Tag Archive | "Ghibli"

Tags: , , ,

Ocean Waves (I Can Hear The Sea)

Posted on 27 January 2010 by Si Tukang Review

Ocean Waves Poster

Ocean Waves Poster

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah

Lagu yang pernah dinyanyikan mendiang Chrisye ini rasanya pas untuk merangkum kisah Ocean Waves. Sebenarnya saya sempat ragu untuk memasukkan film ini di dalam bagian Studio Ghibli Marathon-ku dikarenakan Ocean Waves tak pernah dirilis di layar lebar tetapi hanya sebagai film langsung tayang di TV. Hayao Miyazaki dan Isao Takahata pun hanya bertindak di belakang layar sehingga menambah keraguan saya akan film ini. Maklum deh, dua film Studio Ghibli yang tidak ditangani mereka: The Cat Returns dan Whisper of the Heart gagal memenangkan hati saya. Hati saya semakin ketar-ketir ketika mencari info mengenai film ini dan menemukan bahwa ia digarap oleh sekumpulan orang-orang muda berusia 20 hingga 30 tahunan. Apa hasilnya bisa memuaskan?

Ketika sekolah di sebuah kota kecil Jepang Kochi kedatangan seorang siswi pindahan dari Tokyo, semua orang menjadi ikut memperhatikannya; apalagi karena gadis bernama Rikako Muto ini memang sangat menawan hati. Taku Morisaki, tokoh utama dalam cerita ini, sudah melulu dicurhati oleh temannya Yutaka Matsuno yang jatuh hati pada Rikako. Demi menghormati perasaan sahabatnya itu, Taku sebisa mungkin berusaha untuk tidak terlalu banyak mendekati Rikako. Sial bagi Taku, Rikako justru mendadak saja mencarinya tanpa sebab saat liburan sekolah di Hawaii karena ingin meminjam uang dari Taku.

Melihat Rikako kehilangan uangnya, Taku tidak tega dan meminjamkan 60.000 Yen padanya. Sial buat Taku yang baik hati, tanpa tahu terima kasih, Risako malah tidak mengembalikan uang itu. Taku yang tidak enak hati karena menganggap Risako lupa juga tidak berani menagih. Betapa berang dirinya ketika beberapa minggu kemudian ia dilapori bahwa Risako hendak pergi ke Tokyo dengan tiket pesawat terbang yang dibeli dengan uang pinjaman dari Taku! Apa yang kemudian terjadi? Apakah Rikako akan memilih antara Taku dan Yutaka? Bagaimanakah kehadiran Rikako kemudian akan mempengaruhi persahabatan keduanya?

Seperti halnya beberapa animasi Ghibli yang diadaptasi dari media novel, Ocean Waves ini diangkat dari novel berjudul Umi ga Kikoeru karangan Saeko Himuro. Walaupun namanya tidak dikenal di luar negaranya, Saeko Himuro adalah salah seorang penulis populer di Jepang yang karyanya tidak hanya diangkat jadi anime tetapi juga drama radio, manga, sampai film. Ocean Waves memang sebuah film yang bisa memotret kehidupan sekolah dengan sangat brilian. Beberapa kali saya tersenyum dengan penuh rasa nostalgia melihat adegan-adegan dalam film ini, terkenang akan cinta monyet yang pernah saya alami juga kejadian-kejadian yang saya alami dulu semasa SMU / kuliah (sekaligus mengingat kenapa yang namanya air mata itu menjadi senjata paling ampuh wanita meluluhkan hati seorang pria).

Beberapa tahun yang lalu pernah ada sebuah serial manga romantis yang cukup ngetop di Indonesia berjudul Salad Days. Bila kamu senang dengan serial manga tersebut (atau Boys Be), Ocean Waves adalah satu film Studio Ghibli yang tidak boleh kamu lewatkan. Ia tidak menawarkan nilai fantasi seperti filmnya Miyazaki atau pesan sosial mendalam seperti filmnya Takahata, tetapi Ocean Waves adalah sebuah perjalanan penuh rasa nostalgia pada saat di mana dunia terasa masih begitu ribet dengan sekolah dan cinta dan masa depan yang belum jelas; sekaligus saat di mana seorang pria rela mengorbankan dunia untuk memenangkan hati seorang wanita.

Note: Sebelum diimpor ke Amerika, Studio Ghibli tidak mentranslasikan judulnya sehingga film ini juga dikenal dengan terjemahan harafiah bahasa Jepangnya: I Can Hear The Sea (jujur saja, saya tidak tahu apa sangkut paut judul dengan isi filmnya). Saeko Himuro juga mengarang sebuah novel lanjutannya dengan judul Umi ga Kikoeru II: Because There Is Love yang sekaligus menjadi karya novel terakhirnya sebelum meninggal karena kanker paru-paru tahun 2008 lalu.

Score: 8.2

Movie Details
Director: Tomomi Mochizuki
Cast: Nobuo Tobita, Toshihiko Seki, Yoko Sakamoto
Running Time: 72 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

The Cat Returns

Posted on 23 January 2010 by Si Tukang Review

The Cat Returns Poster

The Cat Returns Poster

Setelah beberapa saat berhenti dari marathon Studio Ghibli (karena satu dan berbagai hal, marathon ini sempat tertunda selama lebih dari dua bulan), kini saya kembali melanjutkan marathon nonton ini. Yang pertama saya tonton adalah The Cat Returns / Neku no Ongaeshi. Entah kenapa saya memilih film ini. Mungkin karena ada kata ‘Return’ yang secara simbolis memaknai kembali berlanjutnya marathon ini?

Ingatkah kalian akan film Whisper of the Heart yang sempat kureview beberapa saat lalu? Film tersebut mengisahkan kehidupan seorang gadis bernama Shizuku yang gemar menulis. Karya pertama gadis muda ini berkutat mengenai petualangannya dengan seekor kucing (terinspirasi dari patung kucing) bernama Baron. Bagian yang sebenarnya hanya berlangsung selama beberapa menit ini ternyata mendapatkan sambutan meriah sekaligus mengangkat tokoh Baron sebagai tokoh yang disenangi oleh penonton. Karena melihat tingginya animo akan sosok Baron, Studio Ghibli pun mengumumkan bahwa mereka akan membuat film pendek mengenai kisah petualangan Baron. Dalam pengembangannya, Hayao Miyazaki kemudian memutuskan untuk memperbesar proyek ini menjadi sebuah film penuh. Mengingat pada saat itu ini akan menjadi film pertama Studio Ghibli setelah memenangkan penghargaan film animasi terbaik tahun 2001 di ajang Academy Award (melalui film Spirited Away) maka harapan setinggi langit disematkan pada film ini.

