Tag Archive | "Final Fantasy"

Tags: , , , , , , , , ,

Dissidia: Final Fantasy

Posted on 02 September 2009 by Si Tukang Review

Dissidia: Final Fantasy Cover

Dissidia: Final Fantasy Cover

Ten Become One

Kata “Dissidia” pertama kali disebutkan oleh Square Enix pada Mei 2007. Konsep di mana sepuluh jagoan dan musuh utama Final Fantasy yang bertarung dalam satu arena langsung mendapat perhatian luas publik. Seperti kebanyakan game-game besar Square Enix macam Crisis Core atau Final Fantasy XIII, pengembangan Dissidia yang pelan tapi pasti terus mendapatkan pemberitaan media massa. Lebih dari 18 bulan setelah diumumkan, Dissidia: Final Fantasy (Dissidia) dirilis untuk pasar Jepang. Pujian setinggi langit yang disematkan pada game ini (majalah Famitsu yang terkenal kritis pun memberi nilai 36 / 40 untuk Dissidia) membuat waktu penantian setahun bagi Dissidia terasa sangat panjang.

Toh penantian dari publik terbayar lunas ketika pada Agustus 2009 - hampir dua tahun lebih setelah pemberitaan pertamanya - Dissidia akhirnya dirilis. Versi baratnya ini lebih superior karena mengikutkan beberapa cutscene dan gerakan baru untuk para karakternya, sampai translasi yang cukup bagus untuk menjelaskan sistem gameplay Dissidia yang simpel-simpel ribet.

A Tale of Cosmos, Chaos, and Crystal

Cerita dalam Dissidia adalah cerita orisinil yang mirip seperti fanfic yang diangkat oleh Square Enix. Jangan terlalu berharap akan cerita epik sebagaimana serial Final Fantasy utama lainnya walaupun memang Square Enix sudah berusaha sebisa mungkin memberikan jalan cerita yang memadai untuk para karakter jagoan ini saling bertemu. Anggap saja seperti crossover gila-gilaan macam DC VS Marvel.

Ada dua kekuatan super di dunia ini: Cosmos dan Chaos. Cosmos adalah kekuatan yang menjaga keseimbangan sementara Chaos hendak menghancurkannya. Selama bermilenia-milenia lamanya keduanya terus berimbang sampai belakangan ini keseimbangan itu rusak. Chaos yang mendatangkan para penjahat kakap dari Final Fantasy I hingga X berhasil mendesak Cosmos. Di bawah serangan para monster macam Sephiroth, Golbez, Jecht dan lainnya para jagoan Cosmos bertumbangan satu demi satu.

Dengan sisa-sisa kekuatannya Cosmos melindungi sepuluh jagoan yang tersisa dan mengutus mereka mencari kristal. Cosmos percaya bahwa kristal tersebut adalah satu-satunya kunci untuk menghadapi dan memberi mereka secercah harapan untuk mengimbangi Chaos. Sayangnya, perjalanan sepuluh jagoan untuk menemukan kristal-kristal mereka tidak akan mudah. Banyak musuh dan rival yang harus mereka hadapi - walaupun pada akhirnya semua sadar bahwa untuk menemukan kristal mereka harus menghadapi diri mereka sendiri.

A Handheld Fantasy

Berbeda dengan game Final Fantasy yang memakai sistem Turn-Based RPG, Dissidia lebih merupakan campuran dari Action RPG dengan sistem battle. Banyak yang membandingkan sistemnya dengan battle di Kingdom Hearts, walaupun menurut saya keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Dissidia menempatkan kedua karaktermu di sebuah arena 3D yang bebas kamu kitari. Setiap karakter memiliki dua jenis serangan; serangan Bravery dan serangan HP. Serangan Bravery berfungsi untuk menaikkan nilai serangan sementara serangan HP berfungsi menggunakan nilai serangan yang sudah kamu kumpulkan lewat Bravery untuk mengurangi HP musuh. Sistem ini memberi keluwesan buat cara permainanmu. Apakah kamu tipe orang yang mau mengurangi HP musuh sedikit sedikit atau mengumpulkan serangan lewat Bravery dan langsung menghabisinya lewat satu serangan pamungkas?

