Tag Archive | "DS"

Tags: , , , , ,

Behind the Scene of TukangReview.com

Posted on 23 September 2009 by Si Tukang Review

Artikel yang kali ini lain dari biasanya.

Apabila biasanya gw mereview game, film, dan komik yang gw mainkan, dalam artikel ini gw akan mengajak pembaca untuk masuk menjelajah ke dalam kamarku dan melihat bagaimana proses pengerjaan review-review yang biasa kutulis. Karena itu gaya penulisan dalam artikel kali ini bakalan sedikit beda dengan biasanya. Lebih santai dan kaga terlalu mementingkan unsur bahasa Indonesia yang benar. ^^;;

Oh well, enough introductions. Welcome to my room. Welcome to my world!

key-lock

Caption 1: Nah. Yang ini adalah pintu menuju kamar ‘kerja’ (baca: main dan tidur) gw. Kenapa ada fungsi kunci elektriknya? Well, bukan demi mencegah maling masuk ke kamar gw sih. Dulu tuh fungsi kamar ini buat gudang barang tidak pakai, sehingga dipasang kunci elektrik buat mencegah sembarang orang bisa masuk ke sini. Setelah kamarnya gw beres-beresin dan ubah jadi tempat hiburan gw, gw malas buat menghilangkan kunci elektriknya. Akhirnya biarin saja deh dipasang.

small-tv

Caption 2: Setelah masuk ke dalam kamar, barang pertama yang kalian bakalan lihat adalah TV ini. TV merk Toshiba ini sudah menemani gw dari lamaaaa banget. Lihat aja designnya yang masih tabung dan gendut kontras dengan era TV Plasma dan LCD sekarang. Toshiba bapuk gw ini juga tidak punya fasilitas widescreen, HD-TV, HDMI atau whatever teknologi jaman sekarang sehingga sebenarnya kurang memadai untuk dibuat mereview film-film blockbuster atau game-game generasi kini yang biasanya pakai efek gila-gilaan. Toh kalau sekedar buat bermain PS2, nonton serial TV dan film-film drama ringan, this TV still works wonders.

handheld

Caption 3: Ah! Sahabat terbaik gw. Kalian sadar tidak kalau kebanyakan game yang saya review itu berasal dari dua handheld Nintendo DS dan PSP. Apakah itu karena gw benci dengan 360 sehingga tidak mau mereview game-gamenya? Sebenarnya bukan. Seperti yang gw pernah bilang sebelumnya, hidup gw itu ga melulu berkisar mereview ini-itu. Gw punya kerjaan tetap lain dan kehidupan sosial. Praktis yang paling enak buat kumainkan ya game-game handheld yang bisa gw bawa ke mana-mana.

iPod-nya sendiri itu ukurannya 120 GB. Biasa kalau gw lagi dalam perjalanan bisnis ke luar kota, sehari sebelumnya gw mengisi iPod gw dengan serial-serial TV (gw convert dari AVI ke MP4, format yang dikenali sama iPod) dan menontonnya sepanjang perjalanan. Kalau handphonenya? Well – ga ada alasan sih. Gw iseng aja masukin. ^^;; Merknya Nokia 5310 dan layarnya udah retak (ketabrak ujung meja). Sekarang lagi mengais sedikit uang demi bisa menggantinya… syukur-syukur dengan buah arbei hitam (Blackberry). Hi hi hi.

dvd-player

Caption 4: Gw punya satu prinsip kalau beli DVD player. Beli yang merk China sehingga gw tidak usah repot-repot dengan Region Code. Gw dulu malas beli DVD player dan maunya memainkan via Laptop saja. Ampun deh. Ternyata kalau dimainkan via Laptop ada batas penggantian Region Code. Ganti lima kali dan kamu ga bisa ganti lagi. Akhirnya daripada menyia-nyiakan kesempatan penggantian Region Code berkali-kali, gw memutuskan beli satu DVD player yang merknya murah-murah meriah – jatuhlah pilihan gw ke Amex. Dengar-dengar sih kalau yang mahal dan bermerk kaya Sony atau Samsung juga terikat Region Code sana-sini malah cuma bisa main DVD orisinil. Duh, engga deh. Makasih.

lg-lcd

wd-tv

x-box-360

Caption 5: Kalau yang ini… heavy hitter gw. Walau gw punya Toshiba kecil kesayangan gw, handheld gw yang bisa dibawa ke mana-mana dan DVD Player yang bisa memainkan film-film… kelihatannya jauh dari afdol kan kalau kita bicara soal generasi terkini? Nonton Lord of the Rings atau main game Call of Duty 4: Modern Warfare mana serunya kalau main di TV kecil dan DVD biasa? Jadinya kalau gw main game-game 360, biasanya gw pindah ke kamar sekunder gw (rencana dijadikan home theater suatu hari nanti) buat memainkannya. Main Dead Space widescreen dengan efek suara surround menjadi sebuah pengalaman yang jauh lebih menyeramkan. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.

Kalau WD-TV sendiri? Alat ini adalah jawaban bagi orang yang koceknya tidak tebal (like me) tetapi masih ingin menikmati film-film dengan kualitas terkini (baca: Blu-ray). Membeli film-film Blu-Ray Rip atau HD (banyak kok yang jual di Kaskus seperti Bluray-Murah) yang berukuran rata-rata 10 – 30 GB, memasukkannya ke dalam Hard Disk (saya pakai Western Digital yang 500 GB) lantas ditancapkan pada WD-TV, pasang kabel HDMI dan akhirnya tancapkan ke TV LCD LG gw. Hasilnya? Eureka! Kualitas gambar setara Blu-Ray dengan harga per film serendah Rp. 15.000 – 20.000.-. Lovely. Oh, kadang saya juga menonton serial TV dalam bentuk AVI melaluinya. Maklum, kalau nonton AVI lama-lama di komputer (ehem… marathon nonton Lost di akhir pekan ehem…) bisa bikin mata pening dan pegal juga.

desktop

macbook

Caption 6: Dan… ini yang terakhir. Komputer gw baru selesai gw upgrade dua hari lalu (Ganti Pentium Core Duo 2.93GHZ, kartu grafis Sapphire 512MB, dan HD 250 GB). Fungsinya dua: yang pertama untuk main game karena gw tidak mau memforsir 360 buat main semua game (takut nanti 360 gw kena penyakit kanker yang namanya RROD – Red Ring of Death) sementara yang kedua adalah untuk menulis review dan membackup seluruh situs TukangReview.com kalau-kalau terjadi kerusakan pada data onlinenya (dan dengan banyaknya spam yang gw terima per hari… brrr… merinding membayangkan bila gw tidak membackup situ situ secara berkala).

Gadget terakhir gw adalah Apple MacBook gw. Dulu iseng-iseng beli karena bosan sama Windows, sekarang saya harus jujur mengakui kalau saya seorang Apple fans. Cepat, jarang kena virus, stabil, MacBook membebaskan gw dari sakit kepala yang biasa gw hadapi kalau gw memakai Laptop Windows (dua laptop gw sebelum ini: Toshiba dan Vaio semua under Windows dan semuanya sering bikin gw sakit kepala). Dia juga sering gw bawa ke mana-mana (dulu ketika gw ke China dan tidak bisa memakai Desktop, MacBooklah yang jadi andalan gw untuk tetap mengupdate situs ini secara berkala).

