Tag Archive | "Friends"

Tags: , , , , , ,

The Bounty Hunter

Posted on 21 June 2010 by Si Tukang Review

The Bounty Hunter Poster

The Bounty Hunter Poster

Salah satu alasan kenapa saya masih mau menonton The Bounty Hunter padahal banyak review yang menyebutkannya jelek adalah karena saya suka dengan kedua karakter utamanya. Gerard Butler pertama ngetop lewat 300 tetapi dia membuktikan kalau dia bisa bermain dalam film-film romantis baik yang serius seperti PS: I Love You maupun yang bercampur dengan komedi seperti duetnya dengan Katherine Heigl di The Ugly Truth tahun lalu. Dan saya adalah pecinta berat sitkom Friends jadi saya pasti menonton film-filmnya Jennifer Aniston. Tambahan lagi sutradaranya adalah Andy Tennant yang resumenya terbilang lumayan… saya enjoy dengan Hitch dan Sweet Home Alabama!

Film ini dibuka dengan adegan yang (cukup) lucu. Seorang gadis bernama Nicole disekap dalam bagasi mobil pria bernama Milo. Sang gadis berhasil memperdayai sang pria dan kabur. Mereka kejar-kejaran. Dan lantas kita diberitahu kalau Nicole adalah seorang tersangka dan Milo adalah seorang pemburu bayaran (bounty hunter). Lantas kita juga diberitahu kalau mereka adalah mantan suami-istri. Usai adegan prolog tersebut kita dilempar ke waktu satu hari sebelumnya dan hubungan keduanya diperjelas. Ternyata Nicole tengah menyelidiki sebuah kasus sehingga tidak bisa datang saat dipanggil oleh kejaksaan atas pelanggarannya. Karena dianggap menyepelekan hukum, Nicole hendak dimasukkan ke bui. Orang yang ditugaskan untuk memasukkannya ke bui ternyata adalah mantan suaminya, Milo Boyd. Bisa ditebak kalau kasus yang diselidiki oleh Nicole ternyata lebih rumit dari dugaan semula. Di sisi lain, Milo dan Nicole tentu saja menemukan cinta lama mereka bersemi kembali.

Saya punya beberapa masalah dengan film ini. Yang pertama adalah premisenya yang terlalu mengada-ada. Milo bukan petugas polisi, jadi kenapa sebagai bounty hunter dia berhak pergi menangkap Nicole? Apa sebenarnya batas kekuasaan Milo? Dia punya lencana yang mirip dengan lencana polisi, tetapi dia tidak dianggap masuk dalam kesatuan polisi. Kok aneh ya? Saya tidak pernah tuh mendengar kesatuan Bounty Hunter di Amerika? Apa film ini membuatnya sendiri untuk kepentingan jalan ceritanya? Entah deh. Okelah, anggap saja memang begitu, toh kita tidak mengharapkan jalan cerita yang terlalu masuk akal bukan dalam film komedi romantis? Apa yang paling kita cari? Tentu saja adegan-adegan romantis di dalamnya, syukur-syukur dapat one-liner yang bisa dipakai untuk membuai perasaan kekasih bukan? Dua hal itu lagi-lagi tidak bisa saya dapatkan dari film ini. Jennifer Aniston dan Gerard Butler tidak punya chemistry sebagai kekasih satu sama lain. Bahkan tingkah laku karakter Milo dan Nicole jauh berbeda bak bumi dan langit sehingga sulit membayangkan kenapa mereka berdua bisa bersatu lagi di akhir cerita (oh come on, that’s not a spoiler). Tingkah laku kedua karakter utama pun tidak terbilang simpatik, terutama Milo yang terlihat amat sangat kekanak-kanakan. Dialog film ini sendiri juga entah kenapa terbilang datar sekali. Tidak ada momen-momen maupun dialog-dialog romantis seperti yang saya temui di Hitch.

