Tag Archive | "Fighting"

Tags: , , , , ,

Fighting

Posted on 25 August 2009 by Si Tukang Review

Fighting Poster

Fighting Poster

Sambil melirik judulnya, ini film kok ga jelas banget ya?
Sambil melirik posternya, ini posternya kok kaya kriminal ya?
Sambil melirik screenshotnya, ini Tatum kok kaya mau ngomong “gw gebukin lu!” ya?

Kacau.

Saya tidak pernah menjadi fans dengan film-film turnamen bela diri macam ini. Bukannya tidak suka sih, cuma saya rasa era keemasannya sudah lewat. Saya dulu suka sekali film Van Damme macam The Quest atau Bloodsport. Ketika menonton Never Back Down tahun lalu saja saya sudah merasa kalau film ini tolol karena jalan ceritanya tentang cowo memperebutkan cewe. Nah, kalau melihat Fighting? Saya tambah bengong lagi. Saya tidak tahu jalan ceritanya apa. Sumpah.

Awal-awalnya film ini memperkenalkan kita pada karakter Shawn McArthur. Kita tidak pernah diberi penjelasan apa-apa mengenainya selain dia terlihat bagaikan orang baik yang berusaha mencari uang dengan cara yang informal. Setelah sebuah insiden terjadi, seorang penipu bernama Harvey Boarden mengajak Shawn untuk bertarung dalam turnamen bela diri bawah tanah yang dijadikan taruhan dari orang-orang kaya. Shawn yang dijanjikan uang 5000 USD mengiyakannya. Shawn yang ternyata lumayan terlatih kemudian mulai memenangkan pertandingan demi pertandingan. Dan uh… tamat.

Oke mungkin tidak tamat begitu saja, tetapi saya benar-benar tidak bisa menulis apapun lagi soal film ini karena ceritanya begitu dangkal dan klise. Sebagai penonton saya tidak peduli dengan satupun karakter dalam film ini karena akting yang dangkal dari masing-masing tokoh. Channing Tatum berusaha tampil serius sebagai Shawn tetapi hasilnya dia malah seperti sosok cowo berkepribadian ganda. Saya sangka dia gentlemen bila menontonnya di sepuluh menit pertama, tapi di sisa film dia kelihatan seperti psikopat haus darah plus stalker. Jauh dari sosok yang bisa diagungkan sebagai jagoan dan juga tidak terlihat badass. Terrence Howard juga begitu. Penampilannya sebagai Harvey yang seharusnya menjadi sosok pelatih atau manager Shawn tidak pernah tersalurkan di layar. Chemistry keduanya meleset total.

Tapi namanya juga film beladiri… siapa peduli dengan dramanya kan? Lihat saja Ong Bak dan Tom Yam Goong? Siapa ingat dengan jalan ceritanya? Ingatnya dengan stunt-stunt menakjubkan dari Tony Jaa kan? Siap-siap saja kecewa lagi. Channing Tatum sebenarnya bukan sosok yang asing dalam olahraga beladiri Kung-Fu (berdasarkan profilnya di situs IMDB) tetapi film ini tidak memberinya banyak kesempatan unjuk gigi (atau unjuk kepala tangan). Adegan duel dalam film ini sangat sedikit (hanya tiga) dan hampir semuanya terlalu pendek dengan durasi kira-kira tidak sampai lima menit. Semua koreografinya juga biasa-biasa saja, tidak ada yang sampai membuat saya terperangah atau bikin “wow”. Paling-paling perkecualian ada di pertarungan kedua yang paling menunjukkan perbedaan gaya beladiri kedua petarung. Selebihnya? Membosankan. Satu hal lagi yang paling menganggu adalah dalam pertarungan pertama Shawn nampak lemah dan amatiran, tetapi setelah kita belajar sedikit mengenai latar belakangnya, ia mendadak jadi jauh jauh lebih tangguh tanpa pernah berlatih sedikitpun.

