Tag Archive | "Enemy"

Tags: , , , , ,

Ultimate Comics: Enemy

Posted on 03 June 2010 by Si Tukang Review

Ultimate Comics: Enemy #1 Cover

Ultimate Comics: Enemy #1 Cover

Bagi saya Ultimatum yang dilakukan Marvel untuk lini Ultimate serupa dengan One More Day yang mereka lakukan untuk Spider-man. Keduanya sama-sama dicerca massa dan sama-sama digunakan sekedar untuk plot device memajukan komiknya ke era baru. Dalam One More Day, Joe Quesada secara tega mereset ulang kehidupan Peter Parker sementara dalam Ultimatum Jeph Loeb menciptakan tsunami yang mengubah lini Ultimate selamanya.

Tidak ada gunanya menyesali ketololan Loeb yang membinasakan begitu banyak karakter kelas A di lini Ultimate (dan saya sudah cukup menghina-hina komik itu dalam reviewnya) sehingga sekarang saya ingin berfokus pada mini-seri yang lahir setelah bencana Ultimatum berlalu. Setelah Ultimatum, dua seri Ultimate X-Men dan Ultimate Fantastic Four dicancel sementara Ultimate Spider-man dipertahankan. Untuk menggantikan dua seri tersebut dimunculkan Ultimate X, Ultimate Avengers dan New Ultimates (jangan tanya saya beda kedua serial terakhir apa). Dan crossover yang menyatukan semua titel itu datang dalam format Ultimate Comics: Enemy.

Sementara dunia masih berkabung setelah Ultimatum, mereka lagi-lagi mendapat serangan dari sosok makhluk yang tidak dikenal. Monster ini menyerang para superhero-superhero tersisa seperti Spider-man, Nick Fury, sampai Fantastic Four. Dalam serangan yang terjadi nyaris serentak ini lagi-lagi seorang superhero gugur; kali ini Reed Richards aka Mr Fantastic dari Fantastic Four. Bisakah para superhero yang tersisa mencari tahu dalang di balik semuanya ini?

Sebelum saya menginjak lebih jauh ke dalam reviewnya… nama cupu macam apa itu menjuduli crossover dengan ‘Enemy’. Duh. Tidak bisakah Marvel lebih kreatif mencari nama? Enemy??? Lain kali apa? Villain? Super Villain? Super Enemy? Ayolah Marvel, untuk penerbit yang dijuluki The House of Ideas, you can do better than this lame name right?

Whew, lega rasanya mengutarakan itu. Tapi sayangnya bukan hanya itulah masalah yang menyelubungi mini-seri ini. Saya biasanya senang dengan even-even crossover dalam komik di mana karakter favoritku bisa bertarung bersama di satu buku. Namun momentum dalam Enemy rasanya kurang pas. Baru saja semua lini baru Ultimate Comics diluncurkan dan tengah mencari jati diri mereka… eh mendadak saja sudah disuruh bergabung lagi dalam crossover. Tidak terlalu cepatkah itu? Kenapa tidak memberi waktu lebih panjang bagi mereka untuk nyaman dalam titel mereka sendiri sebelum menggabungkan mereka kembali di satu buku? Contohnya tim SHIELD sendiri. Di dalam komik Ultimate Avengers dan New Ultimates, ditulis jelas oleh Mark Millar dan Jeph Loeb bahwa Maria Hill lah yang memegang peranan utama dalam SHIELD, akan tetapi di komik ini terlihat bahwa Nick Fury masih memiliki pengaruh dominan di SHIELD.