Menilik judul The Bounty Hunter dan ringkasan ceritanya, kalian mungkin menebak kalau film ini menggabungkan genre laga dan komedi romantis dalam satu film. Dan untuk hal ini sebenarnya saya merasa pemilihan Gerard Butler tepat. Dia bisa tampil garang dan romantis… sayangnya Andy Tennant kelihatannya tidak becus menyutradarai bagian aksi di film ini. Semuanya terlihat melempem dan tidak seru. Tembak-tembakannya bahkan terasa sangat dibuat-buat sekali. Saya tidak berharap super dahsyat ala Die Hard tentunya, tapi… ah lihat saja sendiri supaya mengerti apa yang saya maksud. Yah, gara-gara ini juga film The Bounty Hunter terasa tanggung dan kepanjangan karena sejam pertamanya dihabiskan membangun hubungan Milo dan Nicole yang jatuhnya (juga) melempem.

So my verdict is… walaupun kamu penggemar kedua bintang utamanya maupun film bergenre komedi romantis, The Bounty Hunter adalah hasil yang mengecewakan. Masih banyak film-film komedi romantis yang lebih lucu, romantis, dan seru ketimbangnya.

Score: 4.7

Movie Details
Director: Andy Tennant
Cast: Gerard Butler, Jennifer Aniston, Gio Perez, Joel Garland
Running Time: 110 Minutes

Comments (2)

Tags: , , ,

The Break-up

Posted on 19 October 2009 by Si Tukang Review

The Break-Up Poster

The Break-Up Poster

Pertama saya mengira hebohnya film ini di pasaran Amrik sana adalah karena semua orang masih bersimpati dengan nasib Jennifer Aniston. Maklum, sang America sweetheart yang dulu dikenal sebagai Rachel Green ini ditinggal begitu saja oleh suaminya Brad Pitt yang ngabur dengan Angelina Jolie (Ugh, Pitt is a dumb…, menukar Jen dengan Jolie? >_<;;). Anyway, setelah saya menonton film ini, saya baru sadar kalau film ini banyak memberikan gambaran yang cukup ironis sekaligus nyata mengenai hubungan dengan lawan jenis. Cukup mendidik ternyata dengan caranya sendiri!

Gary dan Brooke adalah satu pasangan yang bahagia. Mereka sudah hidup sampai tiga tahun bersama-sama, dan mereka saling mengerti satu sama lainnya… mungkin. Karena pada suatu hari karena sebuah insiden kecil, terjadilah perkelahian besar antara mereka berdua. Semula teman-teman mereka tidak seberapa mempedulikannya. Toh, setiap hubungan pasti memiliki riak-riaknya sendiri. Yang tak disadari adalah ternyata perkelahian itu tidak berakhir malahan makin menjadi-jadi. Keduanya jadi saling tidak bisa mentolerir hobi masing-masing dan melakukan satu dan berbagai macam cara untuk menyakiti pasangannya.

Brooke misalnya memutuskan untuk memanggil adiknya berlatih vokal di rumahnya, sementara Gary membalasnya dengan menyetel stereo kencang dengan film sepanjang malam. Brooke pergi berkencan dengan pria lain, dan Gary membalasnya dengan mengadakan pesta dengan mengundang para stripper di rumah. Keduanya terus saling berusaha menyakiti satu sama lain sampai mereka menemukan sebuah konklusi akhir. Nampaknya mereka tidak bisa lagi saling bersama. Tetapi apakah cinta sejati mereka hanya akan berakhir sampai di sana saja? Lalu bagaimana usaha teman-teman dari Gary dan Brooke (yang konyol dan masing-masing dengan caranya tersendiri) mendukung Gary atau Brooke? Yang jelas film ini mengajarkan cukup banyak hal kepadaku mengenai sulitnya berada di dalam sebuah hubungan pacaran.

