Ten Become One
Kata “Dissidia” pertama kali disebutkan oleh Square Enix pada Mei 2007. Konsep di mana sepuluh jagoan dan musuh utama Final Fantasy yang bertarung dalam satu arena langsung mendapat perhatian luas publik. Seperti kebanyakan game-game besar Square Enix macam Crisis Core atau Final Fantasy XIII, pengembangan Dissidia yang pelan tapi pasti terus mendapatkan pemberitaan media massa. Lebih dari 18 bulan setelah diumumkan, Dissidia: Final Fantasy (Dissidia) dirilis untuk pasar Jepang. Pujian setinggi langit yang disematkan pada game ini (majalah Famitsu yang terkenal kritis pun memberi nilai 36 / 40 untuk Dissidia) membuat waktu penantian setahun bagi Dissidia terasa sangat panjang.
Toh penantian dari publik terbayar lunas ketika pada Agustus 2009 - hampir dua tahun lebih setelah pemberitaan pertamanya - Dissidia akhirnya dirilis. Versi baratnya ini lebih superior karena mengikutkan beberapa cutscene dan gerakan baru untuk para karakternya, sampai translasi yang cukup bagus untuk menjelaskan sistem gameplay Dissidia yang simpel-simpel ribet.
A Tale of Cosmos, Chaos, and Crystal
Cerita dalam Dissidia adalah cerita orisinil yang mirip seperti fanfic yang diangkat oleh Square Enix. Jangan terlalu berharap akan cerita epik sebagaimana serial Final Fantasy utama lainnya walaupun memang Square Enix sudah berusaha sebisa mungkin memberikan jalan cerita yang memadai untuk para karakter jagoan ini saling bertemu. Anggap saja seperti crossover gila-gilaan macam DC VS Marvel.
Ada dua kekuatan super di dunia ini: Cosmos dan Chaos. Cosmos adalah kekuatan yang menjaga keseimbangan sementara Chaos hendak menghancurkannya. Selama bermilenia-milenia lamanya keduanya terus berimbang sampai belakangan ini keseimbangan itu rusak. Chaos yang mendatangkan para penjahat kakap dari Final Fantasy I hingga X berhasil mendesak Cosmos. Di bawah serangan para monster macam Sephiroth, Golbez, Jecht dan lainnya para jagoan Cosmos bertumbangan satu demi satu.
Dengan sisa-sisa kekuatannya Cosmos melindungi sepuluh jagoan yang tersisa dan mengutus mereka mencari kristal. Cosmos percaya bahwa kristal tersebut adalah satu-satunya kunci untuk menghadapi dan memberi mereka secercah harapan untuk mengimbangi Chaos. Sayangnya, perjalanan sepuluh jagoan untuk menemukan kristal-kristal mereka tidak akan mudah. Banyak musuh dan rival yang harus mereka hadapi - walaupun pada akhirnya semua sadar bahwa untuk menemukan kristal mereka harus menghadapi diri mereka sendiri.
A Handheld Fantasy
Berbeda dengan game Final Fantasy yang memakai sistem Turn-Based RPG, Dissidia lebih merupakan campuran dari Action RPG dengan sistem battle. Banyak yang membandingkan sistemnya dengan battle di Kingdom Hearts, walaupun menurut saya keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Dissidia menempatkan kedua karaktermu di sebuah arena 3D yang bebas kamu kitari. Setiap karakter memiliki dua jenis serangan; serangan Bravery dan serangan HP. Serangan Bravery berfungsi untuk menaikkan nilai serangan sementara serangan HP berfungsi menggunakan nilai serangan yang sudah kamu kumpulkan lewat Bravery untuk mengurangi HP musuh. Sistem ini memberi keluwesan buat cara permainanmu. Apakah kamu tipe orang yang mau mengurangi HP musuh sedikit sedikit atau mengumpulkan serangan lewat Bravery dan langsung menghabisinya lewat satu serangan pamungkas?
Kalau kamu merasa tidak biasa dengan pola Action RPG yang membiarkanmu bebas mengendalikan karaktermu, kamu juga bisa memilih opsi Command. Di sini gerakanmu menjadi lebih terbatas tetapi kamu bisa menginput serangan, bertahan, maupun menghindar seperti Final Fantasy klasik. Tentu saja mengingat Dissidia didesign ala Action RPG, akan lebih menyenangkan untuk memainkannya dengan cara itu.