Fighting adalah film yang tanggung dari semua sisi. Mau drama gagal karena para pemainnya kurang kompeten (baca: tidak bisa berakting). Mau beladiri adegannya terlalu sedikit dan kalah kelas dengan film-film beladiri lain. Saran saya: daripada menghabiskan waktu 100 menit lebih menonton film ini, gunakan waktu itu untuk menonton pertandingan-pertandingan UFC. Jauh lebih nyata - jauh lebih keren - dan tidak pakai drama kacangan. Buat Dito Montiel, belajar dulu ya bagaimana cara bikin film yang baik…

Score: 4.1

Movie Details
Director: Dito Montiel
Cast: Channing Tatum, Terrence Howard, Zulay Henao, Michael Rivera, Luis Guzman
Running Time: 105 Minutes

Comments (2)

Tags: , ,

Fighting Masters (Genesis)

Posted on 02 March 2009 by Si Tukang Review

Fighting Masters Cover

Fighting Masters Cover

Bagiku apa yang membedakan sebuah game klasik dan tidak adalah apakah game tersebut bisa melewati ujian terakhirnya: waktu. Saya ingat bahwa dulu saya sangat menikmati game Fighting Masters - kendati bukan sebuah game populer di jaman ia dirilis di Genesis dulu - bahkan menamatkannya berkali-kali dengan tiap karakter yang disediakan. Bagaimana perasaan saya ketika memainkannya 18 tahun kemudian?

Sebuah matahari merah hampir padam. Dengan padamnya matahari tersebut, 12 ras intelektual akan musnah bersama dengan mereka. Sebuah ras superior bernama The Primaries berjanji akan menyelamatkan satu di antara 12nya apabila wakil mereka bisa menjuarai turnamen hidup-mati yang The Primaries selenggarakan.

Ketika melihat intro game ini, saya bengong. Bukan karena ceritanya kejam dan tidak berperi-kemanusiaan, tetapi karena ceritanya sangat berbeda dengan versi yang kuingat dulu. Setelah mengecek ulang di Wikipedia dan Google, saya menemukan bahwa Fighting Masters ternyata memang memiliki DUA jalan cerita. Penasaran dengan jalan cerita yang kedua?

Seorang penguasa galaksi yang kejam bernama Lord Valgasu menindas seluruh galaksi dan menjadikan mereka sebagai budaknya. Satu ras yang tersisa (pilihanmu dari antara 12 ras tersedia) akan berjuang melawan para budak lain sampai Lord Valgasu sendiri guna membebaskan seluruh galaksi dari sang penguasa jahat.

Wow. Di satu cerita kamu jadi pembunuh 11 planet secara tidak langsung, sementara di cerita lain kamu menjadi pahlawan penyelamat mereka. Apakah cerita dalam game ini digarap oleh dua orang yang sifatnya bertolak belakang? Apakah cerita dalam game ini digarap oleh seseorang yang berkepribadian ganda ala Dr Jeckl dan Mr Hyde? Saya tidak tahu.

Nah, masuk ke dalam gamenya sendiri, kamu diperbolehkan memakai 12 karakter yang disediakan game ini dan saya harus akui design karakter untuk game ini memang jempolan. Semuanya memiliki ciri khasnya yang nyentrik dan mirip monster. Ada alien gajah bernama Mastodon, alien kuda dengan jurus kickboxing, ada alien Naga Xenon, sampai alien tumbuhan pemakan manusia (yang adalah favoritku) Dio. Tidak ada karakter yang mirip satu sama lainnya dan sangat menyegarkan sebenarnya melihat karakter-karakter game yang tidak harus manusia super keren ala karakter-karakter Street Fighter maupun Fatal Fury yang populer di masa itu. Sayangnya design karakter tidak diimbagi background stage yang sama variatif maupun kreatifnya. Backgroundnya monoton dan hanya terdiri dari tiga latar (empat kalau dihitung dengan final stagenya). Bertarung di tempat yang sama terus menerus akhirnya jadi membosankan.

