(Review Ditulis Di Tahun 2005)
Jika sebelum ini Dreamworks selalu diingat dengan karya monumental mereka Shrek dan Shrek 2, akhirnya mereka berusaha menjadi lebih variatif dengan menelurkan beberapa karya baru dalam film animasi. Percobaan pertama mereka adalah Shark Tale. Sebuah film campuran dengan ramuan komedi ala Dreamworks dan Finding Nemo. Hasilnya cukup memuaskan. Kendati banyak kritikus mencibir film ini, khayalak ramai (termasuk penulis) menikmati film ini dan film ini mampu meraup lebih dari 150 Juta US Dollar. Percobaan kedua Dreamworks kali ini tidak main-main. Bila Shark Tale diedarkan di Fall 2004 guna menghindari persaingan dengan film-film masa liburan (baca: The Incredibles dan The Polar Express), maka Madagascar - film keduanya diluncurkan dengan penuh percaya diri menyambut gegap gempita Summer 2005.
Madagascar mengisahkan mengenai empat sekawan yang hidup di kebun binatang dengan ceria. Ada Alex sang singa yang menjadi bintang dari kebun binatang itu. Marty si kuda zebra yang kocak dan usil, Melman si jerapah yang menghabiskan lebih banyak waktunya dirawat ketimbang tidak, dan terakhir Gloria si kuda nil gendut yang adalah bintang pertunjukan air. Semuanya hidup bahagia berdampingan tanpa tahu kodrat mereka yang sesungguhnya di alam bebas. Dan mereka memang tak perlu tahu, bukankah mereka semua ditakdirkan hidup di kebun binatang dan menghibur anak-anak sampai akhir hayat mereka ? Seharusnya sih begitu, kalau bukan Marty yang menghendaki kehidupan bebas di alam liar. Marty yang kemudian memutuskan jalan-jalan di kota New York dikejar oleh ketiga sahabatnya itu. Celaka bagi mereka, tanpa sadar mereka sudah menciptakan kekisruhan luar biasa di kota, dan para aktivitis binatang memutuskan untuk berdemonstrasi - mengirim mereka pada kehidupan di alam bebas.
Alih-alih dikirim di Afrika yang adalah tujuan mereka semula, kapal mereka melenceng gara-gara pinguin-pinguin psikopat mengambil alih kapal. Empat sekawan inipun terdampar di Madagascar, dan mulai mempelajari kodrat mereka masing-masing pada rantai makanan. Bisakah persahabatan mereka tetap terjaga ? Atau akankah Alex menjadi pemangsa bagi teman-temannya yang lain ?
Formula yang ditawarkan oleh Dreamworks masih sama untuk Madagascar. Humor-humor campur aduk yang bisa dinikmati orang dewasa maupun anak kecil, kemudian sindiran-sindiran satire pada kehidupan sosial masyarakat, dan tentu saja ramuan terampuhnya; nama-nama besar sebagai pengisi suaranya. Bila Will Smith, Angelina Jolie, Jack Black dipanggil untuk Shark Tale, maka kwartet binatang ini diisi oleh Ben Stiller yang sukses dalam Meet The Fockers, Chris Rock sang komedian ternama, David Schwimmer dari Friends, dan Jada Pinkett Smith - alias Mrs Will Smith ! Bukan nama-nama sembarangan tentunya. Dan sekali lagi komposisi ini diramu dengan pas oleh Dreamworks.
Memang film ini tidak bisa secerdik Shrek dalam segi humor maupun ceritanya, tetapi Madagascar tidak kalah dari Shark Tale. Bila tema yang diemban Shrek serta Shark Tale hampir serupa yakni ‘terimalah dirimu sendiri’ dan ‘cinta’. Dalam Madagascar, dikemas tema baru yakni ‘persahabatan sejat’ dan ‘kelas sosial dalam masyarakat’. Bagaimana Alex dan Marty sama-sama berkorban demi sahabatnya tentu sebuah ajaran yang berharga bagi para anak-anak. Untuk segi ringannya pun tak lupa Dreamworks menyisipkan banyak karakter menarik; dari kwartet binarang itu, tentunya Melmanlah yang memiliki pesona terbesar. He is so Ross ! Kemudian para penguin psikopat akan menarik tawa banyak orang. Sementara Mort si Lemur dengan mata yang besar dan bulat itu tentunya membuat setiap wanita menjerit “Cute…“.
Bukannya Madagascar tanpa kekurangan, perubahan tone cerita yang ceria menjadi gelap menjelang pertengahan cerita agak mebingungkan para anak-anak, contohnya adalah saat lagu “What A Wondeful World” yang justru kontras dengan apa yang tergambar di layar. Kemudian kekurangan lagu-lagu musikal selain tembang “You Gotta Move It” cukup menganggu. Bukankah Shrek dan Shark Tale juga dikenang karena tembang-tembang ngebeat yang menghidupkan cerita sepanjang film ? Kelemahan terakhir dalam film ini adalah kurangnya klimaks dalam film ini. Baru film ini terasa mencapai pertengahan klimaksnya tahu-tahu segalanya telah usai - emosi penonton belum sampai pada puncaknya rasanya. Agak disayangkan, karena bila film ini mampu ditarik sekitar 15 - 30 menit lebih panjang tentu lebih memuaskan.
Pada akhirnya, Madagascar tetap fun untuk ditonton. Bagi mereka yang membawa adik atau anak-anak mereka, pastikanlah berada di samping mereka untuk tetap memberikan penjelasan mengenai jalan cerita yang ada. You Gotta Move It !
Score: 7.0
Movie Details
Director: Eric Darnell
Cast: Ben Stiller, David Schwimmer, Jada Pinkett Smith, Chris Rock
Running Time: 86 Minutes