Saya juga tidak suka dengan bagaimana Bendis bertutur di kisah ini. Pacingnya berantakan sekali dan terbukti bahwa pada akhirnya Enemy tamat tidak karena kisahnya benar-benar usai tetapi karena akan dilanjutkan lagi ke mini-seri berikutnya yang diberi nama Mystery (oh don’t get me started with the title again). Saya kecewa sekali. Kenapa pemberian judul dalam lini Ultimate sekarang begitu kacau balau? Bukankah tujuan Ultimatum dulu adalah menyederhanakan lini yang tambah lama tambah ruwet? Kalau hasilnya malahan crossover macam Enemy ini sih… bisa-bisa beberapa tahun lagi Ultimatum kedua terjadi lagi! Satu-satunya yang bisa saya puji dari mini-seri ini adalah karya artwork dari Rafa Sandoval. Gaya gambar Sandoval mirip sekali dengan Immonen sehingga saya sempat tertipu, menyangka bahwa komik ini digambar oleh mantan ilustrator dari Ultimate Spider-man ini.

So my verdict is… Ultimate Comics: Enemy adalah satu karya crossover yang boleh dilewatkan. Tidak memberi apa-apa selain kebingungan, mini-seri ini jauh dari karya gemilang yang saya harapkan lahir dari tangan Bendis.

Score: 4.0

Graphic Novel Details
Writer: Brian Michael Bendis
Artist: Rafa Sandoval
Publisher: Marvel Comics
Volume: 01 – 04

Comments (1)

Tags: , , , ,

Enemy of the State

Posted on 19 September 2009 by Si Tukang Review

Enemy of the State Poster

Enemy of the State Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2005)

Nama Will Smith adalah jaminan buat bulan film besar. Semenjak kesuksesan bertubi-tubi yang ia terima usai membintangi Independence Day, dia dipercaya sebagai nama jaminan sebuah box office hit. Tidak bisa disangkal beberapa film box officenya pada awalnya masih didukung oleh bintang kenamaan yang mendampinginya. Salah satu contoh film yang akhirnya membentuk karakter Will Smith sekarang adalah Enemy of the State. Dalam film ini, Smith mendapatkan sebuah kesempatan untuk beradu akting dengan Gene Hackman, salah seorang aktor kenamaan berkualitas Oscar, disutradarai dan diarahkan oleh Tony Scott, dan diproduseri oleh tangan emas Bruckheimer. Hasilnya adalah film chase terbaik yang pernah saya tonton selama ini.

Film ini dimulai dengan terjadinya sebuah pembunuhan terhadap anggota kongres yang menentang pembuatan Undang-Undang baru. Tanpa mereka sangka-sangka kejadian tersebut direkam oleh seseorang. Orang itu segera diburu oleh anggota NSA yang bertugas merahasiakan rentetan kejadian yang telah terjadi. Sebelum ia sempat ditangkap dan dihabisi oleh anggota NSA, ia sempat memberikan tape kejadian tersebut kepada Robert Dean, seorang pengacara yang tidak tahu-menahu mengenai hal ini. NSA yang belum bisa menemukan barang tersebut mulai memburu Robert Dean. Ancaman terhadap dirinya dilakukan secara tidak langsung dengan menghancurkan nama baiknya dan mengekspos dirinya dalam berbagai tuduhan miring yang direkayasa.

Satu-satunya harapan baginya adalah Brill. Dalam pekerjaannya sebagai pengacara, Robert Dean tengah menangani kasus mafia yang kotor. Kasus ini membuatnya minta tolong mencarikan informasi bukti-bukti kotor mengenai sang mafia. Informan yang bekerja padanya secara diam-diam adalah Brill. Brill yang selalu menyembunyikan identitasnya terpaksa keluar dan mencari Robert Dean gara-gara tindakan gegabah Dean menyebabkannya terekspos dan ikut-ikutan terlibat pada NSA. Semakin lama tekanan dari NSA terhadap kedua orang ini makin meninggi. Dan keduanya yang semula tidak bisa bekerja sama mau tidak mau harus bekerja sama menghadapi barisan pemerintah ini.