Kalau kamu merasa tidak biasa dengan pola Action RPG yang membiarkanmu bebas mengendalikan karaktermu, kamu juga bisa memilih opsi Command. Di sini gerakanmu menjadi lebih terbatas tetapi kamu bisa menginput serangan, bertahan, maupun menghindar seperti Final Fantasy klasik. Tentu saja mengingat Dissidia didesign ala Action RPG, akan lebih menyenangkan untuk memainkannya dengan cara itu.

Total ada lebih dari 20 karakter yang bisa kamu mainkan dalam game ini (ada dua karakter rahasia). Masing-masing adalah pasangan rival utama dari Final Fantasy I hingga X. Misalnya Tidus dari Final Fantasy X memiliki musuh Jecht sang ayah. Atau Cecil yang berseteru dengan Golbez. Satu-satunya yang sedikit saya sayangkan adalah keputusan Square Enix yang memasukkan Ultimecia sebagai musuh Squall dalam Final Fantasy VIII. Siapapun yang pernah memainkan game tersebut tentu ingat bahwa musuh paling memorable dalam game tersebut adalah Seifer Almasy. Lepas dari satu komplain minor tersebut saya terkejut melihat bagaimana gameplay dalam Dissidia cukup dalam dan adiktif. Setiap karakter yang kamu mainkan memiliki pola serangan yang unik sehingga bereksperimen dengan mereka adalah kesenangan tersendiri. Zidane si monyet lincah dalam pertarungan udara, Cecil bisa berubah job antara Dark Knight dan Paladin, dan lain-lain. Favorit saya pribadi adalah Firion yang menguasai beberapa jenis senjata sekaligus.

Walaupun game ini sekilas cukup rumit, Square Enix menyediakan banyak tutorial singkat, mendasar, dan fun untuk diikuti. Fun dalam artian pemandu kita dalam tutorial ini adalah karakter-karakter cameo dalam Final Fantasy lain (ada Yuffie, Red XIII, Quistis, Selphie, dll loh!). Walaupun mereka tidak muncul dalam permainan, melihat mereka sekedar dalam gambar sekalipun membangkitkan nilai nostalgia tersendiri.

Dissidia juga membuktikan bagaimana Square Enix selalu bisa mendorong kualitas sebuah sistem pada ambang maksimalnya. Setiap karakter didesign ulang, siapa RPGer yang memainkan Final Fantasy VI tidak penasaran dengan bentuk Terra (Tina) di versi 3D. Nah, puaskan penasaranmu dengan memainkannya di game ini. Selain para karakter dan gerakannya, variasi stage yang berbeda juga merepresentasikan sisi Final Fantasy yang ia wakili. Kalau soal grafis jempolan, soal musik saya sedikit kecewa. Musik Dissidia memang banyak yang bagus, tetapi mayoritas hanyalah daur ulang dari game-game sebelumnya. Bagus sih bagus, tetapi saya ingin Dissidia sebenarnya memiliki lebih banyak theme orisinilnya sendiri. Voice actingnya pun antara hit and miss… dan saya menyayangkan tidak adanya fitur dual audio dalam game ini. Saya melihat di forum-forum bahwa beberapa purist sampai membela-belakan diri mencoba menghack PSP mereka sendiri guna mengubah suaranya menjadi versi Jepangnya.

Dissidia: Final Fantasy adalah pembuktian bagi Square Enix bahwa mereka kompeten dalam menciptakan game-game RPG yang bermutu di handheld sekalipun. Setelah Final Fantasy IV Remake dan The World Ends With You di DS ditambah Crisis Core di PSP, Dissidia menambah daftar panjang game-game sukses yang ditangani developer ini.

Final Verdict

Gameplay: 9.0
Walaupun bila dijelaskan melalui kata-kata terasa rumit, begitu kamu mencoba sendiri dan memainkannya, tidak akan makan waktu lama untuk membiasakan diri dengan sistem battle di Dissidia. Tanpa sadar kamu akan mulai menghabiskan waktumu mengkustomisasi karaktermu dan mengadunya dengan karakter-karakter lain.

