Tag Archive | "Eri"

Tags: , , , , , ,

Detective Conan 10: The Private Eye’s Requiem

Posted on 25 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 10: The Private Eye's Requiem Poster

Detective Conan Movie 10: The Private Eye's Requiem Poster

Kalau bicara soal premisenya, sebenarnya The Private Eye’s Requiem malahan lebih menarik dibandingkan beberapa film Conan sebelumnya. Kenapa? Karena dalam film ini menghadirkan wajah-wajah favorit fans seperti Heiji Hattori dan Kaitou Kid (pertama kalinya semenjak film ketiga). Di samping itu, Eri istri Kogorou juga tampil sebagai cameo. Premisenya adalah sebuah permainan kematian yang menyangkut nyawa semua orang-orang penting dalam kehidupan para detektif itu!

Suatu hari Kogorou diundang ke kota Yokohama untuk menerima panggilan seorang klien. Selain Ran dan Conan, klien itu mengundang juga rombongan detektif kecil. Ternyata sang klien berbaik hati mensponsori mereka bermain secara gratis di wahana permainan di kota tersebut. Anehnya, Conan disuruh tinggal di sana bersama dengan Kogorou. Barulah setelahnya belang si klien ketahuan. Kogorou dan Conan diminta untuk menyelesaikan sebuah kasus misterius dengan hanya diberi petunjuk-petunjuk yang sangat samar. Apabila mereka gagal menyelesaikan kasus tersebut, tidak hanya Conan dan Kogorou tetapi juga semua anak-anak dan Ran akan diledakkan dengan bom C4 yang terpasang pada jam tangan akses wahana permainan mereka.

Untungnya saja Conan dan Kogorou tidak sendiri dalam hal ini. Heiji ternyata juga ikut terlibat dalam penyelidikan karena nyawa Kazuha sang pacar juga terancam. Penyelidikan keduanya secara tidak langsung mengikutkan Kid, yang ternyata berperan sebagai saksi mata penting yang bisa membongkar kasus misterius itu. Bisakah para detektif – tanpa boleh dibantu polisi – menyelamatkan rekan-rekan mereka? Ataukah requiem ledakan menyedihkanlah yang nanti akan terdengar?

Seperti yang saya katakan tadi, premise ini sebenarnya bisa dikembangkan menjadi sebuah film yang sangat menarik. Ingat bahwa dalam film kesembilan, Kogorou sudah menunjukkan kemampuannya sebagai seorang detektif yang lumayan handal. Saya membayangkan kalau Conan, Heiji, Kid, dan Kogorou bisa bekerja sama dan memecahkan teka-teki yang disodorkan oleh sang orang misterius. Tapi nyatanya harapan saya tinggal harapan karena lagi-lagi film ini berfokus pada penyelidikan duet Conan dan Heiji. Setidaknya kali ini Heiji tidak terlalu ‘kalah kelas’ dengan Conan.

Juga terlihat kentara adalah beberapa plot hole dalam film ini. Kenapa misalnya Conan tidak pernah memberitahukan kepada Ran dan teman-temannya mereka terlibat dalam bahaya bom besar? Takut ketahuan si sosok misterius? Tidak mungkin, karena Conan jelas-jelas memberitahukan kepada Ai melalui badge detektif di hadapan sang klien. Takut kalau anak-anak panik? Mungkin, tetapi kenapa tidak memberitahukan kepada Ran? Atau kenapa Heiji tidak pernah memberitahu Kazuha? Bagaimana kalau mendadak Kazuha kebosanan di taman bermain dan pergi keluar mencarinya? Kalau saya yang bodoh ini bisa berpikir demikian, tidak mungkin dong skenario seperti ini tidak terpikir oleh sang detektif terkenal dari barat?

Lebih aneh lagi menjelang pengakhiran film ketika semua orang dievakuasi, para polisi menyisakan Sonoko. Loh? Apa mereka mau Sonoko ikut mati bersama anak-anak itu? Sekali lagi orang boleh berkata “Kan mereka tidak mungkin mati” atau “Kan para detektif pasti bisa menyelesaikan perkara tersebut” tapi logikanya dalam kehidupan nyata Sonoko sudah seharusnya diungsikan. Tidak masuk akal juga bahwa sudah hampir beberapa menit menjelang ledakan dan mereka sama sekali tidak diberitahu bahwa ada bom di tangan mereka. Seandainya saja diberitahu, dan mereka diberi kesempatan mengucapkan selamat tinggal pada keluarga mereka masing-masing… tidakkah adegan tersebut lebih efektif mengaduk emosi penonton?

