Tag Archive | "Gerard Butler"

Tags: , , , , , ,

The Bounty Hunter

Posted on 21 June 2010 by Si Tukang Review

The Bounty Hunter Poster

The Bounty Hunter Poster

Salah satu alasan kenapa saya masih mau menonton The Bounty Hunter padahal banyak review yang menyebutkannya jelek adalah karena saya suka dengan kedua karakter utamanya. Gerard Butler pertama ngetop lewat 300 tetapi dia membuktikan kalau dia bisa bermain dalam film-film romantis baik yang serius seperti PS: I Love You maupun yang bercampur dengan komedi seperti duetnya dengan Katherine Heigl di The Ugly Truth tahun lalu. Dan saya adalah pecinta berat sitkom Friends jadi saya pasti menonton film-filmnya Jennifer Aniston. Tambahan lagi sutradaranya adalah Andy Tennant yang resumenya terbilang lumayan… saya enjoy dengan Hitch dan Sweet Home Alabama!

Film ini dibuka dengan adegan yang (cukup) lucu. Seorang gadis bernama Nicole disekap dalam bagasi mobil pria bernama Milo. Sang gadis berhasil memperdayai sang pria dan kabur. Mereka kejar-kejaran. Dan lantas kita diberitahu kalau Nicole adalah seorang tersangka dan Milo adalah seorang pemburu bayaran (bounty hunter). Lantas kita juga diberitahu kalau mereka adalah mantan suami-istri. Usai adegan prolog tersebut kita dilempar ke waktu satu hari sebelumnya dan hubungan keduanya diperjelas. Ternyata Nicole tengah menyelidiki sebuah kasus sehingga tidak bisa datang saat dipanggil oleh kejaksaan atas pelanggarannya. Karena dianggap menyepelekan hukum, Nicole hendak dimasukkan ke bui. Orang yang ditugaskan untuk memasukkannya ke bui ternyata adalah mantan suaminya, Milo Boyd. Bisa ditebak kalau kasus yang diselidiki oleh Nicole ternyata lebih rumit dari dugaan semula. Di sisi lain, Milo dan Nicole tentu saja menemukan cinta lama mereka bersemi kembali.

Saya punya beberapa masalah dengan film ini. Yang pertama adalah premisenya yang terlalu mengada-ada. Milo bukan petugas polisi, jadi kenapa sebagai bounty hunter dia berhak pergi menangkap Nicole? Apa sebenarnya batas kekuasaan Milo? Dia punya lencana yang mirip dengan lencana polisi, tetapi dia tidak dianggap masuk dalam kesatuan polisi. Kok aneh ya? Saya tidak pernah tuh mendengar kesatuan Bounty Hunter di Amerika? Apa film ini membuatnya sendiri untuk kepentingan jalan ceritanya? Entah deh. Okelah, anggap saja memang begitu, toh kita tidak mengharapkan jalan cerita yang terlalu masuk akal bukan dalam film komedi romantis? Apa yang paling kita cari? Tentu saja adegan-adegan romantis di dalamnya, syukur-syukur dapat one-liner yang bisa dipakai untuk membuai perasaan kekasih bukan? Dua hal itu lagi-lagi tidak bisa saya dapatkan dari film ini. Jennifer Aniston dan Gerard Butler tidak punya chemistry sebagai kekasih satu sama lain. Bahkan tingkah laku karakter Milo dan Nicole jauh berbeda bak bumi dan langit sehingga sulit membayangkan kenapa mereka berdua bisa bersatu lagi di akhir cerita (oh come on, that’s not a spoiler). Tingkah laku kedua karakter utama pun tidak terbilang simpatik, terutama Milo yang terlihat amat sangat kekanak-kanakan. Dialog film ini sendiri juga entah kenapa terbilang datar sekali. Tidak ada momen-momen maupun dialog-dialog romantis seperti yang saya temui di Hitch.

Menilik judul The Bounty Hunter dan ringkasan ceritanya, kalian mungkin menebak kalau film ini menggabungkan genre laga dan komedi romantis dalam satu film. Dan untuk hal ini sebenarnya saya merasa pemilihan Gerard Butler tepat. Dia bisa tampil garang dan romantis… sayangnya Andy Tennant kelihatannya tidak becus menyutradarai bagian aksi di film ini. Semuanya terlihat melempem dan tidak seru. Tembak-tembakannya bahkan terasa sangat dibuat-buat sekali. Saya tidak berharap super dahsyat ala Die Hard tentunya, tapi… ah lihat saja sendiri supaya mengerti apa yang saya maksud. Yah, gara-gara ini juga film The Bounty Hunter terasa tanggung dan kepanjangan karena sejam pertamanya dihabiskan membangun hubungan Milo dan Nicole yang jatuhnya (juga) melempem.