Haru, protagonis utama dalam cerita ini, adalah seorang gadis yang baik hati tetapi sedikit pemalu dan kurang bisa tegas. Sifatnya yang terkadang plin-plan dan kelewat baik ini kemudian malahan membawa petaka bagi dirinya. Saat melihat seekor kucing hampir tertabrak mobil, kebaikan Haru membuatnya menyelamatkan nyawa sang kucing. Sang kucing pun selamat dan ajaibnya mengatakan terima kasih kepada Haru. Haru kaget bukan kepalang dan tahu-tahu kucing itu sudah berlalu. Baru saja Haru menyangka bahwa ia sedang bermimpi, malamnya ia didatangi oleh rombongan para kucing yang ingin berterima kasih pada Haru. Rupa-rupanya kucing yang diselamatkannya tadi adalah pangeran dari kerajaan kucing.

Rasa terima kasih dari kerajaan kucing bukannya membuat Haru senang malah membuatnya tambah pusing. Seperti bagaimana para kucing mengiriminya puluhan tikus sebagai hadiah sampai kemudian mengajaknya pergi ke kerajaan kucing guna dijodohkan dengan sang pangeran kucing yang tadinya ia selamatkan! Apakah Haru akan berubah menjadi kucing dan selamanya tinggal di dunia para kucing? Atau akankah ia bisa tumbuh dewasa dan memiliki kemauannya sendiri?

Beberapa kali dalam review saya sebelumnya, saya suka mengeluhkan sebuah film yang terlalu panjang sehingga terasa bertele-tele. Untuk The Cat Returns justru sebaliknya; saya merasa bahwa film ini terasa terlalu cepat dengan tempo hanya kurang lebih 70 menit. Selain memperkenalkan penonton dengan karakter Haru, kebanyakan karakter lain seperti hanya dimunculkan karena plot cerita membutuhkan mereka muncul saat itu. Bahkan karakter Baron yang ditonjol-tonjolkan dalam cerita ini pun tidak memiliki latar belakang apapun sehingga susah untuk turut mendukungnya dalam perjuangannya menyelamatkan Haru (tambahan lagi karakternya jatuh dua dimensional sekali). Karakter lain seperti Muta dan sang raja kucing yang lalim sepertinya hanya jadi tempelan semata. Jelas ada sesuatu yang salah pada film ini bila saya merasa lebih mengenal Baron dari film Whisper of the Heart yang hanya memberinya porsi kecil dalam cerita ketimbang film ini yang jelas-jelasan seharusnya memberi porsi lebih besar pada dirinya.

Satu lagi keluhanku adalah cara film ini menyampaikan penggambarannya secara terlalu eksplisit. Salah satu keindahan film animasi Studio Ghibli (terutama karya Hayao Miyazaki dan Isao Takahata) adalah penyampaian mereka yang bisa bercampur antara implisit dan eksplisit. The Cat Returns tidak terlihat begitu. Bahkan pada penggambaran kucingnya saja langsung terlihat kalau kucing A merepresentasikan China, kucing B merepresentasikan Mesir, kucing C merepresentasikan Arab, dan seterusnya. Dunia para kucing - walaupun imajinatif - tetap terasa datar dan membosankan, apalagi bila mengingat Studio Ghibli bisa menciptakan dunia seorisinil Spirited Away setahun sebelumnya. Perubahan hati Haru yang terjadi di akhir cerita juga tidak terasa seperti ia perjuangkan melainkan seperti kado yang ditulis oleh penulis hanya untuk mendapatkan sekedar sebuah ending yang memuaskan penonton.

Kendati saya menyukai tajamnya gambar dan penggunaan warna-warna cerah dalam film ini, saya bisa mengatakan kalau The Cat Returns adalah karya Studio Ghibli yang paling mengecewakan bagiku (setidaknya sampai saat ini). Suatu fakta yang menarik di sini adalah Whisper of the Heart yang bisa dibilang prekuel dari film ini disutradarai oleh Yoshifumi Kondo yang diharapkan bisa menjadi penerus Miyazaki dan Takahata. Lagi-lagi dalam The Cat Returns yang didapuk adalah sutradara debutan Hiroyuki Morita; dan sayangnya terbukti bahwa film-film terbaik Studio Ghibli memang masih yang dibesut oleh duet gaek tersebut.

Score: 6.7

Movie Details
Director: Hiroyuki Morita
Cast: Chizuru Ikewaki, Yoshihiko Hakamada, Tetsu Watanabe
Running Time: 72 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Whisper of the Heart

Posted on 12 November 2009 by Si Tukang Review

Whisper of the Heart Poster

Whisper of the Heart Poster

Bila mendengar nama Studio Ghibli, apalagi setelah membaca review-review yang telah saya tulis mengenai film yang dihasilkan Studio ini, saya yakin kalian berpikiran bahwa ini bakalan jadi sebuah film karya Hayao Miyazaki atau Isao Takahata lagi. Pemikiran itu tidak salah, karena memang Studio Ghibli dikenal identik dengan duet tersebut - sama halnya dengan trio John Lasseter, Andrew Stanton, dan Brad Bird yang membidani film-film animasi Pixar. Toh, yang namanya orang itu pasti bertumbuh tua. Studio Ghibli sadar bahwa mereka tak bisa sepenuhnya terus mengandalkan kedua orang itu dan mencari bibit-bibit muda yang lain. Pada tahun 1995, manga yang berjudul Mimi wo Sumaseba (ditranslasikan secara harafiah menjadi If You Listen Closely / Bila Kau Mendengar Dengan Sungguh-Sungguh) kemudian diangkat oleh Studio Ghibli menjadi film mereka berikutnya. Yang menarik, film ini disutradarai oleh Yoshifumi Kondo, sosok yang diharapkan menjadi pengganti Miyazaki dan Takahata. Berhasilkah regenerasi ini? Sebenarnya Yoshifumi Kondo sendiri bukan sosok yang baru di dalam Ghibli. Ia turut terlibat dalam penggarapan proses animasi sampai pembuatan storyboard film-film Ghibli sebelumnya mulai dari Grave of the Fireflies, Kiki’s Delivery Service, Only Yesterday, Porco Rosso, sampai Princess Mononoke. Hanya saja, Whisper of the Heart memang menjadi karya debutnya sebagai sutradara.

Whisper of the Heart mengikuti kisah seorang gadis muda bernama Shizuku Tsukushima. Gadis ini senang sekali membaca buku dan memiliki hobi membuat puisi. Ia berbakat dalam bidang literatur dan banyak sekali teman-temannya mendukungnya untuk melanjutkan hobi ini. Sayangnya justru Shizuku sendiri kurang percaya diri akan bakatnya ini. Hobi membaca Shizuku ini dipuaskan dengan cara meminjam buku novel sebanyak mungkin di perpustakaan lalu membacanya di rumah. Di sini, Shizuku menemui sebuah keunikan. Hampir di setiap buku yang pernah ia baca ia mendapati bahwa buku tersebut pernah dipinjam (dilihat dari kartu peminjaman) oleh seorang pria bernama Seiji Amasawa. Shizuku menjadi penasaran akan sosok Seiji. Ia mulai mengimpi-impikan sosok Seiji sebagai karakter dalam novel yang dia baca. Tapi siapakah Seiji sebenarnya?

