Tag Archive | "Dreamworks"

Tags: , , ,

Madagascar

Posted on 24 January 2010 by Si Tukang Review

Madagascar Poster

Madagascar Poster

(Review Ditulis Di Tahun 2005)

Jika sebelum ini Dreamworks selalu diingat dengan karya monumental mereka Shrek dan Shrek 2, akhirnya mereka berusaha menjadi lebih variatif dengan menelurkan beberapa karya baru dalam film animasi. Percobaan pertama mereka adalah Shark Tale. Sebuah film campuran dengan ramuan komedi ala Dreamworks dan Finding Nemo. Hasilnya cukup memuaskan. Kendati banyak kritikus mencibir film ini, khayalak ramai (termasuk penulis) menikmati film ini dan film ini mampu meraup lebih dari 150 Juta US Dollar. Percobaan kedua Dreamworks kali ini tidak main-main. Bila Shark Tale diedarkan di Fall 2004 guna menghindari persaingan dengan film-film masa liburan (baca: The Incredibles dan The Polar Express), maka Madagascar - film keduanya diluncurkan dengan penuh percaya diri menyambut gegap gempita Summer 2005.

Madagascar mengisahkan mengenai empat sekawan yang hidup di kebun binatang dengan ceria. Ada Alex sang singa yang menjadi bintang dari kebun binatang itu. Marty si kuda zebra yang kocak dan usil, Melman si jerapah yang menghabiskan lebih banyak waktunya dirawat ketimbang tidak, dan terakhir Gloria si kuda nil gendut yang adalah bintang pertunjukan air. Semuanya hidup bahagia berdampingan tanpa tahu kodrat mereka yang sesungguhnya di alam bebas. Dan mereka memang tak perlu tahu, bukankah mereka semua ditakdirkan hidup di kebun binatang dan menghibur anak-anak sampai akhir hayat mereka ? Seharusnya sih begitu, kalau bukan Marty yang menghendaki kehidupan bebas di alam liar. Marty yang kemudian memutuskan jalan-jalan di kota New York dikejar oleh ketiga sahabatnya itu. Celaka bagi mereka, tanpa sadar mereka sudah menciptakan kekisruhan luar biasa di kota, dan para aktivitis binatang memutuskan untuk berdemonstrasi - mengirim mereka pada kehidupan di alam bebas.

Alih-alih dikirim di Afrika yang adalah tujuan mereka semula, kapal mereka melenceng gara-gara pinguin-pinguin psikopat mengambil alih kapal. Empat sekawan inipun terdampar di Madagascar, dan mulai mempelajari kodrat mereka masing-masing pada rantai makanan. Bisakah persahabatan mereka tetap terjaga ? Atau akankah Alex menjadi pemangsa bagi teman-temannya yang lain ?

Formula yang ditawarkan oleh Dreamworks masih sama untuk Madagascar. Humor-humor campur aduk yang bisa dinikmati orang dewasa maupun anak kecil, kemudian sindiran-sindiran satire pada kehidupan sosial masyarakat, dan tentu saja ramuan terampuhnya; nama-nama besar sebagai pengisi suaranya. Bila Will Smith, Angelina Jolie, Jack Black dipanggil untuk Shark Tale, maka kwartet binatang ini diisi oleh Ben Stiller yang sukses dalam Meet The Fockers, Chris Rock sang komedian ternama, David Schwimmer dari Friends, dan Jada Pinkett Smith - alias Mrs Will Smith ! Bukan nama-nama sembarangan tentunya. Dan sekali lagi komposisi ini diramu dengan pas oleh Dreamworks.

Memang film ini tidak bisa secerdik Shrek dalam segi humor maupun ceritanya, tetapi Madagascar tidak kalah dari Shark Tale. Bila tema yang diemban Shrek serta Shark Tale hampir serupa yakni ‘terimalah dirimu sendiri’ dan ‘cinta’. Dalam Madagascar, dikemas tema baru yakni ‘persahabatan sejat’ dan ‘kelas sosial dalam masyarakat’. Bagaimana Alex dan Marty sama-sama berkorban demi sahabatnya tentu sebuah ajaran yang berharga bagi para anak-anak. Untuk segi ringannya pun tak lupa Dreamworks menyisipkan banyak karakter menarik; dari kwartet binarang itu, tentunya Melmanlah yang memiliki pesona terbesar. He is so Ross ! Kemudian para penguin psikopat akan menarik tawa banyak orang. Sementara Mort si Lemur dengan mata yang besar dan bulat itu tentunya membuat setiap wanita menjerit “Cute…“.