Dan… berakhirlah perjalanan kita di kamar gw. TukangReview.com pada awalnya bermula dari hobi iseng-iseng gw buat menulis review (karena tangan gw suka gatal buat ngetik sesuatu) dari game yang saya mainkan, film yang saya tonton, atau komik yang saya baca (semua saya baca secara digital). Terima kasih untuk dukungannya selama ini, and of course… more reviews to come. ^^V

Comments (6)

Tags: , ,

Nintendo DS - More than Just A Gaming Handheld

Posted on 26 March 2009 by Si Tukang Review

- Lima hal lain yang bisa anda lakukan dengan NDS anda selain bermain game -

Portable gaming menjadi hal yang makin umum pada tahun-tahun belakangan ini. Seiring era di mana dunia terus ‘bergerak’, memiliki sebuah game yang bisa dimainkan ke manapun seseorang pergi tidak lagi menjadi hal yang aneh. Sebelumnya, game Brain Age (software pelatih otak) untuk DS telah menjadi hits yang luar biasa di mana-mana. Dalam artikel ini, saya akan lebih lanjut menunjukkan kalau DS yang kalian miliki bisa menjadi lebih dari sekedar sebuah alat gaming semata.

1. Ayo bugar dengan DS

‘DS menjadi instruktur kebugaran? Bagaimana caranya tuh?’. Nampaknya Nintendo sadar benar kalau generasi kini adalah generasi yang makin ‘sadar sehat’. Nintendo pun merilis berbagai jenis game kebugaran seperti Wii Fit. Di dunia handheld, ada satu lagi yang cukup terkenal dengan judul My Health Coach Manager. Game yang dirilis oleh Ubisoft ini datang dengan bundel pedometer (yang digunakan menghitung jumlah langkah anda tiap harinya). Game ini mengubah DS anda sebagai jurnal kesehatan elektronik anda. Anda bisa mencatat makanan apa saja yang anda makan atau kegiatan apa saja yang anda lakukan tiap harinya lantas game ini akan mengukur kalori yang anda serap atau keluarkan di hari itu. Game ini bahkan akan memberikan tips kepada anda mengenai bagaimana memiliki pola hidup sehat yang lebih baik!

Game lain yang menarik perhatian saya adalah seri Let’s Yoga. Game ini akan menjadi pembimbing anda melakukan gerakan-gerakan Yoga dasar dan sederhana. Dengan video dan presentasi yang menarik, melakukan gerakan Yoga pun tidak lagi menjadi hal yang sulit. Publisher game ini juga merilis Let’s Pilates sebagai varian lain dari Let’s Yoga.

2. Bonjour! Hola! Anyong Haseyo! Konbanwa! Belajar bahasa asing!

“Bonjour! Comment allez-vous?” Ah, maafkan saya yang terbawa mood untuk berbicara Perancis. Baru-baru ini dirilis tiga bundel program pembelajaran bahasa untuk DS. My Spanish Coach, My French Coach, dan My Word Coach. Ketiga software ini mendapatkan pujian dari banyak kritikus game yang merasa bahwa cara pembelajaran software ini sangat interaktif dan mudah dipahami semua orang.

Saya sendiri sudah mencoba game-game di atas. Game-game ini memiliki tujuan berbeda. My Spanish Coach dan My French Coach ditujukan kepada mereka yang hendak belajar bahasa tersebut dari awal. Pelajaran pertama dimulai dengan sederhana (mulai dari angka-angka, hari-hari, warna, sampai bulan) dan akan menjadi makin sulit seiring majunya pelajaran anda (mulai memperkenalkan grammar dan kalimat-kalimat lebih panjang). Game-game ini sangat laris di pasaran, dan publisher game ini lantas merilis versi bahasa Mandarin dan Jepangnya.

My Word Coach sendiri agak berbeda; karena ditujukan pada pasar Amerika; maka game ini lebih bertujuan membangun kosakata bahasa Inggris anda. Anda dianggap sudah memiliki ‘pengetahuan dasar’ yang cukup dalam bahasa Inggris. Mainkan game ini dan buat mata orang terbelalak ketika anda mampu menggunakan arti kata-kata sulit macam gallop atau feral yang arti sederhananya berarti run dan wild.

3. Tur keliling dunia

Ingin berjalan-jalan ke Eropa tetapi panik karena tidak mengerti bahasanya? Jangan cemas lagi. Travel Coach – Europe adalah sebuah game ideal yang bisa anda bawa untuk menemani anda berpergian. Dalam Travel Coach, anda seakan-akan membawa kamus dari Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, dan Inggris… dalam satu paket! Tidak hanya itu. Game ini bisa menerjemahkan kalimat-kalimat sederhana dari kelima bahasa tersebut! Kalau anda masih tidak puas, Travel Coach juga menyertakan lokasi-lokasi penting, hotel-hotel, adat kebiasaan setempat dari lima negara itu.

Bicara mengenai kamus elektronik, makin banyak perusahaan Jepang dan Korea kini merilis aplikasi kamus mereka dalam DS. Kita bisa banyak menemukan program-program kamus yang mampu mengartikan dari bahasa Korea – Jepang – Inggris. Nampaknya penggunaan kamus elektronik eksklusif kian lama akan kian ditinggalkan. Aku sudah mencoba sendiri aplikasi Touch Dictionary (dirilis Daiwon C&A Holdings). Aplikasi ini bisa menerjemahkan dari “Korea – Jepang / Jepang – Korea” dan “Korea – Inggris / Inggris – Korea” dalam satu paket. Akurasinya – menurut teman Koreaku – bisa dipercaya.

4. Jadi seorang gitaris

Ya, ini BUKAN salah ketik.
Ya, saya juga TIDAK membohongi kalian.
Dengan game Jam Sessions, kalian bisa mengubah DS anda menjadi gitar akustik. Memainkan gitar dengan Jam Sessions bisa jadi merupakan ide yang aneh, dan dalam kenyataan ini memang merupakan hal yang sangat unik – tapi mungkin untuk dilakukan!

Banyak musikus indie sudah melihat dan mencoba Jam Sessions. Beberapa yang skeptis pada awalnya (karena mengira bahwa DS takkan bisa meniru suara gitar akustik sungguhan) dipaksa mengakui kebolehan DS dalam menghasilkan suara gitar akustik. Kendati tidak bisa dibilang sempurna, Jam Sessions merupakan karya unik yang hanya ada di DS. Anda tidak akan bisa menjadi pemusik professional bermodalkan Jam Sessions semata, tapi setidaknya anda bisa mengekspresikan diri pemusik anda dengan game ini. Cek saja di Youtube dan lihat sendiri orang yang memposting video mereka memainkan gitar di Jam Sessions!

5. Berselancar di dunia maya

DS dan PSP sama-sama memiliki fasilitas wireless yang memungkinkan keduanya untuk bermain online. PSP selangkah lebih maju ketimbang DS karena semenjak awal peluncurannya ia menyediakan fasilitas browsing di dalamnya. DS tentu saja tidak mau kalah. Menggandeng Opera, DS juga merilis internet browser dalamnya.