So my verdict is… sebagaimana rollercoaster yang menjadi representasi film ini, seperti itu jugalah perasaanku menontonnya. Ada kalanya saya dibawa naik tinggi dengan penyelidikan tiga detektif handal lantas mendadak saja saya dibenamkan dengan begitu banyaknya plot hole logika dalam film ini. All and all, film ini jatuhnya jadi kurang berkesan.

Note: Entah kebetulan entah tidak, lagi-lagi Taiichiro Yamamoto yang menyutradarai film Conan yang menampilkan Kaitou Kid di dalamnya.

Score: 6.3

Movie Details
Director: Taiichiro Yamamoto
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya, Megumi Hayashibara
Running Time: 101 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , , , , ,

Detective Conan Movie 9: Strategy Above the Depths

Posted on 20 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 9: Strategy Above the Depths Poster

Detective Conan Movie 9: Strategy Above the Depths Poster

Dan lagi-lagi sebuah film Conan yang cukup solid dari awal hingga akhir. Itulah penilaian yang kuberikan untuk film kesembilan detektif kecil ini. Strategy Above the Depths kembali ditangani oleh Kanetsugu Kodama setelah sang sutradara absen setahun – memberikan kesempatan bagi Taiichiro Yamamoto. Jika dalam film Magician of the Silver Sky temanya adalah udara dan pesawat, kali ini di Strategy Above the Depths ini temanya adalah lautan dan kapal pesiar. Misteri pembunuhan seperti apa lagi yang harus dipecahkan oleh Conan?

Film ini dibuka dengan adegan ala Titanic. Sebuah kapal pesiar menabrak gunung es dan tenggelam. Terlihat bahwa kapal ini bukannya tenggelamnya kapal tersebut bukan murni kecelakaan tetapi rekayasa. Kenapa? Misteri ini tidak langsung dijawab dan sebaliknya penonton dibawa ke setting sekarang, 15 tahun setelah inciden tersebut. Orang tua Sonoko mendapatkan undangan untuk ikut kapal pesiar St Aphrodite, tetapi karena mereka berhalangan hadir maka Sonokolah yang mewakili keduanya. Tidak ingin kebosanan sendiri, Sonoko seperti biasa mengajak Ran, Kogoro, Conan, dan rombongan detektif kecil. Hebat ya Sonoko, undangan yang seharusnya cuma buat berdua atau bertiga bisa dia lipat gandakan sampai untuk delapan orang.

Seperti bisa ditebak, ke manapun Kogoro pergi, ke sanalah kematian mengikuti. Kali ini terjadi beberapa kematian sekaligus, yang paling ketua grup Yashiro (yang mendanai kapal ini) diserang dan dibunuh. Berbeda dengan kebanyakan film Conan lain yang menunjukkan siluet hitam sang pembunuh, film ini terang-terangan menunjukkan jati diri sang pembunuh. Saya tidak akan spoiler siapa, tetapi keberanian para produsernya menunjukkan hal ini adalah contoh mereka mulai ingin mengubah formula film Conan yang basi. Dalam film kedelapan saya mengatakan kalau misteri tidak menjadi fokus utama film, sedangkan dalam film ini justru sebaliknya. Bila biasanya film Conan menampilkan aksi jor-joran ledakan dan adegan aksi kali ini walaupun ada sepertinya lebih menjadi tempelan.

Walaupun penonton sudah tahu identitas si pelaku di awal film, masih tetap menarik untuk melihat bagaimana Conan mendeduksi bagaimana sang pelaku melakukannya. Bila biasa penonton merasa telmi melihat Conan menjelaskan panjang lebar misteri, kali ini justru berbalik di mana penonton berpikir “Aduh Conan, itu loh si pembunuh! Cara dia membunuh tuh begini…”. Ah, tapi tentu saja misteri dalam film ini tidak berhenti sampai di situ. Ketika jati diri sang pembunuh sudah tersingkap, ada sebuah plot twist yang disiapkan film ini. Saya pribadi bisa menebak plot twist itu (mungkin karena sudah marathon menonton film Conan?) tapi sekali lagi saya ingin angkat jempol atas keberanian para penulis naskah mencoba inovasi baru.