Apabila melihat posternya kemudian melihat resensi yang saya tulis di atas kalian pasti merasa bingung. Melihat poster film ini sepertinya kok mirip dengan film petualangan fantasi yang biasa digarap oleh Miyazaki, tapi bila membaca resensinya kok seperti kisah drama remaja. Mari saya tuntaskan rasa ingin tahu kalian tersebut. Whisper of the Heart adalah film drama remaja. Titik. Apabila ada cukilan-cukilan kisah fantasi di dalamnya, itu sepenuhnya terjadi dalam bayangan Shizuku ketika menulis cerita-ceritanya. Tidak lebih dan tidak kurang. Whisper of the Heart saya nilai sebagai salah satu film Ghibli yang kurang greget karena tidak tahu ke mana arah ceritanya hendak dibawa. Awal film ini sepertinya mengisahkan mengenai drama cinta anak-anak SMP semata - lenyap dengan segala kisah cinta segitiganya yang kalau dipikir menggemaskan. Mendadak saja setelah pertengahan, film ini kemudian berputar haluan menjadi kisah mengenai bagaimana Shizuku hendak menggapai mimpinya karena tidak mau ketinggalan dengan sang pria idaman. Loh? Belum lagi ada tambahan kisah mengenai Baron - patung kucing impian dari Shizuku yang hidup dalam kisah-kisahnya. Sebagai penonton, saya memang bisa menikmati cerita karena plotnya yang mengalir rapi dari satu adegan ke adegan lain - tetapi seusai menonton, kesulitan saya menulis resensi garis besar cerita merupakan bukti bahwa film ini memang tidak punya tujuan yang jelas dalam penceritaannya.

Burukkah itu? Jawabannya kembali ke pribadi setiap orang. Apabila kalian tipe orang yang suka film yang jalan cerita mengalir seperti Before Sunrise / Before Sunset mungkin senang dengan film Whisper of the Heart. Sebaliknya kalau kalian suka film yang harus memiliki awal - pertengahan - hingga akhir yang jelas mungkin akan geleng-geleng dengan film ini. Yang jelas penggambaran dari Whisper of the Heart sangat impresif. Dirilis sejak tahun 1995, film ini tidak kalah kualitas animasinya dengan film-film Disney yang dirilis pada tahun yang bersamaan (bila tidak salah saat itu Disney merilis Pocahontas - bandingkan saja trailer keduanya di Youtube). Saya juga suka pembawaan lagu Take Me Home, Country Road-nya John Denver di dalam film ini: pertama versi yang dinyanyikan ulang oleh Olivia Newton-John sementara yang kedua versi Jepangnya. Kedua versi ini sama impresifnya dan sama berkesannya dalam cerita. Adegan paling memorable bagi saya di film ini datang di saat terjadi orkestra dadakan yang membawakan lagu Country Road.

Pada akhirnya Whisper of the Heart mungkin menjadi film yang ironis bagi Studio Ghibli, mereka berharap bahwa Kondo menjadi pengganti dari dua seniornya. Alih-alih demikian, Kondo justru meninggal dunia pada tahun 1998, hanya tiga tahun setelah film ini dirilis karena aneurysm dadakan (pecahnya pembuluh darah?). Lebih ironisnya lagi, hingga kini - sepuluh tahun lebih setelah meninggalnya Kondo - Studio Ghibli masih belum juga bisa mencari pengganti sosok Hayao Miyazaki dan Isao Takahata yang terus menua.

Score: 7.2

Movie Details
Director: Yoshifumi Kondo
Cast: Yoko Honna, Issei Takahashi, Shigeru Tsuyuguchi, Maiko Kayama
Running Time: 111 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , ,

Pom Poko

Posted on 02 November 2009 by Si Tukang Review

Pom Poko Poster

Pom Poko Poster

Setelah menonton film ini, saya semakin menyadari perbedaan gaya penceritaan dari Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Miyazaki lebih mengedepankan unsur fantasi dan petualangan untuk kisah-kisahnya, sementara film-film Takahata biasanya mengambil tema seputar sejarah dan kondisi sosial di Jepang. Pom Poko adalah contoh yang sempurna untuk menggambarkan bagaimana Takahata bisa begitu kreatifnya menggabungkan unsur fantasi dan pesan satir sosial dalam satu film.

Di era akhir 60an kondisi ekonomi Jepang yang terus memuncak membuat ekspansi besar-besaran perumahan / real estate terjadi. Banyak sekali hutan yang dibabat untuk dijadikan daerah pemukiman. Cerita ini terjadi pada sebuah hutan yang hendak dijadikan “Tama New Town”. Alkisah di hutan tersebut dihuni oleh banyak Tanuki (dalam translasi Inggris disebut rakun, tetapi itupun sebenarnya kurang tepat sehingga saya memilih menggunakan nama Jepangnya saja dalam resensi ini) yang mulai kehilangan tempat kehidupan mereka. Geram melihat bagaimana manusia begitu serakah melakukan ekspansi, Tanuki yang sebenarnya adalah binatang yang cinta damai menyerang manusia.

Dalam mitologi Jepang (atau Asia Timur), ada dua jenis binatang yang dipercaya bisa berubah wujud: Rubah dan Tanuki. Dalam film ini, Tanuki menggunakan kemampuan mereka untuk berubah wujud untuk melawan manusia. Ada yang berubah wujud menjadi hantu dan menakut-nakuti para pekerja real estate, ada juga yang menggunakan cara lebih frontal hingga menimbulkan kecelakaan yang membunuh para pekerja. Tentu saja perubahan wujud yang dilakukan oleh para Tanuki ini juga sangat berbahaya bagi mereka sehingga korban pun berjatuhan dari sisi Tanuki. Apakah para Tanuki bisa menghentikan para manusia dan merebut kembali hutan impian mereka.

Apabila dalam Grave of the Fireflies Takahata memberikan pesan anti perang, Pom Poko menohok dengan pesan ekologi. Mengingat ini terjadi pada masa lalu, kebanyakan penonton mestinya sudah bisa menebak akhir dari perang para Tanuki melawan manusia. Kendati demikian, adegan demi adegan tetap membuat saya lekat pada layar, melihat bagaimana para Tanuki merencanakan serangan-serangan baru mereka pada manusia. Salah satu bagian yang paling impresif dalam film ini adalah ketika secara besar-besaran mereka melakukan parade hantu. Tak kusangka bahwa sebelum Spirited Away, Studio Ghibli pernah melakukan animasi para hantu yang hampir sama impresifnya melalui Pom Poko. Takahata juga pandai menjaga mood cerita supaya tidak terlalu kelam. Walaupun dalam film ini terdapat banyak kematian dan kekerasan, Takahata selalu membalutnya dalam humor dan menyeimbangkannya dengan karakter para Tanuki yang pada dasarnya hanya ingin bernyanyi dan bersenang-senang saja.