Graphic / Sound: 8.5
Satu-satunya keluhan adalah pada kualitas voice-actingnya yang walaupun di atas rata-rata kualitas voice-acting kebanyakan game masih terasa inferior mengingat Dissidia mempesona di hampir setiap segi lain.

Play Time: 9.5
Menyelesaikan semua Story Mode para karakter bisa menghabiskan waktumu sampai 15 jam. Belum lagi mencoba menjajal para karakter dari sisi Chaos ditambah mencari musuh di dunia maya. Ditambah menaikkan level karaktermu. Ditambah mencari item serta equipment. Ditambah melengkapi semua achievement yang ada. Wow! Begitu banyak hal yang harus kulakukan dengan Dissidia!

Overall: 9.0

Game Details
Developer: Square Enix
Publisher: Square Enix
Genre: Action RPG

Comments (0)

Tags: , , , ,

Final Fantasy Legend II (GB)

Posted on 24 August 2009 by Si Tukang Review

Final Fantasy Legend II Cover

Final Fantasy Legend II Cover

Apabila kamu seorang veteran RPG yang pernah memainkan kebanyakan game Final Fantasy maka Final Fantasy Legend II pasti akan terlihat aneh bagimu. Game Final Fantasy yang dirilis untuk Game Boy ini tidak seperti kebanyakan Final Fantasy untuk konsol baik dari segi grafis maupun gameplaynya. Oke, Sejarah 101: Titel Jepang dari Final Fantasy Legend II adalah SaGa 2: Hiho Densetsu. Para RPGer tentunya tahu bahwa sebelum bergabung dengan Enix dulu Squaresoft memiliki tiga franchise besar: serial Final Fantasy, serial Mana, dan serial SaGa. Walaupun di Jepang semuanya memiliki fanbase masing-masing, di saat itu publik Amerika baru tahu Final Fantasy. Daripada bertaruh memakai nama SaGa, Squaresoft akhirnya menerjemahkan titel ini menjadi Final Fantasy dengan diimbuhi ‘Legend’. Lahirlah Final Fantasy Legend di Game Boy.

Apabila kamu berharap akan jalan cerita yang legendaris (forgive the pun) maka kamu akan kecewa. Perlu diingat bahwa ini adalah tahun 1990 dan bahkan game konsol di jaman itupun belum benar-benar mementingkan aspek cerita dalamnya. Sebaliknya, bila kamu mencari sebuah RPG dengan gameplay yang dalam dan bisa dibawa ke mana-mana, Final Fantasy Legend II bisa saja menjawab keinginanmu itu. Seperti yang kubilang tadi, jalan cerita game ini dibuka dengan sederhana. Karakter utamamu dititipi oleh ayahnya sebuah benda aneh bernama Prism. Sang ayah kemudian menghilang di tengah kegelapan malam. Bertahun-tahun kemudian kamu tumbuh dan tahu bahwa artifak yang dititipi oleh ayahmu bernama Magi, satu dari puluhan artifak kuno yang tersebar di berbagai dunia yang bisa kamu jelajahi. Bisa dibilang kalau tujuan utamamu dalam game ini adalah menemukan ayahmu sekaligus menemukan artifak-artifak Magi supaya tidak jatuh ke tangan orang yang tidak benar (mengutip semboyan Pokemon: Gotta catch em all!)