Apa yang membuat film ini sempat mengendap cukup lama di pajangan VCD saya tanpa saya sentuh adalah trauma saya dengan film Bruckheimer. Film macam Enemy of the State – saya khawatir – hanya akan mengikuti jejak dari pendahulunya macam The Rock atau Con Air. Film-film tak berotak yang sarat dengan adegan action yang eksplosif. Bukan tidak suka, tapi kebetulan saya tidak selalu mood menonton film action seperti itu. Saya menyesal saya keburu menghakimi film ini terlebih dahulu. Enemy of the State memang penuh dengan adegan-adegan yang cukup mengandung tingkat action yang tinggi. Tetapi film ini juga tampil real dengan menjelaskan begitu banyak mengenai sistem informasi dalam dunia Amerika Serikat dengan intel-intelnya. Sederhananya, film ini tidak sekedar membiarkan orang mematikan otaknya dalam mengikuti jalan cerita yang ada. Menarik sekali melihat beberapa fakta yang terungkap dalam film ini, bahwa batas independensi orang sudah dikorup habis-habisan dengan alasan keamanan. Haruskan batas privasi orang memang dilanggar demi alasan keamanan tersebut? Apa jadinya kalau sistem yang ada justru jatuh ke tangan orang yang salah seperti film ini?

Smith dan Hackman menampilkan performa yang mengagumkan. Hackman yang mulai tampil dominan menjelang pertengahan film tetap tampil dengan kualitas akting Oscar. Sementara Smith yang mendominasi sejak awal sebelum kemudian berbagi layar dengan Hackman tidak canggung untuk beradu akting. Smith tampil begitu lepas, panik, dan awam. Jon Voight sebagai villain dalam film ini sayangnya tidak mampu menandingi dominasi Smith dan Hackman. Voight muncul dengan penjahat tipe stereotipe kalangan atas dalam jabatan pemerintahan. Seperti yang pernah kita saksikan dalam Bourne series. Terakhir sebagai pelengkap deretan aktor dalam film ini dihadirkan aktor Jack Black yang bertindak sebagai bidang intelejensi bagi badan pemburu Dean.

Bagi mereka yang keburu skeptis dengan film ala Bruckheimer, cobalah memberi kesempatan bagi film ini. Film ini bukanlah sebuah bertipe Bruckheimer yang biasa. Film ini memang bergaya Bruckheimer tetapi ada sentuhan baru yang diberikannya untuk membuatnya tidak kampungan dan berotak. Ada sedikit sentuhan The Rock di sini dalam duet dua generasi yang ditampilkan (walau chemistry Connery dengan Cage terasa lebih pas), ada adegan chase di sana-sini yang tampil real. Bila sedikit keluhan perlu disampaikan ada pada penggunaan sistem dan istilah teknologi yang mungkin akan sulit dimengerti bagi kebanyakan orang. Begitu pula pada supremasinya sistem satelit dan informasi yang ada dalam mencari jejak seseorang. Toh, bila keluhan-keluhan seperti ini muncul sekali lagi kita perlu mengelus dada dan mengingat bahwa ini adalah film seorang Jerry Bruckheimer.

Score: 7.8

Movie Details
Director: Tony Scott
Cast: Will Smith, Gene Hackman
Running Time: 131 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

The Proposal

Posted on 31 August 2009 by Si Tukang Review

The Proposal Poster

The Proposal Poster

Sebenarnya sedikit jengah juga menonton The Proposal kalau kita tahu beda umur kedua artis utamanya. Sandra Bullock sudah di tengah usia 40nya sementara Ryan Reynolds masih berada pada usia awal 30annya. Jarak umur antara keduanya – kalau saya tidak salah – 12 tahun. Walaupun memang Sandra Bullock masih terlihat cukup muda untuk usianya, terlihat jelas kerut di wajahnya bukan tandingan bagi Reynolds yang masih segar, boyish, dan keren. Lepas dari hal ini, The Proposal menawarkan komedi romantis ringan untuk tahun 2009 ini.