So my verdict is… walaupun kamu penggemar kedua bintang utamanya maupun film bergenre komedi romantis, The Bounty Hunter adalah hasil yang mengecewakan. Masih banyak film-film komedi romantis yang lebih lucu, romantis, dan seru ketimbangnya.

Score: 4.7

Movie Details
Director: Andy Tennant
Cast: Gerard Butler, Jennifer Aniston, Gio Perez, Joel Garland
Running Time: 110 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Gamer

Posted on 13 December 2009 by Si Tukang Review

Gamer Poster

Gamer Poster

Mendengar berita bahwa Mark Neveldine dan Brian Taylor akan bekerja sama untuk membuat sebuah film dengan judul Gamer, saya sebenarnya langsung antusias mendengarnya. Memang tidak semua orang menggemari karya dari duet sutradara slengean ini karena banyaknya unsur kekerasan yang dimuat dalam film mereka. Saya sendiri jatuh cinta kepada keduanya sejak menonton Crank. Kalau dicermati, kedua film Crank sebenarnya memuat banyak referensi pada video game. Beberapa reviewer bahkan mengatakan bahwa Crank lebih ‘pantas’ bila dijadikan game saja ketimbang film karena kadar ketidakrealistisannya. Nah, sekarang kalau duet tersebut mengerjakan sebuah game – eh film – berjudul Gamer, bagaimana ya kira-kira hasilnya?

Dunia sudah berubah pada tahun 2034. Tidak ada lagi Ragnarok Online atau World of Warcraft. Dua game yang paling menghebohkan semua orang adalah Society dan Slayers. Society mirip dengan The Sims, bedanya sebagai pemain kita tidak sekedar memainkan program di komputer melainkan orang lain yang menjadi sukarelawan dalam permainan tersebut. Kalau kalian merasa itu sudah aneh dan melanggar batas etika moral, coba lihat permainan Slayers. Dalam Slayers, puluhan bahkan ratusan narapidana terhukum mati menawarkan diri mereka secara sukarela untuk saling berperang ala Counter Strike. Siapa yang bisa bertahan hidup dalam 30 ronde akan mendapatkan kebebasan dari kursi mati.

Tentu saja karena kebrutalan permainan Slayers, tidak ada satupun pemain yang bisa bertahan lebih dari 10 babak kecuali pemain bernama Kable. Kable sudah menang sampai 27 kali berturut-turut di awal film, dan tiga kemenangan lagi akan membebaskan dirinya. Rupa-rupanya ada alasan bagi Kable untuk berada di dalam penjara tersebut, dan alasan itu berkaitan dengan Ken Castle, sang pencipta dari game Society dan Slayers (yang sekaligus melejitkannya menjadi orang terkaya di dunia melewati Bill Gates). Apakah Kable akan berhasil menang dan membebaskan diri? Apa rahasia gelap yang disimpan Ken Castle melalui dua permainannya itu?

Saya rasa Neveldine dan Taylor ingin menyindir masyarakat melalui film ini. Seperti yang kita tahu, begitu banyak game yang mempromosikan kekerasan pada jaman sekarang. Ingat kalau 20 tahun yang lalu kekerasan dalam Mortal Kombat yang notabene memang kontes tarung hidup mati saja banyak diprotes oleh orang tua. Kini, game GTA yang memberi kebebasan kamu menabrak dan membunuh orang tak bersalah semaumu. Duet ini lantas mengandaikan bahwa siapa tahu 20 tahun yang akan datang lagi, nurani manusia sudah tak lagi peduli dengan nyawa dan hak asasi manusia lain – asalkan kegemaran mereka dalam bermain game terpenuhi. Pada awalnya, pesan ini terasa cukup mengena, terutama setelah kita disajikan adegan kekerasan demi kekerasan. Miris rasanya melihat para pemain dalam Slayers terbantai – walaupun kita sudah tahu bahwa mereka adalah narapidana hukuman mati.