Kemudian deretan pemainnya pun tampil sangat baik. Apabila Jennifer Aniston dan Vince Vaughn menampilkan chemistry yang cukup gemilang (saya terutama harus memuji penampilan Jen, beberapa temanku sampai mengatakan bahwa mereka yakin Jen menggunakan breakup sesungguhnya dengan Brad Pitt sebagai acuan berakting, aktingnya benar-benar meyakinkan!). Pun demikian dengan beberapa pemain pendukungnya, yang datang melintas di pikiran karena mampu mencuri adegan seperti: Judy Davis yang benar-benar hidup memerankan tokoh Marilyn Dean. Jon Favreau juga menyegarkan suasana sebagai Johnny O.

Akhirnya apa yang kupetik dari film ini? Saya simpulkan dalam empat kategori berikut ini (as written in my blog): untuk para pria, jangan pernah menganggap remeh kalau wanita mengatakan tidak. Terkadang mereka tidak bermaksud mengatakan itu sungguh-sungguh. Jadi wanita suka berbicara secara implisit ketimbang secara eksplisit. Untuk para wanita, sebaiknya kalian belajar mengatakan terus terang kepada para pria. Para pria bukannya egois tidak memikirkan kalian, mereka menyayangi kalian, hanya saja kadang perhatiannya berbeda dengan yang kalian harapkan. Untuk yang sudah punya pasangan, pikirkanlah kadang mengenai apa yang dirasakan oleh pasangan kalian. Apakah kalian memang sudah menghargai apa yang dilakukan pasangan kalian untuk kalian? Atau jangan-jangan kalian selalu take it for granted? Jangan gengsi minta maaf atau kalian akan lost the true person you loved. Terakhir untuk yang belum punya pasangan, film ini akan membuka mata kalian bahwa yang namanya in a relationship tidak hanya ada manisnya saja. Ada banyak pahit dan duka yang juga harus dialami untuk mempertahankan sebuah hubungan itu.

Akhir kata, The Break-up adalah film komedi satir yang cocok bagi semua kalangan. Try watching it dengan pasangan anda. Kalian tentunya akan saling belajar banyak setelah menontonnya.

Score: 7.0

Movie Details
Director: Peyton Reed
Cast: Vince Vaughn, Jennifer Aniston, Joey Lauren Adams
Running Time: 105 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , , ,

The 5 TV Series Moments That Made Me Cry

Posted on 05 August 2009 by Si Tukang Review

Bukan rahasia kalau gw pernah (sering?) nangis dalam nonton film. Gw memang bukan seorang yang merasa harus menahan tangis bila memang perlu menangis. Asalkan sebuah media (apapun itu; mulai dari film, komik, bahkan musik) menyentuh hatiku, maka gw selalu mengijinkan diri gw menangis. Nah, sebelumnya gw pernah melist beberapa film yang pernah membuatku menangis. Bagaimana dengan serial TV? Ini dia list lima momen dalam serial TV yang pernah membuat gw menangis. Bagaimana dengan kalian? Apakah menangis juga dalam momen-momen yang kusebutkan ini? Perhatian, list ini hanya akan mengikutkan serial-serial barat, jadi jangan mengomel kalau serial Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, China atau sinetron Manohara favorit kalian tidak masuk dalam list ini. Obviously contain SPOILER.

5. Chuck Defends Morgan
TV Series: Chuck
Episode: Season 2, Chuck VS The Best Friend
Scene: Secara keseluruhan, episode ini menyorot hubungan Chuck dengan Morgan. Sering kali ketika Chuck absen dari kerjaan dan harus melakoni tugasnya sebagai agen rahasia, Morgan selalu menutupi jejaknya walau tidak tahu apa yang sebenarnya Chuck lakukan. Ketika dalam sebuah misi, Chuck harus mengkhianati Morgan (walau demi menyelamatkan nyawanya), saya bisa melihat bagaimana hal tersebut nyaris menghancurkan persahabatan keduanya, dan bagaimana hancurnya hati Chuck ketika ia  dipaksa mengatakan kata-kata yang menjelekkan sahabatnya. Ketika Chuck menjelaskan hubungannya dengan Morgan kepada Sarah, mata gw berkaca-kaca karena terharu. Dialog itu benar-benar mendeskripsikan persahabatan keduanya. Ending episode ini juga sangat pas dengan Jeffster menyanyikan lagu Africa-nya Toto serta menunjukkan perubahan dalam diri Morgan untuk tumbuh lebih dewasa dan tidak melulu tergantung pada Chuck. Definitely one of the best episode in an already awesome TV Series.