Sandra Bullock di dalam film ini berperan sebagai Margaret Tate, seorang bos super kejam yang dingin dan perfeksionis. Di lain pihak, Ryan Reynolds adalah Andrew Paxton. Bawahan Margaret yang selalu tunduk kepada sang bos supaya ia tidak terdepak keluar dari kantor. Hubungan keduanya berlangsung begini terus menerus sampai pada suatu hari Margaret terancam dideportasi ke Kanada karena masalah visanya. Dengan segera ia memaksa Andrew untuk menikahinya supaya ia bisa mendapatkan status permanen sebagai orang Amerika.

Tentu saja tidak semudah ini untuk bisa menikah. Pemerintah Amerika sendiri sangat berhati-hati supaya tidak terjadi penipuan yang memungkinkan orang asing menjadi warga negara Amerika begitu saja. Agen Gilbertson langsung menyatakan kecurigaannya dan meminta keduanya bukti otentik dari cinta dan pertunangan mereka. Andaikata terbukti kalau pernikahan tersebut hanya main-main, Margaret akan langsung dideportasi sementara Andrew akan dimasukkan ke penjara. Keduanya langsung kelabakan dan berusaha mengenal satu sama lain dalam satu akhir pekan yang mereka habiskan di Alaska – kampung halaman Andrew.

Dan kemudian bibit-bibit cinta akan tumbuh antara keduanya… Dan kemudian mereka akan menikah bahagia selamanya… Dan ceritanya tamat… Begitu bukan yang ada di benak kalian? Toh yang namanya komedi romantis, tidak peduli bagaimanapun premisenya pada akhirnya juga akan mengikuti plot cerita yang begitu-begitu saja. Bila memang demikian pendapat kalian, maka bersiap-siaplah untuk dikejutkan oleh The Proposal. Memang sih film ini tidak bisa dibilang realistis, tetapi untuk sebuah film di mana kedua karakter utamanya hanya ‘jatuh cinta’ selama tiga hari, saya rasa film ini cukup realistis (Spoiler: berarti endingnya tidak terlewat ‘manis’).

Lupakan soal jalan cerita. Unsur yang terpenting dalam komedi romantis adalah kedua karakter utamanya dan Ryan Reynolds serta Sandra Bullock – walaupun terbentang usia yang begitu jauh berbeda – masih memiliki chemistry yang menarik satu sama lain. Sekilas saya tak menyadarinya, tetapi bila kuamati lagi baik-baik, hubungan keduanya tumbuh secara dinamis. Andrew yang di awal film terlihat ketakutan dengan Margaret berubah menjadi lebih berani dan tidak sembarangan menjadi pesuruhnya saja menjelang pertengahan film. Margaret sendiri yang semula dingin mulai membuka hatinya terhadap kehangatan keluarga Andrew. Bicara soal keluarga dan kenalan Andrew, mereka selalu sukses mencuri perhatianku saat tampil di layar. Mary Steenburgen dan Craig T. Nelson menjadi ortu Paxton yang sifatnya bertolak belakang, Oscar Nunez sebagai Ramon si orang yang pekerjaannya super fleksibel (baca: fleksi-man), sampai Betty White yang luar biasa lucu dan funkynya sebagai Nenek Annie. Sedikit catatan: keluarga Paxton di sini tidak hanya tampil sebagai tempelan atau unsur komedi semata, tetapi memainkan sub-plot yang cukup dominan sepanjang film. Angkat jempol untuk The Proposal yang berani memberi fokus cukup besar di luar drama kedua karakter utamanya.

The Proposal mungkin tidak menawarkan apa-apa yang baru. Toh sebagai komedi romantis yang ringan (dan entah kenapa mengingatkan saya pada film Korea Too Beautiful To Lie, mungkin karena kedua tokoh utamanya melulu bertengkar dan settingnya juga di tokoh keluarga laki-lakinya?), film ini adalah tontonan yang pas untuk kamu tonton bersama dengan pacarmu sekedar untuk tertawa atau bercengkerama bersama.

Score: 7.5

Movie Details
Director: Anne Fletcher
Cast: Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Mary Steenburgen, Craig T. Nelson
Running Time: 108 Minutes

Comments (1)

Advertise Here
Advertise Here