<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Si Tukang Review &#187; Final Fantasy VII</title>
	<atom:link href="http://tukangreview.com/tag/final-fantasy-vii/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tukangreview.com</link>
	<description>a review a day takes your curiosity away</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 01:50:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Compilation of Final Fantasy VII</title>
		<link>http://tukangreview.com/2009/04/24/compilation-of-final-fantasy-vii/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2009/04/24/compilation-of-final-fantasy-vii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 15:54:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Compilation]]></category>
		<category><![CDATA[Final Fantasy VII]]></category>
		<category><![CDATA[Square Enix]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=1123</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar soal proyek yang dicanangkan oleh Square Enix ini? Walaupun Final Fantasy VII bisa dibilang merupakan game RPG terlaris dan tersukses sepanjang masa, Hironobu Sakaguchi tidak peduli dan meneruskan angka romawi Final Fantasy dengan VIII, IX, sampai X. Tidak lama kemudian, Squaresoft yang merger dengan Enix mengubah taktiknya dengan mengangkat kembali game-game mereka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar soal proyek yang dicanangkan oleh Square Enix ini?</p>
<p>Walaupun <strong>Final Fantasy VII</strong> bisa dibilang merupakan game RPG terlaris dan tersukses sepanjang masa, Hironobu Sakaguchi tidak peduli dan meneruskan angka romawi Final Fantasy dengan VIII, IX, sampai X. Tidak lama kemudian, Squaresoft yang merger dengan Enix mengubah taktiknya dengan mengangkat kembali game-game mereka yang dikembangkan menjadi franchise baru.</p>
<p><strong>Compilation of Final Fantasy VII</strong> menjadi salah satu bagian dari marketing baru mereka itu. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengumumkan akan ada lima titel yang melengkapi kompilasi ini &#8211; dan Final Fantasy VII hanya bagian ketiganya saja. Bagian pertamanya adalah <strong>Before Crisis</strong>, sebuah game RPG yang hanya hadir di ponsel Jepang, disusul <strong>Crisis Core</strong> yang menceritakan mengenai Zack Fair di PSP. Final Fantasy VII sendiri sebagai bagian ketiga akan dilanjutkan oleh <strong>Advent Children</strong> &#8211; sebuah CG movie yang langsung rilis untuk DVD. Keseluruhan kompilasi ini nantinya ditutup dengan bagian kelimanya yang menyorot Vincent dan dijuduli <strong>Dirge of Cerberus</strong>.</p>
<p>Ketika saya mengupload review-review lama dulu, saya menyadari bahwa dalam hari yang berdekatan saya mengupload Advent Children dan Dirge of Cerberus. Mengingat saya (dan publik di luar Jepang) takkan pernah bisa main Before Crisis, itu berarti hanya tersisa dua bagian dalam kompilasi ini yang belum saya review: Crisis Core dan Final Fantasy VII sendiri. Oleh karena itu, saya berpikir &#8220;<em>kenapa tidak lengkapi semua reviewnya?</em>&#8220;. Dari sana, saya menghabiskan dua hari terakhirku untuk melakukan riset sekaligus mereview kedua game ini.</p>
<p>Final Fantasy VII akan selalu menjadi bagian manis yang akan kukenang dalam kehidupanku. Kuharap review-review ini pun membangkitkan kenangan manis kalian yang pernah memainkannya dan memicu rasa ingin tahu bagi kalian yang belum pernah menjelajahi dunianya.</p>
<p>Happy reading!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2009/04/24/compilation-of-final-fantasy-vii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Final Fantasy VII (PS)</title>
		<link>http://tukangreview.com/2009/04/23/final-fantasy-vii/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2009/04/23/final-fantasy-vii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 10:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Retro]]></category>
		<category><![CDATA[Cloud]]></category>
		<category><![CDATA[Final Fantasy VII]]></category>
		<category><![CDATA[Hironobu Sakaguchi]]></category>
		<category><![CDATA[Sephiroth]]></category>
		<category><![CDATA[Squaresoft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=1109</guid>