Secara pribadi, kendati fasilitas wi-fi dari PSP dan DS sama apiknya, tetapi DS yang memiliki fasilitas touch screen dan stylus terasa lebih mudah untuk digunakan. Ketika anda ingin mengklik link tertentu, anda tinggal menyentuhnya dengan stylus anda – persis seperti kalau anda menggunakan PDA. Bayangkan dengan PSP di mana anda harus menscrolling pilihan link anda satu demi satu hanya untuk mencapai link yang anda inginkan. Keburu lelah!

Kuharap kalau ulasan ini bisa membuat kalian yang punya DS bisa memaksimalkan DS mereka (tidak harus selalu buat main game bukan?) dan mereka yang tidak punya DS mungkin setelah membaca artikel ini menjadi tertarik memiliki DS? He he he.

Lima hal di atas sebenarnya tidak cukup untuk mencakup seluruh hal yang bisa kalian lakukan dengan DS kalian. Sebagai tambahan, DS pun memiliki game bertipe simulasi pengajaran masakan - bahkan koki muda seperti Jamie Oliver saja merilis game yang berisi resep-resepnya di DS!

Comments (0)

Tags: , , ,

The Top 25 DS Game Countdown (Day 3)

Posted on 26 February 2009 by Si Tukang Review

Update berikutnya dalam Top 25 DS Countdown… Tukang Review’s style!

15. Hotel Dusk Room 215

Pernah menonton video klip Take On Me? Itu loh, yang karakter dalam video klipnya nampak dari goresan sketsa yang hidup. Hotel Dusk Room 215 menawarkan konsep yang sama. Hotel Dusk adalah satu dari banyak game adventure yang ditranslasikan masuk ke DS, dan juga yang memiliki jalan cerita yang paling memikat. Cing, sang developer pernah mencoba menggarap Trace Memory sebagai game adventure di DS, tetapi Hotel Dusk-lah yang saya anggap berhasil menyempurnakan konsep dari Trace Memory.

Kyle Hyde adalah seorang mantan polisi yang beralih profesi menjadi seorang salesman sejak ia dikhianati oleh rekan sekerjanya. Walau sudah menjadi seorang salesman, Kyle tetap berusaha melacak jejak dari rekannya. Pencariannya membawanya ke sebuah hotel yang memiliki sebuah ruangan yang aneh, ruangan 215 yang konon akan mengabulkan harapan dari orang yang tinggal di kamar itu. Terlepas apakah itu benar atau tidak, game ini sangat artistik dan diiringi nuansa sendu dan noir sepanjang permainan. Karakter-karakter dalam game ini tergarap dengan baik, memiliki kedalaman dan tidak dua-dimensi. Game ini jelas salah satu game adventure terbaik di DS.

14. Ninja Gaiden: Dragon Sword

Kalau anda ngebet memainkan Ninja Gaiden tetapi tidak punya X-Box maupun X-Box 360, anda tidak perlu berkecil hati. Mainkan saja Dragon Sword. Game yang sepenuhnya dikontrol dengan gerakan stylus ini bukan game yang panjang; saya sendiri menamatkannya di bawah 10 jam.

Tetapi apa yang kurang dalam kuantitas itu ditutupnya dalam kualitas. 10 jam yang saya nikmati selama memainkan Dragon Sword adalah satu dari momen langka di mana saya benar-benar menikmati sebuah game dari awal hingga akhir. Penasaran apakah aksi Ryu Hayabusa di layar kecil DS bisa segarang dan se-stylish aksinya di TV Hi-Def X-Box 360? Cari tahu jawabannya lewat Dragon Sword.

13. Puzzle Quest: Challenge of the Warlords

Apa yang terjadi kalau anda mencampur RPG dan Puzzle dalam satu game? Tidak mungkin terjadi? Nanti dulu. Tahun 2006, developer Infinite Interactive dari Australia menghentak industri game dengan menggabungkan konsep puzzle Bejeweled dan RPG. Hasilnya adalah Puzzle Quest, sebuah game puzzle yang sangat inovatif dan sangat adiktif. Entah berapa teman saya yang menghabiskan waktu berjam-jam memainkan game ini.

Menyadari kesuksesan Puzzle Quest di dua handheld portabel (PSP juga mendapat rilis Puzzle Quest), Infinite Interactive segera merilis game ini untuk semua sistem; termasuk konsol-konsol next-gen. Nah, siapa bilang untuk menikmati game diperlukan grafis super keren? Gameplay yang adiktif adalah kunci dari keasyikan bermain sebuah game, dan Puzzle Quest adalah satu contoh yang membuktikan teori tersebut.

12. Nintendogs

Saya pecinta Tamagotchi. Ketika trend Tamagotchi booming hampir sepuluh tahun yang lalu, saya termasuk satu di antara banyak anak yang berbondong-bondong membelinya, termasuk di antara mereka yang menunggu dengan bahagia bagaimana Tamagotchi saya lahir, dan termasuk di antara mereka yang turut meratap sedih ketika Tamagotchi saya meninggal karena lupa saya beri makan pagi ketika saya pergi sekolah. Err… coret yang terakhir, I just reset my Tamagotchi when it died.

Itulah kenapa begitu membaca mengenai Nintendogs, saya memutuskan untuk membeli DS. Betul. Alasan saya membeli DS adalah supaya saya bisa bermain dengan anjing-anjing virtual di game ini. Nintendogs mengijinkan anda untuk berinteraksi dan merawat lebih dari 15 jenis anjing, mengikutkan mereka dalam kompetisi, dan mengajak mereka jalan-jalan. Konsep virtual-pet inilah yang membawa mereka menguasai pasar handheld. Go thanks the dog! And those puppy eyes? I just can’t resist it.

11. Animal Crossing: Wild World

Ada sesuatu yang unik mengenai Animal Crossing yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ini adalah salah satu game yang harus anda coba untuk anda mengerti sendiri apa keasyikannya. Perlu diperhatikan, ini bukan game untuk semua orang. Ada orang yang akan malas memainkan game ini, tidak mengerti apa tujuan mereka memainkan game yang isinya mengharuskan anda berinteraksi dengan karakter NPC, memancing ikan, menangkap serangga, dan memetik buah.

But that’s exactly the charm of Animal Crossing: Wild World. Konsep real-time (satu menit di dalam game adalah satu menit di dunia nyata) sukses di GameCube, dan konsep yang sama pun sukses di DS. DS bahkan memberinya tambahan wi-fi, mengijinkan kita untuk mengunjungi ‘kota’ di mana teman-teman kita tinggal. Animal Crossing is not just a game. It’s escapism at its finest.

Mulai besok: Countdown menuju Top 10 dimulai!

Comments (0)

Tags: , , ,

The Top 25 DS Game Countdown (Day 2)

Posted on 25 February 2009 by Si Tukang Review

The countdown continues!!!

20. Pokemon Diamond / Pearl

Sebuah handheld dari Nintendo tidak akan pernah lengkap tanpa seri Pokemon. Kendati puncak popularitas dari Pokemon sudah lama berlalu, tidak bisa dipungkiri kalau sebuah game Pokemon baru akan selalu menarik para penggemar lama (sekaligus menjerat penggemar baru) untuk berburu dan menangkapi para monster.