Toh, setelah 10 menit waktu film bergulir saya sudah mati rasa dengannya. Unsur kekerasan dan pornografi yang terlalu tinggi membuat saya geleng-geleng kepala. “Loh? Bukankah Crank juga menawarkan hal yang serupa?” Betul, tetapi Crank adalah parodi sarkasme over-the-top. Di sisi lain, Gamers yang seharusnya mempromosikan anti-kekerasan justru menawarkan lebih banyak kekerasan lagi. Pesan dari Neveldine dan Taylor walhasil malah terasa munafik. Pun keduanya terlalu sibuk menyorot kekerasan yang terjadi sehingga fokus antar para karakternya tidak terasa. Tak sekalipun saya merasa simpatik dengan perjuangan Kable meloloskan diri dari arena Slayers demi bertemu dengan keluarganya – karena saya tidak pernah melihat bagaimana sebenarnya keluarga bahagia mereka selain dari satu flashback singkat.

Deretan pemainnya pun tampil datar. Gerard Butler, Ludacris, Aaron Yoo dan hampir semua karakter dalam film ini kelihatannya lebih suka berkata-kata kotor ketimbang berakting. Memuakkan. Hanya dua yang tampil di atas rata-rata yakni Michael C. Hall sebagai si eksentrik Ken Castle (dia dari serial TV Dexter) yang berhasil membuat saya melongo melihat adegan menjelang klimaks yang… benar-benar harus ditonton sendiri untuk bisa kalian mengerti. Satu lagi yang mencuri perhatian adalah cameo Milo Ventimiglia (Peter Petrelli dari Heroes); apakah kalian tahu peran Ventimiglia di film ini? Yang pasti bakalan membuat image kalian akan Peter berantakan!

Gamers adalah sebuah film yang mengecewakan. Tadinya saya berharap kalau Neveldine dan Taylor bisa memberi pesan moral yang menonjok yang gagal diberikan oleh Surrogates sebagai film sci-fi serupa. Alih-alih berhasil, film ini malahan jatuh pada hibrid sci-fi, porno, dan kekerasan yang tidak layak tonton.

Score: 3.0

Movie Details
Director: Mark Neveldine & Brian Taylor
Cast: Gerard Butler, Michael C. Hall, Amber Valletta, Ludacris
Running Time: 95 Minutes

Comments (6)

Tags: , , , , ,

Law Abiding Citizen

Posted on 11 December 2009 by Si Tukang Review

Law Abiding Citizen Poster

Law Abiding Citizen Poster

Sistem hukum di Indonesia rasanya membuat semua orang geleng-geleng kepala. Bukan rahasia agaknya kalau saya mengatakan bahwa siapa yang punya uanglah yang berhak mengendalikan hukum. Pernah saya bertemu dengan orang yang ditipu sebanyak 30 milyar rupiah, ketika melaporkan penipu kepada polisi dan masuk pengadilan justru kalah karena dituduh mencemarkan nama baik. Lebih ironis lagi sang pelapor kalah karena sang penipu menggunakan uang 30 milyar hasil tipuannya untuk melicinkan jalannya keluar dari jeratan hukum. Tapi kalau kalian pikir sistem hukum di Indonesia adalah yang terparah di dunia, mungkin anggapan kalian berubah setelah menonton Law Abiding Citizen ini.

Tanpa sebab dan tanpa alasan, dua orang kriminal memasuki rumah dari seorang Clyde Shelton dan dengan keji membantai sang istri dan anak di hadapannya. Yang ironis, dengan semua bukti yang bertebaran pun laporan forensik kepolisian Amerika tidak bisa mendapatkan hasil yang konklusif. Jaksa penuntut Nick Rice yang mewakili Clyde Shelton celakanya juga seorang yang sangat mementingkan rekor menangnya di pengadilan (karena ia ingin terus dipromosikan). Sadar bahwa kasus Clyde tidak bisa dimenangkan, Nick enggan untuk terus berusaha dan justru mencari jalan kompromi dengan sang penjahat. Hasil terakhirnya: karena seorang kriminal ‘bernyanyi’ setelah diajak kompromi, partnernya dihukum mati tetapi dia sendiri hanya mendapat hukuman ringan penjara tiga tahun. Nick lega dan ia merasa Clyde pun seharusnya puas karena hukum – setidaknya sebagian – sudah dilaksanakan.