		<description><![CDATA[Ada ratusan game RPG yang hadir sebelumnya, dan ratusan game RPG yang hadir sesudahnya tapi Final Fantasy VII (FFVII) hingga hari ini masih bertahan menjadi salah satu game RPG favorit saya. Sulit dipercaya bahwa 12 tahun semenjak dirilisnya dulu, game buatan Squaresoft ini masih menjadi primadona di kalangan para gamer, dan bisa dibilang merupakan Final [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 266px"><img title="Final Fantasy VII Cover" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c7/Ffviibox.jpg" alt="Final Fantasy VII Cover" width="256" height="255" /><p class="wp-caption-text">Final Fantasy VII Cover</p></div>
<p>Ada ratusan game RPG yang hadir sebelumnya, dan ratusan game RPG yang hadir sesudahnya tapi <strong>Final Fantasy VII </strong>(FFVII) hingga hari ini masih bertahan menjadi salah satu game RPG favorit saya. Sulit dipercaya bahwa 12 tahun semenjak dirilisnya dulu, game buatan Squaresoft ini masih menjadi primadona di kalangan para gamer, dan bisa dibilang merupakan Final Fantasy yang tersukses.</p>
<p>FFVII mengikuti cerita dari seorang mantan anggota SOLDIER bernama Cloud Strife. Setelah hari-harinya di kesatuan elit tersebut usai, Cloud bekerja sebagai tentara bayaran untuk pemberontak Avalanche. Ironisnya, Avalanche justru menciptakan keonaran dan melawan Shin-Ra; korporasi raksasa yang memiliki SOLDIER. Apa yang awalnya bermula dari pemberontakan ini nantinya berkembang lebih lanjut menjadi perjalanan menyelamatkan seluruh dunia. Cloud kemudian menemukan koneksi antara Shin-Ra dengan Sephiroth, seorang SOLDIER legendaris yang menjadi pahlawan serta pujaan banyak orang sebelum menjadi sinting. Apa yang tidak ia &#8211; maupun para gamer &#8211; sadari, adalah keterkaitan Sephiroth dengan masa lalunya yang terpendam.</p>
<p>Ketika dirilis pada tahun 1997 dulu, FFVII langsung memukau orang dengan grafisnya. Grafis menggabungkan FMV dengan gaya render karakter yang realistik sementara menggunakan gaya render semi-deformed untuk permainannya. FFVII juga merupakan Final Fantasy di mana Yoshitaka Amano tidak berperan sebagai ilustrator utama. Sebaliknya, tugas ini diemban oleh artis muda Tetsuya Nomura. Hasilnya adalah karakter-karakter seperti Cloud, Sephiroth, Tifa, Aeris, yang namanya dikenal oleh mayoritas gamer. Di luar karakternya yang begitu memorable, FFVII juga dikenal dengan design lokasi yang begitu berbeda dan unik. Siapa bisa lupa keindahan Midgar dengan sektor-sektor yang begitu berbeda, mulai dari kalangan mewahnya yang aristokrat, kehidupan malamnya yang meriah, kehidupan gereja yang tenang, sampai kehidupan kumuhnya yang penuh penderitaan? Atau siapa bisa lupa betapa surealnya nuansa di Cosmo Canyon? Orientalnya Wutai? Misteriusnya Nibelheim? Dibandingkan dengan kota dalam game RPG lain yang pada era tersebut serupa tapi tidak sama, design dalam FFVII langsung membekas di hati para gamer. Tidak hanya memukau pada latar belakang, karakternya, dan FMVnya, FFVII juga mengesankan di battlenya. Bukan cuma variasi serangan dan magic, game ini juga memanjakan mata dengan peragaan Summon dan Limit Break yang berbeda-beda.</p>
<p>Selain grafisnya yang memukau, OST dalam Final Fantasy VII juga diakui banyak gamer sebagai kumpulan musik berkelas. Nobuo Uematsu yang di masa itu sudah identik dengan Final Fantasy menunjukkan kelasnya dan menggunakan kapasitas CD Playstation. Musik-musik FFVII memiliki variasi yang lebih kaya ketimbang kebanyakan Final Fantasy sebelumnya. Toh walau menghadirkan score seperti One Winged Angel, Aerith&#8217;s Theme, Tifa&#8217;s Theme, dan banyak lagi; saya pribadi masih menganggap kalau deretan soundtrack di FFVII kalah tipis dengan dua Final Fantasy klasik; <strong>Final Fantasy VI</strong> dan <strong>IV</strong>.</p>