Konsep utama dalam Pokemon Diamond / Pearl tidak berbeda dari semua jenis Pokemon yang telah hadir sebelumnya. Anda berpetualang di dunia Pokemon dan menangkapi berbagai jenis monster. Tambahan yang dimasukkan ke DS kali ini adalah sistem wi-fi yang memungkinkan Pokemon anda bertarung di dunia maya melawan para gamer lainnya! It’s time to catch ‘em all again!

19. Rune Factory: A Fantasy Harvest Moon

Sampai saat saya menulis artikel ini sudah ada tiga game Harvest Moon yang muncul di DS. Harvest Moon DS, Rune Factory, dan Island of Happiness. Alasan kenapa saya memilih Rune Factory dalam list ini (sekaligus menobatkannya sebagai Harvest Moon terbaik di DS) adalah karena game ini berani mengubah konsep klasik bertani Harvest Moon dan menggabungkannya dengan sistem Action RPG. Perkawinan kedua konsep ini tadinya sempat menimbulkan tanda tanya, yang segera terhapuskan begitu orang memainkan game ini

Sebagai Ragna, selain bertani dalam game Harvest Moon lain, anda juga bisa menjelajahi delapan dungeon dalam game ini, menangkapi lebih dari 60 jenis monster untuk bekerja di ladang anda, membuat senjata ataupun obat-obatan baru, sampai mengejar cinta dari 11 gadis yang disediakan game ini bagi anda. Rune Factory bisa jadi adalah Harvest Moon portable terbaik setelah Friends of Mineral Town di GBA.

18. Bleach: The Blade of Fate

Rasanya game ini sudah populer di Indonesia jauh sebelum versi Amerika-nya dirilis. The Blade of Fate mendapatkan perhatian dari banyak penggemar game fighting mengingat developer game ini adalah Treasure - developer kreatif yang menciptakan Yuu Yuu Hakusho: Makyo Toitsusen di Genesis (salah satu cult hit classic untuk game fighting di konsol tersebut).

Bleach: The Blade of Fate menghadirkan berbagai karakter di dunia Bleach - lengkap dengan semua jurus-jurus hingga pamungkas (Ban Kai) mereka; sebuah hal yang tadinya dikira mustahil bisa ditampilkan di sistem handheld seperti DS. Buat yang menggemari The Blade of Fate pasti juga akan menggemari sekuelnya: Dark Souls karena sekuelnya menghadirkan tambahan karakter sesuai perkembangan manga Bleach.

17. Metroid Prime: Hunters

Entah mengapa hampir setiap seri Metroid yang keluar diiringi dengan kontroversi. Saya masih ingat bagaimana orang sempat meragukan Super Metroid yang berubah pakem dari Metroid NES klasik. Saya masih ingat bagaimana orang meragukan Metroid Prime yang secara drastis memasukkan Samus Aran ke dunia FPS. Terbukti kualitas kedua game itu menghapus keraguan dari penggemar Metroid.

Herannya, ketika Metroid Prime akan muncul di DS, masih juga ada orang merasa skeptis akan game yang bersub-judul Hunters ini. Bagaimana dengan kualitas grafisnya? Bagaimana dengan kontrolnya? Hasilnya? Nintendo sekali lagi membuktikan diri bahwa Metroid adalah salah satu franchise andalan mereka dan mereka tidak main-main dalam menggarapnya. Hunters tidak hanya memiliki tampilan yang sangat cantik untuk ukuran DS (bahkan sampai saat ini sekalipun!) tetapi juga memiliki kontrol yang sangat fluid dan halus.

16. Trauma Center

Kalau ditanya game apa yang memanfaatkan touchscreen DS dengan cara paling unik, jawabannya jelas Trauma Center. Anda adalah Derek Stiles (info tidak penting: akronimnya DS dan Stiles dibaca seperti Stylus); seorang dokter muda yang memiliki kemampuan ‘Healing Touch‘. Tugas anda selain menolong pasien yang terkena sakit biasa adalah melawan virus GUILT, sebuah senjata biologis yang di tangan para teroris bisa mengancam kedamaian dunia.

Dalam game ini, stylus anda akan berperan sebagai alat-alat kedokteran. Gunakan stylus anda menjadi scalpel untuk mengiris kulit pasien, jadikan stylus anda sebagai jarum untuk menyuntikkan obat pada tubuh pasien, atau manfaatkan stylus itu sebagai jarum benang untuk menjahit luka pasien. Satu hal yang jelas, Trauma Center adalah salah satu game yang paling menegangkan dan memompa adrenalin di DS. The final operation? Epic.

Next on the list: 15 - 10… Penasaran game DS apa saja yang bakalan masuk list ini? Kembali besok!

Comments (0)

Tags: , ,

The Top 25 DS Game Countdown (Day 1)

Posted on 24 February 2009 by Si Tukang Review

I present you: The Top 25 DS Games over the last four years!!!

25. Contra 4

Contra 4 membangkitkan kembali nostalgia kita (siapa bisa lupa Konami code yang menghadiahkan kita 30 - dan bukannya 3 nyawa di Contra?). Para gamer yang berusia di atas 18 tahun kemungkinan besar hidup dan menjajal versi sebelumnya dari Contra yang hadir di NES dan SNES. Franchise ini sempat mati suri di konsol-konsol masa kini karena transisinya ke 3D yang tidak berjalan dengan lancar. Contra 4 tidak mengulangi kesalahan versi-versi terbaru Contra dan justru kembali pada konsep 2D yang membuat franchise ini begitu memorable dan legendaris.

Bicara soal kembali ke konsep 2D, Contra 4 juga mengembalikan tingkat kesulitan super tinggi. Anda hampir dijamin akan mati berulang kali sebelum bisa menyelesaikan satu level - tapi justru itulah yang membuat Contra 4 begitu menantang. Anda akan ‘dipaksa’ untuk memainkan satu level yang sama berulang-ulang, menghafalkan lokasi musuh demi musuh dan kemudian menghabisi mereka. Untuk kepuasan maksimum, disarankan anda mencari satu teman lain yang juga memiliki game ini lantas menggunakan wireless mode untuk berduet bersama menghabisi para alien.

24. Tony Hawk’s American Sk8land

Melanjutkan tradisi sukses Tony Hawk series di handheld portabel, American Sk8land membawa anda ke dunia skateboarding dengan grafik cel-shading. Game ini adalah salah satu game rilis awal di NDS yang membungkam kritik banyak orang yang meragukan kualitas grafis dari NDS (memang di saat itu sudah ada Super Mario 64 DS, tetapi game tersebut dianggap
sebagai game first party-nya Nintendo).

Konsep free-roaming American Sk8land (di mana anda bisa mengambil misi-misi untuk membuktikan kemampuan anda) disukai pasar dan nantinya menjadi fondasi kokoh untuk dipakai kembalidalam game-game Tony Hawk berikutnya seperti Downhill Jam dan Proving Ground.

23. Brain Age: Train Your Brain in Minutes a Day

Brain Age adalah software yang membuktikan bahwa NDS bukan sekedar handheld untuk nge-game semata. Setelah kesuksesan Nintendogs pada tahun pertama NDS, Nintendo mendapatkan tambang emas kedua melalui Brain Age. Menurut Dr. Kawashima, otak manusia akan menua apabila tidak dipakai dan diasah secara teratur. Oleh karena itu ia menggarap permainan-permainan khusus yang berfungsi untuk menstimulasi dan menjaga otak anda tetap segar. Apakah hasilnya benar-benar berpengaruh atau tidak, sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan kritikus.