Hal yang paling penting dalam sebuah game fighting adalah gameplay. Di sinilah Fighting Masters benar-benar menunjukkan kelemahannya. Serangan dalam game ini terbatasi dalam dua variasi; pukulan dan bantingan. Toh selama permainan kamu bakalan ‘dipaksa’ untuk menggunakan bantinganmu sebab pukulan hampir tidak berefek mengurangi nyawa musuh. Animasi gerakan bantingan dari tiap karakter bisa jadi berbeda, tetapi damage yang dihasilkan hampir-hampir sama. Satu-satunya nilai plus yang saya lihat dalam Fighting Masters adalah penggunaan tembok; apabila kamu membanting musuh ke tembok baru ke lantai, maka damage yang dihasilkan bisa berlipat ganda. Itu satu-satunya nilai strategi bermain game ini. Posisikan bantinganmu dengan tepat, maka kamu takkan terkalahkan.

Sejujurnya saya agak menyesal memainkan ulang game ini. Bila saja tidak memainkannya, Fighting Masters setidaknya bisa menjadi game fighting niche yang berkesan ketimbang menjadi sebuah game fighting yang terlupakan sekarang.

Final Verdict:

Gameplay: 3.5
Game fighting yang terlalu dangkal dan tidak balance. Beberapa karakternya memiliki jangkauan serangan yang jauh dan variasi bantingan yang lebih banyak ketimbang karakter lainnya sehingga menjadi over-powered.

Graphic / Sound: 6.5
Design karakternya variatif dan grafisnya tergolong apik untuk tahun 1991. Walau demikian, latar belakang yang buruk dan musik yang… (apa ada musik?) menyeret turun nilai bidang ini.

Play Time: 2.0
Apa gunanya menamatkan game ini apabila ending yang kamu dapat (terlepas dari karakter apapun yang kamu pakai) sama saja? Dan jujur saja, siapa yang mau kamu ajak duel dengan game usang macam ini?

Overall: 4.0

Game Details
System: Sega Genesis
Publisher: Sega
Developer: Treco
Genre: Action / Beat Em Up

Comments (0)

Tags: , ,

Dead or Alive

Posted on 18 February 2009 by Si Tukang Review

Dead or Alive Poster

Dead or Alive Poster

Dead or Alive adalah salah satu game fighting yang terkenal. Banyak yang menyejajarkan game ini dengan Tekken maupun Virtual Fighter. Beberapa orang lain yang kurang mengenal game fighting setidaknya mengenal game ini melalui jajaran cewenya yang seksi-seksi. Nah, bagaimana jadinya kalau game ini kemudian digarap oleh Corey Yuen, seorang koreografer film-film action yang kita kenal selama ini? Banyak orang yang meragukan jalan cerita dalam game ini. Saya sendiri menontonnya pada premiere sebelum film ini turun di theater berharap menjadi orang pertama yang bisa mencerca film ini. Apakah film ini ternyata semengecewakan itu? Read on.

Film ini awalnya mengisahkan mengenai gadis-gadis yang jago bela diri. Pertama adalah Kasumi, kemudian Christie, dan terakhir adalah Tina. Ketiganya mendapatkan undangan bertanding dalam turnamen Dead or Alive yang diadakan oleh Helena dan Donovan. Ketiganya (nantinya berempat bersama dengan Helena) menjalin sebuah persahabatan. Tentu saja ada karakter-karakter lain juga dalam film ini seperti Bass (sang ayah dari Tina), Hayabusa yang ingin menjaga Kasumi dari segala marabahaya yang mungkin mengancam, atau Zack (yang entah kenapa kelihatannya selalu bersitegang dengan Tina). Nantinya, seiring dengan kemenangan demi kemenangan, keempat gadis ini mulai mencium ada gelagat yang tidak beres dari penyelenggara turnamen ini (selalu begitu bukan?). Ternyata sang penyelenggara menyekap Hayate (kakak Kasumi yang konon menghilang dan diduga telah meninggal dunia) dan menyerap kemampuan bela diri dari setiap karakter dalam DOA ini. Untuk alasan apa? Dan bisakah para jagoan kita menghentikan aksi Donovan yang jahat ini?