Berbeda dengan semua film Ghibli yang pernah saya tonton selama ini, film Pom Poko tidak memiliki karakter utama melainkan satu karakter utama kolektif - yaitu para Tanuki sendiri. Memang ada beberapa karakter yang lebih menonjol dibandingkan yang lainnya seperti Shoukichi atau Gonta, tapi pada akhirnya penonton akan lebih melihat para Tanuki sebagai kesatuan ketimbang sosok-sosok yang terpisah. Selain pesan ekologi, saya juga tahu bahwa Takahata banyak menyisipkan sindiran untuk kehidupan sosial orang Jepang baik melalui karakter manusia ataupun dari karakter Tanukinya. Sayangnya, kebanyakan pesan dari Takahata ini mungkin lost in translation bila ditonton oleh para gaijin. Toh, setidaknya pesan ekologi Takahata - terutama pada bittersweet endingnya membuat saya mengintrospesksi diri melihat kota-kota di Indonesia yang terus giat membangun mall-mall dan kompleks-kompleks perumahan yang baru. Apakah kita secara tak sengaja telah menganggu keseimbangan ekosistem alam?

Score: 8.6

Movie Details
Director: Isao Takahata
Cast: Shincho Kokontei, Makoto Nonomura, Yuriko Ishida
Running Time: 119 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , , , , , ,

Spirited Away

Posted on 15 October 2009 by Si Tukang Review

Spirited Away Poster

Spirited Away Poster

Semua film Hayao Miyazaki mendapatkan pujian pengamat, tetapi ada dua titel yang bisa dibilang mencolok di antaranya. Yang pertama adalah Princess Mononoke, yang digadang-gadang oleh Roger Ebert sebagai Star Wars-nya dunia animasi, dan Spirited Away yang adalah film animasi kedua yang memenangkan penghargaan Best Animated Feature di ajang Academy Award tahun 2002. Spirited Away tidak hanya sukses di mancanegara tetapi juga di Jepang. Sampai sekarang, Spirited Away tercatat sebagai film terlaris sepanjang masa di Jepang! Dengan begitu banyak gaung positif mengenai film ini, saya jadi khawatir ketika pertama kali menontonnya. Apakah jangan-jangan ekspekstasi saya yang terlalu berlebihan justru menjadi bumerang?

Gadis berusia 10 tahun bernama Chihiro ngambek ketika orang tuanya membawanya pindah ke kota lain. Pindah kota tidak pernah merupakan hal yang mudah, apalagi buat anak semuda Chihiro. Ia harus keluar dari zona amannya, dari lingkungan dan teman-teman lamanya untuk pergi ke lingkungan baru. Di tengah perjalanan, perjalanan Chihiro dan orang tuanya mengalami hambatan ketika sang ortu tersasar ke sebuah lorong yang panjang. Tanpa mengindahkan peringatan Chihiro yang tidak setuju melalui lorong tersebut, kedua orang tuanya tetap saja melaluinya.

Chihiro dan kedua orang tuanya kemudian tiba di sebuah tempat yang sangat aneh. Tempat yang penuh dengan restoran itu seakan-akan tak dihuni oleh orang. Kedua orang tua Chihiro langsung memakan makanan yang tersedia sementara anak mereka berkeliling melihat-lihat kota kosong itu. Saat langit mulai menjadi gelap, keanehan terjadi. Chihiro bertemu dengan sosok anak laki misterius yang mengatakan bahwa Chihiro tak seharusnya ada di sini. Lebih gawatnya lagi ketika Chihiro kembali ke restoran tempat orang tuanya makan, tempat tersebut sudah penuh dengan bayangan-bayangan hitam. Yang paling mengerikan adalah orang tua Chihiro kini telah berubah menjadi babi yang terus mencoba makanan yang tersedia dengan rakusnya! Apa yang sebenarnya terjadi? Tak butuh waktu lama bagi Chihiro untuk menyadari bahwa dirinya tanpa sengaja telah masuk ke dalam alam gaib. Pertanyaannya adalah: bisakah Chihiro yang cengeng menyelamatkan dirinya dan kedua orang tuanya?

Hampir tidak ada film yang membuat saya menontonnya langsung dua kali berturut-turut, tetapi itulah yang Spirited Away paksa aku lakukan. Ketika ending credit bergulir, yang kulakukan adalah langsung memainkan film tersebut dan menontonnya lagi. Saya kini bisa mengerti kenapa Spirited Away adalah salah satu karya paling ambisius dari Hayao Miyazaki. Walau temanya secara sederhana adalah mengenai bagaimana seorang gadis muda tumbuh dewasa dan menghadapi ketakutannya pada lingkungan masyarakat, Hayao Miyazaki mampu menginfusikan begitu banyak tema-tema lain dalam film ini sekaligus membalutnya dalam berbagai pengaruh budaya. Jalanan di mana Chihiro dan orang tuanya makan sekaligus onsen (pemandian air panas) di mana ia bekerja di tengah para siluman adalah cerminan budaya dan tradisi Jepang kuno. Ada juga saat di mana Chihiro naik kereta modern yang merupakan representasi dari budaya Jepang modern. Sampai ada kamar tidur bayi yang penuh dengan kemewahan yang adalah representasi dari budaya barat yang melebur masuk dalam Jepang.

Tidak hanya simbol dan pesan tersirat maupun tersurat yang membuat Spirited Away begitu mempesona dari menit awal hingga akhir tetapi juga karakter-karakter yang hidup di dalamnya. Karakter utama film ini: Chihiro (atau Sen) adalah salah satu sosok lakon terbaik dalam film animasi. Ia tidak digambarkan layaknya kebanyakan heroine Disney atau bahkan Studio Ghibli sekalipun yang cantik atau mandiri. Sebaliknya, Chihiro tergambar sebagai gadis yang biasa-biasa saja, tidak imut, dan suka pesimistis akan kehidupannya sendiri. Toh, itu membuat dirinya lebih mudah direfleksikan oleh gadis-gadis yang berusia sebaya dengannya. Perjalanan Chihiro untuk mendewasakan dirinya di tengah dunia para siluman (yang semuanya beraneka ragam dan kaya warna) jugalah yang membuat jalan cerita Spirited Away tak pernah membosankan; lepas dari satu adegan saya langsung menantikan apa kiranya yang akan ditemui Chihiro berikutnya?

Semakin banyak saya menonton film Studio Ghibli, semakin kacau balaulah peringkat sepuluh besar film animasi favorit saya karena disisipi kian banyak film-film dari studio ini. Dan hal ini sebenarnya tidak mengherankan. Jangankan saya - John Lasseter - kepala Studio Pixar yang adalah orang di balik film-film macam Toy Story saja terang-terangan menyatakan bahwa dirinya adalah fans berat Hayao Miyazaki dan selalu menonton karya-karya sang maestro Jepang tiap kali ia menemui kebuntuan dalam menggarap film animasi terbaru Pixar!