Link: Jeffster singing Africa to close this wonderful episode

4. I love you Claire Bear
TV Series: Heroes
Episode: Season 1, Company Man
Scene: Ada kalanya di mana gw adalah pecinta serial Heroes. Itu adalah masa-masa season pertamanya saat Heroes masih merupakan serial yang fresh dan penuh dengan ide orisinil. Salah satu ide yang menarik di Heroes adalah bagaimana mereka berusaha menyorot cerita satu demi satu karakter: mulai dari Hiro, Peter, Claire, dan lain-lain. Ironis bahwa sebuah serial yang terkenal dengan beberapa skenario dalam satu episodenya, episode terbaiknya justru datang dari episode yang fokus pada hanya satu karakter saja. Episode ini ditulis dan digarap oleh Bryan Fuller dan menitikberatkan cerita pada Claire dengan sang ayah angkatnya Noah Bennet (kala itu hanya dikenal dengan nama HRG -- Half Rimmed Glass). Hubungan keduanya dibangun dengan pelan-pelan hingga kita sebagai penonton disadarkan kenapa Noah begitu menyayangi Claire. Endingnya di mana Noah mengorbankan dirinya dan membiarkan ingatannya dihapus supaya Claire bisa kabur dari kejaran The Company adalah salah satu bukti nyata bahwa Heroes -- pernah bisa -- menyentuh hubungan dan emosi ayah-anak yang terdalam.

Link: What a father would do for his daughter

3. Marshall And Lily in the Airport
TV Series: How I Met Your Mother
Episode: Season 4, Three Days of Snow
Scene: Marshall dan Lily sempurna sebagai pasangan. Salah satu daya tarik utama dalam HIMYM adalah melihat keduanya bersama. Walaupun kelihatan membosankan (mereka pacaran selama lebih dari sepuluh tahun, dan berujung pada pernikahan, tanpa pernah punya pacar lain lagi!) menurutku Marshall dan Lily adalah sebuah bukti dari the one and only love; soulmate. Keduanya juga memiliki tradisi unik buat menjaga keromantisan pernikahan mereka. Seperti sama-sama membuat janji menu makan malam, atau keharusan Marshall menjemput Lily dari airport. Salah satu ujian terbesar hubungan mereka datang ketika usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun kedua. Apakah memang masih perlu segala tradisi formal semacam menjemput istrimu dari airport? Apalagi ketika itu tengah turun badai salju terbesar sepanjang sejarah di New York! Episode ini sendiri penuh dengan plot twist sehingga gw tidak mau banyak menspoilerkannya. Satu hal yang jelas, ketika ending dan plot twist tersebut tersibak, gw spontan bangkit berdiri dan ikut bertepuk tangan. Yes. It’s THAT moving.

Link: Download the episode here (

http://hotfile.com/dl/8776373/4bb458e/How_I_Met_Your_Mother_-_s04e13_-_Three_Days_Of_Snow.mkv.html)

2. She’s already a mother
TV Series: Friends
Episode: Season 10, The One With the Birth Mother
Scene: Kalau Marshall dan Lily adalah salah satu pasangan terbaik di layar kaca, maka gelar pasangan terbaik bagiku jatuh di tangan pasangan Monica -- Chandler. Pasangan ini dari awalnya sudah unik dan romantis. Ingat finale season enam di mana Chandler meminta Monica menikahinya (dan ternyata Monica juga sudah menyiapkan hal yang sama?). Sangat romantis! Tetapi momen terbaik keduanya bagiku datang saat Monica dan Chandler (yang sebenarnya sangat menghendaki bayi) menyadari bahwa mereka tidak bisa memiliki bayi. Mereka mengambil satu-satunya cara yang lain: mengadopsi bayi. Demi memperbesar peluang, mereka sampai berpura-pura menjadi orang lain. Malangnya, kedok mereka terbongkar dan ibu sang bayi sempat ogah menyerahkan bayi itu kepada mereka. Itulah saat Chandler keluar dan praktis memohon kepada sang ibu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Itulah saat pertama gw menonton serial TV dan tidak bisa menahan air mata gw tumpah. Chandler… you’re the man.