Yang Nick tidak tahu: Clyde tidak terima. Yang Nick juga tidak tahu: Clyde bukan orang biasa. Jauh dari biasa. Clyde Shelton adalah salah seorang agen ahli strategi jenius yang dimiliki pemerintah. Dia selalu berhasil menciptakan rencana-rencana yang brilian. 10 tahun berlalu semenjak kasus Clyde berakhir ketika sang agen menuntut balas. Dan kini Clyde tidak lagi menempuh jalur hukum layaknya seorang law abiding citizen (warga taat hukum). Kali ini ia memutuskan membawa hukum ke tangannya sendiri. Tidak hanya para penjahat yang menghabisi keluarganya sajalah yang membayar – tetapi seluruh sistem hukum di Amerika yang ia nilai bobrok.

Saya percaya bahwa sebagai sebuah film intelektual yang menyangkut agen rahasia di dalamnya, Law Abiding Citizen gagal total. Terlalu banyak adegan di dalam film ini yang tidak masuk akal. Secerdas-cerdasnya Clyde, mustahil dia bisa melakukan semua hal yang dia lakukan dalam film ini. Mau tahu betapa cerdas dirinya? Bayangkan Michael Scofield dari serial Prison Break. Sudah? Kini lipat gandakan kecerdasannya dan kamu dapatkan Clyde Shelton. Tunggu dulu – tunggu dulu. Walau saya bilang Law Abiding Citizen gagal sebagai film intelektual, sebagai film thriller ia mungkin adalah film terbaik yang saya tonton tahun ini. F. Gary Gray dengan efisien terus memompa adrenalin kita dari menit awal film hingga menit terakhirnya. Hampir tidak ada adegan sia-sia dalam film ini, semuanya bertujuan memajukan plot dan membantu para penonton mengerti sosok dan rivalitas dari Nick dan Clyde.

Kebetulan keduanya pun diperankan secara apik oleh Jamie Foxx dan Gerard Butler. Tahun ini kelihatannya Gerard Butler memang sibuk sekali! Setelah flirting dengan Katherine Heigl di The Ugly Truth dan menjadi karakter yang dikontrol dalam Gamer, ia masih juga bisa total menghidupkan perannya sebagai Clyde. Jamie Foxx sendiri dari sananya bukan aktor kacangan, entah kenapa sukses selalu menghindarinya walaupun ia sudah memenangkan piala Oscar melalui menampilannya di Ray. Di sini Foxx juga sukses mengimbangi Butler lewat sosok Nick Rice yang terombang-ambing mengenai apakah ia harus melanggar hukum (yang selama ini ia junjung) untuk menghentikan sepak terjang Clyde? Sedikit trivia, sebenarnya peran mereka berkebalikan pada awalnya. Foxx mendapat bagian sebagai Clyde dan Butler mendapat bagian sebagai Nick. Walau tinggal impian, menarik membayangkan bagaimana kalau itu yang terjadi.

Walau bukan tanpa kekurangan, Law Abiding Citizen jelas merupakan sebuah film yang tak boleh dilewatkan kalau kamu penggemar film thriller.

FUN FACT: Penulis skenario dari film ini adalah Kurt Wimmer yang karya garapannya bisa jadi hit atau miss di mataku. Saya suka dengan Equilibrium, tapi benci setengah mati dengan Ultraviolet.

Score: 8.6

Movie Details
Director: F. Gary Gray
Cast: Jamie Foxx, Gerard Butler, Leslie Bibb
Running Time: 109 Minutes

Comments (4)

Tags: , , , , ,

The Ugly Truth

Posted on 31 October 2009 by Si Tukang Review

The Ugly Truth Poster

The Ugly Truth Poster

Sudah menjadi rahasia umum kalau dalam hal percintaan pria dan wanita jauh berbeda. Sementara para wanita lebih melihat sisi dalam alias kepribadian pasangan, pria biasanya jatuh cinta terlebih dahulu pada tubuh sang wanita yang seksi elok menggiurkan. The Ugly Truth – sesuai dengan judulnya – berusaha menunjukkan kenyataan mengenai perbedaan kedua jenis kelamin ini dengan membenturkan dua sosok yang sangat berbeda. Yang satu sosok produser penuh tata krama Abby Richter (diperankan oleh Katherine Heigl) dan yang satu adalah presenter urakan Mike Chadway (diperankan oleh Gerard Butler). Bagaimanakah hasil benturan keduanya?