Note: Tahukah kalian bahwa karena begitu ngefansnya John Lasseter pada Spirited Away, ia mati-matian melobi para petinggi Disney untuk merilisnya pada bioskop Amerika? Usaha tak kenal lelah Lasseter ini berhasil setelah Spirited Away sukses dirilis di Amerika dan mendapatkan penghargaan tertinggi di ajang Academy Awards. Dasarnya pembuat film, rasa terima kasih Miyazaki dan seluruh Studio Ghibli disalurkan melalui sebuah film dokumenter khusus yang mereka garap buat John Lasseter. Judulnya? Arigato, Lasseter-san!

Score: 9.9

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Rumi Hiiragi, Miyu Irino, Mari Natsuki
Running Time: 125 Minutes

Comments (11)

Tags: , , , , ,

Kiki’s Delivery Service

Posted on 11 October 2009 by Si Tukang Review

Kiki's Delivery Service Poster

Kiki's Delivery Service Poster

Apabila sekarang nama Studio Ghibli makin tenar di seluruh dunia, itu berkat kerjasama yang dilakukan studio film tersebut dengan Disney. Nah, film pertama yang merupakan buah dari kerjasama mereka adalah Kiki’s Delivery Service. Film yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini adalah film kedua sang sutradara yang skenarionya tidak ia tulis sendiri. Kiki’s Delivery Service adalah adaptasi dari volume pertama novel anak-anak yang ditulis oleh Eiko Kadono. Sosok Kiki menjadi populer setelah kesuksesan film animasinya ini, dan sampai saat saya menulis artikel ini, sudah ada lima volume novel (dan masih akan terus bertambah) yang mengisahkan kelanjutan petualangan sang penyihir muda tersebut.

Kiki adalah seorang penyihir muda yang kini sudah menginjak usia 13 tahun. Pada umur itu, sudah merupakan tradisi bagi para penyihir untuk meninggalkan orang tuanya dan tinggal setahun secara independen. Tentu saja penyihir tidak boleh bermain begitu saja. Seperti ritual untuk menjadi dewasa, Kiki harus memilih satu kota di mana ia mengabdi dan membantu orang-orang di kota tersebut. Petualangan Kiki akhirnya membawa dia sampai ke kota Koriko (sebuah kota fiksi di Eropa yang didesign oleh Miyazaki dengan anggapan perang dunia tidak pernah terjadi). Di sini, Kiki yang dari kota kecil kebingungan karena ia tidak berbakat melakukan apapun juga. Ia tidak bisa meramal atau membuat obat seperti ibunya. Satu-satunya yang ia bisa hanyalah terbang di atas sapunya, itupun belum terlalu lancar!

Di tengah kebimbangan Kiki, ia bertemu dengan seorang wanita baik hati bernama Osono. Osono yang ingin mengantarkan sebuah dot bayi seorang pelanggan yang ketinggalan di tokonya. Kiki yang baik hati melihat Osono hamil tua kemudian menawarkan diri untuk membantu mengantar dot tersebut dengan sapunya. Osono - terkesan akan kebaikan Kiki - menawarkan pada gadis muda itu untuk tinggal di rumahnya sembari membantunya. Dari sama Kiki mendapat ide cemerlang. Bila memang kemampuannya adalah terbang dan mengantar barang, kenapa tidak mendayagunakannya? Jadilah ia membuka Kiki’s Delivery Service. Jasa Tiki ala Kiki! Petualangan apa saja yang akan Kiki alami? Orang seperti apa saja yang akan ia temui?

Walaupun temanya bersangkutan dengan penyihir, film ini aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak karena penyampaiannya yang begitu ringan. Dalam dunia animasi ini, penyihir tidak pernah menyembunyikan sosok mereka dari manusia, dan manusia pun hidup dengan damai berdampingan dengan mereka. Dengan premise yang sudah ditetapkan demikian, Miyazaki memilih untuk menyorot sisi kehidupan Kiki dan bagaimana ia beradaptasi di kota besar. Bagi kalian yang sudah kuliah dan merasakan tinggal jauh dari rumah dan keluarga saya rasa pasti bisa menemukan kesamaan-kesamaan perasaan kalian dengan Kiki. Selain sisi kehidupan sosialnya, film ini juga mengisahkan tentang bagaimana seseorang bisa tumbuh dewasa. (SPOILER: Sayangnya, terjemahan Disney merusak hal ini. Pada ending film ini Miyazaki sebenarnya memvisikan bahwa Kiki kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan si peliharaannya kucing hitam Jiji karena Jiji adalah representasi dari sisi kekanak-kanakannya. Disney mengedit bagian ini dan mem’biar’kan Kiki mengobrol lagi dengan Jiji sebab merasa bahwa ini menyorot hubungan persahabatan antara keduanya).

Animasi dalam Kiki’s Delivery Service tetap kaya warna. Berbeda dengan karya-karya Miyazaki yang sebelumnya berkesan fantasi, film ini lebih banyak memakai warna terang untuk menghidupkan kota Eropa Koriko. Walaupun kota ini fiksi dan film ini dibuat pada tahun 1989, saya masih terkesan melihat adegan di mana Kiki terbang memasuki kota ini. Bila Pixar menghidupkan Paris dalam Ratatouille, Studio Ghibli punya kota Koriko.

Usaha Disney patut diacungi jempol. Mereka tidak main-main dalam menyulihsuarakan film ini. Tidak tanggung-tanggung Kirsten Dunst dikontrak untuk mengisi suara Kiki (saat itu Dunst masih bintang remaja). Walaupun usaha Disney sudah maksimal, saya tetap merasa bahwa Kiki’s Delivery Service paling berkesan (dan mengena) kalau disaksikan dalam versi aslinya.

Score: 8.4

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Minami Takayama, Rei Sakuma, Kappei Yamaguchi
Running Time: 102 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Porco Rosso

Posted on 08 October 2009 by Si Tukang Review

Porco Rosso Poster

Porco Rosso Poster

Film yang judul Jepangnya Kurenai no Buta ini sangat berbeda dengan film-film dari Hayao Miyazaki yang lain. Film Hayao Miyazaki sebelum ini biasanya selalu mengusung tema fantasi dan petualangan. Porco Rosso berbeda. Ini adalah kisah mengenai seorang pilot pesawat terbang Italia bernama Marco Pagot yang seusai perang terkena kutukan menjadi seorang babi. Dengan setting sejarah yang jelas dan jalan cerita yang lebih ditujukan untuk orang dewasa, Porco Rosso memberi angin segar buat mereka yang ingin mencari karya Miyazaki yang lain dari biasanya.

Di kalangan para bajak udara, ada satu nama yang mereka takuti: Porco Rosso. Sang pilot babi ini adalah seorang bounty hunter yang memburu para bajak laut bila disewa melindungi kapal tertentu. Para bajak udara geram karena perampokan mereka selalu digagalkan oleh Porco Rosso sehingga menyewa seorang pilot Amerika bernama Donald Curtis. Ketika Donald Curtis sukses merusak pesawat Porco, ia terpaksa memperbaiki pesawatnya di tempat sahabat lamanya Picollo. Di sini ia berkenalan dengan seorang gadis montir cucu Picollo: Fio.