Alasan kenapa saya mengatakan gameplay Final Fantasy Legend II dalam adalah kebebasannya untuk mengkustomisasi karakter. Kamu bebas membentuk tim empat orangmu dari beberapa jenis kelas yang disediakan. Ada Human dan Mutant yang memiliki dua jenis kelamin (walaupun pria dan wanita identik) dan ada empat jenis Monster yang bisa kamu pilih. Pilihanmu sepenuhnya bebas. Kamu suka mengambil kemampuan monster-monster yang kamu temui? Berarti karakter Monsterlah yang sebaiknya kamu pakai. Atau kamu mau bermain aman ala RPG konvensional? Kalau begitu ras Human yang standar untuk pemula adalah pilihan yang cocok untukmu. Berbeda juga dengan kebanyakan RPG yang memakai sistem Experience Point untuk naik level, Final Fantasy Legend II menaikkan statusmu berdasarkan cara bertarungmu. Contohnya kalau kamu sering menyerang musuh dengan senjatamu maka STRmu akan naik dan sebaliknya bila kamu sering memakai magic kamu memperbesar kemungkinan mendapatkan sihir baru. Pernah main Final Fantasy II? Sistem yang dipakai Final Fantasy Legend II mirip dengannya.

Untuk sebuah game Game Boy, saya rasa Final Fantasy Legend II layak sekali diacungi jempol dalam sisi audio visualnya. Sistem pertempuran di sini dibuat ala Dragon Quest di mana musuh ditampilkan secara raksasa di hadapan kita sementara karakter kita kecil di bawah layar. Di sini saya dipaksa mengakui kalau kualitas grafis para monster itu tergarap apik untuk layar monokrom handheldnya Nintendo ini. Pun untuk beberapa dunia yang bisa dijelajahi (saya tidak akan spoiler lebih jauh), semuanya memiliki nuansa yang berbeda-beda walau tidak ada yang dunianya seluas dan seindah Chrono Trigger - ah, maafkan saya. Tidak semestinya saya membandingkan game SNES dan Game Boy. Untuk segi audionya, game ini ditangani oleh legenda hidup Nobuo Uematsu. Walaupun kapasitas Game Boy terbatas, itu tidak menghalangi sang komposer memberikan musik-musik yang apik baginya. Tidak sampai memorable ala kebanyakan game Final Fantasy yang ditangani Uematsu tetapi semuanya solid dan enak untuk didengar.

Dengan segala pencapaiannya ini, Final Fantasy Legend II adalah RPG klasik yang dikenal dengan inovasi dan tingkat kesulitannya yang tinggi. Bila hal tersebut membuatmu takut untuk menjajalnya, tunggu saja versi remakenya yang akan hadir di pasar Jepang Nintendo DS akhir tahun ini. Nah, siapa yang siap mengambili Magi-Magi lagi?

Final Verdict

Gameplay: 8.5
Kustomisasinya luar biasa dalam, tidak hanya untuk ukuran Game Boy tetapi untuk ukuran game-game RPG di jaman itu. Tak heran bila gameplay Final Fantasy Legend II tercatat dalam sejarah sebagai fondasi dari serial SaGa ke depannya nanti.

Graphic / Sound: 8.0
Grafisnya keren dengan berbagai jenis animasi monster. Karakter-karaktermu pun berbeda satu sama lainnya. Musiknya yang ditangani Nobuo Uematsu juga kelas satu (untuk kelas portable). Squaresoft tidak menganggap kecil Final Fantasy Legend II dan menggarapnya secara serius.

Play Time: 8.5
Memakan waktu hampir 15 jam buatku untuk menamatkannya. Insentif terbesar untuk mengulang game ini bukan ceritanya tentu saja, tetapi memainkannya dengan grup yang berbeda karakter demi sensasi permainan yang berbeda.

Overall: 8.4

Game Details
Developer: Squaresoft
Publisher: Squaresoft
Genre: RPG

Comments (0)

Tags: , , , ,

The Top 25 DS Game Countdown (Day 4)

Posted on 27 February 2009 by Si Tukang Review

Only two more days to go… Here’s number 10 - 6!