<p>Selesai membahas grafis dan musiknya, kita beranjak ke gameplaynya. Final Fantasy VII memperkenalkan kepada kita sistem Materia &#8211; sebuah sistem yang bersangkutan dengan cerita. Materia berfungsi untuk mengkustomisasi karakter kita. Ada berbagai macam Materia, mulai dari Magic, Summon, Support, dan Command yang bisa dikombinasikan para gamer. Tentunya tidak bisa gamer sembarangan memasang semua materia yang mereka kehendaki. Materia yang bisa dipakai oleh seorang karakter tergantung dari slot materia dari senjata dan armor yang ia equip. Misalnya, senjata Cloud memiliki dua slot materia, sementara armornya memiliki tiga slot materia. Total materia yang bisa dipakai Cloud adalah lima. Seperti para karakter, Materia juga bisa dievolusikan sampai pada level Master apabila mendapat experience pointnya sendiri. Sistem Materia ini mendapat sambutan beragam. Ada yang memuji sistem ini karena simpel dan mudah dipelajari, tetapi ada juga yang mencerca karena menjadikan semua karakter setali tiga uang. Kendati sistem Materia memang membuat tiap karakter menjadi mirip satu sama lain, Squaresoft memasukkan sistem Limit Break untuk membedakan mereka. Limit Break adalah gerakan spesial yang bisa dieksekusi oleh seorang karakter apabila gaugenya penuh. Kriteria memenuhi gauge itu? Diserang musuh.</p>
<p>Tidak peduli apakah kamu suka atau tidak dengannya, tidak bisa dipungkiri kalau FFVII telah menyemenkan statusnya sebagai salah satu &#8211; kalau bukan yang terpopuler sepanjang masa. Hingga kini, kalau saya bicara soal game RPG di forum game, banyak orang yang tidak tahu apa itu Suikoden, Wild Arms, bahkan beberapa game Final Fantasy sendiri, tetapi bila saya menanyakan soal Final Fantasy VII mereka bisa dengan cepat menjawab: &#8220;<em>Ah&#8230; si jabrik berambut kuning bernama Cloud itu ya?</em>&#8220;. Kalau kalian &#8211; entah apapun alasannya &#8211; belum memainkan game ini dan enggan memainkannya karena merasa dia sudah berumur 12 tahun, saya rasa kalian akan menyesal. Ini adalah contoh sempurna dari sebuah game yang makin menunjukkan status legendarisnya seiring dengan pertambahan usianya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Final Verdict</strong></span>:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Gameplay</span>: 8.5<br />
Dunia RPG yang sukses menggabungkan teknologi dengan pedang. Walaupun bukan sistem battle RPG terinovatif, gameplaynya yang relatif sederhana membuat ia gampang dimainkan siapa saja.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Graphic / Sound</span>: 10<br />
Design karakter dan dunia yang memukau, FMV yang menakjubkan, variasi OST memanjakan telinga. Tidak ada kata lain selain sempurna.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Play Time</span>: 10<br />
Cerita utamanya sendiri memakan waktu 40 &#8211; 50 jam untuk dimainkan. Tetapi amat sangat mudah mencurahkan lebih banyak lagi waktu menjelajahi dunia FFVII, menaikkan level, mencari rahasia, menyelesaikan subquest, sampai melawan para boss rahasia yang tersedia.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>10</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Developer: Squaresoft<br />
Publisher: Sony<br />
Genre: RPG</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2009/04/23/final-fantasy-vii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dirge of Cerberus</title>
		<link>http://tukangreview.com/2009/04/23/dirge-of-cerberus/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2009/04/23/dirge-of-cerberus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 16:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Console]]></category>
		<category><![CDATA[PS2]]></category>
		<category><![CDATA[Dirge of Cerberus]]></category>
		<category><![CDATA[Final Fantasy VII]]></category>
		<category><![CDATA[Square Enix]]></category>
		<category><![CDATA[Vincent]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=1105</guid>
		<description><![CDATA[Dirge of Cerberus mungkin adalah game yang paling dinanti-nantikan oleh semua penggemar RPG Final Fantasy VII di seluruh dunia. Maklum, game ini adalah sekuel resmi dari RPG tersohor milik Squaresoft dulu. Tetapi banyak kalangan terhenyak ketika menyadari bahwa game ini bukan muncul dalam format RPG melainkan third person shooting action. Apakah game ini akan berhasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 260px"><img title="Dirge of Cerberus Cover" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/4/4f/FF7DC_Kover.jpg/250px-FF7DC_Kover.jpg" alt="Dirge of Cerberus Cover" width="250" height="350" /><p class="wp-caption-text">Dirge of Cerberus Cover</p></div>