Fio dan Porco memiliki sifat yang hampir 180 derajat berbeda. Porco yang sudah melalui perang pesimistis memandang hidup sementara Fio yang muda optimistis memandang hidup. Keduanya pun menjalin hubungan persahabatan yang unik setelah Fio menawarkan diri memperbaiki pesawat Porco - yang diterima oleh si babi dengan setengah enggan. Bagaimanakah kelanjutan persahabatan keduanya? Bisakah Porco mengalahkan Curtis di duel berikutnya? Apakah Angkatan Udara Italia akhirnya bisa menangkap Porco?

Sebenarnya saya agak sulit menulis ringkasan cerita mengenai Porco Rosso karena hampir-hampir tidak ada gambar besar dalamnya. Adegan demi adegan mengalir begitu saja ketika penonton dibawa untuk melihat kehidupan Porco hari demi harinya. Kita diperkenalkan pada awalnya mengenai apa pekerjaan Porco, hubungannya dengan teman lamanya Gina, sampai bagaimana ia berkenalan dengan Fio. Daya tarik utama film ini memang karakter Porco sendiri. Sebagai seekor babi, ia adalah babi paling nyolot yang pernah saya kenal. Baik omongan maupun tingkah suka seenaknya, walaupun di balik itu semua, sebenarnya Porco tetap baik dan berhati lembut. Tidak heran kalau dalam kebanyakan resensi yang saya baca, karakter Porco yang multi-dimensi ini sukses merebut hati para reviewer.

Lagi-lagi lain dengan film sebelumnya, tema yang diangkat dalam Porco Rosso lebih ditujukan untuk orang dewasa. Selain beberapa bahasan politik seperti kenapa Porco menolak menjadi fasis, ada unsur romantisme yang jelas-jelas diusung. Dalam beberapa film sebelumnya seperti Lupin the Third: Castle of Cagliostro dan Laputa: Castle in the Sky, Miyazaki memang pernah mengangkat tema romantisme - tetapi hal tersebut lebih tergambar secara sambil lalu dan humoris (Cagliostro) maupun diselimurkan dalam bentuk persahabatan (Laputa). Baru dalam Porco Rosso romantisme mengambil peran yang lebih dominan dalam cerita.

Film ini sebenarnya lahir dari impian dan hobi Miyazaki. Salah satu hobi paling utama Miyazaki adalah pesawat antik. Oleh karena itu, salah satu ciri khas Miyazaki dalam film-filmnya adalah mengikutsertakan unsur penerbangan dalam film-filmnya. Terlihat jelas dalam film ini bagaimana Miyazaki berusaha mengkomunikasikan hobinya itu kepada penonton. Adegan di mana Fio merancang pesawat Porco merupakan jembatan sempurna bagi Miyazaki menyampaikan hasratnya. Lihat juga bagaimana indahnya adegan dogfight (adu tembak pesawat) antara Porco dan Curtis di penghujung film. Spektakuler dan dinamis, dogfight membuat saya menahan nafas di satu adegan dan tertawa di adegan yang lain. Terlihat dari adegan-adegan itu bahwa Miyazaki tidak hanya ingin menghibur penonton tetapi juga memuaskan impian dan cintanya pada pesawat antik.

Seperti yang saya katakan di awal review, Porco Rosso adalah film Hayao Miyazaki yang lain. Semua film Miyazaki yang lain ditujukan kepada dua kalangan: anak-anak dan dewasa sedangkan dalam Porco Rosso film ini jelas ditujukan bagi orang dewasa. Tetap saja, animasi yang ajaib ini harus masuk dalam daftar tontonmu. Jangan mentang-mentang jagoan utamanya babi… lantas diharamkan!

Note: Porco Rosso adalah bahasa Italia. Translasi Inggrisnya berarti Red Pig atau Babi Merah.

Score: 8.7

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Shuichiro Moriyama, Akio Otsuka, Tokiko Kato
Running Time: 94 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Nausicaa of the Valley of the Wind

Posted on 04 October 2009 by Si Tukang Review

Nausicaa of the Valley of the Wind Poster

Nausicaa of the Valley of the Wind Poster

Film pertama garapan Hayao Miyazaki Lupin the Third: Castle of Cagliostro. Dalam film itu, Miyazaki sudah menunjukkan talentanya sebagai sutradara film animasi yang berbakat. Walaupun demikian, kentara benar bahwa visi Miyazaki masih terbatasi sebab film itu diadaptasi dari manga karangan mangaka lain. Film yang saya anggap benar-benar menjadi debut penyutradaraan bagi Miyazaki adalah Nausicaa of the Valley of the Wind (Kaze no Tani no Nauzika). Film ini penuh dengan ciri khas Miyazaki; mulai dari dunia fantasi yang kaya warna, pesan ekologi yang mengena, sampai karakter wanita yang kuat sebagai pemeran utamanya. Film yang dirilis pada tahun 1984 ini juga merupakan tonggak awal dari kerja sama Miyazaki yang menyutradarainya dan Isao Takahata yang menjadi produser.

Seribu tahun sudah berlalu semenjak polusi menghancurkan sebagai besar ekosistem bumi. Di awal film ini, bumi sudah menjadi dunia yang sangat berbeda dari apa yang kita kenal selama ini. Manusia terpisah menjadi bagian-bagian kecil dan kerajaan yang terpisah. Mereka sulit untuk saling berjumpa satu sama lain akibat udara kini sudah sedemikian beracun untuk dihirup tanpa masker penyaring. Udara beracun yang dijuluki Sea of Corruption itu bukan ancaman terbesar bagi manusia. Serangga kini menguasai dunia dengan spesies paling dominan bernama Ohmu (seperti seekor ulat raksasa yang matanya berganti dari biru ke merah sesuai perasaan mereka).

Dalam perang sebelumnya, manusia terus berusaha untuk melawan para Ohmu dengan senjata. Semuanya gagal. Bukannya Ohmu-Ohmu yang tewas, justru manusia menghancurkan peradaban mereka sendiri. Seakan tidak ingin belajar dari sejarah, beberapa kerajaan seperti Tolmekia dan Pejitan terus berperang satu sama lain dan saling berlomba menciptakan senjata untuk mengalahkan Ohmu dan menyucikan bumi kembali. Nausicaa yang adalah seorang putri dari kerajaan kecil Valley of the Wind memiliki bakat untuk bisa berkomunikasi dengan para binatang dan memiliki rasa empati terhadap makhluk hidup. Ia percaya bahwa jalan keluar terbaik untuk Ohmu dan manusia bukanlah saling mengeradikasi satu sama lain - tetapi mencari cara bagi keduanya untuk bisa hidup berdampingan. Tapi bisakah prinsip Nausicaa diterapkan di sebuah dunia yang penuh dengan ketakutan dan kebencian?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Hayao Miyazaki mulai menunjukkan ciri khasnya di film ini. Tidak lagi mendapatkan hambatan (karena manga Nausicaa juga dikarang olehnya), Miyazaki memasukkan berbagai macam unsur fantasi di dalam karyanya kali ini. Dunia post-apocalypse yang ditawarkan oleh Miyazaki bukan masa depan dystopia seperti yang lazim digambarkan di film-film seperti Terminator misalnya. Sebaliknya ancaman yang digambarkan Miyazaki lebih halus. Debu beracun indah tetapi bila dihirup akan menghancurkan paru-paru manusia dan makhluk hidup lain yang menghirupnya. Juga Miyazaki berani memasukkan binatang-binatang aneh dalam karyanya. Dua yang paling berkesan bagi saya adalah Ohmu dan Teto, peliharan Nausicaa.