Link: Chandler Speech

1. My Greatest Hits
TV Series: Lost
Episode: Season 3, Greatest Hits
Scene: Ayolah. Siapa di antara kalian yang tahu gw dan tidak tahu that this is coming?

Charlie Pace adalah karakter favoritku di Lost. Gw pernah menulis kenapa dia jadi idola gw walaupun dia terbilang biasa dan sebenarnya lebih banyak merepotkan ketimbang membantu. Charlie adalah pecandu narkoba sebelum pesawat Oceanic 815 jatuh ke pulau tersebut. Ketika semua orang hanya beradaptasi dengan kehidupan di pantai, Charlie juga harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa narkoba. Dan ia berhasil menahan godaan itu! Sialnya, di season ketiga, Desmond (karakter lain di Lost) terus mengalami visi bahwa Charlie akan meninggal dan Desmond terus berusaha mencegah dan menghentikannya.

Sampai sebuah visi yang menunjukkan bahwa supaya Claire -- gadis yang diam-diam disukai Charlie -- bisa meloloskan diri dari pulau itu, Charlie harus mati. Sebelum Charlie menerima kematiannya, ia menuliskan lima hal yang merupakan memori terindah dalam hidupnya. Bisakah kalian menebak apa yang merupakan peringkat pertama dari kelimanya?

Ia menulis “The day I meet you” di peringkat pertama dan menujukan surat itu kepada Claire.

Flashback menunjukkan bahwa dari saat pertama Charlie melihat Claire, ia sudah mencintai gadis itu, dan walau ia tak pernah mengatakan apapun kepada Claire (dan Claire juga salah kaprah dan menyangka bahwa Charlie hanya teman baiknya), Charlie SELALU melakukan segalanya -- bahkan mengorbankan nyawanya -- bagi Claire. I think that’s the measure of a true gentleman. Itulah yang menjadikan Charlie Pace my most favorite TV character. Ever.

Oh, dan kelihatannya Charlie juga merupakan karakter favorit banyak orang. Pada konferensi Lost baru-baru ini, ketika ditunjukkan slideshow dari karakter-karakter yang sudah meninggal, tebak siapa yang mendapat applause paling panjang dan meriah? You guessed it. It’s Charlie.

Link: Charlie’s Greatest Hits

Comments (0)

Tags: , , , ,

Run Fatboy Run

Posted on 27 July 2009 by Si Tukang Review

Run Fatboy Run Poster
Run Fatboy Run Poster

Kalau komedian nomer satu di Amerika saat ini adalah Ben Stiller, maka komedian nomer satu di Inggris jelas Simon Pegg. Sejak kesuksesannya menggarap parodi Dead seriesnya George Romero dengan Shaun of the Dead, Simon Pegg mendapat perhatian Hollywood karena gaya humornya yang pintar dan berbeda dengan tipikal Hollywood. Film keduanya; Hot Fuzz sekali lagi mendapat pujian karena cerita yang unik ditambah twist yang tak disangka-sangka menjelang endingnya. Oleh karena itu ketika saya menonton film How to Lose Friends and Alienate People, saya sangat kecewa melihat gaya komedi Pegg berubah total. Saya menyangka bahwa ini dikarenakan tuntutan studio Hollywood yang memaksa Pegg mengubah gaya kreatifnya – karena itu saya mencoba menonton Run Fatboy Run, film Inggris terakhirnya sebelum ia hijrah ke Hollywood.