<p><strong>Dirge of Cerberus</strong> mungkin adalah game yang paling dinanti-nantikan oleh semua penggemar RPG <strong>Final Fantasy VII </strong>di seluruh dunia. Maklum, game ini adalah sekuel resmi dari RPG tersohor milik Squaresoft dulu. Tetapi banyak kalangan terhenyak ketika menyadari bahwa game ini bukan muncul dalam format RPG melainkan third person shooting action. Apakah game ini akan berhasil melanjutkan tradisi sukses dari sang pendahulu?</p>
<p><strong>Graphic</strong> (<strong>5</strong> / 10)</p>
<p>Pertama kali adegan dibuka dengan FMV ala Square yang seperti biasa: cantik dan memaksa kinerja PS2 bekerja maksimal. FMVnya ini konon digarap dengan engine yang sama yang memproduksi <strong>Final Fantasy VII: Advent Children</strong> lalu. Tidak heran kalau cutscene dalam bentuk FMVnya tampak benar-benar luar biasa.</p>
<p>Sayangnya, kompensasi untuk banyak space dari FMV itu diambil dari in-gamenya sendiri. Saya merasa kalau grafis in-gamenya termasuk buruk, apalagi untuk ukuran game dari Square. Maksudku: Square adalah perusahaan yang dahulu berhasil menciptakan <strong>Final Fantasy X</strong> dengan grafik luar biasa untuk ukuran beberapa tahun yang lampau. Dan grafis dari game ini tidak banyak meningkat ketimbang Final Fantasy X lalu! Bahkan <strong>Kingdom Hearts 2</strong> yang keluar dari perusahaan yang sama dan dalam waktu hampir bersamaan memiliki kualitas grafis jauh lebih oke ketimbang game ini.</p>
<p>Begitu pula design dari character-character yang ada. Entah saya yang sudah letih dengan style gaya Nomura atau tidak, tetapi entah kenapa karakter-karakter villain dalam game ini terlihat sangat monoton. Nyatanya yang paling mengecewakan bagiku adalah menyaksikan tempat-tempat legendarisku dahulu di Final Fantasy VII (seperti Kalm, Midgar, mansion Nibelheim, dll) nyatanya tidak sesuai gambaranku ketika diremake sekarang dalam bentuk next-gen console. Saya jadi khawatir, jangan-jangan Final Fantasy VII remake nantinya tidak akan berhasil memenuhi ekspektasiku?</p>
<p><strong>Sound</strong> (<strong>6</strong> / 10)</p>
<p>Department suara bisa dibilang adalah satu-satunya hal yang paling lumayan di sini. Musik latar sepanjang permainan terasa sendu dan syahdu – pas dengan kesan kelam yang memang ingin ditonjolkan di sini. Tetapi itu bukan berarti musiknya benar-benar bagus. Buktinya setelah beberapa jam memainkannya, bahkan hingga selesaipun, tidak ada musik yang benar-benar masih terngiang-ngiang di kepalaku. Saya jadi penasaran lagi, apakah bukan Nobuo Uematsu sebenarnya yang menggarap musik dalam seri ini? (nampaknya saya perlu melakukan penyelidikan lebih jauh nantinya). Untungnya saja ada lagu dari Gackt berjudul Redemption. Lagu ini termasuk menarik untuk didengarkan (lagu Gackt favorit saya untuk sekarang), dan sayangnya tidak terdapat banyak versi in-gamenya untuk kita dengarkan.</p>
<p>Sound effectnya bisa dibilang biasa-biasa saja. Bunyi ledakan ya terasa seperti ledakan, tembakan dan desingan peluru pun demikian. Charge daya magis anda juga biasa-biasa saja. Lantas voice actingnya dalam bahasa Inggris cukup menyedihkan. Toh saya juga tidak bisa menyalahkan pengisi suaranya. Bagaimana anda bisa mengisi suara dengan berbagai macam nada untuk karakter seperti Vincent yang sebenarnya karakter satu dimensi begini? (Alias kepribadiannya hanya begitu saja – stagnan dan tidak mengalami perubahan signifikan apapun).</p>
<p><strong>Gameplay</strong> (<strong>4</strong> / 10)</p>
<p>Benar-benar payah. Square benar-benar harus belajar banyak untuk membuat sebuah game action. Kendati dari Vincent sangatlah sulit dilakukan. Ketika anda melakukan auto-aim, bukannya anda membidik ke musuh terdekat, Vincent secara butanya membidik ke&#8230; tembok terdekat! Atau malah kacau ke sana sini. Lagipula pengarahan bidikan anda yang dilakukan melalui putaran kanan controller anda sangat sulit untuk akurat. Ini benar-benar menyulitkan ketika anda dikepung di sana-sini. Sistem lain seperti materia dan limit break menurut saya sedikit aneh. Limit break anda menggunakan&#8230; item? Kok bukan karena kena serangan seperti Final Fantasy VII terdahulu? Atau bukan karena menyerang musuh? Senjata bisa diperbaiki dan diupgrade setiap saat supaya menjadi lebih kuat lagi. Tentu saja anda bisa mengequip berbagai macam part di dalamnya. Mungkin pilihan modifikasi senjata ini yang lumayan dalam bidang gameplay.</p>