Miyazaki juga menyelipkan berbagai macam pesan terselubung dalam film ini. Pesan mengenai cinta lingkungan memang menjadi tema utama film ini (bahkan lembaga PBB WWF - World Wide Fund for Nature - menyarankan film ini), Miyazaki juga memasukkan berbagai unsur tersirat lain ke dalamnya. Pesan anti-perang juga digaungkan dengan cara menunjukkan bagaimana dunia hancur bukan karena Ohmu tetapi justru karena kesombongan manusia yang hendak terus berkuasa atas bumi. Atau karakter Nausicaa sendiri yang memiliki sifat welas asih dan berempati terhadap segala makhluk hidup, mulai dari manusia hingga Ohmu. Bicara soal karakter Nausicaa sendiri, ini adalah salah satu lagi sisi brilian dari Miyazaki. Berbeda dengan para putri Disney, Nausicaa tidak pernah tuh melulu memikirkan mencari cinta atau pangeran tampan sebagai penambat hati. Ia adalah gadis yang ceria, selalu mementingkan sesama, tetapi juga cinta akan petualangan dan ingin hidup bersama alam. Sosok seorang wanita independen tanpa kehilangan sisi feminin-nya. Bila dibandingkan dengan karakter-karakter putri Disney, Nausicaa jelas jauh jauh lebih berkelas dan unggul.

Wall-E adalah film animasi yang pesan mengenai mencintai alam-nya terasa begitu menohok bagi saya. Siapa sangka kalau 24 tahun (Wall-E rilis tahun 2008 sementara Nausicaa rilis tahun 1984) sebelum Pixar menggarap film tersebut, Hayao Miyazaki sudah menggarap Nausicaa of the Valley of the Wind yang memiliki pesan ekologi yang sama dalamnya? An absolute masterpiece.

Note: Tahukah kalian bahwa pada dekade 1980an, film ini pernah dipermak dan diedit habis-habisan dan diberi judul Warriors of the Wind oleh publik Amerika? Yang menyedihkan, Warriors of the Wind kehilangan semua esensinya mengenai pesan ekologis dan menunjukkan bagaimana dangkalnya publik Amerika yang di masa itu menganggap kartun sekedar pertentangan si baik dan si jahat. Bahkan Hayao Miyazaki pun murka dengan versi ‘hancur’ ini. Beruntung di tahun 2005 (seiring meningkatnya popularitas Miyazaki di Amerika), film ini mendapatkan rilis yang benar dengan dubbing yang diisi artis-artis populer (Alison Lohman, Patrick Stewart, Uma Thurman, sampai Shia LaBeouf!)

Score: 9.6

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Sumi Shimamoto, Goro Naya, Yoshiko Sakibara
Running Time: 116 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro)

Posted on 30 September 2009 by Si Tukang Review

My Neighbor Totoro Poster

My Neighbor Totoro Poster

Proyek Studio Ghibli pada tahun 1988 mungkin adalah proyek mereka yang paling ambisius hingga saat ini sekalipun. Pada tahun tersebut dua pendiri Studio Ghibli; Hayao Miyazaki dan Isao Takahata menggarap dua film pada waktu yang hampir bersamaan dan merilisnya secara serentak. Walaupun secara finansial keduanya gagal balik modal, keduanya juga menjadi fundamental penting bagi studio film ini dalam langkah-langkah ke depan. Isao Takahata dengan Grave of the Fireflies, salah satu film dengan pesan anti-perang terbaik sementara Hayao Miyazaki dengan My Neighbor Totoro di mana sosok Totoro nantinya menjadi maskot dari Studio Ghibli.

Pada tahun 1958 keluarga Kusakabe pindah ke daerah pedesaan supaya bisa tinggal lebih dekat dari rumah sakit tempat sang ibu dirawat. Keluarga Kusakabe terdiri dari sang ayah yang adalah seorang dosen dengan dua kakak beradik Satsuki dan Mei. Keduanya sangat senang tinggal di rumah baru mereka dan sering pergi menjelajah ke sana-sini untuk kejutan-kejutan baru. Tak lama setelah pindah, Satsuki mulai bersekolah (karena usianya sudah sekitar 10 tahun). Sementara itu Mei yang masih empat tahun bermain-main di rumah ditemani sang ayah.

Suatu hari pencarian Mei akan binatang unik membawanya pada sebuah lubang misterius. Lubang misterius ini kemudian mengirimnya sampai pada sosok roh penjaga hutan. Mei menyebutnya sebagai Totoro dan mengajaknya bermain. Ketika Satsuki menemukannya, Mei ternyata tengah tertidur di tanah. Jadi sungguhkah ada Totoro atau Mei hanya sekedar memimpikannya saja? Akankah Totoro keluar lagi? Bagaimana dengan nasib ibu keduanya, akankah ia sembuh dari penyakitnya?

Kontras dengan Grave of the Fireflies yang sendu, My Neighbor Totoro hangat dengan keluarga dan kasih sayang. Uniknya kedua film ini sama-sama menyorot hubungan kakak-beradik yang saling mengasihi. Seperti halnya Grave of the Fireflies, hubungan kakak beradik Satsuki dan Mei menjadi titik terkuat dalam film ini (tapi kali ini dengan versi gelas setengah penuh). Di luar dugaan, Totoro sendiri tidak sering-sering sekali keluar dalam film ini. Toh, karena tidak diekspos berlebihan setiap kemunculannya justru amat sangat memorable di mana tingkah laku Totoro pasti mengundang senyum dari wajah saya. Hubungan keluarga Kasukabe yang penuh dengan kehangatan juga membuat hati saya turut tersentuh. Berapa film keluarga yang kamu tonton ketika anaknya mengaku melihat sosok roh yang tak bisa dilihat oleh orang tuanya, orang tuanya bukan tertawa mengejek tidak percaya tapi malahan mendukung dan berkata “kamu sangat beruntung karena bisa bertemu dengan roh penjaga hutan ini”. Tidak hanya adegan itu saja, Hayao Miyazaki masih menyelipkan lebih banyak lagi pesan kepada orang tua mengenai bagaimana mendidik anak dengan benar.

