Artikel yang kali ini lain dari biasanya.
Apabila biasanya gw mereview game, film, dan komik yang gw mainkan, dalam artikel ini gw akan mengajak pembaca untuk masuk menjelajah ke dalam kamarku dan melihat bagaimana proses pengerjaan review-review yang biasa kutulis. Karena itu gaya penulisan dalam artikel kali ini bakalan sedikit beda dengan biasanya. Lebih santai dan kaga terlalu mementingkan unsur bahasa Indonesia yang benar. ^^;;
Oh well, enough introductions. Welcome to my room. Welcome to my world!
Caption 1: Nah. Yang ini adalah pintu menuju kamar ‘kerja’ (baca: main dan tidur) gw. Kenapa ada fungsi kunci elektriknya? Well, bukan demi mencegah maling masuk ke kamar gw sih. Dulu tuh fungsi kamar ini buat gudang barang tidak pakai, sehingga dipasang kunci elektrik buat mencegah sembarang orang bisa masuk ke sini. Setelah kamarnya gw beres-beresin dan ubah jadi tempat hiburan gw, gw malas buat menghilangkan kunci elektriknya. Akhirnya biarin saja deh dipasang.
Caption 2: Setelah masuk ke dalam kamar, barang pertama yang kalian bakalan lihat adalah TV ini. TV merk Toshiba ini sudah menemani gw dari lamaaaa banget. Lihat aja designnya yang masih tabung dan gendut kontras dengan era TV Plasma dan LCD sekarang. Toshiba bapuk gw ini juga tidak punya fasilitas widescreen, HD-TV, HDMI atau whatever teknologi jaman sekarang sehingga sebenarnya kurang memadai untuk dibuat mereview film-film blockbuster atau game-game generasi kini yang biasanya pakai efek gila-gilaan. Toh kalau sekedar buat bermain PS2, nonton serial TV dan film-film drama ringan, this TV still works wonders.
Caption 3: Ah! Sahabat terbaik gw. Kalian sadar tidak kalau kebanyakan game yang saya review itu berasal dari dua handheld Nintendo DS dan PSP. Apakah itu karena gw benci dengan 360 sehingga tidak mau mereview game-gamenya? Sebenarnya bukan. Seperti yang gw pernah bilang sebelumnya, hidup gw itu ga melulu berkisar mereview ini-itu. Gw punya kerjaan tetap lain dan kehidupan sosial. Praktis yang paling enak buat kumainkan ya game-game handheld yang bisa gw bawa ke mana-mana.
iPod-nya sendiri itu ukurannya 120 GB. Biasa kalau gw lagi dalam perjalanan bisnis ke luar kota, sehari sebelumnya gw mengisi iPod gw dengan serial-serial TV (gw convert dari AVI ke MP4, format yang dikenali sama iPod) dan menontonnya sepanjang perjalanan. Kalau handphonenya? Well – ga ada alasan sih. Gw iseng aja masukin. ^^;; Merknya Nokia 5310 dan layarnya udah retak (ketabrak ujung meja). Sekarang lagi mengais sedikit uang demi bisa menggantinya… syukur-syukur dengan buah arbei hitam (Blackberry). Hi hi hi.
Caption 4: Gw punya satu prinsip kalau beli DVD player. Beli yang merk China sehingga gw tidak usah repot-repot dengan Region Code. Gw dulu malas beli DVD player dan maunya memainkan via Laptop saja. Ampun deh. Ternyata kalau dimainkan via Laptop ada batas penggantian Region Code. Ganti lima kali dan kamu ga bisa ganti lagi. Akhirnya daripada menyia-nyiakan kesempatan penggantian Region Code berkali-kali, gw memutuskan beli satu DVD player yang merknya murah-murah meriah – jatuhlah pilihan gw ke Amex. Dengar-dengar sih kalau yang mahal dan bermerk kaya Sony atau Samsung juga terikat Region Code sana-sini malah cuma bisa main DVD orisinil. Duh, engga deh. Makasih.
Caption 5: Kalau yang ini… heavy hitter gw. Walau gw punya Toshiba kecil kesayangan gw, handheld gw yang bisa dibawa ke mana-mana dan DVD Player yang bisa memainkan film-film… kelihatannya jauh dari afdol kan kalau kita bicara soal generasi terkini? Nonton Lord of the Rings atau main game Call of Duty 4: Modern Warfare mana serunya kalau main di TV kecil dan DVD biasa? Jadinya kalau gw main game-game 360, biasanya gw pindah ke kamar sekunder gw (rencana dijadikan home theater suatu hari nanti) buat memainkannya. Main Dead Space widescreen dengan efek suara surround menjadi sebuah pengalaman yang jauh lebih menyeramkan. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.
Kalau WD-TV sendiri? Alat ini adalah jawaban bagi orang yang koceknya tidak tebal (like me) tetapi masih ingin menikmati film-film dengan kualitas terkini (baca: Blu-ray). Membeli film-film Blu-Ray Rip atau HD (banyak kok yang jual di Kaskus seperti Bluray-Murah) yang berukuran rata-rata 10 – 30 GB, memasukkannya ke dalam Hard Disk (saya pakai Western Digital yang 500 GB) lantas ditancapkan pada WD-TV, pasang kabel HDMI dan akhirnya tancapkan ke TV LCD LG gw. Hasilnya? Eureka! Kualitas gambar setara Blu-Ray dengan harga per film serendah Rp. 15.000 – 20.000.-. Lovely. Oh, kadang saya juga menonton serial TV dalam bentuk AVI melaluinya. Maklum, kalau nonton AVI lama-lama di komputer (ehem… marathon nonton Lost di akhir pekan ehem…) bisa bikin mata pening dan pegal juga.
Caption 6: Dan… ini yang terakhir. Komputer gw baru selesai gw upgrade dua hari lalu (Ganti Pentium Core Duo 2.93GHZ, kartu grafis Sapphire 512MB, dan HD 250 GB). Fungsinya dua: yang pertama untuk main game karena gw tidak mau memforsir 360 buat main semua game (takut nanti 360 gw kena penyakit kanker yang namanya RROD – Red Ring of Death) sementara yang kedua adalah untuk menulis review dan membackup seluruh situs TukangReview.com kalau-kalau terjadi kerusakan pada data onlinenya (dan dengan banyaknya spam yang gw terima per hari… brrr… merinding membayangkan bila gw tidak membackup situ situ secara berkala).
Gadget terakhir gw adalah Apple MacBook gw. Dulu iseng-iseng beli karena bosan sama Windows, sekarang saya harus jujur mengakui kalau saya seorang Apple fans. Cepat, jarang kena virus, stabil, MacBook membebaskan gw dari sakit kepala yang biasa gw hadapi kalau gw memakai Laptop Windows (dua laptop gw sebelum ini: Toshiba dan Vaio semua under Windows dan semuanya sering bikin gw sakit kepala). Dia juga sering gw bawa ke mana-mana (dulu ketika gw ke China dan tidak bisa memakai Desktop, MacBooklah yang jadi andalan gw untuk tetap mengupdate situs ini secara berkala).
Dan… berakhirlah perjalanan kita di kamar gw. TukangReview.com pada awalnya bermula dari hobi iseng-iseng gw buat menulis review (karena tangan gw suka gatal buat ngetik sesuatu) dari game yang saya mainkan, film yang saya tonton, atau komik yang saya baca (semua saya baca secara digital). Terima kasih untuk dukungannya selama ini, and of course… more reviews to come. ^^V
