<p>Interaksinya dengan lingkungan juga menyedihkan. Vincent benar-benar hanya berjalan dalam satu alur saja. Bayangkan, dalam FMV dia bisa melompati gedung demi gedung, sementara di dalam gamenya sendiri, dia tidak bisa bahkan melompat dari rumah untuk turun ke bawah. Apa yang Vincent harus lakukan? Dia harus naik tangga! Ya ampun, benar-benar jenius Square! Hal ini diperparah dengan tidak rusaknya obyek apapun ketika anda tembak, selain mungkin obyek-obyek tertentu macam drum yang bisa meledak. <strong>Metal Gear Solid 2</strong> hadir di masa awal PS2, dan game tersebut memiliki interaksi antara karakter dan latar belakang yang lebih solid ketimbang DoC.</p>
<p>Ceritanya bisa dibilang sederhana dan tidak seberap bagus. Jelas tidak akan bisa menyamai Final Fantasy VII. Dan entah kenapa saya melihat karakter Vincent ini stereotipe sekali dengan Cloud. Di opening movie misalnya dia akan meminta&#8230; pengampunan?! Tidakkah ini sedikit mengingatkan anda pada sang pahlawan berambut kuning jabrik itu? Sayangnya lagi, sangat sedikit karakter Final Fantasy VII sebelumnya selain Yuffie (juga Reeves yang kita kenal dengan Cait Sith) yang akan berperan penting dalam cerita. Hem, apakah Square ingin menebus dosa untuk dua karakter rahasia ini sehingga memberi mereka porsi lebih besar di sini?</p>
<p><strong>Longevity</strong> (<strong>3</strong> / 10)</p>
<p>Anda memiliki dua misi kesulitan pada awalnya. Normal dan Hard. Dengan mode Normal saya bisa menyelesaikan game ini sekitar 10 sampai 15 jam (saya sendiri menghabiskan 13 jam lebih, tetapi dengan mengupgrade senjata beberapa kali supaya saya tidak kesulitan melawan bos yang ada).</p>
<p>Ada berbagai bonus feature yang bisa terbuka setelah anda menyelesaikan game ini, tetapi kok saya rasanya ragu kalau selain die-hard Final Fantasy VII akan memainkan game ini lagi. Rasanya saya hanya memainkan game ini sekali saja untuk mengerti kelanjutan dunia Final Fantasy VII yang pernah saya tinggalkan ini. Ada juga tingkat kesulitan lebih tinggi untuk dimainkan, dan seperti yang saya katakan: kelihatannya sulit mengharapkan seseorang (penggemar game action sekalipun) memainkan game ini berulang kali demi gameplaynya.</p>
<p><strong>Editor&#8217;s Tilt</strong> (<strong>5</strong> / 10)</p>
<p>Kecewa. Hanya itu yang terlintas di benak saya ketika sudah memainkan game ini selama sekitar 2 jam. Inikah sambungan dari salah satu RPG terbaik yang pernah kumainkan itu? Kenapa Square merombaknya habis-habisan menjadi action seperti ini? Square tidak pernah benar-benar sukses di bidang di luar RPG, tetapi entah kenapa mereka masih nekat menggarapnya. Apa mereka berharap bahwa ribuan penggemar Final Fantasy VII akan berebut mencari game ini?</p>
<p>Satu-satunya hal yang mungkin menjadi nilai plus di dalam game ini adalah karena saya lebih banyak melihat sisi karakter dari Vincent, Yuffie, dan terakhir adalah Reeve yang bisa dibilang jarang terlihat dalam gamenya. Ketiga karakter ini mungkin yang benar-benar tergali (kendati tidak maksimal juga) dalam game ini. FMVnya juga tetap kelas Square. Indah dan menawan. Tetapi sayang, semua kelebihan itu tidak berarti game ini bisa menjadi lebih baik.</p>
<p>Seandainya saja game ini datang dari developer lain, tentunya tilt saya akan jauh lebih rendah dari ini, tetapi saya mengingat nama Square dan kenangan Final Fantasy VII terdahulu, mungkin tilt saya terasa sedikit subyektif dan saya terpaksa meningkatkan nilainya sedikit. Uh, Square, hentikanlah merusak memori indah kami akan Final Fantasy VII dengan tidak mengembangkan dunia ini lebih lanjut lagi. Setidaknya kalau mau dikembangkan, garaplah dengan benar!</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Overall</span>: <strong>4.6</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Game Details</strong></span><br />