Satu yang paling saya senangi adalah lebih dalamnya disorot karakter Kogoro. Bisa dibilang untuk pertama kalinya dalam layar lebar, Kogoro menunjukkan sifat kompetennya sebagai seorang detektif. Saya benar-benar berharap kalau sisi Kogoro yang ini bisa digali lebih dalam lagi. Jangan jadikan Kogoro sosok pemabuk dan mata keranjang terus, karena jauh di dalam dirinya, Kogoro masih seorang detektif dan mantan polisi yang tetap berdedikasi pada hukum. Saya tahu ini mustahil, tetapi besar keinginan saya bahwa di masa depan nanti Kogoro bisa menggunakan deduksinya seperti Heiji dan mengetahui bahwa Conan dan Shinichi adalah orang yang sama.

Sebaliknya untuk karakter Ran, sebenarnya agak kesal melihat kebodohannya di penghujung film, tapi mengingat ia tengah menyelamatkan pemberian seseorang (atau beberapa orang dalam kasus ini) saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan tindakannya, apalagi karena barang tersebut sedikit banyak berperan dalam menyelamatkan nyawa Conan.

So my verdict is… setelah dua film yang berfokus pada karakter Heiji (Crossroads on the Ancient Capital) dan Kid (Magician of the Silver Sky), film ini mengembalikan fokusnya pada karakter-karakter utama dalam Conan, and it’s a return that I welcome.

Score: 7.6

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya
Running Time: 98 Minutes

Comments (2)

Tags: , , , , , ,

Detective Conan Movie 8: Magician of the Silver Sky

Posted on 20 March 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 8: Magician of the Silver Sky Poster

Detective Conan Movie 8: Magician of the Silver Sky Poster

Lima tahun berselang setelah The Last Wizard of the Century adalah sebuah film Conan yang kembali mengutamakan rivalitas antara dua karakter karangan Aoyama Gosho ini. Di film ini, Kaitou Kid hendak mencuri sebuah batu berlian yang dipakai dalam sandiwara opera Napoleon. Seperti pencurian yang ia lakukan selama ini, Kid terlebih dahulu mengirimkan sebuah pesan peringatan kepada para polisi dan detektif sebelum beraksi.

Pesan yang diterima artis Julie itu kemudian dibawa kepada Kogoro dengan harapan supaya detektif bandot tua itu bisa turut menjaga pertunjukan. Penonton tentunya tahu bahwa setiap kali ada misteri tentang Kid, kita biasanya diajak untuk turut menebak menjadi siapakah Kid menyamar kali ini. Akan tetapi kali ini kita tak perlu menebak karena Kid menyamar menjadi… Shinichi Kudo! Bisa dibayangkan bukan betapa kelabakannya Conan melihat Shinichi palsu ini asik menggoda sang pacar? Untung saja belum sempat Kid beraksi, Conan bisa menghentikannya dan sang pencuri kabur dengan tangan kosong.

Merasa sudah berhasil, rombongan theater berikut Kogoro, Conan, dan kawan-kawan pun pergi berpesta ke Hakodate naik pesawat. Tapi apakah benar Kid sudah menyerah begitu saja? Ataukah ia sebenarnya tengah merancang opera pencurian besar-besaran yang bahkan tak disadari oleh Conan?

Magician of the Silver Sky adalah film Detektif Conan kedua yang tidak memakai Kanetsugu Kodama sebagai sutradaranya. Duduk di bangku itu menggantikan dia adalah Taiichiro Yamamoto yang sebelumnya menyutradarai The Last Wizard of the Century (uniknya, kedua film itulah yang bertemakan Kaitou Kid). Pergantian ini ternyata memberi arah yang cukup berbeda di filmnya. Saya berani berkata kalau ini film pertama Conan yang tidak memberi penekanan apapun pada misteri pembunuhan yang ada di dalamnya. Korbannya hanya satu, dan Conan menyelesaikannya dengan relatif cepat. Kalau saya tidak salah hitung keseluruhan prosesi mulai dari pembunuhan sampai disibakkannya pelaku oleh Conan hanya memakan kurang lebih 15 menit. Kalian mungkin heran bertanya-tanya, lantas bagaimana dengan 93 menit sisa pemutaran film?