Total ada lebih dari 20 karakter yang bisa kamu mainkan dalam game ini (ada dua karakter rahasia). Masing-masing adalah pasangan rival utama dari Final Fantasy I hingga X. Misalnya Tidus dari Final Fantasy X memiliki musuh Jecht sang ayah. Atau Cecil yang berseteru dengan Golbez. Satu-satunya yang sedikit saya sayangkan adalah keputusan Square Enix yang memasukkan Ultimecia sebagai musuh Squall dalam Final Fantasy VIII. Siapapun yang pernah memainkan game tersebut tentu ingat bahwa musuh paling memorable dalam game tersebut adalah Seifer Almasy. Lepas dari satu komplain minor tersebut saya terkejut melihat bagaimana gameplay dalam Dissidia cukup dalam dan adiktif. Setiap karakter yang kamu mainkan memiliki pola serangan yang unik sehingga bereksperimen dengan mereka adalah kesenangan tersendiri. Zidane si monyet lincah dalam pertarungan udara, Cecil bisa berubah job antara Dark Knight dan Paladin, dan lain-lain. Favorit saya pribadi adalah Firion yang menguasai beberapa jenis senjata sekaligus.
Walaupun game ini sekilas cukup rumit, Square Enix menyediakan banyak tutorial singkat, mendasar, dan fun untuk diikuti. Fun dalam artian pemandu kita dalam tutorial ini adalah karakter-karakter cameo dalam Final Fantasy lain (ada Yuffie, Red XIII, Quistis, Selphie, dll loh!). Walaupun mereka tidak muncul dalam permainan, melihat mereka sekedar dalam gambar sekalipun membangkitkan nilai nostalgia tersendiri.
Dissidia juga membuktikan bagaimana Square Enix selalu bisa mendorong kualitas sebuah sistem pada ambang maksimalnya. Setiap karakter didesign ulang, siapa RPGer yang memainkan Final Fantasy VI tidak penasaran dengan bentuk Terra (Tina) di versi 3D. Nah, puaskan penasaranmu dengan memainkannya di game ini. Selain para karakter dan gerakannya, variasi stage yang berbeda juga merepresentasikan sisi Final Fantasy yang ia wakili. Kalau soal grafis jempolan, soal musik saya sedikit kecewa. Musik Dissidia memang banyak yang bagus, tetapi mayoritas hanyalah daur ulang dari game-game sebelumnya. Bagus sih bagus, tetapi saya ingin Dissidia sebenarnya memiliki lebih banyak theme orisinilnya sendiri. Voice actingnya pun antara hit and miss… dan saya menyayangkan tidak adanya fitur dual audio dalam game ini. Saya melihat di forum-forum bahwa beberapa purist sampai membela-belakan diri mencoba menghack PSP mereka sendiri guna mengubah suaranya menjadi versi Jepangnya.
Dissidia: Final Fantasy adalah pembuktian bagi Square Enix bahwa mereka kompeten dalam menciptakan game-game RPG yang bermutu di handheld sekalipun. Setelah Final Fantasy IV Remake dan The World Ends With You di DS ditambah Crisis Core di PSP, Dissidia menambah daftar panjang game-game sukses yang ditangani developer ini.
Final Verdict
Gameplay: 9.0
Walaupun bila dijelaskan melalui kata-kata terasa rumit, begitu kamu mencoba sendiri dan memainkannya, tidak akan makan waktu lama untuk membiasakan diri dengan sistem battle di Dissidia. Tanpa sadar kamu akan mulai menghabiskan waktumu mengkustomisasi karaktermu dan mengadunya dengan karakter-karakter lain.
Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya keluhan adalah pada kualitas voice-actingnya yang walaupun di atas rata-rata kualitas voice-acting kebanyakan game masih terasa inferior mengingat Dissidia mempesona di hampir setiap segi lain.
Play Time: 9.5
Menyelesaikan semua Story Mode para karakter bisa menghabiskan waktumu sampai 15 jam. Belum lagi mencoba menjajal para karakter dari sisi Chaos ditambah mencari musuh di dunia maya. Ditambah menaikkan level karaktermu. Ditambah mencari item serta equipment. Ditambah melengkapi semua achievement yang ada. Wow! Begitu banyak hal yang harus kulakukan dengan Dissidia!
Overall: 9.0
Game Details
Developer: Square Enix
Publisher: Square Enix
Genre: Action RPG












