(Review Ditulis Di Tahun 2007)
Super Pocket Tennis adalah ajang berkumpulnya para petenis dunia yang chibi! Tennis adalah sebuah olahraga yang berbeda dengan sepakbola atau basket. Sepakbola mungkin olahraga paling ngetop di dunia, tetapi harus diakui kalau di Amerika kepopulerannya kalah jauh dibandingkan American Football, Baseball, ataupun bola basket. Basket sendiri terlalu berpusat di Amerika. Kendati banyak negara memiliki liga basket mereka toh bintang-bintang NBAlah yang tetap menjadi panutan. Tennis berbeda. Setiap negara memiliki jagoan mereka sendiri, dan walaupun tidak pernah menjadi olahraga nomer satu, tennis selalu punya tempat di hati penggemarnya. Ingat kalau di Indonesia kita pernah punya seorang Yayuk Basuki, Wynne Prakusya, maupun Angelique Widjaja yang mengharumkan nama bangsa ini?
Graphic (7 / 10)
Karakter yang dihadirkan oleh Super Pocket Tennis bernuansa imut dan lucu. Game ini jelas memiliki masalah dengan lisensi pemain mengingat nama mereka semuanya kacau balau (ingat kalau memainkan Winning Eleven jaman dahulu kala yang belum dipermak sehingga namanya jadi berubah? Seperti itulah kira-kira). Toh, kalau kalian adalah pengamat tennis dunia bukan hal yang sulit saya rasa untuk menebak kalau nama petenis wanita jelita bernama Povapova sesungguhnya adalah Maria Sharapova.
Game ini menghadirkan total 20 karakter. 10 karakter pria dan 10 karakter wanita. Masing-masing karakter chibi dalam game ini mampu merepresentasikan karakter mereka di dunia nyata. Saya langsung bisa menebak mana petenis yang adalah Williams bersaudara. Kepala plontos dari Andre Agassi juga langsung bisa saya identifikasi begitu kursor saya memilih petenis bernama Nagasi.
Lapangan yang kita mainkan sendiri memiliki empat variasi (tidak lain tidak bukan merepresentasikan empat kejuaraan grand slam): Grass, Carpet, Hard, dan Clay. Masing-masing lapangan berbeda animasinya. Sayangnya terlepas dari warna lapangannya, saya tidak melihat adanya perbedaan signifikan lain dari lapangan-lapangan ini.
Animasi ayunan raket di dalam game ini malahan terkadang menganggu. Kendati dilakukan dengan detail yang baik tetapi animasi ayunan ini terlalu menutupi jalur bola yang ingin kita pukul. Untungnya saja ini tidak kerap terjadi – tertolong dengan radar mendaratnya bola yang aktif bergerak di lapangan kita.
Sound (5 / 10)
Crappy. Awal dari musik dalam game ini adalah ceria dan happy. Tetapi musik seceria dan sehappy apapun kalau berulang terus dalam kurun waktu dua menit selama berjam-jam akan berubah menjadi sangat – sangat menyebalkan. Variasi musik yang berbeda dalam game ini terlalu sedikit dan hasilnya jadi sangat membosankan dan menganggu. Lagipula sejak kapan game olahraga sebenarnya memerlukan musik latar yang dominan? Sebal mendengarkannya berulang-ulang, tidak sampai waktu sejam buatku untuk mematikan suara PSP supaya tidak mendengarnya lagi ketika bermain.
Sayangnya mematikan suara PSP saya berarti saya juga tidak bisa mendengarkan suara teriakan-teriakan yang muncul ketika karakter-karakter saya memukul bola. Beberapa karakter: seperti Amelie Mauresmo dan Lindsay Davenport bisa direpresentasikan dengan cukup mirip. Tetapi beberapa lainnya seperti Maria Sharapova ngawur sekali dalam presentasi suaranya – jangan mentang-mentang dia cantik dan imut maka suaranya ikut bernada lemah lembut! Kalau D3 memperhatikan detail suara, seharusnya suara lenguhan Sharapova yang menggelegar itu dimasukkan! Yap, cantik-cantik begitu suara Sharapova sudah dikenal sangat buas dan sering dikritik karena dianggap memecah konsentrasi lawan bertandingnya.
Gameplay (5 / 10)
Kelemahan utama game ini adalah tidak adanya tantangan. Bukan kurang tantangan tetapi TIDAK ADA tantangan. Saya tidak bercanda. Bahkan game Tennis garapan Sega yang hadir di handphone Sony Ericsson saja menurutku memberikan lebih banyak tantangan dalam memainkannya dibandingkan dengan game ini.
Mungkin sebagai contoh saya perlu memberi contoh nyata sebagai berikut: karakter yang saya pakai adalah Povapova untuk memainkan game ini. Untuk menjuarai empat turnamen yang Povapova ikuti (dia bahkan berhadapan dengan petenis pria di turnamen tertentu!), dia tidak pernah tuh kehilangan lebih dari dua set dalam satu pertandingan. Hampir pasti skor akan berakhir 6-1, 6-1 untuk kemenangan Povapova. Perkecualian adalah di pertandingan pertama turnamen pertama di mana saya masih belajar kontrol dalam game ini. Saya menang 6-3, 6-1.