Musik dalam My Neighbor Totoro digarap oleh Joe Hisaishi dan walaupun ia tidak bisa melebihi pencapaiannya di Laputa: Castle in the Sky, Hisaishi memaksimalkan setiap musik dengan nada-nada yang ceria dan penuh petualangan sesuai jiwa filmnya. Lagu endingnya yang berjudul Tonari no Totoro adalah lagu ending animasi terbaik bagi Studio Ghibli. Animasinya sendiri seperti khas setiap film Ghibli: menawan. Terbukti bahwa daya tarik Miyazaki bukan sekedar pada dunia-dunia fantasi semata tetapi juga pada campuran antara dunia nyata dan fantasi.

Saya ingat debat antara duo reviewer ternama Gene Siskel dan Roger Ebert saat membahas film ini. Siskel mengkritik film ini dan merasa bahwa ia memiliki alur cerita yang lambat, bertele-tele dan membosankan. Di lain pihak, Roger Ebert memberinya pujian setinggi langit karena karakter-karakternya yang down-to-earth, jalan ceritanya yang simpel tetapi berbeda dari biasanya, sampai kualitas animasinya yang indah. Setelah menonton film ini, saya memihak pada Roger Ebert. My Neighbor Totoro lebih dari layak untuk masuk dalam daftar lima besar animasi favoritku sepanjang masa.

Note: Nama Totoro yang diucapkan Mei sebenarnya tercipta karena kecadelan Mei yang hendak mengatakan kata ‘Troll’. Maklum, kemampuan Inggris orang Jepang kan di bawah rata-rata.

Score: 9.8

Movie Details
Director: Hayao Miyazaki
Cast: Chika Sakamoto, Noriko Hidaka, Hitoshi Takagi
Running Time: 86 Minutes

Comments (3)

Tags: , , , , , ,

Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka)

Posted on 30 September 2009 by Si Tukang Review

Grave of the Fireflies Poster

Grave of the Fireflies Poster

Yes, it’s a cartoon, and the kids have eyes like saucers, but it belongs on any list of the greatest war films ever made.
- Roger Ebert, Chicago Sun-Times

Ada dua nama besar di balik Studio Ghibli. Yang pertama adalah Hayao Miyazaki dan yang kedua Isao Takahata. Ketika keduanya bertemu, mereka merasa bahwa ide mereka klop dan bekerja samalah keduanya membuat Studio Ghibli. Hayao Miyazaki memang lebih dikenal di dunia barat karena ia lebih produktif berkarya dibanding rekannya itu. Kendati begitu, Isao Takahata sendiri bukan sutradara kelas dua. Empat film yang ia sutradarai semua menyorot aspek yang berbeda-beda, dan satu di antaranya disebut-sebut banyak pihak (termasuk kritikus film kawakan Roger Ebert) sebagai salah satu film animasi terbaik sepanjang masa. Film itu tidak lain tidak bukan adalah Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka).

Di akhir Perang Dunia kedua, Jepang tertekan oleh serangan musuh (tidak pernah ditunjukkan secara eksplisit apakah Amerika, Eropa, atau negara lain yang menyerang mereka). Di saat kota Kobe dibom, dua bersaudara Seita dan Setsuko terpisah dari sang ibu. Belakangan setelah keadaan mereda, Seita menemukan bahwa ibu mereka sudah terkena luka bakar yang sangat parah akibat serangan bom tersebut. Karena tidak mendapatkan penanganan yang maksimal, sang ibu pun meninggal dunia. Kini Seita dan Setsuko menjadi terlunta-lunta seorang diri karena ayah mereka tergabung dalam kelompok Angkatan Laut dan maju berperang.

Tanpa tujuan pergi, Seita dan Setsuko semula dititipkan di tempat kediaman bibi mereka (saudara jauh). Walaupun tadinya sang bibi mau menerima mereka, perang mengubah karakter sang bibi menjadi kejam. Terus dicela, disindir, dan ditipu terang-terangan, Seita dan Setsuko akhirnya muak tinggal bersama dengan keluarga bibi mereka dan memutuskan tinggal berdua saja di sebuah gua yang ditemukan Seita. Tetapi kebebasan mereka juga datang dengan sebuah harga. Kini mereka benar-benar tinggal sendiri dan harus mandiri. Apakah mereka bisa bertahan hidup di tengah kekejaman perang?

Apa yang membuat film ini begitu berbeda dengan film-film perang lainnya? Sederhana saja: ia tidak berusaha menghakimi. Berbeda dengan film perang lain seperti; sebut saja Pearl Harbour, ia tidak berusaha menuding dan mengatakan “Hei Jepang negara kami yang benar. Lihat  betapa kejamnya kalian Amerika!”. Justru adegan peledakan bom dan terbakarnya rumah hanya diperlihatkan secara sambil lalu. Takahata lebih memfokuskan diri mengeksplorasi bagaimana pengaruh serangan tersebut pada masyarakat. Film ini juga begitu rapi dan cerdas menyelipkan berbagai macam simbol di dalamnya. Hotaru atau Firefly dalam film ini saja sudah merepresentasikan berbagai hal: mulai dari jiwa manusia sampai bom napalm. Takahata juga menyorot berbagai karakteristik manusia dalam film ini. Grave of the Fireflies menyindir karakter seseorang yang muncul belangnya saat keselamatan mereka sendiri terancam sekaligus juga menghidupkan dua karakter utama Seita dan Setsuko sebagai pasangan kakak-adik yang saling menyayangi. Walaupun nasib kedua karakter utama ini sudah diketahui penonton di awal film, melihat prosesi menuju kejadian itu tetap akan menghancurkan hati sebagian besar penonton. Itulah mungkin alasan kenapa ending film ini saya nilai sebagai salah satu ending yang paling menyayat hati saya. Saya membaca bahwa film Grave of the Fireflies adalah salah satu film paling kontroversial dari Studio Ghibli di mata orang asing (baca: Korea dan China) karena dianggap berusaha menjadikan Jepang sebagai ‘korban’ dalam perang yang mereka sendiri ciptakan. Saya tidak setuju. Mengutip kata-kata Bertrand Russell: “War doesn’t determine who is right - only who is left.

Grave of the Fireflies diangkat dari novel semi-biografi karangan Akiyuki Nosaka yang kehilangan adik perempuannya akibat kelaparan di akhir Perang Dunia II. Merasa bersalah, Nosaka kemudian menulis novel tersebut untuk meringankan perasaannya. Walaupun populer, tidak ada pihak yang mau menjadikan kisah ini sebagai animasi karena ceritanya yang dinilai terlalu sendu dan cenderung membuat depresi. Toh, Takahata menerima ‘tantangan’ ini dan menyutradarai film ini. Akhirnya, Grave of the Fireflies dirilis beriring-iringan dengan karya Hayao Miyazaki My Neighbor Totoro. Seperti ditebak, unsur sendunya yang berlebih membuatnya gagal berbicara banyak di Box Office. Waktu, toh, pada akhirnya membawa film ini mencapai status legendaris yang sudah sepantasnya ia terima.

Score: 8.9

Movie Details
Director: Isao Takahata
Cast: Tsutomu Tatumi, Ayano Shiraishi, Yoshiko Shinohara
Running Time: 88 Minutes

Comments (7)

Advertise Here
Advertise Here