Publisher: Square Enix<br />
Developer: Square Enix<br />
Genre: Action Adventure</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2009/04/23/dirge-of-cerberus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Six Games That Defines the 32-bit Gaming Era</title>
		<link>http://tukangreview.com/2009/03/22/the-six-games-that-defines-the-32-bit-gaming-era/</link>
		<comments>http://tukangreview.com/2009/03/22/the-six-games-that-defines-the-32-bit-gaming-era/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 15:49:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Si Tukang Review</dc:creator>
				<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[Final Fantasy VII]]></category>
		<category><![CDATA[Gran Turismo]]></category>
		<category><![CDATA[List]]></category>
		<category><![CDATA[Metal Gear Solid]]></category>
		<category><![CDATA[Resident Evil]]></category>
		<category><![CDATA[Super Mario 64]]></category>
		<category><![CDATA[Tekken]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tukangreview.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Menurutku era yang paling penting bagi video game adalah era kelimanya; era yang lebih dikenal juga oleh para gamer sebagai era 32-bit. Saya pribadi sih kurang setuju menyebut era tersebut 32-bit mengingat ada Nintendo 64 yang berkekuatan 64-bit. Kenapa saya menganggap masa tersebut penting bagi industri video game? Beberapa orang mungkin mendebat dan mengatakan kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurutku era yang paling penting bagi video game adalah era kelimanya; era yang lebih dikenal juga oleh para gamer sebagai era 32-bit. Saya pribadi sih kurang setuju menyebut era tersebut 32-bit mengingat ada Nintendo 64 yang berkekuatan 64-bit.</p>
<p>Kenapa saya menganggap masa tersebut penting bagi industri video game? Beberapa orang mungkin mendebat dan mengatakan kalau 8-bit adalah era terpenting dalam video game. Ada juga yang mengatakan 16-bit di mana pertama kali hegemoni Nintendo ditantang Sega merupakan era terpenting. Malahan ada yang berpendapat bahwa sekaranglah era yang terpenting dalam video game.</p>
<p>Alasan kenapa saya memiliki anggapan bahwa era 32-bit adalah era terpentingnya video game adalah karena di jaman inilah lahir game-game yang membuka pendapat masyarakat bahwa game bukan sekedar buat anak-anak dan remaja. Di jaman SNES dan Sega memang ada <strong>Mortal Kombat</strong> dan <strong>Street Fighter</strong> yang dikritik para orang tua karena dianggap mempelopori kekerasan, tetapi secara keseluruhan jaman tersebut masih identik dengan Mario dan Sonic. Identik dengan anak-anak. Jaman 32-bit juga merupakan jaman pergeseran. Mulai dari digesernya Nintendo yang sebelumnya menguasai pasar game dunia oleh Sony, sampai berevolusinya game dari 2D menuju 3D. Begitu banyaknya hal penting yang terjadi turut membawa dunia game dikenal oleh banyak orang. Orang tua mulai sadar bahwa mereka tidak melulu harus membelikan konsol game untuk anak mereka &#8211; karena mereka sendiri pun bisa memainkannya!</p>
<p>Dan inilah beberapa game yang saya anggap berhasil merevolusi dunia game selamanya. Perlu diperhatikan kalau list ini bukan Countdown terbaik karena bagi saya enam game di bawah sama pentingnya mendefinisikan dunia game di jaman itu.</p>
<p>6. <strong>Tekken</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/f/f0/T3usposter.jpg/200px-T3usposter.jpg" alt="" width="200" height="283" /><br />
Populernya genre fighting hingga dimainkan oleh banyak orang adalah jasa Street Fighter dan Mortal Kombat. Dunia 3D Fighting pun dipelopori oleh <strong>Virtua Fighter</strong>. Walaupun demikian, franchise yang berjasa mempertahankan game fighting dalam aliran mainstream hingga kini tidak lain tidak bukan adalah Tekken. Apabila generasi 80an mengenal nama-nama seperti Ryu, Ken, atau Chun Li, maka generasi 90 pasti lebih ngeh dengan nama Hwoarang, Jin, maupun Kazuya.</p>
