena ingin meminjam uang dari Taku.
Melihat Rikako kehilangan uangnya, Taku tidak tega dan meminjamkan 60.000 Yen padanya. Sial buat Taku yang baik hati, tanpa tahu terima kasih, Risako malah tidak mengembalikan uang itu. Taku yang tidak enak hati karena menganggap Risako lupa juga tidak berani menagih. Betapa berang dirinya ketika beberapa minggu kemudian ia dilapori bahwa Risako hendak pergi ke Tokyo dengan tiket pesawat terbang yang dibeli dengan uang pinjaman dari Taku! Apa yang kemudian terjadi? Apakah Rikako akan memilih antara Taku dan Yutaka? Bagaimanakah kehadiran Rikako kemudian akan mempengaruhi persahabatan keduanya?
Seperti halnya beberapa animasi Ghibli yang diadaptasi dari media novel, Ocean Waves ini diangkat dari novel berjudul Umi ga Kikoeru karangan Saeko Himuro. Walaupun namanya tidak dikenal di luar negaranya, Saeko Himuro adalah salah seorang penulis populer di Jepang yang karyanya tidak hanya diangkat jadi anime tetapi juga drama radio, manga, sampai film. Ocean Waves memang sebuah film yang bisa memotret kehidupan sekolah dengan sangat brilian. Beberapa kali saya tersenyum dengan penuh rasa nostalgia melihat adegan-adegan dalam film ini, terkenang akan cinta monyet yang pernah saya alami juga kejadian-kejadian yang saya alami dulu semasa SMU / kuliah (sekaligus mengingat kenapa yang namanya air mata itu menjadi senjata paling ampuh wanita meluluhkan hati seorang pria).
Beberapa tahun yang lalu pernah ada sebuah serial manga romantis yang cukup ngetop di Indonesia berjudul Salad Days. Bila kamu senang dengan serial manga tersebut (atau Boys Be), Ocean Waves adalah satu film Studio Ghibli yang tidak boleh kamu lewatkan. Ia tidak menawarkan nilai fantasi seperti filmnya Miyazaki atau pesan sosial mendalam seperti filmnya Takahata, tetapi Ocean Waves adalah sebuah perjalanan penuh rasa nostalgia pada saat di mana dunia terasa masih begitu ribet dengan sekolah dan cinta dan masa depan yang belum jelas; sekaligus saat di mana seorang pria rela mengorbankan dunia untuk memenangkan hati seorang wanita.
Note: Sebelum diimpor ke Amerika, Studio Ghibli tidak mentranslasikan judulnya sehingga film ini juga dikenal dengan terjemahan harafiah bahasa Jepangnya: I Can Hear The Sea (jujur saja, saya tidak tahu apa sangkut paut judul dengan isi filmnya). Saeko Himuro juga mengarang sebuah novel lanjutannya dengan judul Umi ga Kikoeru II: Because There Is Love yang sekaligus menjadi karya novel terakhirnya sebelum meninggal karena kanker paru-paru tahun 2008 lalu.
Score: 8.2
Movie Details
Director: Tomomi Mochizuki
Cast: Nobuo Tobita, Toshihiko Seki, Yoko Sakamoto
Running Time: 72 Minutes

