Jalan ceritanya terlihat kampungan. Ya. Jelas sekali jalan ceritanya terlihat seperti B-movie. Tetapi mungkin saya sudah terlampau lama tidak pernah mengikuti sebuah B-movie sehingga secara mengejutkan saya sebenarnya MENIKMATI menonton DOA ini. Karakterisasi yang dimainkan setiap karakter juga menurut saya terasa hidup dan enak untuk diikuti. Melihat Kasumi yang marah kepada Hayabusa membuat saya geli. Sitegang antara Tina dan sang ayah membuat saya terpingkal-pingkal sendiri. Belum lagi tingkah Max dan Christie yang bertengkar terus atau Helena dengan Weatherby yang bisa dibilang sebagai pasangan terunik dalam film ini. Musik dalam film ini sebenarnya cukup menghentak, tetapi sayangnya tidak ada yang menurut saya memorable (bandingkan misalnya dengan Mortal Kombat yang menjadi pelopor terkenalnya musik tekno!). Setidaknya dengan beat-beat yang cepat dan rancak musik dalam film ini masih bisa pas dengan filmnya sendiri.

Sinematografi dalam film ini khususnya dalam bidang fighting digarap dengan apik oleh Corey Yuen, kekurangannya adalah tidak ada darah sama sekali dalam film ini. Sudah? Tidak itu saja, entah kenapa gaya bertarung yang benar-benar beda hanya saya lihat pada diri Tina yang mengandalkan bantingan gulatnya - karakter lain (terutama Hayate!) yang seharusnya bertarung ala ninjutsu malah menggunakan jurus aneh Cina klasik yang jelas-jelas keluar dari pakemnya. Toh, koreografi pertarungannya masih luar biasa. Di luar pertarungan, sinematografinya agak jelek, yang jelas saya terganggu sekali dengan lambang DOA yang keluar masuk layar terus. Untuk apa sih?

Mungkin Dead or Alive bukan Mortal Kombat. Mungkin juga nilai Dead or Alive yang mencapai 7 ini di luar dugaan (bahkan dugaanku sendiri sebelumnya). Tetapi yang jelas Dead or Alive membuat saya enjoy menikmati dan menontonnya (mungkin juga karena ada Sarah Carter? Dia salah seorang artis favoritku semenjak tampil di Smallville dulu). Overall, kalau kalian kecewa menonton Dead or Alive karena terlalu terpaku pada gamenya atau terlalu berekspektasi tinggi, coba turunkan sedikit ekspektasi anda, nikmati saja menonton film ini sebagaimana anda menikmati bermain game Dead or Alive Volleyball dulu. This movie ain’t Oscar material, but it definitely entertains!

Score: 7

Movie Details

Director: Corey Yuen
Cast: Jaime Pressly, Holly Valance, Sarah Carter, Devon Aoki
Running Time: 87 Minutes

Dead or Alive Fighting Scene

Comments (0)

Tags: , ,

Mortal Kombat VS DC Universe

Posted on 02 January 2009 by Si Tukang Review

MKDCCover

MKDC Cover

- when two universes collide -

Publisher: Midway Games
Developer: Midway Interactive Games
Genre: 3D Fighting

Bagaimana jadinya apabila dua franchise besar bertemu? Serial crossover bukan hal yang baru dalam dunia game fighting. Capcom adalah salah satu perusahaan game yang berulang kali mengcrossover karakternya dengan karakter dari dunia Marvel, Namco, SNK bahkan Tatsunoko. Nampaknya keberhasilan Capcom memancing salah satu developer besar lain untuk melakukan hal yang sama. Midway yang terkenal dengan serial Mortal Kombat memutuskan menggandeng karakter dari dunia komik DC. Kalau kamu adalah penggemar game sekaligus komik yang selalu berandai-andai apakah nafas beku Superman atau jurus es Sub-zero yang lebih dingin, jawabannya bisa anda temukan di dalam game ini.