<p>Di jaman Playstation dulu ada game seperti <strong>Tobal</strong>, <strong>Toshinden</strong>, hingga <strong>Soul Edge</strong> yang juga sama-sama buatan Namco. Tetap saja game fighting terbaik di era tersebut hadir melalui Tekken 3 yang adalah penyempurnaan dari para prekuelnya. Saya masih ingat bagaimana saya dibuat terbengong-bengong oleh grafis dan gameplay Tekken 3 yang berani memadukan karakter lama dan baru (membuang Jun, Baek, Kazuya, Ganryu, dan banyak lagi karakter dari prekuelnya, tetapi juga memperkenalkan Eddy, Xiaoyu, sampai Jin dan Hwoarang). Saya juga ingat menghabiskan waktu berjam-jam mengadu dan mengasah kemampuan Hwoarang-ku untuk beradu melawan teman-temanku.</p>
<p>Ironisnya, memang saya ini kurang jago dalam main game fighting sehingga berakhir dengan dipecundangi orang sana-sini.</p>
<p>5. <strong>Gran Turismo</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/a/a4/Gran_Turismo_-_Cover_-_North_America.jpg/252px-Gran_Turismo_-_Cover_-_North_America.jpg" alt="" width="252" height="235" /><br />
<strong>Need for Speed</strong>&#8230; <strong>Ridge Racer</strong>&#8230; mungkin saja dua game itu terkenal dan banyak menghasilkan sekuel demi sekuel. Tapi coba tanyakan kepada para pecinta game driving sejati apa game driving yang paling realistis di mata mereka. Jawaban mereka hampir serempak pasti menyebut: Gran Turismo.</p>
<p>Need for Speed boleh melahirkan sekuel demi sekuel per tahunnya, Ridge Racer boleh menggelar cewe-cewe racing virtual yang cantik, tapi soal realisme dalam gameplay, tidak ada yang bisa menandingi Gran Turismo. Saking realnya, Gran Turismo melahirkan genre baru yang disebut sebagai <em>Driving Simulation</em>. Satu dua temanku bahkan mengaku kalau mereka sampai membeli peralatan setir khusus untuk lebih menikmati memainkan game ini.</p>
<p>4. <strong>Super Mario 64</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/6/6a/Super_Mario_64_box_cover.jpg" alt="" width="256" height="178" /><br />
Generasi kelima adalah generasi di peralihan dari 2D menuju 3D. Semua pihak seakan berlomba-lomba menjadikan game mereka modern dengan mengubahnya menjadi 3D. Banyak yang gagal total. Lihat saja game seperti <strong>Contra</strong>, <strong>Worms</strong>, <strong>Castlevania</strong> sampai-sampai maskot Sega Sonic sekalipun. Game-game yang begitu adiktif dan menyenangkan saat dimainkan versi 2Dnya gagal berevolusi ke 3D.</p>
<p>Bagaimana dengan maskot utama dari Nintendo dan dunia game sendiri &#8211; the plumber Mario? Jangan khawatir; tidak hanya petualangan 3D Mario adalah salah satu game action adventure 3D pertama, ia masih merupakan game 3D adventure terbaik sepanjang masa. Sebagaimana yang dilakukan oleh <strong>Super Mario Bros</strong>, <strong>Super Mario 64</strong> meletakkan fondasi untuk game-game adventure platform 3D yang kamu mainkan sekarang ini. Nintendo memang layak diacungi jempol semua franchise unggulannya mulai dari Mario, <strong>Zelda</strong>, sampai <strong>Metroid</strong> sukses berevolusi seiring berjalannya waktu.</p>
<p>3. <strong>Final Fantasy VII</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c7/Ffviibox.jpg" alt="" width="256" height="255" /><br />
Adalah hal yang aneh bahwa saya pertama kali tahu nama Final Fantasy VII dari sebuah tabloid komputer bernama Komputek. Ketika saya membaca guide dari game tersebut, saya keheranan. Kok ada orang masuk ke penjara&#8230; meloloskan diri dengan motor&#8230; bahkan sampai bertarung dengan monster raksasa dan naik pesawat terbang. Apa mungkin sih ini game? Di benak saya (dan banyak gamer lainnya) yang namanya game saat itu adalah lompat di platform demi platform ala Sonic, fighting gebuk-gebukan ala Street Fighter atau Mortal Kombat, atau mungkin menghajar puluhan musuh sepanjang jalan ala <strong>Final Fight</strong>. Sesekali mungkin ngedunk atau melakukan gol di game olahraga.</p>
<p>Final Fantasy VII memperkenalkan kepada dunia apa potensi dari sebuah genre kecil bernama RPG. RPG yang sebelumnya dianggap genre yang hanya akan dimainkan orang-orang aneh berubah menjadi genre berkelas yang menjanjikan puluhan jam gabungan dari cerita dan gameplay yang menawan. Game seperti <strong>Suikoden</strong>, <strong>Wild Arms</strong>, <strong>Breath of Fire</strong>, dan banyak lagi harus berterima kasih pada Squaresoft karena Final Fantasy VII lah yang membawa dan memperkenalkan RPG pada dunia.</p>