10. Sonic Rush

Saya tidak peduli apakah landak biru ini mau masuk ke dunia RPG, mau berpetualang di dunia 3D, mau ikut game fighting, atau bertanding olahraga di Olimpiade. Bagi saya dunia sejati bagi Sonic adalah kecepatan dan tidak ada genre yang paling mendefinisikan Sonic selain 2D Platform. Semenjak kelahirannya di konsol Genesis hampir 20 tahun silam, Sonic adalah salah satu ikon game paling tersohor di dunia selain Mario. Sungguh disayangkan bahwa kegagalannya hijrah secara mulus ke 3D membuat nama Sonic mulai dilupakan orang.Enter Sonic Rush. Sesuai dengan tajuk Rush, game ini mengembalikan Sonic ke habitat aslinya. Sonic diajak melaju, melesat, dan berlari melewati stage demi stage yang variatif. Selain Sonic, anda juga diperkenankan main sebagai Blaze the Cat, seekor kucing yang menjadi penjaga kristal dari dimensi lain. Now this is what I call the true fast and furious!

09. Advance Wars: Dual Strike

Seri Advance Wars sudah merupakan seri yang terkenal di Jepang sana. Sungguh disayangkan bahwa publik Amerika (dan dunia secara umumnya) baru mulai bisa menikmati betapa seru dan adiktifnya seri ini ketika Advance Wars pertama ditranslasikan untuk GBA. There’s no turning back for the series since then. Setiap rilis Advance Wars akan selalu dinanti-nantikan oleh para penggemarnya dan mengundang hype yang besar.Dua seri Advance Wars mampu menuai sukses di GBA, apakah sukses itu berlanjut di DS? Jawabannya adalah: ya. Dengan misi-misi yang bejibun dan variatif, kesempatan memainkan game ini bersama dengan teman, kedalaman strategi yang luar biasa untuk ukuran sebuah game handheld, sampai jalan cerita yang memikat membuat Advance Wars sebuah keharusan untuk dimainkan kalau anda seorang penggemar game strategi!

08. Castlevania: Dawn of Sorrow

Semenjak lahirnya Symphony of the Night, Castlevania secara resmi melakukan revolusi dari genre 2D Platform menjadi Action RPG. Tipe Castlevania seperti ini (yang disebut sebagai Castleroid) melanjutkan tradisinya di GBA melalui Circle of the Moon, dilanjutkan Harmony of Dissonance, dan ditutup Aria of Sorrow. Hampir setiap gamer mengakui bahwa Aria of Sorrow adalah Castleroid terbaik semenjak Symphony of the Night.Iga sebagai otak di balik seri ini menerima masukan dari para fans dan menggarap Dawn of Sorrow - sekuel langsung dari Aria of Sorrow (perlu diperhatikan bahwa ini adalah untuk pertama kalinya sebuah Castleroid mendapatkan sekuel langsung!). Dawn of Sorrow adalah Castlevania yang sangat layak untuk DS, arena istana Dracula jauh lebih luas ketimbang game di GBA, musikpun mendapatkan upgrade yang signifikan. Satu-satunya keluhan dari para fans adalah pengubahan citra Dawn of Sorrow ala anime yang membuat kesan suram dan mistis seri Castlevania hilang. Untung Order of Ecclesia mengembalikan nuansa ini kembali!

07. Final Fantasy IV

Kendati kebanyakan gamer akan menjawab Final Fantasy VI dan VII sebagai Final Fantasy favorit mereka sepanjang masa, nama Final Fantasy IV hampir selalu dipastikan masuk dalam daftar tiga besar mereka. Final Fantasy IV merupakan salah satu Final Fantasy klasik yang paling dicintai. Inilah game yang membuat nama Final Fantasy mulai dikenal oleh para RPGer - sekaligus Final Fantasy pertama yang masuk ke SNES. Remake / port berulang kali di Playstation, GBA, dan Wonderswan menunjukkan betapa Final Fantasy IV tidak pernah kehilangan pamornya.Tapi DS melakukan hal yang lebih dari sekedar meremakenya. Remade total Final Fantasy IV ini tidak sekedar memberikan upgrade minor tapi merombak total Final Fantasy IV menjadi 3D, mengubah percakapan, menambahkan voice acting, FMV baru, sampai berbagai adegan cutscene. What’s old before is new again. Petualangan Cecil dan kawan-kawannya hingga kini masih menjadi salah satu petualangan paling memorable di dunia RPG. Musik garapan Nobuo Uematsu masih tetap indah di telinga walau 15 tahun lebih berselang. Kalau anda dulu tidak pernah memainkan Final Fantasy IV, be sure to play it on the DS. It’s one of the best classic RPG out there.