Terlepas dari apakah Brain Age sukses mencerdaskan anda atau tidak - tidak ada yang bisa menyangkal bahwa ia adalah pembuka jalan bagi software-software nyentrik buat NDS lainnya. Apabila sekarang anda menikmati My Japanese / French / Chinese / Spanish Coach (yang adalah program belajar bahasa) atau My Yoga / Weight Training Coach (yang adalah program guideline olahraga) maka berterima kasihlah pada Brain Age karena tanpanya, dunia akan memandang NDS sebagai handheld gaming semata.

22. Professor Layton and the Curious Village

Satu lagi jenis game nyeleneh buat NDS adalah Professor Layton and the Curious Village. Kalau hanya menduga dari animasinya, orang mungkin berpikir bahwa Professor Layton and the Curious Village adalah game untuk anak-anak. Maklum saja, tampilannya mirip dengan cerita Inggris jaman dulu, seperti novel Enid Blyton yang lengkap dengan misteri, petualangan, dan penjelajahan. Game ini menempatkan anda sebagai Professor Layton dan asisten mudanya, Luke berpetualang di sebuah desa misterius bernama Curious Village.

Anda diharuskan memecahkan teka-teki mengenai di manakah tersimpan Golden Apple dalam desa itu. Game ini menyediakan kepada anda lebih dari 120 puzzle brain teaser yang bisa anda selesaikan. Percayalah kalau saya mengatakan bahwa banyak di antara puzzle-puzzle itu luar biasa sulitnya. Apabila anda bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuan orang lain, maka anda layak menyebut diri anda sebagai seorang master puzzle.

21. Meteos

NDS adalah rumah bagi banyak game puzzle berkualitas macam Tetris DS, Puzzle Planet League, maupun Picross. Kendati begitu, tidak ada satupun di antara game-game puzzle di NDS yang bisa menyaingi tingkat adiktifnya Meteos. Tetsuya Mizuguchi selaku pengembang Meteos menyajikan konsep puzzle yang baru - dan itulah mengapa Meteos dianggap fresh dan menarik. Versi orisinil dari Meteos mengijinkan anda untuk memindahkan balok berwarna sama secara vertikal untuk menyusun balok-balok berwarna sama dan ‘meluncurkan‘nya ke angkasa.

Dua tahun kemudian, versi Disney Meteos (dengan arena-arena Disney) muncul, dalam versi ini, konsep puzzle Meteos dipermudah karena anda diijinkan untuk menggeser balok secara vertikal maupun horizontal. Tentu saja bagi para purist tetap ada pilihan untuk memakai peraturan lama Meteos. Simply said: Meteos adalah pionir dari puzzle modern di NDS sebagaimana Lumines adalah pionir puzzle modern di PSP. (Hint: mereka sama-sama diproduksi oleh Tetsuya Mizuguchi).

Nah, itu ranking 25 - 21 untuk the Top 25 DS Games. Bagaimana dengan peringkat 20 - 16? Kembali ke blog ini besok - dan cari tahu!

Comments (0)

Tags: , , ,

Legend of Kage 2

Posted on 22 January 2009 by Si Tukang Review

Legend of Kage 2 Cover

Legend of Kage 2 Cover

Publisher: Square Enix
Developer: Taito
Genre: Action

Ternyata bukan hanya film layar lebar saja lo yang harus menunggu waktu lama untuk mendapatkan sekuelnya, game juga! Ingatkah para gamer dengan sebuah game NES klasik berjudul The Legend of Kage (LoK)? Jauh sebelum lahirnya Naruto dan Shinobi sekalipun, gamer di NES sudah asyik memainkan game ini. Berbeda dengan Ninja Gaiden yang lahir di masa yang sama dan mengambil setting dunia modern, LoK mengambil setting klasik di jaman feudal Jepang. Sayang setelah itu Taito tidak pernah lagi menggarap lanjutannya hingga tahun ini.

The Legend of Kage 2 (LoK 2) mengambil premise yang hampir serupa dengan sang pendahulu. Sang putri Kirihime lagi-lagi diculik oleh pasukan iblis di bawah pimpinan seorang yang misterius. Kali ini ada dua tokoh utama yang bisa kamu pilih; Kage - sang jagoan utama yang juga merupakan teman masa kecil putri Kirihime, atau Chihiro – yang agaknya memiliki hubungan yang tak jelas dengan sang putri. Dua tokoh ini bukan hanya berbeda dalam segi design saja tetapi juga berbeda jauh dalam pola permainan.

Apabila memakai Kage, gamer memiliki jarak serangan yang lebih jauh karena Kage bersenjatakan Katana dan Shuriken. Chihiro senjatanya adalah Kusarigama, sebuah senjata Jepang klasik berbentuk tongkat dengan sabit di satu ujung dan rantai di ujung yang lain, kelebihan Chihiro adalah senjatanya yang menimbulkan damage lebih besar. Selain perbedaan dari segi senjata, Kage juga memiliki daya tahan dan nyawa yang lebih banyak dibandingkan Chihiro (saya berpikir mungkin saja karena dia tokoh utama, makanya dia mendapat perlakuan lebih spesial?)

Gameplay dalam LoK 2 persis dengan sang prekuel jadi apabila kamu pernah main game pertamanya, kontrolnya akan terasa sangat familiar. Kage maupun Chihiro bisa melompat sangat tinggi (bayangkan film Crouching Tiger Hidden Dragon!), mencapai akhir stage dengan menghabisi siapa saja yang merintangi jalan mereka, dan melawan sang boss di penghujung stage. Satu-satunya tambahan dalam LoK 2 adalah sistem Element Orb(bola elemental)-nya. Di setiap stage, berserakan orb yang bisa anda temukan: orb ini berfungsi memberimu kemampuan ninjutsu (jurus ninja). Setiap kali sebelum sebuah misi / stage dimulai, gamer akan diberi kesempatan mengkustomisasi orb yang akan mereka pakai. Ada empat jenis orb dalam game ini (orange, biru, kuning, dan perak) dan kamu diperkenankan membawa sampai delapan orb. Kombinasi orb-orb tertentu akan menghasilkan kekuatan-kekuatan magis yang berbeda-beda.

Sebagai sekuel dari game yang berusia lebih dari 20 tahun, sudah tentu grafis dari LoK 2 mengalami peningkatan signifikan dari sang kakak, walau begitu tampilan grafisnya tergolong standar untuk generasi handheld sekarang ini. Grafis in-gamenya sekilas mengingatkan saya pada game-game Castlevania sementara cutscenenya memiliki design khas anime Jepang. Musik yang digunakan dalam game ini merupakan kombinasi dari musik baru dan music lama dari LoK sehingga di nada-nada tertentu akan membangkitkan kenangan tersendiri bagi gamer yang memainkan LoK dulu.