<p>2. <strong>Metal Gear Solid</strong></p>
<p><strong><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/3/33/Metal_Gear_Solid_cover_art.png/252px-Metal_Gear_Solid_cover_art.png" alt="" width="252" height="252" /><br />
</strong>Kalau Final Fantasy VII mengangkat nama Squaresoft menjadi perusahaan besar, maka Metal Gear Solid mengangkat nama sang kreator didapuk sebagai salah seorang kreator terbaik sepanjang masa: Hideo Kojima. Sejarah franchise ini sebenarnya sudah dimulai semenjak <strong>Metal Gear</strong> di NES, tapi jujur saja, teknologi di jaman itu belum bisa menghidupkan visi dari Kojima. Ayo jujur, berapa di antara kalian yang pernah main game Metal Gear, atau bahkan pernah mendengar namanya sebelum Metal Gear Solid hadir di Playstation? Saya rasa jumlahnya sangat sedikit kalau bukan bahkan tidak ada!</p>
<p>Metal Gear Solid menghadirkan game yang lain dari lain di jamannya. Ketika biasanya game mengharuskan kita menerjang dan membabat semua musuh yang ada, game ini justru menekankan betapa pentingnya melakukan <em>stealth</em>, menyelinap secara diam-diam. Gameplay yang revolusioner itu dikombinasikan dengan jalan cerita yang sangat dalam dan penuh intrik politik. Game ini seakan membuktikan bahwa media video game pun mampu menghadirkan sebuah jalan cerita yang tidak kalah dengan film-film berkualitas Oscar sekalipun.</p>
<p>1. <strong>Resident Evil</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/5/5f/Resident_Evil_2.jpg" alt="" width="252" height="251" /><br />
Mengira kalau game aman dikonsumsi anak-anak? Silahkan mainkan Resident Evil. Ibuku yang terkenal kolot sekalipun terhenyak ketika saya memainkan <strong>Resident Evil 2</strong>. Ia turut berteriak dan menjerit kaget ketika pertama kali melihat para zombie merangsek maju untuk menyerang.</p>
<p>Itu baru orang yang melihat. Bayangkan bagaimana terpacunya adrenalin orang yang memainkan game ini. Selain berhadapan dengan para makhluk haus darah, mereka juga harus berpikir bagaimana menghemat persediaan amunisi yang terbatas, memecahkan teka-teki yang ada, serta bertahan hidup sambil menuntaskan misteri yang ada. Sukses Resident Evil bukan hanya melahirkan genre Survival Horror, tetapi juga melahirkan banyaknya pesaing-pesaing serupa; beberapa di antaranya berkembang menjadi franchise sukses sendiri (seperti: <strong>Silent Hill</strong> dan <strong>Fatal Frame</strong>).</p>
<p>Keenam game di atas adalah bukti nyata betapa pentingnya era keempat dalam perkembangan video game.</p>
<p>Era tersebut menjadi era yang membuktikan bahwa franchise klasik yang bisa berevolusilah yang bisa bertahan. Franchise klasik seperti Mario, Zelda, hingga Castlevania (versi <strong>Symphony of the Night</strong>) bertahan karena berinovasi dalam gameplay mereka. Beberapa lainnya seperti Sonic, Contra, atau Golden Axe pudar karena gagal menyesuaikan diri dengan selera pasar. Ia juga era yang menjadi saksi lahirnya franchise baru seperti Resident Evil dan lahir laginya franchise yang dulu kurang terkenal macam Metal Gear dan Final Fantasy.</p>
<p>Kenapa era ini begitu berbeda dengan era-era sebelumnya? Perlu diingat bahwa konsol game mulai diperkenalkan dengan hadirnya NES di tahun 80an. Seiring dengan bergantinya era demi era game, muncullah kebiasaan baru yang tidak disadari oleh Nintendo saat itu. Para gamer juga tumbuh dewasa. Mereka menghendaki sebuah game dengan jalan cerita maupun gameplay yang lebih dalam dan kompleks ketimbang sekedar &#8216;<em>lompati jurang itu</em>&#8216; dan &#8216;<em>hajar musuh itu</em>&#8216;. Ceruk pasar itulah yang akhirnya diambil oleh Sony sehingga mereka mampu menjadi penguasa pasar (Nintendo learned their lesson and did their revenge with Wii and the Casual Gamer in this generation though).</p>
<p>PS: Dan kalau boleh jujur sejujur-jujurnya, ada satu game lagi yang layak disebut berpengaruh setidaknya untuk dunia game Indonesia. Apalagi kalau bukan&#8230; <strong>Winning Eleven</strong> (WE)?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tukangreview.com/2009/03/22/the-six-games-that-defines-the-32-bit-gaming-era/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