06. Legend of Zelda: Phantom Hourglass


How can we make a list of a DS top game without Zelda in it? Selain Mario, Link adalah ikon besar yang selalu hadir di setiap konsol Nintendo. NES memiliki Legend of Zelda klasik, SNES memiliki A Link to the Past, GBC memiliki Oracle of…, GBA memiliki Minish Cap, N64 memiliki Ocarina of Time, Wii memiliki Twilight Princess, dan GC memiliki Wind Waker. Dan kalau mau diperhatikan, semua game Zelda pasti masuk dalam top 10 game terbaik di sistem di mana ia dikeluarkan.

Phantom Hourglass bukan perkecualian. Game ini adalah sekuel langsung dari Wind Waker GC yang hadir di tengah kontroversi. Ada fans yang jatuh cinta dengan penampilan Link yang imut dan lucu, ada juga fans yang memaki-maki Link dengan mata sebesar bola basket itu. Toh, ketika Phantom Hourglass muncul, hampir semua sepakat bahwa Link dari Wind Wakerlah yang layak hadir di DS yang juga bertampilan imut ini. Keunikan Phantom Hourglass tidak hanya hadir dalam bentuk kosmetik tampilan semata, tetapi juga melalui kontrolnya. Inilah game petualangan pertama DS yang dengan berani menghapus menggunaan D-Pad dan ‘memaksa‘ kita menggunakan stylus untuk menuntun Link menjelajahi dunia ini… dan tentu saja konsep ini dieksekusi secara sempurna oleh Nintendo. Melempar bumerang, bertarung dengan pedang, mencari harta, sampai menjelajahi tempat terasa mudah, luwes dan tidak kaku.

Next, the top games of DS.

Gw tahu banyak yang mungkin bengong. What? Kenapa Zelda ga masuk top 5? Kenapa Meteos dan Metroid Prime ga masuk top 5? Kenapa Castlevania ga masuk top 5? Apa aja game yang bakalan masuk top 5?

Take a guess guys. Apa ada yang bisa menebak apa yang bakalan menghuni peringkat 1 dalam listku? (Hint hint: It’s NOT that hard).

Comments (0)

Tags: , ,

Away Shuffle Dungeon

Posted on 10 January 2009 by Si Tukang Review

Away Swap Dungeon Cover

Away Swap Dungeon Cover

- kolaborasi kreator Final Fantasy dan Sonic

Publisher: Majesco
Developer: Mistwalker & Artoon
Genre: Action RPG

Dua studio: Artoon dan Mistwalker berkolaborasi untuk membuat sebuah game Action RPG unik bernama Away Shuffle Dungeon (Away). Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa memangnya Artoon dan Mistwalker? Mereka kok developer yang tidak terkenal? Keduanya memang developer baru, tetapi memiliki wajah lama dunia gaming. Artoon didukung oleh Naoto Oshima (orang yang mendesign Sonic si landak biru) sementara Mistwalker didirikan oleh Hironobu Sakaguchi (ayah serial Final Fantasy). Kolaborasi keduanya menjanjikan bahwa  Away akan bernuansa dan bergameplay ala Legend of Zelda.

Alkisah di sebuah desa kecil bernama Webb Village, para penduduk selalu ketakutan akan sebuah fenomena alam aneh bernama Away. Fenomena ini memang menakutkan; tiba-tiba orang bisa lenyap tanpa jejak begitu saja! Anda adalah Sword, seorang yang suatu saat saja muncul di Webb Village tanpa ingatan yang jelas akan masa lalumu. Baru Sword ingin beradaptasi dengan kehidupan di Webb Village (dan jatuh cinta pada seorang gadis), mendadak saja sebuah cahaya putih melingkupi seluruh desa. Ketika cahaya putih itu lenyap Sword tinggal sendiri di desa itu; semua orang lain sudah lenyap!