Dennis Doyle mengalami apa yang dialami oleh hampir semua pria menjelang hari pernikahannya: panik. Ketika ia sadar bahwa pacarnya hamil dan mengajaknya menikah, Dennis mengiyakan begitu saja. Ketika hari H tiba, ia sangat menyesal akan keputusan itu. Ia kemudian melakukan hal yang nekat dan tak disangka-sangka: ia kabur dari istrinya. Libby sang istri jelas murka berat akan kelakuan Dennis. Walaupun semenjak hari itu Dennis berusaha berubah dan meminta maaf akan kelakuannya, Libby tidak pernah memaafkannya. Ia memang masih menemui Dennis, tetapi itu lebih dikarenakan ia tidak ingin Jake – sang anak – terasing dari ayahnya.

Suatu hari, Dennis menemukan fakta bahwa Libby menemukan seorang pria sempurna dalam diri Whit. Whit cerdas, percaya diri, sayang kepada Libby dan Jake, juga mampu secara finansial. Dia berbeda 180 derajat dari Dennis yang masih bekerja sebagai satpam dan uang sewa rumahnya selalu nunggak. Walau Dennis cemburu setengah mati, Libby tetap melanjutkan hubungannya dengan Whit. Masih karena terbakar api cemburu itu, Dennis membuktikan bahwa dirinya bisa berubah dengan cara mengikuti lomba maraton yang diikuti oleh Whit. Tapi buat Dennis yang suka merokok, perutnya kegendutan, dan badannya tidak fit, apakah ia bisa menyelesaikan lomba maraton yang dikenal penuh tantangan bahkan untuk para veteran?

Sekali lagi saya harus kecewa akan film ini. Walau Run Fatboy Run tidak seburuk How to Lose Friends, saya tetap merasa ada yang hilang dari film ini bila dibandingkan dengan dua film Pegg sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa Pegg kehilangan daya magisnya karena tidak lagi bermain dengan mitranya Nick Frost. Mungkin saja statement tersebut benar. Ketika melihat Pegg beradu akting dengan Dylan Moran (berperan sebagai Gordon – sahabatnya) saya selalu teringat dengan duet Pegg-Frost, walau perlu dicatat bahwa Moran juga sudah berusaha tampil total. Toh di antara semua aktrisnya yang sukses mencuri perhatianku adalah Harish Patel dengan logat India yang kental dan lucu.

Dalam satu wawancara yang saya baca, Pegg menyatakan bahwa ia ingin membagi film ini menjadi tiga segmen: komedi, hubungan drama keluarga, dan film olahraga. Hasilnya? Sebagai film komedi, film ini gagal karena terlalu banyak mengedepankan humor fisik (Pegg bahkan berakting menggaruk – maaf – bagian kemaluannya dengan manekin toko!), sebagai film olahraga pun tidak seberapa berhasil; ingat dengan adegan lari di akhir film? Ia berprospek menjadi seperti Rocky tapi potensi itu lagi-lagi tidak pernah tergali sempurna. Satu-satunya yang berhasil ditonjolkan oleh Pegg hanya bagian drama di mana saya bisa melihat sosok Dennis yang berusaha berubah menjadi ayah dan suami yang lebih bertanggung jawab guna memenangkan keluarganya kembali.

Film ini juga menjadi debut bagi David Schwimmer sebagai sutradara. Ternyata sosok yang biasa dikenal sebagai Ross Geller dalam Friends ini piawai juga dalam menyutradarai film. Sayang memang bahwa skenario orisinil dari Pegg sendiri terlalu lemah sehingga film ini terasa kurang secara kualitas. Toh, ini bisa menjadi awal bagi karir Schwimmer selaku sutradara.

Score: 5.6

Movie Details
Director: David Schwimmer
Cast: Thandie Newton, Simon Pegg, Hank Azaria
Running Time: 93 Minutes

Comments (0)

Tags: , ,

How I Met Your Mother – The Complete First Season

Posted on 23 February 2009 by Si Tukang Review

How I Met Your Mother Poster

How I Met Your Mother Poster

How I Met Your Mother (HIMYM) adalah sitkom mengenai lima orang sahabat di kota New York. Sang pengaggas: duo Craig Thomas dan Carter Bays menciptakan serial ini berdasarkan refleksi dari pengalaman hidup serta persahabatan mereka. Telah memasuki season keempatnya, HIMYM masih merupakan sitkom terlucu yang pernah saya tonton.