FUN FACT: The Legend of Kage pertama dirilis di Amerika pada tahun 1987 sementara sekuelnya baru hadir di tahun 2008 ini. Itu berarti terjadi selisih sepanjang 21 tahun (kalau menghitung waktu dari rilisnya dari arcade bahkan sudah mencapai 23 tahun)! Sebuah waktu yang lebih panjang ketimbang franchise movie ternama macam Indiana Jones (19 tahun) atau Terminator (12 tahun) mendapatkan sekuel mereka.

Final Verdict:

Gameplay: 7.5
Gameplay yang lama menjadikan kontrol LoK 2 terasa kaku kadang-kadang. Kendati demikian, hal ini bisa ditutupi Taito dengan pertempuran melawan para boss yang sangat menantang dan memorable.

Graphic / Sound: 7.5
Design animasi karakter halus tanpa cela. Baik dalam cut-scene maupun in-game, grafis dalam game ini digarap dengan apik. Nilai bisa lebih tinggi apabila backgroundnya tidak terlalu monoton. Musiknya sangat memorable dan berhasil menghidupkan Jepang pada masa penguasaan Tokugawa.

Play Time: 7.5
Menamatkan game ini untuk pertama kalinya membuka opsi kesulitan Hard. Menyelesaikan dalam mode Hard membuka mode Extreme. Belum lagi ada opsi Boss Rush Mode dan tantangan membuka semua artwork yang ada. Play through game ini memang singkat (sekitar 3 – 4 jam) tapi ia memberi banyak alasan buatmu menjajalnya kembali.

Overall: 7.5

Comments (0)

Tags: , ,

Castlevania: Order of Ecclesia

Posted on 05 January 2009 by Si Tukang Review

Order of Ecclesia Cover

Order of Ecclesia Cover

- Sekali lagi berpetualang di Puri Dracula -

Seri Castleroid Ketiga di Nintendo DS

Castleroid = Castlevania yang bercampur dengan Metroid.

Itulah ciri khas (sekaligus sebutan para fans) bagi kebanyakan game Castlevania 2D yang hadir setelah era Symphony of the Night (SoTN). Terhitung lima game setelah SoTN (tiga di GBA, dan dua di DS) semuanya memakai sistem penjelajahan kastil yang diperkenalkan lebih dari sepuluh tahun silam oleh Konami. Koji Igarashi sebagai orang yang menjadi bapak Castlevania menjanjikan kepada para fans bahwa Order of Ecclesia (OoE) kali ini tidak akan sama dengan game-game Castleroid sebelumnya. Sekarang OoE sudah dirilis, saya akan menulis mengenai game ini. Apa benar OoE berbeda dengan Castlevania-Castlevania sebelumnya?

Arena yang Berbeda – Glyph yang Baru – Kesulitan yang Menantang

Yang pertama kali membuat saya terkejut adalah petualangan Shanoa (karakter utama dalam OoE) tidak dimulai dari kastil Dracula seperti kebanyakan game Castlevania lainnya. Sebaliknya, Shanoa justru berkelana dari satu tempat ke tempat lain (yang areanya jauh lebih kecil daripada kastil sang pangeran kegelapan). Hampir di setiap stage, sesosok boss menanti untuk menghadapi Shanoa (entah di depan, pertengahan, atau di akhir stage tersebut). Kian membedakannya dengan Castlevania sebelumnya: Shanoa bahkan punya dua ‘markas’ di mana ia bisa kembali setelah menyelesaikan satu stage tertentu; organisasinya yang bernama Ecclesia, dan sebuah desa kecil bernama X Village.

Bisa dibilang kalau OoE seakan menggabungkan sistem dari Castlevania lama (sistem stage demi stage ini diadapasi dari seri Castlevania klasik: Simon’s Quest) dengan sistem Castlevania baru (yang masih memungkinkan Shanoa level up, memperoleh dan menggunakan senjata baru, dan (SPOILER) kembalinya kastil Dracula di paruh kedua permainan).

Selain perbedaan dari sistem penjelajahan Shanoa, OoE juga memperkenalkan sistem Glyph. Sistem Glyph serupa tetapi tidak sama dengan sistem Soul dalam Aria of Sorrow. Dalam game ini, Shanoa memiliki kemampuan khusus untuk ‘menghisap’ kekuatan musuh. Tentu saja tidak semua musuh memiliki kemampuan yang bisa dihisap oleh Shanoa. Setiap musuh yang memiliki segel sihir usai dikalahkan atau mengeluarkan segel sihir untuk melawan Shanoalah yang merupakan musuh yang kemampuannya bisa dihisap oleh Shanoa.

Glyph ini pun fungsinya bermacam-macam. Ada yang berfungsi sebagai senjata tradisional Castlevania (pedang, kapak, panah, tombak dan sebagainya), ada pula yang berfungsi sebagai sihir magis untuk Shanoa seperti elemen (air, api, petir, cahaya, maupun kegelapan), dan ada yang berfungsi sebagai support bagi Shanoa (memberi kemampuannya menembus tembok, atau menganugerahinya sepasang sayap).

Combo-combo dari setiap Glyph ini membawa kedalaman baru dalam permainan OoE. Saya sudah mencoba sendiri bahwa tidak ada satu Glyph yang benar-benar super-kuat sehingga bisa dipakai mengalahkan semua jenis musuh. Rajin-rajin bereksperimen dan melihat Glyph mana yang paling efektif adalah kunci Shanoa untuk survive dalam menghadapi makhluk-makhluk kegelapan.

Bicara soal musuh-musuh di dalam game ini, OoE memiliki kesulitan yang jauh – jauh lebih sulit ketimbang Castlevania baru. Bahkan Igarashi sendiri pernah menyatakan bahwa “dalam game ini, anda PASTI mati”. Nampaknya kata-kata Igarashi bukan sekedar ancaman kosong; musuh-musuh di dalam OoE luar biasa sulitnya, apalagi bossnya. Apabila dulu kunci kemenangan melawan boss hanyalah menaikkan level setinggi mungkin, kali ini itu tidak lagi cukup. Menaikkan level memang akan membantu memperbesar kemungkinan para gamer menang, tetapi kunci dari kemenangan itu adalah kejelian para gamer memperhatikan pola serangan boss, dan pemakaian Glyph yang tepat sesuai kelemahannya.

Toh, naiknya tingkat kesulitan ini disambut dengan sukacita oleh kebanyakan gamer. Mereka beranggapan bahwa naiknya tingkat kesulitan bukan menjadikan OoE sebagai game yang membuat frustasi tetapi malahan semakin menantang dan menyenangkan untuk dimainkan!

Ecclesia, Orde Pembasmi Dracula

Tentunya ada cerita di balik lahirnya Order of Ecclesia.

Seperti yang para gamer tahu; setiap kali Dracula bangkit dari liang lahatnya, biasanya para keluarga Belmontlah yang turun tangan dengan cambuk suci Vampire Killer mereka menghabisi Dracula. Entah mengapa di era ini klan Belmont mendadak saja menghilang. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.

Banyak organisasi menjadi khawatir dan mulai menyiapkan kekuatan untuk melawan kegelapan supaya semisalnya Dracula bangkit kembali, umat manusia masih bisa bertahan. Satu dari organisasi itu adalah Ecclesia. Suatu saat, Barlowe selaku pemimpin Ecclesia berhasil menemukan satu Glyph terkuat yang bisa mengalahkan Dracula, ia ingin mewariskan kemampuan itu kepada Shanoa yang ia anggap murid paling berbakat.