Sword makin bingung karena ketika ia menemukan terompet Rayre (sang kepala desa), ia membuka portal menuju dunia lain. Di sana Sword berhasil menolong Rayre. Rayre berpendapat bahwa asalkan Sword bisa menemukan benda berharga dari penduduk lain, ia mungkin bisa membuka portal ke sana dan menolong mereka. Dimulailah perjalanan Sword menyelamatkan penduduk desa kecil ini.

Alasan kenapa game ini mendapat tajuk Shuffle Dungeon adalah karena sistem dungeon-nya yang inovatif. Dungeon dalam game ini dibagi dalam dua layar DS. Salah satu layar DS (bisa atas bisa juga bawah) akan menunjukkan timer yang melakukan penghitungan mundur sampai nol. Setiap kali timer mencapai nol, layar tersebut akan bergerak (karena itu diberi nama: swap) dan menampilkan design dungeon yang baru. Kamu harus tangkas bergerak ke atas dan bawah layar karena Sword akan kehilangan nyawanya setiap kali ia terlambat berganti layar. Karena sistem ganti layar ini permainan di Away menjadi sangat intense (perhitungan mundur rata-rata hanya sekitar 5 – 10 detik, bahkan beberapa dungeon menetapkan waktu 3 detik untuk hitung mundur!).

Sayangnya, selain dari sistem dungeon yang cukup orisinil, Away tidak menawarkan inovasi lain. Pertarungan melawan para monster terasa sederhana dengan mengandalkan tebasan-tebasan semata. Para boss yang ditampilkan dalam arena 3D juga terasa monoton untuk dilawan (malahan sekilas lalu tampilan dan pertarungan melawan boss mengingatkan saya pada game Sonic Rush).

Konsep feng shui dalam game ini sebenarnya memiliki potensi – tetapi tak tergarap secara maksimal. Setelah Sword menyelamatkan beberapa penduduk desa tertentu, mereka akan membuka toko mereka kembali. Nah, di mana mereka akan membuka toko kembali menjadi hak yang bisa kamu putuskan. Konon tiap lokasi memiliki keunggulannya sendiri; memilih di lokasi A misalnya akan menjanjikan harga barang yang lebih murah sementara memilih di lokasi B membuat toko menjual barang yang lebih variatif. Toh, ketika saya mencoba mengganti lokasi toko-toko, perubahan yang terjadi tidak terasa signifikan dalam mempengaruhi permainan.

Grafis Away dibalut dalam warna-warna cerah cel shading sehingga bisa memanjakan mata (terutama bagi para gamer muda); memang tidak sebaik Legend of Zelda: Phantom Hourglass tetapi juga tidak buruk. Tiap karakter juga memiliki kepribadian dan sifat mereka sendiri-sendiri yang membuat anda tertarik mengikuti sepak terjang mereka lebih lanjut.

Pada akhirnya, Away termasuk game yang bisa cepat diselesaikan. Saya menamatkan game ini di bawah waktu 15 jam, dan para gamer yang terbiasa akan game bertipe serupa mungkin bisa menyelesaikannya di bawah 10 jam. Game ini memang tidak buruk, tetapi mengingat tim yang sama memberi kita salah satu dari maskot dan seri RPG terkenal sepanjang masa, ia tetap hadir di bawah ekspektasi.

Final Verdict:

Gameplay: 5
Kendati sistem dungeon-nya inovatif, tidak ada tambahan inovasi lain yang dihadirkan oleh Away kepada kita. Sistem magic-nya yang menggunakan fupong malah saya rasa sangat kaku.

Graphic / Sound: 7
Grafis cel shading dalam Away walau terlihat ketinggalan jaman dan kasar, tetap memiliki pesonanya sendiri. Pun begitu dengan musik dalam game ini yang cukup variatif. Sayang design dungeonnya semuanya ‘serupa tapi tak sama’

Play Time: 6.5
Singkat dan terlupakan. Setelah menyelesaikan game ini, saya benar-benar tidak bisa menemukan alasan untuk mengulangi memainkannya lagi.

Overall: 6.2

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here