Ted, Marshall, Lily, dan Barney adalah empat sekawan karib yang tak terpisahkan. Ted, Marshall, serta Lily tinggal di apartemen yang sama (Barney hadir mengunjungi mereka dari waktu ke waktu), sementara keempatnya selalu nongkrong di kafe MacLaren’s yang terletak di bawah apartemen mereka. Serial ini dibuka ketika Marshall dan Lily yang sudah pacaran selama sembilan tahun memutuskan untuk bertunangan. Ted yang selama ini selalu single dan kesulitan mencari gadis yang hendak berkomitmen dengannya memutuskan untuk mencoba mencari cewe baru. Ia menemukan tujuannya dalam diri seorang pembawa berita muda nan cantik bernama Robin. Kendati Robin menolaknya, ia tetap setuju untuk menjadi kawan Ted. Dan dari sana, dimulailah kisah persahabatan antara kelimanya.

Yang membuat HIMYM berbeda dengan cerita sitkom lainnya adalah cerita ini dituturkan dalam format masa lampau. Alkisah di tahun 2030, Ted tua (tidak pernah ditampakkan dan suaranya diisi oleh Bob Saget -- mantan pembawa acara America’s Funniest Home Video) memulai cerita kepada kedua anaknya mengenai bagaimana Ted bertemu dengan ibu mereka. Lantas penonton akan diflashback ke tahun 2005 untuk turut mendengar (melihat) cerita tersebut sekaligus mencari tahu siapa sebenarnya istri Ted di masa depan.

Apa yang menjadikan HIMYM sitkom yang berkesan adalah pembawaan dari lima karakternya yang begitu berbeda tapi sekaligus saling melengkapi. Ada Ted si pria yang siap berkomitmen, Marshall yang adalah family man sejati, sementara Barney adalah playboy pemikat wanita dengan segala triknya. Dari sisi cewe ada Robin yang belum mau berkomitmen, dan Lily yang feminin dan penuh perhatian. Mereka yang sering menonton mungkin akan langsung familiar dengan wajah Alyson Hannigan (yang ngetop melalui serial TV Buffy dan trilogi American Pie) dan Neil Patrick Harris (Starship Troopers dan Harold & Kumar). Jason Segel belakangan pun mulai menarik perhatian setelah aktingnya di layar lebar tahun 2008 di Forgetting Sarah Marshall. Menariknya sentral cerita pada karakter Ted justru diperankan oleh pendatang baru Josh Radnor yang relatif belum dikenal banyak orang.

Season pertama dalam HIMYM cukup menarik karena dibalut misteri mengenai “siapakah sang ibu?“. Untungnya saja para kreator dari acara ini tidak terjebak untuk terus mengulang-ulang tema yang sama. Tema utama mengenai identitas sang ibu hanya dipakai di saat-saat penting (mencuat di pertengahan season serta akhir season) sehingga episode-episode lain bisa mengisahkan episode lepas tanpa harus terbelenggu oleh tema utama. Walhasil, alur penjawaban misteri memang bergerak lebih lambat -- tapi siapa yang peduli? Sitkom seperti HIMYM bukan Lost yang harus terus bergerak memajukan plotnya tiap episode. Yang terpenting adalah sebuah sitkom adalah kelucuannya, dan HIMYM sukses melakukannya melalui humor-humor yang mereka lempar pada penonton.

Score: 8.0

TV Details
Producer: Carter Bays & Craig Thomas
Cast: Josh Radnor, Jason Segel, Cobie Smulders, Neil Patrick Harris, Alyson Hannigan
Running Time: 20 Minutes per Episode

How I Met Your Mother Opening

Comments (4)

Advertise Here
Advertise Here