Bukannya Madagascar tanpa kekurangan, perubahan tone cerita yang ceria menjadi gelap menjelang pertengahan cerita agak mebingungkan para anak-anak, contohnya adalah saat lagu “What A Wondeful World” yang justru kontras dengan apa yang tergambar di layar. Kemudian kekurangan lagu-lagu musikal selain tembang “You Gotta Move It” cukup menganggu. Bukankah Shrek dan Shark Tale juga dikenang karena tembang-tembang ngebeat yang menghidupkan cerita sepanjang film ? Kelemahan terakhir dalam film ini adalah kurangnya klimaks dalam film ini. Baru film ini terasa mencapai pertengahan klimaksnya tahu-tahu segalanya telah usai - emosi penonton belum sampai pada puncaknya rasanya. Agak disayangkan, karena bila film ini mampu ditarik sekitar 15 - 30 menit lebih panjang tentu lebih memuaskan.

Pada akhirnya, Madagascar tetap fun untuk ditonton. Bagi mereka yang membawa adik atau anak-anak mereka, pastikanlah berada di samping mereka untuk tetap memberikan penjelasan mengenai jalan cerita yang ada. You Gotta Move It !

Score: 7.0

Movie Details
Director: Eric Darnell
Cast: Ben Stiller, David Schwimmer, Jada Pinkett Smith, Chris Rock
Running Time: 86 Minutes

Comments (1)

Tags: , , , , ,

Over the Hedge

Posted on 05 May 2009 by Si Tukang Review

Over the Hedge Poster

Over the Hedge Poster

Tahun 2006 adalah tahun seru untuk pertempuran dunia animasi. Kalau tahun lalu praktis Dreamworks tidak mendapat saingan (karena Robots milik Fox bisa dibilang melempem kalau dibandingkan Madagascar miliknya), maka tahun ini Fox merilis masterpiecenya: Ice Age 2. Tidak ketinggalan Pixar juga merilis proyek mobil mereka: Cars. Dreamworks yang menguasai pasaran selama dua tahun terakhir tentu tidak mau kalah dengan mengeluarkan Over the Hedge. Ice Age 2 jelas sukses dengan mencetak berbagai rekor dan melebihi pendapatan sang prekuel. Bagaimana dengan Over the Hedge?

RJ adalah seekor racoon yang tidak pernah memiliki teman maupun keluarga. Racoon penyendiri ini malah harus bekerja di bawah sang beruang Vincent untuk mencari makanan. Sialnya, ketika masa hibernasi beruang tinggal seminggu lagi, RJ tanpa sengaja malah menghilangkan makanan sang beruang. Tentu saja Vincent marah besar. Ia mengharuskan RJ untuk mencari makanan kembali baginya dalam waktu seminggu. Putus asa akan permintaan tak masuk akal macam ini, RJ seakan ketiban rejeki dari langit ketika bertemu dengan sekelompok binatang yang baru selesai dari masa hibernasi mereka. Binatang-binatang berbagai jenis ini dketuai oleh Verne - seekor kura-kura (ingat, kura-kura itu reptil bukan amfibi).

Bisa ditebak, kelompok binatang yang pertama tidak mempercayai RJ ini mulai mengubah cara hidup mereka dan mencari makanan (tanpa sadar mereka diperalat RJ). Bisa ditebak juga kalau kelompok binatang ini makin menerima RJ sebagai anggota dalam keluarga mereka. Sesuatu di luar dugaan RJ. Akankah RJ tega mengkhianati keluarga barunya ini? Bagaimanakah nasibnya kalau sampai dia tidak bisa mengumpulkan makanan dalam waktu seminggu? Yang paling parah… karena merasa terganggu dengan ulah para binatang, sang penduduk kota Gladys menyewa seorang Verminator untuk menumpas mereka semua!!

Over the Hedge memiliki animasi yang sangat cantik. Jangan bandingkan kualitasnya dengan animasi berbudget rendah ala Hoodwinked misalnya. Jalan cerita dari Over the Hedge ini memang sederhana, tetapi pesannya sangat mengena. Anak kecil tentu akan bisa memahami cerita dalamnya tanpa kesulitan, sedangkan orang dewasa pun bisa ikut hangat hatinya melihat tingkah RJ dan kawan-kawannya. Ketika film ini berakhir, saya sempat bertanya-tanya apakah benar Dreamworks yang menggarap film ini? Soalnya nuansa Disney yang sarat dengan pesan moral di dalamnya malah lebih terasa. Memang ada nada-nada satir yang menyindir mengenai sistem ekologi (dan juga makanan yang membuat saya terpingkal-pingkal), tetapi porsinya secara keseluruhan terasa lebih sedikit.