Rupanya setelah kasus pembunuhan terungkap; itu baru merupakan akhir dari paruh pertama film ini yang kemudian mengambil perubahan radikal menjadi film aksi. Dalam bagian komentar Countdown to Heaven, teman blog saya Ando-kun menyebutkan bahwa film itu mengingatkan dia pada Die Hard versi animasi. Nah, Magician of the Silver Sky ini mengingatkan saya pada film Turbulence digabung dengan Excecutive Decision ala animasi. Yang jelas perubahan theme ini benar-benar tidak tertebak dan cukup menyenangkan. Saya sudah lama berharap akan sebuah film Conan yang tidak terlalu menekankan pada misteri pembunuhan (soalnya dalam konsep saya, seorang detektif kan tidak melulu harus menyelesaikan kasus pembunuhan) dan film ini memenuhi harapan saya.

Karena tidak terlalu berfokus pada misteri demi misteri yang harus dipecahkan, film ini juga memberi perhatian pada karakter-karakter dalamnya. Interaksi Kid dan Conan selalu merupakan keasyikan sendiri dilihat dan adu cerdik mereka di awal film sampai kerja sama mereka di akhir film semua seakan memperjelas kedudukan mereka sebagai rival dan sahabat. Dibandingkan Heiji, saya lebih salut pada Kaitou Kid – mungkin karena ia tidak terlalu dieksploitasi sehingga selalu menyisakan misteri di sekelilingnya. Beberapa adegan film ini juga sangat kocak seperti di mana Conan kebakaran jenggot melihat Kid menggoda Ran atau saat Conan salah memasang suara Eri sebagai suara Sonoko. Lucunya natural dan tidak terasa dibuat-buat.

Satu hal lagi yang saya salut adalah keberanian penulis cerita untuk mengakui kelemahan dalam serial Conan selama ini. Kalau dipikir secara logika, tidakkah mengesalkan bagi Ran yang sering mengalami kejadian-kejadian sangat berbahaya dan hanya ditelepon oleh Shinichi tanpa pernah dikunjungi sungguhan oleh orangnya? Maksudku cewek manapun jelas tidak terima bila setelah selamat dari bom atau dari korban pembunuhan dan sang cowo sekalipun tidak pernah menjenguknya (walaupun menelponnya). Rasa frutasi yang diteriakkan Ran di sini seakan merupakan teriakan rasa frustasi penonton dan pembaca serial Conan selama ini. Tidak ada jawaban konklusif memang akannya tetapi setidaknya penulis cerita mau mengakui bahwa ada kelemahan itu. Semoga ke depannya bisa diperbaiki lagi.

So my verdict is… di akhir film, Haibara Ai sempat berkata bahwa seperti halnya semboyan “Mustahil itu tidak ada dalam kamusku” berlaku buat Napoleon, semboyan itu juga berlaku untuk Conan. Saya setuju. Semakin lama si detektif kecil ini makin sakti mandraguna dan rasa-rasanya bisa melakukan apa saja.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Taiichiro Yamamoto
Cast: Akira Kamiya, Kappei Yamaguchi, Minami Takayama, Wakana Yamazaki
Running Time: 108 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Detective Conan Movie 2: The Fourteenth Target

Posted on 01 February 2010 by Si Tukang Review

Detective Conan Movie 2: The Fourteenth Target Poster

Detective Conan Movie 2: The Fourteenth Target Poster

Marathon film Detective Conan berlanjut! Setelah film pertamanya cukup memuaskanku, saya masuk ke film keduanya dengan ekspektasi tinggi. Pernah dalam review saya di The Raven Chaser saya menyebutkan ada banyak hal yang mustahil di dalamnyasehingga membuat saya antipati dengannya. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, film pertamanya kan juga memiliki banyak adegan aksi yang tidak masuk akal? Lantas kenapa saya bisa jauh lebih menyukainya? Mungkin alasannya adalah make believe. Hampir semua film aksi (lepas dari animasi atau sungguhan) itu eksekusinya mustahil diaplikasikan ke dunia nyata, tapi seberhasil apakah film bisa menjual kemustahilan itu? Film pertamanya saya nilai berhasil, film terakhirnya saya nilai gagal. Bagaimana dengan yang ini?