Total kontrol dalam game ini hanya ada dua tombol. X untuk pukulan lemah dan O untuk pukulan kencang. Setiap anda memukul bola, akan muncul target di lapangan lawan sehingga anda bisa mengarahkan ke mana bola anda mendarat. Tololnya D3 adalah dia juga memberitahukan kepada kita ke mana bola kita akan dikembalikan oleh musuh! Gamer sebodoh apapun akan tahu di mana karakternya harus bersiap-siap untuk mengembalikan bola lawan! Saya sendiri tinggal menunggu bola kembalian lawan lantas memukulnya ke arah jauh yang tak bisa ia jangkau. 90% dia akan gagal mengembalikan pukulan saya dan 10% adalah dia mengembalikannya dengan bola tanggung yang tinggal menunggu dismash.
Perbedaan karakter-karakter dalam game ini hampir tidak terasa. Kendati statistik dari petenis kedua terbaik Povapova jauh lebih tinggi daripada petenis terburuk Sugihara (Ai Sugiyama dari Jepang kalau kalian tidak tahu siapa nama asli petenis ini) toh pukulan Sugihara nyatanya cukup-cukup saja untuk membuat petenis-petenis terbaik kocar-kacir menghadapinya; kalau kita yang memakainya tentu saja.
Begitu juga empat lapangan yang ada. Menilai game tennis yang baik selalu dilihat dari bagaimana mereka merepresentasikan pantulan bola di lapangan yang berbeda. Game ini gagal total dalam menunjukkannya. Saya merasa pukulanku maupun musuh sama sekali tidak memiliki daya pantul yang berbeda di lapangan yang berbeda. Kalaupun ada, perbedaan itu terlalu kecil untuk menjadi hal signifikan yang bisa mengubah gameplay dan strategi bermain anda. Saya memainkan empat lapangan dengan strategi yang sama. Pukul ke arah yang tak terjangkau oleh lawan anda dan nikmati poin-poin yang anda dapatkan.
Ada lima mini game yang bisa dimainkan kalau kita jenuh mengikuti turnamen-turnamen yang ada (baca: membully lawan-lawan kita). Mini game yang disajikan sebenarnya cukup unik dan bervariasi seperti melawan alien-alien dan melakukan servis ke tempat tertentu. Yang ironis adalah saya lebih bisa menikmati dan mendapatkan tantangan dalam memainkan mini game yang ada ketimbang memainkan turnamen yang sebenarnya
Longetivity (5 / 10)
Saya memerlukan waktu di bawah tiga jam untuk memenangkan semua turnamen yang ada, dan kira-kira itulah umur game ini di mataku. Saya malas sekali mengulang memenangkan game ini dengan karakter lain begitu saya sadar kalau menggunakan mereka persis satu dengan yang lainnya. Tidak ada karakter yang spesial bisa baseline, atau tangguh di depan net. Semuanya bisa terbilang serupa satu sama lainnya. Mungkin memainkan game ini melawan teman lain akan memberikan tantangan lebih: tapi celakanya adalah akan sangat sulit bagi kita untuk menemukan orang yang memiliki game ini. Sedikit keluhan mengenai kepopuleran game ini: saya tidak pernah menggunakan Google demi mencari screenshot sebuah game dan gagal mendapatkan lebih dari 5. Super Pocket Tennis adalah game pertama yang mendapatkan ‘kehormatan’ tersebut.
Hanya tantangan-tantangan yang disediakan oleh mini gamenya yang mungkin membuat saya kembali memainkan game ini. Pasalnya, Super Pocket Tennis tidak memberikan apapun bagi kita untuk membuat kita meliriknya lagi! Ada beberapa achievement (yang sangat mudah diselesaikan) yang bisa kita lihat, tetapi kurangnya (atau bahkan tidak adanya) penghargaan yang signifikan membuat kita jadi kurang tertantang mendapatkan achievement-achievement tersebut. Dan saya masih tidak mengerti kenapa D3 tidak menyediakan sebuah fitur untuk mengkustomisasi karakter-karakter yang ada ataupun karakter kita sendiri.
Editor’s Tilt (6.5 / 10)
Kalau harus jujur mengatakannya, saya cukup enjoy memainkan game ini. Maklum saja, kalau saya biasanya dibully oleh AI komputer ketika memainkan game-game tennis lain, di sini saya bisa gantian membully mereka habis-habisan! Sayangnya kalau AInya sama sekali kurang tantangan apa yang tadinya asyik lama-lama juga menjadi membosankan dan menyebalkan! Saya mencoba berbagai cara untuk meningkatkan kesulitan seperti meningkatkan AI computer ke level tertinggi; cara ini tidak berhasil karena saya tetap menang dengan mudah dan dengan margin yang signifikan. Cara kedua adalah saya mencoba memainkan game ini dengan double, berharap kalau AI pasangan saya mungkin lebih bodoh sehingga berpotensi menyulitkan saya; nyatanya AI lawan saya malahan lebih jongkok lagi sehingga AI pasangan saya jadi super kuat. Halahhh!
Game ini pas sekali untuk anak-anak. Mungkin itulah sebabnya dia diberi label cocok dimainkan untuk anak usia tiga tahun ke atas. Mereka yang perlu tantangan dalam dunia tennis dan tidak perlu hal-hal imut, jangan buang waktu kalian untuk game ini. It’s just not worth the challenge.
Average: 5.7
Game Details
Developer: D3
Publisher: Hune X
Genre: Sport