Nama beken yang dipasang dalam film ini juga tidak segemerlap film-film Dreamworks sebelumnya. Bruce Willis, Steve Carell, Avril Lavigne, dan deretan pengisi suara lain memang aktor besar. Tetapi jujur saja, bila dibandingkan dengan Shark Tale yang menghadirkan Smith, Zelweger, Black, dan De Niro ataupun Madagascar dengan Schwimmer, Rock, dan Stiller tentunya nama-nama Over the Hedge kalah mengkilap.

Akhir kata, film ini malahan memberi pesan ekologi yang lebih mengena ketimbang Ice Age 2. Kalau Ice Age 2 memiliki maskot Scrats si tupai (atau tikus?) pengejar kenari, film ini juga menyuguhkan Hammy yang sama sintingnya - sama bodohnya - dan sayangnya lebih cerewet ketimbang Scrats.

Score: 8.5

Movie Details
Director: Tim Johnson
Cast: Bruce Willis (RJ), Garry Shandling (Verne), Steve Carell (Hammy), Avril Lavigne (Heather)
Running Time: 84 Minutes

Comments (0)

Tags: , , , ,

Monsters VS Aliens

Posted on 17 April 2009 by Si Tukang Review

Monsters VS Aliens Poster

Monsters VS Aliens Poster

What is wrong with you Dreamworks? What is wrong with you???” adalah kata-kata yang ingin kuteriakkan begitu selesai menonton Monsters VS Aliens. Untuk kedua kalinya berturut-turut (sebelumnya Madagascar 2) studio animasi ini mengecewakanku. Saya tidak percaya bahwa tidak sampai setahun yang lalu studio yang sama mampu membuaiku dengan salah satu film terbaik mereka (that is Kungfu Panda).

Ketika sebuah meteor memasuki orbit bumi, para kru pengamat alien kalang kabut memberitakannya kepada pemerintah. Di lain tempat, seorang gadis bernama Susan Murphy sama sekali tidak tahu menahu mengenai hal itu. Yang ia tahu adalah ia baru saja dilamar oleh sang tunangan, dan kehidupannya sebagai pengantin baru akan dimulai. Yang tidak disangka oleh Susan adalah ia kejatuhan meteor itu tepat sebelum momen pernikahannya.

BOOM!

Mati? Tamat? Usai? Tidak. Justru Susan terkena radiasi dan berubah menjadi gadis raksasa. Masih ia terbingung-bingung dengan perubahan yang terjadi pada dirinya, pasukan pemerintah langsung muncul dan menangkapnya. Kenyataannya, di dunia ini monster benar-benar ada. Karena takut manusia tidak bisa menerima kehadiran para monster ini, pemerintahan Amerika menangkapi dan mengurung para monster ini dalam sebuah lembaga. Susan dianggap sebagai monster, diberi nama Ginormica dan dimasukkan dalam fasilitas tersebut. Ia takkan pernah lagi melihat dunia luar… selamanya.

Tapi sosok alien dalam diri Gallaxhar datang ke bumi ini karena mengejar cairan radiasi meteor yang mengubah Susan menjadi Ginormica. Kiriman robot Gallaxhar yang siap menghancurkan dunia ini membuat pemerintah mati kutu. Seluruh senjata normal mereka gagal! Akhirnya, seperti tertebak dari judulnya, mereka pun mengerahkan kelima monster ‘peliharaan’ mereka.

Kalau soal ide, saya beri film ini dua jempol. Ia memiliki premise yang orisinil dan sangat berpotensi menjadi film yang menjanjikan. But oh boy, what a mess they have turned that into. Karakterisasi para monster dalam film ini buruk sekali. Saking buruknya, Dr Cockroach, BOB, dan The Missing Link gagal memberi kesan apapun kepada saya. Gallaxhar sebagai penjahat hadir sebagai salah satu villain paling cupu yang pernah saya tonton di layar lebar, dibandingkan dengan Tay Lung di Kungfu Panda, Gallaxhar lebih mirip tukang lawak. Kehadirannya menyerang bumi pun terasa bagaikan dipaksa masuk dalam cerita. Adakah alasannya kenapa ia mendadak saja mau menyerang sebuah planet? Tidak. Kalau mau menguasai seluruh galaksi seperti yang ia katakan, kenapa tidak mulai dari planet lain yang lebih gampang ditaklukkan?