Plot utama dalam film ini berpusat pada diri ayah Ran: sang detektif tolol Kogoro Mouri. Sebelum menjadi pemabuk dan detektif tidak kompeten yang kita kenal sekarang ini, dulu Kogoro adalah salah satu polisi terbaik di bawah pimpinan Inspektur Megure. Tidak hanya dikenal sebagai orang yang tangkas dalam pertarungan tangan, Kogoro juga penembak terbaik yang dimiliki oleh angkatan kepolisian saat itu. Di masa jayanya, Kogoro pernah memenjarakan seorang penjahat bernama Murakami Jyou. Setelah Murakami bebas dari penjara, orang-orang di sekeliling Mouri diserang oleh sosok misterius: mulai dari Inspektur Megure, Profesor Agasa, sampai istrinya Eri. Bagaimana cara Murakami sebenarnya menyerang korban-korbannya itu? Apakah karena motivasinya membalas dendam kepada Kogoro? Atau mungkinkah sesungguhnya ada orang lain yang merencanakan semua agenda ini?

Perlu saya beritahukan sebelumnya bahwa review saya berikut ini akan mengandung sedikit spoiler.

Lagi-lagi film ini gagal meyakinkan saya, gagal dalam proses make believe. The Fourteenth Target sebenarnya memiliki potensi menjadi film yang menarik karena kasus misterinya cukup berbeda. Setiap korban yang diserang atau dibunuh dalam film ini memiliki angka di dalam huruf kanjinya mulai dari angka 13 sampai ke angka 1. Lebih unik lagi beberapa korban ada yang hanya diserang tetapi beberapa dibunuh secara terang-terangan. Saya terus bertanya-tanya sepanjang film mengenai kenapa kira-kira ini dilakukan si pembunuh. Ketika faktanya terungkap, bukan main kecewanya saya. Sang penjahat dalam film ini memiliki motif pembunuhan yang sangat – sangat absurd. Dari beberapa pembunuhan yang dilakukannya, paling-paling hanya satu yang agak masuk akal. Kalau dilabeli sebagai psikopat yang punya tendensi membunuhpun (seperti Dexter atau Hannibal), film ini tidak berhasil meyakinkanku.

Ledakan yang terjadi di akhir film makin menambah nilai mustahil film ini. Mana ada seorang penjahat (ingat, satu orang dan bukan komplotan plus tidak memiliki pengetahuan memadai mengenai bahan peledak) memiliki pengetahuan memasang begitu banyak bahan peledak dan mengukur secara tepat berapa dan di mana harus meletakkan bahan peledak tersebut supaya bisa merobohkan sebuah gedung raksasa. Bukannya keren saya malah berasa seakan-akan ledakan yang terjadi di akhir film itu seperti dipaksakan masuk supaya filmnya terasa memiliki nilai wah (mungkin sutradaranya bilang: “Hey ini film! Harus ada yang diledakkan!”) dan menegangkan walau sebenarnya yang dijual hanyalah sekedar cheap thrill semata.

Satu-satunya poin yang saya anggap bisa menyelamatkan film ini adalah bagaimana ia menyorot sosok Kogoro secara berbeda. Biasanya kita selalu diperlihatkan sosok Kogoro yang tolol dan tak bisa diandalkan kalau tidak dibius Conan sehingga melihat bagaimana di sini dia menjadi sosok yang lebih bisa diandalkan dan bertanggung jawab mendapat acungan jempol dariku. Saya bahkan sempat sebal dengan Conan yang dua kali mencuri spotlight dari Kogoro dengan membiusnya dan menembak sang penjahat. Saya pasti akan lebih menghargai film ini bila Kogoro diberi kesempatan menyelesaikan misterinya dan membekuk sang penjahat dengan tangannya sendiri.

So my verdict is… The Fourteenth Target adalah sebuah film yang silahkan saja dilompati. Bahkan penggemar berat Detektif Conan saya rasa juga akan menilai misteri dan aksi yang ditawarkan film ini terlalu mengada-ada. Konsep boleh orisinil, tetapi eksekusinya berantakan.

Score: 3.5

Movie Details
Director: Kanetsugu Kodama
Cast: Minami Takayama, Kappei Yamaguchi, Wakana Yamazaki, Akira Kamiya
Running Time: 95 Minutes

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here