Sungguh celaka, pada saat ritual Shanoa menghisap Glyph tersebut, Albus – murid Ecclesia lain yang iri kepada Shanoa menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Ritual terganggu, Albus kabur dengan membawa Glyph terkuat, sementara Shanoa tidak sadarkan diri, dan lebih parahnya lagi, kehilangan semua emosinya akibat ritual penghisapan yang gagal. Barlowe – cemas akan apa yang akan diperbuat oleh Albus dengan kekuatan sebesar itu di tangannya – memerintahkan kepada Shanoa untuk merebut kembali Glyph dan membujuk Albus supaya kembali ke jalan yang benar. Berhasilkah?

Kembali ke Nuansa Suram

Satu hal yang disambut bahagia oleh para gamer (termasuk saya) adalah keputusan dari Igarashi mengembalikan design OoE pada nuansa gothic angst yang telah menjadi trademark Castlevania. Tadinya, Igarashi sempat menginginkan supaya Castlevania di DS bisa dinikmati oleh semua usia dan memilih mengambil langkah penggambaran anime untuk Dawn of Sorrow dan Portrait of Ruin. Strategi ini rupanya kurang berhasil dan memicu banyak kritik dari gamer sehingga Igarashi pun sadar bahwa Castlevania memang harus hidup di dunia suram seperti ini, bukan dunia penuh warna seperti kedua Castlevania DS sebelumnya.

Spreading the Terror… Online!

Game ini kaya akan bonus tambahan. Menamatkan game ini akan membuka kesempatan para gamer menjajal Boss Rush mode dan memainkan New Game Plus. Dalam New Game Plus, gamer diperkenankan main kembali sebagai Shanoa dengan mempertahankan level dan kebanyakan senjata yang dimiliki Shanoa. Kalau bosan dengan Shanoa, menjajal keangkeran kastil Dracula dengan karakter lain pun bisa dilakukan (saya terpaksa tidak bisa memberitahukan siapa nama karakter tersebut karena ditakutkan bersifat spoiler).

Memainkan game ini online pun tidak kalah menarik. Gamer bisa melakukan lomba dengan sembarang orang (atau dengan teman apabila tahu Friend Code-nya) untuk menyelesaikan misi atau stage tertentu. Rata-rata misi dan stage ini bisa dimainkan secara cepat. Bisa juga kalau para gamer malas membunuh satu musuh berkali-kali hanya untuk mendapatkan item tertentu, mencoba mencari dan membeli item ini online dari orang lain yang menjualnya.

Final Verdict:

Gameplay : 9
Menawarkan konsep gameplay gabungan dari Castlevania lama dan baru. Hasilnya; Order of Ecclesia terasa fresh dan baru tanpa kehilangan feel-nya.

Graphic / Sound : 8.5
Ada opsi penggunaan dua bahasa di sini, voice-acting Amerika atau seiyuu Jepang. Dua-duanya dikerjakan dengan profesional. Beberapa stage dalam game ini terasa mendaur ulang sprite, tetapi redesign total sprite musuh ditambah kembalinya artwork pada unsure gothic membuat saya mengabaikan kekurangan-kekurangan minor.

Play Time : 8
Total bisa makan lebih dari 15 jam untuk memainkannya pertama kali, game ini bahkan bisa memakan waktu kian lama kalau para gamer ingin melengkapi semua glyph yang ada, memainkan ulang New Game Plus, atau menjajal mode-mode lain yang ditawarkan game ini.

Overall : 8.5

Comments (0)

Tags: , , ,

Rhapsody: A Musical Adventure

Posted on 04 January 2009 by Si Tukang Review

Rhapsody Cover

Rhapsody Cover

- time to save the prince -

Publisher: NIS America
Developer: Nippon Ichi Software
Genre: RPG

Ketika pertama kali dirilis di Playstation satu dekade yang lampau, Rhapsody langsung menjadi sebuah RPG yang menarik perhatian para gamer. Kala itu, RPG Jepang dengan nafas anime yang kental masih belum banyak yang ditranslasikan ke Amerika sehingga Rhapsody dianggap bagaikan nafas segar bagi dunia RPG. Sayangnya, penjualan Rhapsody di Amerika dianggap kurang memuaskan sehingga sekuelnya tidak pernah ditranslasikan lagi oleh Nippon Ichi. Untungnya saja kendati sedikit, Rhapsody memiliki fanbase yang sangat loyal sehingga Nippon Ichi akhirnya meremake dan merilis ulang Rhapsody di DS.

Tokoh utama game ini adalah Cornet, seorang gadis sederhana yang tinggal di desa Orange. Suatu hari, mimpinya diselamatkan oleh pangeran kerajaan Ferdinand yang tampan nan gagah benar-benar terwujud. Ini mendorong Cornet untuk mencoba ikut lomba sayembara pencarian istri bagi sang pangeran. Tak disangka, setelah Cornet memenangkan perlombaan dan hendak merebut hati sang pangeran, gerombolan penyihir yang dipimpin oleh Marjoly merusak pesta. Tidak sekedar mengacau-balaukan pesta semata, bahkan sang pangeran dijadikan patung dan direbut oleh sang penyihir! Cornet yang tak hendak pangeran impiannya direbut penyihir tua bangka akhirnya memulai perjalanan panjangnya untuk menyelamatkan sang pangeran. Tentu saja Cornet tidak sendiri; dengan kemampuannya ia bisa menghidupkan para boneka dan menggunakan mereka sebagai teman untuk membantu menyelesaikan misinya.

Perbedaan utama dalam versi Rhapsody DS ini adalah sistem battlenya. Apabila sistem battle dalam versi PSnya menggunakan Strategy RPG (Grid-Based), versi remakenya kali ini menggunakan sistem Turn-Based RPG (yang juga digunakan oleh sekuel Rhapsody yang tak pernah dirilis di Amerika). Satu perbedaan mencolok lain dalam versi remake ini adalah bisa dipakainya Kururu (boneka pertama Cornet) dalam pertarungan. Karena kecerobohan sang developer, perilisan versi Amerika game ini tidak mengikutkan skenario tambahannya (padahal skenario ini muncul di versi Jepangnya). Lebih celakanya lagi, Nippon Ichi sebenarnya sudah menjanjikan kepada para fans bahwa dalam versi remake ini akan ditambahkan prolog dari keseluruhan saga Rhapsody. Bayangkan betapa kecewanya para fans setelah terjadi kecerobohan dalam produksi dan skenario ini akhirnya tidak jadi dimunculkan di versi Amerikanya!

Game ini memiliki tingkat kesulitan yang mudah serta jalan cerita yang tergolong pendek dan bisa cepat diselesaikan. Hampir sepanjang permainan saya membiarkan karakter saya bertarung dengan setting auto (kecuali melawan boss) dan saya tidak pernah menjumpai layar Game Over sekalipun. Karena mudah dan minim subquest, para veteran RPG tidak akan makan waktu lebih dari 15 jam untuk menyelesaikan game ini (kadang waktu bahkan bisa ditekan di bawah 10 jam karena gamer tidak perlu mencari level).