Berlanjut ke komedinya. Super garing. Ada satu adegan ketika presiden Amerika hendak membuka percakapan dengan sang alien dan ia memulainya dengan… memainkan theme Beverly Hills Cop. Ada satu kali lagi ketika The Missing Link melihat dunia kembali dan melakukan referensi yang begitu kentara tentang film An Inconvenient Truth-nya Al Gore (duh, seakan film itu tidak cukup diparodikan saja!). Ada banyak sekali adegan-adegan komedi yang terlalu slapstick yang mungkin disukai anak-anak tetapi membuat para orang dewasa ngantuk melihatnya. Singkatnya: tidak ada yang kreatif dari film ini. Penggambaran para alien dan monsternya sangat dua dimensional dan klise. Ceritanya dangkal, dan tidak ada pesan moral apapun yang saya dapatkan darinya. Hubungan para karakter pun kurang tergarap sehingga saya rasa sulit bagi penonton untuk bersimpati pada Susan maupun para monster lainnya.

Dua kegagalan Dreamworks (setidaknya secara kualitas) membuat saya tidak berharap banyak lagi dengan film-film mereka. Yah… setidaknya masih ada studio Pixar yang film-filmnya tidak pernah gagal memuaskan saya.

Score: 5.2

Movie Details
Director: Rob Letterman, Conrad Vernon
Cast: Reese Whiterspoon, Seth Rogen, Hugh Laurie, Kiefer Sutherland
Running Time: 94 Minutes

Comments (0)

Tags: , , ,

Kung Fu Panda

Posted on 19 January 2009 by Si Tukang Review

Kung Fu Panda Poster

Kung Fu Panda Poster

Director: Mark Osborne & John Stevenson
Artist: Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie, Jackie Chan
Genre: Animation

Yesterday is history, tomorrow is a mystery. But today is a gift; that’s why it’s called present
- Master Oogway

Po si Panda hanya memiliki satu keinginan terpendam. Ia ingin menjadi jagoan kung fu terhebat di seluruh Valley of Peace. Apa daya, bagai pungguk merindukan bulan, Po alih-alih menjadi seorang jagoan kung fu, perutnya yang gembrot membuat dia hanya bisa membantu usaha sang ayah: menjual bakmi. Walaupun begitu, Po tidak putus asa. Ia terus memimpikan kesempatan untuk menjadi seorang jagoan kung fu yang bisa berdiri sejajar dengan para murid jagoan kung fu Shifu.

Suatu hari, peguruan Shifu mendapatkan kabar buruk. Salah seorang kriminal kelas kakap bernama Tai Lung dikabarkan hendak melarikan diri dari penjara di mana ia ditahan. Shifu sadar bahwa hanya Dragon Warrior yang terpilih oleh takdir yang akan memiliki kemampuan untuk menghadapi Tai Lung. Diadakanlah pentas unjuk aksi yang diikuti lima murid terbaik Shifu. Po mati-matian hendak menonton, menganggap menonton pertunjukan itu tentunya bisa meningkatkan kemampuannya serta memberinya kesempatan menonton jagoannya dari dekat. Tak disangka oleh Po, malahan takdir menunjuk dirinya sebagai sang Dragon Warrior oleh maha guru Oogway (dibaca: Wu Gui yang berarti kura-kura). Dimulailah hari-hari berat Po menjalani latihan kung fu. Sanggupkah ia memenuhi mimpinya? Atau ia akan menyerah dan kembali berjualan bakmi saja?

Film animasi terbaru Dreamworks ini sekali lagi menunjukkan bahwa mereka siap menjadi kontender utama dari Pixar. Kung Fu Panda sukses menghadirkan karakter-karakter yang memorable untuk tua muda. Diam-diam penonton dibawa untuk menghayati dan memahami transformasi Po dari seorang pecundang menjadi seorang pahlawan. Kisah klasik from zero to hero ini memang sudah sering diangkat dalam film animasi, tetapi Kung Fu Panda membalutnya dengan gabungan filosofi barat dan timur dengan takaran yang pas.

Yang patut diacungi jempol dalam Kung Fu Panda tentu koreografi pertarungannya. Saya sekurangnya mencatat ada empat adegan aksi yang sangat seru dalam film ini; ralat dua yang sangat seru dan dua lagi yang super ngocol. Saya takkan memberitahukan mengenai adegan mana saja yang dimaksud (spoiler-free!) tapi saya jamin penonton akan tahu adegan mana saja begitu menonton film ini. Jangan salah, walaupun Kung Fu Panda banyak berisi adegan-adegan aksi, Dreamworks memberi banyak waktu untuk mengembangkan karakter di dalamnya; terutama pada interaksi tiga karakter Po, Shifu, dan Tai Lung.

Pada akhirnya, Kung Fu Panda adalah sebuah film animasi yang pas untuk dinikmati semua orang. Para anak akan gemas dengan si Po yang imut dan fluffy sementara orang tua pun bisa terpana akan koreografi kung fu di dalamnya. A definite classic.

Score: 9.0

Comments (0)

Advertise Here
Advertise Here