Walaupun Mortal Kombat VS DC Universe (MKDC) adalah sebuah game fighting, ternyata Midway tidak begitu saja menyampingkan jalan ceritanya (apalagi ini sebuah crossover dari dua universe yang berbeda - para gamer pasti penasaran apa gerangan yang terjadi sehingga kedua universe ini bisa ‘bersatu dan bertemu’). Ternyata saat Darkseid mengacau di DC, Superman berhasil menghentikannya dan mengirimnya ke portal lain. Di saat yang bersamaan, Raiden juga mengirim Shao Kahn masuk ke portal di dunia Mortal Kombat. Bisa ditebak kalau keduanya membaur menjadi satu sosok bernama Dark Kahn yang hendak menghancurkan kedua realm. Yang membuat segalanya jadi makin rumit adalah karakter dari kedua universe saling mengira satu sama lain bahwa mereka adalah musuh! Bisakah keduanya mengenyampingkan perbedaan mereka untuk mengalahkan kejahatan yang sesungguhnya?

Sistem gameplay dalam MKDC senafas dengan game-game Mortal Kombat sebelumnya. Setiap karakter dibedakan dengan jurus serta kombo unik yang mereka miliki. Mempelajari optimalisasi gerakan seorang karakter dalam game ini cukup simpel, apalagi Move List selalu diikutsertakan dan bisa diakses kapan saja. Kemampuan tiap karakter pun dibuat cukup berimbang dengan perkecualian satu dua karakter (entah kenapa saya merasa karakter flagship dari kedua franchise macam Batman atau Sub-zero sedikit lebih kuat dibandingkan karakter-karakter biasa). Bagi para pembaca komik yang khawatir kalau Superman dan Batman akan mencemari tangan mereka dengan mencabut nyawa, jangan terlampau khawatir, penggunaan Fatality dalam game ini cenderung diminimalisasi (walau saya sebenarnya sangat ingin melihat bagaimana Superman mencabut kepala Scorpion lewat Fatality misalnya).

Secara keseluruhan, saya merasa cukup puas dengan game crossover ini. MKDC memiliki berbagai game mode mulai dari Story Mode, Arcade Mode, sampai Online Mode yang mengijinkan kamu bertarung dengan para kombatan dunia maya yang lain. Berbagai elemen baru seperti Free Fall Fight, Wall-Break pun dimasukkan oleh Midway untuk menjadikan duel lebih menarik. Kalaupun ada kekurangan, saya hanya kurang puas karena kecilnya roster petarung (Ke mana Black Adam? Mana Smoke atau Reptile? Masukkan Sinestro dan Superboy Prime!) dan kurang unlockable characters yang ada… mungkin nanti di Mortal Kombat vs DC Universe 2?

Final Verdict:

Gameplay: 8
MKDC memiliki berbagai variasi pertarungan. Lebih dari 20 karakter yang ditawarkan oleh kedua kubu juga memiliki spesialisasi unik mereka masing-masing. Walaupun tidak serealistik game fighting 3D lain macam Tekken, Dead or Alive, atau Virtual Fighter, bagi gamer yang tumbuh memainkan serial ini, MKDC memiliki nilai nostalgianya tersendiri.

Graphic / Sound: 7
Grafis dan soundnya tergarap baik oleh Midway. Bahkan karakter Superman, Batman dan lain-lain dari DC memiliki translasi yang sukses ke diri 3D mereka. Sayangnya gerakan para karakter terasa kaku (beberapa lagi terasa monoton). Pengisi suara dalam game ini juga hit and miss. Karakter macam Green Lantern dan Captain Marvel (Shazam) misalnya memiliki voice acting yang benar-benar tidak sesuai dengan karakter mereka.

Play Time: 8
Memainkan game fighting selalu memiliki nilai tambahnya sendiri. Walaupun kamu bisa menyelesaikan story mode dari kedua kubu dalam waktu kurang dari 5 jam, ada banyak sekali alasan untuk kembali memainkan game ini dan menguasai gerakan-gerakan karakter idamanmu.

Overall: 7.7

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here