Walau ia adalah seorang wanita yang kompeten dalam banyak hal, ada dua masalah besar yang saat ini dihadapi oleh Abby. Yang pertama, show miliknya terus mengalami penurunan rating sehingga ditakutkan akan dipotong oleh studio televisi. Masalah pelik kedua adalah sosok jodoh yang entah kenapa tak kunjung datang mengingat hampir semua pria yang dihadapi oleh Abby tidak bisa memenuhi daftar pria sempurna yang ia miliki. Kehidupan Abby yang seakan penuh masalah diperparah dengan kehadiran Mike Chadway, seorang presenter urakan yang sebelumnya ngetop di program saluran TV kabel bernama The Ugly Truth.

Terkesan akan penampilan Mike, bos Abby mengajaknya bergabung dalam shownya. Walaupun ditentang habis-habisan oleh Abby, terbukti bahwa pembawaan Mike yang berbeda berhasil meningkatkan kembali rating tersebut. Melihat bagaimana Abby masih bersikap dingin kepadanya, Mike menawarkan diri kepada Abby untuk membantunya mendapatkan pria idamannya. Apakah Mike dan Abby akhirnya bisa bekerja sama? Akankah Abby bisa jadian dengan sosok idamannya? Ataukah sebenarnya Mike dan Abby sudah saling jatuh hati tanpa keduanya saling menyadari?

Perlukah pertanyaan di atas saya jawab? Seperti halnya perbedaan sifat pria dan wanita, ending komedi romantis juga merupakan sebuah rahasia umum. Dua lakon utamanya saling bertengkar, menemukan bahwa mereka sebenarnya memiliki kesamaan, jatuh cinta, bertengkar lagi, akhirnya berbaikan di penghujung film dan voila, semua bahagia dan ending bergulir. The Ugly Truth tidak berusaha menyimpang dari pakem tersebut, walaupun mereka menambahkan beberapa hal untuk membuatnya menjadi menarik. Satu hal yang mungkin langsung akan membuat kebanyakan penonton berjengit adalah banyaknya referensi seksual dalam film ini. Saya rasa ini adalah film bergenre komedi romantis pertama yang memuat kata-kata vulgar macam ‘cock’, ‘fuck’, maupun ‘shit’ di dalamnya. Saya heran gunting sensor Indonesia yang biasanya tajam (hei, jangan mendebatnya – mereka melarang Miyabi datang!) tidak memangkas habis adegan-adegan tersebut. Bagi saya sendiri, banyak referensi seksual sebenarnya merupakan angin baru dalam gaya komedi film ini karena semuanya tidak dibawakan dengan gaya kampungan. Toh terlalu banyak memakai gaya komedi seksual pada akhirnya sedikit melelahkan menjelang pengakhiran film.

Cerita dalam The Ugly Truth yang sebenarnya biasa-biasa saja tertolong oleh penampilan Katherine Heigl dan Gerard Butler. Seperti yang saya tulis dalam artikel lima gadis terpanas untuk film musim panas tahun ini, siapa yang tidak terkesima dengan kecantikan Katherine Heigl di sini? Saat adegannya dengan celana dalam saja saya sampai memandang tanpa berkedip (akui para kaum adam, kalian juga kan?). Gerard Butler pun masih menyisakan tubuh gagah six-packnya. Tampangnya memang berangasan dan sekilas tidak cocok untuk genre komedi romantis… toh setelah melihatnya membawakan Mike Chadway, saya merasa Butler adalah sosok yang tepat. Ia maskulin – tanpa terlihat kekanak-kanakan seperti Matthew McConaughey. Siapa sangka bahwa Raja Leonidas juga bisa berperan jadi Don Juan modern?

Membandingkan The Ugly Truth dan The Proposal tidak bisa dihindarkan mengingat kedua film ini keluar pada waktu yang berdekatan. Saya pribadi lebih memilih The Proposal, tetapi The Ugly Truth pun bukan film yang jelek. Yang jelas jangan membawa adik kalian yang masih belum berumur 17 tahun menonton film ini kalau tidak mau dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan dewasa dari mereka nantinya.

Score: 7.6

Movie Details
Director: Robert Luketic
Cast: Katherine Heigl, Gerard Butler
Running Time: 95 Minutes

Comments (7)

Advertise Here
Advertise Here