Tema musik yang kental dan ‘prince in distress‘ membuat banyak pihak menyangka bahwa game ini khusus diperuntukkan bagi para cewe. Pemikiran sempit ini sangat saya sayangkan karena menurut saya, dan saya seorang cowo, tema persahabatan, cinta, dan keluarga yang diangkat oleh Rhapsody adalah sebuah tema universal yang bisa dinikmati dari gamer dari semua kalangan.

Final Verdict:

Gameplay: 6
Terlalu sederhana dan terlalu mudah. Hampir setiap boneka yang dipakai dalam Cornet di game ini tidak memiliki karakteristik pembeda yang jelas (selain elemennya). Karena itu, kamu bisa memakai boneka manapun asal level mereka tinggi. Ini menjadikan game kurang menantang karena kamu tidak perlu merancang strategi guna melawan bos-bos tertentu. Setidaknya, kali ini menavigasi dungeon lebih mudah dengan bantuan map di layar atas DS. Glitch yang terkadang muncul juga bisa menganggu.

Graphic / Sound: 8
Untuk sebuah game berusia sepuluh tahun, grafis Rhapsody masih bisa bersaing dengan game-game DS yang dirilis pada masa kini. Walaupun design dungeonnya terasa monoton dan berulang-ulang, terdapat pesona sendiri pada dunia Rhapsody yang penuh dengan keindahan goresan 2D yang kini sudah jarang ditemui. Lagu dalam Rhapsody yang seharusnya memiliki dua versi, sayangnya dihilangkan versi Inggrisnya. Konon ini supaya memori cartridgenya bisa memuat translasi dari skenario tambahan yang tak pernah ada itu.

Play Time: 6
Pernah saya baca bahwa seseorang bisa menyelesaikan game ini dalam waktu 5 jam! Ini rasanya menjadi sebuah pembuktian bagaimana sederhana dan singkatnya Rhapsody. Apalagi dengan tidak adanya skenario tambahan yang dijanjikan, hampir tidak ada alasan untuk memainkan ulang game ini begitu anda menyelesaikannya.

Overall: 6.7

Comments (0)

Tags: ,

Little Red Riding Hood’s Zombie BBQ

Posted on 25 December 2008 by Si Tukang Review

Zombie BBQ Cover

Zombie BBQ Cover

- ketika virus zombie menyerang dunia dongeng

Publisher: Destineer
Developer: EnjoyUp
Genre: Rail Shooter

Apabila ada satu game yang layak disebut sebagai kejutan tahun ini; Zombie BBQ-lah gamenya. Game ini dibuat oleh developer EnjoyUp (developer baru dari Spanyol) dan merupakan game bergenre rail shooter (salah satu genre langka di mana karakter anda hanya bisa bergerak ke kanan kiri sambil menembaki musuh yang datang dari depan). Genre yang tidak umum ini diperkuat dengan tema sinting dan gameplay yang benar-benar seru. Jadilah Zombie BBQ sebuah game yang menawan dan berhasil mengejutkan saya yang tadinya sekedar iseng-iseng memainkannya.

Red Riding Hood menyangka kalau semua mimpi buruknya sudah berakhir ketika ia dan si tukang kayu menghabisi serigala jahat dan menyelamatkan sang nenek. Sangkaannya itu salah besar. Masalah yang lebih besar baru akan muncul! Sesaat setelah sang tukang kayu meninggal dunia dan meninggalkan Red sendiri, para orang mati bangkit kembali dari kubur. Mereka berubah menjadi zombie-zombie yang haus darah dan menghabisi makhluk-makhluk negeri dongeng. Red ditemui seorang tokoh legenda timur bernama Momotaro yang juga ingin tahu kenapa bencana ini bisa terjadi. Keduanya segera berpetualang dari satu negeri dongeng ke negeri dongeng lainnya sambil menembaki zombie apapun yang merintangi jalan mereka!

Gameplay Zombie BBQ sebenarnya sederhana dan tidak berbeda dengan game serupa. Kamu bisa memilih untuk menjadi Red atau Momotaro (perbedaan keduanya hanya sekedar beda kostum semata tanpa perbedaan gameplay, senjata maupun variasi alternatif senjata yang bisa didapat sama saja). Dalam permainan, kamu diberi area bergerak kanan dan kiri sebanyak tujuh grid (kotak). Nah, para zombie (segala jenis; mulai zombie tradisional, zombie gendut, sampai zombie yang suka melempar tengkorak!) akan muncul dan menganggu perjalananmu. Jelas tujuanmu hanya dua: mengembalikan mereka yang sudah mati kembali ke liang lahat, sembari mencari tahu bagaimana bencana ini bisa terjadi.

Yang membuat permainan dalam game ini menjadi sangat menantang adalah duel melawan para boss-nya. Semua bossnya dijamin merupakan karakter legenda yang anda kenal. Tingkat pertama misalnya menghadapkan Red dengan sang nenek yang sudah berubah menjadi zombie sementara boss tingkat berikutnya memaksamu berhadapan dengan Gretel yang karena sudah buas memangsa Hansel saudaranya sendiri! Nampaknya para tokoh dongeng sekalipun sudah terkontaminasi virus ini. Tentu saja sekedar menjual nama besar sosok tokoh legenda tidak cukup; yang menjadikan para bossnya begitu memorable adalah karena mereka musuh-musuh yang sulit ditaklukkan – tetapi bisa ditaklukkan. Kamu bisa jadi berulang kali mati saat melawan boss, tetapi bakalan ingin mengulangnya karena tahu kalau boss yang disediakan game ini menantang, bukannya mustahil, untuk dikalahkan.

Animasi dalam game ini juga cukup jempolan karena berhasil menggabungkan unsur 2D dan 3D juga menampilkan berbagai jenis zombie. Arena dalam game sesekali terasa hambar (kebanyakan bernuansa kuburan) walaupun EnjoyUp berusaha memasukkan variasi-variasi pada tiap stagenya. Musiknya bernuansa rock campur metal yang memang cukup pas mengiringi ceritanya yang nyeleneh.

Saya sudah menyebutkan di atas bahwa Zombie BBQ adalah sebuah game kejutan tahun ini. Mereka yang gemar dengan gameplay old school dan kangen dengan game shooting up-scroller (bukan side-scroller ala Contra) tidak boleh melewatkan Zombie BBQ. Kapan lagi kita bisa melihat sosok Red Riding Hood yang selalu digambarkan lemah lembut membawa pistol dan tidak kalah (mungkin malah lebih) gahar seperti Lara Croft?

Final Verdict:

Gameplay: 8.5
Tema yang menarik digabungkan dengan gameplay old school. Siapa sangka formula ini bisa menghadirkan game yang begitu mengasyikkan?

Graphic / Sound: 8
Kendati bukan nilai terkuat dari game ini, sisi audio visualnya tergarap secara baik. Suara Red Riding Hood pun entah kenapa terdengar macam suara Arnold Schwarzenegger versi wanita (bisa kebayang?).

Play Time: 8.5
Walau untuk memainkannya sekali sampai tamat tidak seberapa panjang, tetapi game ini menantang untuk dimainkan berulang-ulang kali. Sayang; seandainya saja ada fungsi co-op dalam game ini saya takkan sungkan memberinya nilai sempurna.

Overall: 8.3

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here